DEMI WAKTU

Posted on Updated on


Waktu adalah sebuah garis lurus. Bukan lingkaran ataupun elips. Tak ada pengulangan, tak ada pola. Tak ada dua ujung yang bertemu. Mungkin tak semuanya lurus karena manusia adalah tempat salah dan lupa, tapi yang jelas hidup adalah sebuah kurva. Aku yakin itu.

 

Ketika pertama kali aku kerja di Jakarta, aku selalu merindukan Jogja. Masih saja rindu teman-teman, Jogja di waktu senja, suasana angkringannya dan segala hal tentang kota itu. Tapi setiapkali ke Jogja, aku tak menemukan apa yang benar-benar kurindukan, walaupun aku sudah makan di angkringan, ketemu dengan teman-teman yang dulu, menikmati senja Jogja. Aneh, aku tak menemukan apa-apa di sini. Aku kemudian menyadari jika aku ternyata merindukan masa lalu, bukan Jogja.

 

Di Jakarta aku berevolusi, mungkin pola pikir atau juga kebiasaan karena manusia secara naluriah akan selalu belajar. Teman-temanku pun juga berevolusi. Begitu juga dengan Jogja, berevolusi entah mau menjadi apa. Masing-masing berevolusi, dan mungkin arahnya tak lagi sama dengan waktu masih bersama hingga akhirnya ketika kita bertemu banyak hal yang sudah tidak bisa nyambung lagi. Mungkin satu-satunya hal yang masih menyatukan aku dan teman-temanku adalah bahwa kita mempunyai ingatan dan memori yang sama tentang masa lalu.

 

Tak ada itu pengulangan. Dalam Qur’an dijelaskan, sesungguhnya orang-orang merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Jangan sia-siakan waktu kelau begitu. Oh, betapa perkasanya waktu!

TIGA BULAN DALAM SEKAM

Posted on


            Suatu sore di akhir bulan April, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku mampu bertahan?” Aku di sisi lain samasekali tak berani menjawab. Ragu dan tak bisa melihat sedetik ke depan.

            Aku pun bertanya ke Mbak Eni, “Apakah aku mampu bertahan?” Mbak Eni pun tak mampu menjawab pertanyaan ini. Tapi paling tidak Mbak Eni berusaha untuk menjawab, “Nggak usah bingung, apa yang di depan mata kita kerjakan. Apa yang selama ini kamu pikirkan dan tak kesampaian karena urusan kantor, kerjakan sekarang. Mungkin ini saatmu untuk bergerak sebagai dirimu sendiri.” Oke, aku pun akan menerkam yang sudah ada di depan mata.

            Tapi, pertanyaanku belum hilang dari benakku. Aku kemudian bertanya ke istriku, “Apakah aku mampu bertahan?” Istriku juga tak menjawab pertanyaanku. Tapi istriku memberi semangat, “Yang harus dilakukan adalah berusaha. Soal hasil bukan kita yang menentukan. Tak usah risau akan segala macam cicilan, InsyaAllah kita masih bisa bertahan. Yang penting kita tetap berusaha.” Oke, tak usah terlalu pikirkan macam-macam, yang penting tetap berusaha tanpa keluh.

            Untuk membumihanguskan pertanyaan itu, aku pun kemudian bertanya ke Mas Hari, “Apakah aku mampu bertahan?” Mas Hari juga tak menjawab pertanyaanku, “Belajarlah dari pengalaman banyak orang. Rizki akan datang dengan sendirinya jika kita berusaha. Setiap orang oleh Tuhan sudah dijamin rizkinya. Jadi jangan pernah takut. Kamu masih beruntung, baru kawin sudah bisa beli rumah. Dan kamu mempunyai sesuatu untuk kamu jual, yaitu kreatifitas. Tetap optimis, siapa tahu ini titik balikmu. Setiap orang pasti mempunyai titik nadir, titik pertama untuk berangkat naik ke puncak kehidupan. Belajarlah memaknainya.” Oke, aku berusaha memaknainya walaupun saat itu aku terlalu bodoh untuk memaknainya.

            Tiga bulan sudah berlalu. Tiga bulan tanpa gajian. Tiga bulan berstatus “pengangguran”. Tiga bulan tanpa kartu nama dan bukan sebagai orang kantoran. Aku pikir sudah tamat hidupku setelah terkena PHK.

            Tapi ternyata hidupku tak berakhir di sini. Justru hidup terasa baru mulai. Fresh! Bangun dari “mati dalam hidup”. Menjadi diri sendiri. Berdiri di kaki sendiri tanpa menggantungkan nasib ke orang lain.

            Tiga bulan aku sibuk mensutradarai 4 judul DVD series untuk Ade Rai (Fitness For Beginner, Fitness For Woman, Fitness For Fat Loss dan Fitness For Muscle Building). Bersama Mbak Eni juga mensutradarai 6 video instruksi penggunaan mesin cuci dan juga menulis program tv milik Depkes (Gaya Hidup Sehat) sebanyak 14 episode. Yang terakhir aku juga mensutradarai video profile Pemerintah Kota Madya Surabaya dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggris dan Mandarin).

            Aku sekarang menyadari, ada banyak hal yang susah kita pahami. Salahsatunya ke mana arahnya takdir kita. Kadangkala kita perlu dicocok hidung kita agar kita bisa berbelok ke arah takdir kita. Sakit memang, tapi kadang itu yang terbaik bagi kita.

 

Cipondoh, 31 Juli 2007

TENTANG KEMUAKKAN

Posted on Updated on


Di sebuah malam menjelang pagi.
“Sayang, ceritakan padaku tentang kemuakkan,” kata kekasihku sambil menarik selimut dan kemudian menyandarkan kepalanya di dadaku.
“Apakah kau benar-benar ingin tahu apa itu kemuakkan?” tanyaku lembut.
“Iya.”
“Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi setelah cerita ini, aku harap kau takkan muak padaku. Apakah kau mau berjanji?”
“Aku janji.”
“Baiklah. Mari kita mulai…”

*** *** ***

Huekbyor! Huekbyor!
“Siapa yang sudah muak dengan perusahaan ini? Siapa?” tanyanya dengan mata nyalang, menggambarkan kemarahan tak terkatakan. Matanya menantang siapa saja yang berani mengusik kekuasaannya. Kami semua di ruangan meeting ini hanyalah diam, menundukkan kepala, menyembunyikan sorot mata yang takut sekaligus sebal.
“Siapa saja, saya tanya sekali lagi. Siapa yang sudah pengen muntah dan sudah muak dengan pekerjaan agency ini?” tanyanya lagi, masih dengan suara menggelegar. Diam. Sunyi. Hanya terdengar desahan napas ketakutan kami.
Beberapa hari yang lalu, Bunga (sebut saja begitu) mengundurkan diri dari kantor ini. Saat ini posisi Bunga cukup strategis, yaitu sebagai satu-satunya media planner merangkap media buyer, merangkap sekretaris, merangkap general affair. Masuk ke agency ini pertamakalinya adalah sebagai sekretaris. Tapi keadaan mengajarkan dia untuk menjadi seorang media planner sekaligus media buyer. Maklum ini adalah agency kecil. Bunga pindah ke agency media spesialis, tentu saja sebagai media planner, bukan merangkap sebagai sekretaris.
Lalu kenapa Bos sampai sedemikian marah? Aku tak tahu pastinya. Yang aku tahu dari cerita Bunga bahwa ada insiden sewaktu dia resign. Kata Bunga, Bos menganggap ini cuma masalah duit saja. Padahal bukan itu saja, Bunga keluar untuk mengejar karir yang lebih baik, menjadi seseorang yang profesional, dengan jobdesc yang jelas. Bunga juga berkata ingin muntah dengan bertubi-tubinya pekerjaan dan jabatan yang serba merangkap.
“Siapa saja yang ingin muntah dan sudah muak dengan agency ini, saya buka pintu keluar ini selebar-lebarnya! Dasar tidak tahu terimakasih!” Tiba-tiba aku pengen muntah, tiba-tiba aku mencium bau memuakkan dari Bos. Tapi aku tahan. Sabar, sabar, sabar mas…
Huekbyor!

*** *** ***

“Begitulah ceritanya. Kau tidak muak, kan?”
“Hppppfffff….” Kekasihku lari dengan menutup mulut, menuju kamar mandi.
Huekbyor! Huekbyor! Huekbyor!
Sudah hampir jam lima. Sudah waktunya pagi menjelang.
Huekbyor! Huekbyor! Huekbyor! Terus-menerus kekasihku muntah. Aku harap ini bukan karena ceritaku yang memuakkan. Aku harap ini gejala morning sicknes….

Meruya, 26 April 2007

CINTA SEJATI

Posted on Updated on


Saat itu malam telah sempurna gelap di sebuah jalan yang sangat minim akan penerangan. Sepertinya hanya tersisa satu lampu merkuri yang masih menyala dari belasan yang seharusnya semua menyala. Tapi setiap orang maklum. Ini memang jaman susah.
Buk!
Pukulan itu telak mengenai perut lelaki kerempeng yang memakai jaket jeans belel itu. Dia merunduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Lima orang berbadan tegap lengkap dengan tato-tato sangar, menghajar habis-habisan lelaki kerempeng dijalan gelap itu.
Sebenarnya lelaki kerempeng itu tidak takut sama sekali. Bahkan bisa dibilang dia adalah orang dengan tipe nekat. Perawakannya memang kecil, kerempeng dan tak punya otot sama sekali. Penampilannya lusuh dengan jaket jeans belel yang mungkin terakhir dicuci 3 bulan yang lalu. Rambutnya acak-cakan. Tapi sekali lagi, dia bukan tipe orang penakut. Dia adalah seorang pemberani.
Buk!
Kali ini giliran muka lelaki kerempeng itu yang dihajar.
” Gue udah bilang! Jangan sekali-sekali dekati Silvia lagi! Silvia itu sekarang milik Andre! Tapi lo masih aja nekat! Lo mo cari mati, ya! ”
Buk! Buk! Kembali lelaki kerempeng itu dihujani pukulan. Darah kental mulai mengalir dari lubang hidungnya. Tapi keberanian lelaki itu tak surut.
” Kalo berani, suruh Andre datang sendiri ke sini! Tak usah pake tukang pukul tak berotak kayak kalian! Bener-bener pengecut!” Lelaki itu berteriak lantang ke arah para tukang pukul itu.
” Anjing! Kurang ajar!”
Buk! Buk! Crot! Buk! Des!
” Aaargggh…..!”
*** *** ***
Saat itu juga, di tengah-tengah sebuah taman indah yang diterangi lampu-lampu berkesan romantis, seorang lelaki perlente sedang duduk berduaan dengan seorang gadis cantik yaang sejak tadi diam membatu.
Lelaki itu bertubuh gendut. Sepertinya segala organ yang dipunyainya berbebtuk oval bahkan mendekati bulat. Dia memakai pakaian necis lengkap dengan dasinya. Napasnya selalu tersengal-sengal dan dapat dipastikan terdapat banyak kolesterol di dalam tubuhnya.
” Sudahlah, Silvia. Jangan pernah lagi kau pikirkan pacarmu itu lagi. Lelaki kere dan tak berpendidikan. Benar-benar tak punya masa depan!” Lelaki perlente itu nyerocos. Tak ada jawaban.
” Kalau kamu tetap bersikeras kawin sama dia, kamu mau makan apa? Makan cinta? ” Masih tak ada jawaban.
” Lihat aku! Seorang pengusaha kaya raya, punya masa depan jelas! Kamu tak usah takut! Kamu dijamin akan tetap akan menjadi orang kaya, sampai mati. Karena harta bapakku takkan habis oleh tujuh turunan sekaligus!” Lagi-lagi tak ada jawaban.
” Sedangkan lelaki pujaan hatimu? Hanyalah seorang seniman yang tak pernah jelas juntrungannya. Beli jaket yang sedikit bagus bagus aja dia tak mempu, ha…ha…ha…” Masih saja tak ada jawaban dari Silvia. Benaknya menerawang ke lelaki pujaannya. Lelaki yang selalu memakai jaket jeans belelnya. Tapi silvia malah suka.
*** *** ***
Buk! Des! Wek!
Jaket jeans belel lelaki kerepeng itu makin hancur tercabik-cabik oleh perkelahian di jalan remang-remang itu. Lima tukang pukul itu masih saja terus menghajar lelaki kerempeng itu.
” Lo memang susah diatur! Lo memang Anjing! Bangsat! ” Teriak salah seorang tukang pkul itu.
Buk! Des! Crot!
” Walaupun lo semua hajar gue sampai gue mati, gue tetap mencintai Silvia! Lo catat itu! ” Kali ini lelaki kerempeng yang bicara. Suaranya masih menggelegar berani walaupun badannya sudah tak memungkinkan untuk menang melawan ke limanya.
” Gue akan tetap cinta Silvia!”
Buk! Des! Crot!
*** *** ***
Silvia di taman itu hanya diam. Membatu. Lelaki perlente di sampingnya terus-terusan nyerocos. Tapi Silvia tetap diam tak menanggapi. Pikirannya menerawang. Kalut. Cintanya hanya untuk lelaki pujaan yang selalu memakai jaket jeans belel. Silvia merasa tidak akan merasa sanggup hidup tanpa dia. Lebih baik mati daripada hidup tanpa cinta lelaki berjaket jeans belel. Yah, lebih baik mati…
*** *** ***
Cling!
Di jalan remang itu, para tukang pukul mulai tak sabar. Masing-masing mulai mengeluarkan pisau. Pisau-pisau mengkilap yang memantulakan cahaya sinar lampu merkuri satu-satunya di jalan itu.
mereka mengepung lelaki kerempeng berjaket jeans belel tersebut sambil menghunus masing-masing pisaunya. Lelaki kerempeng itu tetap tak merasa takut. Dia siaga menerima segala kemungkinan.
*** *** ***
Di taman itu, tiba-tiba Silvia menghunus guntuing rumput yang tergeletak di bawah pohon palem.
” Silvia! Apa-apaan kau?”
” jangan mendekat!” Kali ini Silvia berbicara.
” Sayang, tunggu aku di Surga. Aku akan ke sana sekarang…” Dengan pikiran menerawang ke lelaki pujaannya dia mengayunkan gunting itu ke perutnya.
*** *** ***
Di jalan remang itu, tiba-tiba mereka berlima buas menghunjamkan pisau-[pisaunya ke tubuh lelaki kerempeng itu.
Jleb! Jleb! Jleb! Tusukan demi tusukan. Hingga akhirnya tubuh lelaki kerempeng itu limbung dan jatuh ke tanah.
” Silvia, sampai ajal menjemput aku akan tetap cinta…” dan lelaki kerempeng yang selalu memakai jaket jeans belel itu pun pergi ke Surga untuk menikah dengan kekasihnya.
Kedoya, November 2003

Cinta yang Mati, Cinta yang Bersemi

Posted on Updated on


Sebulan sebelum hari ini.
Senja di puncak gedung ini selalu saja terasa indah. Matahari membentuk bulatan raksasa berwarna jingga. Cahayanya telah redup, tak lagi membuat silau. Menyatu dengan latar belakang yang juga berwarna jingga, dan dihiasi aksen-aksen mega hitam yang justru menambah keindahannya. Ratusan mata yang terjebak macet di bawah sana terpaku sebentar melihat bulatan raksasa itu, sekadar menikmati sore indah ini di sela-sela kesumpekan metropolitan. Gedung-gedung jangkung pusat perkantoran di seputaran Thamrin ini tampak seperti siluet, seperti gadis-gadis cantik tanpa pakaian di pinggir pantai. Menggoda, menjanjikan kenikmatan sukses ala metropolitan.
” Aku tak bisa,” kata Atik sambil menggelengkan kepala.
Tangannya membetulkan rambutnya yang acak-acakan karena angin. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil. Jari-jarinya yang lentik kembali mengatur rambutnya, dan akhirnya jatuh lagi sebagian ke mukanya. Atik terlihat cantik dalam siluet dengan rambutnya yang berantakan karena dipermainkan angin. Bagiku, ini adalah saat-saat tercantiknya. Aku nikmati betul detik-detik tersebut. Wajahnya tersimpan sejuta pesona dengan latar belakang matahari senja. Dia adalah matahari senjaku. Merah dan menggairahkan. Sejuta pesona yang membuat sejuta laki-laki bergairah. Itu sebabnya aku sering sekali mengajaknya naik ke atas gedung ini. Menikmati siluet sejuta pesona gadis ini. Menikmati indahnya rambut berantakan karena angin.
Atik adalah teman sekantorku. Pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Seakan-akan kembali lagi ke masa-masa remaja, merasakan cinta pertama yang hangat. Bara cinta yang takkan pernah tergantikan oleh apapun. Kebetulan aku dan dia satu departemen di kantor koran harian tempat kami bekerja. Aku bekerja sebagai ilustrator sedangkan Atik sebagai editor bahasa.
Sebenarnya Atik adalah gadis biasa-biasa saja. Tak terlalu cantik tapi terlihat manis dan smart. Apalagi kacamata minusnya menambahkan kesan itu. Tata bahasanya sopan dan teratur rapi. Dalam tutur katanya jarang keluar dari aturan-aturan formal pemakaian bahasa. Tapi ketika kita semakin akrab, gaya bahasa yang dipakai berbeda. Terasa lebih santai dan akrab. Kecuali saat-saat penting seperti saat ini.
Pekerjaanlah yang membuat kami semakin dekat satu sama lain. Jam kerja kami sangat aneh bagi kebanyakan orang kantoran. Karena kantor kami adalah kantor harian, maka kami mulai bekerja pada pukul 5 sore hingga menjelang cetak, yaitu sekitar pukul 1 malam. Dengan jam kerja yang tak biasa seperti itu menjadikan kami dekat secara emosional. Atik sering curhat tentang hubungannya dengan Rizal. Aku pun juga sering curhat dengannya. Semakin lama kedekatan kami berubah menjadi sebuah perasaan saling membutuhkan.
“Maaf. Aku tadi tidak menyimaknya,” kataku pada Atik.
Maaf Atik, karena aku ternyata lebih tertarik akan keindahanmu daripada kata-katamu. Keindahan yang menjeratku terus-menerus dan memaksaku untuk mengajakmu bicara serius di atap gedung ini.
“Aku tak bisa, Sayang,” kata Atik.
Aku terdiam. Atik juga terdiam. Tak ada yang berbicara. Sepi. Hanya angin sore ini yang berbicara. Aku dengar jangtungnya berdegup keras. Jantungku pun juga berdegup keras. Aku yakin Atik juga mendengarnya. Aku gugup. Aku hirup oksigen dalam-dalam, mencoba memenuhi kebutuhan otakku akan oksigen yang saat ini penuh sesak dengan berbagai macam pikiran tentangnya.
” Aku tak bisa meninggalkan Rizal begitu saja. Aku tak bisa terus bersamamu, Mas Wid. Terlalu banyak yang akan terluka hatinya bila kita bersama. Bagi Rizal, aku adalah hidupnya, cintanya. Mas Wid tahu itu. Rizal sangat mencintaiku. Semua hal yang dilakukannya saat ini untuk diriku. Semua hal itu dilakukannya karena cintanya padaku. Cintanya padaku sangat tulus. Setulus air mencintai lautan. Air yang rela melakukan perjalanan panjang menuruni gunung untuk kemudian bersatu dengan lautan. Mas Wid juga tahu itu. Baginya, aku dan dia sudah ditakdirkan bersama dan sudah tak mungkin lagi terpisahkan. Bagaimana jadinya kalau Rizal aku tinggalkan,” kata Atik.
Atik kemudian diam. Wajahnya menggambarkan kebingungan yang amat sangat. Matanya menatap kosong jauh ke arah kaki langit. Seperti ingin mengadukan persoalan ini ke matahari senja. Namun tak seperti yang diharapkan, tak terdengar jawaban apapun dari matahari. Mungkin matahari pun juga ikutan bingung. Hanya angin yang dari tadi terus-menerus bersuara. Tapi jangan harap angin membisikkan sebuah jawaban. Suara angin tak bermakna sama sekali untuk Atik, apalagi dianggap sebagai sebuah jawaban.
Aku juga terdiam. Mencoba mengurai satu persatu makna penjelasan Atik. Pelan-pelan aku pahami. Pelan-pelan pikiranku pun mulai kusut. Matahari senja yang tinggal separoh itu pun sudah tak menarik lagi bagiku. Aku tak tahu mesti ngomong apa. Logikaku tak mampu mencerna, menganalisis, merumuskan apa yang harus aku lakukan dalam kondisi seperti ini. Sama sekali tak tahu. Mungkin sebaiknya biarlah otak kecilku yang memutuskan, membuat keputusan-keputusan reflek. Sepertinya hal-hal seperti ini memang tak perlu dilogika, mengalir saja seperti air.
“Apakah Rizal sangat berharga bagimu?” tanyaku.
Atik tak menjawab. Atik berjalan menjauhiku dan berhenti di pinggir gedung. Matanya masih saja menatap ke kaki langit sebelah barat. Aku pun berjalan mendekatinya dan ikut menatap kaki lagit sebelah barat. Matahari tinggal tiga perempatnya saja yang masih kelihatan. Mobil-mobil dan gedung-gedung mulai menyalakan lampu senjanya.
“Aku tak tahu,” jawab Atik pendek.
“Maksudmu?”
“Aku tak tahu, Mas Wid. Apakah Rizal bermakna untuk aku, aku sama sekali tak tahu.”
“Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang kamu rasakan?”
“Entahlah.”
“Bagaimana kau tak tahu perasaanmu kepadanya, tapi kamu sekarang berstatus tunangannya? Bagaimana kamu tak tahu itu?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.
Atik diam sejenak. Paru-parunya menghirup oksigen banyak-banyak.
“Entahlah. Jangan kamu tanyakan itu kepadaku. Jangan tanyakan kenapa aku menjadi tunangannya. Mungkin bisa karena cinta, nafsu atau cuman perasaan kasihan saja. Aku tak bisa mendefinisikan perasaanku. Bukankah perasaan tak selalu harus terdefinisikan?” kata Atik.
“Aku tahu itu. Aku pun kadang-kadang juga mengalaminya. Tapi bisakah kau definisikan perasaanmu ke Rizal. Ini sangat penting untukku, ” kataku sambil memohon.
“Entahlah. Aku tak bisa,” kata Atik lirih.
Aku terdiam mendengar jawaban lirih Atik. Hatiku remuk redam. Bagaimana mungkin dia tak tahu isi hatinya sendiri untuk hal-hal yang penting seperti ini. Aku rogoh kantong depan kemeja putihku. Aku ambil sebungkus rokok sekalian dengan koreknya. Kemudian aku coba menyalakan api. Tapi tak berhasil dan selalu padam oleh angin. Tak hanya rambut Atik yang dipermainkannya, tapi juga apiku. Tapi aku masih berusaha.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku dengan pengucapan yang tak terlalu jelas karena ada sebatang rokok di bibirku.
Atik diam. Matanya masih menatap kaki langit. Aku juga masih berusaha menyalakan api yang terus-menerus dipadamkan angin. Angin keparat! Berhentilah sejenak! Beri aku kesempatan untuk merokok. Sebentar saja.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku lagi.
Aku menghembuskan asap rokokku yang pertama. Akhirnya angin memberiku kesempatan untuk menyalakan rokokku. Terimakasih angin. Tapi Atik masih saja diam seribu bahasa.
“Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” tanyaku lagi.
“Aku tahu itu. Sangat tulus,” jawab Atik.
Kali ini Atik menjawab dengan tatapan matanya yang langsung menusuk ke dalam mataku dan kemudian tembus ke dalam relung hatiku terdalam. Bukan tatapan kosong untuk kaki langit ataupun matahari senja. Matanya indah dengan pupil hitam bulat mempesona, dikelilingi bulu mata lentik dan kemudian tertutupi kacamata bening minus. Sangat mempesona dengan sejuta misteri.
“Sekarang jawab pertanyaanku. Jawab dengan sejujurnya, dari hati yang paling jujur. Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku dengan memasang mimik muka yang paling serius. Ini adalah saat-saat paling serius yang pernah aku alami. Wajar sekali kalau mukaku terlihat sangat tegang.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanya balik Atik.
“Kamu tahu itu,” jawabku.
“Jawab dulu pertanyaanku. Baru aku jawab pertanyaanmu. Apa kamu mencintaiku dengan tulus?” tanya Atik.
“Iya. Sangat tulus,” jawabku.
“Begitu juga aku, Mas Wid. Aku juga tulus mencintaimu.”
“Benarkah? Maukah kamu bersamaku?” tanyaku menyakinkan. Atik menjawabnya dengan anggukan.
“Yakin?” tanyaku tak puas.
Sekali lagi Atik mengangguk. Perasaanku terasa lega. Adakah yang lebih melegakan daripada perasaan saling mencintai dengan tulus? Adakah yang lebih benar dari itu? Aku rasa tidak. Tak ada yang lebih benar daripada cinta yang tulus.
Mata Atik tampak berlinang airmata. Aku rengkuh dia ke dalam pelukanku. Perlahan airmata mengalir di kedua pipinya. Mengalir pelan untuk kemudian jatuh ke lantai beton puncak gedung ini. Begitu juga dengan matahari senja itu. Sepenuhnya bersembunyi di balik kaki langit. Sayang matahari itu tak sempat menyaksikan saat-saat paling membahagiakanku ini.

*** *** ***

Delapan bulan sebelum hari ini.
Pukul enam pagi kurang beberapa menit. Hari baru telah dimulai. Babak baru juga telah dimulai. Babak kehidupan yang benar-benar baru buatku. Diluar kamarku tak ada yang baru. Mungkin beberapa tetes embun yang tumben menggelayut di rumput-rumput liar dan tanaman pot milik ibu kost. Biasanya tak ada embun di kawasan perumahan padat ini. Embun ini mungkin ada karena hujan semalam. Atau mungkin embun ini diciptakan untuk menyambutku, memasuki babak baru kehidupanku.
Korden jendela masih tertutup. Tapi sinar matahari pagi ini sudah menerobos masuk ke kamarku melalui sela-sela jendela dan lubang angin di atasnya. Kali ini berwarna kuning keemasan, membuat nuansa yang berbeda di kamarku. Bau tanah sisa hujan juga tercium oleh hidungku. Mengingatkan aku akan kampung halaman yang selalu menebarkan bau semacam ini.
Mataku masih terasa berat. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Badanku terasa linu semua. Sepertinya aku kecapekan. Rasanya malas sekali untuk bekerja hari ini. Padahal ada beberapa artikel yang harus aku edit pagi ini. Pengennya tidur lagi dan menikmati hari. Terasa nyaman dan sayang untuk dilewatkan.
Di sampingku, Rizal masih tertidur pulas tanpa sehelai benang pun dan aku pun masih di dalam pelukannya juga tanpa sehelai benang yang menutupi. Yah, hari ini adalah awal dari kehidupanku tanpa keperawanan. Hal yang paling berharga untuk seorang gadis aku berikan dengan tulus untuk Rizal semalam. Aku tak tahu kenapa aku memberikan ini kepadanya. Cinta? Aku tak tahu. Tapi aku berikan ini benar-benar dengan tulus.
“Sayang, bangun. Udah pagi,” kataku dengan lembut untuk membangunkannya.
“Hmmm….. Jam berapa sekarang, Atikku sayang?” tanya Rizal masih dengan suara berat sambil ngulet.
Tampaknya Rizal juga sangat kecapekan dalam pertempuran semalam. Matanya masih bengkak dan menyipit ketika melihat sinar matahari pagi. Rambutnya acak-acakan tak teratur.
Aku dan Rizal dulu satu kampus tapi berbeda jurusan. Aku kebetulan lulus lebih dahulu, sedangkan dia lulus terlambat. Bukan karena dia tidak cerdas, tapi karena kesibukannya yang luar biasa dalam organisasi mahasiswa. Ditambah lagi sikapnya yang angin-anginan dalam menyelesaikan studinya. Sebenarnya studinya tinggal menyelesaikan skripsi. Untuk menulis skripsi, selalu saja butuh mood katanya. Padahal menulis skripsi beda dengan menulis novel. Rizal pun tahu tentang hal ini.
Walaupun satu fakultas, tapi kami mulai dekat satu sama lain sejak kami bergabung dalam organisasi mahasiswa yang sama. Aku sebenarnya bukan tipe aktifis seperti Rizal. Tapi waktu itu aku berpikir, tak ada salahnya untuk bergabung dengan salah satu organisasi. Hitung-hitung menambah pergaulan. Daripada sehabis kuliah hanya santai-santai di kost tanpa ada hal yang dilakukan.
Dari aktifitas bersama yang padat dalam organisasi, menumbuhkan benih-benih cinta Rizal kepadaku. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan hingga suatu saat Rizal menyampaikan kata hatinya secara terbuka. Aku tak tahu harus mejawab apa. Aku tak tahu, apakah aku juga cinta padanya. Aku tak menjawabnya waktu itu. Hingga akhirnya aku serahkan diriku semalam, tanpa pernah aku mengutarakan cinta.
“Sudah jam enam, Sayang….” kataku sambil mengambil bajuku yang berserakan di atas ranjang dan kemudian memakainya.
Kamarku pagi ini seperti kapal pecah. Berantakan tak karuan. Celana jeans Rizal dan juga sepatu sneakers-nya tampak tergeletak begitu saja dekat pintu kamar. Belum lagi ranjang ini. Selimut dan juga sprei berantakan dan kusut. Tak terbayangkan bagaimana serunya pertempuran semalam. Aku baru menyadarinya pagi ini, setelah melihat betapa berantakannya kamarku.
Rizal masih saja tidur. Mungkin dia juga merasakan capek yang luar biasa. Persis seperti yang aku rasakan.
“Ayo, bangun Sayang. Katanya mau kuliah pagi. Sudah jam enam lho,” kataku.
“Hmmmm….. Whoooooaaa…..,” Rizal ngulet sekali lagi. Kali ini suaranya keras.
“Sst, jangan kenceng-kenceng. Ntar bisa ketahuan sama ibu kost dan anak-anak lainnya kalau kamu nginep di sini. Bisa berabe nantinya,” kataku.
“Emang kalau ketahuan kenapa?” kata Rizal sambil cengar-cengir.
Gaya seperti inilah yang aku suka. Cengar-cengir, seperti tak ada dosa. Kadang-kadang memang menyebalkan. Tapi sebaliknya, seringkali membuat aku kangen. Cengar-cengirnya ini selalu membuatku merasa tenang dalam menghadapi kehidupan. Dengan cengar-cengirnya seakan-akan Rizal berkata padaku, “Everything gonna be alright, Baby”. Dan ini yang membuatku selalu nyaman ketika di dekatnya. Yah, everything gonna be alright.
“Kalau kita ketahuan, ntar kita di…..”
“Dikawinin?” potong Rizal sebelum aku menyelesaikan kalimatku sambil cengar-cengir lagi. Duh!
“Bukan. Enak aja! Tapi bakal diarak bugil ke seluruh kampung kemudian dibuang dari komunitas. Dibuang jauh ke dalam hutan tanpa pakaian dan makanan,” kataku becanda.
“Emang kamu nge-kost di suku terasing? Yang jauh dari peradaban dan belum ada listrik ya?” tanyanya dengan tampang bloon.
Ih, nyebelin banget. Tapi aku suka.
“Kamu jadi kuliah, nggak?” tanyaku serius.
“Hmm… Enaknya kuliah nggak ya? Kamu kerja nggak?”
“Eh, ditanyain malah balik nanya. Bukannya apa-apa. Kalau kamu mau kuliah, cepetan mandi sana! Soalnya kamar mandinya cuman satu dan dipakai ramai-ramai sama penghuni kost yang lain. Mumpung masih belum ada yang pakai dan masih sepi. Takutnya, kalau kamu ketahuan mandi di sini pasti orang ngiranya kamu nginep,” kataku sambil melipat sprei yang sudah kusut. Terlihat noda merah di sprei putih ini. Aku harus cepat-cepat mencucinya dan kemudian mengeringkannya, agar tak ketahuan penghuni kos lainnya.
“Tapi terserah sih. Kalau kamu malas kuliah dan pengen tidur lagi, jangan keluar dulu dari kamar ini. Juga jangan berisik, biar nggak ketahuan kalau kamu masih ada di sini. Ntar aku tinggal kerja dan kunci pintunya, seolah-olah kamar kosong,” jelasku.
“Yah, sama sekali nggak boleh keluar nih?” kata Rizal sambil menatapku dengan pandangan yang menggemaskan. Bola matanya hitam seratus persen dan membulat dengan sempurna, membuat aku tersenyum.
“Iya.”
“Kalau aku lapar gimana?”
“Itu. Sudah aku siapkan di meja. Kalau makan jangan berisik juga.”
“Gimana kalo di dalam kamarnya sama kamu aja? Biar sama-sama bolos,” kata Rizal.
Wajahnya bergerak perlahan dan semakin dekat denganku. Aku bisa dengar napasnya, bahkan aku bisa dengar detak jantungnya juga.
“Hmmm, gimana ya? Sebenarnya aku juga malas banget kerja hari ini. Tapi gimana ya? Ada beberapa artikel edisi khusus yang harus aku selesaikan hari ini. Besok sudah akan naik cetak. Jadi hari ini harus selesai. Kamu kan tahu, aku bekerja belum tiga bulan. Masih masa percobaan.” kataku.
“Nggak papa, Aku sendirian di sini juga nggak papa,” katanya lembut.
“Bener nih?”
“Iya, nggak papa. Tapi, by the way, makasih ya semalam. Ini adalah hadiah ulang tahunku yang paling hebat, dari kekasih yang paling aku sayang, ” kata Rizal.
Wajahnya semakin dekat ke wajahku. Aku hanya menutup mata. Tak tahu kejadian selanjutnya. Yang aku tahu hanya kuluman hangat di bibirku. Penuh kelembutan dan perasaan.Mungkin sekarang mukaku terlihat merah karena malu. Aku serasa terbang ke awan, terlempar oleh ciuman Rizal yang tulus. Dengan ciumannya, Rizal mengalirkan cinta ke hatiku. Menyelimuti hati yang dingin ini dengan cinta yang tulus. Oh, betapa menyenangkan.
“Boleh. Boleh juga,” kataku.
“Apanya yang boleh juga? Ciumanku?” tanya Rizal.
” Bukan. Boleh juga kalau kita sama-sama membolos,” kataku.
Rizal tak menjawabnya lagi. Dan aku memang tak perlu kata-kata lagi. Untuk saat seperti ini, kata-kata seperti kehilangan makna. Saat ini memang keindahan puisi tak seindah tangan Rizal yang menjelajah bagian-bagian tubuhku. Aku tak perlu kata-kata indah. Aku tak perlu segala makna puisi indah. Aku hanya butuh Rizal. Aku butuh cintanya yang tulus untuk menyelimuti hari-hariku.
Sprei yang barusan aku ganti sepertinya akan kusut lagi. Tak perlu baju lagi untuk membuat kusut sprei lagi. Seperti semalam.

*** *** ***
Dua bulan sebelum hari ini.
Sore itu suasana Starbuck tak terlalu padat. Hanya beberapa orang saja tampak menikmati sajian dengan kepulan asap rokok putihnya. Mungkin karena sekarang ini masih jam kantor. Masih terlalu sore untuk kongkow-kongkow di sini. Musik mengalun lembut, menghampiri telinga tanpa harus membuatnya penuh. Suasana relax langsung terasa sejak pertama kali masuk ke kafe ini. Penggunaan cahaya yang minim serta didukung dengan penataan ruangan yang artistik membuatku betah di sini. Tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan kopi yang aku pesan. Bau kopi murni menghampiri lembut hidungku, membangkitkan berbagai imajinasi. Imajinasi tanpa kompromi. Imajinasi yang terus-menerus lahir, menyegarkan hidupku. Itu sebabnya aku senang berada di sini. Betapa nikmatnya kopi ini, dan juga imajinasiku.
Perempuan itu akhirnya datang juga. Cantik, dengan bentuk badan yang sempurna walaupun aku tahu baru beberapa bulan yang lalu melahirkan anak pertamanya. Tapi dengan latihan kebugaran yang ketat, bodinya kembali seperti semula. Kulitnya putih bersih, terawat dan terlihat dari golongan ekonomi menengah ke atas. Mas Wid adalah suami yang beruntung, mendapatkan istri seperti dia. Aku memanggilnya Mbak Yuli.
“Sudah dari tadi, dik Rizal? Gimana kabarnya?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Kabarnya baik. Aku juga barusan nyampe kok. Paling baru sepuluh menit,” jawabku kemudian menyilahkannya duduk.
“Maaf, dik Rizal kalo saya ngrepotin ngajak ketemuan.”
“Ah, Mbak Yuli. Nggak papa, Mbak. Kayak sama siapa aja. Santai aja lagi.”
“Gini, Dik. Saya sebenarnya nggak enak juga ngomongin ini. Tapi gimana ya, saya sudah nggak kuat nahan perasaan ini sendirian. Saya butuh seseorang untuk curhat. Dan saya pikir Dik Rizal yang paling tepat. Karena kita sama-sama korban. Sama-sama merasakan penderitaan ini,” jelas Mbak Yuli.
Korban? Sama-sama korban? Korban apa ya? Wah, wah, pasti ini ada sesuatu yang tak beres. Ini pasti pembicaraan yang serius.
“Korban apa Mbak, ya? Saya nggak tahu maksud Mbak Yuli,” kataku.
“Masak sih Dik Rizal tidak merasa ada sesuatu yang salah pada Atik?”
Wah, beneran ini. Ada yang nggak beres. Tapi apa ya? Jangan-jangan Ati dan Mas Wid….
“…selingkuh?” tanyaku dengan ragu-ragu.
Mbak Yuli hanya mengangguk. Shit! Ternyata mereka berdua selingkuh. Seharusnya aku sudah curiga. Minimal bertanya-tanya, ada apa ini? Tapi aku telah terbutakan oleh cinta. Aku pikir Atik takkan mungkin akan berbuat setega ini. Aku percaya kepadanya. Aku percaya akan cintanya kepadaku, akan kesetiaannya padaku. Tapi mana? Sama sekali tak ada kesetiaan!
Seharusnya aku waspada. Sebulan terakhir ini cerita-ceritanya hanya berisi tentang Mas Wid, Mas Wid dan Mas Wid saja. Tak ada habisnya. Aku pun sampai mengenal hal-hal kecil dari Mas Wid hanya dari cerita-cerita Atik. Mungkin Atik lebih mengenal Mas Wid daripada mengenal aku. Seharusnya aku waspada terhadap kemungkinan ini.
Tapi aku tak pernah curiga. Secara logika, Atik pasti mencintaiku. Bagaimana tidak, bahkan keperawanan yang sangat dia hormati hanya diberikan kepadaku pada hari ulangtahunku. Bukankah ini tanda bahwa dia memberikan segalanya, bahkan keperawanannya sendiri?
“Aku pikir Dik Rizal sudah tahu hal itu,” kata Mbak Yuli.
“Itu kan juga belum tentu bener omongan orang. Lagian nggak mungkin banget kalau Atik selingkuh. Karena aku yakin, Atik sangat mencintaiku,” jelasku.
Aku ambil napas, berusaha menetralisir perasaan. Mencoba berpikir jernih dengan kepala dingin.
“Mbak Yuli yakin Mas Wid dan Atik selingkuh?” tanyaku sekali lagi dengan hati-hati.
Mbak Yuli mengangguk. Sepertinya yakin sekali.
“Masak sih? Mas Wiwid kan sudah punya Mbak Yuli dan si kecil Nadya. Mas Wiwid itu sudah punya segalanya,” jelasku sambil mengeluarkan sebatang rokok putih dari saku.
Mbak Yuli hanya mengangguk pelan sambil mengusap tisu di pipinya. Astaga, ternyata Mbak Yuli mulai menangis. Aku tahu perasaannya. Pasti hancur berantakan dengan pengkhianatan Mas Wid. Aku juga merasakan hal yang sama walaupun dengan ukuran dampak yang jauh lebih kecil daripada apa yang dirasakannya. Benar kata Mbak Yuli tadi, kita sama-sama korban.
“Kamu masih nggak percaya?” tanya Mbak Yuli.
“Aku percaya dengan Mbak Yuli. Cuman aku berpikir, kenapa Atik sampai setega itu kepadaku. Padahal aku mencintainya dengan sangat tulus. Apa sih yang disebut cinta sejati? Cinta yang paling benar?” kataku dengan nada sedih.
“Dik Rizal, cinta itu buta. Dia mendatangi siapa pun tanpa pernah melihat usia, kekayaan maupun status. Cinta tak selalu benar. Cinta dan nafsu hanya berbatas tipis.”
“Benar, Mbak. Cinta dan cinta hanya bisa saling membunuh. Tak mungkin cinta tulusku akan tumbuh kalau cinta Atik kepada Mas Wid juga tumbuh. Tak ada dua cinta dalam hati yang sama. Cinta itu saling memakan. Kanibal.”
“Benar kamu, Dik. Tak ada dua cinta yang tulus dalam satu hati. Salah satunya harus mati. Yah, satunya harus kalah…” kata Mbak Yuli lirih.
Aku diam saja, tak menanggapi perkataan Mbak Yuli. Diam dalam seribu bahasa dan jurang kesedihan yang terlalu dalam. Kini segalanya telah hilang. Terlalu sakit untuk kami berdua. Benar-benar terlalu sakit.
” Mas, minta vodka dua sloki dengan es!” teriakku ke pelayan.

*** *** ***
Hari ini.
Hari ini adalah Minggu pagi yang terasa sangat menyenangkan lengkap dengan matahari yang bersinar cerah dan udara yang masih segar. Tapi tak semua cinta tumbuh bersemi dengan sinar matahari pagi ini. Pagi ini beberapa cinta mati. Minggu pagi ini ada beberapa hati yang hancur berkeping-keping laksana debu. Hilang ditelan semesta.
Di dalam kamar, Rizal tertidur di meja komputernya. Walaupun matahari sudah menerangi bumi, tapi tidak kamar Rizal. Gelap, pengap dengan bau yang tidak sedap. Kamar dengan ukuran yang tidak terlalu besar ini berantakan seperti kapal pecah. Buku berantakan di sana-sini. Tampak di pojok kamar tergeletak begitu saja celana jeans, beberapa kaos bau, kaset, CD dan piring-piring kotor yang sudah ada jamurnya. Abu dan puntung rokok juga tampak tersebar di penjuru kamar, di karpet, di piring kotor, di meja, bahkan di kasur.. Benar-benar kamar yang berantakan.
Sepertinya Rizal sudah tak peduli lagi dengan kamarnya dan juga dirinya sendiri. Badannya tambah kumal dengan rambut dan jenggot yang makin panjang saja. Awut-awutan tak karuan. Sudah beberapa hari ini Rizal tak mandi. Wajahnya kuyu seakan tak ada lagi energi yang tersisa untuk meneruskan hidupnya. Bagi dia sudah tak ada yang penting lagi.
Kesedihan yang amat sangat sekarang tengah dirasakannya. Sejak mengetahui Atik berselingkuh, Rizal menghabiskan semua waktunya di dalam kamar. Rizal hanya keluar kamar untuk ke kamar mandi atau mengambil makanan. Menjauhi dunia yang makin menyebalkan. Bersenggama dengan buku-buku bacaan yang berat seperti filsafat atau pun hal-hal absurd lainnya. Tak ada yang penting lagi bagi dia. Bahkan dirinya sendiri.
Sebegitukah penting cinta itu? Bahkan lebih penting bagi pecintanya sendiri? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang cinta yang sekarang sedang menghantui benak Rizal. Sepertinya Rizal belum akan menemui jawabannya dalam waktu dekat ini. Paling tidak, belum ketemu hari ini.
Pagi ini juga, di sebuah stasiun kereta api ratusan kilometer dari Jakarta, Mbak Yuli turun dari kereta malam dengan tetes air mata berlinang di pipinya. Tampak si kecil Nadya bersamanya, dalam pelukan hangat ibunda. Si kecil Nadya tidur dengan pulas. Sementara para porter sibuk menurunkan barang bawaannya yang bejibun.
Mbak Yuli berniat membesarkan Nadya di kota kecil kelahirannya ini. Menjauh dari Jakarta, menjauhi hiruk pikuk dunia yang telah membuatnya terluka. Kedua orang tua Mbak Yuli menyambutnya dengan hangat, dengan pelukan prihatin atas apa yang telah dialami anaknya. Pelukan selamat datang yang penuh cinta dan sedikit menentramkan hati Mbak Yuli. Menggantikan cintanya yang telah mati kepada Mas Wid.
Pagi ini adalah pagi yang berbeda dengan pagi-pagi yang lain bagi Mas Wid dan Atik. Kecerahan pagi merembes ke dalam hati mereka berdua. Pagi ini mereka berpakaian rapi, duduk di depan seorang penghulu. Bersumpah untuk mengarungi sisa kehidupan mereka bersama-sama. Penuh cinta dan kebahagiaan. Seperti yang pernah diinginkan oleh semua orang, termasuk Rizal dan Mbak Yuli.
Benarkah cinta yang dirasakan Mas Wid dan Atik adalah cinta yang sejati? Bukankah cinta sejati tak jahat dan selalu baik, tak pernah membunuh cinta yang lain? Tapi memang takkan pernah ada dua cinta dalam satu hati. Satu sama lain akan saling membunuh sehingga hanya akan tersisa satu cinta. Tak ada yang tahu, apakah cinta yang tumbuh di hatimu adalah cinta sejati? Tak ada seorang pun yang tahu.
Acara ijab kabul akan segera dimulai. Satu kisah cinta telah dimulai sekaligus mengakhiri lebih banyak kisah cinta yang lain.
Kedoya, Mei-Juni 2005

KEBAKARAN

Posted on Updated on


Terbakar. Ya, catatan penting itu terbakar sedikit demi sedikit. Huruf-huruf di dalamnya mulai termakan dalam api. Huruf-huruf yang terangkai membentuk kalimat-kalimat dangan makna penting. Kalimat-kalimat tercatat yang sangatlah penting, berisi data-data paling struktural. Dan kini catatan itu sedikit demi sedikit terbakar. Menghitam dan akhirnya pecah menjadi abu hitam yang terbang ke sana kemari tertiup angin.

Kantin tak terlalu ramai. Kantin itu terletak di dalam gedung parkir sebuah pusat perbelanjaan. Biasa, pasti pengap. Karena tempat parkir biasanya tak pernah dilengkapi oleh penyejuk udara atau tak pernah dirancang khusus untuk sirkulasi udara yang sehat. Akibatnya gedung parkir dan seisinya – biasanya ada kantin, mushola, ruang istirahat pegawai, dan juga ruang maintenance gedung – tak pernah tak pengap. Selalu pengap. Dan selalu dianggap tak penting.
Begitu juga sore itu. Udara terasa pengap di dalam kantin itu. Kantin itu bersebelahan dengan mushola mungil yang sedang ramai orang karena memang sudah waktunya sholat maghrib.
Sore itu lelaki itu ngoceh kesana-kemari. Mungkin agak sinting orang itu. Perawakannya tinggi tapi tak terlalu kekar. Rambutnya keriting kecil-kecil merah terbakar sinar matahari. Kulitnya hitam legam seperti seorang petani yang setiap hari selalu ke sawah. Tapi jangan berpikir dia orang Indonesia Timur, sama sekali tak mirip. Matanya tajam dengan alis tebalnya. Penampilannya rapi dengan kemeja merah kotak-kotak dan celana jeans hitamnya. Di sakunya terselip ponsel lengkap dengan handsfree yang terpasang di kuping. Sama sekali tidak seperti orang gila, apalagi gelandangan!
” Lihat saja pemilu depan ini! Semuanya akan kacau!” orang itu berkata sambil menarik kursi untuk duduk di depanku, seperti mengajakku berbicara dengannya. Awalnya aku bingung juga, makhluk dari mana ini? Kenal pun tidak. Waktu itu aku baru saja duduk setelah memesan minuman.
” Kacau? ” Aku pun menanggapinya. Sekedar berbasa-basi. Apalagi ibu penjaga kantin memberi kode, jari telunjuk yang ditempelkan di dahi dengan posisi miring. Oh, aku paham. Aku pun sebenarnya tak terlalu tahu tentang politik walaupun aku berstatus mahasiswa. Tak pernah tertarik.
” Ya. Kacau. Semua sudah berjalan di luar rel yang seharusnya. Rel demokrasi, ” orang itu terus saja nyerocos. Wah, apa ini? Kok sampai ngomongin rel? Memang kereta api?
” Dalam demokrasi, seharusnya tak ada money politics. Tak ada politik dagang sapi. Kalau mau dagang sapi, jangan di gedung parlemen! Pergi saja ke pasar hewan!” orang gila itu masih saja nyerocos. Benar ibu pemilik kantin ini, orang ini memang gila. Tunggu! Kita tak boleh menjudge seseorang begitu saja. Harus ada bukti-bukti obyektif yang membuktikan bahwa orang ini gila. Yah, paling tidak yang kelihatan obyektif.
” Rakyat pun dibuai oleh janji-janji palsu. Pilih aku, maka demokrasi akan tegak! Oh, omong kosong! Pilih aku, maka keadilan akan merata! Bohong besar! Pilih aku, rakyat kecil akan sejahtera! Sama sekali bohong!” Woo! Radikal juga orang gila ini. Tapi, sebentar, ada lagi yang lebih menarik.
” Semua kecap pasti selalu bilang nomor satu. Tapi kalau mau ngecap, sedikit rasional, dong! Kalau mau bohongin orang mestinya pakai ini”, telunjuk orang itu di tempelkan pada dahinya, “…bukan pakai ini!” Telunjuk orang ini pun pindah ke dengkul.
” Semua orang tahu, pemilu yang diadakan tiap 5 tahun itu berbiaya sangat mahal. Dan Anda tahu siapa yang membiayainya? Rakyat! Kita semua yang membiayai segala macam omong kosong ini. Kita yang diperas untuk omong kosong mereka!” Uff, air liurnya sebagian muncrat ke wajahku. Habis terlalu menggebu-gebu, sih.

Api mulai membesar. Menyambar gorden jendela yang ada di kamar itu. Kain beludru ungu itu pun mulai juga menyala-nyala. Berkerut kemudian terbakar api dan akhirnya hilang menjadi debu. Terus terbakar. Terus membesar tanpa disadari oleh seorang pun di dalam rumah itu. Api pun mulai membakar meja dan kayu jendela kamar itu.

Orang gila itu mengambil sebungkus rokok dari saku bajunya. Hmm, Marlboro soft pack! Gila! Jaman susah kayak gini rokoknya rokok impor. Padahal dollar kan lagi mahal.
” Anda mahasiswa? ” orang gila itu bertanya padaku sambil menghirup dalam-dalam sedotan pertamanya. Aku pun mengangguk.
” Kasihan para mahasiswa…”
” Kenapa?”
” Aku merasa kasihan pada mahasiswa-mahasiswa angkatan Anda ini. Karena begitu Anda dan teman-teman Anda lulus, permasalahan pertama yang harus dipecahkan tak pernah dibahas dalam buku-buku kuliah. Permasalahan pertama Anda adalah, bagaimana anda harus cari kerja! Bukankan itu tragis?” Aku diam saja. Dalam hatiku aku pun mengiyakan perkataan orang gila ini.
Aku mulai berpikir dia bukanlah orang gila seperti yang ibu pemilik kantin dan orang-orang lain tuduhkan. Tapi demi sopan santun secara lisan aku sepakat dengan mereka, menganngap orang ini gila.
” Sudah mahal kuliahnya, eh, setelah lulus pun cari kerja sulitnya minta ampun. ” Kali ini aku sepakat seratus persen. Jadi mahasiswa tidak gampang. Mesti punya duit nganggur yang banyak. Tidak murah jadi mahasiswa.
” Seharusnya pemerintah tak mengejar kuantitas, tapi kualitas. Tapi buktinya mana? Sekolah negeri pun makin hari makin mahal. Begitulah kalau duit jadi panglima.” Aku diam.
” Benar-benar kasihan….”

Meja dalam kamar itu mulai menjadi arang, terbakar. Semua catatan-catatan penting diatas meja sudah musnah terbakar. Gorden jendela sudah habis. Api pun mulai merembet ke tempat tidur. Saat itu memang tak ada yang sedang tidur di kamar itu. Sprei bermotif bunga-bunga mulai terbakar. Begitu juga dengan guling dan bantal. Isi bantal dan guling terbakar pelan-pelan, mengeluarkan asa[p tebal yang dapat mengganggu pernapasan. Perlahan tapi pasti kamar itu mulai habis terbakar.

Asap Marlboronya menggodaku. Hmm, pasti sudah lama aku tak menghisapnya.
” Boleh aku minta sebatang saja?” Kuberanikan diri untuk sekedar meminta sebatang rasa kangen.
” Oh, silahkan… ” Uhff, lega. Akhirnya aku dapat menikmatinya.
” Anda aslinya mana? ” tanyaku sekadar untuk berbasa-basi.
” Aku bukan orang kota ini, lihat KTP ku. ” Aku lihat KTPnya. Ternyata, dia adalah penduduk wilayah ujung paling barat republik ini, wilayah yang dianggap selalu membangkang pemerintah pusat.
” Wah, hati-hati, Bung! Anda di sini bisa dicurigai sebagai pemberontak. Dan omongan Bung bisa bikin susah Bung sendiri.” Orang itu hanya diam saja. Tak bergeming.
” Aku sudah lama tinggal di kota ini. Kalau dihitung-hitung sudah 8 tahun lebih aku di sini.”
” Apakah Anda tergabung dengan kelompok pemberontak?” tanyaku.
” Tidak.”
” Atau bersimpati?” Hmm, jadi penasaran juga untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
” Tidak juga. Aku hanyalah salah satu rakyat republik ini yang ingin kita semua berjalan di rel yang benar. Salah seorang yang geram dengan keadaan republik ini tanpa tahu harus berbuat apa. Yang aku tahu hanya mengoceh, mengoceh dan mengoceh tentang kegeramanku ini. Aku hanya ingin berbicara apa adanya ke semua orang, bahwa kita mempunyai borok!” Dia menatapku tajam. Aku pun diam dengan benak penuh tanda tanya.
” Apalah artinya kalau kesepuluh jari tangan kita penuh dengan berlian kelas satu kaki kita penuh borok yang menjijikan? Apalah artinya? Tak berarti sama sekali..!” Kali ini aku diam dengan benak berisi kata sepakat.
” Benar-benar tak berarti….”

Api makin lama maikin besar saja. Api mulai merembet ke ruangan lain. Pintu kamar itu sudah pula termakan api. Rumah itu telah dipenuhi dengan asap. Heran, penghuni rumah itu masih saja asyik ketiduran dalam buaian mimpi masing-masing. Asap yang tebal sebagai adanya kebakaran di rumah itu benar-benar tak dihiraukan mereka. Ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu dan ruang-ruang lainnya pun sudah mulai termakan api. Tetap saja para penghuninya terlelap dalam mimpinya.

” Angkat tangan!”
Tiba-tiba di sekitarku dan orang gila tadi dikepung oleh orang-orang berbadan tegap dengan rambut cepak. Mereka tak pakai seragam. Masing-masing membawa pistol yang siap memuntahkan peluru.
” Kami dari pihak berwajib. Jangan coba-coba melawan! Kalian berdua di tahan karena telah mengadakan pertemuan untuk merencanakan menggagalkan pemilu dan itu berarti makar terhadap negara. Merencanakan pemberontakan!” Aku pun lemas, tak tahu mesti berbuat apa.

Api telah membakar apa saja yang ada di rumah itu, termasuk penghuninya. Betul-betul mengherankan! Sampai detik terakhir pun mereka tak bangun dari tidur mereka. Tak bangun dari mimpi-mimpi mereka. Hingga akhirnya rumah itu roboh menjadi arang.

Kedoya, 15 Desember 2003

DI BENAK, ADA PEMBANTAIAN

Posted on Updated on


Di manakah cinta?
Bukankah seharusnya berada di atas sana, sebagai bintang penunjuk kapalku untuk menuju pelabuhan bahagia?
Di manakah cinta di malam penuh badai ini?

Malam ini kelam dan gelap. Malam terasa pekat. Seakan-akan semua molekul-molekul di udara lebih merapat dari biasanya. Dingin dan beku. Gang yang hanya selebar satu mobil ini basah karena hujan sore tadi. Memantulkan cahaya-cahaya kuning lampu mercuri. Cahaya-cahaya kesuraman.
Aku, lelaki berjaket jeans kumal dengan sepatu kets berwarna merah berjalan perlahan-lahan menyeret pedang. Mengkilap, memancarkan hawa kematian bagi siapa saja. Perlahan aku berjalan. Suara pedang yang beradu dengan aspal jalan terasa mengerikan. Menyuarakan kematian, meruapkan kebencian. Tanganku bergetar oleh kekuatan yang aku sendiri tak tahu. Pedang tajam yang terbuat dari logam terbaik dan dibuat dari tangan terbaik kini berputar-putar cepat siap memenggal kepala, melepaskan dari tubuhnya. Sekali tebas, kepala siapa saja pasti akan lepas dari tubuhnya, menggelinding di jalanan basah dan kemudian menjadikan kubangan jalan berlubang menjadi berwarna merah. Semuanya berjalan begitu saja, seperti takdir. Takdirlah yang mengharuskan memenggal kepala-kepala di depanku. Semua berjalan begitu saja, tanpa pernah direncanakan.
Hawa kematian malam ini meruap begitu kuat. Memenuhi udara dan bercampur dengan oksigen yang terhirup masuk tubuhku. Di pompa jantung dan menyebar ke seluruh tubuhku. Otakku dipenuhi oleh hawa kematian yang tak pasti. Tanganku bergetar memegang erat pedang, meregang seperti tak kuasa menahan kehausan pedang akan darah. Aku harus membantai mereka malam ini. Yah, harus malam ini.
Perempuan-perempuan itu ketakutan melihat sorot mataku yang penuh dengan kebencian. Mereka menjerit-jerit tak karuan, tapi tetap saja malam terasa kelam. Aku seperti tak mendengar suara-suara jeritan mohon ampun mereka. Aku hanya lihat mulut mereka yang mangap-mangap tanpa suara. Aku tak mengerti mengapa mereka seperti itu. Bukankah wajar kalau setiap orang akan mati? Mungkin hanya caranya saja yang berbeda. Malam ini mereka akan mati di tanganku, dengan sekali tebas.
Dengan tangan terikat perempuan-perempuan malang itu akhirnya pasrah, berlutut di hadapanku dengan kepala tertunduk. Satu persatu aku pandangi. Disiram dengan cahaya temaram lampu mercuri kota terlihat wajah mereka yang semuanya memang cantik. Tapi mereka harus di bantai malam ini.
Aku dekati satu. Dia tercantik diantara semuanya. Mukanya bersih dan selalu memancarkan keanggunan luarbiasa dengan kerudung menutupi rambutnya. Alis matanya tebal hitam tampak proposional dengan matanya yang bening seperti sebuah telaga perawan di hutan perawan. Bibirnya tipis dan selalu tersenyum tipis. Beberapa orang mengira itu adalah senyum sinis. Bukan, itu bukan senyum sinis. Itu adalah senyum terindah yang pernah ada. Suara yang keluar dari tenggorokannya seperti sebuah lirik nyanyian yang aku tak pernah bisa pahami. Absurd. Hatinya adalah gua gelap yang mengandung misteri. Aku coba masuki, tetapi aku tersesat di dalamnya. Benar-benar hati yang misterius.
Aku bertemu dia dalam sebuah pesta perkawinan seorang teman dekatku. Saat itu matanya tampak selalu mencuri-curi ke arahku. Gaun pestanya tampak sangat serasi dengan tubuhnya yang gemulai. Dia seakan menjadi primadona pesta itu. Kerling matanya mampu membuat siapa saja mabuk. Dan aku pun mabuk oleh mata bening itu yang selalu dan selalu saja mencuri-curi. Ah, sudahlah! Malam ini dia harus aku bantai tanpa harus mengingat-ingat mata beningnya. Harus.
” Tahukah kamu, kenapa malam ini kamu aku penggal?” tanyaku sambil memakaikan kantong coklat belanja supermarket di kepalanya kemudian mulai berancang-ancang memenggal. Perempuan itu diam saja tanpa bicara. Selalu saja dia begitu, absurd dan misterius. Tak mudah memahaminya.
“Ayo, jawab! jangan diam saja!” bentakku. Kepalanya yang sudah terbungkus kantong coklat itu sedikit mendongak. Tapi tanpa menjawab satu kata pun. Ah, sudahlah…
Tanpa pikir panjang segera aku sabetkan pedangku tepat pada lehernya. Darah membasahi lagi jaket jeans kumal dan juga sepatu ketsku. Kepalanya menggelinding masuk selokan, sedangkan tubuhnya langsung jatuh tanpa kepala. Aku memang tak perlu jawabannya, aku sudah tahu jawabannya. Dia terlalu misterius buatku, dan sepertinya selalu misterius.
Berikutnya adalah seorang perempuan yang belum terlalu matang menjalani kehidupan yang keras ini. Dia masih polos, sesuai dengan umurnya yang baru 19 tahun. Aku bertemu pertama kali juga pada sebuah pesta pernikahan. Saat itu dia sangat menarik semua mata para tamu. Dia menari dengan lincahnya. semua tamu terpesona dengan tariannya. Tubuhnya yang seksi berbentuk gitar mampu melambungkan pikiran semua lelaki. Aku pun terpesona. Tanpa aku sangka, dia mendekatiku kemudian menggandeng tanganku untuk menari bersamanya. Aku ingat itu.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang melelahkanku. Aku serasa dipaksa untuk kembali berpikir seperti 10 tahun yang lalu. Berhura-hura seperti hari esok masih panjang. Pergi ke mall cuman untuk window shoping, nonton film-film picisan di bioskop yang mahalnya setengah mati, nongkrong-nongkrong ngobrolin sesuatu yang aku sudah lewati jauh. Aku sudah lupa semuanya. Sepertinya aku sudah terlalu tua untuk mengikuti semuanya. Yah, terlalu tua.
Sekarang, perempuan itu berlutut di depanku, juga dengan kepala tertutup kantong belanja supermarket. Dia menangis dan memohon agar aku tak memenggal kepalanya. Suaranya terdengar manja. Aku sudah tak peduli.
” Tahukah kamu, kenapa aku ingin sekali memenggal kepalamu?” tanyaku.
” Maafkan, Kak. Maafkan kalau saya menyakiti Kakak,” mohonnya dengan suara serak sambil menangis.
” Sudahlah, jangan menangis. Aku tak akan tergoda oleh tangisanmu.” Tangisnya makin terdengar memilukan. Tapi justru itulah alasanku untuk segera menghabisinya malam ini. Tangis kanak-kanak yang terlalu polos. Dengan sekali sabet, pedangku telah basah oleh darah dari urat lehernya. Kepalanya menggelinding ke arah selokan dekat tempat mangkal tukang ojek.
Berikutnya adalah perempuan dengan muka manis, berkacamata dan mempunyai otak cemerlang. Satu-satunya perempuan yang pernah aku puja seperti indahnya mawar, tapi durinya melukai wajahku ketika akan kucium. Luka terdalam yang pernah dibuat kepadaku. Aku mengalami proses-proses panjang dan melelahkan bersamanya. Bersama-sama kita meledak-ledak dalam campuran-campuran yang berproses secara kimiawi berbagai macam aliran ideologi. Mengaduk-aduk menjadikan satu dan menemukan formula hidup. Bersama-sama melawan arus untuk bisa sekadar memperoleh kacamata yang beda, agar bisa memaknai hidup dengan berbeda pula. Aku tumbuh bersamanya.
Tapi sejak durinya melukaiku, aku selalu ingin memenggal kepalanya. Dan malam ini sepertinya mimpiku dapat terwujud.
Perempuan berkacamata itu berlutut dan tertunduk. Kali ini kepalanya tidak aku pakaikan kantong belanja seperti yang lain. Aku ingin sekali menikmati ekspresi wajahnya yang memohon ampun hingga saat terakhir kematiannya. Aku selalu ingin menikmatinya. Tapi perempuan itu hanya diam. Tak memohon untuk hidup. Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku akan tetap memenggal kepalanya apapun yang dia katakan. Baguslah, kalau dia sudah tahu.
Perlahan kepalanya menengadah memandangku. Tepat pada mataku. Aku lihat bola matanya dibalik lensa minusnya adalah bola mata terindah yang pernah aku miliki. Aku coba masuk lebih dalam. Memang sudah tak ada lagi yang tersisa untukku. Benar-benar sudah habis. Sepersekian detik kemudian kepalanya menggelinding ke arah kakiku. Matanya masih melihat ke arahku dan aku masih lihat bahwa benar-benar tak ada sisa buatku.
Di depanku masih ada beberapa perempuan yang tertunduk dengan tangan yang terikat. Malam ini aku masih belum tahu, siapa lagi yang harus aku penggal. Aku hanya boleh menyisakan satu perempuan untuk selamanya bertahta, menjadi satu-satunya ratu di benak ini.
Tapi, serius, ini terjadi begitu saja. Tanpa pernah aku rencanakan. Takdir yang menuntunku seperti ini.

Apakah cinta?
Bukankah seharusnya cinta ada sebagai lentera yang senantiasa menerangi jalan gelap menuju rumah bahagia?
Aku tak melihatnya di malam kelam ini?

Aku ragu, apakah Cinta harus ada di kelamnya kehidupan yang penuh badai…

Kedoya, 2004