KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 20)

Posted on Updated on


DIANGKAT MENJADI RASUL

Akhirnya Musa menikahi salah satu gadis penggembala itu. Gadis yang mana, Al-Qur’an tidak menceritakannya dengan detil. Selama sepuluh tahun, Musa jauh dari keluarga dan kaumnya. Masa sepuluh tahun  ini adalah masa persiapan yang luarbiasa sebelum menerima amanat yang lebih besar.

Pada suatu malam, tiba-tiba saja muncul kerinduan yang mendalam dalam hati Musa terhadap tanah kelahirannya Mesir. Musa tahu, kalau dia kembali, berbagai masalah pasti akan menghadangnya, salah satunya adalah masalah pembunuhan yang pernah dilakukannya. Musa sudah ambil keputusan. Besok pagi dia dan keluarganya akan berangkat ke Mesir.

Keesokan paginya, Musa dan keluarganya pun berangkat menuju Mesir. Mereka terus berjalan hingga malam turun. Malam begitu mencekam, gelap gulita dan hujan pun turun dengan derasnya. Musa berusaha membuat api tapi selalu gagal. Semua orang menggigil kedinginan. Musa melihat api besar menyala di kejauhan. “Aku melihat api di sana,” kata Musa. Keluarga merasa heran, karena mereka tidak melihat api besar samasekali. “Aku akan ke sana,” kata Musa. Musa pun kemudian berjalan sendirian menuju api besar yang dilihatnya. Sedangkan keluarganya diperintahkan untuk menunggu sebentar.

Musa terus berjalan menuju api besar itu. Sampailah beliau di lembah Thuwa. Di situ beliau merasa aneh, tidak ada hawa dingin maupun angin. Ada semacam keheningan yang luar biasa di sana. Ketika sudah benar-benar dekat dengan api, tiba-tiba Musa mendengar sebuah suara memanggil,

“Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. An-Naml: 8)

Jantung Musa berdegup kencang. Seluruh tubuhnya gemetaran. Suara itu berasal dari segala penjuru, tidak terpusat dari satu area saja. Musa memandang api di hadapannya dan melihat sebatang pohon berduri berwarna hijau. Anehnya, setiap kali api berkobar, semakin hijau warna pohon itu. Seharusnya warna pohon itu berubah hitam karena hangus oleh api itu. Tapi ini adalah sebuah perkecualian.

“Api atau cahayakah di hadapanku ini?” tanya Musa dalam hati.

Tiba-tiba saja bumi di bawah kakinya bergetar saat Allah memanggil, “Wahai Musa…” (QS. Thaha : 11)

“Hamba, Tuhanku…” jawab Musa.

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu.” (QS. Thaha : 12)

“Hamba, Tuhanku,” jawab Musa.

“Maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.” (QS. Thaha : 12)

Musa kemudian menanggalkan kedua terompahnya.

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa.” (QS. Thaha: 13-16)

Tubuh Musa semakin gemetaran mendengarkan wahyu Allah secara langsung.

“Apakah yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?” (QS. Thaha: 17)

Dengan suara gemetar Musa menjawab,

“Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS. Thaha:18)

“Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa!” (QS. Thaha:19)

Musa melemparkan tongkatnya. Beliau pun kaget, tongkatnya tiba-tiba berubah menjadi seekor ular besar yang mampu bergerak dengan gesitnya. Musa ketakutan sekali dan membalikkan badan akan melarikan diri.

“Wahai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul tidak takut dihadapan-Ku.” (QS. An-Naml:10)

Musa berbalik lagi. Ular itu masih saja bergerak dengan menakutkan.

“Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Thaha:21)

Dengan tangan gemetar, Musa berusaha memegang ular besar tersebut. Begitu tersentuh tangannya, ular itu lagsung berubah menjadi tongkat seperti semula.

“Masukkan tanganmu ke leher baju (saku)mu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganu (ke dada)mu bila ketakutan.” (QS. Al-Qashash:32)

Musa lalu memasukkan tangannya ke dalam sakunya lalu mengeluarkannya kembali. Tangannya berubah menjadi putih bercahaya seperti bulan purnama. Beliau kemudian mendekapkan tangannya ke dada, sebagaimana perintah Allah. Ajaib! Ketakutan yang dirasakan hilang sama sekali.

Setelah memberikan kedua mukjizat ini, Allah kemudian memerintahkan Musa untuk menemui Fir’aun dan mengajaknya kembali ke jalan Allah dengan cara yang halus. Allah juga memerintahkan Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Musa tahu persis kalau Fir’aun takkan mau mendengarkan ajakannya, apalagi mengikutinya. Tentang Bani Israil, Musa juga tahu persis Fir’aun takkan mengijinkan Bani Israil keluar dari Mesir. Karena dalam struktur masyarakat Mesir, mereka membutuhkan Bani Israil sebagai budak, kaum yang akan melaksanakan semua perintah. Bani Israil hanya dihitung sebagai barang, bukan manusia, yang bisa diwariskan ke anak cucu.

Singkat cerita, Musa menghadap Fir’aun bersama saudaranya yang juga Nabi, yaitu Harun as, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Tujuan tidak lain untuk mengajak Fir’aun kembali menyembah Allah semata dengan cara halus dan lemah lembut.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Tak usah berbelit-belit!” tanya Fir’aun setelah mendengarkan ajakan Musa.

“Aku ingin Anda menyerahkan Bani Israil kepadaku,” jawab Musa tegas.

“Kenapa aku harus memberikan padamu? Mereka adalah hamba-hambaku,” kata Fir’aun.

“Mereka adalah hamba Allah, Tuhan semesta alam,” jawab Musa.

“Bukankan engkau Musa yang pernah kami temukan di sungai Nil saat masih bayi? Bukankan engkau yang kami rawat di istana ini, makan makanan kami, minum minuman kami dan kami cukupi dengan kebaikan-kebaikan? Bukankah engkau Musa yang kemudian membunuh lalu melarikan diri dari negeri ini? Bukankah membunuh adalah tindakan kufur? Lalu kau datang untuk menceramahiku?” tanya Fir’aun dengan nada sinis.

Musa tahu, Fir’aun berusaha mengungkit-ungkit masa lalunya. Musa lalu menjelaskan bahwa pembunuhan yang dia lakukan adalah sebuah ketidaksengajaan. Musa juga menjelaskan bahwa Allah telah memberikan wahyu dan menjadikannya seorang rasul.

“Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil” (QS. Asy-Syu’ara:22)

Allah menceritakan dialog Musa dengan Fir’aun di surat Asy-Syu’ara sebagai berikut,

“Fir’aun bertanya, ‘Siapa Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab, ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.’ Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya, ‘Apakah kamu tidak mendengarkan?’ Musa berkata (pula), ‘Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.’ Fir’aun berkata, ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata, ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal’.” (QS. Asy-Syu’ara: 23-28)

Fir’aun kemudian bertanya, kenapa Musa berani sekali menyembah selain padanya. Fir’aun menganggap dirinya sebagai tuhan yang pantas disembah.

“Fir’aun berkata, ‘Sungguh jika kamu menyembah ilah selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan’.” (QS. Asy-Syu’ara : 29)

Mendengar ancaman penjara, Musa kemudian berkata,

“Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendati pun aku tunjukkan kapamu sesuatu (keterangan) yang nyata?” (QS. Asy-Syu’ara:30)

Musa kini benar-benar menantang Fir’aun. Raja lalim itu balik menantang, apakah yang dikatakan Musa benar atau tidak.

“Fir’aun berkata, ‘Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar’.” (QS. Asy-Syu’ara:31)

Musa kemudian melemparkan tongkatnya ke tengah balairung istana yang luas. Begitu tongkat menyentuh lantai istana, tiba-tiba langsung berubah menjadi seekor ular besar yang menakutkan dan mampu bergerak sangat cepat. Ular raksasa itu kemudian menjalar ke Fir’aun dan menjepitnya hingga Fir’aun merasa sangat ketakutan. Musa memegang ekor ular tersebut dan berubah lagi menjadi tongkat.

Musa kemudian memperlihatkan mukjizatnya yang kedua. Beliau memasukkan tangan ke sakunya. Begitu dikeluarkan lagi, tangannya terlihat putih bercahaya laksana bulan. Seluruh lampu yang ada di istana tersebut kalah cahayanya dibandingkan dengan cahaya tangan Musa tersebut. Istana itu terlihat hening. Kedua mukjizat itu menimbulkan perasaan takut yang luar biasa terhadap semua orang yang hadir dalam pertemuan tersebut.

“Pergilah kalian berdua. Lain kali kita lanjutkan pembicaraan kita ini!” usir Fir’aun kepada Musa dan Harun. Fir’aun betul-betul bingung melihat kedua mukjizat Musa ini. Setelah kedua Nabi tersebut pergi, Fir’aun langsung mengumpulkan para pembesar kerajaan di istananya termasuk Haman sang perdana menteri.

“Apakah aku ini seorang pembahong, hai Haman?” tanya Fir’aun kepada perdana menterinya.

“Siapa orang yang berani kufur terhadap Paduka?” tanya Haman.

“Musa”

“Musa telah berbohong, Tuanku.”

“Aku juga tahu kalau dia berbohong.”

Setelah itu, Fir’aun menyampaikan sebuah perintah ke Haman seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an berikut ini,

“Dan berkatalah Fir’aun, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat ilah Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta’.” (QS. Al-Mumin:36-37)

Fir’aun memerintahkan Haman untuk membuat sebuah bangunan yang mencapai langit. Haman tahu ini adalah sesuatu yang mustahil, walaupun saat itu Mesir adalah negeri yang sangat maju dengan teknologi dan ilmu pengetahuannya. Walau mustahil, Haman tak berani menentang perintah Fir’aun dan akan mewujudkan bangunan tersebut.

Dalam pertemuan itu, juga disepakati mengundang Musa dan Harun untuk hadir dalam sebuah pertemuan umum para penyihir. Fir’aun dan para pembesarnya menganggap Musa adalah seorang penyihir belaka, bukan seorang Nabi. Jika para penyihir itu berkumpul dalam acara yang disaksikan oleh seluruh rakyat Mesir dan Bani Israil, maka para penyihir ini akan diadu dengan Musa sehingga akan terbukti jika Musa hanyalah seorang penyihir, bukan Nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s