Kisah Nabi

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 33)

Posted on


KISAH YAHYA AS, SEORANG NABI MULIA YANG TERBUNUH

Sebagaimana cerita di postingan sebelumnya, Yahya as adalah anak kandung nabi Zakariya as, seorang anak yang begitu ditunggu-tunggu kehadirannya hingga akhirnya malaikat datang membisikkan bakal kelahiran Yahya as.

Yahya adalah anak yang istimewa, bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Allah belum pernah menciptakan orang yang seperti Yahya sebelumnya. Yahya mendapatkan ilmu langsung dari Allah seperti halnya Khidir as.

Yahya as suka pergi ke gunung, gurun atau tempat-tempat sepi dan kemudian tinggal di sana selama berbulan-bulan. Beliau beribadah kepada Allah, menangis di hadapan-Nya dan selalu berdoa. Beliau merasa tenteram jika berada di tengah-tengah alam.

Di jaman Nabi Yahya hidup, raja yang berkuasa adalah raja diktator yang bodoh dan bermoral bejat serta sewenang-wenang. Kebejatan telah marak di kerajaannya karena moral rajanya yang juga bejat.

Sudah bukan rahasia lagi jika raja tertarik akan kecantikan istri saudaranya sendiri. Istri saudaranya itu memiliki anak perempuan yang juga cantik. Anak perempuannya ini juga terkenal sebagai penari yang seksi. Menurut banyak kisah, penari seksi itu jika menari memakai 7 selendang. Sambil menari, dia akan melepas satu-persatu selendangnya hingga akhirnya telanjang bulat. Di jaman modern tarian seperti ini dikenal sebagai striptease.

Suatu hari, sang raja bertanya ke Nabi Yahya, “Bolehkah aku menikahi istri saudaraku?”

“Tidak boleh,” jawab Yahya.

Mendengar jawaban Yahya, raja terus saja membujuk Yahya untuk diperbolehkan menikahi istri saudaranya secara syariat. Tapi agama memang tidak memperbolehkan, apa boleh buat, Yahya juga kukuh untuk menolaknya.

Melihat kekukuhan Yahya, sang raja murka. Segera diperintahkan anak buahnya untuk memenjarakan Yahya. Sedangkan istri saudaranya pun kemudian diperkosa.

Gadis penari yang kebetulan melihat itu semua, dan melihat kekukuhan dan ketenangan Yahya, dia jatuh cinta. Gadis penari itu mendatangi Yahya di penjara.

“Aku cinta padamu, dan maukah kau mencintaiku, Yahya?” tanya gadis penari itu.

“Di dalam hatiku, hanya ada satu cinta, yaitu cinta kepada Allah,” jawab Yahya. Gadis penari itu terus mencoba untuk merayu Yahya, tapi Yahya tidak tergoyahkan. Akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Yahya dengan putus asa sambil membawa dendam yang luarbiasa kepada Yahya.

Pada suatu malam, sang raja sedang minum-minum minuman keras sambil dihibur oleh tarian seksi gadis penari itu. Suara musik mengiringi gadis penari yang melepaskan satu persatu selendang yang dikenakan. Setiap selendang yang dilepaskan, sang raja makin antusias. Ini tidak mengherankan, alkohol sudah menguasainya.

Ketika hanya tinggal satu selendang saja yang belum terbuka, tiba-tiba gadis penari itu menghentikan tariannya.

“Kenapa berhenti?” tanya raja.

“Sebelum aku teruskan, aku ada permintaan, Raja,” kata gadis penari.

“Apa permintaanmu?”

“Aku ingin Yahya ibn Zakariya.”

“Mintalah sesuatu yang lain.”

“Kalau begitu, aku ingin kematian Yahya ibn Zakariya.”

Sambil meneguk minuman kerasnya, sang raja memerintahkan panglimanya, “Bunuhlah Yahya ibn Zakariya sekarang juga.”

Para prajurit kemudian bergegas ke penjara untuk mengeksekusi nabi mulia, Nabi Yahya ibn Zakariya.

Iklan

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 32)

Posted on Updated on


KISAH NABI ZAKARIYA AS DAN MARYAM (MARIA)

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang nabi dan seorang ahli ilmu. Nabi itu bernama Zakariya as, sedangkan ahli ilmu itu bernama Imran. Imran sangat mendambakan seorang anak. Sampai detik ini, istrinya samasekali belum hamil.

Pada suatu pagi, istri Imran melihat seekor induk burung yang menyuapi makan anaknya. Melihat itu, dia teringat akan keadaan dirinya sendiri yang masih belum juga dikaruniai anak. Diangkatnya tangan untuk menengadah dan berdoa dengan sepenuh hati.

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Beberapa waktu kemudian, dia merasakan janin di dalam perutnya. Dia sangat bersyukur dan bernazar untuk menjadikan putranya kelak sebagai pelayan di rumah ibadah (Baitul Maqdis).

Akhirnya bayi itu pun lahir. Di luar dugaan, ternyata anak itu perempuan, bukan laki-laki seperti yang diharapkan. Walau begitu, dia tetap bersyukur dan bertekad akan melaksanakan nazarnya, menjadikan anaknya sebagai pelayan Baitul Maqdis. Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Maryam, atau orang Kristen menyebutnya Maria.

Sebelum Maryam lahir, Imran, ayahanda Maryam meninggal dunia. Setelah Maryam lahir semua orang berebut untuk mendapatkan kehormatan mengasuh Maryam, mengasuh anak dari orang yang mulia. Melihat itu semua, Zakariya as berkata, “Aku yang akan merawatnya karena Imran masih kerabatku. Aku juga nabi dari umat ini. Aku lebih berhak mengasuh bayi ini daripada kalian semua.”

“Mengapa bukan kami saja? Kami tidak akan membiarkanmu memperoleh kehormatan itu tanpa perlawanan kami,” kata orang-orang itu sambil marah-marah. Hampir saja mereka akan bertengkar, namun mereka kemudian mensepakati sebuah cara yaitu lewat undian.

Maryam diletakkan di tanah dan disampingnya juga diletakkan anak-anak panah milik orang-orang yang ingin mengasuhnya. Lalu didatangkan anak kecil yang akan mengambil satu anak panah. Dan ternyata anak panah milik nabi Zakariya yang diambil.

“Allah telah memutuskan aku sebagai pengasuh Maryam,” kata Zakariya. Tapi orang-orang tidak terima atas hasil undian itu, “Tidak. Undian harus diulang lagi.”

Kemudian mereka melakukan undian lagi. Kali ini caranya beda. Masing-masing dari mereka menulis nama di anak panah lalu melemparkan anak panah ke sungai. Barangsiapa yang anak panahnya melawan arus maka dialah yang berhak mengasuh Maryam. Dan ternyata hanyalah anak panah milik Zakariya as saja yang melawan arus.

Zakariya mengira orang-orang sudah bisa menerima hasil undian itu. Tapi ternyata tidak. Mereka menginginkan undian lagi, hanya caranya yang dirubah. Kali ini anak panah yang mengikuti arus-lah yang berhak mengasuh Maryam. Dilemparlah anak-anak panah mereka dan sekali lagi, hanya milik Zakariya yang mengikuti arus, sedangkan yang lain melawan arus. Apa boleh buat, mereka harus merelakan Maryam diasuh oleh nabi mereka, Nabi Zakariya as.

Zakariya as kemudian membesarkan Maryam dengan kemuliaan. Maryam memiliki tempat khusus atau mihrab di Bait Suci. Maryam jarang sekali meninggalkan mihrab. Sehari-hari diisinya dengan shalat, beribadah, berzikir dan mencintai Allah.

Pada suatu hari, Zakariya as mengunjungi Maryam di mihrabnya. Zakariya pun keheranan melihat mihrab Maryam penuh dengan buah-buahan. Pada musim panas, di dalam mihrabnya penuh dengan buah-buahan musim dingin.

“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Zakariya.

“Semua itu rezeki dari Allah,” jawab Maryam.

Dan kejadian terjadi berulang-ulang.

Sebenarnya Zakariya sendiri menginginkan anak juga yang akan mewarisi ilmu, menjadi nabi dan meneruskan untuk berseru ke kaumnya untuk selalu mengingat Allah. Zakariya berdoa tanpa mengeraskan suara. Sebagai nabi, Zakariya khawatir jika kaumnya nantinya akan sesat setelah dia meninggal. Allah pun mengabulkan doanya. Seorang malaikat memanggilnya,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (datangnya) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam 7)

Zakariya terkejut sekaligus gembira.

“Zakariya berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua?’” (QS. Maryam : 8 )

Kemudian malaikat tersebut menjelaskan bahwa ini sudah menjadi kehendak Allah, dan pasti, kehendak Allah pasti akan bisa terwujud walaupun itu sangat tidak masuk akal menurut hitung-hitungan manusia.

Allah kemudian mengabarkan bahwa Zakariya tidak akan bisa bicara walaupun beliau sedang tidak sakit. Ketika itulah istri nabi Zakariya hamil  dan mukjizat Allah pun terlaksana.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 31)

Posted on


KISAH SULAIMAN AS DAN RATU BILQIS

Atas perintah Nabi Sulaiman as, burung Hud-hud pun terbang mengantarkan surat beliau kepada ratu Bilqis. Sementara  itu, setelah mengantarkan surat, burung Hud-hud masih berada di sekitarnya untuk memata-matai. Setelah surat diterima dan dibaca, ratu Bilqis kemudian memanggil para pembesarnya dan berkata;

“Berkatalah dia (Bilqis), ‘Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu berasal dari Sulaiman, dan sesungguhnya isi)nya, ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri’.” (QS. An-Naml:31)

Itulah isi surat Nabi Sulaiman yang dikirimkan ke ratu Bilqis. Surat itu begitu lugas tanpa berbas-basi. Isi surat ini begitu logis karena Nabi Sulaiman tidak memposisikan diri sebagai pemohon, tapi memposisikan diri sebagai raja dari sebuah negeri besar. Walau begitu, nada surat itu masih terasa santun.

Ratu Bilqis kemudian berkata ke pembesarnya sebagai jawaban atas surat itu.

“Berkatalah dia (Bilqis), ‘Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)’.” (QS. An-Naml:32)

Reaksi para pembesar itu mudah ditebak; mereka menentang surat Sulaiman yang bernada sombong walau nadanya santun. Lalu mereka berkata pada ratu Bilqis;

“Mereka menjawab, ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan’.” (QS. An-Naml:33)

Dengan jawaban itu, sama saja mereka telah menyatakan bahwa mereka siap perang. Kini keputusan sepenuhnya di tangan ratu Bilqis. Jika ratu memerintahkan perang, mereka pun akan berangkat berperang. Tapi opsi berperang sudah dibuang sejak awal. Ratu Bilqis mempunyai pemikiran yang jauh lebih luas.

Sang ratu merenungkan surat Sulaiman. Ratu belum pernah mendengar nama Sulaiman, apalagi kerajaannya. Ratu tidak mengenal samasekali kekuatan Sulaiman. Jangan-jangan kerajaan Sulaiman jauh lebih kuat. Ratu khawatir, jika kemajuan kerajaannya akan hancur karena perang.

Akhirnya ratu memerintahkan menyelesaikan masalah dengan cara damai. Ratu berencana mengirimkan utusan dengan membawa hadiah sambil memata-matai kekuatan Sulaiman. Berdasarkan informasi itu, ratu akan menentukan kebijakan berikutnya. Para pembesar menyetujui rencana tersebut.

Tak lama, berangkatlah utusan ratu Bilqis membawa berbagai hadiah berharga seperti emas, permata, mutiara dan sebagainya. Sulaiman sudah mengetahui niat ratu Bilqis mengirimkan utusan-utusan tersebut; yaitu mengetahui kekuatan kerajaannya. Untuk itu, Sulaiman sengaja menyiap penyambutan yang luar biasa.

Begitu utusan tiba, mereka disambut oleh pasukan bersenjata lengkap yang berbaris mulai dari ujung negeri. Para utusan menyadari, bahwa mereka memasuki lautan pasukan dan menyadari bahwa hadiah yang mereka bawa tak seberapa dibandingkan kekayaan Sulaiman.

Para utusan berdiri bersama Sulaiman yang menginspeksi pasukan. Otak para utusan mulai menghitung jumlah pasukan. Dan tiba-tiba mereka terperanjat melihat pasukan singa dan harimau yang berpindah tempat dengan cara terbang. Mereka sadar, negeri mereka tak bakalan bisa menang perang melawan kerajaan Sulaiman.

Parade militer selesai, para utusan kemudian diundang dalam jamuan makan dengan kalangan istana Sulaiman. Piring tempat makan terbuat dari emas. Sedangkan pelayannya adalah para pria yang memakai perhiasan-perhiasan, yang bahkan tidak pernah dipakai oleh ratu mereka sekalipun. Namun anehnya, raja Sulaiman hanya makan roti kering yang dicelupkan ke minyak di atas piring kayu.

Jamuan makan akhirnya selesai. Para utusan kemudian menyerahkan hadiah dengan perasaan malu. Hadiah-hadiah itu sebenarnya sangat berharga, tapi ketika dibandingakan dengan kekayaan Sulaiman, semua itu jadi tidak berarti lagi.

Melihat hadiah-hadiah tersebut, Sulaiman kemudian berkata sebagaimana dalam Al-Qur’an;

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, ‘Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta. Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu’.” (QS. An-Naml:36)

Sulaiman menolak hadiah-hadiah tersebut. Ratu Bilqis tidak akan mampu membeli Sulaiman dengan harta. Sulaiman samasekali tidak mengharapkan harta dari para utusan mereka. Sulaiman kemudian berkata ke para utusan itu;

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml:31)

Sulaiman kemudian mengingatkan para utusan itu dengan kata-kata halus tapi sangat memprovokasi.

“Kembalilah kepada mereka, sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (QS. An-Naml:37)

Akhirnya para utusan kembali ke Saba dan langsung menghadap ratu Bilqis. Mereka mengatakan bahwa Saba’ dalam bahaya. Mereka juga menceritakan bagaimana hebatnya pasukan Sulaiman. Mereka juga menyarankan kepada ratu Bilqis untuk mendatangi raja Sulaiman, sebagai upaya untuk membujuknya. Ratu Bilqis pun menyetujui saran itu dan segera bersiap.

Sementara itu, Sulaiman mengadakan pertemuan dengan para menteri, jenderal serta ulama yang membahas tentang hubungan dengan ratu Bilqis ini. Ratu Bilqis akan datang karena didorong oleh rasa takut, bukan karena kemauan sendiri. Pertemuan itu juga membahas tentang laporan dinas intelijen tentang kemajuan negeri Saba’ dalam hal seni dan teknologi. Apakah kemajuan itu membuat mereka melupakan Tuhan dan menyangka bahwa kemajuan ini hasil usaha mereka sendiri?

Dalam laporan dinas intelijen disebutkan bahwa singgasana ratu Bilqis sangatlah istimewa. Singgasana ini terbuat dari emas dengan hiasan permata-permata yang begitu indahnya. Singgasana ini adalah simbol kemajuan negeri Saba’ sehingga selalu dikawal secara ketat oleh pasukan Saba’. Jadi akan sangat menghebohkan jika Sulaiman bisa mendatangkan singgasana ini tanpa ketahuan ketika ratu Bilqis sedang menuju ke kerajaan Sulaiman, sehingga dalam pertemuan itu ratu Bilqis bisa duduk di singgasananya sendiri. Sulaiman bermaksud memamerkan kemampuan yang diperolehnya dari Islam, dengan tujuan ratu Bilqis tertarik untuk masuk dalam Islam juga.

Ide itu dikemukan Sulaiman dalam pertemuan itu;

“Berkata Sulaiman, ‘Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?’” (QS. An-Naml:38)

Yang pertamakali menjawab tantangan Sulaiman adalah salah satu jin yang bernama Ifrit yang telah ditundukkan Sulaiman;

“Berkatalah Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya’.” (QS. An-Naml:39)

Jarak istana raja Sulaiman, yang kini berada di wilayah Palestina, dengan istana ratu Bilqis, yang kini di wilayah Yaman, sangatlah jauh. Bahkan jika ditempuh dengan pesawat paling canggih di jaman sekarang pun, sangat susah mewujudkan hanya dalam beberapa menit. Tapi jin Ifrit menjanjikannya kepada raja Sulaiman.

Nyatanya, hingga beberapa jam dari raja Sulaiman berdiri, jin Ifrit belum juga datang membawa singgasana ratu Bilqis. Hingga kemudian Sulaiman melihat sebuah bayangan yang duduk di kegelapan sebagaimana yang diceritakan Al-Qur’an;

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikat-Nya). Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (QS. An-Naml:40)

Benar saja, dalam sekedipan mata singgasana ratu Bilqis telah ada di hadapan nabi Sulaiman. Al-Qur’an tidak menjelaskan siapa orang itu. Apakah dia manusia atau jin, tidak ada penjelasannya. Pada dasarnya, Allah hanya ingin menunjukkan mukjizat itu. Bagaimana terjadinya, hanya Allah yang mengetahui.

Raja Sulaiman mencermati singgasana tersebut kemudian memerintahkan sedikit mengubahnya untuk menguji ratu Bilqis, apakah dia masih mengenali singgasananya sendiri atau tidak. Raja Sulaiman juga memerintahkan untuk membangun sebuah istana untuk menyambut ratu Bilqis.

Istana ini dibangun sebagian di darat, sebagiannya lagi di atas lautan. Lantainya terbuat dari kaca yang kuat dan bening. Jika kita berjalan, kita akan bisa menyaksikan ikan warna-warni berenang di bawah kita. Saking beningnya kaca, terlihat seperti tidak ada kacanya. Ini membuat istana ini seperti berlantaikan lautan.

Akhirnya burung Hud-hud mengabarkan jika ratu Bilqis sudah sampai di serambi istana. Nabi Sulaiman kemudian menyambutnya dan menujukkan sebuah singgasana. Ratu Bilqis kemudian mengamati singgasana itu dengan cermat. Bagaimana bisa singgasananya ada di sini, padahal dijaga dengan ketat.

“Seperti inikah singgasanamu?” tanya Nabi Sulaiman.

“Ini seperti singgasanaku,” jawab ratu Bilqis.

“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri,” kata Nabi Sulaiman. Kalimat terakhir ini mengisyaratkan perbandingan yang yang jauh antara ilmu dan akidah raja Sulaiman dibandingkan ratu Bilqis.

Ratu Bilqis sadar jika singgasananya datang mendahuluinya. Kemampuan macam apa yang dimiliki raja sekaligus nabi ini? Ratu Bilqis kini begitu terpesona dengan kemajuan yang diperoleh negeri Sulaiman. Yang lebih membuatnya heran adalah kenyataan bahwa adanya hubungan yang begitu erat antara Islam, Nabi Sulaiman as, ilmu dan kebijaksanaan yang dimiliki.

“Masuklah dalam istana,” kata Nabi Sulaiman mempersilahkan.

Ketika masuk, ratu Bilqis memandang lantai istana. Yang dia saksikan adalah air dan menyangka akan tercebur di air. Ratu Bilqis kemudian menyingkapkan pakaiannya sehingga terlihat betisnya.

“Sesungguhnya lantai istana terbuat dari kaca dan tidak ada airnya,” kata Sulaiman. Dalam kekaguman, ratu Bilqis kemudian berkata mengumumkan keislamannya, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Wajah Sulaiman langsung berubah menjadi cerah. Misinya untuk mengislamkan ratu Bilqis telah berhasil dengan baik.

Sulaiman kemudian hidup dalam kejayaannya yang tiada tara hingga wafat. Kerandanya dipayungi ribuan burung yang menangis, diiringi binatang-binatang buas yang tidak lagi menujukkan kebuasannya serta berbagai macam jenis binatang lainnya. Semuanya kini sudah berakhir. Tak akan ada lagi orang yang mampu memahami bahasa mereka.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 30)

Posted on Updated on


KISAH SULAIMAN AS DENGAN KERAJAANNYA YANG AGUNG

Setelah nabi Daud as meninggal, kini kekuasaan berpindah di tangan Sulaiman. Daud meninggalkan sebuah kerajaan besar dengan militer yang sulit terkalahkan. Ini karena karunia Allah, yang memberikan mukjizat kepada Nabi Daud sehingga bisa menaklukan besi, yang kemudian besi-besi ini diolah menjadi peralatan militer yang sangat canggih di jamannya. Dan sekarang, militer yang kuat ini ada di genggaman Sulaiman.

Di masa Sulaiman as inilah Bani Israil mencapai masa keemasannya. Allah SWT menganugerahkan kerajaan hebat, kerajaan yang tidak akan pernah ada di masa sesudah Sulaiman. Ini menggambarkan, betapa agungnya kerajaan Sulaiman yang tidak akan mungkin bisa tertandingi oleh kerajaan atau negara manapun di masa modern ini.

Tak hanya kerajaan besar yang dianugerahkan Allah kepada Sulaiman. Allah juga menganugerahkan kemampuan memahami bahasa binatang. Jika Daud paham dengan bahasa burung, maka Sulaiman paham bahasa semua binatang. Sulaiman mampu mendegarkan bisikan semut, bahkan semut-semut itu patuh terhadap semua perintah Sulaiman.

Tentara warisan Daud as yang sudah superior, kini dibawah Sulaiman makin superior. Tentara Sulaiman tak hanya terdiri dari manusia saja, tapi juga binatang-binatang dan jin. Memerangi pasukan semacam itu jelas mustahil menang.

Selain jin, Allah swt juga menundukkan angin untuk Sulaiman. Seringkali angin dimanfaatkan untuk kepentingan Sulaiman. Di jaman itu, hanya tentara Sulaiman saja yang bisa terbang dengan memanfaatkan angin. Sulaiman-lah yang mempelopori adanya pasukan udara.

Tak hanya jin, Allah juga memberikan kemampuan Sulaiman untuk mengendalikan setan. Setan-setan itu diperintahkan Sulaiman untuk membangun istana, piring-piring raksasa, gedung-gedung, juga menyelam ke dasar lautan untuk mengambil mutiara dan batu-batu mulia lainnya.

Jika ada setan yang membangkang, maka setan itu akan dibelenggu sebagai bukti akan keagungan Sulaiman sebagai nabi Allah.

“Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhan-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan padanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS. Saba : 12-13)

Meskipun dianguerahi kekuasaan yang begitu hebat, Sulaiman as tetaplah menjadi orang yang paling banyak bersyukur dan berzikir kepada Allah swt. Sepanjang hidupnya, hanya sekali beliau hampir ketinggalan waktu shalat. Itupun karena beliau sedang sibuk dengan persiapan perang yang amat sangat penting.

Saat itu, Sulaiman memeriksa kuda-kuda para perwira hingga waktu sholat Asar hampir habis, di mana hal itu sangatlah penting dalam peperangan ini. Ketika tersadar, Sulaiman langsung mengerjakan shalat dan bersujud kepada Allah. Beliau kemudian mengusap leher dan kaki kuda-kuda tersebut seraya memohon ampunan Allah karena persiapan jihad yang dilakukan hampir membuatnya tertinggal waktu shalat.

Mulai saat itu, Sulaiman as tak mau lagi menggunakan kuda untuk pasukannya. Maka Allah-pun menggantinya dengan angin yang mampu membawa Sulaiman dan pasukannya pergi kemana pun dikehendaki.

Pada suatu hari, Sulaiman memeriksa pasukannya. Semua pasukan, mulai pasukan manusia dan pasukan jin tampaknya tak ada yang salah. Ketika memeriksa pasukan burung, Sulaiman tidak melihat burung Hud-hud menempati posnya.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat burung Hud-hud?’” (QS. N-Naml:20)

Burung-burung lain tidak ada yang berani menjawab. Sulaiman mengedarkan pandangan ke sluruh pasukan. Burung Hud-hud sepertinya tidak ada.

“Apakah dia yang termasuk yang tidak hadir?” (QS. An-Naml:20)

Seekor merpati kecil kemudian memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Sulaiman.

“Wahai Nabi yang mulia, seharusnya Hud-hud kemarin bersamaku melakukan misi pengintaian. Dialah pemimpin misi ini. Tapi dia tidak muncul sehingga misi pun dibatalkan,” kata merpati kecil itu.

Mendengar itu, meledaklah kemarahan Sulaiman;

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (QS. An-Naml:21)

Burung merpati kecil itu semakin menggigil ketakutan. Kemudian Sulaiman membelai kepala merpati kecil itu sehingga ketakutannya pun sirna seketika. Walau marah, Nabi Sulaiman tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap bawahannya.

Sulaiman kemudian kembali ke istana dengan pikiran penuh. Apakah Hud-hud pergi memata-matai sesuatu atau dia pergi bermain-main? Sulaiman tahu, Hud-hud adalah buruh yang cerdas, fasih berbicara namun sedikit nakal.

Beberapa saat kemudian, Hud-hud muncul. Burung-burung lain pun kemudian menyarankan untuk segera menghadap Sulaiman. Hud-hud kemudian terbang masuk istana untuk menghadap Sulaiman. Sebelum Sulaiman bertanya, Hud-hud berkata dulu untuk menunjukkan dia tidak bersalah;

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)

Sulaiman hanya diam. Kemudian Hud-hud berkata lagi;

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Naml:26)

Hud-hud menyampaikan berita ini dengan sangat hati-hati dalam memilih kata-kata serta sejelas mungkin. Wanita yang dimaksudkan burung Hud-hud adalah ratu Bilqis. Kemudian Hud-hud berkata lagi;

“Agar mereka menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi, dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang besar.” (QS. An-Naml:26)

Sambil tersenyum, Sulaiman kemudian berkata kepada Hud-hud;

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An-Naml:27)

Sulaiman kemudian berpikir dalam diam. Akhirnya beliau mengambil keputusan. Diambilnya secarik kertas kemudian menulis sebuah surat. Selesai menulis, Sulaiman memberikannya kepada Hud-hud sambil berkata;

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (QS. N-Naml:28)

Burung Hud-hud kemudian terbang melaksanakan perintah Sulaiman, mengantar surat Sulaiman kepada ratu Bilqis. Apa isi surat Sulaiman? Dan bagaimana reaksi ratu Bilqis menanggapi isi surat tersebut? Simak posting kisah nabi selanjutnya….

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 28)

Posted on


KISAH DAUD AS MELAWAN JALUT (DAVID VS GOLIATH)

Sejak kehilangan tabut, Bani Israel terus menerus kalah dalam peperangannya. Bani Israel kemudian terusir dari tanah mereka dan keadaan mereka semakin memburuk.

Dalam kondisi memprihatinkan tersebut, seorang perempuan dari suku Lewi yang sedang mengandung, terus menerus berdoa agar dikaruniai bayi laki-laki. Ternyata doanya dikabulkan Allah. Seorang bayi laki-laki lahir dan diberi nama Asymuel (Samuel).

Ketika anak itu cukup umur, sang ibu mengirimnya ke seorang lelaki saleh untuk belajar kebaikan dan ibadah kepadanya. Ketika sudah dewasa, pada suatu malam, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dari arah tempat ibadah. Samuel kemudian menghampiri gurunya karena menyangka dia yang memanggil.

“Apakah Anda tadi memanggilku?” tanya Samuel. Karena tak ingin diganggu maka sang guru menjawabnya, “Benar, tidurlah kembali.”

Samuel pun tidur kembali.

Namun suara itu memanggilnya untuk kedua kali, kemudian ketiga kali. Akhirnya Samuel sadar bahwa yang memanggilnya adalah malaikat Jibril.

“Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu,” kata Jibril.

Pada suatu hari, kepada nabi itulah Bani Israel mengadu.

“Bukankah kami kaum yang terzalimi?” tanya mereka.

“Benar,” jawab nabi tersebut.

“Bukankah kami kaum yang terusir dari negeri kami?” kata mereka.

“Benar.” Jawab nabi itu pendek.

“Utuslah untuk kami, seorang raja yang mempersatukan kami, agar kami bisa berperang di jalan Allah di bawah satu panji, merampas kembali tanah kami dan kehormatan kami yang pernah dimiliki,” kata mereka.

“Apakah kalian yakin mau berperang jika diwajibkan?” tanya nabi itu.

“Mengapa tidak? Kami telah diusir dari negeri kami. Anak-anak kami terlantar, dan keadaan kami sangat memprihatinkan,” jawab mereka menyakinkan.

“Baiklah. Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu,” jawab nabi itu.

“Bagaimana bisa Thalut menjadi raja? Padahal kami lebih berhak. Dia bukan orang kaya, banyak orang yang lebih kaya daripada Thalut di antara kami,” kata mereka meremehkan.

“Sesungguhnya Allah menganugerahinya ilmu yang luas dan badan yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya,” jawab nabi itu dengan penuh keyakinan.

“Apa tanda-tanda kekuasaan Thalut sebagai raja?” tanya mereka.

“Taurat kalian yang telah dirampas akan kembali ke tangan kalian. Malaikat akan membawakannya. Itulah tanda-tanda bahwa dia seorang raja,” jawab nabi itu.

Akhirnya Taurat yang sebelumnya dirampas musuh telah kembali. Maka dimulailah pembentukan pasukan Thalut. Sedangkan di pihak musuh, rajanya bernama Jalut, seorang ahli pedang hebat yang belum terkalahkan.

Setelah semuanya sudah siap, berangkatlah Thalut dan tentaranya menuju Jalut, melewati padang pasir dan pegunungan panas. Sebelum berangkat Thalut berpesan ke tentaranya, “Di tangah perjalanan yang panas ini, kita akan menemui sebuah sungai. Barangsiapa yang minum air sungai tersebut, dia harus keluar dari barisan ini. Barang siapa yang tidak minum atau yang hanya menceduk air dengan tangannya, maka dia boleh terus bersama pasukanku.”

Akhirnya di tengah perjalanan, Thalut dan pasukannya menjumpai sebuah sungai. Sebagian besar pasukan minum dan harus keluar dari pasukan. Sebenarnya ini adalah ujian Thalut untuk mengetahui siapa saja yang masih patuh terhadap dirinya. Jumlah pasukannya menyusut banyak, tapi walau hanya dalam jumlah kecil, pasukan Thalut mempunyai keberanian dan keimanan yang luar biasa.

Tibalah saatnya pasukan Thalut yang kecil berhadapan dengan pasukan Jalut yang luar biasa besar.

“Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka?” tanya prajurit yang berhati lemah.

“Yang penting bukan jumlah, tapi keimanan dan keberanian. Atas izin Allah, ada banyak kaum kecil yang bisa mengalahkan pasukan berjumlah lebih besar,” jawab prajurit yang punya keimanan lebih baik.

Kedua pasukan sudah saling berhadapan. Muncul Jalut dengan baju besinya, tangan yang menggenggam pedang, kapak dan belati sekaligus. Jalut menantang duel siapapun. Tak satu pun prajurit Thalut berani meladeni tantangannya.

Tiba-tiba, dari barisan pasukan Thalut, muncul seorang penggembala kambing bertubuh kecil yang bernama Daud. Dia adalah seorang mukmin, seorang yang beriman. Daud menyadari bahwa yang menentukan kemenangan bukanlah banyaknya senjata atau besarnya fisik ataupun penampilan yang gahar. Daud yakin bahwa keimanan pada Allah-lah yang menjadi kekuatan hakiki.

Daud maju hanya dengan membawa tongkat, lima buah batu dan ketapel. Melihat perlengkapan Daud yang minim, Jalut tertawa mengejeknya. Dengan tenang Daud memasang batu di ketapelnya lalu membidikannya ke arah Jalut. Karena Daud adalah orang yang mencintai Allah, angin pada waktu itu ikut membantu Daud dengan mendorong keras batu tersebut sehingga menghantam tepat di kening Jalut. Jalut yang bersenjata lengkap saat itu langsung jatuh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa. Daud kemudian mengambil pedangnya dan perang di antara kedua pasukan pun mulai berkobar.

Kisah pertempuran Daud melawan Jalut sangat terkenal. Masyarakat barat mengenalnya dengan sebutan David vs Goliath. Setelah kejadian tersebut, Daud jadi sangat terkenal di kaumnya. Thalut kemudian menjadikannya seorang menantu dan panglima perang sekaligus.

Daud adalah orang yang pertamakali mengetahui kalau besi bisa dilebur dan dibentuk-bentuk sesuai keinginan dengan menggunakan api. Daud kemudian membuat baju besi dari potongan-potongan besi kecil yang terangkai. Baju besi model ini memungkin pemakainya bisa bergerak lebih bebas dalam pertempuran dan tetap terlindungi dari serangan lawan. Tak heran jika pasukan Daud selalu menang dalam setiap pertempuran.

Daud adalah manusia yang jiwanya benar-benar suci, bening dan tidak ada tabir yang menghalanginya dengan alam raya. Jika Daud duduk dan bertasbih kepada Allah, seluruh alam ini seolah  meresapi merdu suaranya, gunung-gunung menikmati getaran tasbihnya. Semuanya seakan berpadu dalam satu melodi yang mengagungkan Allah.

“Bersabarlah atas segala yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS Shad : 17-20)

Kemudian Allah memilih Daud sebagai seorang nabi dan menurunkan kitab Zabur kepadanya.

“Dan Kami berikan Zabur (kepada) Daud.” (QS Al-Isra: 55)

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 27)

Posted on


NABI-NABI BANI ISRAIL SETELAH MUSA

Dari sekian banyak pengikut Musa yang kebingungan, hanya ada dua orang saja yang mampu keluar dari kebingungan. Para ahli tafsir mengatakan bahwa sala seorangnya bernama Yusya’ (Yosea) ibn Nun.

Yusya’ adalah murid Musa dalam kisah Musa dan Khidir. Beliau kini adalah seorang nabi sekaligus panglima perang yang memimpin kaumnya menuju tanah yang telah diperintahkan Allah untuk memasukinya. Yusya’ mengajak Bani Israil keluar dari tempat yang membingungkan lalu berangkat ke tanah suci.

Hingga kemudian mereka telah sampai di sebuah kota yang mempunyai benteng yang kuat bernama Ariha (Jerikho). Benteng itu mempunyai tembok yang paling tinggi dan penduduk yang paling banyak.

Yusya’ mengepung kota itu hingga kemudian Yusya berhasil meruntuhkan tembok benteng dengan membunyikan terompet-terompet tanduk domba. Dinding-dinding benteng kemudian retak dan roboh seketika. Yusya’ memanfaatkan kekuatan suara sebagai senjata. Getaran yang ditimbulkan terompet ternyata mampu merobohkan benteng terkuat sekalipun.

Kita tidak tahu, apakah Allah menurunkan wahyu kepada Yusya’ untuk menghancurkan benteng dengan terompet tanduk domba, atau memang ini adalah bukti kejeniusan Yusya’. Selama 6 bulan terus-menerus, Yusya’ dan anak buahnya membunyikan terompet hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan runtuhnya tembok benteng.

Setelah benteng runtuh, Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki kota dengan bersujud atau ruku’. Ini adalah ungkapan rasa syukur karena telah menaklukan benteng kuat ini. Namun Bani Israel menentang perintah itu. Mereka masuk Jerikho justru dengan sikap sombong. Akhirnya mereka tertimpa azab. Jika keburukan yang telah dilakukan orang tua mereka adalah menghinakan diri, maka keburukan yang mereka lakukan adalah menyombongkan diri.

“Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel), ‘Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.’ Dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.’ Kelak akan kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.” (QS. Al-A’raf : 161-162)

Kejahatan Bani Israel tidak berhenti di situ saja. Sepeninggal Musa, mereka banyak menyiksa rasul-rasul yang diutus. Di tangan mereka Taurat berubah menjadi kertas-kertas yang telah diedit. Sebagian benar adanya, tapi sebagian banyak yang dihilangkan.

Bani Israel menyimpan tabut perjanjian, sebuah peti yang berisi warisan peninggalan Musa dan Harun. Ada yang mengatakan isi tabut itu adalah lembaran-lembaran Taurat yang selamat dari perjalanan jaman. Tabut itu memberi berkah pada mereka. Tabut itu membuat mereka teguh dan tenang sehingga mereka menang dalam perang-perang mereka. Ketika mereka mulai menganiaya dirinya sendirinya dengan menarik Taurat dari hati sendiri, maka lembaran-lembaran itu sudah tidak ada gunanya lagi. Akhirnya, tabut itu hilang saat mereka berperang dan mereka kalah dalam perang tersebut.

Kondisi Bani Israel makin lama makin memprihatinkan karena dosa yang dilakukan dan sikap kepala batu mereka ditambah kezaliman mereka pada diri mereka sendiri. Tahun berganti tahun, dan mereka semakin membutuhkan kehadiran seorang nabi baru yang bisa mengentaskan dari kehinaan.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 26)

Posted on


KISAH MUSA AS DAN KHIDIR AS

Ini adalah kisah yang paling misterius yang ada dalam Al-Qur’an. Bahkan saking misteriusnya kisah ini banyak melahirkan madzhab-madzhab sufi. Kisah ini bahkan melahirkan sebuah keyakinan akan ada hamba Allah yang pada hakekatnya bukan nabi atau syahid, tapi keilmuannya membuat iri para nabi dan syuhada. Dan kisah inilah yang mengawalinya, waallahu ‘alam.

Tapi terlepas dari itu semua, ada baiknya kalau kita simak kisah Musa dan Khidir, karena di dalam kisah tersebut banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Kisah ini terdapat dalam surat Al-Kahfi.

Kisah dimulai dengan ayat berikut ini, yang mengisahkan Musa dan keinginannya dalam hati,

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi : 60)

Kalimat yang masih samar artinya menunjukkan bahwa Musa ditunggu oleh sebuah janji di tempat pertemuan dua buah lautan. Sebuah janji yang sepertinya sangat penting. Beberapa ahli tafsir mengatakan tempat itu adalah tempat bertemunya laut Persia dengan laut Romawi. Tapi ada juga yang mengatakan laut Yordania dengan laut Qazam. Yang lain mengatakan di Afrika, ada juga yang di Andalusia. Yang jelas, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik di mana tempat pertemuan dua buah lautan tersebut.

Musa yang adalah salah seorang Ulul ‘Azmi, nabi yang diberikan mukjizat tongkat dan tangan, nabi yang diberi Taurat tanpa perantara, nabi yang berdialog langsung dengan Allah, seorang nabi yang mulia, tapi dalam kisah ini beliau berubah menjadi seorang rendah hati, berjalan jauh untuk mencari seorang guru agar bisa belajar darinya. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama orang yang dicari Musa, tapi As-Sunnah menjelaskan bahwa orang itu adalah nabi Khidir as.

Ketika akhirnya bertemu, pada awalnya, Khidir tidakmau diikuti oleh Musa. Khidr menjelaskan bahwa Musa tak akan sanggup untuk bersabar jika mengikutinya. Musa terus saja mengikuti hingga akhirnya Khidr menyetujui Musa ikut dirinya dengan syarat, Musa tidak boleh menanyakan segala hal sebelum dia sendiri yang menjelaskannya.

Musa dan Khidir berjalan menyusuri pantai. Ketika berjalan, lewat sebuah perahu. Musa dan Khidir meminta pemilik perahu untuk sudi mengangkut mereka. Si pemilik perahu ternyata mengenal Khidir dan mau mengangkut mereka dengan gratis, sebagai bentuk penghormatan. Ketika perahu berangkat, tanpa sepengetahuan pemilik perahu, Khidir melubangi perahu itu sehingga perahu itu tenggelam.

Dalam pandangan Musa, tindakan Khidir ini adalah perbuatan tercela. Tabiat Musa yang temperamental dan keinginan kuat untuk membela kebenaran membuat Musa melupakan janjinya untuk tidak bertanya ke Khidir.

“Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah melakukan kesalahan yang besar’.” (QS. Al-Kahfi: 71)

Tiba-tiba Musa menyadari bahwa pertanyaannya ini melanggar syarat yang telah ditentukan Khidir di awal perjalanan. Buru-buru Musa minta maaf. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka kemudian melewati sebuah tempat bermain anak-anak. Musa terperanjat melihat Khidir membunuh salah satu anak tanpa alasan. Musa tak tahan untuk tidak bertanya. Kejahatan apa yang sudah dilakukan anak kecil itu sehingga perlu dibunuh?

Khidir kembali mengingatkan Musa untuk selalu bersabar jika mau terus bersamanya. Untuk keduakalinya, Musa meminta maaf dan berjanji untuk tidak bertanya.

“Bagaimana kalau nanti kamu masih saja bertanya?” tantang Khidir.

“Itulah akhir kebersamaan kita,” jawab Musa.

Khidir dan Musa kemudian melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah desa dengan penduduk yang sangat kikir. Saat itu mereka kehabisan bekal dan meminta makanan ke penduduk. Tapi penduduk desa tidak mau menerima mereka sebagai tamu.

Petang pun menjelang. Karena tak ada penduduk yang mau menerima, mereka berjalan ke sebuah puing yang hanya tersisa dinding. Khidir kemudian menghabiskan waktu semalaman untuk memperbaiki puing dari awal hingga selesai. Melihat itu, Musa kebingungan. Penduduk desa yang sangat kikir itu tidak pantas menerima tenaga gratis dari mereka.

“Jika mau, kau bisa mengambil upah untuk perbaikan itu,” kata Musa.

“Inilah perpisahan antara kamu dengan aku..” jawab Khidir.

Sebenarnya Khidir sudah memperingatkan Musa konsekuensi yang harus diterimanya, bahwa pertanyaan ketiga adalah akhir dari kebersamaan ini. Khidir kemudian menjelaskan bahwa apa yang dilakukan bukan kehendak dirinya sendiri, tapi Khidir hanya melaksanakan kehendak Allah semata. Ketiga perbuatan Khidir memang terlihat kejam, tapi sebenarnya di balik itu, padahal itu adalah nikmat yang tersembunyi.

Mungkin para pemilik perahu yang dirusak Khidir merasa kalau rusaknya perahu mereka adalah sebuah bencana. Tapi sebenarnya itu adalah sebuah kenikmatan yang tersembunyi. Ketika perang berkobar, raja yang berkuasa mengambil semua perahu kecuali perahu yang telah dirusak Khidir, sehingga perahu itu masih bisa memberi nafkah pada mereka.

Orang tua anak yang dibunuh Khidir mungkin juga akan menganggap ini sebagai bencana. Namun ini adalah rahmat karena Allah kemudian mengganti dengan anak yang lain, anak yang mau merawat orang tuanya. Bukan anak yang bertindak sewenang-wenang seperti anak yang dibunuh Khidir.

Musa kemudian tersadar bahwa yang dihadapinya adalah lautan ilmu. Di balik kesedihan, penderitaan dan kematian tersembunyi rahmat, kelembutan dan keselamatan. Musa kemudian kembali ke kaumnya, Bani Israil.