KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 16)

Posted on


KISAH KESABARAN NABI AYYUB AS

Dalam masalah kesabaran Ayyub as adalah suri tauladan. Dalam Al-Qur’an Allah juga memuji Ayyub dalam hal kesabarannya,

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad : 44)

Ayyub adalah sosok yang selalu berdzikir, bersyukur dan bersabar. Kesabarannya adalah rahasia sukses di balik keselamatannya dan pujian Allah kepadanya.

Sebelum mendapat ujian, Ayyub adalah seseorang yang kaya raya. Hidupnya nyaman dan dihormati. Lalu Allah menguji kesabarannya dengan hilangnya harta bendanya sehingga Ayyub hidup miskin. Tapi beliau masih saja bersyukur karena masih memiliki keluarga. Kemudian ujian datang lagi. Beliau kemudian kehilangan keluarga sehingga hidup sebatang kara. Ayyub masih bersyukur karena masih punya kesehatan.

Ujian belum selesai. Allah kemudian menurunkan penyakit yang tak kunjung sembuh hingga orang-orang menjauhi beliau. Hanya kesedihan dan kesendirian yang setia menemani beliau. Hidup Ayyub kini benar-benar terpuruk. Miskin, sebatang kara dan penyakitan lagi. Tapi ternyata Ayyub masih bisa bersabar. Kesabarannya jauh lebih besar daripada cobaan yang diberikan Allah kepadanya.

Pada suatu hari singgahlah suatu pikiran setan yang menyelimuti hati Ayyub. Setan berusaha menggoda iman Ayyub dan mulai berkata, “Hai Ayyub, penyakit dan siksaan yang kau rasakan selama ini sebenarnya karena sentuhanku, sentuhan setan. Jika kamu berhenti sehari saja untuk bersabar, maka rasa sakit yang kau rasakan akan lenyap dan kamu akan sembuh.”

Orang-orang di sekelilingnya juga berkata, “Jika Allah memang mencintaimu, pasti Dia tidak akan menurunkan ujian ini kepadamu.” Orang-orang ini jelas sudah ikut menggoda kesabaran Ayyub.

Kedua godaan pikiran itu menyerang Ayyub dengan gencar. Ayyub berusaha untuk menghalau pikiran-pikiran sesat itu. Beliau berkata pada dirinya sendiri, “Pergilah setan! Aku tidak akan pernah berhenti untuk bersabar, bersyukur dan beribadah kepada Allah.”

Maka pergilah setan yang membawa perasaan putus asa. Setan telah gagal menggoda beliau dengan cara memanfaatkan perasaan putus asa dari penyakitnya yang tak kunjung sembuh ini.

Tak lama datang istrinya dengan membawa makanan lezat. Kemiskinan mendera mereka sehingga tak mungkin kalau mereka bisa membeli atau membuat makanan yang begitu lezat dan mewah ini. Ayyub murka terhadap istrinya karena mengira mendapatkan makanan itu dari hasil usaha yang diharamkan Allah. Ayyub bersumpah akan memukulnya seratus kali kalau sembuh nanti.

Sore harinya, Ayyub baru menyadari kalau ternyata istrinya mendapatkan uang dengan cara mencukur rambutnya. Menyadari kesalahannya, pergilah Ayyub ke sebuah gunung dan berdoa kepada Allah. Al-Qur’an menceritakannya sebagai berikut,

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dari siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu, iniah air yang sejuk untuk mandi dan minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. ‘Dan ambillah dengan seikat (rumput), maka pukullah dengan itu (istrimu) dan janganlah kamu melanggar sumpah.’ Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad : 41-44)

Allah kemudian memerintahkan Ayyub untuk mandi di salah satu mata air di gunung tersebut. Allah juga memerintahkan untuk minum di mata air tersebut. Begitu Ayyub minum, penyakit yang dideritanya langsung lenyap tak berbekas. Lebih dari itu, keluarganya pun kini telah kembali bahkan kini berlipat. Kini Ayyub tidak lagi sendiri. Allah juga mengganti kekayaannya berlipat ganda sebagai rahmat dan anugerah dari-Nya. Ayyub as kini sangat bersyukur atas selesainya ujian berat yang dihadapinya.

Kemudian beliau teringat akan sumpah untuk memukul istrinya. Allah mengetahui bahwa sesungguhnya Ayyub tidak benar-benar ingin menyakiti istrinya. Tapi bagaimana pun, Ayyub sudah bersumpah dan sumpah itu harus ditepati. Maka Allah memerintahkan Ayyub untuk mengikat seratus batang pohon raihan atau selasih, dan memukul istrinya dengan satu pukulan. Ayyub kemudian melaksanakan perintah Allah tersebut. Ayyub telah melaksanakan sumpah itu tanpa harus menyakiti istrinya.

Semoga kisah Nabi Ayyub as ini menjadikan kita lebih sabar ketika menhadapi cobaan dari Allah. Salah satunya adalah cobaan turunnya penyakit yang tak kunjung sembuh. Sudah seharusnya kalau kita selalu bersabar dan hanya meminta kesembuhan hanya kepada-Nya. Bukan kepada dukun atau pun setan yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah.

Semoga kita bisa meneladani kesabaran Ayyub as dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s