KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 21)

Posted on


MUSA AS MELAWAN PARA PENYIHIR FIR’AUN

Sebelum hari itu, para penyihir dari seluruh negeri berkumpul di istana Fir’aun. Mereka adalah penyihir-penyihir terbaik yang ada saat itu. Hanya yang terbaiklah yang diundang. Fir’aun kemudian menceritakan bahwa Musa mampu membuat tongkatnya berubah menjadi ular besar dan mengeluarkan sinar terang dari sakunya. Para penyihir kemudian menanggapinya dengan tertawa, seakan-akan mereka juga tak kalah sakti dibandingkan Musa.

“Tuanku belum menjelaskan hal yang lebih penting daripada kesaktian Musa,” kata para penyihir itu.

“Apa yang lebih penting daripada ini?” tanya Fir’aun.

“Upah yang kami terima jika kami menang atas Musa,” jelas para penyihir.

Sambil tertawa, Fir’aun menjelaskan, “Kalian akan menjadi orang dekatku. Aku akan menjadikan kalian salah satu pejabat istana yang mengurusi masalah sihir. Soal imbalan, kalian tak perlu risaukan.”

Singkat cerita, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Seluruh penyihir-penyihir terbaik Fir’aun telah berkumpul. Para penduduk telah berkumpul sejak pagi untuk menyaksikan acara seru ini. Mereka semua bersemangat untuk menonton, siapakah yang lebih hebat. Apakah Musa berhasil mengalahkan para penyihir terbaik Fir’aun?

Musa dan Harun telah datang. Suasana hening ketika para penyihir mendekati Musa. Para penyihir berkata,

“Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” (QS. Thaha : 65)

Musa kemudian menjawab,

“Silahkan kamu sekalian melemparkan (terlebih dahulu).” (QS Thaha : 66)

Para penyihir berkata,

“Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (QS. Asy-Syu’ara : 44)

Musa menjawab sesumbar mereka,

“Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia mebinasakan kamu dengan siksa.” (QS. Thaha : 61)

Para penyihir kemudian melemparkan tongkat dan tali mereka. Tempat itu tiba-tiba dipenuhi oleh ular. Penonton pun bertepuk tangan dengan riuh. Senyum Fir’aun mengembang, merasa yakin akan kemenangannya. Sementara itu, Musa merasa grogi dan takut melihat lawannya.

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya,” (QS. Thaha : 67)

Tak seorang pun tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Musa saat itu. Beliau hanya berdiri mematung, ditemani oleh Harun saudaranya, di antara riuh rendahnya penonton yang bersorak. Selang berapa waktu, sebuah cahaya menyinari hatinya. Allah swt berfirman kepadanya,

“Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, darimana saja dia datang.” (QS. Thaha : 69)

Hati Musa kini lebih lega dan yakin. Allah swt telah menenangkannya dengan janji-Nya. Tangannya yang semula gemetaran, kini sudah tidak lagi. Musa kemudian mengangkat tangan kanannya yang memegang lalu melemparkannya. Begitu tongkat menyentuh tanah, terjadilah mukjizat Allah.

Para penduduk Mesir, para penyihir dan Fir’aun sendiri belum pernah menyaksikan pemandangan ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau tongkat-tongkat dan tali milik penyihir itu tidak berubah menjadi ular. Ini hanya tampak sebagai ular, bukan jadi ular sungguhan. Tongkat dan tali mereka tidak bergerak. Tapi apa yang terjadi waktu itu benar-benar lain. Tongkat Musa berubah menjadi seekor ular besar dan memangsa ular-ular kecil milik para penyihir. Hanya dalam hitungan detik, tempat itu bersih dari ular-ular kecil. Ular besar itu bergerak ke Musa dan ketika tangan Musa memegangnya, ular itu berubah lagi menjadi tongkat. Semua orang yang menyaksikan hal itu tercengang, termasuk Fir’aun sendiri. Semua orang, termasuk para penyihir, sadar bahwa Musa bukanlah seorang penyihir. Apa yang barusan mereka saksikan adalah mukjizat, bukanlah sihir. Para penyihir itu kemudian menjatuhkan diri dan bersujud.

“Mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (QS. Al-A’raf : 122).

Rakyat Mesir dan Bani Israil juga telah menyaksikan mukjizat Allah ini. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka juga menyaksikan bagaimana para penyihir terbaik Fir’aun bersujud dan menyatakan keimanan mereka. Melihat hal ini, Fir’aun sudah merasa tidak mampu menguasai keadaan lagi. Ini adalah hal yang berbahaya.

“Kenapa kalian beriman kepada Tuhannya Musa padahal aku tidak mengijinkan?” tanya Fir’aun kepada para penyihir.

“Kami tidak memerlukan ijin seseorang untuk beriman,” kata mereka.

“Ini jelas-jelas sebuah pemberontakan!” raung Fir’aun, “Tangan dan kaki kalian akan dipotong. Kalian akan disalib di batang kurma. Ini adalah pemberontakan!”

“Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan. Kami memilih percaya akan mukjizat Allah ini,” kata para penyihir.

Fir’aun marah besar dan memerintahkan pasukannya untuk menyalib para penyihir ini. Kesaksian para penyihir ini tidak bisa dianggap enteng karena mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai negeri. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dan mempunyai status tinggi dalam masyarakat Mesir waktu itu. Singkatnya, mereka adalah orang-orang panutan. Dan orang-orang itu kini menjadi orang yang beriman, itu adalah sebuah hasil positif bagi Musa dan Harun. Tapi kesaksian ini adalah bencana bagi Fir’aun.

Para penyihir itu kemudian disalib, dan penduduk Mesir hanya diam saja karena takut akan kekuasaan Fir’aun. Tapi Fir’aun tahu, kekuasaannya dalam bahaya. Dia pun kemudian mengadakan serangkaian pertemuan darurat dengan para bawahannya.

“Apa yang dikatakan orang-orang?” tanya Fir’aun kepada kepala intelijennya.

“Anak buah hamba telah menyelundup di antara mereka. Kemenangan Musa tempo hari adalah hasil dari persekongkolan Musa dengan para penyihir itu. Disinyalir ini dibiayai oleh pihak-pihak tertentu, Paduka,” jelas Kepala Intelijen.

“Bagaimana dengan mayat para penyihir?”

“Mayat mereka digantung di tempat-tempat umum untuk menakut-nakuti penduduk, Paduka.”

“Bagaimana dengan prajurit, Panglima?” tanya Fir’aun kepada Panglima Pasukan.

“Kami tinggal menunggu perintah, Paduka,” jawab Panglima.

Fir’aun diam sejenak. Dia terlihat berpikir keras. Melihat hal itu, Haman kemudian berkata, “Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat seenaknya dan tidak mau menyembah Tuanku lagi?”

“Rupanya engkau bisa membaca pikiranku, Haman,” kata Fir’aun, “Tentu saja tidak akan aku biarkan. Kita akan bunuh semua anak-anak Bani Israil dan membiarkan hidup kaum wanita mereka, agar kita bisa tetap menguasai mereka.”

“Baiklah, Paduka. Kami akan melaksanakan perintah Paduka,” kata para bawahan.

Perintah Fir’aun dilaksanakan. Anak-anak Bani Israil dibunuh, para wanitanya diperkosa, dan para lelaki yang menentang dipenjara. Musa hanya bisa menyaksikan ini semua tanpa bisa mencegahnya. Yang bisa dilakukan sementara hanyalah bersabar sambil terus berdoa untuk memohon pertolongan Allah.

Intimidasi Fir’aun berhasil menjatuhkan mental Bani Israil. Kepada Musa mereka berkata, “Sebelum kedatanganmu, kami telah disiksa dan anak-anak kami dibunuh. Kini setelah engkau datang pun tidak ada yang berubah.”

Mendengar ucapan itu, Musa menjelaskan bahwa Allah akan menolong mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia. Tapi tetap saja mereka mengeluh.

Situasi yang dihadapi Musa dari hari ke hari makin sulit saja. Di satu sisi, Musa menghadapi penindasan Fir’aun, di sisi lain Musa harus menghadapi keluhan ketidaksabaran kaumnya sendiri.

Di tengah kondisi yang kacau balau ini, Qarun beraksi. Siapakah Qarun? Simak di tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s