KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 26)

Posted on


KISAH MUSA AS DAN KHIDIR AS

Ini adalah kisah yang paling misterius yang ada dalam Al-Qur’an. Bahkan saking misteriusnya kisah ini banyak melahirkan madzhab-madzhab sufi. Kisah ini bahkan melahirkan sebuah keyakinan akan ada hamba Allah yang pada hakekatnya bukan nabi atau syahid, tapi keilmuannya membuat iri para nabi dan syuhada. Dan kisah inilah yang mengawalinya, waallahu ‘alam.

Tapi terlepas dari itu semua, ada baiknya kalau kita simak kisah Musa dan Khidir, karena di dalam kisah tersebut banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Kisah ini terdapat dalam surat Al-Kahfi.

Kisah dimulai dengan ayat berikut ini, yang mengisahkan Musa dan keinginannya dalam hati,

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi : 60)

Kalimat yang masih samar artinya menunjukkan bahwa Musa ditunggu oleh sebuah janji di tempat pertemuan dua buah lautan. Sebuah janji yang sepertinya sangat penting. Beberapa ahli tafsir mengatakan tempat itu adalah tempat bertemunya laut Persia dengan laut Romawi. Tapi ada juga yang mengatakan laut Yordania dengan laut Qazam. Yang lain mengatakan di Afrika, ada juga yang di Andalusia. Yang jelas, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik di mana tempat pertemuan dua buah lautan tersebut.

Musa yang adalah salah seorang Ulul ‘Azmi, nabi yang diberikan mukjizat tongkat dan tangan, nabi yang diberi Taurat tanpa perantara, nabi yang berdialog langsung dengan Allah, seorang nabi yang mulia, tapi dalam kisah ini beliau berubah menjadi seorang rendah hati, berjalan jauh untuk mencari seorang guru agar bisa belajar darinya. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama orang yang dicari Musa, tapi As-Sunnah menjelaskan bahwa orang itu adalah nabi Khidir as.

Ketika akhirnya bertemu, pada awalnya, Khidir tidakmau diikuti oleh Musa. Khidr menjelaskan bahwa Musa tak akan sanggup untuk bersabar jika mengikutinya. Musa terus saja mengikuti hingga akhirnya Khidr menyetujui Musa ikut dirinya dengan syarat, Musa tidak boleh menanyakan segala hal sebelum dia sendiri yang menjelaskannya.

Musa dan Khidir berjalan menyusuri pantai. Ketika berjalan, lewat sebuah perahu. Musa dan Khidir meminta pemilik perahu untuk sudi mengangkut mereka. Si pemilik perahu ternyata mengenal Khidir dan mau mengangkut mereka dengan gratis, sebagai bentuk penghormatan. Ketika perahu berangkat, tanpa sepengetahuan pemilik perahu, Khidir melubangi perahu itu sehingga perahu itu tenggelam.

Dalam pandangan Musa, tindakan Khidir ini adalah perbuatan tercela. Tabiat Musa yang temperamental dan keinginan kuat untuk membela kebenaran membuat Musa melupakan janjinya untuk tidak bertanya ke Khidir.

“Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah melakukan kesalahan yang besar’.” (QS. Al-Kahfi: 71)

Tiba-tiba Musa menyadari bahwa pertanyaannya ini melanggar syarat yang telah ditentukan Khidir di awal perjalanan. Buru-buru Musa minta maaf. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka kemudian melewati sebuah tempat bermain anak-anak. Musa terperanjat melihat Khidir membunuh salah satu anak tanpa alasan. Musa tak tahan untuk tidak bertanya. Kejahatan apa yang sudah dilakukan anak kecil itu sehingga perlu dibunuh?

Khidir kembali mengingatkan Musa untuk selalu bersabar jika mau terus bersamanya. Untuk keduakalinya, Musa meminta maaf dan berjanji untuk tidak bertanya.

“Bagaimana kalau nanti kamu masih saja bertanya?” tantang Khidir.

“Itulah akhir kebersamaan kita,” jawab Musa.

Khidir dan Musa kemudian melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah desa dengan penduduk yang sangat kikir. Saat itu mereka kehabisan bekal dan meminta makanan ke penduduk. Tapi penduduk desa tidak mau menerima mereka sebagai tamu.

Petang pun menjelang. Karena tak ada penduduk yang mau menerima, mereka berjalan ke sebuah puing yang hanya tersisa dinding. Khidir kemudian menghabiskan waktu semalaman untuk memperbaiki puing dari awal hingga selesai. Melihat itu, Musa kebingungan. Penduduk desa yang sangat kikir itu tidak pantas menerima tenaga gratis dari mereka.

“Jika mau, kau bisa mengambil upah untuk perbaikan itu,” kata Musa.

“Inilah perpisahan antara kamu dengan aku..” jawab Khidir.

Sebenarnya Khidir sudah memperingatkan Musa konsekuensi yang harus diterimanya, bahwa pertanyaan ketiga adalah akhir dari kebersamaan ini. Khidir kemudian menjelaskan bahwa apa yang dilakukan bukan kehendak dirinya sendiri, tapi Khidir hanya melaksanakan kehendak Allah semata. Ketiga perbuatan Khidir memang terlihat kejam, tapi sebenarnya di balik itu, padahal itu adalah nikmat yang tersembunyi.

Mungkin para pemilik perahu yang dirusak Khidir merasa kalau rusaknya perahu mereka adalah sebuah bencana. Tapi sebenarnya itu adalah sebuah kenikmatan yang tersembunyi. Ketika perang berkobar, raja yang berkuasa mengambil semua perahu kecuali perahu yang telah dirusak Khidir, sehingga perahu itu masih bisa memberi nafkah pada mereka.

Orang tua anak yang dibunuh Khidir mungkin juga akan menganggap ini sebagai bencana. Namun ini adalah rahmat karena Allah kemudian mengganti dengan anak yang lain, anak yang mau merawat orang tuanya. Bukan anak yang bertindak sewenang-wenang seperti anak yang dibunuh Khidir.

Musa kemudian tersadar bahwa yang dihadapinya adalah lautan ilmu. Di balik kesedihan, penderitaan dan kematian tersembunyi rahmat, kelembutan dan keselamatan. Musa kemudian kembali ke kaumnya, Bani Israil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s