KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 23)

Posted on Updated on


TENGGELAMNYA FIR’AUN
Binasanya Qarun sangat mencengangkan banyak orang, baik orang Bani Israel maupun bangsa Mesir itu sendiri. Semua orang langsung memandang Musa sebagai orang penting. Pamor Musa naik dengan cepat di mata semua orang. Banyak orang kemudian beriman dari semua kalangan termasuk orang-orang istana Fir’aun sendiri, walaupun mereka menyembunyikan keimanan mereka.

Sejak binasanya Qarun, Fir’aun mulai merasakan ancaman yang semakin nyata. Fir’aun dan orang-orang yang merasa terancam dengan adanya Musa, mengadakan rapat penting di istana Fir’aun. Di rapat tersebut terlontar inde untuk menghabisi Musa dengan atas nama negara. Bagaimanapun juga, Fir’aun masih memerlukan tameng semacam itu untuk membunuh Musa. Mungkin Fir’aun juga merasa khawatir dengan kekuatan pendukung Musa jika terng-terangan membunuh Musa.

Tapi takdir berkata lain. Dalam rapat tersebut, terdapat salah satu orang mukmin yang menyembunyikan keimanannya dan dia berjuang untuk menggagalkan rencana pembunuhan ini.

“Sekarang kita sedang berada di puncak kekuasaan, sebagaimana Qarun sedang di puncak kekayaannya. Tapi Qarun kemudian mendapatkan musibah. Siapa yang akan menolong kita dari siksaan Allah jika siksaan itu datang? Sesungguhnya kesewenang-wenangan dan kebohongan kita yang telah mencampakkan kita,” kata orang beriman itu.

Semua orang terpana. Dia dikenal sebagai pengikut Fir’aun yang setia dan kesetiaannya samasekali tidak diragukan. Lalu Fir’aun membalas dengan ucapan yang kemudian akan selalu diucapkan oleh para diktator-diktator.

“Fir’aun berkata, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar’.” (QS. Al-Mumin: 29)

Lelaki itu tidak gentar. Dia kemudian bilang kalau bencana bisa saja datang kalau mereka masih tetap berkeinginan membunuh Musa. Dia lalu menceritakan bagaimana kaum-kaum terdahulu yang hancur binasa karena menentang para Nabi. Hanya orang-orang terpelajar saja yang bisa bersepakat dengan orang beriman ini. Orang-orang terpelajar ini tahu cerita-cerita sejarah seperti jaman Nuh, kaum Ad, Tsamud dan sebagainya. Kaum terpelajar istana kemudian berdiri di pihak orang beriman tersebut.

Kemudian lelaki beriman tersebut dengan berani mengungkapkan keimanannya kemudian beranjak pergi. Sepertinya dia adalah orang yang penting sehingga tidak ada orang yang berani untuk membantahnya kecuali Fir’aun itu sendiri. Ini adalah kemenangan nyata bagi Musa. Istana kini sudah terbelah. Kini nyata-nyata kaum terpelajar istana mendukung Musa daripada Fir’aun.

Persoalan orang beriman ini sangat menyusahkan Fir’aun. Jika dia menghukum orang beriman ini, bisa brakibat fatal yaitu memancing kemarahan kaum terpelajar. Tapi jika dibiarkan begitu saja, ini juga buruk bagi kewibawaannya.

Hukum klasik kemudian melanda Mesir. Allah menurunkan paceklik. Tanah-tanah menjadi gersang, sungai Nil mengering dan pohon-pohon tidak berbuah sama sekali. Harga-harga melambung tinggi, membuat semua orang Mesir semakin menderita. Sudah bukan rahasia lagi jika hukuman macam ini selalu menimpa umat jika umat itu jauh dari keimanan dan ketakwaan. Umat Mesir ditimpa bencana ini karena dua sebab; pertama, karena mereka diam saja ketika para penyihir itu disiksa dan dibunuh. Kedua, mereka tidak berani berbuat apa-apa ketika melihat kesewenang-wenangan pemimpin mereka Fir’aun.

Dengan adanya paceklik ini, oleh Fir’aun justru digunakan dalih untuk menyudutkan Musa. Menurut Fir’aun paceklik ini disebabkan oleh Musa, ini sebagai tanda-tanda Musa telah menyihir negeri Mesir.

Paceklik berakhir, Allah kemudian menurunkan musibah yang lain berupa angin topan dan meluapnya sungai Nil sehingga tanah-tanah tidak bisa ditanami. Orang-orang Mesir kemudian berbondong-bondong mendatangi Musa untuk meminta tolong. Musa bersedia menolong asal mereka membebaskan orang Bani Israil yang menjadi budak mereka, agar bebas megikuti Musa. Mereka mengiyakan. Musa kemudian berdoa dan air yang terpancar dari tanah tersebut kemudian diserap tanah dan kini tanah-tanah bisa ditanami lagi. Azab sudah hilang, tapi orang-orang Mesir ini tak kunjung membebaskan kaum Bani Israil.

Beberapa waktu kemudian, Allah menurunkan azab lain. Sekelompok besar belalang menyerang tanaman dan buah-buahan. Mereka memakan semua tanaman tanpa tersisa dan juga makanan orang-orang Mesir. Maka kembali mereka mencari Musa untuk meminta tolong lagi. Musa mendoakan dengan syarat yang sama. Mereka mengiyakan. Dan belalang-belalang itu pun pergi, kembali ke tempat asalnya, orang-orang Mesir ini masih saja belum membebaskan kaum Bani Israil.

Allah kemudian mendatangkan azab berupa kutu. Kutu-kutu ini menyebar ke seluruh Mesir dan membawa wabah penyakit. Seperti sebelumnya, orang-orang Mesir mendatangi Musa dan berjanji untuk membebaskan kaum Bani Israil. Tapi seperti sebelumnya, setelah azabnya hilang mereka tak kunjung juga memenuhi janjinya.

Kemudian datanglah azab yang berupa katak. Seluruh penjuru Mesir tiba-tiba dipenuhi katak. Katak-katak itu berlompatan di atas makanan orang-orang, memenuhi rumah-rumah dan menyusahkan mereka. Mereka kembali mendatangi Musa dengan janji-janji yang dulu. Dan lagi, setelah azab hilang, mereka juga melupakan janji-janjinya.

Lalu datanglah azab yang terakhir. Tiba-tiba air sungai Nil tiba-tiba menjadi darah sehingga air sungai samasekali tidak bisa diminum dan dimanfaatkan penduduk Mesir. Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Ini adalah azab yang paling parah. Tak seperti orang-orang Mesir, Musa dan kaum Bani Israil masih bisa memanfaatkan air sungai ini. Sekali lagi, orang-orang Mesir meminta tolong ke Musa dengan janji-janjinya yang dulu. Setelah azab itu hilang, sekali lagi, mereka mengingkarinya.

Di sini bisa kita lihat, bagaimana orang-orang Mesir ini sudah bisa dipastikan mereka tidak akan beriman. Mereka datang ke Musa hanya untuk menyelesaikan masalahnya saja. Ketika masalah hilang, hilang pula respek mereka terhadap Nabi Allah yang mulia ini. Tapi bagaimanapun Allah belum memerintahkan untuk pergi dari Mesir. Musa dan Bani Israil masih harus bersabar menunggu perintah Allah.

Akhirnya perintah Allah kepada Musa dan kaumnya turun untuk meninggalkan Mesir. Kini semuanya akan segera berakhir. Allah kini tidak akan membiarkan Fir’aun sewenang-wenang lagi.

Bani Israil berpura-pura meminta izin Fir’aun untuk menghadiri sebuah perayaan. Dengan berat hati, Fir’aun akhirnya mengijinkan Musa dan Bani Israil untuk pergi. Kaum Bani Israil pun kemudian bersiap-siap. Mereka membawa semua perhiasan dan juga perhiasan-perhiasan yang dipinjam dari orang Mesir yang sangat banyak jumlahnya. Malam hari, Musa dan Bani Israil pun berangkat menuju Syam. Pada saat yang sama, intelijen-intelijen Fir’aun juga bergerak mengamati mereka. Intelijen Fir’aun kemudian menyimpulkan bahwa Musa dan Bani Israil berniat untuk meninggalkan Mesir.

Mendengar itu, Fir’aun kemudian memerintahkan penghimpunan pasukan besar-besaran. Padahal kalau dipikir-pikir, jumlah kaum Bani Israil tidaklah besar. Tapi memang amarah Fir’aun begitu besar sehingga membutuhkan jumlah pasukan besar untuk menghentikan kaum Bani Israil yang jumlahnya begitu kecil.

Pasukan besar Fir’aun segera bergerak untuk mengejar Musa dan Bani Israil. Fir’aun sudah bertekad untuk menghabisi Musa kali ini. Fir’aun sendiri yang memimpin pasukan besar ini dari kereta perangnya.
Musa dan Bani Israil berhenti di depan Laut Merah. Di belakangnya tampak Fir’aun dan pasukannya. Musa dan Bani Israil terjepit. Di depan laut, sedangkan di belakang Fir’aun dan pasukannya yang pasti akan membantai mereka. Untuk berperang jelas tak mungkin. Rombongan mereka banyak wanita dan anak-anak, sedangkan kaum lelakinya sama sekali tidak bersenjata. Apalagi lawan mereka adalah pasukan besar bersenjata lengkap. Suasana menegang, seperti antara hidup dan mati.

Hanya pasrah yang bisa dilakukan Musa. Semua diserahkan pada Allah semata. Allah kemudian memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Allah menghendaki adanya mukjizat. Begitu tongkat Musa terangkat tinggi, turunlah malaikat Jibril ke bumi. Musa kemudian memukul lautannya dengan tongkatnya, dan mukjizat Allah terjadi. Lautan kemudian terbelah dua. Di tengahnya terlihat sebuah jalan yang keras dan kering, sementara di kanan kirinya laut bergelombang dan tertahan pada dinding yang membatasi jalan dengan lautan.

Musa kemudian memimpin kaumnya untuk menyeberangi lautan, melalui jalan di tengah lautan yang terbelah. Mukjizat ini begitu mengagumkan. Ombak dan air laut tertahan di dinding kanan kirinya. Sungguh itu mukjizat yang mengagumkan.

Sementara itu, Fir’aun dan pasukannya sudah mencapai pesisir pantai. Mereka juga melihat mukjizat tersebut. Fir’aun kemudian mengikuti Musa dan Bani Israil, menyeberangi laut melalui jalan kering tersebut. Ketika Musa sudah sampai di seberang dan kaumnya juga telah sampai, Musa hendak memukulkan tongkat ke lautan, dengan tujuan mengembalikan laut seperti sedia kala. Namun Allah memerintahkan untuk membiarkan laut terbelah.

“Dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan.” (QS. Ad-Dukhan : 24)

Fir’aun dan bala tentaranya kini telah berada di tengah lautan yang terbelah. Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada Jibril untuk menggerakkan ombak. Ombak itu kemudian menggulung Fir’aun dan pasukannya sehingga semua orang tenggelam.
Sesaat sebelum tenggelam, Fir’aun melihat tempat di neraka. Saat dia menjumpai sakratul maut, barulah dia sadar bahwa semua yang dikatakan Musa adalah benar adanya. Namun semua sudah terlambat. Tobat Fir’aun tidak sah karena datang setelah melihat siksa yang begitu nyata dan hampir memasuki ajal.

Jibril berkata padanya,
“Apakah sekarang (baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus : 91)

Bersamaan dengan tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya, tenggelam juga kedurhakaan dan kesewenang-wenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s