islam

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 23)

Posted on Updated on


TENGGELAMNYA FIR’AUN
Binasanya Qarun sangat mencengangkan banyak orang, baik orang Bani Israel maupun bangsa Mesir itu sendiri. Semua orang langsung memandang Musa sebagai orang penting. Pamor Musa naik dengan cepat di mata semua orang. Banyak orang kemudian beriman dari semua kalangan termasuk orang-orang istana Fir’aun sendiri, walaupun mereka menyembunyikan keimanan mereka.

Sejak binasanya Qarun, Fir’aun mulai merasakan ancaman yang semakin nyata. Fir’aun dan orang-orang yang merasa terancam dengan adanya Musa, mengadakan rapat penting di istana Fir’aun. Di rapat tersebut terlontar inde untuk menghabisi Musa dengan atas nama negara. Bagaimanapun juga, Fir’aun masih memerlukan tameng semacam itu untuk membunuh Musa. Mungkin Fir’aun juga merasa khawatir dengan kekuatan pendukung Musa jika terng-terangan membunuh Musa.

Tapi takdir berkata lain. Dalam rapat tersebut, terdapat salah satu orang mukmin yang menyembunyikan keimanannya dan dia berjuang untuk menggagalkan rencana pembunuhan ini.

“Sekarang kita sedang berada di puncak kekuasaan, sebagaimana Qarun sedang di puncak kekayaannya. Tapi Qarun kemudian mendapatkan musibah. Siapa yang akan menolong kita dari siksaan Allah jika siksaan itu datang? Sesungguhnya kesewenang-wenangan dan kebohongan kita yang telah mencampakkan kita,” kata orang beriman itu.

Semua orang terpana. Dia dikenal sebagai pengikut Fir’aun yang setia dan kesetiaannya samasekali tidak diragukan. Lalu Fir’aun membalas dengan ucapan yang kemudian akan selalu diucapkan oleh para diktator-diktator.

“Fir’aun berkata, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar’.” (QS. Al-Mumin: 29)

Lelaki itu tidak gentar. Dia kemudian bilang kalau bencana bisa saja datang kalau mereka masih tetap berkeinginan membunuh Musa. Dia lalu menceritakan bagaimana kaum-kaum terdahulu yang hancur binasa karena menentang para Nabi. Hanya orang-orang terpelajar saja yang bisa bersepakat dengan orang beriman ini. Orang-orang terpelajar ini tahu cerita-cerita sejarah seperti jaman Nuh, kaum Ad, Tsamud dan sebagainya. Kaum terpelajar istana kemudian berdiri di pihak orang beriman tersebut.

Kemudian lelaki beriman tersebut dengan berani mengungkapkan keimanannya kemudian beranjak pergi. Sepertinya dia adalah orang yang penting sehingga tidak ada orang yang berani untuk membantahnya kecuali Fir’aun itu sendiri. Ini adalah kemenangan nyata bagi Musa. Istana kini sudah terbelah. Kini nyata-nyata kaum terpelajar istana mendukung Musa daripada Fir’aun.

Persoalan orang beriman ini sangat menyusahkan Fir’aun. Jika dia menghukum orang beriman ini, bisa brakibat fatal yaitu memancing kemarahan kaum terpelajar. Tapi jika dibiarkan begitu saja, ini juga buruk bagi kewibawaannya.

Hukum klasik kemudian melanda Mesir. Allah menurunkan paceklik. Tanah-tanah menjadi gersang, sungai Nil mengering dan pohon-pohon tidak berbuah sama sekali. Harga-harga melambung tinggi, membuat semua orang Mesir semakin menderita. Sudah bukan rahasia lagi jika hukuman macam ini selalu menimpa umat jika umat itu jauh dari keimanan dan ketakwaan. Umat Mesir ditimpa bencana ini karena dua sebab; pertama, karena mereka diam saja ketika para penyihir itu disiksa dan dibunuh. Kedua, mereka tidak berani berbuat apa-apa ketika melihat kesewenang-wenangan pemimpin mereka Fir’aun.

Dengan adanya paceklik ini, oleh Fir’aun justru digunakan dalih untuk menyudutkan Musa. Menurut Fir’aun paceklik ini disebabkan oleh Musa, ini sebagai tanda-tanda Musa telah menyihir negeri Mesir.

Paceklik berakhir, Allah kemudian menurunkan musibah yang lain berupa angin topan dan meluapnya sungai Nil sehingga tanah-tanah tidak bisa ditanami. Orang-orang Mesir kemudian berbondong-bondong mendatangi Musa untuk meminta tolong. Musa bersedia menolong asal mereka membebaskan orang Bani Israil yang menjadi budak mereka, agar bebas megikuti Musa. Mereka mengiyakan. Musa kemudian berdoa dan air yang terpancar dari tanah tersebut kemudian diserap tanah dan kini tanah-tanah bisa ditanami lagi. Azab sudah hilang, tapi orang-orang Mesir ini tak kunjung membebaskan kaum Bani Israil.

Beberapa waktu kemudian, Allah menurunkan azab lain. Sekelompok besar belalang menyerang tanaman dan buah-buahan. Mereka memakan semua tanaman tanpa tersisa dan juga makanan orang-orang Mesir. Maka kembali mereka mencari Musa untuk meminta tolong lagi. Musa mendoakan dengan syarat yang sama. Mereka mengiyakan. Dan belalang-belalang itu pun pergi, kembali ke tempat asalnya, orang-orang Mesir ini masih saja belum membebaskan kaum Bani Israil.

Allah kemudian mendatangkan azab berupa kutu. Kutu-kutu ini menyebar ke seluruh Mesir dan membawa wabah penyakit. Seperti sebelumnya, orang-orang Mesir mendatangi Musa dan berjanji untuk membebaskan kaum Bani Israil. Tapi seperti sebelumnya, setelah azabnya hilang mereka tak kunjung juga memenuhi janjinya.

Kemudian datanglah azab yang berupa katak. Seluruh penjuru Mesir tiba-tiba dipenuhi katak. Katak-katak itu berlompatan di atas makanan orang-orang, memenuhi rumah-rumah dan menyusahkan mereka. Mereka kembali mendatangi Musa dengan janji-janji yang dulu. Dan lagi, setelah azab hilang, mereka juga melupakan janji-janjinya.

Lalu datanglah azab yang terakhir. Tiba-tiba air sungai Nil tiba-tiba menjadi darah sehingga air sungai samasekali tidak bisa diminum dan dimanfaatkan penduduk Mesir. Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Ini adalah azab yang paling parah. Tak seperti orang-orang Mesir, Musa dan kaum Bani Israil masih bisa memanfaatkan air sungai ini. Sekali lagi, orang-orang Mesir meminta tolong ke Musa dengan janji-janjinya yang dulu. Setelah azab itu hilang, sekali lagi, mereka mengingkarinya.

Di sini bisa kita lihat, bagaimana orang-orang Mesir ini sudah bisa dipastikan mereka tidak akan beriman. Mereka datang ke Musa hanya untuk menyelesaikan masalahnya saja. Ketika masalah hilang, hilang pula respek mereka terhadap Nabi Allah yang mulia ini. Tapi bagaimanapun Allah belum memerintahkan untuk pergi dari Mesir. Musa dan Bani Israil masih harus bersabar menunggu perintah Allah.

Akhirnya perintah Allah kepada Musa dan kaumnya turun untuk meninggalkan Mesir. Kini semuanya akan segera berakhir. Allah kini tidak akan membiarkan Fir’aun sewenang-wenang lagi.

Bani Israil berpura-pura meminta izin Fir’aun untuk menghadiri sebuah perayaan. Dengan berat hati, Fir’aun akhirnya mengijinkan Musa dan Bani Israil untuk pergi. Kaum Bani Israil pun kemudian bersiap-siap. Mereka membawa semua perhiasan dan juga perhiasan-perhiasan yang dipinjam dari orang Mesir yang sangat banyak jumlahnya. Malam hari, Musa dan Bani Israil pun berangkat menuju Syam. Pada saat yang sama, intelijen-intelijen Fir’aun juga bergerak mengamati mereka. Intelijen Fir’aun kemudian menyimpulkan bahwa Musa dan Bani Israil berniat untuk meninggalkan Mesir.

Mendengar itu, Fir’aun kemudian memerintahkan penghimpunan pasukan besar-besaran. Padahal kalau dipikir-pikir, jumlah kaum Bani Israil tidaklah besar. Tapi memang amarah Fir’aun begitu besar sehingga membutuhkan jumlah pasukan besar untuk menghentikan kaum Bani Israil yang jumlahnya begitu kecil.

Pasukan besar Fir’aun segera bergerak untuk mengejar Musa dan Bani Israil. Fir’aun sudah bertekad untuk menghabisi Musa kali ini. Fir’aun sendiri yang memimpin pasukan besar ini dari kereta perangnya.
Musa dan Bani Israil berhenti di depan Laut Merah. Di belakangnya tampak Fir’aun dan pasukannya. Musa dan Bani Israil terjepit. Di depan laut, sedangkan di belakang Fir’aun dan pasukannya yang pasti akan membantai mereka. Untuk berperang jelas tak mungkin. Rombongan mereka banyak wanita dan anak-anak, sedangkan kaum lelakinya sama sekali tidak bersenjata. Apalagi lawan mereka adalah pasukan besar bersenjata lengkap. Suasana menegang, seperti antara hidup dan mati.

Hanya pasrah yang bisa dilakukan Musa. Semua diserahkan pada Allah semata. Allah kemudian memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Allah menghendaki adanya mukjizat. Begitu tongkat Musa terangkat tinggi, turunlah malaikat Jibril ke bumi. Musa kemudian memukul lautannya dengan tongkatnya, dan mukjizat Allah terjadi. Lautan kemudian terbelah dua. Di tengahnya terlihat sebuah jalan yang keras dan kering, sementara di kanan kirinya laut bergelombang dan tertahan pada dinding yang membatasi jalan dengan lautan.

Musa kemudian memimpin kaumnya untuk menyeberangi lautan, melalui jalan di tengah lautan yang terbelah. Mukjizat ini begitu mengagumkan. Ombak dan air laut tertahan di dinding kanan kirinya. Sungguh itu mukjizat yang mengagumkan.

Sementara itu, Fir’aun dan pasukannya sudah mencapai pesisir pantai. Mereka juga melihat mukjizat tersebut. Fir’aun kemudian mengikuti Musa dan Bani Israil, menyeberangi laut melalui jalan kering tersebut. Ketika Musa sudah sampai di seberang dan kaumnya juga telah sampai, Musa hendak memukulkan tongkat ke lautan, dengan tujuan mengembalikan laut seperti sedia kala. Namun Allah memerintahkan untuk membiarkan laut terbelah.

“Dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan.” (QS. Ad-Dukhan : 24)

Fir’aun dan bala tentaranya kini telah berada di tengah lautan yang terbelah. Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada Jibril untuk menggerakkan ombak. Ombak itu kemudian menggulung Fir’aun dan pasukannya sehingga semua orang tenggelam.
Sesaat sebelum tenggelam, Fir’aun melihat tempat di neraka. Saat dia menjumpai sakratul maut, barulah dia sadar bahwa semua yang dikatakan Musa adalah benar adanya. Namun semua sudah terlambat. Tobat Fir’aun tidak sah karena datang setelah melihat siksa yang begitu nyata dan hampir memasuki ajal.

Jibril berkata padanya,
“Apakah sekarang (baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus : 91)

Bersamaan dengan tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya, tenggelam juga kedurhakaan dan kesewenang-wenangan.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 22)

Posted on


QARUN
Kisah Qarun sebenarnya cukup populer di kalangan umat Islam. Dia adalah orang yang amat kaya. Konon, kunci-kunci kamar yang digunakan untuk menyimpan harta tidak mampu mampu diangkat oleh beberapa lelaki bertubuh kekar. Bayangkan, itu hanya kuncinya saja, belum hartanya. Dapat kita bayangkan betapa kayanya Qarun. Mungkin saja ini jauh lebih kaya daripada tokoh fiktif komik Gober Bebek yang biasa mandi uang.
Walaupun kaya, ternyata Qarun bukanlah seorang Mesir yang merupakan bangsa penguasa saat itu. Qarun adalah keturunan dari bangsa Bani Israil, bangsa yang tertindas di tanah Mesir. Namun kekayaannya yang luarbiasa ini membuat Qarun lebih dekat dengan kalangan pemerintahan Fir’aun daripada dengan kalangan Bani Israil.
Karena kekayaannya, Qarun pun menjadi sombong dan tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Tawanya yang begitu terdengar sombong menjadi begitu terkenal di kalangan orang Bani Israil. Keretanya yang mewah berlapis emas, begitu terkenal setelah kereta Fir’aun dan Haman. Beberapa orang berusaha menasihatinya agar tidak lupa akan kehidupan akhirat. Namun Qarun hanya memikirkan duniawinya saja. Seakan hartanya yang melimpah sudah cukup untuk membahagiakannya dan membeli surga. Dia menyangka bahwa harta yang datang karena kepandaiannya, bukan karena dari Allah.
Qarun juga merasa lebih baik daripada Musa yang miskin. Baginya, bagaimana dia tidak lebih mulia jika dibandingkan dengan Musa yang tidak punya satu pun perhiasan emas, sedangkan pelana kuda Qarun saja bertaburkan emas berlian?! Itulah pandangan Qarun. Benar-benar mirip dengan Fir’aun. Keduanya sama-sama merendahkan Nabi Allah Musa.
Dalam konflik Musa melawan Fir’aun yang makin memanas, Qarun jelas-jelas berpihak pada Fir’aun. Qarun berkampanye untuk menjelek-jelekan Musa di depan kaumnya sendiri, sehingga ada sebagian kaum Musa yang mulai membanding-bandingkan antara Musa dengan Qarun. Bahkan ada juga yang berpikir, “Jika Allah mencintai Musa, kenapa Dia menjadikan Musa miskin?”. Qarun terus beraksi dengan menuduh Musa tidak punya kesucian. Semakin jelas jika Qarun besekongkol dengan Fir’aun untuk menjatuhkan martabat Musa di depan pengikutnya sendiri.
Suatu hari, ketika Musa sedang di tengah-tengah kaumnya, tiba-tiba datang seorang pelacur yang menuduh Musa telah menidurinya sehari sebelumnya.
“Mengapa engkau menuduhku dengan tuduhan dusta seperti ini?” tanya Musa. Entah karena apa, mungkin karena pertolongan Allah, hati perempuan itu luluh. Perempuan itu kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia bilang bahwa Qarun telah membayarnya untuk memfitnah Musa. Maka Musa pun mendoakan Qarun.
Suatu hari, Qarun keluar mengenakan segala macam perhiasan yang dimilikinya. Tiba-tiba tanah di bawahnya terbelah sehingga dia tenggelam bersama seluruh perhiasannya, berikut istana, harta benda, anak buah dan segala yang dipunyai Qarun. Al-Qur’an tidak menjelaskan di mana Qarun tenggelam. Tapi menurut mitos, Qarun tenggelam di propinsi Fayum, Mesir. Di sana ada danau yang dipercayai tempat tenggelamnya Qarun. Danau itu bernama danau Qarun.
Sekali lagi, kita belajar, mana yang haq dan mana yang bathil.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 21)

Posted on


MUSA AS MELAWAN PARA PENYIHIR FIR’AUN

Sebelum hari itu, para penyihir dari seluruh negeri berkumpul di istana Fir’aun. Mereka adalah penyihir-penyihir terbaik yang ada saat itu. Hanya yang terbaiklah yang diundang. Fir’aun kemudian menceritakan bahwa Musa mampu membuat tongkatnya berubah menjadi ular besar dan mengeluarkan sinar terang dari sakunya. Para penyihir kemudian menanggapinya dengan tertawa, seakan-akan mereka juga tak kalah sakti dibandingkan Musa.

“Tuanku belum menjelaskan hal yang lebih penting daripada kesaktian Musa,” kata para penyihir itu.

“Apa yang lebih penting daripada ini?” tanya Fir’aun.

“Upah yang kami terima jika kami menang atas Musa,” jelas para penyihir.

Sambil tertawa, Fir’aun menjelaskan, “Kalian akan menjadi orang dekatku. Aku akan menjadikan kalian salah satu pejabat istana yang mengurusi masalah sihir. Soal imbalan, kalian tak perlu risaukan.”

Singkat cerita, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Seluruh penyihir-penyihir terbaik Fir’aun telah berkumpul. Para penduduk telah berkumpul sejak pagi untuk menyaksikan acara seru ini. Mereka semua bersemangat untuk menonton, siapakah yang lebih hebat. Apakah Musa berhasil mengalahkan para penyihir terbaik Fir’aun?

Musa dan Harun telah datang. Suasana hening ketika para penyihir mendekati Musa. Para penyihir berkata,

“Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” (QS. Thaha : 65)

Musa kemudian menjawab,

“Silahkan kamu sekalian melemparkan (terlebih dahulu).” (QS Thaha : 66)

Para penyihir berkata,

“Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (QS. Asy-Syu’ara : 44)

Musa menjawab sesumbar mereka,

“Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia mebinasakan kamu dengan siksa.” (QS. Thaha : 61)

Para penyihir kemudian melemparkan tongkat dan tali mereka. Tempat itu tiba-tiba dipenuhi oleh ular. Penonton pun bertepuk tangan dengan riuh. Senyum Fir’aun mengembang, merasa yakin akan kemenangannya. Sementara itu, Musa merasa grogi dan takut melihat lawannya.

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya,” (QS. Thaha : 67)

Tak seorang pun tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Musa saat itu. Beliau hanya berdiri mematung, ditemani oleh Harun saudaranya, di antara riuh rendahnya penonton yang bersorak. Selang berapa waktu, sebuah cahaya menyinari hatinya. Allah swt berfirman kepadanya,

“Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, darimana saja dia datang.” (QS. Thaha : 69)

Hati Musa kini lebih lega dan yakin. Allah swt telah menenangkannya dengan janji-Nya. Tangannya yang semula gemetaran, kini sudah tidak lagi. Musa kemudian mengangkat tangan kanannya yang memegang lalu melemparkannya. Begitu tongkat menyentuh tanah, terjadilah mukjizat Allah.

Para penduduk Mesir, para penyihir dan Fir’aun sendiri belum pernah menyaksikan pemandangan ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau tongkat-tongkat dan tali milik penyihir itu tidak berubah menjadi ular. Ini hanya tampak sebagai ular, bukan jadi ular sungguhan. Tongkat dan tali mereka tidak bergerak. Tapi apa yang terjadi waktu itu benar-benar lain. Tongkat Musa berubah menjadi seekor ular besar dan memangsa ular-ular kecil milik para penyihir. Hanya dalam hitungan detik, tempat itu bersih dari ular-ular kecil. Ular besar itu bergerak ke Musa dan ketika tangan Musa memegangnya, ular itu berubah lagi menjadi tongkat. Semua orang yang menyaksikan hal itu tercengang, termasuk Fir’aun sendiri. Semua orang, termasuk para penyihir, sadar bahwa Musa bukanlah seorang penyihir. Apa yang barusan mereka saksikan adalah mukjizat, bukanlah sihir. Para penyihir itu kemudian menjatuhkan diri dan bersujud.

“Mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (QS. Al-A’raf : 122).

Rakyat Mesir dan Bani Israil juga telah menyaksikan mukjizat Allah ini. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penyihir terbaik Fir’aun bersujud dan menyatakan keimanan mereka. Melihat hal ini, Fir’aun sudah merasa tidak mampu menguasai keadaan lagi. Ini adalah hal yang berbahaya.

“Kenapa kalian beriman kepada Tuhannya Musa padahal aku tidak mengijinkan?” tanya Fir’aun kepada para penyihir.

“Kami tidak memerlukan ijin seseorang untuk beriman,” kata mereka.

“Ini jelas-jelas sebuah pemberontakan!” raung Fir’aun, “Tangan dan kaki kalian akan dipotong. Kalian akan disalib di batang kurma. Ini adalah pemberontakan!”

“Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan. Kami memilih percaya akan mukjizat Allah ini,” kata para penyihir.

Fir’aun marah besar dan memerintahkan pasukannya untuk menyalib para penyihir ini. Kesaksian para penyihir ini tidak bisa dianggap enteng karena mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai negeri. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dan mempunyai status tinggi dalam masyarakat Mesir waktu itu. Singkatnya, mereka adalah orang-orang panutan. Dan orang-orang itu kini menjadi orang yang beriman, itu adalah sebuah hasil positif bagi Musa dan Harun. Tapi kesaksian ini adalah bencana bagi Fir’aun.

Para penyihir itu kemudian disalib, dan penduduk Mesir hanya diam saja karena takut akan kekuasaan Fir’aun. Tapi Fir’aun tahu, kekuasaannya dalam bahaya. Dia pun kemudian mengadakan serangkaian pertemuan darurat dengan para bawahannya.

“Apa yang dikatakan orang-orang?” tanya Fir’aun kepada kepala intelijennya.

“Anak buah hamba telah menyelundup di antara mereka. Kemenangan Musa tempo hari adalah hasil dari persekongkolan Musa dengan para penyihir itu. Disinyalir ini dibiayai oleh pihak-pihak tertentu, Paduka,” jelas Kepala Intelijen.

“Bagaimana dengan mayat para penyihir?”

“Mayat mereka digantung di tempat-tempat umum untuk menakut-nakuti penduduk, Paduka.”

“Bagaimana dengan prajurit, Panglima?” tanya Fir’aun kepada Panglima Pasukan.

“Kami tinggal menunggu perintah, Paduka,” jawab Panglima.

Fir’aun diam sejenak. Dia terlihat berpikir keras. Melihat hal itu, Haman kemudian berkata, “Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat seenaknya dan tidak mau menyembah Tuanku lagi?”

“Rupanya engkau bisa membaca pikiranku, Haman,” kata Fir’aun, “Tentu saja tidak akan aku biarkan. Kita akan bunuh semua anak-anak Bani Israil dan membiarkan hidup kaum wanita mereka, agar kita bisa tetap menguasai mereka.”

“Baiklah, Paduka. Kami akan melaksanakan perintah Paduka,” kata para bawahan.

Perintah Fir’aun dilaksanakan. Anak-anak Bani Israil dibunuh, para wanitanya diperkosa, dan para lelaki yang menentang dipenjara. Musa hanya bisa menyaksikan ini semua tanpa bisa mencegahnya. Yang bisa dilakukan sementara hanyalah bersabar sambil terus berdoa untuk memohon pertolongan Allah.

Intimidasi Fir’aun berhasil menjatuhkan mental Bani Israil. Kepada Musa mereka berkata, “Sebelum kedatanganmu, kami telah disiksa dan anak-anak kami dibunuh. Kini setelah engkau datang pun tidak ada yang berubah.”

Mendengar ucapan itu, Musa menjelaskan bahwa Allah akan menolong mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia. Tapi tetap saja mereka mengeluh.

Situasi yang dihadapi Musa dari hari ke hari makin sulit saja. Di satu sisi, Musa menghadapi penindasan Fir’aun, di sisi lain Musa harus menghadapi keluhan ketidaksabaran kaumnya sendiri.

Di tengah kondisi yang kacau balau ini, Qarun beraksi. Siapakah Qarun? Simak di tulisan berikutnya.

UPIN, IPIN DAN AWAL PUASA

Posted on


Beberapa hari yang lalu aku melihat serial Upin & Ipin di TV. Serial animasi dari Malaysia ini sungguh menarik bagiku. Kali ini bercerita tentang awal puasa. Cerita singkatnya begini; bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Seperti yang kita tahu, Ramadhan datang tidak ditentukan seperti bulan-bulan di sistem tahun masehi, tapi kedatangan Ramadhan dilihat apakah bulan baru sudah tampak apa belum. Kak Ros (kakak Upin dan Ipin) bilang bahwa kalau bulan baru belum terlihat, berarti besok belum puasa. Tapi jika sudah terlihat bulan baru, berarti malam ini sudah memasuki bulan Ramadhan dan besok pun kita sudah diwajibkan untuk berpuasa. Upin dan Ipin kemudian mengartikan ini bahwa mereka harus melihat bulan baru itu sendiri untuk menentukan apakah besok akan berpuasa atau tidak.

Upin dan Ipin pun kemudian bersiaga malam itu. Dengan menggunakan keker (teleskop), mereka menunggu bulan baru tampak. Mereka begadang hingga larut malam. Salah satu dari mereka pun sudah tampak mengantuk. Hingga kemudian datang Opa (nenek mereka) dan bertanya, “Kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam dan kalian besok harus sekolah.”

“Kita hendak melihat bulan baru, Opa,” jawab mereka.

“Buat apa?”

“Kalau tidak melihat, bagaimana kita tahu besok puasa atau tidak.”

“Puasa baru lusa. Tak perlu kita lihat bulan baru sendiri. Tunggu saja pengumumannya di TV.”

Aku ngakak habis. Bener juga, aku juga pernah mengalami hal seperti ini. Ini hebatnya serial animasi ini. Terasa dekat dan full insight dari para pemirsa Indonesia. Kapan ya, kita punya program tv seperti ini? Yang bisa dijadikan penutan oleh anak-anak muslim Indonesia.

Anyway, hari ini mulai puasa. Tak perlu seperti Upin dan Ipin untuk tahu awal puasa. Cukup panteng aja tv aja, nungguin headline news. Atau bisa juga cek di internet. Ok, deh selamat datang Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini bener-bener bisa meningkatkan kualitas iman kita semua. Amin.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 20)

Posted on Updated on


DIANGKAT MENJADI RASUL

Akhirnya Musa menikahi salah satu gadis penggembala itu. Gadis yang mana, Al-Qur’an tidak menceritakannya dengan detil. Selama sepuluh tahun, Musa jauh dari keluarga dan kaumnya. Masa sepuluh tahun  ini adalah masa persiapan yang luarbiasa sebelum menerima amanat yang lebih besar.

Pada suatu malam, tiba-tiba saja muncul kerinduan yang mendalam dalam hati Musa terhadap tanah kelahirannya Mesir. Musa tahu, kalau dia kembali, berbagai masalah pasti akan menghadangnya, salah satunya adalah masalah pembunuhan yang pernah dilakukannya. Musa sudah ambil keputusan. Besok pagi dia dan keluarganya akan berangkat ke Mesir.

Keesokan paginya, Musa dan keluarganya pun berangkat menuju Mesir. Mereka terus berjalan hingga malam turun. Malam begitu mencekam, gelap gulita dan hujan pun turun dengan derasnya. Musa berusaha membuat api tapi selalu gagal. Semua orang menggigil kedinginan. Musa melihat api besar menyala di kejauhan. “Aku melihat api di sana,” kata Musa. Keluarga merasa heran, karena mereka tidak melihat api besar samasekali. “Aku akan ke sana,” kata Musa. Musa pun kemudian berjalan sendirian menuju api besar yang dilihatnya. Sedangkan keluarganya diperintahkan untuk menunggu sebentar.

Musa terus berjalan menuju api besar itu. Sampailah beliau di lembah Thuwa. Di situ beliau merasa aneh, tidak ada hawa dingin maupun angin. Ada semacam keheningan yang luar biasa di sana. Ketika sudah benar-benar dekat dengan api, tiba-tiba Musa mendengar sebuah suara memanggil,

“Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. An-Naml: 8)

Jantung Musa berdegup kencang. Seluruh tubuhnya gemetaran. Suara itu berasal dari segala penjuru, tidak terpusat dari satu area saja. Musa memandang api di hadapannya dan melihat sebatang pohon berduri berwarna hijau. Anehnya, setiap kali api berkobar, semakin hijau warna pohon itu. Seharusnya warna pohon itu berubah hitam karena hangus oleh api itu. Tapi ini adalah sebuah perkecualian.

“Api atau cahayakah di hadapanku ini?” tanya Musa dalam hati.

Tiba-tiba saja bumi di bawah kakinya bergetar saat Allah memanggil, “Wahai Musa…” (QS. Thaha : 11)

“Hamba, Tuhanku…” jawab Musa.

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu.” (QS. Thaha : 12)

“Hamba, Tuhanku,” jawab Musa.

“Maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.” (QS. Thaha : 12)

Musa kemudian menanggalkan kedua terompahnya.

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa.” (QS. Thaha: 13-16)

Tubuh Musa semakin gemetaran mendengarkan wahyu Allah secara langsung.

“Apakah yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?” (QS. Thaha: 17)

Dengan suara gemetar Musa menjawab,

“Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS. Thaha:18)

“Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa!” (QS. Thaha:19)

Musa melemparkan tongkatnya. Beliau pun kaget, tongkatnya tiba-tiba berubah menjadi seekor ular besar yang mampu bergerak dengan gesitnya. Musa ketakutan sekali dan membalikkan badan akan melarikan diri.

“Wahai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul tidak takut dihadapan-Ku.” (QS. An-Naml:10)

Musa berbalik lagi. Ular itu masih saja bergerak dengan menakutkan.

“Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Thaha:21)

Dengan tangan gemetar, Musa berusaha memegang ular besar tersebut. Begitu tersentuh tangannya, ular itu lagsung berubah menjadi tongkat seperti semula.

“Masukkan tanganmu ke leher baju (saku)mu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganu (ke dada)mu bila ketakutan.” (QS. Al-Qashash:32)

Musa lalu memasukkan tangannya ke dalam sakunya lalu mengeluarkannya kembali. Tangannya berubah menjadi putih bercahaya seperti bulan purnama. Beliau kemudian mendekapkan tangannya ke dada, sebagaimana perintah Allah. Ajaib! Ketakutan yang dirasakan hilang sama sekali.

Setelah memberikan kedua mukjizat ini, Allah kemudian memerintahkan Musa untuk menemui Fir’aun dan mengajaknya kembali ke jalan Allah dengan cara yang halus. Allah juga memerintahkan Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Musa tahu persis kalau Fir’aun takkan mau mendengarkan ajakannya, apalagi mengikutinya. Tentang Bani Israil, Musa juga tahu persis Fir’aun takkan mengijinkan Bani Israil keluar dari Mesir. Karena dalam struktur masyarakat Mesir, mereka membutuhkan Bani Israil sebagai budak, kaum yang akan melaksanakan semua perintah. Bani Israil hanya dihitung sebagai barang, bukan manusia, yang bisa diwariskan ke anak cucu.

Singkat cerita, Musa menghadap Fir’aun bersama saudaranya yang juga Nabi, yaitu Harun as, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Tujuan tidak lain untuk mengajak Fir’aun kembali menyembah Allah semata dengan cara halus dan lemah lembut.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Tak usah berbelit-belit!” tanya Fir’aun setelah mendengarkan ajakan Musa.

“Aku ingin Anda menyerahkan Bani Israil kepadaku,” jawab Musa tegas.

“Kenapa aku harus memberikan padamu? Mereka adalah hamba-hambaku,” kata Fir’aun.

“Mereka adalah hamba Allah, Tuhan semesta alam,” jawab Musa.

“Bukankan engkau Musa yang pernah kami temukan di sungai Nil saat masih bayi? Bukankan engkau yang kami rawat di istana ini, makan makanan kami, minum minuman kami dan kami cukupi dengan kebaikan-kebaikan? Bukankah engkau Musa yang kemudian membunuh lalu melarikan diri dari negeri ini? Bukankah membunuh adalah tindakan kufur? Lalu kau datang untuk menceramahiku?” tanya Fir’aun dengan nada sinis.

Musa tahu, Fir’aun berusaha mengungkit-ungkit masa lalunya. Musa lalu menjelaskan bahwa pembunuhan yang dia lakukan adalah sebuah ketidaksengajaan. Musa juga menjelaskan bahwa Allah telah memberikan wahyu dan menjadikannya seorang rasul.

“Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil” (QS. Asy-Syu’ara:22)

Allah menceritakan dialog Musa dengan Fir’aun di surat Asy-Syu’ara sebagai berikut,

“Fir’aun bertanya, ‘Siapa Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab, ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.’ Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya, ‘Apakah kamu tidak mendengarkan?’ Musa berkata (pula), ‘Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.’ Fir’aun berkata, ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata, ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal’.” (QS. Asy-Syu’ara: 23-28)

Fir’aun kemudian bertanya, kenapa Musa berani sekali menyembah selain padanya. Fir’aun menganggap dirinya sebagai tuhan yang pantas disembah.

“Fir’aun berkata, ‘Sungguh jika kamu menyembah ilah selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan’.” (QS. Asy-Syu’ara : 29)

Mendengar ancaman penjara, Musa kemudian berkata,

“Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendati pun aku tunjukkan kapamu sesuatu (keterangan) yang nyata?” (QS. Asy-Syu’ara:30)

Musa kini benar-benar menantang Fir’aun. Raja lalim itu balik menantang, apakah yang dikatakan Musa benar atau tidak.

“Fir’aun berkata, ‘Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar’.” (QS. Asy-Syu’ara:31)

Musa kemudian melemparkan tongkatnya ke tengah balairung istana yang luas. Begitu tongkat menyentuh lantai istana, tiba-tiba langsung berubah menjadi seekor ular besar yang menakutkan dan mampu bergerak sangat cepat. Ular raksasa itu kemudian menjalar ke Fir’aun dan menjepitnya hingga Fir’aun merasa sangat ketakutan. Musa memegang ekor ular tersebut dan berubah lagi menjadi tongkat.

Musa kemudian memperlihatkan mukjizatnya yang kedua. Beliau memasukkan tangan ke sakunya. Begitu dikeluarkan lagi, tangannya terlihat putih bercahaya laksana bulan. Seluruh lampu yang ada di istana tersebut kalah cahayanya dibandingkan dengan cahaya tangan Musa tersebut. Istana itu terlihat hening. Kedua mukjizat itu menimbulkan perasaan takut yang luar biasa terhadap semua orang yang hadir dalam pertemuan tersebut.

“Pergilah kalian berdua. Lain kali kita lanjutkan pembicaraan kita ini!” usir Fir’aun kepada Musa dan Harun. Fir’aun betul-betul bingung melihat kedua mukjizat Musa ini. Setelah kedua Nabi tersebut pergi, Fir’aun langsung mengumpulkan para pembesar kerajaan di istananya termasuk Haman sang perdana menteri.

“Apakah aku ini seorang pembahong, hai Haman?” tanya Fir’aun kepada perdana menterinya.

“Siapa orang yang berani kufur terhadap Paduka?” tanya Haman.

“Musa”

“Musa telah berbohong, Tuanku.”

“Aku juga tahu kalau dia berbohong.”

Setelah itu, Fir’aun menyampaikan sebuah perintah ke Haman seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an berikut ini,

“Dan berkatalah Fir’aun, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat ilah Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta’.” (QS. Al-Mumin:36-37)

Fir’aun memerintahkan Haman untuk membuat sebuah bangunan yang mencapai langit. Haman tahu ini adalah sesuatu yang mustahil, walaupun saat itu Mesir adalah negeri yang sangat maju dengan teknologi dan ilmu pengetahuannya. Walau mustahil, Haman tak berani menentang perintah Fir’aun dan akan mewujudkan bangunan tersebut.

Dalam pertemuan itu, juga disepakati mengundang Musa dan Harun untuk hadir dalam sebuah pertemuan umum para penyihir. Fir’aun dan para pembesarnya menganggap Musa adalah seorang penyihir belaka, bukan seorang Nabi. Jika para penyihir itu berkumpul dalam acara yang disaksikan oleh seluruh rakyat Mesir dan Bani Israil, maka para penyihir ini akan diadu dengan Musa sehingga akan terbukti jika Musa hanyalah seorang penyihir, bukan Nabi.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 19)

Posted on


MASA MUDA MUSA AS

Dengan kehendak Allah, Musa akhirnya dibesarka di istana Fir’aun, istana yang merupakan pusat kekuatan dari sebuah negara adidaya saat itu, yang nantinya akan dihancurkan demi melaksanakan kehendak Allah. Musa mendapatkan pendidikan terbaik pada masa itu. Musa belajar berbagai hal dari guru-guru yang paling hebat. Jadilah Musa tumbuh di lingkungan istana musuhnya dan juga musuh Allah.

Musa sudah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak Fir’aun. Beliau tahu jika dirinya adalah anak dari seorang Bani Israil. Beliau juga tahu bagaimana kesewenang-wenangannya Fir’aun dan bawahannya terhadap orang-orang Bani Israil yang merupakan kaumnya. Kini beliau telah dewasa dan bukanlah kanak-kanak lagi. Tak hanya otaknya yang tumbuh cerdas, badannya pun kekar dengan otot-otot yang kuat.

Suatu hari Musa berjalan-jalan dan beliau melihat salah satu anak buah Fir’aun sedang berkelahi dengan lelaki Bani Israil. Lelaki Bani Israil itu adalah pihak yang lemah meminta tolong kepada Musa. Waktu itu Musa adalah anak muda yang mempunyai kekuatan fisik mengagumkan. Hanya dengan sekali pukul, anak buah Fir’aun yang sewenang-wenang pun mati terkapar. Sebenarnya tak ada maksud sama sekali untuk membunuhnya. Tapi apa daya, nasi sudah terlanjur jadi bubur.

Menyadari kesalahannya, Musa kemudian berdoa memohon ampunan Allah, “Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri. Oleh karena itu, ampunilah aku”. Allah kemudian mengampuninya, “Sesungguhnya Allah-lah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Setelah kejadian ini Musa berjanji untuk tidak membela dan turut campur dalam pertengkaran.

Tapi janji ini hampir saja dilanggar oleh Musa. Suatu hari, Musa mendengar lagi suara minta tolong. Ternyata yang berteriak minta tolong adalah lelaki Bani Israil yang pernah ditolong Musa tersebut. Masih seperti yang dulu, lelaki Israel ini terlibat lagi perkelahian dengan orang Mesir. Musa tahu kalau orang Israel ini adalah biang kerok. Dia suka sekali memulai keributan. Musa pun berteriak padanya, “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”.

Setelah berteriak, Musa menghampiri keduanya. Tangannya hendak memukul orang Mesir. Orang Israel merasa, setelah orang Mesir dia juga akan mendapatkan bogem mentah Musa juga. Orang Israel itu meminta belas kasihan dan berkata, “Hai Musa, apakah kamu hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari rang-orang yang mengadakan perdamaian.”

Orang Mesir yang sedang bertengkar dengan orang Israel akhirnya tahu bahwa yang membunuh serdadu Fir’aun adalah Musa. Sebelumnya penyelidik kerajaan sudah merasa putus asa untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Tanpa pikir panjang, orang Mesir ini melaporkan apa yang dia dengar ke pihak Fir’aun. Dengan begitu terungkaplah rahasia yang disembunyikan Musa. Tak lama, datang seorang penduduk Mesir yang telah beriman. Orang itu berbisik kepada Musa bahwa Fir’aun dan anak buahnya saat ini mulai memburu dirinya untuk dibunuh. Dia menyarankan Musa untuk segera meninggalkan Mesir.

Musa kemudian pergi meninggalkan Mesir. Untuk menghindari pengejaran, beliau memilih jalan yang jarang dilewati orang-orang. Melewati padang pasir yang tandus dan panas. Tanpa bekal, teman dan tunggangan, Musa terus saja berjalan hingga sampailah dia di daerah yang bernama Madyan. Musa kemudian beristirahat di dekat sumur yang biasa digunakan untuk memberikan minum ternak.

Tak lama muncul beberapa penggembala yang akan memberikan minum ternaknya. Di antara para penggembala ini, terlihat dua orang gadis cantik yang juga menggembalakan ternaknya. Mereka berdua terlihat kewalahan mengatur hewan ternaknya. Seperti mendapatkan ide, Musa lalu mendekati kedua gadis itu dan bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?”

“Kami sedang menunggu para penggembala lain selesai memberikan minum pada ternaknya. Setelah itu barulah kami memberikan minum pada ternak kami,” kata salah satu gadis itu.

“Mengapa kalian tidak memberikan minum sekarang saja?” tanya Musa.

“Kami tak akan menang berebut air dengan para lelaki itu,” kata salah satu gadis itu.

“Mengapa gadis secantik kalian harus menggembalakan ternak?” tanya Musa.

“Ayah kami sudah tua. Kondisinya tidak memungkinkan untuk keluar rumah setiap hari untuk menggembalakan kambing setiap hari,” jawab mereka.

“Kalau begitu, biarlah aku bantu memberikan minum pada ternak kalian,” kata Musa pada akhirnya.

Musa kemudian pergi sumur itu dan mendapatinya telah ditutup oleh batu besar yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang. Dengan kekuatan penuh, Musa berhasil mengangkat batu itu lalu mengambil air. Setelah selesai, batu besar itu kemudian kembali diletakkan menutupi sumur. Akhirnya ternak kedua gadis itu bisa minum air tanpa perlu menunggu lebih lama. Setelah selesai, kedua gadis pun pulang bersama ternaknya yang telah puas minum. Sedangkan Musa beristirahat di area sumur tersebut dengan perut keroncongan.

Sesampainya di rumah, ayah kedua gadis itu heran, tumben kedua anak gadisnya pulang lebih cepat. Gadis yang lebih tua kemudian menjawab, “Hari ini kami beruntung, Ayah. Kami bertemu dengan lelaki baik hati, yang mau membantu kami untuk mengambilkan air minum ternak kita.” Gadis yang lebih muda menambahkan, “Walaupun dia sangat kuat, sepertinya dia sangat kelelahan. Mungkin karena dia telah menempuh perjalanan jauh dan kelaparan.”

“Temuilah dia dan katakan padanya, ‘Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar dia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami’,” kata ayah mereka.

Dengan jantung berdegup, salah satu gadis memanggil Musa dan menyampaikan pesan ayahnya. Dalam hati yang terdalam, sama sekali tidak terbersit untuk mengharapkan imbalan. Pertolongan itu dilakukan Musa dengan ikhlas. Tapi akhirnya, Musa pun kemudian beranjak untuk memenuhi undangan itu.

Gadis itu berjalan di depan Musa. Ketika angin bertiup lebih kencang menerpa gaun gadis itu, Musa kemudian menundukkan pandangannya sambil berkata, “Biarlah aku berjalan di depanmu. Tunjukkan saja jalannya.”

Akhirnya mereka tiba di rumah kedua gadis dan ayahnya. Ayah gadis ini sudah berumur tua dan orang yang saleh. Dia menyuguhkan makanan untuk Musa sambi bertanya tujuan Musa. Musa lalu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Orang tua itu lalu berkata, “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari oran-orang zalim itu. Negeri ini tidak termasuk kekuasaannya Mesir. Mereka tidak akan menyusulmu ke sini.”

Maka legalah hati Musa. Dengan setengah berbisik, salah satu gadis itu kemudian berkata kepada ayahnya, “Wahai bapakku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

“Darimana kau tahu dia orang yang kuat?” tanya ayahnya.

“Dia sendirian sanggup mengangkat batu yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang,” kata gadis itu.

“Lalu, darimana kau tahu dia adalah orang yang bisa dipercaya?” tanya ayahnya.

“Dia menolak berjalan di belakangku dan memilih berjalan di depanku sehingga tidak melihatku berjalan di depannya. Selain itu, sewaktu aku bicara, dia selalu menundukkan kepalanya sebagai tanda dia adalah lelaki yang sopan dan memiliki rasa malu.”

Kemudian orang tua itu menghampiri Musa dan berkata, “Wahai Musa, aku hendak menikahkanmu dengan salah satu anak gadisku asal engkau mau menggembalakan ternakku selama delapan tahun. Jika engkau mau menambah dua tahun lagi, maka semuanya terserah padamu. Aku tidak akan merepotkanmu, dan insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.”

Musa menjawab, “Ini adalah kesepakatan kita berdua. Biarlah Allah yang menjadi saksi kesepakatan kita ini. Entah aku akan bekerja 8 tahun atau 10 tahun, yang jelas setelah itu aku boleh pergi.”

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 18)

Posted on Updated on


KISAH BAYI MUSA DAN SUNGAI NIL

Setelah Yusuf sukses menjadi pemimpin Mesir, Ya’qub as atau yang sering disebut sebagai Israel, menetap di Mesir bersama Yusuf, anaknya tercinta. Saudara-saudara Yusuf juga pindah ke Mesir beserta semua anak keturunannya. Anak keturunan Ya’qub ini kemudian dikenal sebagai bangsa Israel atau Bani Israel.

Selama menjadi penguasa Mesir, Yusuf as berhasil mengubah negeri itu menjadi negeri yang mengesakan Allah. Ketika Yusuf as meninggal, secara perlahan Mesir berubah menjadi negeri kafir, dari mengesakan Allah menjadi negeri yang menyembah banyak tuhan atau politheisme. Hingga akhirnya Mesir diperintah oleh Fir’aun, seorang penguasa yang menganggap dirinya sebagai tuhan.

Fir’aun adalah tipikal pemimpin yang diktator yang kejam. Dia mau melakukan apa saja untuk melindungi kekuasaannya. Memang banyak tuhan dalam sistem politheisme ini, tapi semua tuhan ini kalah kedudukannya dengan Fir’aun. Hal itulah yang terjadi dalam masa pemerintahan Fir’aun saat itu. Semua orang takut kepada Fir’aun dan mereka mematuhi apapun perintahnya, perintah yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Sedangkan keturunan Ya’qub, sedikit demi sedikit juga mulai meninggalkan agama Tauhid. Mereka juga mulai menyembah Fir’aun dan juga tuhan-tuhan yang lain. Orang-orang Israel ini ditindas oleh Fir’aun dan banyak dari mereka menjadi budak-budak untuk peradaban yang paling maju saat itu. Walau tertindas, jumlah orang Israel ini makin lama makin banyak dan makin kuat. Fir’aun mulai menganggap orang-orang Israel ini adalah sebuah ancaman.

Suatu hari, muncul sebuah kabar di kalangan orang Israel bahwa salah satu keturunan orang Israel ini akan menurunkan Fir’aun dari singgasananya. Entah ini benar atau sekedar mimpi omong kosong kaum tertindas, yang jelas kabar ini sampai di telinga Fir’aun. Mendengar kabar itu, Fir’aun mengeluarkan sebuah perintah yang ganjil, yaitu membunuh semua bayi lelaki Israel. Mendengar perintah itu, para penasehat ekonomi mengingatkan Fir’aun bahwa tenaga dari bangsa Israel ini masih diperlukan untuk pembangunan Mesir. Dengan adanya pembantaian bayi ini, akan ada ketidakseimbangan dalam piramida penduduk bangsa Israel. Akibatnya, dalam jangka panjang Mesir akan kekurangan tenaga kerja kasar atau budak. Jika itu sampai terjadi, maka ekonomi Mesir akan berhenti.

Fir’aun kemudian memutuskan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir dalam satu tahun dan kemudian membiarkan hidup yang lahir pada satu tahun berikutnya. Begitu terus, berselang-seling.

Musa as dan Harun as adalah saudara sekandung. Ibunda Musa melahirkan Harun pada tahun semua bayi laki-laki dibiarkan hidup. Jadi Harun selamat dari pembantaian. Tapi tidak begitu dengan Musa. Kebetulan Musa lahir pada tahun di mana seluruh bayi laki-laki harus dibunuh. Kelahiran Musa ini membuat sang ibunda ketakutan luar biasa. Naluri keibuannya menginginkan keselamatan bayinya, seperti halnya Harun. Hingga Allah pun menurunkan ilham kepada sang ibunda sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an ;

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan megembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul’.” (QS. Al-Qashas : 7)

Begitu mendapat ilham tersebut, ibunda Musa langsung menurutinya tanpa ragu. Dia menyusui Musa lalu menaruhnya ke dalam peti kecil dan menghanyutkannya di sungai Nil. Sebagai seorang ibu, ini adalah sebuah perpisahan yang berat. Tapi dia yakin akan janji Allah yang pasti akan ditepati.

Begitu kotak itu menyentuh air, Allah memerintahkan air sungai untuk mengalir dengan tenang sebagaimana Allah memerintahkan api untuk menjadi dingin ketika membakar Ibrahim as. Air sungai ini juga menaati perintah Allah dan mengalir tenang, mengantarkan calon nabi hingga sampai di istana Fir’aun. Di sana kotak kecil itu kemudian dititipkan pada tepian sungai.

Angin sepoi berhembus pelan, membisikkan pada rerumputan, memberitahu bahwa Musa calon nabi besar sedang berbaring di dalam kotak itu. Musa masih saja tertidur dengan lelap dan samasekali tidak terganggu dengan perjalanannya ini.

Pagi itu, mentari bersinar cerah. Ditemani oleh para dayangnya, istri Fir’aun berjalan-jalan di tepian Nil yang membelah istananya. Istri Fir’aun mempunyai sifat yang berbeda dengan suaminya. Jika Fir’aun kejam, maka istrinya adalah seorang penyayang. Jika Fir’aun otoriter, maka istrinya ini lemah lembut. Walaupun mempunyai sifat yang bertentangan, Fir’aun menuruti semua kemauan istrinya.

Ketika sedang berjalan, tiba-tiba salah satu dayang melihat kotak yang terdampar di pinggir sungai. Diambilnya kotak tersebut dan diberikan kepada istri Fir’aun tanpa berani membukanya. Ketika dibuka, istri Fir’aun itu kaget melihat bayi yang tertidur tenang. Istri Fir’aun langsung jatuh cinta terhadap bayi itu. Fir’aun dan istrinya memang belum mempunyai anak, sehingga wajar kalau istri Fir’aun ini langsung ingin mengadopsi bayi Musa.

Mendengar ini, Fir’aun awalnya tidak setuju. Ini jelas-jelas bayi kaum Bani Israil yang harusnya dibunuh tahun ini. Tapi Fir’aun kalah dengan rengekan istrinya sehingga bayi Musa pun diadopsi.

Kini bayi Musa telah aman dari pembantaian Fir’aun. Tapi masalah masih menghadang. Bayi Musa tidak mau minum susu. Beberapa wanita yang menyusui diperintahkan untuk memberikan susunya ke bayi Musa. Tapi bayi Musa menolaknya. Sang ibunda Musa mendengar hal ini lalu mengajukan diri untuk mencoba mensusuinya. Tanpa disangka, bayi Musa mau minum susu dari Ibunda. Semua orang di istana akhirnya lega. Istri Fir’aun kemudian menyerahkan bayi Musa untuk disusui dengan perjanjian setelah bayi Musa sudah tidak membutuhkan ASI lagi, maka Musa harus dikembalikan ke istana.

Ternyata janji Allah benar adanya. Bayi itu kemudian kembali ke pelukannya tanpa harus merasa khawatir untuk dibunuh oleh penguasa lalim Fir’aun.