KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 17)

Posted on


KISAH YUNUS AS DAN IKAN PAUS

Nabi Yunus as adalah nabi yang sangat mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda masalah Yunus as ini, “Janganlah kalian menganggapku lebih utama daripada Yunus ibn Matta.”

Nabi Yunus juga mempunyai nama lain yaitu Dzun Nun ataupun Yunan. Beliau adalah seorang nabi yang diutus Allah swt untuk kaumnya. Maka wajar sekali kalau beliau berdakwah kepada kaumnya untuk hanya menyembah kepada Alla semata. Yunus as. tak pernah bosan terus mengajak kaumnya untuk beriman. Tapi tak seorang pun mau mengikutinya.

Sampai pada suatu hari, setelah sekian lama Yunus berusaha dan sekian lama pula mendapatkan penolakan dari kaumnya, Yunus mulai berputus asa. Hatinya dipenuhi amarah kepada kaumnya yang tak juga beriman. Maka Yunus pun pergi meninggalkan kaumnya dengan membawa perasaan amarah tersebut.

Allah menceritakan kejadian ini dalam Al-Qur’an;

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).” (Al-Anbiya : 87)

Yunus kemudian berjalan menuju pantai. Sesampainya dia di sana, Yunus melihat sebuah kapal dan kemudian memutuskan untuk ikut bersamanya agar dia bisa pergi ke tempat lain. Yunus memutuskan pergi meninggalkan kaumnya, padahal Allah tidak memerintahkan memerintahkan Yunus untuk pergi. Yunus menyangka bahwa Allah tak akan memberinya hukuman karena meninggalkan kaumnya. Seorang nabi hanya diperintahkan untuk berdakwah saja. Perkara dakwahnya berhasil atau tidak, Yunus tak mau memikirkannya. Seharusnya beliau tetap berada di tengah-tengah kaumnya untuk terus berdakwah, lalu menyerahkan masalah sukses atau tidaknya ke Allah.

Sebelum naik kapal, Yunus melihat seekor anak ikan yang berenang melawan arus. Ikan kecil itu tampak bingung tak tahu mesti berbuat apa. Tiba-tiba datang ombak besar yang membuat ikan itu terlempar dengan keras ke batu karang. Melihat itu Yunus sedih. Beliau kemudian teringat akan keadaan dirinya. Rasa marah dan kecewanya langsung membesar dan tanpa pikir panjang, Yunus naik ke kapal untuk pergi.

Kala itu Yunus sedang bingung. Beliau tidak menyadari bahwa sebenarnya beliau sedang melarikan diri dari kehendak Allah. Yunus tidak membawa bekal makanan, tidak punya bawaan atau pun teman yang mengantarkan ke dermaga. Ketika akan melangkah, kapten kapal pun bertanya, “Engkau mau ke mana?”

“Aku ingin ikut kapal kalian, kemanapun kalian pergi. Apa kapal berangkatnya masih lama?” tanya Yunus.

“Kami akan berangkat bersamaan pada air pasang selanjutnya,” jawab kapten.

“Aku akan ikut berlayar dengan kalian. Berapa ongkos yang harus kubayar?” tanya Yunus.

“Kami hanya menerima bayaran dengan emas,” jawab kapten.

“Boleh saja,” jawab Yunus.

Kapten kapal meminta bayaran tiga kali lipat dari biasanya. Kapten curiga kalau Yunus adalah seorang kriminal yang melarikan diri setelah melakukan sebuah kejahatan. Tapi emas adalah emas. Kapten itu tak terlalu perduli, yang penting Yunus mau membayar, apalagi hingga tiga kali lipat.

Yunus kemudian masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya. Yunus langsung membaringkan dirinya di tempat tidur dan mencoba untuk bisa tidur.

Kapal kemudian bergerak berangkat. Kapal membelah lautan yang tenang dengan angin sepoi-sepoi. Semuanya tampak menyenangkan dan tenang. Hari mulai malam dan laut tiba-tiba berubah seketika. Badai yang menakutkan datang. Ombak datang dengan menggila, mengombang-ambingkan kapal tak karuan. Sebuah ombak besar menghantam buritan sehingga semua orang yang sedang di atas dek, tampak basah kuyup.

Dari dasar laut, Allah memerintahkan seekor ikan paus besar untuk berenang mengikuti kapal tersebut. Ikan itu menaati perintah Allah dan berenang mengikuti kapal tersebut.

Badai tak berhenti, malah semakin gila. Kapten kapal memerintahkan anak buahnya untuk membuang barang-barang yang tidak berguna. Peti, karung, bungkusan dan segala barang yang tak berguna satu persatu dibuang ke laut untuk mengurangi beban kapal. Badai masih saja berlangsung.

“Tidak seperti biasanya badai mengamuk tiba-tiba seperti ini. Di dalam kapal pasti ada seorang pendosa sehingga badai bisa mengamuk sebegini dahsyat,” pikir kapten kapal.

Kapten perintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan semua penumpang dan mengadakan undian. Siapa saja yang namanya keluar, harus dibuang ke laut. Hal ini adalah tradisi kapal-kapal penyembah berhala saat menghadapi badai. Entah mengapa, Yunus saat itu mau begitu saja mengikuti aturan para penyembah berhala ini. Di sinilah Yunus diuji. Seharusnya beliau sebagai nabi tidak tunduk pada hukum kaum sesat yang percaya bahwa laut mempunyai dewa yang bisa murka dan angin juga mempunyai dewa yang bisa berbahaya, karena manusia harus bisa memuaskan mereka dengan menyembahnya.

Dengan terpaksa Yunus mengikuti aturan pagan itu dan ternyata namanya yang keluar. Undian diulangi lagi dan nama Yunus yang keluar lagi. Undian diulangi untuk ketiga kalinya dan nama Yunus keluar lagi. Kemudian dinyatakan bahwa Yunuslah yang harus dilempar keluar kapal.

Tiba-tiba Yunus merasa bersalah karena telah meninggalkan kaumnya. Tapi sekarang sudah terlambat. Yunus kemudian dilemparkan ke laut. Ikan paus yang sedari tadi mengikuti kapal itu melihat Yunus terombang-ambing dipermainkan ombak. Paus itu kemudian mengira bahwa Allah telah mengirimkan makanan untuknya. Yunus pun kemudian dimakan oleh paus besar itu. Setelah memakan Yunus, ikan raksasa itu pun kemudian berenang kembali menuju dasar laut.

Yunus menyangka dirinya telah mati. Beliau kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Ternyata semua masih bergerak. Panca inderanya juga norma. Berarti dia masih hidup. Hanya saja sekarang beliau di dalam kegelapan yang amat sangat, di dalam seekor ikan paus.

Yunus mulai menangis dan bertasbih. Terpenjara dalam tiga kegelapan sekaligus, beliau kembali bermunajat kepada Allah. Mula-mula hatinya yang bertasbih, lama kelamaan bibirnya pun mulai bertasbih.

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya : 87)

Ikan paus itu kemudian tertidur di dasar laut dengan bertumpu dengan perutnya. Sementara itu, Yunus as terus bertasbih kepada Allah. Beliau terus menangis dan menangis. Beliau terus berpuasa, dan makanannya hanyalah tasbih. Ikan-ikan, tumbuh-tumbuhan da makhluk lainnya yang berada di dasar laut mendengar tasbih itu. Mereka kemudian berkumpul dan ikut bertasbih, mengikuti tasbih Yunus as. Setiap makhluk bertasbih dengan cara dan bahasanya masing-masing.

Ikan paus itu kemudian terbangun. Dia menyaksikan sebuah parade tasbih yang begitu besar. Makin lama parade tasbih itu semakin besar. Dasar lautan itu tampak penuh dengan parade tasbih itu. Semua makhluk laut, semua jenis ikan, tumbuhan, karang dan semua penghuni laut, bertasbih, memuja kebesaran Allah. Paus itu pun kemudian ikut bertasbih. Ikan itu kemudian menyadari bahwa dia baru saja menelan seorang nabi. Awalnya paus itu takut namun dia menyadari bahwa semua ini adalah perintah Allah.

Yunus as tinggal di perut paus dalam kurun waktu yang tidak kita ketahui. Yang jelas, beliau tidak henti-hentinya bertasbih memuja Allah. Allah akhirnya melihat ketulusan tobat Yunus. Maka Allah perintahkan paus untuk muncul di permukaan laut lalu memuntahkan Yunus di sebuah pulau. Paus itu pun kembali menaati perintah Allah.

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian. Maka dia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, nisacaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan kami utus dia kepada saeratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat : 139-148)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s