Seorang Katolik Roman Menemukan Islam

Posted on


Alhamdulillah, saya menemukan dan membaca cerita indah ini dan untuk orang-orang yang mengira bahwa dia, Frank Estrada, telah membuat keputusan yang salah, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka…

Nama saya Frank Estrada. Saya dibesarkan sebagai penganut katolik Romawi. Saya adalah anak yang saleh. Bahkan saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang pendeta. Saya menerima ajaran gereja walaupun saya tak pernah menyetujuinya.

Ketika saya menjadi tentara di kesatuan marinir AS, saya dua kali ditugaskan ke kawasan Timur Tengah. Dengan cepat, kebencian saya terhadap Islam dan orang Arab membesar. Setelah tidak aktif, saya memutuskan bekerja di perusahaan administrator jaringan di Irak. Saya bekerja dengan orang Irak yang bernama Ahmed. Awalnya saya tidak percaya dia karena latarbelakangnya. Untungnya, dia sangat sabar menghadapi saya.

Karena ketidak-tahuan saya, perlahan-lahan dia mengajari saya tentang Rasulullah SAW dan Al-Qur’an. Dia tidak mengajariku dengan kata-kata. Tapi dia memperlihatkan dengan tindak tanduknya bahwa seorang Muslim bukanlah iblis. Lebih dari itu, dia juga mengajariku kebenaran firman-firman Allah.

Setelah kembali ke AS, saya mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh.  Saya mengambil kursus tentang agama-agama dunia di Mesa Community College. Meskipun di kursus tersebut saya mendapatkan pelajaran yang merugikan Islam, tapi ini semua justru semakin mendekatkan saya kepada Islam. Di kelas, saya bertemu dengan seorang perempuan muda bernama Amal. Berjam-jam kami ngobrol dan berdebat tentang Islam dan Katolik. Saya merasa argumen-argumennya sangat logis dan sangat beralasan.

Kemudian saya mengambil kursus Bahasa Arab sehingga saya bisa mempelajari dan mengerti Qur’an dengan baik. Perjalanan saya menuju Islam masih jauh. Saya bilang ke semua orang bahwa saya kenal orang-orang Muslim, tak sekedar kenal. Saya lihat kalau perbuatan mereka sesuai dengan perkataan mereka. Saya tidak melihat kemunafikan. Saya kemudian pergi ke Masjid di Tempe, Arizona. Di sana saya ngobrol dengan orang-orang Muslim dan juga imam mereka.

Apa yang membawa saya menjadi Muslim adalah Syahadat. Saya pelajari ini kemudian membandingkan dengan keyakinan saya selama ini. Saya bandingkan dengan Perintah Tuhan yang Pertama (First Commandment) dan saya menemukan kesamaan antara keduanya. Pada titik tersebut saya mendapatkan hidayah.

Katolikisme, bagaimanapun juga, adalah politeisme (menyembah banyak tuhan). Kenyataan ini menghancurkan saya. Saya tahu, di titik ini saya tidak bisa melakukan perintah Allah dan terus menyembah Nabi Yesus sebagai anaknya.

Saya ngobrol dengan istri saya. Dia khawatir dan tidak bicara banyak. Kami bicara berjam-jam apa yang harus dilakukan dalam keluarga kami. Kami pergi ke Masjid dan ngobrol dengan seseorang yang bernama Muhammed. Tak hanya hilang ketakutannya, istri saya kemudian memutuskan untuk masuk Islam juga.

Tidak diragukan, menjadi Muslim adalah keputusan yang tepat. Teman-teman dan keluarga saya, kecuali orang tua saya, sangat mendukung keputusan kami. Ayah saya tidak ngomong dengan saya hingga tiga bulan. Keluarga istri saya, sampai sekarang tidak mendukung. Tapi saya yakin, Allah SWT akan melunakkan hati mereka di kemudian hari.

Saya bersyukur kepada Allah karena telah mengirim orang-orang yang telah memperlihatkan kebenaran kepada saya. Lebih dari itu, saya bersyukur karena istri saya pun juga bergabung dengan saya dalam kebenaran Ilahi. Saya akan mengakhiri tulisan ini dan akan memulai hari baru. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.

 Sumber: darulkautsar.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s