non fiksi

Islam di Eropa Barat

Posted on Updated on


Saat ini, umat Islam adalah agama dengan umat terbesar kedua di Eropa. Meskipun dianiaya terus menerus dan mengalami diskriminasi, Islam tak hanya survive tapi juga terus berkembang dalam jumlah dan juga pengaruh. Saya menemukan artikel ini di islamicbulletin.com dan kemudian menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Artikel ini membahas tentang umat Islam di Eropa secara umum dan juga sejarahnya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

Orang Muslim di Eropa Barat pada umumnya adalah penduduk imigran yang berimigrasi dari Afrika, Timur Tengah dan Indo Pakistan setelah Perang Dunia ke II. Industri Eropa Barat tumbuh dengan sangat cepat setelah perang, dan sayangnya, Eropa Barat tidak mempunyai SDM yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Kemudian datangnya para imigran Muslim ini dan menetap di Eropa. Para Muslim ini masih menjaga iman dan tradisi-tradisi mereka hingga anak cucunya.

Saat ini, orang Muslim dan keturunannya, bersama orang asli Eropa yang juga masuk Islam, menjadikan jumlah umat Muslim terbesar kedua di Eropa. Austria, Belgia, Inggris, Denmark, Perancis, Italia, Belanda, Swedia, Spanyol, Swiss dan Jerman adalah negara-negara Eropa dengan populasi Muslim yang besar dan terus tumbuh. Untuk membahas pertumbuhan komunitas Muslim ini, mulai dari sisi sosial, budaya dan ekonomi di Eropa Barat, membutuhkan artikel tersendiri.

POPULASI

Jumlah penduduk Muslim Eropa Barat yang valid tidak tersedia. Tapi diperkirakan 10 juta Muslim tinggal di Eropa Barat saat ini. Perancis, Jerman dan Inggris adalah negara-negara yang memiliki populasi Muslim terbesar. Diperkirakan, Perancis dan Jerman masing-masing mempunyai tiga juta penduduk Muslim, dan Inggris dua juta Muslim.Seperti di Inggris, Islam juga menjadi agama terbesar kedua di Perancis sejak tahun 1970-an. Pada tahun 2000, diperkirakan jumlah penduduk Muslim telah melebihi 10 persen dari total jumlah penduduk Perancis.

Hingga pertengahan tahun 80-an, tidak ada aturan-aturan hukum dari pemerintah negara-negara Eropa untuk mencegah imigrasi umat Islam ke Eropa sehingga umat Islam bisa bebas berimigrasi.

Di lain pihak, ada sejumlah besar orang Eropa asli yang masuk agama Islam dalam duapuluh tahun belakangan ini. Dengan kesadaran sendiri mereka menjadi mualaf. Jumlah mereka tidak diketahui pasti. Di antara orang Eropa asli yang memeluk Islam adalah orang-orang dari kalangan terkemuka, termasuk kalangan akademisi. Orang akademisi Eropa ini antara lain adalah Baron Omar Ehrenfels –  seorang antropolog Austria, Vincent Morteil – ahli Afrika dan Islam, Michel Chodkiewiez – direktur penerbitan Editions du Seuil, dan Roger Garudy – filosof Perancis dan pendiri sekaligus partai komunis.

Di beberapa negara Eropa Barat sudah menerima bulan Ramadhan sebagai bulan puasa bagi umat Muslim. Jaringan broadcast dibuka untuk kalangan Muslim di Perancis dan beberapa negara lainnya. Tapi masalah tetaplah ada. Umat Muslim dan Islam masih menjadi korban atas ketidakseimbangan media. Setiap upaya umat Muslim untuk membuat Islam sebagai pedoman hidup seseorang selalu dilihat sebagai ancaman kehidupan orang-orang barat, dan konyolnya, kemudian dengan cepat dicap sebagai fundamental atau parahnya teroris.

Saat ini, dari Yunani hingga Spanyol, kebangkitan baru mulai terbentuk dan berperan dalam berbagai lembaga. Terpilihnya orang Islam sebagai anggota parlemen Inggris mengindikasikan generasi Muslim yang lebih dewasa dan percaya diri sekaligus tegas dan kuat.

ISLAM DI ITALIA

Islam sudah lama datang ke Italia. Mari kita bahas sejarah datangnya Islam ke Sisilia, sebuah pulau terbesar di Mediterania di selatan Italia. Umat Muslim datang ke Sisilia pada awal abad ke 9 yang kemudian menguasai Sisilia hingga 250 tahun. Banyak kawasan yang diberi nama dalam Bahasa Arab. Contohnya adalah Baida yang dalam bahasa Arabnya Bayda (putih); Alcamo atau Al-Kamuk (nama sebuah benteng); Bagheria atau dalam Arab babariya (tempatnya laut); Marsala atau marsa Allah (Pelabuhan milik Allah). Gerbang ke Istana Normans di Palermo, juga pertama kali dibangun oleh umat Muslim di abad 9.

Orang-orang Muslim memperkenalkan buah citrus dan membuat Sisilia jauh lebih berbudaya daripada sebelumnya. Lemon (Italian limuni dari limun Arab) dan kebun orange atau jeruk (aranciu dari naranja) banyak ditemukan di seluruh pulau. Hingga sekarang nama-nama bunga mereka masih memakai nama-nama arab. Zagara dari zahr yang aromanya tercium di mana-mana.

Umat Muslim juga membawa buckwheat, brush palm, carob, kapas, gutun, jasmine (melati), bayam, gula, kunyit, sumac, tarragon dan kismis. Pembuatan sutra dan gula kemudian menjadi industri yang berkembang pesat hingga menyebar ke seluruh Italia.

Untuk meningkatkan panen, umat Muslim meng-upgrade jaringan irigasi kuno orang Sisilia asli dan membangun banyak waduk dan menara air yang masih ada hingga sekarang.

Di bidang kuliner, umat Muslim juga mempunyai peranan yang penting. Umat Muslim turut menciptakan masakan Sisilia dengan sentuhan Arab yang sempurna. Walau tradisi kuliner Sisilia dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi, mengadopsi tradisi kuliner dari para penakluk seperti Yunani, Fenisia (Phoenicia) dan Romawi, tapi itu hanya bertahan hingga abad 9. Makanan yang kaya rasa dari Timur Tengah, manisan buah-buahan dan sayuran, metode baru untuk mengawetkan makanan, pengeringan buah-buahan dan sayuran serta seni penyulingan, telah memberi banyak kontribusi orang Muslim terhadap kuliner Sisilia.

Saat ini, hidangan Sisilia jauh lebih berani daripada hidangan-hidangan yang bisa ditemukan di seluruh Italia. Hidangan Sisilia lebih pedas dan lebih manis daripada hidangan Italia daratan, walaupun pastanya terasa gurih. Hampir semua penulis yang telah mempelajari kuliner Sisilia berkesimpulan bahwa segala hal yang berhubungan dengan seni memasak Sisilia yang berbeda dengan Italia daratan adalah warisan umat Muslim Sisilia.

Pembuatan hidangan pencuci mulut atau penutup, diduga juga ada kontribusi penting dari umat Muslim. Ketika orang Muslim memperkenalkan gula, mereka kemudian membuat banyak hal tentang hidangan penutup. Permen yang dibuat dari almond, dan pembuatan es krim serta budaya memakai serbet dibawa ke Sisilia dan kemudian menyebar ke seluruh Italia dan Eropa. Tidak diragukan, rasa manis dari madu yang dibawa umat Muslim ditemukan di hidangan-hidangan yang bisa ditemukan di seluruh Sisilia.

ISLAM DI SPANYOL

Dalam catatan sejarah, Tarif ibn Malik, seorang Muslim yang memimpin pasukan kecil pengintai (100 kavaleri dan 400 infsnteri), telah mendarat di Spanyol pada awal tahun 710 masehi. Tempatnya dia mendarat kini diberi nama Tarifa, sebagai bentuk untuk menghormatinya. Nama  itu masih dipakai hingga sekarang.

Setelah Tarif, datang penunggang kuda (kavaleri) luarbiasa bernama Tariq ibn Ziyad yang telah menaklukkan Teluk Aljazair. Bersama pasukan kavalery kecil yang dipimpinnya, Tariq berhasil menaklukkan dari Semenanjung Iberia hingga Teluk Biscay. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama wilayah tersebut yang hingga kini begitu terkenal. Orang Barat menyebutnya Gibraltar atau Jabal Tariq atau Gunung Tariq.

Gibraltar Mosque in Spain

Umat Muslim mewariskan 6500 kata atau nama dalam kehidupan orang Spanyol yang masih dipakai hingga sekarang. Ini menjadikan budaya Spanyol begitu unik, yang mampu menggoda ahli geografi, penyair, bahkan orang biasa yang datang ke Spanyol. Nama-nama Muslim di Spanyol seperti nama-nama di sebuah monumen, nama-nama yang memberitahu kita apa yang telah terjadi di Spanyol sebelumnya.

Nama kota besar Valencia berasal dari kata Balansiyah. Begitu juga dengan Malaga (Malaqah), Granada (Gharnatah) Seville (Ishbiliyah). Walau banyak perubahan-perubahan yang dipaksakan oleh Ferdinand dan Isabella setelah Reconquista, tetap saja bekas-bekas nama tersebut masih ada hingga sekarang, bahkan di wilayah bergunung seperti Galicia, Asturias dan bagian dari Navarre, Aragon dan Catalunya.

Pemberian nama sungai atau lembah Spanyol yang paling banyak ditemukan berasal dari kata arab (wadi, yang artinya sungai atau lembah). Guadalquivir (al-Wadi al-Kabir, sungai besar), Guadalcazar (Wadi al-Qasr, Sungai Istana), Guadalhorra (Wadi al-Ghar, Sungai Gua), Guadarranque (Wadi al-Ramakah, Sungai Kuda Betina), Guadalquitton (Wadi al-Qitt, Sungai Kucing), Guadalajara (Wadi al-Hijarah, Sungai Berbatu), Guadalbacar (Wadi al-Baqar, Sungai Ternak), Guarroman (Wadi al-Rumman, Sungai Pomegranate), Guadalaviar (al-Wadi al-Abyad, Sungai Putih) and Guadalimar (al-Wadi al-Ahmar, Sungai Merah).

Kincir air di Spanyol

Beberapa sungai diduga juga mempunyai asal nama dari bahasa Arab. Seperti Guadalertin, yang dipercaya oleh beberapa peneliti berasal dari kata Wadi Al-Tin yang berarti sungai lumpur. Guadalbanar, yang diduga berasal dari kata Wadi Al-Harb yang berarti sungai perang atau bisa juga dari Wadi Al-Fanar yang berarti Sungai Mercusuar.

Beberapa tempat juga dinamakan sesuai penampakannya, seperti Alhambra (al-Hamra’, benteng merah), Arrecife (al-Rasif, jalan aspal), Almazara (al-Ma’sarah, the oil press), Aldea (al-Dai’ah, desa kecil), Alqueria (al-Qariyah, desa), Alcantara (al-Qantarah, jembatan) dan Trafalgar, diambil dari nama tanjung, Taraf al-Ghar, yang berarti gua.

Kata Arab madinah yang berarti kota, juga banyak ditemukan di Spanyol. Seperti Medinaceli (Madinat Salim, Kota Salim), Medina-Sidonia dan Medina del Campo. Tak hanya itu, kata qal’ah yang berarti benteng atau kastil, juga banyak ditemukan. Antara lain Calatayud atau qal’at Ayyub, Kasti Ayyub di Aragon. Calahorra (dari Qal’at al-Hajar, kastil batu, atau bisa juga al-Qal’ah al-Hurrah, kastil kebebasan) dan Calatrava (Qal’at al-Rabah).

Catalayud – Spain

Calahorra – Spanyol

Kita juga masih bisa temukan tempat di Spanyol dengan nama keluarga Arab seperti ibn atau bani, antara lain Benevites, Beniajar, Benanata, Benicalaf, Bentarique dan Benadid.

Tak hanya nama-nama tempat, bahasa Arab juga banyak mempengaruhi kosakata bahasa Spanyol seperti Alborg (al-Burj, menara), Albufera (al-Buhayrah, danau), Almeida (al-Ma’idah, meja makan), Alpujarras (mungkin dari al-Bajra, daerah pegunungan), Almeria (al-Mirayah, cermin), Alqezar (al-Qasr, istana), Almansil (al-Manzil, tempat menginap atau rumah), Almenara (al-Manarah, mercusuar atau menara masjid, minaret dalam bahasa Inggris) dan Almaden (al-Maydan, tanah lapang).

Hingga awal abad 20, walau berbagai penulis seperti Gayangos, Weston, Taylor, Pihan, Perceval dan de Souza telah mengidentifikasi hal-hal tersebut, tapi studi yang lebih menyeluruh belum pernah dilakukan. Itu juga perlu dilakukan di Sisilia, bahkan Switzerland atau Swiss, di mana banyak pejuang legendaris Muslim yang kemudian menetap di sana.

SOURCE : islamicbulletin.com

Seorang Katolik Roman Menemukan Islam

Posted on


Alhamdulillah, saya menemukan dan membaca cerita indah ini dan untuk orang-orang yang mengira bahwa dia, Frank Estrada, telah membuat keputusan yang salah, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka…

Nama saya Frank Estrada. Saya dibesarkan sebagai penganut katolik Romawi. Saya adalah anak yang saleh. Bahkan saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang pendeta. Saya menerima ajaran gereja walaupun saya tak pernah menyetujuinya.

Ketika saya menjadi tentara di kesatuan marinir AS, saya dua kali ditugaskan ke kawasan Timur Tengah. Dengan cepat, kebencian saya terhadap Islam dan orang Arab membesar. Setelah tidak aktif, saya memutuskan bekerja di perusahaan administrator jaringan di Irak. Saya bekerja dengan orang Irak yang bernama Ahmed. Awalnya saya tidak percaya dia karena latarbelakangnya. Untungnya, dia sangat sabar menghadapi saya.

Karena ketidak-tahuan saya, perlahan-lahan dia mengajari saya tentang Rasulullah SAW dan Al-Qur’an. Dia tidak mengajariku dengan kata-kata. Tapi dia memperlihatkan dengan tindak tanduknya bahwa seorang Muslim bukanlah iblis. Lebih dari itu, dia juga mengajariku kebenaran firman-firman Allah.

Setelah kembali ke AS, saya mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh.  Saya mengambil kursus tentang agama-agama dunia di Mesa Community College. Meskipun di kursus tersebut saya mendapatkan pelajaran yang merugikan Islam, tapi ini semua justru semakin mendekatkan saya kepada Islam. Di kelas, saya bertemu dengan seorang perempuan muda bernama Amal. Berjam-jam kami ngobrol dan berdebat tentang Islam dan Katolik. Saya merasa argumen-argumennya sangat logis dan sangat beralasan.

Kemudian saya mengambil kursus Bahasa Arab sehingga saya bisa mempelajari dan mengerti Qur’an dengan baik. Perjalanan saya menuju Islam masih jauh. Saya bilang ke semua orang bahwa saya kenal orang-orang Muslim, tak sekedar kenal. Saya lihat kalau perbuatan mereka sesuai dengan perkataan mereka. Saya tidak melihat kemunafikan. Saya kemudian pergi ke Masjid di Tempe, Arizona. Di sana saya ngobrol dengan orang-orang Muslim dan juga imam mereka.

Apa yang membawa saya menjadi Muslim adalah Syahadat. Saya pelajari ini kemudian membandingkan dengan keyakinan saya selama ini. Saya bandingkan dengan Perintah Tuhan yang Pertama (First Commandment) dan saya menemukan kesamaan antara keduanya. Pada titik tersebut saya mendapatkan hidayah.

Katolikisme, bagaimanapun juga, adalah politeisme (menyembah banyak tuhan). Kenyataan ini menghancurkan saya. Saya tahu, di titik ini saya tidak bisa melakukan perintah Allah dan terus menyembah Nabi Yesus sebagai anaknya.

Saya ngobrol dengan istri saya. Dia khawatir dan tidak bicara banyak. Kami bicara berjam-jam apa yang harus dilakukan dalam keluarga kami. Kami pergi ke Masjid dan ngobrol dengan seseorang yang bernama Muhammed. Tak hanya hilang ketakutannya, istri saya kemudian memutuskan untuk masuk Islam juga.

Tidak diragukan, menjadi Muslim adalah keputusan yang tepat. Teman-teman dan keluarga saya, kecuali orang tua saya, sangat mendukung keputusan kami. Ayah saya tidak ngomong dengan saya hingga tiga bulan. Keluarga istri saya, sampai sekarang tidak mendukung. Tapi saya yakin, Allah SWT akan melunakkan hati mereka di kemudian hari.

Saya bersyukur kepada Allah karena telah mengirim orang-orang yang telah memperlihatkan kebenaran kepada saya. Lebih dari itu, saya bersyukur karena istri saya pun juga bergabung dengan saya dalam kebenaran Ilahi. Saya akan mengakhiri tulisan ini dan akan memulai hari baru. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.

 Sumber: darulkautsar.net

Steve Job and Advertising World

Posted on


Sulit menyangkal bahwa ada keterikatan antar orang-orang departemen kreatif agency di seluruh dunia. Apa itu? Komputer Apple bikinan Steve Job yang dicintai para pekerja kreatif. Karena aku bukan orang IT, maka aku gak akan bahas kehebatan komputernya. Tapi prinsip-prinsipnya memang sangat dekat dengan nilai-nilai yang kebanyakan pekerja kreatif anut.

Oke, kita bahas satu-persatu. Yang pertama, dan ini cukup mengusikku, ternyata Steve Job sama sekali tidak percaya dengan FGD (Focus Discussion Group). FGD adalah salah satu metode riset kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui apa yang diinginkan konsumen. Konsumen dikumpulkan dalam sebuah grup diskusi kecil (biasanya berisi 5-8 orang) yang dipandu oleh periset. Dari diskusi ini kita bisa mengetahui apa yang sesungguhnya konsumen inginkan.

Tapi ternyata Steve Job sangat anti sama metode ini seperti Henry Ford, orang yang dikaguminya. Henry Ford, pendiri Ford Motor yang sangat legendaris, pernah berkata bahwa jika dilakukan FGD sebelum mobil tercipta, pasti yang diinginkan konsumen “kuda yang lebih cepat”, bukannya mobil. Tak heran jika Steve Job sangat mempercayai ‘inovasi’.

Yang kedua, ketika Steve Job kembali lagi ke Apple yang sekarat, dan saat itu Apple punya sederet panjang produk yang gagal, Steve Job kemudian menghentikan produk-produk tersebut. Apple kemudian fokus hanya membuat sedikit produk, tapi sangat perfect. Bahkan, saking fokusnya, fitur-fitur yang hanya tempelan dihilangkan. Padahal kompetitor justru suka menambah fitur-fitur tambahan yang menurut Steve Job hanya akan membuat produknya jelek. Itu pemikiran yang cerdas dan berani.

Yang ketiga, Steve Job sangat percaya sama ‘experience marketing’. Menurutnya, ketika seseorang beli komputer, kesan pertama yang ada ketika membuka kardus kemasannya. Steve Job rela menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk ‘mendesain’ pengalaman pertama konsumen berkenalan dengan Macintosh. Semua dipikirkan, mulai desain kardus, urutan-urutan barang yang akan dikeluarkan, sebaiknya mouse dulu atau keyboard dulu. Semua itu sudah dirancang.

Kira-kira itu yang bisa aku ingat saat ini tentang Steve Job, sang pendiri komputer apel krowak…

HEBATNYA PRAMOEDYA MENYIHIR DENGAN BUMI MANUSIA

Posted on


Pramodya Ananta Toer. Nama itu aku kenal sudah lama sekali. Seingatku aku mendengar pertamanya ketika masih SD. Waktu itu Pram dilarang dan dicekal oleh rezim Orde Baru, rezim yang berkuasa saat itu. Pram dianggap terlibat dengan PKI. Bener enggaknya, aku juga tahu. Nama Pram makin sering terdengar ketika aku kuliah di Yogya. Teman-temanku banyak mengagumi penulis ini. Entah karena karakter pemberontaknya atau karena yang lain. Tapi saat itu saya masih belum kepengen untuk membaca bukunya. Pernah sekali membaca fotokopiannya karena aku penasaran. Bukan sebab yang lain. Waktu itu aku baca ‘Nyanyian Sunyi’. Itu juga kalau nggak salah. Maapin kalau salah sebut.

Dua belas tahun berlalu. Entah apa sebabnya, aku pun kemudian membeli salah satu karyanya. Sebenarnya aku sudah tahu kalau masterpiece Pram itu Tetralogi Buru-nya yang begitu melegenda di kalangan pecinta sastra. Di sebuah toko buku, aku pun membeli Arok Dedes. Lewat internet, aku membaca kalau kelebihan Pram adalah mengemas novel yang sarat dengan fakta-fakta sejarah. Aku yakin itu adalah hal yang amat sangat sulit. Dan Pram mampu meramu fakta-fakta sejarah itu ke dalam novelnya. Paling tidak itulah yang aku baca dari Arok Dedes. Dari situlah, aku kepengen baca Tetralogi Buru tersebut. Aku pun kemudian membeli Bumi Manusia, novel pertama dari Tetralogi ini dengan setting cerita sekitar tahun kebangkitan pribumi melawan kolonialisme Belanda.

Bumi Manusia bercerita tentang Minke, seorang priyayi Jawa yang bisa sekolah HBS di Surabaya. Minke adalah seorang yang cerdas. Dia punya pekerjaan sampingan sebagai penulis kolom dan juga penulis iklan. Mungkin dia adalah orang pertama yang menjadi copywriter di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Perjalanan hidupnya mengantarkan pada sebuah percintaan yang dahsyat dan indah. Namun sayang beribu sayang. Keindahan itu hancur lebur karena kesewenang-wenangan hukum kolonialisme. Aku gak akan banyak bercerita tentang isi bukunya, karena menurutku lebih nikmat kalau Anda baca sendiri tanpa mengetahui sama sekali dengan jalan ceritanya, apalagi akhir cerita. Hanya aku pengen sharing tentang apa yang aku rasakan setelah membaca novel ini.

Pertama, bagiku novel ini memuaskan keingintahuanku tentang jaman pergerakan. Terus terang, aku belum menemukan novel yang bersettingkan jaman itu. Yang ada malah buku sejarah yang sama sekali tidak hangat. Harus aku angkat kedua jempolku, Pram memang sesuai dengan reputasinya selama ini, sebagai penulis novel sejarah terbaik. Two thumbs up! Novel ini menyajikan detil-detil sejarah yang mengagumkan dengan keakuratan yang cukup tinggi. Aku jadi ragu, apakah ini novel atau buku sejarah saking detil dan akuratnya.

Kedua, novel ini mampu membangkitkan sisi emosional kita sebagai bangsa Indonesia atau pribumi, warga kelas paling bawah yang samasekali tidak berhak apa-apa atas tanah airnya sendiri. Membaca novel ini beneran membangkitkan rasa nasionalisme. Heran juga kenapa dilarang.

Ketiga, bagiku novel ini sangat jujur dalam mengkritisi budaya pribumi, khususnya budaya Jawa. Kebetulan aku sendiri dibesarkan dalam lingkungan Jawa, walaupun tak sekolot jaman Minke. Selama ini kita (paling gak aku merasa), kebudayaan leluhur adalah kebudayaan yang adiluhung, sesuatu yang harus dihormati. Apapun yang berbau adat pasti dianggap benar. Tapi dalam Bumi Manusia ini semua bisa terbalik. Di sini dengan cermat Pram mengkritisi feodalisme Jawa yang memang keterlaluan. Bukan aku menganggap budaya semuanya jelek, tapi apa yang dikatakan Pram dalam novelnya benar juga. Aku gak tahu, apa gara-gara hal ini Tetralogi ini sempat dilarang beredar oleh rezim Orde Baru.

Ada satu hal yang masih aku ingat setelah aku selesai membaca. Bundanya Minke yang datang karena Minke akan menikah dengan Ann yang cantik luar biasa bilang bahwa Minke beruntung karena Minke bisa mendapatkan gadis secantik ini tanpa harus perang. Karena para penguasa Jawa pasti akan saling memperebutkan wanita secantik ini dengan mengerahkan balatentara. Walaupun sudah mengkawininya, juga bukan permasalahan mudah mempertahankannya. Para raja Jawa dulu selalu membawa segalanya negeri yang dikalahkan. Tak hanya harta benda, anak perempuan dan istri pun juga diembat oleh sang penakluk. Masih menurut Bundanya Minke, itu kenapa orang Belanda dianggap masih lebih baik daripada para raja Jawa itu. Belanda hanya menguras hasil bumi, tapi istri dan anak perempuan kita masih aman tanpa dijamah. Halah! Parah juga bangsa ini! Bener atau tidak, waallahu ‘alam.

Itu pendapat saya. Kalau mau beda pendapat, ya monggo. Tapi sementara aku cuman bisa sharing Bumi Manusia saja. Seterusnya aku belum bisa nulis soalnya belum baca. So, tunggu ya di tulisan berikutnya.

JALAN BANDUNGAN

Posted on


Membaca novel Jalan Bandungan karya NH Dini terbit perasaan nostalgia dalam hati saya. Menggunakan gaya bahasa yang formal (bagiku mirip kayak Kompas, cmiiw), novel ini menceritakan seorang istri yang ‘kehilangan’ suaminya. Suaminya tak pernah kembali pada suatu sore seusai jam kantor. Suaminya terlibat dengan kegiatan PKI sehingga kemudian ditangkap dan dibuang ke pulau Buru.

Setelah suaminya tak pulang, sang istri kemudian berusaha bertahan hidup, membesarkan dan membiayai ketiga anaknya. Dalam perjalanan waktu, sang istri ini kemudian jatuh cinta kepada adik suaminya. Harus kuakui, novel ini terasa sekali dramanya dan mungkin akan sangat disukai oleh kaum ibu.

Dengan setting berbagai jaman, mulai jaman revolusi, orde lama dan awal orde baru, novel ini jelas sekali mencerminkan ideologi pengarang yang cenderung feminis liberal. Aku tidak terlalu tertarik dengan ideologi NH Dini dan juga tidak ingin membahasnya di sini. Aku justru tertarik potret kehidupan di jaman awal Orde Baru. Terasa sekali bagiku, bagaimana benih-benih korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh di negeri ini. Bagaimana Sang Istri ini mendapatkan bantuan Mas Gun, seorang provost tentara dan mantan anak buah ayahnya yang berjuang di jaman revolusi fisik. Atau bisa juga kita lihat, bagaimana Sang Istri bisa berangkat sekolah ke Belanda berkat campur tangan teman dari ayah temannya. Cermati juga bagaimana sang istri sering mendapatkan proyek dari sepupunya Winar, suami dari sahabatnya.

Mungkin di jaman itu, KKN dipandang sebagai bantuan, pertolongan dan perwujudan dan saling setia kawan. Mungkin itu benar di jaman itu. Benar karena lazim. Benar karena semua orang juga melakukannya. Ah sudahlah, baca saja bukunya. Tapi ingat, jangan telan mentah-mentah ya. Nanti muntah!

EAT, PRAY AND LOVE : BETAPA RAPUHNYA WANITA AMERIKA SERIKAT

Posted on


Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya saya mengingatkan Anda bahwa tulisan ini adalah murni dari pandangan saya. Saya mengabaikan segala macam tentang teori resensi apalagi teori sastra. Di sini saya hanya bercerita tentang pengalaman membaca buku karya Elizabeth Gilbert ini.

Terus terang, saya beli buku ini setelah heboh diangkatnya cerita buku ini ke layar lebar, di mana Julia Robert jadi pemeran utama dan shootingnya dilakukan di Bali yang sangat-sangat eksklusif. Saya tidak terlalu peduli dengan status bestseller di New York, apalagi peduli dengan nilai sastra yang ada di dalamnya. Saya merasa tertarik dengan bagaimana orang barat, terutama orang New York yang sangat cosmopolitan, memandang bagaimana Indonesia dengan budayanya.

Buku ini bercerita tentang pengalaman spiritual Elizabeth Gilbert (Liz), sang penulis, yang sedang mencari ketenangan batin setelah perceraian di tiga negara yang semuanya berawalan dengan huruf “i”, Italia, India dan Indonesia. Sang penulis mencari ketenangan setelah perkawinannya kandas. Buku ini adalah kisah nyata, hanya saja nama-nama karakternya adalah samaran.

Eat, Pray, Love bercerita pengalaman spiritual di tiga negara tersebut. Di Italia Liz belajar bahasa Italia yang dianggapnya begitu indah dan menikmati makanannya sehingga berat badannya bertambah duapuluh tiga pound. Di India Liz belajar meditasi yoga sedangkan di Indonesia Liz akhirnya mengenal apa itu cinta tanpa pamrih.

Mungkin ini adalah tipikal cara pandang orang barat. Bagiku mereka tampak begitu rapuh dan tak mempunyai “apapun” untuk berpegangan ketika ada masalah. Sepertinya mereka benar-benar tak punya tujuan yang jelas dalam hidup kecuali hidup dengan layak secara materi. Bayangkan, pada usia tigapuluhan Liz sudah mempunyai segalanya; terpelajar, karir cemerlang, suami yang baik serta rumah yang bagus. Tetapi bukan merasa bahagia, Liz justru merasa terkungkung. Apalagi ketika suaminya menginginkan anak yang menurut Liz itu hanya akan merepotkan saja. Aneh.

Bagiku, mungkin karena sesama lelaki, adalah manusiawi ketika suami menginginkan seorang sebagai anak sebagai penerus keturunannya. Jika mengurus sang anak itu sangat merepotkan, itu adalah konsekuensi logis. Tapi ternyata Liz tidak menginginkan anak karena tahu betapa repotnya. Hal inilah yang membuat perceraian Liz dengan suaminya, yang menurut pengakuan Liz mantan suaminya itu masih dicintainya. Bagiku itu adalah ‘bodoh’ karena berusaha melawan kodratnya sendiri sebagai manusia. Perceraian pun terjadi, stress pun makin menjadi. Bahkan Liz pernah berusaha untuk bunuh diri. Seperti kebanyakan wanita modern yang ambisius, Liz tampak begitu rapuh dan kesenangannya hanyalah pengejaran ‘mimpi-mimpi’ yang berupa karir, ataupun perjalanan-perjalanan keliling dunia. Tanpa tahu apa yang dicari.

Aku masih tidak memahami, kenapa Liz menjual segalanya hanya untuk mencari kebahagiaannya yang sebenarnya tinggal disett ulang dalam otak dan hatinya saja. Lihat juga, betapa piciknya pandangannya yang menganggap repot mengurus anak, tanpa tahu betapa kerepotan itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan karena mempunyai anak dan keluarga. Mungkin inilah buah dari emansipasi yang kebablasan. Mungkin inilah yang selalu diinginkan oleh kaum feminis. Ketika krisis itu datang, terlihat sekali kalau Liz samasekali tidak punya pegangan hidup yang menyelamatkan dirinya dari kegilaan dan depresi. Lihatlah, ketika krisis mendera, Liz justru ingin belajar bahasa Italia, belajar yoga dan bersantai begitu saja di Bali. Bagiku itu aneh, samasekali aneh.

Terus terang, saya melewatkan bagian Italia dan India. Saya tidak tertarik. Bagiku itu hanyalah episode pelarian yang tidak jelas samasekali. Aku tidak merasa jatuh kasihan terhadap Liz. Aku justru merasa Liz terlihat seperti orang bodoh yang keras kepala. Untuk bagian Bali, aku lumayan tertarik karena ingin mengetahui cara pandang orang barat seperti Liz terhadap Indonesia.

Untuk bahan bacaan, sepertinya buku ini samasekali tidak saya rekomendasikan. Saya merasa tidak terhibur apalagi merasa terkayakan. Ini hanyalah bentuk lain dari tangisan Elizabeth Gilbert yang tak perlu kita dengarkan, apalagi kita pikirkan. Baca saja malas, apalagi nonton filmnya…malas!

KENAPA SIH, AL-QUR’AN ITU DISEBUT MUKJIZAT?

Posted on


Pertanyaan itu menggantung di benakku sejak aku masih kecil. Nabi Nuh as mempunyai mukjizat yang bisa mendatangkan banjir besar. Nabi Musa as bisa mengubah tongkat menjadi ular besar dan membelah lautan. Nabi Ibrahim as bermukjizat tahan terhadap api. Lalu Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir dan yang paling utama, kok mukjizatnya Al-Qur’an ya? Lalu apa hebatnya Al-Qur’an dibandingkan mukjizat-mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya?

Jawaban ini akhirnya aku temukan di buku Nabi-Nabi Allah karangan Ahmad Bahjat, yang terjemahan Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Qisthi Press. Dalam buku tersebut aku mulai memahami kehebatan Al-Qur’an dari sisi yang aku mengerti, yaitu dari sisi sastra. Sebenarnya banyak sekali buku yang menjelaskan kelebihan Al-Qur’an, tapi buku ini adalah buku pertama bagiku yang membuka hatiku untuk menyelami keindahan dan kehebatan Al-Qur’an. Dan ini adalah sebuah bukti untukku bahwa kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an tak mungkin dibuat oleh manusia. Membaca buku tersebut membuatku berkeinginan untuk mempelajari bahasa Arab, karena dengan memahami bahasa Arab kita akan lebih bisa merasakan keindahan Al-Qur’an.

Allah menurunkan mukjizat disesuaikan dengan jaman di mana Nabi yang membawa mukjizat tersebut hidup. Mukjizat yang bisa dilihat dan dirasakan panca indera manusia diturunkan ketika manusia meminta bukti kerasulan seorang Nabi dengan sesuatu yang menakjuban di luar kewajaran. Tapi ketika manusia semakin “matang” dan “dewasa”, mukjizat yang diturunkan Allah pun berbeda. Dengan kata lain, Allah membekali para Rasul-Nya dengan mukjizat yang sesuai dengan kondisi, zaman dan pengetahuan manusia ketika itu. Nabi Musa diberi mukjizat mengubah tongkat menjadi ular besar karena pada zaman Fir’aun semua orang menyukai sihir dan para penyihir mempunyai posisi yang terhormat. Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa as melebihi ilmu sihir dan ini membuktikan bahwa kelebihan Nabi Musa as ini berasal dari Allah semata. Nabi Isa as hidup di jaman keemasan bangsa Romawi yang sangat maju dalam ilmu kedokteran dan hukum. Maka mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa as adalah sesuatu yang menghebohkan di bidang kedokteran sekaligus hukum, yaitu menghidupkan seseorang yang telah lama mati karena dibunuh, kemudian menanyainya siapa pembunuhnya. Kemampuan ini melampaui ilmu kedokteran dan hukum sekaligus dan merupakan sesuatu di luar kendali akal manusia. Memang, manusia zaman itu menghendaki hal-hal semacam ini untuk percaya akan kerasulan Nabi Isa as.

Ketika peradaban manusia makin maju dan ilmu menjadi pemimpin alam, maka “kalimat” atau buku adalah hal yang sangat penting. Sudah menjadi kehendak Allah bahwa manusia sudah tidak puas dengan mukjizat yang aneh-aneh. Manusia zaman sekarang ini sangat menghargai logika atau nalar. Maka Allah pun menurunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat di zaman Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman. Metode, nilai, aturan, kisah, hukum dan semua yang tertulis di dalamnya adalah mukjizat. Dan untuk saat ini kita hanya akan membahas kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi penuturan kisah para Nabi, di mana bahasan ini lebih dekat dengan sastra.

*** *** ***

Di dalam Al-Qur’an banyak termuat tentang kisah-kisah, dan kisah yang paling urgen adalah kisah-kisah para Nabi. Mustahil bagi seorang penulis –walaupun dia adalah penulis yang jenius- untuk bercerita tentang kisah yang sama, diulang berulangkali hingga sepuluh kali, tetapi masih mamupu mempertahankan tingkat substansi dan nilai yang setara pada kesepuluh kisah yang diulang-ulangnya tersebut. Bisa dipastikan ada penurunan nilai dan substansi pada beberapa ulangan kisah tersebut. Dan dapat dipastikan pula, dia akan mengulangi kisah yang sama tersebut dengan kesan yang sama pula seperti penuturan kisah yang pertama. Mustahil baginya dia menyajikan hal yang baru pada kesepuluh ulangan tersebut.

Tapi ternyata penurunan nilai dan substansi tersebut tidak terjadi pada penuturan kisah di dalam Al-Qur’an, walaupun kisah tersebut diulang-ulag hingga 15 kali! Anda pasti akan terkagum-kagum, bagaimana sebuah kisah diulang-ulang hingga lima belas kali tanpa harus mengurangi nilai dan substansinya di setiap pengulangannya. Kisah yang dituturkan sama, derajat yang dituturkan juga sama tapi pada tiap pengulangan kita bisa rasakan kesan yang berbeda. Ini karena di setiap pengulangan adanya penambahan kalimat, atau pengurangan kata, atau pengungkapan dengan kata-kata baru, atau dengan rangkaian kata yang belum pernah ditulis, atau hanya dengan lintasan ide di dalam hati yang belum pernah ada sebelumnya. Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengagumkan! Kesimpulannya adalah kisah-kisah Nabi dalam Al-Qur’an ini jelas-jelas ditulis bukan oleh manusia, tapi oleh Allah Tuhan seru sekalian alam.

Mari kita simak kisah tentang Nabi Musa as. Allah menceritakan kisah Musa yang sedang berhadapan dengan api suci di bukit Thuwa dengan beberapa kali pengulangan. Pada penuturan pertama, Allah menuturkan kisah ini dengan efek yang menakutkan, mengkhawatirkan sekaligus rasa keagungan pada diri pembacanya. Lalu, pada penuturan kedua, Allah menuturkan kisah ini lagi, tapi efek yang dirasakan pembaca adalah rasa cinta, kasih sayang dan harapan. Padahal keduanya menuturkan kisah yang sama, dengan pelaku yang sama yaitu Musa dan tongkatnya. Tak ada sedikitpun perubahan dalam kisah itu, baik tokoh maupun alur ceritanya.

Demikian itulah salah satu keistimewaan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Di dalamnya tersimpan keistimewaan sebuah mukjizat. Sesungguhnya kata-kata itu tidak sekedar bercerita kepada Anda, tapi kata-kata itu telah bergerak dalam benak Anda dan memainkan sebuah cerita di sebuah panggung. Anda akan dapat melihatnya dan mendengarnya. Anda pun akan menganggap bahwa ini adalah teater yang paling hebat yang pernah ada karena setiap kali sebuah lakon selesai dan kemudian Anda membaca lagi sebuah lakon yang sama dalam versi lain, Anda pun masih saja dibuat ternganga dalam kekaguman.

Di antara kisah-kisah Al-Qur’an yang dikemas secara dramatis adalah kisah Nabi Hud as dan kisah Nabi Shalih as. Sedangkan kisah yang disajikan dengan metode yang mirip dengan film adalah kisah Nabi Yusuf as dan kisah Nabi Musa as.

Al-Qur’an diturunkan pada 14 abad yang lalu, yang pada waktu itu belum ditemukan kaidah-kaidah cerpen, drama atau pun film. Tak ada orang yang menceritakan sebuah kisah dengan tiga kaidah seni tersebut pada waktu itu. Hingga akhirnya orang Eropa-lah yang berhasil mengadopsi pertama kali cara penuturan tersebut dari Al-Qur’an untuk menceritakan berbagai kisah. Orang-orang Eropa ini pada akhirnya mengetahui bentuk-bentuk ekspresi seni tanpa syair dan kisah-kisah legenda kuno dari Al-Qur’an.

*** *** ***

Kisah Nabi Musa as diulang kurang lebih dalam 30 tempat. Kisah ini adalah kisah yang paling banyak diulang dalam Al-Qur’an. Ini termasuk kisah yang paling populer. Sedangkan kisah Nabi Ibrahim as diulang di 20 tempat. Di setiap pengulangan pasti ada hikmah yang terkandung, seperti yang telah kita bahas di atas.

Tidak hanya pengulangan cerita, kisah para Nabi di Al-Qur’an ini selalu mempunyai rujukan kembali pada misi agama. Kesan seperti itu diperoleh kalau kita mau melihat cara penyajian kisahnya yang disesuaikan dengan keadaan atau tema yang ada. Terkadang penyajian kisah tersebut dimulai dari awal, atau bisa juga dari tengah, atau bisa juga dari akhir. Terkadang satu kisah dipaparkan secara lengkap, terkadang beberapa bagian saja, dan terkadang menurut kebutuhan saja; tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu lengkap. Meskipun begitu, semua ini tidak mengurangi makna yang terkandung. Yang harus diingat juga adalah, Al-Qur’an bukanlah sebuah buku sejarah walaupun Al-Qur’an banyak mengandung sejarah. Al-Qur’an adalah kitab dakwah untuk menyeru ke jalan Allah.

Dalam kisah para nabi ada sejumlah kisah yang dimulai sejak kelahiran sang nabi. Seperti kisah Nabi Adam as misalnya, yang di dalamnya ada penegasan hukum Allah dan peniupan ruh. Demikian pula kisah kelahiran Nabi Isa as, yang lahir tanpa adanya perantara pernikahan, di mana ibunya, Maryam sang perawan suci, hamil tanpa pernah disentuh oleh seorang lelaki. Juga kisah tentang kelahiran Musa as, yang saat itu Fir’aun memerintahkan semua bayi Bani Israel harus dibunuh. Namun Allah berkehendak lain, Musa as yang masih bayi justru mendapatkan perlindungan dari istana Fir’aun sendiri yang nantinya adalah musuh besarnya.

Di sana juga ada beberapa kisah nabi yang dilewatkan masa kelahirannya dan kisahnya dimulai ketika dia sudah remaja atau pun dewasa. Salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf as. Kisah ini dimulai dengan mimpi Yusuf di waktu kecil. Setelah itu, mimpi Yusuf menjadi peran utama dalam kehidupannya hingga kemudian mimpi itu menjadi nyata. Sementara kisah Ibrahim as diawali dengan masa mudanya. Ibrahim muda memandang langit dan kemudian merenung, bagaimana mungkin manusia menyembah bulan, bintang atau matahari, padahal semua itu makhluk yang bisa terbit dan bisa pula terbenam. Kisah Nabi Daud as juga dimulai pada masa mudanya. Daud muda yang samasekali tak mengerti tentang perang, tiba-tiba berperang untuk menghadapi Jalut, raja pemberani yang jago berkelahi pada masanya. Daud yang masih hijau harus berhadapan dengan panglima perang yang paling perkasa waktu itu. Namun Allah menolong Daud dan memenangkannya dalam pertempuran tersebut.

Ada juga kisah yang langsung memaparkan episode terakhir, seperti kisah Nabi Nuh as, Hud as, Shalih as, Syu’aib as dan beberapa nabi lainnya. Al-Qur’an tidak memberitahu kita tentang kelahiran atau masa muda mereka. Namun tiba-tiba para Nabi ini dikisahkan sudah membawa risalah dari Allah dan kita menyaksikan kisah para nabi tersebut dalam menjalankan tugasnya sebagai Nabi.

Kisah-kisah Al-Qur’an ini juga ada yang diceritakan dengan detail yang luar biasa, ada juga yang hanya sebagian peristiwa. Kisah yang diceritakan secara detail dan panjang seperti kisah Nabi Musa as, Ibrahim as, serta Nuh as. Dalam Al-Qur’an juga dikisahkan beberapa kisah yang dipaparkan tanpa adanya nama tokoh atau pun jumlah mereka seperti kisah tentang Ashhabul Kahfi. Dalam kisah tersebut hanya disebutkan masa tidur mereka di dalam gua bersama anjing mereka di dalam gua selama 309 tahun.

Dalam membaca kisah para Nabi di Al-Qur’an, Ahmad Bahjat memposisikan dirinya sebagai kritikus seni, yang selalu mencari celah untuk melontarkan kritik atau pun komentar. Tapi, setiap kali dia selesai membaca sebuah kisah dia langsung tersungkur untuk bersujud kepada Allah, dan dia bertambah yakin jika kisah tersebut bukanlah buatan manusia, ide-ide kisah itu juga bukan buatan manusia, kata-kata yang terucap juga bukan buatan manusia, adegan yang ada jelas bukan rekayasa manusia, dan semua yang terdapat di kisah tersebut samasekali tak ada campur tangan manusia. Semua kisah yang ada di Al-Qur’an berasal dari Allah Yang Maha Kuasa semata, mulai dari ide yang tertuang, cara penyampaian, metode pemaparan kisah hingga susunan dan keserasian dalam metode tersebut.

Semoga tulisan ini menjadi sebuah cahaya bagi Anda, dan juga bagi saya sendiri. Amin.