KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 24)

Posted on Updated on


MUSA DAN GENERASI PENGECUT KAUM BANI ISRAEL

Fir’aun memang telah tenggelam. Kesewenang-wenangannya adalah cerita lalu. Tapi pengaruh Fir’aun masih sangat terasa pada kaum Bani Israil. Sungguh tak gampang menghapuskan perasaan hina setelah dihinakan selama bertahun-tahun. Fir’aun telah menjadikan kaum Bani Israil terbiasa menundukkan diri kepada selain Allah. Jiwa mereka seolah telah retak dari dalam. Fitrah mereka telah rusak, sehingga menyiksa Musa dalam bentuk perlawanan dan kebodohan.

Mukjizat demi mukjizat yang diperlihatkan Musa terhadap mereka seakan-akan tidak berbekas di hati mereka. Mereka bukannya bersyukur kepada Allah karena diperlihatkan Musa jalan yang lurus, tapi mereka justru terus meminta Musa untuk memperlihatkan yang jauh lebih hebat. Mereka mulai merindukan berhala-berhala yang dulu disembahnya bersama Fir’aun.

Setelah melintasi Laut Merah yang terbelah, mereka kini melanjutkan perjalanan. Mereka melewati sebuah perkampungan orang pagan, yang menyembah berhala-berhala. Kaum Bani Israil lalu meminta Musa untuk membuatkan mereka tuhan. Benar-benar mereka merindukan masa lalu yang penuh kemusyrikan.

Musa lalu menunjukkan betapa bodohnya mereka,

“Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Illah).’ Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab, ‘Patutkah aku mencari ilah untuk kamu selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israel), ketika Kami menyelamatkanmu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang meng-azab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu’.” (QS. Al-A’raf : 138-141)

Musa dan Bani Israil terus berjalan menyusuri dataran Sinai, sebuah daerah gurun yang sama sekali tidak ditumbuhi pepohonan untuk melindungi dari teriknya matahari. Dataran itu juga tidak tersedia makanan ataupun minuman.

Untuk melewati dataran tersebut, Allah memberikan rahmat-Nya yang sangat dibutuhkan. Allah menurunkan manna dan salwa, serta menaungi dengan awan di atas mereka. Manna adalah makanan yang rasanya mirip dengan manisan, dihasilkan dari pohon buah-buahan tertentu. Sedangkan salwa adalah salah satu jenis burung.

Tak hanya itu, ketika mereka merasa kehausan, Musa memukulkan tongkatnya ke batu. Kemudian memancar dua belas mata air dari batu tersebut. Kala itu Bani Israil terdiri dari 12 suku, dan masing-masing suku mendapatkan satu mata air.

Begitu banyak kemuliaan dan rahmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Bukannya bersyukur, mereka malah meminta lebih. Kepada Musa mereka meminta makanan yang lain karena mereka sudah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Mereka merindukan bawang merah, bawang putih, kacang dan sebagainya. Mereka merindukan makanan tradisional penduduk Mesir. Mereka merindukan kehidupan terdahulu, kehidupan di mana kemusyrikan merajalela.

Musa kembali mengingatkan, bahwa mereka sebenarnya merindukan hari-hari penuh kehinaan di Mesir, serta tidak mau menerima makanan yang paling baik dan istimewa dari Allah.

Musa dan Bani Israil terus berjalan menuju Baitul Maqdis. Hingga kemudian Baitul Maqdis sudah tampak dari kejauhan. Musa memerintahkan kaumnya untuk masuk ke dalam kota dan memerangi penguasa Baitul Maqdis kemudian menguasai kota tersebut. Ini adalah ujian bagi Bani Israil. Sekarang giliran mereka, sebagai kaum mukmin untuk berperang melawan para penyembah berhala.

Kaum Bani Israil menolak. Saat itu Bani Israil memang terdiri dari orang-orang yang pengecut. Mereka rupanya telah terbiasa dengan kehinaan sehingga merasa tidak mampu untuk bertempur. Harga diri mereka benar-benar sudah tiada. Musa kemudian mengingatkan mereka akan karunia-karunia yang sudah Allah berikan. Bagaimana Allah sudah mengutus para nabi untuk mereka, menjadikan mereka sebagai raja-raja dan banyak kemuliaan lain.

Mereka masih saja menolak dengan alasan ada kaum yang sewenang-wenang dan kuat di dalam sana. Mereka lalu berkata kepada Musa yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an;

“Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah : 24)

Musa mengerti bahwa kaumnya sudah tidak ada gunanya samasekali. Pengaruh Fir’aun masih cukup kuat di dalam jiwa mereka. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Musa pun mengadu kepada Allah tentang ini. Allah mengeluarkan keputusan-Nya. Keputusan itu berupa kebingungan yang melanda kaum Bani Israil. Mereka terus berjalan tanpa tahu tujuannya. Seperti sebuah lingkaran setan, mereka mengakhiri perjalanan tepat di mana mereka memulai perjalanannya. Mereka terus saja –pagi, siang, sore, bahkan juga malam, berjalan dengan pikiran bingung selama 40 tahun.

Allah menurunkan kebingungan tersebut terhadap generasi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Sebuah generasi yang benar-benar mempunyai mental hina. Setelah 40 tahun dalam kebingungan, generasi baru telah lahir sebagai ganti generasi mereka. Sebuah generasi yang mempunyai psikis tidak terkalahkan. Generasi baru yang mampu dan mau berperang demi meraih kemenangan.

Sebelum bercerita tentang generasi pemenang ini, ada abaiknya kita menyimak dulu apa yang terjadi dengan generasi pengecut ini. Dalam perjalanan yang membingungkan ini, Musa dan Bani Israil sampai di daerah sekitar lembah Thur. Musa bermaksud akan naik gunung sendirian. Sebelum naik, Musa menitipkan umatnya pada Harun saudaranya yang juga seorang nabi.

Musa kemudian naik gunung sendirian untuk menerima kitab Taurat dari Allah. Sebelum menerima Taurat, Musa berpuasa terlebih dahulu selama 40 hari. Setelah itu Musa menerima Taurat dan sepuluh wasiat. Ke sepuluh wasiat itu adalah;

1. Perintah untuk hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Larangan bersumpah palsu karena Allah.

3. Perintah untuk menjaga hari Sabtu (meluangkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah)

4. Perintah untuk memuliakan orang tua.

5. Mengetahui bahwa Allah yang bisa memberi.

6. Jangan membunuh.

7. Jangan berzina.

8. Jangan mencuri.

9. Jangan memberikan kesaksian palsu.

10. Jangan memandang (mengusik) rumah saudaramu, atau istrinya, atau budaknya, atau kerbaunya, atau keledainya.

Ulama salaf mengatakan bahwa kesepuluh wasiat itu adalah inti dari dua ayat Al-Qur’an. Kedua ayat itu adalah :

“Katakanlah, ‘Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am : 152)

Sementara Musa meninggalkan kaumnya, terjadi sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Fitnah Samiri. Kejadiannya adalah sebagai berikut, ketika kaum Bani Israil akan meninggalkan Mesir, mereka banyak membawa banyak perhiasan emas, yang sebagian besar adalah pinjaman dari penduduk Mesir dengan alasan untuk berpesta. Dengan tenggelamnya pasukan Fir’aun, maka emas itu pun kemudian dianggap menjadi milik mereka.

Harun menyadari bahwa emas perhiasan itu bukanlah milik mereka. Diam-diam Harun kemudian mengambil semua emas lalu menguburkannya ke dalam tanah. Harun melakukan hal tersebut karena tahu bahwa mereka tidak membutuhkannya. Saat Harun melakukan hal tersebut, Samiri melihatnya. Dikeluarkannya emas-emas itu lalu dileburnya. Samiri membuat patung anak sapi yang bagian tengahnya berongga. Bentuk patung anak sapi itu mirip sekali dengan Apes, salah satu dewa sesembahan orang Mesir. Jika patung itu dihadapkan ke arah mata angin, maka angin akan berhembus fari bagian belakang kemudian tembus ke lubang hidung, kemudian terdengar suara yang mirip dengan sapi sungguhan.

Menurut Samiri, patung anak sapi itu bisa hidup karena dia mencampuri leburan emas dengan segenggam tanah yang pernah dilalui Jibril. Ini tidak masuk akal karena sebagaimana yang kita ketahui, tanah tidak akan bisa melebur dengan emas, dan biasanya akan membentuk gumpalan-gumpalan ketika sudah dingin. Tapi itu adalah argumen Samiri yang tidak perlu kita percaya.

Setelah itu patung itu jadi, Samiri menemui kaum Bani Israil dengan membawa patung karyanya.

“Apa itu Samiri?” tanya kaum Bani Israil.

“Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa,” jawab Samiri.

“Tapi Musa sekarang sedang pergi menemui Tuhannya,” kata Bani Israil.

“Rupanya Musa lupa. Dia pergi menemui Tuhannya di tempat lain, padahal tuhannya ada di sini,” kata Samiri.

Tiba-tiba ada angin yang berhembus masuk dari bagian belakang patung anak sapi kemudian tembus hingga lubang hidung. Terdengar suara lenguhan sapi. Mendengar itu, seketika kaum Bani Israil langsung menyembah patung anak sapi emas tersebut.

Itulah yang dilakukan Samiri. Dia memanfaatkan kerinduan kaum Bani Israel akan tuhan berhala, kerinduan akan kehinaan akal. Samiri juga sengaja memilih emas karena dia tahu benar bahwa itu adalah kelemahan kaum Bani Israel saat menghadapi emas.

Fitnah Samiri ini menyebar cepat, hingga suatu hari Harun kaget melihat kaum Bani Israel menyembah patung anak sapi emas ini. Bani Israel terpecah jadi dua, pertama kaum mukmin yang minoritas, yang sadar bahwa patung itu adalah omong kosong, kedua kaum mayoritas yang melampiaskan kerinduan mereka akan berhala.

“Sungguh! Ini adalah fitnah! Samiri telah memanfaatkan kebodohan kalian. Ini bukanlah tuhan kalian atau tuhan Musa!” tegas Harun. Harun juga mengingatkan mukjizat-mukjizat Allah yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka. Kaum ini benar-benar tidak memperdulikan peringatan Harun. Mereka terus menyembah berhala emas ini.

Akhirnya Musa kembali ke kaumnya, dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang sudah diperbuat kaumnya. Dengan marah Musa berteriak,

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa lalu menghampiri Harun. Musa sudah tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dengan keras ditariknya rambut dan jenggot Harun. Musa berkata,

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS. Thaha : 92-93)

Harun kemudian menjawabnya,

“Harun menjawab, ‘Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.” (QS. Thaha : 94)

Harun berusaha menjelaskan apa yang terjadi,

“Harun berkata, ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mau membunuhku. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-A’raf : 150)

Musa kemudian menyadari bahwa dia telah menzalimi Harun saudaranya. Musa kemudian melepaskan rambut dan jenggot Harun, selanjutnya memohon ampunan Allah untuk dirinya dan saudaranya. Lalu, masih dengan kemarahan yang menggelegak, Musa berkata kepada kaumnya,

“Berkata Musa, ‘Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku?’” (QS. Thaha : 86)

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang membuat-buat kebohongan.” (QS. Al-A’raf : 152)

Kini pandangan Musa beralih ke Samiri, si biang kerok permasalahan ini. Kemarahan Musa masih belum reda.

“Berkata Musa, ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), wahai Samiri?’” (QS. Thaha : 95)

Samiri lalu menjawabnya,

“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya.” (QS. Thaha : 96)

Samiri bercerita bahwa dia melihat Jibril yang mengendarai kuda, dan setiap benda yang diinjaknya hidup. Samiri lalu mengambil senggenggam tanah yang diinjak kuda Jibril lalu mencampurkannya dengan emas.

Musa tidak mendebat kebenaran Samiri melihat Jibril, tapi yang terpenting adalah kejahatan yang telah Samiri lakukan, membuat sebuah tuhan! Musa kemudian menghukum Samiri dengan mengucilkannya. Musa kemudian mengambil patung itu dan melemparkannya ke dalam api. Tak hanya itu, Musa kemudian membuang abunya ke laut. Musa telah menghancurkan tuhan mereka tanpa perlawanan dari tuhan tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran logis, bahwa patung itu bukanlah tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s