agama

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 33)

Posted on


KISAH YAHYA AS, SEORANG NABI MULIA YANG TERBUNUH

Sebagaimana cerita di postingan sebelumnya, Yahya as adalah anak kandung nabi Zakariya as, seorang anak yang begitu ditunggu-tunggu kehadirannya hingga akhirnya malaikat datang membisikkan bakal kelahiran Yahya as.

Yahya adalah anak yang istimewa, bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Allah belum pernah menciptakan orang yang seperti Yahya sebelumnya. Yahya mendapatkan ilmu langsung dari Allah seperti halnya Khidir as.

Yahya as suka pergi ke gunung, gurun atau tempat-tempat sepi dan kemudian tinggal di sana selama berbulan-bulan. Beliau beribadah kepada Allah, menangis di hadapan-Nya dan selalu berdoa. Beliau merasa tenteram jika berada di tengah-tengah alam.

Di jaman Nabi Yahya hidup, raja yang berkuasa adalah raja diktator yang bodoh dan bermoral bejat serta sewenang-wenang. Kebejatan telah marak di kerajaannya karena moral rajanya yang juga bejat.

Sudah bukan rahasia lagi jika raja tertarik akan kecantikan istri saudaranya sendiri. Istri saudaranya itu memiliki anak perempuan yang juga cantik. Anak perempuannya ini juga terkenal sebagai penari yang seksi. Menurut banyak kisah, penari seksi itu jika menari memakai 7 selendang. Sambil menari, dia akan melepas satu-persatu selendangnya hingga akhirnya telanjang bulat. Di jaman modern tarian seperti ini dikenal sebagai striptease.

Suatu hari, sang raja bertanya ke Nabi Yahya, “Bolehkah aku menikahi istri saudaraku?”

“Tidak boleh,” jawab Yahya.

Mendengar jawaban Yahya, raja terus saja membujuk Yahya untuk diperbolehkan menikahi istri saudaranya secara syariat. Tapi agama memang tidak memperbolehkan, apa boleh buat, Yahya juga kukuh untuk menolaknya.

Melihat kekukuhan Yahya, sang raja murka. Segera diperintahkan anak buahnya untuk memenjarakan Yahya. Sedangkan istri saudaranya pun kemudian diperkosa.

Gadis penari yang kebetulan melihat itu semua, dan melihat kekukuhan dan ketenangan Yahya, dia jatuh cinta. Gadis penari itu mendatangi Yahya di penjara.

“Aku cinta padamu, dan maukah kau mencintaiku, Yahya?” tanya gadis penari itu.

“Di dalam hatiku, hanya ada satu cinta, yaitu cinta kepada Allah,” jawab Yahya. Gadis penari itu terus mencoba untuk merayu Yahya, tapi Yahya tidak tergoyahkan. Akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Yahya dengan putus asa sambil membawa dendam yang luarbiasa kepada Yahya.

Pada suatu malam, sang raja sedang minum-minum minuman keras sambil dihibur oleh tarian seksi gadis penari itu. Suara musik mengiringi gadis penari yang melepaskan satu persatu selendang yang dikenakan. Setiap selendang yang dilepaskan, sang raja makin antusias. Ini tidak mengherankan, alkohol sudah menguasainya.

Ketika hanya tinggal satu selendang saja yang belum terbuka, tiba-tiba gadis penari itu menghentikan tariannya.

“Kenapa berhenti?” tanya raja.

“Sebelum aku teruskan, aku ada permintaan, Raja,” kata gadis penari.

“Apa permintaanmu?”

“Aku ingin Yahya ibn Zakariya.”

“Mintalah sesuatu yang lain.”

“Kalau begitu, aku ingin kematian Yahya ibn Zakariya.”

Sambil meneguk minuman kerasnya, sang raja memerintahkan panglimanya, “Bunuhlah Yahya ibn Zakariya sekarang juga.”

Para prajurit kemudian bergegas ke penjara untuk mengeksekusi nabi mulia, Nabi Yahya ibn Zakariya.

Iklan

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 32)

Posted on Updated on


KISAH NABI ZAKARIYA AS DAN MARYAM (MARIA)

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang nabi dan seorang ahli ilmu. Nabi itu bernama Zakariya as, sedangkan ahli ilmu itu bernama Imran. Imran sangat mendambakan seorang anak. Sampai detik ini, istrinya samasekali belum hamil.

Pada suatu pagi, istri Imran melihat seekor induk burung yang menyuapi makan anaknya. Melihat itu, dia teringat akan keadaan dirinya sendiri yang masih belum juga dikaruniai anak. Diangkatnya tangan untuk menengadah dan berdoa dengan sepenuh hati.

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Beberapa waktu kemudian, dia merasakan janin di dalam perutnya. Dia sangat bersyukur dan bernazar untuk menjadikan putranya kelak sebagai pelayan di rumah ibadah (Baitul Maqdis).

Akhirnya bayi itu pun lahir. Di luar dugaan, ternyata anak itu perempuan, bukan laki-laki seperti yang diharapkan. Walau begitu, dia tetap bersyukur dan bertekad akan melaksanakan nazarnya, menjadikan anaknya sebagai pelayan Baitul Maqdis. Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Maryam, atau orang Kristen menyebutnya Maria.

Sebelum Maryam lahir, Imran, ayahanda Maryam meninggal dunia. Setelah Maryam lahir semua orang berebut untuk mendapatkan kehormatan mengasuh Maryam, mengasuh anak dari orang yang mulia. Melihat itu semua, Zakariya as berkata, “Aku yang akan merawatnya karena Imran masih kerabatku. Aku juga nabi dari umat ini. Aku lebih berhak mengasuh bayi ini daripada kalian semua.”

“Mengapa bukan kami saja? Kami tidak akan membiarkanmu memperoleh kehormatan itu tanpa perlawanan kami,” kata orang-orang itu sambil marah-marah. Hampir saja mereka akan bertengkar, namun mereka kemudian mensepakati sebuah cara yaitu lewat undian.

Maryam diletakkan di tanah dan disampingnya juga diletakkan anak-anak panah milik orang-orang yang ingin mengasuhnya. Lalu didatangkan anak kecil yang akan mengambil satu anak panah. Dan ternyata anak panah milik nabi Zakariya yang diambil.

“Allah telah memutuskan aku sebagai pengasuh Maryam,” kata Zakariya. Tapi orang-orang tidak terima atas hasil undian itu, “Tidak. Undian harus diulang lagi.”

Kemudian mereka melakukan undian lagi. Kali ini caranya beda. Masing-masing dari mereka menulis nama di anak panah lalu melemparkan anak panah ke sungai. Barangsiapa yang anak panahnya melawan arus maka dialah yang berhak mengasuh Maryam. Dan ternyata hanyalah anak panah milik Zakariya as saja yang melawan arus.

Zakariya mengira orang-orang sudah bisa menerima hasil undian itu. Tapi ternyata tidak. Mereka menginginkan undian lagi, hanya caranya yang dirubah. Kali ini anak panah yang mengikuti arus-lah yang berhak mengasuh Maryam. Dilemparlah anak-anak panah mereka dan sekali lagi, hanya milik Zakariya yang mengikuti arus, sedangkan yang lain melawan arus. Apa boleh buat, mereka harus merelakan Maryam diasuh oleh nabi mereka, Nabi Zakariya as.

Zakariya as kemudian membesarkan Maryam dengan kemuliaan. Maryam memiliki tempat khusus atau mihrab di Bait Suci. Maryam jarang sekali meninggalkan mihrab. Sehari-hari diisinya dengan shalat, beribadah, berzikir dan mencintai Allah.

Pada suatu hari, Zakariya as mengunjungi Maryam di mihrabnya. Zakariya pun keheranan melihat mihrab Maryam penuh dengan buah-buahan. Pada musim panas, di dalam mihrabnya penuh dengan buah-buahan musim dingin.

“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Zakariya.

“Semua itu rezeki dari Allah,” jawab Maryam.

Dan kejadian terjadi berulang-ulang.

Sebenarnya Zakariya sendiri menginginkan anak juga yang akan mewarisi ilmu, menjadi nabi dan meneruskan untuk berseru ke kaumnya untuk selalu mengingat Allah. Zakariya berdoa tanpa mengeraskan suara. Sebagai nabi, Zakariya khawatir jika kaumnya nantinya akan sesat setelah dia meninggal. Allah pun mengabulkan doanya. Seorang malaikat memanggilnya,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (datangnya) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam 7)

Zakariya terkejut sekaligus gembira.

“Zakariya berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua?’” (QS. Maryam : 8 )

Kemudian malaikat tersebut menjelaskan bahwa ini sudah menjadi kehendak Allah, dan pasti, kehendak Allah pasti akan bisa terwujud walaupun itu sangat tidak masuk akal menurut hitung-hitungan manusia.

Allah kemudian mengabarkan bahwa Zakariya tidak akan bisa bicara walaupun beliau sedang tidak sakit. Ketika itulah istri nabi Zakariya hamil  dan mukjizat Allah pun terlaksana.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 27)

Posted on


NABI-NABI BANI ISRAIL SETELAH MUSA

Dari sekian banyak pengikut Musa yang kebingungan, hanya ada dua orang saja yang mampu keluar dari kebingungan. Para ahli tafsir mengatakan bahwa sala seorangnya bernama Yusya’ (Yosea) ibn Nun.

Yusya’ adalah murid Musa dalam kisah Musa dan Khidir. Beliau kini adalah seorang nabi sekaligus panglima perang yang memimpin kaumnya menuju tanah yang telah diperintahkan Allah untuk memasukinya. Yusya’ mengajak Bani Israil keluar dari tempat yang membingungkan lalu berangkat ke tanah suci.

Hingga kemudian mereka telah sampai di sebuah kota yang mempunyai benteng yang kuat bernama Ariha (Jerikho). Benteng itu mempunyai tembok yang paling tinggi dan penduduk yang paling banyak.

Yusya’ mengepung kota itu hingga kemudian Yusya berhasil meruntuhkan tembok benteng dengan membunyikan terompet-terompet tanduk domba. Dinding-dinding benteng kemudian retak dan roboh seketika. Yusya’ memanfaatkan kekuatan suara sebagai senjata. Getaran yang ditimbulkan terompet ternyata mampu merobohkan benteng terkuat sekalipun.

Kita tidak tahu, apakah Allah menurunkan wahyu kepada Yusya’ untuk menghancurkan benteng dengan terompet tanduk domba, atau memang ini adalah bukti kejeniusan Yusya’. Selama 6 bulan terus-menerus, Yusya’ dan anak buahnya membunyikan terompet hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan runtuhnya tembok benteng.

Setelah benteng runtuh, Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki kota dengan bersujud atau ruku’. Ini adalah ungkapan rasa syukur karena telah menaklukan benteng kuat ini. Namun Bani Israel menentang perintah itu. Mereka masuk Jerikho justru dengan sikap sombong. Akhirnya mereka tertimpa azab. Jika keburukan yang telah dilakukan orang tua mereka adalah menghinakan diri, maka keburukan yang mereka lakukan adalah menyombongkan diri.

“Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel), ‘Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.’ Dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.’ Kelak akan kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.” (QS. Al-A’raf : 161-162)

Kejahatan Bani Israel tidak berhenti di situ saja. Sepeninggal Musa, mereka banyak menyiksa rasul-rasul yang diutus. Di tangan mereka Taurat berubah menjadi kertas-kertas yang telah diedit. Sebagian benar adanya, tapi sebagian banyak yang dihilangkan.

Bani Israel menyimpan tabut perjanjian, sebuah peti yang berisi warisan peninggalan Musa dan Harun. Ada yang mengatakan isi tabut itu adalah lembaran-lembaran Taurat yang selamat dari perjalanan jaman. Tabut itu memberi berkah pada mereka. Tabut itu membuat mereka teguh dan tenang sehingga mereka menang dalam perang-perang mereka. Ketika mereka mulai menganiaya dirinya sendirinya dengan menarik Taurat dari hati sendiri, maka lembaran-lembaran itu sudah tidak ada gunanya lagi. Akhirnya, tabut itu hilang saat mereka berperang dan mereka kalah dalam perang tersebut.

Kondisi Bani Israel makin lama makin memprihatinkan karena dosa yang dilakukan dan sikap kepala batu mereka ditambah kezaliman mereka pada diri mereka sendiri. Tahun berganti tahun, dan mereka semakin membutuhkan kehadiran seorang nabi baru yang bisa mengentaskan dari kehinaan.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 26)

Posted on


KISAH MUSA AS DAN KHIDIR AS

Ini adalah kisah yang paling misterius yang ada dalam Al-Qur’an. Bahkan saking misteriusnya kisah ini banyak melahirkan madzhab-madzhab sufi. Kisah ini bahkan melahirkan sebuah keyakinan akan ada hamba Allah yang pada hakekatnya bukan nabi atau syahid, tapi keilmuannya membuat iri para nabi dan syuhada. Dan kisah inilah yang mengawalinya, waallahu ‘alam.

Tapi terlepas dari itu semua, ada baiknya kalau kita simak kisah Musa dan Khidir, karena di dalam kisah tersebut banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Kisah ini terdapat dalam surat Al-Kahfi.

Kisah dimulai dengan ayat berikut ini, yang mengisahkan Musa dan keinginannya dalam hati,

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi : 60)

Kalimat yang masih samar artinya menunjukkan bahwa Musa ditunggu oleh sebuah janji di tempat pertemuan dua buah lautan. Sebuah janji yang sepertinya sangat penting. Beberapa ahli tafsir mengatakan tempat itu adalah tempat bertemunya laut Persia dengan laut Romawi. Tapi ada juga yang mengatakan laut Yordania dengan laut Qazam. Yang lain mengatakan di Afrika, ada juga yang di Andalusia. Yang jelas, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik di mana tempat pertemuan dua buah lautan tersebut.

Musa yang adalah salah seorang Ulul ‘Azmi, nabi yang diberikan mukjizat tongkat dan tangan, nabi yang diberi Taurat tanpa perantara, nabi yang berdialog langsung dengan Allah, seorang nabi yang mulia, tapi dalam kisah ini beliau berubah menjadi seorang rendah hati, berjalan jauh untuk mencari seorang guru agar bisa belajar darinya. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama orang yang dicari Musa, tapi As-Sunnah menjelaskan bahwa orang itu adalah nabi Khidir as.

Ketika akhirnya bertemu, pada awalnya, Khidir tidakmau diikuti oleh Musa. Khidr menjelaskan bahwa Musa tak akan sanggup untuk bersabar jika mengikutinya. Musa terus saja mengikuti hingga akhirnya Khidr menyetujui Musa ikut dirinya dengan syarat, Musa tidak boleh menanyakan segala hal sebelum dia sendiri yang menjelaskannya.

Musa dan Khidir berjalan menyusuri pantai. Ketika berjalan, lewat sebuah perahu. Musa dan Khidir meminta pemilik perahu untuk sudi mengangkut mereka. Si pemilik perahu ternyata mengenal Khidir dan mau mengangkut mereka dengan gratis, sebagai bentuk penghormatan. Ketika perahu berangkat, tanpa sepengetahuan pemilik perahu, Khidir melubangi perahu itu sehingga perahu itu tenggelam.

Dalam pandangan Musa, tindakan Khidir ini adalah perbuatan tercela. Tabiat Musa yang temperamental dan keinginan kuat untuk membela kebenaran membuat Musa melupakan janjinya untuk tidak bertanya ke Khidir.

“Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah melakukan kesalahan yang besar’.” (QS. Al-Kahfi: 71)

Tiba-tiba Musa menyadari bahwa pertanyaannya ini melanggar syarat yang telah ditentukan Khidir di awal perjalanan. Buru-buru Musa minta maaf. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka kemudian melewati sebuah tempat bermain anak-anak. Musa terperanjat melihat Khidir membunuh salah satu anak tanpa alasan. Musa tak tahan untuk tidak bertanya. Kejahatan apa yang sudah dilakukan anak kecil itu sehingga perlu dibunuh?

Khidir kembali mengingatkan Musa untuk selalu bersabar jika mau terus bersamanya. Untuk keduakalinya, Musa meminta maaf dan berjanji untuk tidak bertanya.

“Bagaimana kalau nanti kamu masih saja bertanya?” tantang Khidir.

“Itulah akhir kebersamaan kita,” jawab Musa.

Khidir dan Musa kemudian melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah desa dengan penduduk yang sangat kikir. Saat itu mereka kehabisan bekal dan meminta makanan ke penduduk. Tapi penduduk desa tidak mau menerima mereka sebagai tamu.

Petang pun menjelang. Karena tak ada penduduk yang mau menerima, mereka berjalan ke sebuah puing yang hanya tersisa dinding. Khidir kemudian menghabiskan waktu semalaman untuk memperbaiki puing dari awal hingga selesai. Melihat itu, Musa kebingungan. Penduduk desa yang sangat kikir itu tidak pantas menerima tenaga gratis dari mereka.

“Jika mau, kau bisa mengambil upah untuk perbaikan itu,” kata Musa.

“Inilah perpisahan antara kamu dengan aku..” jawab Khidir.

Sebenarnya Khidir sudah memperingatkan Musa konsekuensi yang harus diterimanya, bahwa pertanyaan ketiga adalah akhir dari kebersamaan ini. Khidir kemudian menjelaskan bahwa apa yang dilakukan bukan kehendak dirinya sendiri, tapi Khidir hanya melaksanakan kehendak Allah semata. Ketiga perbuatan Khidir memang terlihat kejam, tapi sebenarnya di balik itu, padahal itu adalah nikmat yang tersembunyi.

Mungkin para pemilik perahu yang dirusak Khidir merasa kalau rusaknya perahu mereka adalah sebuah bencana. Tapi sebenarnya itu adalah sebuah kenikmatan yang tersembunyi. Ketika perang berkobar, raja yang berkuasa mengambil semua perahu kecuali perahu yang telah dirusak Khidir, sehingga perahu itu masih bisa memberi nafkah pada mereka.

Orang tua anak yang dibunuh Khidir mungkin juga akan menganggap ini sebagai bencana. Namun ini adalah rahmat karena Allah kemudian mengganti dengan anak yang lain, anak yang mau merawat orang tuanya. Bukan anak yang bertindak sewenang-wenang seperti anak yang dibunuh Khidir.

Musa kemudian tersadar bahwa yang dihadapinya adalah lautan ilmu. Di balik kesedihan, penderitaan dan kematian tersembunyi rahmat, kelembutan dan keselamatan. Musa kemudian kembali ke kaumnya, Bani Israil.

Download Gratis MP3 Murotal Al-Qur’an Komplit!

Posted on


Silahkan download mp3 Al-Qur’an dengan pembacanya adalah Abdulbari’ Mohammad. Semoga berguna!
1. Al Faatihah
2. Al Baqarah
3. Ali ‘Imran
4. An Nisaa’
5. Al Maa-idah
6. Al An’am
7. Al A’raaf
8. Al Anfaal
9. At Taubah
10. Yunus
11. Huud
12. Yusuf
13. Ar Ra’d
14. Ibrahim
15. Al Hijr
16. An Nahl
17. Al Israa’
18. Al Kahfi
19. Maryam
20. Thaahaa
21. Al Anbiyaa’
22. Al Hajj
23. Al Mu’minuun
24. An Nuur
25. Al Furqaan
26. Asy Syu’araa’
27. An Naml
28. Al Qashash
29. Al ‘Ankabuut
30. Ar Ruum
31. Luqman
32. As Sajdah
33. Al Ahzab
34. Saba’
35. Faathir
36. Yaasiin
37. Ash Shaaffat
38. Shaad
39. Az Zumar
40. Al Mu’min
41. Fushshilat
42. Asy Syuura
43. Az Zukhruf
44. Ad Dukhaan
45. Al Jaatsiyah
46. Al Ahqaaf
47. Muhammad
48. Al Fath
49. Al Hujuraat
50. Qaaf
51. Adz Dzariyaat
52. Ath Thuur
53. An Najm
54. Al Qamar
55. Ar Rahmaan
56. Al Waaqi’ah
57. Al Hadiid
58. Al Mujaadilah
59. Al Hasyr
60. Al Mumtahanah
61. Ash Shaff
62. Al Jumu’ah
63. Al Munaafiquun
64. At Taghaabun
65. Ath Thalaaq
66. At Tahriim
67. Al Mulk
68. Al Qalam
69. Al Haaqqah
70. Al Ma’aarij
71. Nuh
72. Al Jin
73. Al Muzzammil
74. Al Muddatstsir
75. Al Qiyaamah
76. Al Insaan
77. Al Mursalaat
78. An Naba’
79. An Nazi’at
80. ‘Abasa
81. At Takwiir
82. Al Infithaar
83. Al Muthaffifiin
84. Al Insyiqaaq
85. Al Buruuj
86. Ath Thaariq
87. Al A’laa
88. Al Ghaasyiyah
89. Al Fajr
90. Al Balad
91. Asy Syams
92. Al Lail
93. Adh Dhuhaa
94. Alam Nasyrah
95. At Tiin
96. Al ‘Alaq
97. Al Qadr
98. Al Bayyinah
99. Al Zalzalah
100. Al ‘Aadiyaat
101. Al Qaari’ah
102. At Takaatsur
103. Al ‘Ashr
104. Al Humazah
105. Al Fiil
106. Quraisy
107. Al Maa’uun
108. Al Kautsar
109. Al Kaafiruun
110. An Nashr
111. Al Lahab
112. Al Ikhlash
113. Al Falaq
114. An Naas

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 25)

Posted on


UMAT NABI MUHAMMADYANG DISEBUT-SEBUT DI JAMAN NABI MUSA.

Setelah amarah Musa mereda, Musa kemudian melanjutkan dakwahnya dengan Taurat yang baru saja diterimanya. Beliau membacakan lembaran-lembaran Taurat kepada kaumnya. Beliau kemudian memerintahkan agar mempraktekkan hukum-hukumnya dengan kesungguhan dan semaksimal mungkin.

Bukannya menurut, kaumnya malah menawar kebenaran yang disampaikan itu.

“Bagikanlah lembaran-lembaran itu kepada kami. Jika perintah dan larangan-larangannya memang mudah, maka kami akan melaksanakannya,”  kata Bani Israel.

“Tidak bisa seperti itu. Kalian harus menerimanya apa adanya,” kata Musa. Pada saat yang sama, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengangkat gunung dan meletakkannya di atas mereka.

“Jika kalian tidak mau menerima apa adanya, maka gunung itu akan menimpa kalian,” ancam Musa.

Akhirnya mereka menerima Taurat dengan apa adanya, sambil memandang gunung yang ada di atas mereka dengan ketakutan.

 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-A’raf : 171)

 

Peristiwa ini sekali lagi menggambarkan bagaimana cara berpikir mereka, yang mengharuskan bisa menerima Taurat apa adanya. Kemudian Musa memilih 70 orang terbaik dan mengajaknya untuk menemui Allah di sebuah bukit. Ketika hampir sampai di bukit tersebut, tiba-tiba kabut menyelimuti mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.

Tak lama, terdengar dialog Musa dengan Allah. 70 orang ini tidak ada yang bisa melihat Allah karena kabut. Setiap kali Musa berbicara, keningnya keluar cahaya yang sangat terang. Tak seorang pun dari 70 Bani Israel yang mampu melihatnya. Namun semua bisa mendengar dialog tersebut.

Setelah selesai, tak seorang pun dari Bani Israel yang puas dengan kejadian ini. Mereka ingin melihat Allah.

“Kami memang telah mendengar, tetapi yang kami inginkan adalah melihat,” kata mereka. Bahkan dengan entengnya mereka berkata,

 

“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al-Baqarah)

 

Sungguh keterlaluan permintaan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah seorang materialistik, hanya mau yang kongkrit-kongkrit saja. Permintaan itu dibalas dengan hukuman yang mengagetkan. Tiba-tiba mereka diguncang oleh gempa bumi. Mereka semua mati seketika.

Di hari yang bersejarah itu, selain terjadinya kematian pada 70 Bani Israel, juga datangnya sebuah kabar gembira tentang akan datangnya penutup para nabi. Kepada Tuhannya, Musa berdoa, “Ya Tuhanku, dalam lembara Taurat ini aku menemukan akan ada umat yang merupakan sebaik-baiknya umat yang diutus untuk umat manusia. Mereka memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ya Tuhan, jadikanlah umat itu sebagai umatku.”

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya, Tuhan, dalam lembaran-lembaran ini akan ada umat yang beriman kepada kitab yang pertamakali diturunkan, sekaligus kitab yang terakhir diturunkan. Mereka juga mau berperang untuk melawan kesesatan. Jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan umat yang mempunyai sedekah yang akan mereka makan sendiri, tetapi mereka juga tetap akan mendapatkan pahala darinya. Sementara itu, umat-umat sebelumnya jika mengeluarkan sedekah dan sedekah itu diterima Allah, maka Allah mengutus api untuk memakannya. Tapi jika sedekah itu tidak diterima, maka dibiarkan sedekah itu hingga dimakan burung atau hewan buas. Allah juga mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara mereka dan membagikannya ke orang-orang miskin di antara mereka. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan suatu umat yang  jika membayangkan suatu kebaikan kemudian mengamalkannya, dicatat pahala untuknya sepuluh hingga tujuhratus kali lipat. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

Itulah umat Rasulullah SAW yang juga disebut-sebut dalam Taurat, kitab suci yang diturunkan kepada Musa as.

 

KISAH SAPI BETINA.

Pada suatu hari, kaum Bani Israel dikejutkan dengan seorang kaya dari kalangan mereka yang ditemukan mati terbunuh. Keluarganya merasa sakit hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena meeka tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Mereka kemudian meminta bantuan Musa untuk memutuskan masalah ini. Karena masalah ini berpotensi menimbulkan fitnah, maka Musa pun memohon pertolongan Allah.

Allah kemudian memerintahkan Bani Israel untuk menyembelih seekor sapi betina. Seharusnya mereka langsung melaksanakan perintah itu tanpa bertanya apa-apa. Tapi kaum ini memang kaun yang sombong dan suka mngelak dari kenyataan, sehingga mereka mempertanyakan perintah tersebut, “Apakah sapi betina yang dimaksud adalah sapi betina biasa yang sering kami lihat atau sapi betina yang mempunyai keistimewaan lainnya?” Pertanyaan ini memperlihatkan keangkuhan mereka, walaupun berkedok dengan sok kritis.

Kaum Bani Israel meminta Musa untuk berdoa, agar Allah menjelaskan sapi betina yang lebih detil. Allah kemudian menjawabnya dengan sapi betina yang sedang, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Sebenarnya permintaan Bani Israel justru mempersulit diri sendiri karena sebenarnya perintah Allah ini cukup jelas, yaitu menyembelih sapi betina. Tapi karena sok kritis dan enggan, maka mereka akhirnya diperintah “menyembelih sapi betina yang sedang, tidak tua, tidak muda”.

Rupanya orang-orang ini masih saja menunjukkan keengganannya untuk melaksanakan perintah Allah. Kini mereka bertanya, warna apa sapi betina yang diinginkan. Sungguh mereka sama sekali tidak mempunyai adab kesopanan sama sekali.

Musa kemudian berdoa lagi dan Allah mennjawabnya dengan perintah. Sapi betinanya berwarna kuning kemerahan, warnanya kemilau dan menyenangkan hati orang yang melihatnya. Semakin susah didapatkan sapi betina macam itu.

Tapi rupanya kaum Bani Israel ini belum puas. Mereka menganggapnya masih belum spesifik. Musa kemudian menjelaskan bahwa sapi betina itu belum pernah dipakai untuk membajak tanah ataupun mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak ada belangnya.

Kekeraskepalaan mereka menyulitkan diri mereka sendiri. Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menemukan sapi tersebut. Setelah disembelih, Musa memegang ekor sapi tersebut dan memukulkan ke orang yang telah tewas tersebut. Secara ajaib, orang itu kemudian hidup lagi. Musa kemudian bertanya, siapa yang telah membunuh dirinya. Lelaki itu kemudian menceritakan siapa saja yang telah membunuhnya. Setelah bercerita, lelaki itu kemudian mati lagi. Kasus pun terpecahkan.

Sekali lagi, Bani Israel menyaksikan mukjizat yang seharusnya makin mempertebal keimanan mereka kepada Allah dan nabi-Nya. Bukan malah menyangsikan perintah Allah dan juga nabi-Nya.

Kita bisa bayangkan, bagaimana parahnya kondisi psikis umat Musa waktu itu. Barangkali yang paling menyakitkan bagi Musa adalah ketika kaum Bani Israel ini menolak berperang untuk menyebarkan tauhid dan malahan menyuruh Musa dan Tuhannya untuk berperang, sedangkan mereka duduk-duduk saja menunggu.

Tak heran jika Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka berupa kebingungan selama 40 tahun lebih, hingga satu generasi hilang. Telah habis generasi pengecut, kemudian lahirlah generasi baru. Sebuah generasi yang tidak dibesarkan di tengah-tengah berhala dan ruhnya tidak cacat karena hal tersebut. Sebuah generasi baru yang siap membayar harga dirinya dengan darah, yang mengadopsi keberanian militer sebagai bagian dari struktur agama tauhid. Akhirnya generasi itu lahir selama empat puluh tahun dalam kebingungan.

 

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 21)

Posted on


MUSA AS MELAWAN PARA PENYIHIR FIR’AUN

Sebelum hari itu, para penyihir dari seluruh negeri berkumpul di istana Fir’aun. Mereka adalah penyihir-penyihir terbaik yang ada saat itu. Hanya yang terbaiklah yang diundang. Fir’aun kemudian menceritakan bahwa Musa mampu membuat tongkatnya berubah menjadi ular besar dan mengeluarkan sinar terang dari sakunya. Para penyihir kemudian menanggapinya dengan tertawa, seakan-akan mereka juga tak kalah sakti dibandingkan Musa.

“Tuanku belum menjelaskan hal yang lebih penting daripada kesaktian Musa,” kata para penyihir itu.

“Apa yang lebih penting daripada ini?” tanya Fir’aun.

“Upah yang kami terima jika kami menang atas Musa,” jelas para penyihir.

Sambil tertawa, Fir’aun menjelaskan, “Kalian akan menjadi orang dekatku. Aku akan menjadikan kalian salah satu pejabat istana yang mengurusi masalah sihir. Soal imbalan, kalian tak perlu risaukan.”

Singkat cerita, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Seluruh penyihir-penyihir terbaik Fir’aun telah berkumpul. Para penduduk telah berkumpul sejak pagi untuk menyaksikan acara seru ini. Mereka semua bersemangat untuk menonton, siapakah yang lebih hebat. Apakah Musa berhasil mengalahkan para penyihir terbaik Fir’aun?

Musa dan Harun telah datang. Suasana hening ketika para penyihir mendekati Musa. Para penyihir berkata,

“Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” (QS. Thaha : 65)

Musa kemudian menjawab,

“Silahkan kamu sekalian melemparkan (terlebih dahulu).” (QS Thaha : 66)

Para penyihir berkata,

“Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (QS. Asy-Syu’ara : 44)

Musa menjawab sesumbar mereka,

“Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia mebinasakan kamu dengan siksa.” (QS. Thaha : 61)

Para penyihir kemudian melemparkan tongkat dan tali mereka. Tempat itu tiba-tiba dipenuhi oleh ular. Penonton pun bertepuk tangan dengan riuh. Senyum Fir’aun mengembang, merasa yakin akan kemenangannya. Sementara itu, Musa merasa grogi dan takut melihat lawannya.

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya,” (QS. Thaha : 67)

Tak seorang pun tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Musa saat itu. Beliau hanya berdiri mematung, ditemani oleh Harun saudaranya, di antara riuh rendahnya penonton yang bersorak. Selang berapa waktu, sebuah cahaya menyinari hatinya. Allah swt berfirman kepadanya,

“Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, darimana saja dia datang.” (QS. Thaha : 69)

Hati Musa kini lebih lega dan yakin. Allah swt telah menenangkannya dengan janji-Nya. Tangannya yang semula gemetaran, kini sudah tidak lagi. Musa kemudian mengangkat tangan kanannya yang memegang lalu melemparkannya. Begitu tongkat menyentuh tanah, terjadilah mukjizat Allah.

Para penduduk Mesir, para penyihir dan Fir’aun sendiri belum pernah menyaksikan pemandangan ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau tongkat-tongkat dan tali milik penyihir itu tidak berubah menjadi ular. Ini hanya tampak sebagai ular, bukan jadi ular sungguhan. Tongkat dan tali mereka tidak bergerak. Tapi apa yang terjadi waktu itu benar-benar lain. Tongkat Musa berubah menjadi seekor ular besar dan memangsa ular-ular kecil milik para penyihir. Hanya dalam hitungan detik, tempat itu bersih dari ular-ular kecil. Ular besar itu bergerak ke Musa dan ketika tangan Musa memegangnya, ular itu berubah lagi menjadi tongkat. Semua orang yang menyaksikan hal itu tercengang, termasuk Fir’aun sendiri. Semua orang, termasuk para penyihir, sadar bahwa Musa bukanlah seorang penyihir. Apa yang barusan mereka saksikan adalah mukjizat, bukanlah sihir. Para penyihir itu kemudian menjatuhkan diri dan bersujud.

“Mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (QS. Al-A’raf : 122).

Rakyat Mesir dan Bani Israil juga telah menyaksikan mukjizat Allah ini. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penyihir terbaik Fir’aun bersujud dan menyatakan keimanan mereka. Melihat hal ini, Fir’aun sudah merasa tidak mampu menguasai keadaan lagi. Ini adalah hal yang berbahaya.

“Kenapa kalian beriman kepada Tuhannya Musa padahal aku tidak mengijinkan?” tanya Fir’aun kepada para penyihir.

“Kami tidak memerlukan ijin seseorang untuk beriman,” kata mereka.

“Ini jelas-jelas sebuah pemberontakan!” raung Fir’aun, “Tangan dan kaki kalian akan dipotong. Kalian akan disalib di batang kurma. Ini adalah pemberontakan!”

“Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan. Kami memilih percaya akan mukjizat Allah ini,” kata para penyihir.

Fir’aun marah besar dan memerintahkan pasukannya untuk menyalib para penyihir ini. Kesaksian para penyihir ini tidak bisa dianggap enteng karena mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai negeri. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dan mempunyai status tinggi dalam masyarakat Mesir waktu itu. Singkatnya, mereka adalah orang-orang panutan. Dan orang-orang itu kini menjadi orang yang beriman, itu adalah sebuah hasil positif bagi Musa dan Harun. Tapi kesaksian ini adalah bencana bagi Fir’aun.

Para penyihir itu kemudian disalib, dan penduduk Mesir hanya diam saja karena takut akan kekuasaan Fir’aun. Tapi Fir’aun tahu, kekuasaannya dalam bahaya. Dia pun kemudian mengadakan serangkaian pertemuan darurat dengan para bawahannya.

“Apa yang dikatakan orang-orang?” tanya Fir’aun kepada kepala intelijennya.

“Anak buah hamba telah menyelundup di antara mereka. Kemenangan Musa tempo hari adalah hasil dari persekongkolan Musa dengan para penyihir itu. Disinyalir ini dibiayai oleh pihak-pihak tertentu, Paduka,” jelas Kepala Intelijen.

“Bagaimana dengan mayat para penyihir?”

“Mayat mereka digantung di tempat-tempat umum untuk menakut-nakuti penduduk, Paduka.”

“Bagaimana dengan prajurit, Panglima?” tanya Fir’aun kepada Panglima Pasukan.

“Kami tinggal menunggu perintah, Paduka,” jawab Panglima.

Fir’aun diam sejenak. Dia terlihat berpikir keras. Melihat hal itu, Haman kemudian berkata, “Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat seenaknya dan tidak mau menyembah Tuanku lagi?”

“Rupanya engkau bisa membaca pikiranku, Haman,” kata Fir’aun, “Tentu saja tidak akan aku biarkan. Kita akan bunuh semua anak-anak Bani Israil dan membiarkan hidup kaum wanita mereka, agar kita bisa tetap menguasai mereka.”

“Baiklah, Paduka. Kami akan melaksanakan perintah Paduka,” kata para bawahan.

Perintah Fir’aun dilaksanakan. Anak-anak Bani Israil dibunuh, para wanitanya diperkosa, dan para lelaki yang menentang dipenjara. Musa hanya bisa menyaksikan ini semua tanpa bisa mencegahnya. Yang bisa dilakukan sementara hanyalah bersabar sambil terus berdoa untuk memohon pertolongan Allah.

Intimidasi Fir’aun berhasil menjatuhkan mental Bani Israil. Kepada Musa mereka berkata, “Sebelum kedatanganmu, kami telah disiksa dan anak-anak kami dibunuh. Kini setelah engkau datang pun tidak ada yang berubah.”

Mendengar ucapan itu, Musa menjelaskan bahwa Allah akan menolong mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia. Tapi tetap saja mereka mengeluh.

Situasi yang dihadapi Musa dari hari ke hari makin sulit saja. Di satu sisi, Musa menghadapi penindasan Fir’aun, di sisi lain Musa harus menghadapi keluhan ketidaksabaran kaumnya sendiri.

Di tengah kondisi yang kacau balau ini, Qarun beraksi. Siapakah Qarun? Simak di tulisan berikutnya.