EAT, PRAY AND LOVE : BETAPA RAPUHNYA WANITA AMERIKA SERIKAT

Posted on


Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya saya mengingatkan Anda bahwa tulisan ini adalah murni dari pandangan saya. Saya mengabaikan segala macam tentang teori resensi apalagi teori sastra. Di sini saya hanya bercerita tentang pengalaman membaca buku karya Elizabeth Gilbert ini.

Terus terang, saya beli buku ini setelah heboh diangkatnya cerita buku ini ke layar lebar, di mana Julia Robert jadi pemeran utama dan shootingnya dilakukan di Bali yang sangat-sangat eksklusif. Saya tidak terlalu peduli dengan status bestseller di New York, apalagi peduli dengan nilai sastra yang ada di dalamnya. Saya merasa tertarik dengan bagaimana orang barat, terutama orang New York yang sangat cosmopolitan, memandang bagaimana Indonesia dengan budayanya.

Buku ini bercerita tentang pengalaman spiritual Elizabeth Gilbert (Liz), sang penulis, yang sedang mencari ketenangan batin setelah perceraian di tiga negara yang semuanya berawalan dengan huruf “i”, Italia, India dan Indonesia. Sang penulis mencari ketenangan setelah perkawinannya kandas. Buku ini adalah kisah nyata, hanya saja nama-nama karakternya adalah samaran.

Eat, Pray, Love bercerita pengalaman spiritual di tiga negara tersebut. Di Italia Liz belajar bahasa Italia yang dianggapnya begitu indah dan menikmati makanannya sehingga berat badannya bertambah duapuluh tiga pound. Di India Liz belajar meditasi yoga sedangkan di Indonesia Liz akhirnya mengenal apa itu cinta tanpa pamrih.

Mungkin ini adalah tipikal cara pandang orang barat. Bagiku mereka tampak begitu rapuh dan tak mempunyai “apapun” untuk berpegangan ketika ada masalah. Sepertinya mereka benar-benar tak punya tujuan yang jelas dalam hidup kecuali hidup dengan layak secara materi. Bayangkan, pada usia tigapuluhan Liz sudah mempunyai segalanya; terpelajar, karir cemerlang, suami yang baik serta rumah yang bagus. Tetapi bukan merasa bahagia, Liz justru merasa terkungkung. Apalagi ketika suaminya menginginkan anak yang menurut Liz itu hanya akan merepotkan saja. Aneh.

Bagiku, mungkin karena sesama lelaki, adalah manusiawi ketika suami menginginkan seorang sebagai anak sebagai penerus keturunannya. Jika mengurus sang anak itu sangat merepotkan, itu adalah konsekuensi logis. Tapi ternyata Liz tidak menginginkan anak karena tahu betapa repotnya. Hal inilah yang membuat perceraian Liz dengan suaminya, yang menurut pengakuan Liz mantan suaminya itu masih dicintainya. Bagiku itu adalah ‘bodoh’ karena berusaha melawan kodratnya sendiri sebagai manusia. Perceraian pun terjadi, stress pun makin menjadi. Bahkan Liz pernah berusaha untuk bunuh diri. Seperti kebanyakan wanita modern yang ambisius, Liz tampak begitu rapuh dan kesenangannya hanyalah pengejaran ‘mimpi-mimpi’ yang berupa karir, ataupun perjalanan-perjalanan keliling dunia. Tanpa tahu apa yang dicari.

Aku masih tidak memahami, kenapa Liz menjual segalanya hanya untuk mencari kebahagiaannya yang sebenarnya tinggal disett ulang dalam otak dan hatinya saja. Lihat juga, betapa piciknya pandangannya yang menganggap repot mengurus anak, tanpa tahu betapa kerepotan itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan karena mempunyai anak dan keluarga. Mungkin inilah buah dari emansipasi yang kebablasan. Mungkin inilah yang selalu diinginkan oleh kaum feminis. Ketika krisis itu datang, terlihat sekali kalau Liz samasekali tidak punya pegangan hidup yang menyelamatkan dirinya dari kegilaan dan depresi. Lihatlah, ketika krisis mendera, Liz justru ingin belajar bahasa Italia, belajar yoga dan bersantai begitu saja di Bali. Bagiku itu aneh, samasekali aneh.

Terus terang, saya melewatkan bagian Italia dan India. Saya tidak tertarik. Bagiku itu hanyalah episode pelarian yang tidak jelas samasekali. Aku tidak merasa jatuh kasihan terhadap Liz. Aku justru merasa Liz terlihat seperti orang bodoh yang keras kepala. Untuk bagian Bali, aku lumayan tertarik karena ingin mengetahui cara pandang orang barat seperti Liz terhadap Indonesia.

Untuk bahan bacaan, sepertinya buku ini samasekali tidak saya rekomendasikan. Saya merasa tidak terhibur apalagi merasa terkayakan. Ini hanyalah bentuk lain dari tangisan Elizabeth Gilbert yang tak perlu kita dengarkan, apalagi kita pikirkan. Baca saja malas, apalagi nonton filmnya…malas!

3 thoughts on “EAT, PRAY AND LOVE : BETAPA RAPUHNYA WANITA AMERIKA SERIKAT

    mutia amalia said:
    November 14, 2010 pukul 9:15 pm

    saya suka sekali dengan buku ini..

    mutia amalia said:
    November 14, 2010 pukul 9:17 pm

    kemarin saya dapat p.r membuat resensi.. dan saya suka tetapi saya tak dapat membuatnya karena unsur2nya seperti tebal dll tidak tercantum..🙂

      Marhan Faishal responded:
      November 15, 2010 pukul 10:49 am

      Sebenarnya tulisan ini tidak layak kalau disebut resensi, karena banyak hal-hal yang nggak sesuai dengan kaidah tulisan resensi yang standar. Tulisan ini mungkin mirip dengan kesan apa yang ditimbulkan setelah saya membaca buku ini. Entah itu kesan positif atau pun negatif. Di tulisan ini pun saya juga tidak terbebani untuk obyektif, karena -sekali lagi- ini adalah opini. Benar-benar lahir dari sudut pandang saya. Begitu ceritanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s