Agama Islam

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 33)

Posted on


KISAH YAHYA AS, SEORANG NABI MULIA YANG TERBUNUH

Sebagaimana cerita di postingan sebelumnya, Yahya as adalah anak kandung nabi Zakariya as, seorang anak yang begitu ditunggu-tunggu kehadirannya hingga akhirnya malaikat datang membisikkan bakal kelahiran Yahya as.

Yahya adalah anak yang istimewa, bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Allah belum pernah menciptakan orang yang seperti Yahya sebelumnya. Yahya mendapatkan ilmu langsung dari Allah seperti halnya Khidir as.

Yahya as suka pergi ke gunung, gurun atau tempat-tempat sepi dan kemudian tinggal di sana selama berbulan-bulan. Beliau beribadah kepada Allah, menangis di hadapan-Nya dan selalu berdoa. Beliau merasa tenteram jika berada di tengah-tengah alam.

Di jaman Nabi Yahya hidup, raja yang berkuasa adalah raja diktator yang bodoh dan bermoral bejat serta sewenang-wenang. Kebejatan telah marak di kerajaannya karena moral rajanya yang juga bejat.

Sudah bukan rahasia lagi jika raja tertarik akan kecantikan istri saudaranya sendiri. Istri saudaranya itu memiliki anak perempuan yang juga cantik. Anak perempuannya ini juga terkenal sebagai penari yang seksi. Menurut banyak kisah, penari seksi itu jika menari memakai 7 selendang. Sambil menari, dia akan melepas satu-persatu selendangnya hingga akhirnya telanjang bulat. Di jaman modern tarian seperti ini dikenal sebagai striptease.

Suatu hari, sang raja bertanya ke Nabi Yahya, “Bolehkah aku menikahi istri saudaraku?”

“Tidak boleh,” jawab Yahya.

Mendengar jawaban Yahya, raja terus saja membujuk Yahya untuk diperbolehkan menikahi istri saudaranya secara syariat. Tapi agama memang tidak memperbolehkan, apa boleh buat, Yahya juga kukuh untuk menolaknya.

Melihat kekukuhan Yahya, sang raja murka. Segera diperintahkan anak buahnya untuk memenjarakan Yahya. Sedangkan istri saudaranya pun kemudian diperkosa.

Gadis penari yang kebetulan melihat itu semua, dan melihat kekukuhan dan ketenangan Yahya, dia jatuh cinta. Gadis penari itu mendatangi Yahya di penjara.

“Aku cinta padamu, dan maukah kau mencintaiku, Yahya?” tanya gadis penari itu.

“Di dalam hatiku, hanya ada satu cinta, yaitu cinta kepada Allah,” jawab Yahya. Gadis penari itu terus mencoba untuk merayu Yahya, tapi Yahya tidak tergoyahkan. Akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Yahya dengan putus asa sambil membawa dendam yang luarbiasa kepada Yahya.

Pada suatu malam, sang raja sedang minum-minum minuman keras sambil dihibur oleh tarian seksi gadis penari itu. Suara musik mengiringi gadis penari yang melepaskan satu persatu selendang yang dikenakan. Setiap selendang yang dilepaskan, sang raja makin antusias. Ini tidak mengherankan, alkohol sudah menguasainya.

Ketika hanya tinggal satu selendang saja yang belum terbuka, tiba-tiba gadis penari itu menghentikan tariannya.

“Kenapa berhenti?” tanya raja.

“Sebelum aku teruskan, aku ada permintaan, Raja,” kata gadis penari.

“Apa permintaanmu?”

“Aku ingin Yahya ibn Zakariya.”

“Mintalah sesuatu yang lain.”

“Kalau begitu, aku ingin kematian Yahya ibn Zakariya.”

Sambil meneguk minuman kerasnya, sang raja memerintahkan panglimanya, “Bunuhlah Yahya ibn Zakariya sekarang juga.”

Para prajurit kemudian bergegas ke penjara untuk mengeksekusi nabi mulia, Nabi Yahya ibn Zakariya.

Iklan

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 32)

Posted on Updated on


KISAH NABI ZAKARIYA AS DAN MARYAM (MARIA)

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang nabi dan seorang ahli ilmu. Nabi itu bernama Zakariya as, sedangkan ahli ilmu itu bernama Imran. Imran sangat mendambakan seorang anak. Sampai detik ini, istrinya samasekali belum hamil.

Pada suatu pagi, istri Imran melihat seekor induk burung yang menyuapi makan anaknya. Melihat itu, dia teringat akan keadaan dirinya sendiri yang masih belum juga dikaruniai anak. Diangkatnya tangan untuk menengadah dan berdoa dengan sepenuh hati.

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut. Beberapa waktu kemudian, dia merasakan janin di dalam perutnya. Dia sangat bersyukur dan bernazar untuk menjadikan putranya kelak sebagai pelayan di rumah ibadah (Baitul Maqdis).

Akhirnya bayi itu pun lahir. Di luar dugaan, ternyata anak itu perempuan, bukan laki-laki seperti yang diharapkan. Walau begitu, dia tetap bersyukur dan bertekad akan melaksanakan nazarnya, menjadikan anaknya sebagai pelayan Baitul Maqdis. Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Maryam, atau orang Kristen menyebutnya Maria.

Sebelum Maryam lahir, Imran, ayahanda Maryam meninggal dunia. Setelah Maryam lahir semua orang berebut untuk mendapatkan kehormatan mengasuh Maryam, mengasuh anak dari orang yang mulia. Melihat itu semua, Zakariya as berkata, “Aku yang akan merawatnya karena Imran masih kerabatku. Aku juga nabi dari umat ini. Aku lebih berhak mengasuh bayi ini daripada kalian semua.”

“Mengapa bukan kami saja? Kami tidak akan membiarkanmu memperoleh kehormatan itu tanpa perlawanan kami,” kata orang-orang itu sambil marah-marah. Hampir saja mereka akan bertengkar, namun mereka kemudian mensepakati sebuah cara yaitu lewat undian.

Maryam diletakkan di tanah dan disampingnya juga diletakkan anak-anak panah milik orang-orang yang ingin mengasuhnya. Lalu didatangkan anak kecil yang akan mengambil satu anak panah. Dan ternyata anak panah milik nabi Zakariya yang diambil.

“Allah telah memutuskan aku sebagai pengasuh Maryam,” kata Zakariya. Tapi orang-orang tidak terima atas hasil undian itu, “Tidak. Undian harus diulang lagi.”

Kemudian mereka melakukan undian lagi. Kali ini caranya beda. Masing-masing dari mereka menulis nama di anak panah lalu melemparkan anak panah ke sungai. Barangsiapa yang anak panahnya melawan arus maka dialah yang berhak mengasuh Maryam. Dan ternyata hanyalah anak panah milik Zakariya as saja yang melawan arus.

Zakariya mengira orang-orang sudah bisa menerima hasil undian itu. Tapi ternyata tidak. Mereka menginginkan undian lagi, hanya caranya yang dirubah. Kali ini anak panah yang mengikuti arus-lah yang berhak mengasuh Maryam. Dilemparlah anak-anak panah mereka dan sekali lagi, hanya milik Zakariya yang mengikuti arus, sedangkan yang lain melawan arus. Apa boleh buat, mereka harus merelakan Maryam diasuh oleh nabi mereka, Nabi Zakariya as.

Zakariya as kemudian membesarkan Maryam dengan kemuliaan. Maryam memiliki tempat khusus atau mihrab di Bait Suci. Maryam jarang sekali meninggalkan mihrab. Sehari-hari diisinya dengan shalat, beribadah, berzikir dan mencintai Allah.

Pada suatu hari, Zakariya as mengunjungi Maryam di mihrabnya. Zakariya pun keheranan melihat mihrab Maryam penuh dengan buah-buahan. Pada musim panas, di dalam mihrabnya penuh dengan buah-buahan musim dingin.

“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Zakariya.

“Semua itu rezeki dari Allah,” jawab Maryam.

Dan kejadian terjadi berulang-ulang.

Sebenarnya Zakariya sendiri menginginkan anak juga yang akan mewarisi ilmu, menjadi nabi dan meneruskan untuk berseru ke kaumnya untuk selalu mengingat Allah. Zakariya berdoa tanpa mengeraskan suara. Sebagai nabi, Zakariya khawatir jika kaumnya nantinya akan sesat setelah dia meninggal. Allah pun mengabulkan doanya. Seorang malaikat memanggilnya,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (datangnya) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam 7)

Zakariya terkejut sekaligus gembira.

“Zakariya berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua?’” (QS. Maryam : 8 )

Kemudian malaikat tersebut menjelaskan bahwa ini sudah menjadi kehendak Allah, dan pasti, kehendak Allah pasti akan bisa terwujud walaupun itu sangat tidak masuk akal menurut hitung-hitungan manusia.

Allah kemudian mengabarkan bahwa Zakariya tidak akan bisa bicara walaupun beliau sedang tidak sakit. Ketika itulah istri nabi Zakariya hamil  dan mukjizat Allah pun terlaksana.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 29)

Posted on


KISAH DAUD AS TENTANG KEBIJAKSANAANYA

Nabi Daud as dikenal sebagai raja yang bijaksana. Nabi Daud as mempunyai anak yang nantinya akan jadi nabi juga, yaitu Sulaiman. Kisah ini terjadi ketika Sulaiman masih berumur sebelas tahun.

Begini kisahnya, suatu hari datang dua orang lelaki kepada Daud as dan Sulaiman. Dua orang lelaki itu adalah pemilik kebun dan pemilik kambing. Mereka berdua sedang berselisih dan menghadap aud untuk mencari keadilan.

“Baginda,” kata pemilik kebun, “Kebun anggur hamba yang siap panen rusak gara-gara kambingnya. Hamba ingin mendapatkan ganti rugi atas kerusakan ini,” semprot pamilik kebun sambil menunjuk-nunjuk ke pemilik kambing.

“Apa benar yang merusak kebun anggurnya adalah kambingmu?” tanya Daud kepada pemilik kambing.

“Benar, Baginda,” jawab pemilik kambing.

“Kalau begitu, aku putuskan bahwa pemilik kambing harus memberikan kambingnya ke pemilik kebun sebagai ganti rugi atas kerusakan kebun anggur tersebut.”

“Ayah, aku punya pendapat yang berbeda. Boleh aku sampaikan?” sela Sulaiman dengan tiba-tiba.

“Katakan saja, Anakku.”

“Seharusnya pemilik kambing ini mengambil kebun anggur itu yang kemudian harus ditanami dan diperbaiki hingga siap panen seperti semula. Sementara itu, pemilik kebun mengambil kambing agar dia bisa mengambil susu dan bulunya sampai kebun anggurnya siap panen. Setelah kebun anggur siap panen, kambing akan dikembalikan lagi ke pemiliknya.”

“Ini keputusan yang bijak, Anakku. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kebijaksanaan kepadamu, Nak.”

Daud, seorang raja yang mempunyai kekuasaan, ternyata masih mau membenarkan sebuah pendapat, walaupun muncul dari seorang anak kecil. Jika memang benar, siapapun yang mengatakannya, maka Daud pun pasti akan membenarkannya.

Ini adalah kisah yang lain lagi tentang kebijaksanaan. Sebagai raja, Daud mempunyai mihrab, sebuah tempat khusus untuk beribadah kepada Allah. Daud selalu memerintahkan ke pengawalnya untuk melarang siapa saja memasuki mihrabnya.

Namun pada suatu hari, Daud kaget ketika mendapati dua orang sedang di dalam mihrabnya. Bagaimana bisa mereka masuk ke mihrab ini?

“Jangan takut, Baginda. Hamba dan dia sedang berselisih,” kata salah seorang dari mereka.

“Apa persoalannya?” tanya Daud.

“Saudaraku ini mempunyai 99 kambing dan aku hanya punya satu ekor saja. Dia telah mengambil kambing-kambingku,” kata orang itu.

Tanpa mendengarkan dari pihak satunya, Daud langsung memutuskan sesuatu.

“Aku putuskan, dia sesungguhnya telah berbuat zalim karena telah meminta kambingnya,” kata Daud.

Tiba-tiba dua orang itu menghilang bagai asap. Akhirnya Daud mengerti bahwa kedua orang itu adalah malaikat yang diutus Allah untuk mengajarkan sesuatu ke Daud. Sebuah pelajaran yang mengajarkan bahwa jangan memutuskan sebuah persoalan di antara dua orang yang bersengketa tanpa mendengarkan pernyataan kedua pihak. Mungkin istilah modern yang tepat untuk pelajaran ini adalah, cover both side.

Tak hanya kebijaksanaannya, Daud juga dikenal sebagai hamba yang sangat taat. Daud sangat rajin dalam berpuasa, bahkan puasa Nabi Daud pernah disabdakan Rasulullah SAW.

“Puasa yang paling utama adalah puasa Daud. Kala itu dia berpuasa satu hari dan tidak berpuasa pada hari berikutnya. Dia juga membaca Zabur dengan tijuh puluh suara. Selain itu, dia mengkhususkan satu rakaat setiap malamnya untuk menangis. Karena tangisannya, segala sesuatu akan ikut menangis, dan dengan suaranya orang-orang yang gelisah atau bingung bisa sembuh.”

 

Sebagaimana dikisahkan oleh riwayat-riwayat, Daud wafat dengan tiba-tiba. Jenazahnya diarak oleh 40 ribu pendeta dan ribuan orang lainnya. Terik matahari yang panas membuat ribuan orang ini kepanasan. Sulaiman kemudian memanggil burung-burung dan berkata, “Payungilah Daud.”

Maka ribuan burung terbang di atas dan samping mereka sehingga langit terlihat gelap dan angin samasekali tidak bisa berhembus. Sulaiman berkata lagi ke burung-burung itu, “Lindungi orang-orang dari terik matahari, dan menyingkirlah dari sisi angin.”

Burung-burung pun mematuhi perintah Sulaiman. Itu adalah kali pertama Bani Israil menyaksikan kekuasaan Raja Sulaiman yang termasyur.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 27)

Posted on


NABI-NABI BANI ISRAIL SETELAH MUSA

Dari sekian banyak pengikut Musa yang kebingungan, hanya ada dua orang saja yang mampu keluar dari kebingungan. Para ahli tafsir mengatakan bahwa sala seorangnya bernama Yusya’ (Yosea) ibn Nun.

Yusya’ adalah murid Musa dalam kisah Musa dan Khidir. Beliau kini adalah seorang nabi sekaligus panglima perang yang memimpin kaumnya menuju tanah yang telah diperintahkan Allah untuk memasukinya. Yusya’ mengajak Bani Israil keluar dari tempat yang membingungkan lalu berangkat ke tanah suci.

Hingga kemudian mereka telah sampai di sebuah kota yang mempunyai benteng yang kuat bernama Ariha (Jerikho). Benteng itu mempunyai tembok yang paling tinggi dan penduduk yang paling banyak.

Yusya’ mengepung kota itu hingga kemudian Yusya berhasil meruntuhkan tembok benteng dengan membunyikan terompet-terompet tanduk domba. Dinding-dinding benteng kemudian retak dan roboh seketika. Yusya’ memanfaatkan kekuatan suara sebagai senjata. Getaran yang ditimbulkan terompet ternyata mampu merobohkan benteng terkuat sekalipun.

Kita tidak tahu, apakah Allah menurunkan wahyu kepada Yusya’ untuk menghancurkan benteng dengan terompet tanduk domba, atau memang ini adalah bukti kejeniusan Yusya’. Selama 6 bulan terus-menerus, Yusya’ dan anak buahnya membunyikan terompet hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan runtuhnya tembok benteng.

Setelah benteng runtuh, Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki kota dengan bersujud atau ruku’. Ini adalah ungkapan rasa syukur karena telah menaklukan benteng kuat ini. Namun Bani Israel menentang perintah itu. Mereka masuk Jerikho justru dengan sikap sombong. Akhirnya mereka tertimpa azab. Jika keburukan yang telah dilakukan orang tua mereka adalah menghinakan diri, maka keburukan yang mereka lakukan adalah menyombongkan diri.

“Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel), ‘Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.’ Dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.’ Kelak akan kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.” (QS. Al-A’raf : 161-162)

Kejahatan Bani Israel tidak berhenti di situ saja. Sepeninggal Musa, mereka banyak menyiksa rasul-rasul yang diutus. Di tangan mereka Taurat berubah menjadi kertas-kertas yang telah diedit. Sebagian benar adanya, tapi sebagian banyak yang dihilangkan.

Bani Israel menyimpan tabut perjanjian, sebuah peti yang berisi warisan peninggalan Musa dan Harun. Ada yang mengatakan isi tabut itu adalah lembaran-lembaran Taurat yang selamat dari perjalanan jaman. Tabut itu memberi berkah pada mereka. Tabut itu membuat mereka teguh dan tenang sehingga mereka menang dalam perang-perang mereka. Ketika mereka mulai menganiaya dirinya sendirinya dengan menarik Taurat dari hati sendiri, maka lembaran-lembaran itu sudah tidak ada gunanya lagi. Akhirnya, tabut itu hilang saat mereka berperang dan mereka kalah dalam perang tersebut.

Kondisi Bani Israel makin lama makin memprihatinkan karena dosa yang dilakukan dan sikap kepala batu mereka ditambah kezaliman mereka pada diri mereka sendiri. Tahun berganti tahun, dan mereka semakin membutuhkan kehadiran seorang nabi baru yang bisa mengentaskan dari kehinaan.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 26)

Posted on


KISAH MUSA AS DAN KHIDIR AS

Ini adalah kisah yang paling misterius yang ada dalam Al-Qur’an. Bahkan saking misteriusnya kisah ini banyak melahirkan madzhab-madzhab sufi. Kisah ini bahkan melahirkan sebuah keyakinan akan ada hamba Allah yang pada hakekatnya bukan nabi atau syahid, tapi keilmuannya membuat iri para nabi dan syuhada. Dan kisah inilah yang mengawalinya, waallahu ‘alam.

Tapi terlepas dari itu semua, ada baiknya kalau kita simak kisah Musa dan Khidir, karena di dalam kisah tersebut banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Kisah ini terdapat dalam surat Al-Kahfi.

Kisah dimulai dengan ayat berikut ini, yang mengisahkan Musa dan keinginannya dalam hati,

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi : 60)

Kalimat yang masih samar artinya menunjukkan bahwa Musa ditunggu oleh sebuah janji di tempat pertemuan dua buah lautan. Sebuah janji yang sepertinya sangat penting. Beberapa ahli tafsir mengatakan tempat itu adalah tempat bertemunya laut Persia dengan laut Romawi. Tapi ada juga yang mengatakan laut Yordania dengan laut Qazam. Yang lain mengatakan di Afrika, ada juga yang di Andalusia. Yang jelas, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik di mana tempat pertemuan dua buah lautan tersebut.

Musa yang adalah salah seorang Ulul ‘Azmi, nabi yang diberikan mukjizat tongkat dan tangan, nabi yang diberi Taurat tanpa perantara, nabi yang berdialog langsung dengan Allah, seorang nabi yang mulia, tapi dalam kisah ini beliau berubah menjadi seorang rendah hati, berjalan jauh untuk mencari seorang guru agar bisa belajar darinya. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama orang yang dicari Musa, tapi As-Sunnah menjelaskan bahwa orang itu adalah nabi Khidir as.

Ketika akhirnya bertemu, pada awalnya, Khidir tidakmau diikuti oleh Musa. Khidr menjelaskan bahwa Musa tak akan sanggup untuk bersabar jika mengikutinya. Musa terus saja mengikuti hingga akhirnya Khidr menyetujui Musa ikut dirinya dengan syarat, Musa tidak boleh menanyakan segala hal sebelum dia sendiri yang menjelaskannya.

Musa dan Khidir berjalan menyusuri pantai. Ketika berjalan, lewat sebuah perahu. Musa dan Khidir meminta pemilik perahu untuk sudi mengangkut mereka. Si pemilik perahu ternyata mengenal Khidir dan mau mengangkut mereka dengan gratis, sebagai bentuk penghormatan. Ketika perahu berangkat, tanpa sepengetahuan pemilik perahu, Khidir melubangi perahu itu sehingga perahu itu tenggelam.

Dalam pandangan Musa, tindakan Khidir ini adalah perbuatan tercela. Tabiat Musa yang temperamental dan keinginan kuat untuk membela kebenaran membuat Musa melupakan janjinya untuk tidak bertanya ke Khidir.

“Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah melakukan kesalahan yang besar’.” (QS. Al-Kahfi: 71)

Tiba-tiba Musa menyadari bahwa pertanyaannya ini melanggar syarat yang telah ditentukan Khidir di awal perjalanan. Buru-buru Musa minta maaf. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka kemudian melewati sebuah tempat bermain anak-anak. Musa terperanjat melihat Khidir membunuh salah satu anak tanpa alasan. Musa tak tahan untuk tidak bertanya. Kejahatan apa yang sudah dilakukan anak kecil itu sehingga perlu dibunuh?

Khidir kembali mengingatkan Musa untuk selalu bersabar jika mau terus bersamanya. Untuk keduakalinya, Musa meminta maaf dan berjanji untuk tidak bertanya.

“Bagaimana kalau nanti kamu masih saja bertanya?” tantang Khidir.

“Itulah akhir kebersamaan kita,” jawab Musa.

Khidir dan Musa kemudian melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah desa dengan penduduk yang sangat kikir. Saat itu mereka kehabisan bekal dan meminta makanan ke penduduk. Tapi penduduk desa tidak mau menerima mereka sebagai tamu.

Petang pun menjelang. Karena tak ada penduduk yang mau menerima, mereka berjalan ke sebuah puing yang hanya tersisa dinding. Khidir kemudian menghabiskan waktu semalaman untuk memperbaiki puing dari awal hingga selesai. Melihat itu, Musa kebingungan. Penduduk desa yang sangat kikir itu tidak pantas menerima tenaga gratis dari mereka.

“Jika mau, kau bisa mengambil upah untuk perbaikan itu,” kata Musa.

“Inilah perpisahan antara kamu dengan aku..” jawab Khidir.

Sebenarnya Khidir sudah memperingatkan Musa konsekuensi yang harus diterimanya, bahwa pertanyaan ketiga adalah akhir dari kebersamaan ini. Khidir kemudian menjelaskan bahwa apa yang dilakukan bukan kehendak dirinya sendiri, tapi Khidir hanya melaksanakan kehendak Allah semata. Ketiga perbuatan Khidir memang terlihat kejam, tapi sebenarnya di balik itu, padahal itu adalah nikmat yang tersembunyi.

Mungkin para pemilik perahu yang dirusak Khidir merasa kalau rusaknya perahu mereka adalah sebuah bencana. Tapi sebenarnya itu adalah sebuah kenikmatan yang tersembunyi. Ketika perang berkobar, raja yang berkuasa mengambil semua perahu kecuali perahu yang telah dirusak Khidir, sehingga perahu itu masih bisa memberi nafkah pada mereka.

Orang tua anak yang dibunuh Khidir mungkin juga akan menganggap ini sebagai bencana. Namun ini adalah rahmat karena Allah kemudian mengganti dengan anak yang lain, anak yang mau merawat orang tuanya. Bukan anak yang bertindak sewenang-wenang seperti anak yang dibunuh Khidir.

Musa kemudian tersadar bahwa yang dihadapinya adalah lautan ilmu. Di balik kesedihan, penderitaan dan kematian tersembunyi rahmat, kelembutan dan keselamatan. Musa kemudian kembali ke kaumnya, Bani Israil.

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 25)

Posted on


UMAT NABI MUHAMMADYANG DISEBUT-SEBUT DI JAMAN NABI MUSA.

Setelah amarah Musa mereda, Musa kemudian melanjutkan dakwahnya dengan Taurat yang baru saja diterimanya. Beliau membacakan lembaran-lembaran Taurat kepada kaumnya. Beliau kemudian memerintahkan agar mempraktekkan hukum-hukumnya dengan kesungguhan dan semaksimal mungkin.

Bukannya menurut, kaumnya malah menawar kebenaran yang disampaikan itu.

“Bagikanlah lembaran-lembaran itu kepada kami. Jika perintah dan larangan-larangannya memang mudah, maka kami akan melaksanakannya,”  kata Bani Israel.

“Tidak bisa seperti itu. Kalian harus menerimanya apa adanya,” kata Musa. Pada saat yang sama, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengangkat gunung dan meletakkannya di atas mereka.

“Jika kalian tidak mau menerima apa adanya, maka gunung itu akan menimpa kalian,” ancam Musa.

Akhirnya mereka menerima Taurat dengan apa adanya, sambil memandang gunung yang ada di atas mereka dengan ketakutan.

 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-A’raf : 171)

 

Peristiwa ini sekali lagi menggambarkan bagaimana cara berpikir mereka, yang mengharuskan bisa menerima Taurat apa adanya. Kemudian Musa memilih 70 orang terbaik dan mengajaknya untuk menemui Allah di sebuah bukit. Ketika hampir sampai di bukit tersebut, tiba-tiba kabut menyelimuti mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.

Tak lama, terdengar dialog Musa dengan Allah. 70 orang ini tidak ada yang bisa melihat Allah karena kabut. Setiap kali Musa berbicara, keningnya keluar cahaya yang sangat terang. Tak seorang pun dari 70 Bani Israel yang mampu melihatnya. Namun semua bisa mendengar dialog tersebut.

Setelah selesai, tak seorang pun dari Bani Israel yang puas dengan kejadian ini. Mereka ingin melihat Allah.

“Kami memang telah mendengar, tetapi yang kami inginkan adalah melihat,” kata mereka. Bahkan dengan entengnya mereka berkata,

 

“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al-Baqarah)

 

Sungguh keterlaluan permintaan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah seorang materialistik, hanya mau yang kongkrit-kongkrit saja. Permintaan itu dibalas dengan hukuman yang mengagetkan. Tiba-tiba mereka diguncang oleh gempa bumi. Mereka semua mati seketika.

Di hari yang bersejarah itu, selain terjadinya kematian pada 70 Bani Israel, juga datangnya sebuah kabar gembira tentang akan datangnya penutup para nabi. Kepada Tuhannya, Musa berdoa, “Ya Tuhanku, dalam lembara Taurat ini aku menemukan akan ada umat yang merupakan sebaik-baiknya umat yang diutus untuk umat manusia. Mereka memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ya Tuhan, jadikanlah umat itu sebagai umatku.”

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya, Tuhan, dalam lembaran-lembaran ini akan ada umat yang beriman kepada kitab yang pertamakali diturunkan, sekaligus kitab yang terakhir diturunkan. Mereka juga mau berperang untuk melawan kesesatan. Jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan umat yang mempunyai sedekah yang akan mereka makan sendiri, tetapi mereka juga tetap akan mendapatkan pahala darinya. Sementara itu, umat-umat sebelumnya jika mengeluarkan sedekah dan sedekah itu diterima Allah, maka Allah mengutus api untuk memakannya. Tapi jika sedekah itu tidak diterima, maka dibiarkan sedekah itu hingga dimakan burung atau hewan buas. Allah juga mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara mereka dan membagikannya ke orang-orang miskin di antara mereka. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan suatu umat yang  jika membayangkan suatu kebaikan kemudian mengamalkannya, dicatat pahala untuknya sepuluh hingga tujuhratus kali lipat. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

Itulah umat Rasulullah SAW yang juga disebut-sebut dalam Taurat, kitab suci yang diturunkan kepada Musa as.

 

KISAH SAPI BETINA.

Pada suatu hari, kaum Bani Israel dikejutkan dengan seorang kaya dari kalangan mereka yang ditemukan mati terbunuh. Keluarganya merasa sakit hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena meeka tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Mereka kemudian meminta bantuan Musa untuk memutuskan masalah ini. Karena masalah ini berpotensi menimbulkan fitnah, maka Musa pun memohon pertolongan Allah.

Allah kemudian memerintahkan Bani Israel untuk menyembelih seekor sapi betina. Seharusnya mereka langsung melaksanakan perintah itu tanpa bertanya apa-apa. Tapi kaum ini memang kaun yang sombong dan suka mngelak dari kenyataan, sehingga mereka mempertanyakan perintah tersebut, “Apakah sapi betina yang dimaksud adalah sapi betina biasa yang sering kami lihat atau sapi betina yang mempunyai keistimewaan lainnya?” Pertanyaan ini memperlihatkan keangkuhan mereka, walaupun berkedok dengan sok kritis.

Kaum Bani Israel meminta Musa untuk berdoa, agar Allah menjelaskan sapi betina yang lebih detil. Allah kemudian menjawabnya dengan sapi betina yang sedang, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Sebenarnya permintaan Bani Israel justru mempersulit diri sendiri karena sebenarnya perintah Allah ini cukup jelas, yaitu menyembelih sapi betina. Tapi karena sok kritis dan enggan, maka mereka akhirnya diperintah “menyembelih sapi betina yang sedang, tidak tua, tidak muda”.

Rupanya orang-orang ini masih saja menunjukkan keengganannya untuk melaksanakan perintah Allah. Kini mereka bertanya, warna apa sapi betina yang diinginkan. Sungguh mereka sama sekali tidak mempunyai adab kesopanan sama sekali.

Musa kemudian berdoa lagi dan Allah mennjawabnya dengan perintah. Sapi betinanya berwarna kuning kemerahan, warnanya kemilau dan menyenangkan hati orang yang melihatnya. Semakin susah didapatkan sapi betina macam itu.

Tapi rupanya kaum Bani Israel ini belum puas. Mereka menganggapnya masih belum spesifik. Musa kemudian menjelaskan bahwa sapi betina itu belum pernah dipakai untuk membajak tanah ataupun mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak ada belangnya.

Kekeraskepalaan mereka menyulitkan diri mereka sendiri. Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menemukan sapi tersebut. Setelah disembelih, Musa memegang ekor sapi tersebut dan memukulkan ke orang yang telah tewas tersebut. Secara ajaib, orang itu kemudian hidup lagi. Musa kemudian bertanya, siapa yang telah membunuh dirinya. Lelaki itu kemudian menceritakan siapa saja yang telah membunuhnya. Setelah bercerita, lelaki itu kemudian mati lagi. Kasus pun terpecahkan.

Sekali lagi, Bani Israel menyaksikan mukjizat yang seharusnya makin mempertebal keimanan mereka kepada Allah dan nabi-Nya. Bukan malah menyangsikan perintah Allah dan juga nabi-Nya.

Kita bisa bayangkan, bagaimana parahnya kondisi psikis umat Musa waktu itu. Barangkali yang paling menyakitkan bagi Musa adalah ketika kaum Bani Israel ini menolak berperang untuk menyebarkan tauhid dan malahan menyuruh Musa dan Tuhannya untuk berperang, sedangkan mereka duduk-duduk saja menunggu.

Tak heran jika Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka berupa kebingungan selama 40 tahun lebih, hingga satu generasi hilang. Telah habis generasi pengecut, kemudian lahirlah generasi baru. Sebuah generasi yang tidak dibesarkan di tengah-tengah berhala dan ruhnya tidak cacat karena hal tersebut. Sebuah generasi baru yang siap membayar harga dirinya dengan darah, yang mengadopsi keberanian militer sebagai bagian dari struktur agama tauhid. Akhirnya generasi itu lahir selama empat puluh tahun dalam kebingungan.

 

KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 24)

Posted on Updated on


MUSA DAN GENERASI PENGECUT KAUM BANI ISRAEL

Fir’aun memang telah tenggelam. Kesewenang-wenangannya adalah cerita lalu. Tapi pengaruh Fir’aun masih sangat terasa pada kaum Bani Israil. Sungguh tak gampang menghapuskan perasaan hina setelah dihinakan selama bertahun-tahun. Fir’aun telah menjadikan kaum Bani Israil terbiasa menundukkan diri kepada selain Allah. Jiwa mereka seolah telah retak dari dalam. Fitrah mereka telah rusak, sehingga menyiksa Musa dalam bentuk perlawanan dan kebodohan.

Mukjizat demi mukjizat yang diperlihatkan Musa terhadap mereka seakan-akan tidak berbekas di hati mereka. Mereka bukannya bersyukur kepada Allah karena diperlihatkan Musa jalan yang lurus, tapi mereka justru terus meminta Musa untuk memperlihatkan yang jauh lebih hebat. Mereka mulai merindukan berhala-berhala yang dulu disembahnya bersama Fir’aun.

Setelah melintasi Laut Merah yang terbelah, mereka kini melanjutkan perjalanan. Mereka melewati sebuah perkampungan orang pagan, yang menyembah berhala-berhala. Kaum Bani Israil lalu meminta Musa untuk membuatkan mereka tuhan. Benar-benar mereka merindukan masa lalu yang penuh kemusyrikan.

Musa lalu menunjukkan betapa bodohnya mereka,

“Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Illah).’ Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab, ‘Patutkah aku mencari ilah untuk kamu selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israel), ketika Kami menyelamatkanmu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang meng-azab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu’.” (QS. Al-A’raf : 138-141)

Musa dan Bani Israil terus berjalan menyusuri dataran Sinai, sebuah daerah gurun yang sama sekali tidak ditumbuhi pepohonan untuk melindungi dari teriknya matahari. Dataran itu juga tidak tersedia makanan ataupun minuman.

Untuk melewati dataran tersebut, Allah memberikan rahmat-Nya yang sangat dibutuhkan. Allah menurunkan manna dan salwa, serta menaungi dengan awan di atas mereka. Manna adalah makanan yang rasanya mirip dengan manisan, dihasilkan dari pohon buah-buahan tertentu. Sedangkan salwa adalah salah satu jenis burung.

Tak hanya itu, ketika mereka merasa kehausan, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Kemudian memancar dua belas mata air dari batu tersebut. Kala itu Bani Israil terdiri dari 12 suku, dan masing-masing suku mendapatkan satu mata air.

Begitu banyak kemuliaan dan rahmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Bukannya bersyukur, mereka malah meminta lebih. Kepada Musa mereka meminta makanan yang lain karena mereka sudah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Mereka merindukan bawang merah, bawang putih, kacang dan sebagainya. Mereka merindukan makanan tradisional penduduk Mesir. Mereka merindukan kehidupan terdahulu, kehidupan di mana kemusyrikan merajalela.

Musa kembali mengingatkan, bahwa mereka sebenarnya merindukan hari-hari penuh kehinaan di Mesir, serta tidak mau menerima makanan yang paling baik dan istimewa dari Allah.

Musa dan Bani Israil terus berjalan menuju Baitul Maqdis. Hingga kemudian Baitul Maqdis sudah tampak dari kejauhan. Musa memerintahkan kaumnya untuk masuk ke dalam kota dan memerangi penguasa Baitul Maqdis kemudian menguasai kota tersebut. Ini adalah ujian bagi Bani Israil. Sekarang giliran mereka, sebagai kaum mukmin untuk berperang melawan para penyembah berhala.

Kaum Bani Israil menolak. Saat itu Bani Israil memang terdiri dari orang-orang yang pengecut. Mereka rupanya telah terbiasa dengan kehinaan sehingga merasa tidak mampu untuk bertempur. Harga diri mereka benar-benar sudah tiada. Musa kemudian mengingatkan mereka akan karunia-karunia yang sudah Allah berikan. Bagaimana Allah sudah mengutus para nabi untuk mereka, menjadikan mereka sebagai raja-raja dan banyak kemuliaan lain.

Mereka masih saja menolak dengan alasan ada kaum yang sewenang-wenang dan kuat di dalam sana. Mereka lalu berkata kepada Musa yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an;

“Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah : 24)

Musa mengerti bahwa kaumnya sudah tidak ada gunanya samasekali. Pengaruh Fir’aun masih cukup kuat di dalam jiwa mereka. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Musa pun mengadu kepada Allah tentang ini. Allah mengeluarkan keputusan-Nya. Keputusan itu berupa kebingungan yang melanda kaum Bani Israil. Mereka terus berjalan tanpa tahu tujuannya. Seperti sebuah lingkaran setan, mereka mengakhiri perjalanan tepat di mana mereka memulai perjalanannya. Mereka terus saja –pagi, siang, sore, bahkan juga malam, berjalan dengan pikiran bingung selama 40 tahun.

Allah menurunkan kebingungan tersebut terhadap generasi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Sebuah generasi yang benar-benar mempunyai mental hina. Setelah 40 tahun dalam kebingungan, generasi baru telah lahir sebagai ganti generasi mereka. Sebuah generasi yang mempunyai psikis tidak terkalahkan. Generasi baru yang mampu dan mau berperang demi meraih kemenangan.

Sebelum bercerita tentang generasi pemenang ini, ada abaiknya kita menyimak dulu apa yang terjadi dengan generasi pengecut ini. Dalam perjalanan yang membingungkan ini, Musa dan Bani Israil sampai di daerah sekitar lembah Thur. Musa bermaksud akan naik gunung sendirian. Sebelum naik, Musa menitipkan umatnya pada Harun saudaranya yang juga seorang nabi.

Musa kemudian naik gunung sendirian untuk menerima kitab Taurat dari Allah. Sebelum menerima Taurat, Musa berpuasa terlebih dahulu selama 40 hari. Setelah itu Musa menerima Taurat dan sepuluh wasiat. Ke sepuluh wasiat itu adalah;

1. Perintah untuk hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Larangan bersumpah palsu karena Allah.

3. Perintah untuk menjaga hari Sabtu (meluangkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah)

4. Perintah untuk memuliakan orang tua.

5. Mengetahui bahwa Allah yang bisa memberi.

6. Jangan membunuh.

7. Jangan berzina.

8. Jangan mencuri.

9. Jangan memberikan kesaksian palsu.

10. Jangan memandang (mengusik) rumah saudaramu, atau istrinya, atau budaknya, atau kerbaunya, atau keledainya.

Ulama salaf mengatakan bahwa kesepuluh wasiat itu adalah inti dari dua ayat Al-Qur’an. Kedua ayat itu adalah :

“Katakanlah, ‘Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am : 152)

Sementara Musa meninggalkan kaumnya, terjadi sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Fitnah Samiri. Kejadiannya adalah sebagai berikut, ketika kaum Bani Israil akan meninggalkan Mesir, mereka banyak membawa banyak perhiasan emas, yang sebagian besar adalah pinjaman dari penduduk Mesir dengan alasan untuk berpesta. Dengan tenggelamnya pasukan Fir’aun, maka emas itu pun kemudian dianggap menjadi milik mereka.

Harun menyadari bahwa emas perhiasan itu bukanlah milik mereka. Diam-diam Harun kemudian mengambil semua emas lalu menguburkannya ke dalam tanah. Harun melakukan hal tersebut karena tahu bahwa mereka tidak membutuhkannya. Saat Harun melakukan hal tersebut, Samiri melihatnya. Dikeluarkannya emas-emas itu lalu dileburnya. Samiri membuat patung anak sapi yang bagian tengahnya berongga. Bentuk patung anak sapi itu mirip sekali dengan Apes, salah satu dewa sesembahan orang Mesir. Jika patung itu dihadapkan ke arah mata angin, maka angin akan berhembus fari bagian belakang kemudian tembus ke lubang hidung, kemudian terdengar suara yang mirip dengan sapi sungguhan.

Menurut Samiri, patung anak sapi itu bisa hidup karena dia mencampuri leburan emas dengan segenggam tanah yang pernah dilalui Jibril. Ini tidak masuk akal karena sebagaimana yang kita ketahui, tanah tidak akan bisa melebur dengan emas, dan biasanya akan membentuk gumpalan-gumpalan ketika sudah dingin. Tapi itu adalah argumen Samiri yang tidak perlu kita percaya.

Setelah itu patung itu jadi, Samiri menemui kaum Bani Israil dengan membawa patung karyanya.

“Apa itu Samiri?” tanya kaum Bani Israil.

“Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa,” jawab Samiri.

“Tapi Musa sekarang sedang pergi menemui Tuhannya,” kata Bani Israil.

“Rupanya Musa lupa. Dia pergi menemui Tuhannya di tempat lain, padahal tuhannya ada di sini,” kata Samiri.

Tiba-tiba ada angin yang berhembus masuk dari bagian belakang patung anak sapi kemudian tembus hingga lubang hidung. Terdengar suara lenguhan sapi. Mendengar itu, seketika kaum Bani Israil langsung menyembah patung anak sapi emas tersebut.

Itulah yang dilakukan Samiri. Dia memanfaatkan kerinduan kaum Bani Israel akan tuhan berhala, kerinduan akan kehinaan akal. Samiri juga sengaja memilih emas karena dia tahu benar bahwa itu adalah kelemahan kaum Bani Israel saat menghadapi emas.

Fitnah Samiri ini menyebar cepat, hingga suatu hari Harun kaget melihat kaum Bani Israel menyembah patung anak sapi emas ini. Bani Israel terpecah jadi dua, pertama kaum mukmin yang minoritas, yang sadar bahwa patung itu adalah omong kosong, kedua kaum mayoritas yang melampiaskan kerinduan mereka akan berhala.

“Sungguh! Ini adalah fitnah! Samiri telah memanfaatkan kebodohan kalian. Ini bukanlah tuhan kalian atau tuhan Musa!” tegas Harun. Harun juga mengingatkan mukjizat-mukjizat Allah yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka. Kaum ini benar-benar tidak memperdulikan peringatan Harun. Mereka terus menyembah berhala emas ini.

Akhirnya Musa kembali ke kaumnya, dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang sudah diperbuat kaumnya. Dengan marah Musa berteriak,

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa lalu menghampiri Harun. Musa sudah tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dengan keras ditariknya rambut dan jenggot Harun. Musa berkata,

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS. Thaha : 92-93)

Harun kemudian menjawabnya,

“Harun menjawab, ‘Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.” (QS. Thaha : 94)

Harun berusaha menjelaskan apa yang terjadi,

“Harun berkata, ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mau membunuhku. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa kemudian menyadari bahwa dia telah menzalimi Harun saudaranya. Musa kemudian melepaskan rambut dan jenggot Harun, selanjutnya memohon ampunan Allah untuk dirinya dan saudaranya. Lalu, masih dengan kemarahan yang menggelegak, Musa berkata kepada kaumnya,

“Berkata Musa, ‘Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku?’” (QS. Thaha : 86)

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang membuat-buat kebohongan.” (QS. Al-A’raf : 152)

Kini pandangan Musa beralih ke Samiri, si biang kerok permasalahan ini. Kemarahan Musa masih belum reda.

“Berkata Musa, ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), wahai Samiri?’” (QS. Thaha : 95)

Samiri lalu menjawabnya,

“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya.” (QS. Thaha : 96)

Samiri bercerita bahwa dia melihat Jibril yang mengendarai kuda, dan setiap benda yang diinjaknya hidup. Samiri lalu mengambil senggenggam tanah yang diinjak kuda Jibril lalu mencampurkannya dengan emas.

Musa tidak mendebat kebenaran Samiri melihat Jibril, tapi yang terpenting adalah kejahatan yang telah Samiri lakukan, membuat sebuah tuhan! Musa kemudian menghukum Samiri dengan mengucilkannya. Musa kemudian mengambil patung itu dan melemparkannya ke dalam api. Tak hanya itu, Musa kemudian membuang abunya ke laut. Musa telah menghancurkan tuhan mereka tanpa perlawanan dari tuhan tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran logis, bahwa patung itu bukanlah tuhan.