HEBATNYA PRAMOEDYA MENYIHIR DENGAN BUMI MANUSIA

Posted on


Pramodya Ananta Toer. Nama itu aku kenal sudah lama sekali. Seingatku aku mendengar pertamanya ketika masih SD. Waktu itu Pram dilarang dan dicekal oleh rezim Orde Baru, rezim yang berkuasa saat itu. Pram dianggap terlibat dengan PKI. Bener enggaknya, aku juga tahu. Nama Pram makin sering terdengar ketika aku kuliah di Yogya. Teman-temanku banyak mengagumi penulis ini. Entah karena karakter pemberontaknya atau karena yang lain. Tapi saat itu saya masih belum kepengen untuk membaca bukunya. Pernah sekali membaca fotokopiannya karena aku penasaran. Bukan sebab yang lain. Waktu itu aku baca ‘Nyanyian Sunyi’. Itu juga kalau nggak salah. Maapin kalau salah sebut.

Dua belas tahun berlalu. Entah apa sebabnya, aku pun kemudian membeli salah satu karyanya. Sebenarnya aku sudah tahu kalau masterpiece Pram itu Tetralogi Buru-nya yang begitu melegenda di kalangan pecinta sastra. Di sebuah toko buku, aku pun membeli Arok Dedes. Lewat internet, aku membaca kalau kelebihan Pram adalah mengemas novel yang sarat dengan fakta-fakta sejarah. Aku yakin itu adalah hal yang amat sangat sulit. Dan Pram mampu meramu fakta-fakta sejarah itu ke dalam novelnya. Paling tidak itulah yang aku baca dari Arok Dedes. Dari situlah, aku kepengen baca Tetralogi Buru tersebut. Aku pun kemudian membeli Bumi Manusia, novel pertama dari Tetralogi ini dengan setting cerita sekitar tahun kebangkitan pribumi melawan kolonialisme Belanda.

Bumi Manusia bercerita tentang Minke, seorang priyayi Jawa yang bisa sekolah HBS di Surabaya. Minke adalah seorang yang cerdas. Dia punya pekerjaan sampingan sebagai penulis kolom dan juga penulis iklan. Mungkin dia adalah orang pertama yang menjadi copywriter di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Perjalanan hidupnya mengantarkan pada sebuah percintaan yang dahsyat dan indah. Namun sayang beribu sayang. Keindahan itu hancur lebur karena kesewenang-wenangan hukum kolonialisme. Aku gak akan banyak bercerita tentang isi bukunya, karena menurutku lebih nikmat kalau Anda baca sendiri tanpa mengetahui sama sekali dengan jalan ceritanya, apalagi akhir cerita. Hanya aku pengen sharing tentang apa yang aku rasakan setelah membaca novel ini.

Pertama, bagiku novel ini memuaskan keingintahuanku tentang jaman pergerakan. Terus terang, aku belum menemukan novel yang bersettingkan jaman itu. Yang ada malah buku sejarah yang sama sekali tidak hangat. Harus aku angkat kedua jempolku, Pram memang sesuai dengan reputasinya selama ini, sebagai penulis novel sejarah terbaik. Two thumbs up! Novel ini menyajikan detil-detil sejarah yang mengagumkan dengan keakuratan yang cukup tinggi. Aku jadi ragu, apakah ini novel atau buku sejarah saking detil dan akuratnya.

Kedua, novel ini mampu membangkitkan sisi emosional kita sebagai bangsa Indonesia atau pribumi, warga kelas paling bawah yang samasekali tidak berhak apa-apa atas tanah airnya sendiri. Membaca novel ini beneran membangkitkan rasa nasionalisme. Heran juga kenapa dilarang.

Ketiga, bagiku novel ini sangat jujur dalam mengkritisi budaya pribumi, khususnya budaya Jawa. Kebetulan aku sendiri dibesarkan dalam lingkungan Jawa, walaupun tak sekolot jaman Minke. Selama ini kita (paling gak aku merasa), kebudayaan leluhur adalah kebudayaan yang adiluhung, sesuatu yang harus dihormati. Apapun yang berbau adat pasti dianggap benar. Tapi dalam Bumi Manusia ini semua bisa terbalik. Di sini dengan cermat Pram mengkritisi feodalisme Jawa yang memang keterlaluan. Bukan aku menganggap budaya semuanya jelek, tapi apa yang dikatakan Pram dalam novelnya benar juga. Aku gak tahu, apa gara-gara hal ini Tetralogi ini sempat dilarang beredar oleh rezim Orde Baru.

Ada satu hal yang masih aku ingat setelah aku selesai membaca. Bundanya Minke yang datang karena Minke akan menikah dengan Ann yang cantik luar biasa bilang bahwa Minke beruntung karena Minke bisa mendapatkan gadis secantik ini tanpa harus perang. Karena para penguasa Jawa pasti akan saling memperebutkan wanita secantik ini dengan mengerahkan balatentara. Walaupun sudah mengkawininya, juga bukan permasalahan mudah mempertahankannya. Para raja Jawa dulu selalu membawa segalanya negeri yang dikalahkan. Tak hanya harta benda, anak perempuan dan istri pun juga diembat oleh sang penakluk. Masih menurut Bundanya Minke, itu kenapa orang Belanda dianggap masih lebih baik daripada para raja Jawa itu. Belanda hanya menguras hasil bumi, tapi istri dan anak perempuan kita masih aman tanpa dijamah. Halah! Parah juga bangsa ini! Bener atau tidak, waallahu ‘alam.

Itu pendapat saya. Kalau mau beda pendapat, ya monggo. Tapi sementara aku cuman bisa sharing Bumi Manusia saja. Seterusnya aku belum bisa nulis soalnya belum baca. So, tunggu ya di tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s