KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 28)

Posted on


KISAH DAUD AS MELAWAN JALUT (DAVID VS GOLIATH)

Sejak kehilangan tabut, Bani Israel terus menerus kalah dalam peperangannya. Bani Israel kemudian terusir dari tanah mereka dan keadaan mereka semakin memburuk.

Dalam kondisi memprihatinkan tersebut, seorang perempuan dari suku Lewi yang sedang mengandung, terus menerus berdoa agar dikaruniai bayi laki-laki. Ternyata doanya dikabulkan Allah. Seorang bayi laki-laki lahir dan diberi nama Asymuel (Samuel).

Ketika anak itu cukup umur, sang ibu mengirimnya ke seorang lelaki saleh untuk belajar kebaikan dan ibadah kepadanya. Ketika sudah dewasa, pada suatu malam, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dari arah tempat ibadah. Samuel kemudian menghampiri gurunya karena menyangka dia yang memanggil.

“Apakah Anda tadi memanggilku?” tanya Samuel. Karena tak ingin diganggu maka sang guru menjawabnya, “Benar, tidurlah kembali.”

Samuel pun tidur kembali.

Namun suara itu memanggilnya untuk kedua kali, kemudian ketiga kali. Akhirnya Samuel sadar bahwa yang memanggilnya adalah malaikat Jibril.

“Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu,” kata Jibril.

Pada suatu hari, kepada nabi itulah Bani Israel mengadu.

“Bukankah kami kaum yang terzalimi?” tanya mereka.

“Benar,” jawab nabi tersebut.

“Bukankah kami kaum yang terusir dari negeri kami?” kata mereka.

“Benar.” Jawab nabi itu pendek.

“Utuslah untuk kami, seorang raja yang mempersatukan kami, agar kami bisa berperang di jalan Allah di bawah satu panji, merampas kembali tanah kami dan kehormatan kami yang pernah dimiliki,” kata mereka.

“Apakah kalian yakin mau berperang jika diwajibkan?” tanya nabi itu.

“Mengapa tidak? Kami telah diusir dari negeri kami. Anak-anak kami terlantar, dan keadaan kami sangat memprihatinkan,” jawab mereka menyakinkan.

“Baiklah. Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu,” jawab nabi itu.

“Bagaimana bisa Thalut menjadi raja? Padahal kami lebih berhak. Dia bukan orang kaya, banyak orang yang lebih kaya daripada Thalut di antara kami,” kata mereka meremehkan.

“Sesungguhnya Allah menganugerahinya ilmu yang luas dan badan yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya,” jawab nabi itu dengan penuh keyakinan.

“Apa tanda-tanda kekuasaan Thalut sebagai raja?” tanya mereka.

“Taurat kalian yang telah dirampas akan kembali ke tangan kalian. Malaikat akan membawakannya. Itulah tanda-tanda bahwa dia seorang raja,” jawab nabi itu.

Akhirnya Taurat yang sebelumnya dirampas musuh telah kembali. Maka dimulailah pembentukan pasukan Thalut. Sedangkan di pihak musuh, rajanya bernama Jalut, seorang ahli pedang hebat yang belum terkalahkan.

Setelah semuanya sudah siap, berangkatlah Thalut dan tentaranya menuju Jalut, melewati padang pasir dan pegunungan panas. Sebelum berangkat Thalut berpesan ke tentaranya, “Di tangah perjalanan yang panas ini, kita akan menemui sebuah sungai. Barangsiapa yang minum air sungai tersebut, dia harus keluar dari barisan ini. Barang siapa yang tidak minum atau yang hanya menceduk air dengan tangannya, maka dia boleh terus bersama pasukanku.”

Akhirnya di tengah perjalanan, Thalut dan pasukannya menjumpai sebuah sungai. Sebagian besar pasukan minum dan harus keluar dari pasukan. Sebenarnya ini adalah ujian Thalut untuk mengetahui siapa saja yang masih patuh terhadap dirinya. Jumlah pasukannya menyusut banyak, tapi walau hanya dalam jumlah kecil, pasukan Thalut mempunyai keberanian dan keimanan yang luar biasa.

Tibalah saatnya pasukan Thalut yang kecil berhadapan dengan pasukan Jalut yang luar biasa besar.

“Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka?” tanya prajurit yang berhati lemah.

“Yang penting bukan jumlah, tapi keimanan dan keberanian. Atas izin Allah, ada banyak kaum kecil yang bisa mengalahkan pasukan berjumlah lebih besar,” jawab prajurit yang punya keimanan lebih baik.

Kedua pasukan sudah saling berhadapan. Muncul Jalut dengan baju besinya, tangan yang menggenggam pedang, kapak dan belati sekaligus. Jalut menantang duel siapapun. Tak satu pun prajurit Thalut berani meladeni tantangannya.

Tiba-tiba, dari barisan pasukan Thalut, muncul seorang penggembala kambing bertubuh kecil yang bernama Daud. Dia adalah seorang mukmin, seorang yang beriman. Daud menyadari bahwa yang menentukan kemenangan bukanlah banyaknya senjata atau besarnya fisik ataupun penampilan yang gahar. Daud yakin bahwa keimanan pada Allah-lah yang menjadi kekuatan hakiki.

Daud maju hanya dengan membawa tongkat, lima buah batu dan ketapel. Melihat perlengkapan Daud yang minim, Jalut tertawa mengejeknya. Dengan tenang Daud memasang batu di ketapelnya lalu membidikannya ke arah Jalut. Karena Daud adalah orang yang mencintai Allah, angin pada waktu itu ikut membantu Daud dengan mendorong keras batu tersebut sehingga menghantam tepat di kening Jalut. Jalut yang bersenjata lengkap saat itu langsung jatuh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa. Daud kemudian mengambil pedangnya dan perang di antara kedua pasukan pun mulai berkobar.

Kisah pertempuran Daud melawan Jalut sangat terkenal. Masyarakat barat mengenalnya dengan sebutan David vs Goliath. Setelah kejadian tersebut, Daud jadi sangat terkenal di kaumnya. Thalut kemudian menjadikannya seorang menantu dan panglima perang sekaligus.

Daud adalah orang yang pertamakali mengetahui kalau besi bisa dilebur dan dibentuk-bentuk sesuai keinginan dengan menggunakan api. Daud kemudian membuat baju besi dari potongan-potongan besi kecil yang terangkai. Baju besi model ini memungkin pemakainya bisa bergerak lebih bebas dalam pertempuran dan tetap terlindungi dari serangan lawan. Tak heran jika pasukan Daud selalu menang dalam setiap pertempuran.

Daud adalah manusia yang jiwanya benar-benar suci, bening dan tidak ada tabir yang menghalanginya dengan alam raya. Jika Daud duduk dan bertasbih kepada Allah, seluruh alam ini seolah  meresapi merdu suaranya, gunung-gunung menikmati getaran tasbihnya. Semuanya seakan berpadu dalam satu melodi yang mengagungkan Allah.

“Bersabarlah atas segala yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS Shad : 17-20)

Kemudian Allah memilih Daud sebagai seorang nabi dan menurunkan kitab Zabur kepadanya.

“Dan Kami berikan Zabur (kepada) Daud.” (QS Al-Isra: 55)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s