KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 25)

Posted on


UMAT NABI MUHAMMADYANG DISEBUT-SEBUT DI JAMAN NABI MUSA.

Setelah amarah Musa mereda, Musa kemudian melanjutkan dakwahnya dengan Taurat yang baru saja diterimanya. Beliau membacakan lembaran-lembaran Taurat kepada kaumnya. Beliau kemudian memerintahkan agar mempraktekkan hukum-hukumnya dengan kesungguhan dan semaksimal mungkin.

Bukannya menurut, kaumnya malah menawar kebenaran yang disampaikan itu.

“Bagikanlah lembaran-lembaran itu kepada kami. Jika perintah dan larangan-larangannya memang mudah, maka kami akan melaksanakannya,”  kata Bani Israel.

“Tidak bisa seperti itu. Kalian harus menerimanya apa adanya,” kata Musa. Pada saat yang sama, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengangkat gunung dan meletakkannya di atas mereka.

“Jika kalian tidak mau menerima apa adanya, maka gunung itu akan menimpa kalian,” ancam Musa.

Akhirnya mereka menerima Taurat dengan apa adanya, sambil memandang gunung yang ada di atas mereka dengan ketakutan.

 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-A’raf : 171)

 

Peristiwa ini sekali lagi menggambarkan bagaimana cara berpikir mereka, yang mengharuskan bisa menerima Taurat apa adanya. Kemudian Musa memilih 70 orang terbaik dan mengajaknya untuk menemui Allah di sebuah bukit. Ketika hampir sampai di bukit tersebut, tiba-tiba kabut menyelimuti mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa.

Tak lama, terdengar dialog Musa dengan Allah. 70 orang ini tidak ada yang bisa melihat Allah karena kabut. Setiap kali Musa berbicara, keningnya keluar cahaya yang sangat terang. Tak seorang pun dari 70 Bani Israel yang mampu melihatnya. Namun semua bisa mendengar dialog tersebut.

Setelah selesai, tak seorang pun dari Bani Israel yang puas dengan kejadian ini. Mereka ingin melihat Allah.

“Kami memang telah mendengar, tetapi yang kami inginkan adalah melihat,” kata mereka. Bahkan dengan entengnya mereka berkata,

 

“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al-Baqarah)

 

Sungguh keterlaluan permintaan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah seorang materialistik, hanya mau yang kongkrit-kongkrit saja. Permintaan itu dibalas dengan hukuman yang mengagetkan. Tiba-tiba mereka diguncang oleh gempa bumi. Mereka semua mati seketika.

Di hari yang bersejarah itu, selain terjadinya kematian pada 70 Bani Israel, juga datangnya sebuah kabar gembira tentang akan datangnya penutup para nabi. Kepada Tuhannya, Musa berdoa, “Ya Tuhanku, dalam lembara Taurat ini aku menemukan akan ada umat yang merupakan sebaik-baiknya umat yang diutus untuk umat manusia. Mereka memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ya Tuhan, jadikanlah umat itu sebagai umatku.”

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya, Tuhan, dalam lembaran-lembaran ini akan ada umat yang beriman kepada kitab yang pertamakali diturunkan, sekaligus kitab yang terakhir diturunkan. Mereka juga mau berperang untuk melawan kesesatan. Jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan umat yang mempunyai sedekah yang akan mereka makan sendiri, tetapi mereka juga tetap akan mendapatkan pahala darinya. Sementara itu, umat-umat sebelumnya jika mengeluarkan sedekah dan sedekah itu diterima Allah, maka Allah mengutus api untuk memakannya. Tapi jika sedekah itu tidak diterima, maka dibiarkan sedekah itu hingga dimakan burung atau hewan buas. Allah juga mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara mereka dan membagikannya ke orang-orang miskin di antara mereka. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

“Ya Tuhan, dalam Taurat ini aku menemukan suatu umat yang  jika membayangkan suatu kebaikan kemudian mengamalkannya, dicatat pahala untuknya sepuluh hingga tujuhratus kali lipat. Tuhan, jadikanlah mereka sebagai umatku,” kata Musa dalam doanya.

 

“Itu adalah umat Ahmad (Muhammad),” jawab Allah.

 

Itulah umat Rasulullah SAW yang juga disebut-sebut dalam Taurat, kitab suci yang diturunkan kepada Musa as.

 

KISAH SAPI BETINA.

Pada suatu hari, kaum Bani Israel dikejutkan dengan seorang kaya dari kalangan mereka yang ditemukan mati terbunuh. Keluarganya merasa sakit hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena meeka tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Mereka kemudian meminta bantuan Musa untuk memutuskan masalah ini. Karena masalah ini berpotensi menimbulkan fitnah, maka Musa pun memohon pertolongan Allah.

Allah kemudian memerintahkan Bani Israel untuk menyembelih seekor sapi betina. Seharusnya mereka langsung melaksanakan perintah itu tanpa bertanya apa-apa. Tapi kaum ini memang kaun yang sombong dan suka mngelak dari kenyataan, sehingga mereka mempertanyakan perintah tersebut, “Apakah sapi betina yang dimaksud adalah sapi betina biasa yang sering kami lihat atau sapi betina yang mempunyai keistimewaan lainnya?” Pertanyaan ini memperlihatkan keangkuhan mereka, walaupun berkedok dengan sok kritis.

Kaum Bani Israel meminta Musa untuk berdoa, agar Allah menjelaskan sapi betina yang lebih detil. Allah kemudian menjawabnya dengan sapi betina yang sedang, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Sebenarnya permintaan Bani Israel justru mempersulit diri sendiri karena sebenarnya perintah Allah ini cukup jelas, yaitu menyembelih sapi betina. Tapi karena sok kritis dan enggan, maka mereka akhirnya diperintah “menyembelih sapi betina yang sedang, tidak tua, tidak muda”.

Rupanya orang-orang ini masih saja menunjukkan keengganannya untuk melaksanakan perintah Allah. Kini mereka bertanya, warna apa sapi betina yang diinginkan. Sungguh mereka sama sekali tidak mempunyai adab kesopanan sama sekali.

Musa kemudian berdoa lagi dan Allah mennjawabnya dengan perintah. Sapi betinanya berwarna kuning kemerahan, warnanya kemilau dan menyenangkan hati orang yang melihatnya. Semakin susah didapatkan sapi betina macam itu.

Tapi rupanya kaum Bani Israel ini belum puas. Mereka menganggapnya masih belum spesifik. Musa kemudian menjelaskan bahwa sapi betina itu belum pernah dipakai untuk membajak tanah ataupun mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak ada belangnya.

Kekeraskepalaan mereka menyulitkan diri mereka sendiri. Dengan susah payah akhirnya mereka bisa menemukan sapi tersebut. Setelah disembelih, Musa memegang ekor sapi tersebut dan memukulkan ke orang yang telah tewas tersebut. Secara ajaib, orang itu kemudian hidup lagi. Musa kemudian bertanya, siapa yang telah membunuh dirinya. Lelaki itu kemudian menceritakan siapa saja yang telah membunuhnya. Setelah bercerita, lelaki itu kemudian mati lagi. Kasus pun terpecahkan.

Sekali lagi, Bani Israel menyaksikan mukjizat yang seharusnya makin mempertebal keimanan mereka kepada Allah dan nabi-Nya. Bukan malah menyangsikan perintah Allah dan juga nabi-Nya.

Kita bisa bayangkan, bagaimana parahnya kondisi psikis umat Musa waktu itu. Barangkali yang paling menyakitkan bagi Musa adalah ketika kaum Bani Israel ini menolak berperang untuk menyebarkan tauhid dan malahan menyuruh Musa dan Tuhannya untuk berperang, sedangkan mereka duduk-duduk saja menunggu.

Tak heran jika Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka berupa kebingungan selama 40 tahun lebih, hingga satu generasi hilang. Telah habis generasi pengecut, kemudian lahirlah generasi baru. Sebuah generasi yang tidak dibesarkan di tengah-tengah berhala dan ruhnya tidak cacat karena hal tersebut. Sebuah generasi baru yang siap membayar harga dirinya dengan darah, yang mengadopsi keberanian militer sebagai bagian dari struktur agama tauhid. Akhirnya generasi itu lahir selama empat puluh tahun dalam kebingungan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s