islam

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 32)

Posted on Updated on


KISAH NABI ZAKARIYA AS DAN MARYAM (MARIA)

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang nabi dan seorang ahli ilmu. Nabi itu bernama Zakariya as, sedangkan ahli ilmu itu bernama Imran. Imran sangat mendambakan seorang anak. Sampai detik ini, istrinya samasekali belum hamil.

Pada suatu pagi, istri Imran melihat seekor induk burung yang menyuapi makan anaknya. Melihat itu, dia teringat akan keadaan dirinya sendiri yang masih belum juga dikaruniai anak. Diangkatnya tangan untuk menengadah dan berdoa dengan sepenuh hati.

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Beberapa waktu kemudian, dia merasakan janin di dalam perutnya. Dia sangat bersyukur dan bernazar untuk menjadikan putranya kelak sebagai pelayan di rumah ibadah (Baitul Maqdis).

Akhirnya bayi itu pun lahir. Di luar dugaan, ternyata anak itu perempuan, bukan laki-laki seperti yang diharapkan. Walau begitu, dia tetap bersyukur dan bertekad akan melaksanakan nazarnya, menjadikan anaknya sebagai pelayan Baitul Maqdis. Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Maryam, atau orang Kristen menyebutnya Maria.

Sebelum Maryam lahir, Imran, ayahanda Maryam meninggal dunia. Setelah Maryam lahir semua orang berebut untuk mendapatkan kehormatan mengasuh Maryam, mengasuh anak dari orang yang mulia. Melihat itu semua, Zakariya as berkata, “Aku yang akan merawatnya karena Imran masih kerabatku. Aku juga nabi dari umat ini. Aku lebih berhak mengasuh bayi ini daripada kalian semua.”

“Mengapa bukan kami saja? Kami tidak akan membiarkanmu memperoleh kehormatan itu tanpa perlawanan kami,” kata orang-orang itu sambil marah-marah. Hampir saja mereka akan bertengkar, namun mereka kemudian mensepakati sebuah cara yaitu lewat undian.

Maryam diletakkan di tanah dan disampingnya juga diletakkan anak-anak panah milik orang-orang yang ingin mengasuhnya. Lalu didatangkan anak kecil yang akan mengambil satu anak panah. Dan ternyata anak panah milik nabi Zakariya yang diambil.

“Allah telah memutuskan aku sebagai pengasuh Maryam,” kata Zakariya. Tapi orang-orang tidak terima atas hasil undian itu, “Tidak. Undian harus diulang lagi.”

Kemudian mereka melakukan undian lagi. Kali ini caranya beda. Masing-masing dari mereka menulis nama di anak panah lalu melemparkan anak panah ke sungai. Barangsiapa yang anak panahnya melawan arus maka dialah yang berhak mengasuh Maryam. Dan ternyata hanyalah anak panah milik Zakariya as saja yang melawan arus.

Zakariya mengira orang-orang sudah bisa menerima hasil undian itu. Tapi ternyata tidak. Mereka menginginkan undian lagi, hanya caranya yang dirubah. Kali ini anak panah yang mengikuti arus-lah yang berhak mengasuh Maryam. Dilemparlah anak-anak panah mereka dan sekali lagi, hanya milik Zakariya yang mengikuti arus, sedangkan yang lain melawan arus. Apa boleh buat, mereka harus merelakan Maryam diasuh oleh nabi mereka, Nabi Zakariya as.

Zakariya as kemudian membesarkan Maryam dengan kemuliaan. Maryam memiliki tempat khusus atau mihrab di Bait Suci. Maryam jarang sekali meninggalkan mihrab. Sehari-hari diisinya dengan shalat, beribadah, berzikir dan mencintai Allah.

Pada suatu hari, Zakariya as mengunjungi Maryam di mihrabnya. Zakariya pun keheranan melihat mihrab Maryam penuh dengan buah-buahan. Pada musim panas, di dalam mihrabnya penuh dengan buah-buahan musim dingin.

“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Zakariya.

“Semua itu rezeki dari Allah,” jawab Maryam.

Dan kejadian terjadi berulang-ulang.

Sebenarnya Zakariya sendiri menginginkan anak juga yang akan mewarisi ilmu, menjadi nabi dan meneruskan untuk berseru ke kaumnya untuk selalu mengingat Allah. Zakariya berdoa tanpa mengeraskan suara. Sebagai nabi, Zakariya khawatir jika kaumnya nantinya akan sesat setelah dia meninggal. Allah pun mengabulkan doanya. Seorang malaikat memanggilnya,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (datangnya) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam 7)

Zakariya terkejut sekaligus gembira.

“Zakariya berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua?’” (QS. Maryam : 8 )

Kemudian malaikat tersebut menjelaskan bahwa ini sudah menjadi kehendak Allah, dan pasti, kehendak Allah pasti akan bisa terwujud walaupun itu sangat tidak masuk akal menurut hitung-hitungan manusia.

Allah kemudian mengabarkan bahwa Zakariya tidak akan bisa bicara walaupun beliau sedang tidak sakit. Ketika itulah istri nabi Zakariya hamil  dan mukjizat Allah pun terlaksana.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 31)

Posted on


KISAH SULAIMAN AS DAN RATU BILQIS

Atas perintah Nabi Sulaiman as, burung Hud-hud pun terbang mengantarkan surat beliau kepada ratu Bilqis. Sementara  itu, setelah mengantarkan surat, burung Hud-hud masih berada di sekitarnya untuk memata-matai. Setelah surat diterima dan dibaca, ratu Bilqis kemudian memanggil para pembesarnya dan berkata;

“Berkatalah dia (Bilqis), ‘Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu berasal dari Sulaiman, dan sesungguhnya isi)nya, ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri’.” (QS. An-Naml:31)

Itulah isi surat Nabi Sulaiman yang dikirimkan ke ratu Bilqis. Surat itu begitu lugas tanpa berbas-basi. Isi surat ini begitu logis karena Nabi Sulaiman tidak memposisikan diri sebagai pemohon, tapi memposisikan diri sebagai raja dari sebuah negeri besar. Walau begitu, nada surat itu masih terasa santun.

Ratu Bilqis kemudian berkata ke pembesarnya sebagai jawaban atas surat itu.

“Berkatalah dia (Bilqis), ‘Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)’.” (QS. An-Naml:32)

Reaksi para pembesar itu mudah ditebak; mereka menentang surat Sulaiman yang bernada sombong walau nadanya santun. Lalu mereka berkata pada ratu Bilqis;

“Mereka menjawab, ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan’.” (QS. An-Naml:33)

Dengan jawaban itu, sama saja mereka telah menyatakan bahwa mereka siap perang. Kini keputusan sepenuhnya di tangan ratu Bilqis. Jika ratu memerintahkan perang, mereka pun akan berangkat berperang. Tapi opsi berperang sudah dibuang sejak awal. Ratu Bilqis mempunyai pemikiran yang jauh lebih luas.

Sang ratu merenungkan surat Sulaiman. Ratu belum pernah mendengar nama Sulaiman, apalagi kerajaannya. Ratu tidak mengenal samasekali kekuatan Sulaiman. Jangan-jangan kerajaan Sulaiman jauh lebih kuat. Ratu khawatir, jika kemajuan kerajaannya akan hancur karena perang.

Akhirnya ratu memerintahkan menyelesaikan masalah dengan cara damai. Ratu berencana mengirimkan utusan dengan membawa hadiah sambil memata-matai kekuatan Sulaiman. Berdasarkan informasi itu, ratu akan menentukan kebijakan berikutnya. Para pembesar menyetujui rencana tersebut.

Tak lama, berangkatlah utusan ratu Bilqis membawa berbagai hadiah berharga seperti emas, permata, mutiara dan sebagainya. Sulaiman sudah mengetahui niat ratu Bilqis mengirimkan utusan-utusan tersebut; yaitu mengetahui kekuatan kerajaannya. Untuk itu, Sulaiman sengaja menyiap penyambutan yang luar biasa.

Begitu utusan tiba, mereka disambut oleh pasukan bersenjata lengkap yang berbaris mulai dari ujung negeri. Para utusan menyadari, bahwa mereka memasuki lautan pasukan dan menyadari bahwa hadiah yang mereka bawa tak seberapa dibandingkan kekayaan Sulaiman.

Para utusan berdiri bersama Sulaiman yang menginspeksi pasukan. Otak para utusan mulai menghitung jumlah pasukan. Dan tiba-tiba mereka terperanjat melihat pasukan singa dan harimau yang berpindah tempat dengan cara terbang. Mereka sadar, negeri mereka tak bakalan bisa menang perang melawan kerajaan Sulaiman.

Parade militer selesai, para utusan kemudian diundang dalam jamuan makan dengan kalangan istana Sulaiman. Piring tempat makan terbuat dari emas. Sedangkan pelayannya adalah para pria yang memakai perhiasan-perhiasan, yang bahkan tidak pernah dipakai oleh ratu mereka sekalipun. Namun anehnya, raja Sulaiman hanya makan roti kering yang dicelupkan ke minyak di atas piring kayu.

Jamuan makan akhirnya selesai. Para utusan kemudian menyerahkan hadiah dengan perasaan malu. Hadiah-hadiah itu sebenarnya sangat berharga, tapi ketika dibandingakan dengan kekayaan Sulaiman, semua itu jadi tidak berarti lagi.

Melihat hadiah-hadiah tersebut, Sulaiman kemudian berkata sebagaimana dalam Al-Qur’an;

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, ‘Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta. Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu’.” (QS. An-Naml:36)

Sulaiman menolak hadiah-hadiah tersebut. Ratu Bilqis tidak akan mampu membeli Sulaiman dengan harta. Sulaiman samasekali tidak mengharapkan harta dari para utusan mereka. Sulaiman kemudian berkata ke para utusan itu;

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml:31)

Sulaiman kemudian mengingatkan para utusan itu dengan kata-kata halus tapi sangat memprovokasi.

“Kembalilah kepada mereka, sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (QS. An-Naml:37)

Akhirnya para utusan kembali ke Saba dan langsung menghadap ratu Bilqis. Mereka mengatakan bahwa Saba’ dalam bahaya. Mereka juga menceritakan bagaimana hebatnya pasukan Sulaiman. Mereka juga menyarankan kepada ratu Bilqis untuk mendatangi raja Sulaiman, sebagai upaya untuk membujuknya. Ratu Bilqis pun menyetujui saran itu dan segera bersiap.

Sementara itu, Sulaiman mengadakan pertemuan dengan para menteri, jenderal serta ulama yang membahas tentang hubungan dengan ratu Bilqis ini. Ratu Bilqis akan datang karena didorong oleh rasa takut, bukan karena kemauan sendiri. Pertemuan itu juga membahas tentang laporan dinas intelijen tentang kemajuan negeri Saba’ dalam hal seni dan teknologi. Apakah kemajuan itu membuat mereka melupakan Tuhan dan menyangka bahwa kemajuan ini hasil usaha mereka sendiri?

Dalam laporan dinas intelijen disebutkan bahwa singgasana ratu Bilqis sangatlah istimewa. Singgasana ini terbuat dari emas dengan hiasan permata-permata yang begitu indahnya. Singgasana ini adalah simbol kemajuan negeri Saba’ sehingga selalu dikawal secara ketat oleh pasukan Saba’. Jadi akan sangat menghebohkan jika Sulaiman bisa mendatangkan singgasana ini tanpa ketahuan ketika ratu Bilqis sedang menuju ke kerajaan Sulaiman, sehingga dalam pertemuan itu ratu Bilqis bisa duduk di singgasananya sendiri. Sulaiman bermaksud memamerkan kemampuan yang diperolehnya dari Islam, dengan tujuan ratu Bilqis tertarik untuk masuk dalam Islam juga.

Ide itu dikemukan Sulaiman dalam pertemuan itu;

“Berkata Sulaiman, ‘Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?’” (QS. An-Naml:38)

Yang pertamakali menjawab tantangan Sulaiman adalah salah satu jin yang bernama Ifrit yang telah ditundukkan Sulaiman;

“Berkatalah Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya’.” (QS. An-Naml:39)

Jarak istana raja Sulaiman, yang kini berada di wilayah Palestina, dengan istana ratu Bilqis, yang kini di wilayah Yaman, sangatlah jauh. Bahkan jika ditempuh dengan pesawat paling canggih di jaman sekarang pun, sangat susah mewujudkan hanya dalam beberapa menit. Tapi jin Ifrit menjanjikannya kepada raja Sulaiman.

Nyatanya, hingga beberapa jam dari raja Sulaiman berdiri, jin Ifrit belum juga datang membawa singgasana ratu Bilqis. Hingga kemudian Sulaiman melihat sebuah bayangan yang duduk di kegelapan sebagaimana yang diceritakan Al-Qur’an;

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikat-Nya). Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (QS. An-Naml:40)

Benar saja, dalam sekedipan mata singgasana ratu Bilqis telah ada di hadapan nabi Sulaiman. Al-Qur’an tidak menjelaskan siapa orang itu. Apakah dia manusia atau jin, tidak ada penjelasannya. Pada dasarnya, Allah hanya ingin menunjukkan mukjizat itu. Bagaimana terjadinya, hanya Allah yang mengetahui.

Raja Sulaiman mencermati singgasana tersebut kemudian memerintahkan sedikit mengubahnya untuk menguji ratu Bilqis, apakah dia masih mengenali singgasananya sendiri atau tidak. Raja Sulaiman juga memerintahkan untuk membangun sebuah istana untuk menyambut ratu Bilqis.

Istana ini dibangun sebagian di darat, sebagiannya lagi di atas lautan. Lantainya terbuat dari kaca yang kuat dan bening. Jika kita berjalan, kita akan bisa menyaksikan ikan warna-warni berenang di bawah kita. Saking beningnya kaca, terlihat seperti tidak ada kacanya. Ini membuat istana ini seperti berlantaikan lautan.

Akhirnya burung Hud-hud mengabarkan jika ratu Bilqis sudah sampai di serambi istana. Nabi Sulaiman kemudian menyambutnya dan menujukkan sebuah singgasana. Ratu Bilqis kemudian mengamati singgasana itu dengan cermat. Bagaimana bisa singgasananya ada di sini, padahal dijaga dengan ketat.

“Seperti inikah singgasanamu?” tanya Nabi Sulaiman.

“Ini seperti singgasanaku,” jawab ratu Bilqis.

“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri,” kata Nabi Sulaiman. Kalimat terakhir ini mengisyaratkan perbandingan yang yang jauh antara ilmu dan akidah raja Sulaiman dibandingkan ratu Bilqis.

Ratu Bilqis sadar jika singgasananya datang mendahuluinya. Kemampuan macam apa yang dimiliki raja sekaligus nabi ini? Ratu Bilqis kini begitu terpesona dengan kemajuan yang diperoleh negeri Sulaiman. Yang lebih membuatnya heran adalah kenyataan bahwa adanya hubungan yang begitu erat antara Islam, Nabi Sulaiman as, ilmu dan kebijaksanaan yang dimiliki.

“Masuklah dalam istana,” kata Nabi Sulaiman mempersilahkan.

Ketika masuk, ratu Bilqis memandang lantai istana. Yang dia saksikan adalah air dan menyangka akan tercebur di air. Ratu Bilqis kemudian menyingkapkan pakaiannya sehingga terlihat betisnya.

“Sesungguhnya lantai istana terbuat dari kaca dan tidak ada airnya,” kata Sulaiman. Dalam kekaguman, ratu Bilqis kemudian berkata mengumumkan keislamannya, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Wajah Sulaiman langsung berubah menjadi cerah. Misinya untuk mengislamkan ratu Bilqis telah berhasil dengan baik.

Sulaiman kemudian hidup dalam kejayaannya yang tiada tara hingga wafat. Kerandanya dipayungi ribuan burung yang menangis, diiringi binatang-binatang buas yang tidak lagi menujukkan kebuasannya serta berbagai macam jenis binatang lainnya. Semuanya kini sudah berakhir. Tak akan ada lagi orang yang mampu memahami bahasa mereka.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 30)

Posted on Updated on


KISAH SULAIMAN AS DENGAN KERAJAANNYA YANG AGUNG

Setelah nabi Daud as meninggal, kini kekuasaan berpindah di tangan Sulaiman. Daud meninggalkan sebuah kerajaan besar dengan militer yang sulit terkalahkan. Ini karena karunia Allah, yang memberikan mukjizat kepada Nabi Daud sehingga bisa menaklukan besi, yang kemudian besi-besi ini diolah menjadi peralatan militer yang sangat canggih di jamannya. Dan sekarang, militer yang kuat ini ada di genggaman Sulaiman.

Di masa Sulaiman as inilah Bani Israil mencapai masa keemasannya. Allah SWT menganugerahkan kerajaan hebat, kerajaan yang tidak akan pernah ada di masa sesudah Sulaiman. Ini menggambarkan, betapa agungnya kerajaan Sulaiman yang tidak akan mungkin bisa tertandingi oleh kerajaan atau negara manapun di masa modern ini.

Tak hanya kerajaan besar yang dianugerahkan Allah kepada Sulaiman. Allah juga menganugerahkan kemampuan memahami bahasa binatang. Jika Daud paham dengan bahasa burung, maka Sulaiman paham bahasa semua binatang. Sulaiman mampu mendegarkan bisikan semut, bahkan semut-semut itu patuh terhadap semua perintah Sulaiman.

Tentara warisan Daud as yang sudah superior, kini dibawah Sulaiman makin superior. Tentara Sulaiman tak hanya terdiri dari manusia saja, tapi juga binatang-binatang dan jin. Memerangi pasukan semacam itu jelas mustahil menang.

Selain jin, Allah swt juga menundukkan angin untuk Sulaiman. Seringkali angin dimanfaatkan untuk kepentingan Sulaiman. Di jaman itu, hanya tentara Sulaiman saja yang bisa terbang dengan memanfaatkan angin. Sulaiman-lah yang mempelopori adanya pasukan udara.

Tak hanya jin, Allah juga memberikan kemampuan Sulaiman untuk mengendalikan setan. Setan-setan itu diperintahkan Sulaiman untuk membangun istana, piring-piring raksasa, gedung-gedung, juga menyelam ke dasar lautan untuk mengambil mutiara dan batu-batu mulia lainnya.

Jika ada setan yang membangkang, maka setan itu akan dibelenggu sebagai bukti akan keagungan Sulaiman sebagai nabi Allah.

“Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhan-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan padanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS. Saba : 12-13)

Meskipun dianguerahi kekuasaan yang begitu hebat, Sulaiman as tetaplah menjadi orang yang paling banyak bersyukur dan berzikir kepada Allah swt. Sepanjang hidupnya, hanya sekali beliau hampir ketinggalan waktu shalat. Itupun karena beliau sedang sibuk dengan persiapan perang yang amat sangat penting.

Saat itu, Sulaiman memeriksa kuda-kuda para perwira hingga waktu sholat Asar hampir habis, di mana hal itu sangatlah penting dalam peperangan ini. Ketika tersadar, Sulaiman langsung mengerjakan shalat dan bersujud kepada Allah. Beliau kemudian mengusap leher dan kaki kuda-kuda tersebut seraya memohon ampunan Allah karena persiapan jihad yang dilakukan hampir membuatnya tertinggal waktu shalat.

Mulai saat itu, Sulaiman as tak mau lagi menggunakan kuda untuk pasukannya. Maka Allah-pun menggantinya dengan angin yang mampu membawa Sulaiman dan pasukannya pergi kemana pun dikehendaki.

Pada suatu hari, Sulaiman memeriksa pasukannya. Semua pasukan, mulai pasukan manusia dan pasukan jin tampaknya tak ada yang salah. Ketika memeriksa pasukan burung, Sulaiman tidak melihat burung Hud-hud menempati posnya.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat burung Hud-hud?’” (QS. N-Naml:20)

Burung-burung lain tidak ada yang berani menjawab. Sulaiman mengedarkan pandangan ke sluruh pasukan. Burung Hud-hud sepertinya tidak ada.

“Apakah dia yang termasuk yang tidak hadir?” (QS. An-Naml:20)

Seekor merpati kecil kemudian memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Sulaiman.

“Wahai Nabi yang mulia, seharusnya Hud-hud kemarin bersamaku melakukan misi pengintaian. Dialah pemimpin misi ini. Tapi dia tidak muncul sehingga misi pun dibatalkan,” kata merpati kecil itu.

Mendengar itu, meledaklah kemarahan Sulaiman;

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (QS. An-Naml:21)

Burung merpati kecil itu semakin menggigil ketakutan. Kemudian Sulaiman membelai kepala merpati kecil itu sehingga ketakutannya pun sirna seketika. Walau marah, Nabi Sulaiman tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap bawahannya.

Sulaiman kemudian kembali ke istana dengan pikiran penuh. Apakah Hud-hud pergi memata-matai sesuatu atau dia pergi bermain-main? Sulaiman tahu, Hud-hud adalah buruh yang cerdas, fasih berbicara namun sedikit nakal.

Beberapa saat kemudian, Hud-hud muncul. Burung-burung lain pun kemudian menyarankan untuk segera menghadap Sulaiman. Hud-hud kemudian terbang masuk istana untuk menghadap Sulaiman. Sebelum Sulaiman bertanya, Hud-hud berkata dulu untuk menunjukkan dia tidak bersalah;

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)

Sulaiman hanya diam. Kemudian Hud-hud berkata lagi;

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Naml:26)

Hud-hud menyampaikan berita ini dengan sangat hati-hati dalam memilih kata-kata serta sejelas mungkin. Wanita yang dimaksudkan burung Hud-hud adalah ratu Bilqis. Kemudian Hud-hud berkata lagi;

“Agar mereka menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi, dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang besar.” (QS. An-Naml:26)

Sambil tersenyum, Sulaiman kemudian berkata kepada Hud-hud;

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An-Naml:27)

Sulaiman kemudian berpikir dalam diam. Akhirnya beliau mengambil keputusan. Diambilnya secarik kertas kemudian menulis sebuah surat. Selesai menulis, Sulaiman memberikannya kepada Hud-hud sambil berkata;

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (QS. N-Naml:28)

Burung Hud-hud kemudian terbang melaksanakan perintah Sulaiman, mengantar surat Sulaiman kepada ratu Bilqis. Apa isi surat Sulaiman? Dan bagaimana reaksi ratu Bilqis menanggapi isi surat tersebut? Simak posting kisah nabi selanjutnya….

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 28)

Posted on


KISAH DAUD AS MELAWAN JALUT (DAVID VS GOLIATH)

Sejak kehilangan tabut, Bani Israel terus menerus kalah dalam peperangannya. Bani Israel kemudian terusir dari tanah mereka dan keadaan mereka semakin memburuk.

Dalam kondisi memprihatinkan tersebut, seorang perempuan dari suku Lewi yang sedang mengandung, terus menerus berdoa agar dikaruniai bayi laki-laki. Ternyata doanya dikabulkan Allah. Seorang bayi laki-laki lahir dan diberi nama Asymuel (Samuel).

Ketika anak itu cukup umur, sang ibu mengirimnya ke seorang lelaki saleh untuk belajar kebaikan dan ibadah kepadanya. Ketika sudah dewasa, pada suatu malam, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dari arah tempat ibadah. Samuel kemudian menghampiri gurunya karena menyangka dia yang memanggil.

“Apakah Anda tadi memanggilku?” tanya Samuel. Karena tak ingin diganggu maka sang guru menjawabnya, “Benar, tidurlah kembali.”

Samuel pun tidur kembali.

Namun suara itu memanggilnya untuk kedua kali, kemudian ketiga kali. Akhirnya Samuel sadar bahwa yang memanggilnya adalah malaikat Jibril.

“Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu,” kata Jibril.

Pada suatu hari, kepada nabi itulah Bani Israel mengadu.

“Bukankah kami kaum yang terzalimi?” tanya mereka.

“Benar,” jawab nabi tersebut.

“Bukankah kami kaum yang terusir dari negeri kami?” kata mereka.

“Benar.” Jawab nabi itu pendek.

“Utuslah untuk kami, seorang raja yang mempersatukan kami, agar kami bisa berperang di jalan Allah di bawah satu panji, merampas kembali tanah kami dan kehormatan kami yang pernah dimiliki,” kata mereka.

“Apakah kalian yakin mau berperang jika diwajibkan?” tanya nabi itu.

“Mengapa tidak? Kami telah diusir dari negeri kami. Anak-anak kami terlantar, dan keadaan kami sangat memprihatinkan,” jawab mereka menyakinkan.

“Baiklah. Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu,” jawab nabi itu.

“Bagaimana bisa Thalut menjadi raja? Padahal kami lebih berhak. Dia bukan orang kaya, banyak orang yang lebih kaya daripada Thalut di antara kami,” kata mereka meremehkan.

“Sesungguhnya Allah menganugerahinya ilmu yang luas dan badan yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya,” jawab nabi itu dengan penuh keyakinan.

“Apa tanda-tanda kekuasaan Thalut sebagai raja?” tanya mereka.

“Taurat kalian yang telah dirampas akan kembali ke tangan kalian. Malaikat akan membawakannya. Itulah tanda-tanda bahwa dia seorang raja,” jawab nabi itu.

Akhirnya Taurat yang sebelumnya dirampas musuh telah kembali. Maka dimulailah pembentukan pasukan Thalut. Sedangkan di pihak musuh, rajanya bernama Jalut, seorang ahli pedang hebat yang belum terkalahkan.

Setelah semuanya sudah siap, berangkatlah Thalut dan tentaranya menuju Jalut, melewati padang pasir dan pegunungan panas. Sebelum berangkat Thalut berpesan ke tentaranya, “Di tangah perjalanan yang panas ini, kita akan menemui sebuah sungai. Barangsiapa yang minum air sungai tersebut, dia harus keluar dari barisan ini. Barang siapa yang tidak minum atau yang hanya menceduk air dengan tangannya, maka dia boleh terus bersama pasukanku.”

Akhirnya di tengah perjalanan, Thalut dan pasukannya menjumpai sebuah sungai. Sebagian besar pasukan minum dan harus keluar dari pasukan. Sebenarnya ini adalah ujian Thalut untuk mengetahui siapa saja yang masih patuh terhadap dirinya. Jumlah pasukannya menyusut banyak, tapi walau hanya dalam jumlah kecil, pasukan Thalut mempunyai keberanian dan keimanan yang luar biasa.

Tibalah saatnya pasukan Thalut yang kecil berhadapan dengan pasukan Jalut yang luar biasa besar.

“Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka?” tanya prajurit yang berhati lemah.

“Yang penting bukan jumlah, tapi keimanan dan keberanian. Atas izin Allah, ada banyak kaum kecil yang bisa mengalahkan pasukan berjumlah lebih besar,” jawab prajurit yang punya keimanan lebih baik.

Kedua pasukan sudah saling berhadapan. Muncul Jalut dengan baju besinya, tangan yang menggenggam pedang, kapak dan belati sekaligus. Jalut menantang duel siapapun. Tak satu pun prajurit Thalut berani meladeni tantangannya.

Tiba-tiba, dari barisan pasukan Thalut, muncul seorang penggembala kambing bertubuh kecil yang bernama Daud. Dia adalah seorang mukmin, seorang yang beriman. Daud menyadari bahwa yang menentukan kemenangan bukanlah banyaknya senjata atau besarnya fisik ataupun penampilan yang gahar. Daud yakin bahwa keimanan pada Allah-lah yang menjadi kekuatan hakiki.

Daud maju hanya dengan membawa tongkat, lima buah batu dan ketapel. Melihat perlengkapan Daud yang minim, Jalut tertawa mengejeknya. Dengan tenang Daud memasang batu di ketapelnya lalu membidikannya ke arah Jalut. Karena Daud adalah orang yang mencintai Allah, angin pada waktu itu ikut membantu Daud dengan mendorong keras batu tersebut sehingga menghantam tepat di kening Jalut. Jalut yang bersenjata lengkap saat itu langsung jatuh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa. Daud kemudian mengambil pedangnya dan perang di antara kedua pasukan pun mulai berkobar.

Kisah pertempuran Daud melawan Jalut sangat terkenal. Masyarakat barat mengenalnya dengan sebutan David vs Goliath. Setelah kejadian tersebut, Daud jadi sangat terkenal di kaumnya. Thalut kemudian menjadikannya seorang menantu dan panglima perang sekaligus.

Daud adalah orang yang pertamakali mengetahui kalau besi bisa dilebur dan dibentuk-bentuk sesuai keinginan dengan menggunakan api. Daud kemudian membuat baju besi dari potongan-potongan besi kecil yang terangkai. Baju besi model ini memungkin pemakainya bisa bergerak lebih bebas dalam pertempuran dan tetap terlindungi dari serangan lawan. Tak heran jika pasukan Daud selalu menang dalam setiap pertempuran.

Daud adalah manusia yang jiwanya benar-benar suci, bening dan tidak ada tabir yang menghalanginya dengan alam raya. Jika Daud duduk dan bertasbih kepada Allah, seluruh alam ini seolah  meresapi merdu suaranya, gunung-gunung menikmati getaran tasbihnya. Semuanya seakan berpadu dalam satu melodi yang mengagungkan Allah.

“Bersabarlah atas segala yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS Shad : 17-20)

Kemudian Allah memilih Daud sebagai seorang nabi dan menurunkan kitab Zabur kepadanya.

“Dan Kami berikan Zabur (kepada) Daud.” (QS Al-Isra: 55)

Download Gratis MP3 Murotal Al-Qur’an Komplit!

Posted on


Silahkan download mp3 Al-Qur’an dengan pembacanya adalah Abdulbari’ Mohammad. Semoga berguna!
1. Al Faatihah
2. Al Baqarah
3. Ali ‘Imran
4. An Nisaa’
5. Al Maa-idah
6. Al An’am
7. Al A’raaf
8. Al Anfaal
9. At Taubah
10. Yunus
11. Huud
12. Yusuf
13. Ar Ra’d
14. Ibrahim
15. Al Hijr
16. An Nahl
17. Al Israa’
18. Al Kahfi
19. Maryam
20. Thaahaa
21. Al Anbiyaa’
22. Al Hajj
23. Al Mu’minuun
24. An Nuur
25. Al Furqaan
26. Asy Syu’araa’
27. An Naml
28. Al Qashash
29. Al ‘Ankabuut
30. Ar Ruum
31. Luqman
32. As Sajdah
33. Al Ahzab
34. Saba’
35. Faathir
36. Yaasiin
37. Ash Shaaffat
38. Shaad
39. Az Zumar
40. Al Mu’min
41. Fushshilat
42. Asy Syuura
43. Az Zukhruf
44. Ad Dukhaan
45. Al Jaatsiyah
46. Al Ahqaaf
47. Muhammad
48. Al Fath
49. Al Hujuraat
50. Qaaf
51. Adz Dzariyaat
52. Ath Thuur
53. An Najm
54. Al Qamar
55. Ar Rahmaan
56. Al Waaqi’ah
57. Al Hadiid
58. Al Mujaadilah
59. Al Hasyr
60. Al Mumtahanah
61. Ash Shaff
62. Al Jumu’ah
63. Al Munaafiquun
64. At Taghaabun
65. Ath Thalaaq
66. At Tahriim
67. Al Mulk
68. Al Qalam
69. Al Haaqqah
70. Al Ma’aarij
71. Nuh
72. Al Jin
73. Al Muzzammil
74. Al Muddatstsir
75. Al Qiyaamah
76. Al Insaan
77. Al Mursalaat
78. An Naba’
79. An Nazi’at
80. ‘Abasa
81. At Takwiir
82. Al Infithaar
83. Al Muthaffifiin
84. Al Insyiqaaq
85. Al Buruuj
86. Ath Thaariq
87. Al A’laa
88. Al Ghaasyiyah
89. Al Fajr
90. Al Balad
91. Asy Syams
92. Al Lail
93. Adh Dhuhaa
94. Alam Nasyrah
95. At Tiin
96. Al ‘Alaq
97. Al Qadr
98. Al Bayyinah
99. Al Zalzalah
100. Al ‘Aadiyaat
101. Al Qaari’ah
102. At Takaatsur
103. Al ‘Ashr
104. Al Humazah
105. Al Fiil
106. Quraisy
107. Al Maa’uun
108. Al Kautsar
109. Al Kaafiruun
110. An Nashr
111. Al Lahab
112. Al Ikhlash
113. Al Falaq
114. An Naas

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 25)

Posted on


UMAT NABI MUHAMMADYANG DISEBUT-SEBUT DI JAMAN NABI MUSA.

Setelah amarah Musa mereda, Musa kemudian melanjutkan dakwahnya dengan Taurat yang baru saja diterimanya. Beliau membacakan lembaran-lembaran Taurat kepada kaumnya. Beliau kemudian memerintahkan agar mempraktekkan hukum-hukumnya dengan kesungguhan dan semaksimal mungkin.

Bukannya menurut, kaumnya malah menawar kebenaran yang disampaikan itu.

“Bagikanlah lembaran-lembaran itu kepada kami. Jika perintah dan larangan-larangannya memang mudah, maka kami akan melaksanakannya,”  kata Bani Israel.

“Tidak bisa seperti itu. Kalian harus menerimanya apa adanya,” kata Musa. Pada saat yang sama, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengangkat gunung dan meletakkannya di atas mereka.

“Jika kalian tidak mau menerima apa adanya, maka gunung itu akan menimpa kalian,” ancam Musa.

Akhirnya mereka menerima Taurat dengan apa adanya, sambil memandang gunung yang ada di atas mereka dengan ketakutan.

 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-A’raf : 171)

 

Peristiwa ini sekali lagi menggambarkan bagaimana cara berpikir mereka, yang mengharuskan bisa menerima Taurat apa adanya. Kemudian Musa memilih 70 orang terbaik dan mengajaknya untuk menemui Allah di sebuah bukit. Ketika hampir sampai di bukit tersebut, tiba-tiba kabut menyelimuti mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.

Tak lama, terdengar dialog Musa dengan Allah. 70 orang ini tidak ada yang bisa melihat Allah karena kabut. Setiap kali Musa berbicara, keningnya keluar cahaya yang sangat terang. Tak seorang pun dari 70 Bani Israel yang mampu melihatnya. Namun semua bisa mendengar dialog tersebut.

Setelah selesai, tak seorang pun dari Bani Israel yang puas dengan kejadian ini. Mereka ingin melihat Allah.

“Kami memang telah mendengar, tetapi yang kami inginkan adalah melihat,” kata mereka. Bahkan dengan entengnya mereka berkata,

 

“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al-Baqarah)

 

Sungguh keterlaluan permintaan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah seorang materialistik, hanya mau yang kongkrit-kongkrit saja. Permintaan itu dibalas dengan hukuman yang mengagetkan. Tiba-tiba mereka diguncang oleh gempa bumi. Mereka semua mati seketika.

Di hari yang bersejarah itu, selain terjadinya kematian pada 70 Bani Israel, juga datangnya sebuah kabar gembira tentang akan datangnya penutup para nabi. Kepada Tuhannya, Musa berdoa, “Ya Tuhanku, dalam lembara Taurat ini aku menemukan akan ada umat yang merupakan sebaik-baiknya umat yang diutus untuk umat manusia. Mereka memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ya Tuhan, jadikanlah umat itu sebagai umatku.”

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya, Tuhan, dalam lembaran-lembaran ini akan ada umat yang beriman kepada kitab yang pertamakali diturunkan, sekaligus kitab yang terakhir diturunkan. Mereka juga mau berperang untuk melawan kesesatan. Jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan umat yang mempunyai sedekah yang akan mereka makan sendiri, tetapi mereka juga tetap akan mendapatkan pahala darinya. Sementara itu, umat-umat sebelumnya jika mengeluarkan sedekah dan sedekah itu diterima Allah, maka Allah mengutus api untuk memakannya. Tapi jika sedekah itu tidak diterima, maka dibiarkan sedekah itu hingga dimakan burung atau hewan buas. Allah juga mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara mereka dan membagikannya ke orang-orang miskin di antara mereka. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan suatu umat yang  jika membayangkan suatu kebaikan kemudian mengamalkannya, dicatat pahala untuknya sepuluh hingga tujuhratus kali lipat. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

Itulah umat Rasulullah SAW yang juga disebut-sebut dalam Taurat, kitab suci yang diturunkan kepada Musa as.

 

KISAH SAPI BETINA.

Pada suatu hari, kaum Bani Israel dikejutkan dengan seorang kaya dari kalangan mereka yang ditemukan mati terbunuh. Keluarganya merasa sakit hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena meeka tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Mereka kemudian meminta bantuan Musa untuk memutuskan masalah ini. Karena masalah ini berpotensi menimbulkan fitnah, maka Musa pun memohon pertolongan Allah.

Allah kemudian memerintahkan Bani Israel untuk menyembelih seekor sapi betina. Seharusnya mereka langsung melaksanakan perintah itu tanpa bertanya apa-apa. Tapi kaum ini memang kaun yang sombong dan suka mngelak dari kenyataan, sehingga mereka mempertanyakan perintah tersebut, “Apakah sapi betina yang dimaksud adalah sapi betina biasa yang sering kami lihat atau sapi betina yang mempunyai keistimewaan lainnya?” Pertanyaan ini memperlihatkan keangkuhan mereka, walaupun berkedok dengan sok kritis.

Kaum Bani Israel meminta Musa untuk berdoa, agar Allah menjelaskan sapi betina yang lebih detil. Allah kemudian menjawabnya dengan sapi betina yang sedang, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Sebenarnya permintaan Bani Israel justru mempersulit diri sendiri karena sebenarnya perintah Allah ini cukup jelas, yaitu menyembelih sapi betina. Tapi karena sok kritis dan enggan, maka mereka akhirnya diperintah “menyembelih sapi betina yang sedang, tidak tua, tidak muda”.

Rupanya orang-orang ini masih saja menunjukkan keengganannya untuk melaksanakan perintah Allah. Kini mereka bertanya, warna apa sapi betina yang diinginkan. Sungguh mereka sama sekali tidak mempunyai adab kesopanan sama sekali.

Musa kemudian berdoa lagi dan Allah mennjawabnya dengan perintah. Sapi betinanya berwarna kuning kemerahan, warnanya kemilau dan menyenangkan hati orang yang melihatnya. Semakin susah didapatkan sapi betina macam itu.

Tapi rupanya kaum Bani Israel ini belum puas. Mereka menganggapnya masih belum spesifik. Musa kemudian menjelaskan bahwa sapi betina itu belum pernah dipakai untuk membajak tanah ataupun mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak ada belangnya.

Kekeraskepalaan mereka menyulitkan diri mereka sendiri. Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menemukan sapi tersebut. Setelah disembelih, Musa memegang ekor sapi tersebut dan memukulkan ke orang yang telah tewas tersebut. Secara ajaib, orang itu kemudian hidup lagi. Musa kemudian bertanya, siapa yang telah membunuh dirinya. Lelaki itu kemudian menceritakan siapa saja yang telah membunuhnya. Setelah bercerita, lelaki itu kemudian mati lagi. Kasus pun terpecahkan.

Sekali lagi, Bani Israel menyaksikan mukjizat yang seharusnya makin mempertebal keimanan mereka kepada Allah dan nabi-Nya. Bukan malah menyangsikan perintah Allah dan juga nabi-Nya.

Kita bisa bayangkan, bagaimana parahnya kondisi psikis umat Musa waktu itu. Barangkali yang paling menyakitkan bagi Musa adalah ketika kaum Bani Israel ini menolak berperang untuk menyebarkan tauhid dan malahan menyuruh Musa dan Tuhannya untuk berperang, sedangkan mereka duduk-duduk saja menunggu.

Tak heran jika Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka berupa kebingungan selama 40 tahun lebih, hingga satu generasi hilang. Telah habis generasi pengecut, kemudian lahirlah generasi baru. Sebuah generasi yang tidak dibesarkan di tengah-tengah berhala dan ruhnya tidak cacat karena hal tersebut. Sebuah generasi baru yang siap membayar harga dirinya dengan darah, yang mengadopsi keberanian militer sebagai bagian dari struktur agama tauhid. Akhirnya generasi itu lahir selama empat puluh tahun dalam kebingungan.

 

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 24)

Posted on Updated on


MUSA DAN GENERASI PENGECUT KAUM BANI ISRAEL

Fir’aun memang telah tenggelam. Kesewenang-wenangannya adalah cerita lalu. Tapi pengaruh Fir’aun masih sangat terasa pada kaum Bani Israil. Sungguh tak gampang menghapuskan perasaan hina setelah dihinakan selama bertahun-tahun. Fir’aun telah menjadikan kaum Bani Israil terbiasa menundukkan diri kepada selain Allah. Jiwa mereka seolah telah retak dari dalam. Fitrah mereka telah rusak, sehingga menyiksa Musa dalam bentuk perlawanan dan kebodohan.

Mukjizat demi mukjizat yang diperlihatkan Musa terhadap mereka seakan-akan tidak berbekas di hati mereka. Mereka bukannya bersyukur kepada Allah karena diperlihatkan Musa jalan yang lurus, tapi mereka justru terus meminta Musa untuk memperlihatkan yang jauh lebih hebat. Mereka mulai merindukan berhala-berhala yang dulu disembahnya bersama Fir’aun.

Setelah melintasi Laut Merah yang terbelah, mereka kini melanjutkan perjalanan. Mereka melewati sebuah perkampungan orang pagan, yang menyembah berhala-berhala. Kaum Bani Israil lalu meminta Musa untuk membuatkan mereka tuhan. Benar-benar mereka merindukan masa lalu yang penuh kemusyrikan.

Musa lalu menunjukkan betapa bodohnya mereka,

“Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Illah).’ Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab, ‘Patutkah aku mencari ilah untuk kamu selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israel), ketika Kami menyelamatkanmu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang meng-azab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu’.” (QS. Al-A’raf : 138-141)

Musa dan Bani Israil terus berjalan menyusuri dataran Sinai, sebuah daerah gurun yang sama sekali tidak ditumbuhi pepohonan untuk melindungi dari teriknya matahari. Dataran itu juga tidak tersedia makanan ataupun minuman.

Untuk melewati dataran tersebut, Allah memberikan rahmat-Nya yang sangat dibutuhkan. Allah menurunkan manna dan salwa, serta menaungi dengan awan di atas mereka. Manna adalah makanan yang rasanya mirip dengan manisan, dihasilkan dari pohon buah-buahan tertentu. Sedangkan salwa adalah salah satu jenis burung.

Tak hanya itu, ketika mereka merasa kehausan, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Kemudian memancar dua belas mata air dari batu tersebut. Kala itu Bani Israil terdiri dari 12 suku, dan masing-masing suku mendapatkan satu mata air.

Begitu banyak kemuliaan dan rahmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Bukannya bersyukur, mereka malah meminta lebih. Kepada Musa mereka meminta makanan yang lain karena mereka sudah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Mereka merindukan bawang merah, bawang putih, kacang dan sebagainya. Mereka merindukan makanan tradisional penduduk Mesir. Mereka merindukan kehidupan terdahulu, kehidupan di mana kemusyrikan merajalela.

Musa kembali mengingatkan, bahwa mereka sebenarnya merindukan hari-hari penuh kehinaan di Mesir, serta tidak mau menerima makanan yang paling baik dan istimewa dari Allah.

Musa dan Bani Israil terus berjalan menuju Baitul Maqdis. Hingga kemudian Baitul Maqdis sudah tampak dari kejauhan. Musa memerintahkan kaumnya untuk masuk ke dalam kota dan memerangi penguasa Baitul Maqdis kemudian menguasai kota tersebut. Ini adalah ujian bagi Bani Israil. Sekarang giliran mereka, sebagai kaum mukmin untuk berperang melawan para penyembah berhala.

Kaum Bani Israil menolak. Saat itu Bani Israil memang terdiri dari orang-orang yang pengecut. Mereka rupanya telah terbiasa dengan kehinaan sehingga merasa tidak mampu untuk bertempur. Harga diri mereka benar-benar sudah tiada. Musa kemudian mengingatkan mereka akan karunia-karunia yang sudah Allah berikan. Bagaimana Allah sudah mengutus para nabi untuk mereka, menjadikan mereka sebagai raja-raja dan banyak kemuliaan lain.

Mereka masih saja menolak dengan alasan ada kaum yang sewenang-wenang dan kuat di dalam sana. Mereka lalu berkata kepada Musa yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an;

“Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah : 24)

Musa mengerti bahwa kaumnya sudah tidak ada gunanya samasekali. Pengaruh Fir’aun masih cukup kuat di dalam jiwa mereka. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Musa pun mengadu kepada Allah tentang ini. Allah mengeluarkan keputusan-Nya. Keputusan itu berupa kebingungan yang melanda kaum Bani Israil. Mereka terus berjalan tanpa tahu tujuannya. Seperti sebuah lingkaran setan, mereka mengakhiri perjalanan tepat di mana mereka memulai perjalanannya. Mereka terus saja –pagi, siang, sore, bahkan juga malam, berjalan dengan pikiran bingung selama 40 tahun.

Allah menurunkan kebingungan tersebut terhadap generasi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Sebuah generasi yang benar-benar mempunyai mental hina. Setelah 40 tahun dalam kebingungan, generasi baru telah lahir sebagai ganti generasi mereka. Sebuah generasi yang mempunyai psikis tidak terkalahkan. Generasi baru yang mampu dan mau berperang demi meraih kemenangan.

Sebelum bercerita tentang generasi pemenang ini, ada abaiknya kita menyimak dulu apa yang terjadi dengan generasi pengecut ini. Dalam perjalanan yang membingungkan ini, Musa dan Bani Israil sampai di daerah sekitar lembah Thur. Musa bermaksud akan naik gunung sendirian. Sebelum naik, Musa menitipkan umatnya pada Harun saudaranya yang juga seorang nabi.

Musa kemudian naik gunung sendirian untuk menerima kitab Taurat dari Allah. Sebelum menerima Taurat, Musa berpuasa terlebih dahulu selama 40 hari. Setelah itu Musa menerima Taurat dan sepuluh wasiat. Ke sepuluh wasiat itu adalah;

1. Perintah untuk hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Larangan bersumpah palsu karena Allah.

3. Perintah untuk menjaga hari Sabtu (meluangkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah)

4. Perintah untuk memuliakan orang tua.

5. Mengetahui bahwa Allah yang bisa memberi.

6. Jangan membunuh.

7. Jangan berzina.

8. Jangan mencuri.

9. Jangan memberikan kesaksian palsu.

10. Jangan memandang (mengusik) rumah saudaramu, atau istrinya, atau budaknya, atau kerbaunya, atau keledainya.

Ulama salaf mengatakan bahwa kesepuluh wasiat itu adalah inti dari dua ayat Al-Qur’an. Kedua ayat itu adalah :

“Katakanlah, ‘Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am : 152)

Sementara Musa meninggalkan kaumnya, terjadi sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Fitnah Samiri. Kejadiannya adalah sebagai berikut, ketika kaum Bani Israil akan meninggalkan Mesir, mereka banyak membawa banyak perhiasan emas, yang sebagian besar adalah pinjaman dari penduduk Mesir dengan alasan untuk berpesta. Dengan tenggelamnya pasukan Fir’aun, maka emas itu pun kemudian dianggap menjadi milik mereka.

Harun menyadari bahwa emas perhiasan itu bukanlah milik mereka. Diam-diam Harun kemudian mengambil semua emas lalu menguburkannya ke dalam tanah. Harun melakukan hal tersebut karena tahu bahwa mereka tidak membutuhkannya. Saat Harun melakukan hal tersebut, Samiri melihatnya. Dikeluarkannya emas-emas itu lalu dileburnya. Samiri membuat patung anak sapi yang bagian tengahnya berongga. Bentuk patung anak sapi itu mirip sekali dengan Apes, salah satu dewa sesembahan orang Mesir. Jika patung itu dihadapkan ke arah mata angin, maka angin akan berhembus fari bagian belakang kemudian tembus ke lubang hidung, kemudian terdengar suara yang mirip dengan sapi sungguhan.

Menurut Samiri, patung anak sapi itu bisa hidup karena dia mencampuri leburan emas dengan segenggam tanah yang pernah dilalui Jibril. Ini tidak masuk akal karena sebagaimana yang kita ketahui, tanah tidak akan bisa melebur dengan emas, dan biasanya akan membentuk gumpalan-gumpalan ketika sudah dingin. Tapi itu adalah argumen Samiri yang tidak perlu kita percaya.

Setelah itu patung itu jadi, Samiri menemui kaum Bani Israil dengan membawa patung karyanya.

“Apa itu Samiri?” tanya kaum Bani Israil.

“Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa,” jawab Samiri.

“Tapi Musa sekarang sedang pergi menemui Tuhannya,” kata Bani Israil.

“Rupanya Musa lupa. Dia pergi menemui Tuhannya di tempat lain, padahal tuhannya ada di sini,” kata Samiri.

Tiba-tiba ada angin yang berhembus masuk dari bagian belakang patung anak sapi kemudian tembus hingga lubang hidung. Terdengar suara lenguhan sapi. Mendengar itu, seketika kaum Bani Israil langsung menyembah patung anak sapi emas tersebut.

Itulah yang dilakukan Samiri. Dia memanfaatkan kerinduan kaum Bani Israel akan tuhan berhala, kerinduan akan kehinaan akal. Samiri juga sengaja memilih emas karena dia tahu benar bahwa itu adalah kelemahan kaum Bani Israel saat menghadapi emas.

Fitnah Samiri ini menyebar cepat, hingga suatu hari Harun kaget melihat kaum Bani Israel menyembah patung anak sapi emas ini. Bani Israel terpecah jadi dua, pertama kaum mukmin yang minoritas, yang sadar bahwa patung itu adalah omong kosong, kedua kaum mayoritas yang melampiaskan kerinduan mereka akan berhala.

“Sungguh! Ini adalah fitnah! Samiri telah memanfaatkan kebodohan kalian. Ini bukanlah tuhan kalian atau tuhan Musa!” tegas Harun. Harun juga mengingatkan mukjizat-mukjizat Allah yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka. Kaum ini benar-benar tidak memperdulikan peringatan Harun. Mereka terus menyembah berhala emas ini.

Akhirnya Musa kembali ke kaumnya, dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang sudah diperbuat kaumnya. Dengan marah Musa berteriak,

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa lalu menghampiri Harun. Musa sudah tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dengan keras ditariknya rambut dan jenggot Harun. Musa berkata,

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS. Thaha : 92-93)

Harun kemudian menjawabnya,

“Harun menjawab, ‘Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.” (QS. Thaha : 94)

Harun berusaha menjelaskan apa yang terjadi,

“Harun berkata, ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mau membunuhku. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa kemudian menyadari bahwa dia telah menzalimi Harun saudaranya. Musa kemudian melepaskan rambut dan jenggot Harun, selanjutnya memohon ampunan Allah untuk dirinya dan saudaranya. Lalu, masih dengan kemarahan yang menggelegak, Musa berkata kepada kaumnya,

“Berkata Musa, ‘Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku?’” (QS. Thaha : 86)

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang membuat-buat kebohongan.” (QS. Al-A’raf : 152)

Kini pandangan Musa beralih ke Samiri, si biang kerok permasalahan ini. Kemarahan Musa masih belum reda.

“Berkata Musa, ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), wahai Samiri?’” (QS. Thaha : 95)

Samiri lalu menjawabnya,

“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya.” (QS. Thaha : 96)

Samiri bercerita bahwa dia melihat Jibril yang mengendarai kuda, dan setiap benda yang diinjaknya hidup. Samiri lalu mengambil senggenggam tanah yang diinjak kuda Jibril lalu mencampurkannya dengan emas.

Musa tidak mendebat kebenaran Samiri melihat Jibril, tapi yang terpenting adalah kejahatan yang telah Samiri lakukan, membuat sebuah tuhan! Musa kemudian menghukum Samiri dengan mengucilkannya. Musa kemudian mengambil patung itu dan melemparkannya ke dalam api. Tak hanya itu, Musa kemudian membuang abunya ke laut. Musa telah menghancurkan tuhan mereka tanpa perlawanan dari tuhan tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran logis, bahwa patung itu bukanlah tuhan.