MEMBACA TETRALOGI LASKAR PELANGI SEPERTI MEMBACA BIOGRAFI ANDREA HIRATA

Posted on


Judul di atas sebenarnya tidak tepat walaupun juga tidak salah. Tetralogi Laskar Pelangi ini memang ditulis berdasarkan kisah hidup penulisnya, tapi tidak persis sama. Ada banyak dramatisasi dan juga penambahan di sana-sini untuk menciptakan efek psikologis pembaca, sesuai keinginan penulisnya.

Seperti misalnya, menurut desas-desus sebenarnya karakter Lintang itu tidak ada. Dari semua anggota Laskar Pelangi di dunia nyata semuanya ada, kecuali Lintang. Mungkin saja Lintang adalah bentuk alter ego dari Ikal atau Andrea Hirata itu sendiri. Ini sah-sah saja karena tetralogi ini memang bukan autobiografi. Tetralogi ini memang murni fiksi, walaupun terinspirasi dari kehidupan nyata.

Tetralogi ini terbagi dalam 4 buku yang berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan yang terakhir Maryamah Karpov. Secara urutan waktu, tetralogi ini bisa dibagi sebagai berikut;

Laskar Pelangi bercerita tentang masa kecil Ikal yang bersekolah di SD Muhammadiyah. Sebuah SD miskin di tengah pulau Belitong yang sangat kaya akan timah. Karenanya di pulau tersebut ada PT. Timah yang mengeksploitasi timah. Cerita buku ini berlatarbelakang puncak kejayaan PT. Timah. Sang Pemimpi bercerita tentang masa remaja Ikal, masa pencarian jatidiri dan penuh gejolak. Buku ini bercerita tentang masa SMA dan juga masa kuliah. Di sini ada penambahan karakter penting yang sama sekali tak ada di Laskar Pelangi yaitu Arai. Edensor bercerita tentang masa-masa ketika menuntut ilmu di luar negeri serta penjelajahan Ikal dan Arai mengelilingi Eropa dan melintasi Afrika. Maryamah Karpov bercerita tentang masa-masa sesudah Ikal tiba kembali di Belitong.

Terus terang, aku baca tetralogi ini sudah terlambat. Aku baca buku pertama setelah aku nonton filmnya. Melihat filmnya aku samasekali tidak tertarik. Aku pikir, paling-paling juga cerita standar. Seorang teman kemudian menyarankan untuk membaca buku pertama ini. Oke deh, aku baca. Tapi kalau disuruh beli ogah, sayang duitnya. Dan aku pun download ebooknya dan mulai aku baca. Ternyata bukunya jauh lebih keren daripada filmnya.

Ceritanya sih masih klise, tapi buku pertama ini di atas rata-rata. Penggambaran detil masalahnya bagus dan yang paling aku suka adalah penggambaran Ikal yang jatuh cinta dengan A Ling. Menurutku itu lucu banget dan asyiknya kita jadi bisa bayangkan bagaimana standar moral bangsa Melayu pada tahun-tahun tersebut.

Berlanjut ke buku kedua. Aku masih belum mau beli tetralogi ini. Aku cari ebook buku keduanya dan kemudian membacanya. Aku baca Sang Pemimpi ketika poster-poster film Sang Pemimpi sedang menghiasi bioskop-bioskop Jakarta. Buku ini adalah buku yang paling keren dari semuanya. Setelah baca buku ini aku tertulari semacam semangat optimisme.

Aku suka dengan karakter Arai, seorang simpai keramat yang telah ditinggal mati ayah ibunya ketika masih kecil. Cerita karakter ini benar-benar mampu membuat aku menitik airmata. Ketika Arai mencapai sesuatu yang diinginkan, Andrea menggambarkan dengan sangat melankolis. Diceritakan bahwa Arai akan mengaji dengan tajwid yang meliuk-liuk penuh dengan kerinduan kepada ayah ibunya, seakan-akan Arai sedang memberitahu mereka tentang berita bahagianya. Aku suka.

Setelah baca Sang Pemimpi, aku akhirnya membeli buku tetralogi ini. Aku pikir ini adalah 4 buku yang berharga dan pantas aku rekomendasikan ke orang lain.

Edensor terasa sangat ilmiah dan berbau petualangan. Masih lumayan walaupun menurutku masih di bawah Sang Pemimpi. Aku bayangkan buku ini lebih menyasar ke orang-orang yang lebih suka cerita petualangan.

Maryamah Karpov menurutku adalah buku ter’buruk’ dari semuanya walaupun semua kesimpulan dari cerita ada di sini. Aku sudah merasa bosan ketika baru membaca separuh. Terlalu banyak karakter baru dan menurutku mubazir. Selain ingin mengetahui ending dari percintaan Ikal-A Ling, kisah Ikal tentang ayahnya yang membuat aku terus bertahan untuk mebaca buku keempat ini. Kisah tentang ayah selalu saja mengusik diriku. Mungkin karena aku sendiri juga merindukan sosok ayah yang sudah meninggal waktu aku kelas dua SMA dulu. Ah, sudahlah, tak perlu cerita terlalu banyak tentang diriku. Tapi menurutku pengalaman pribadi juga turut mempengaruhi penilaianku tentang cerita ini.

Secara keseluruhan, aku pikir tetralogi pantas untuk dikoleksi dan dibaca tentunya. Semoga bermanfaat.

3 thoughts on “MEMBACA TETRALOGI LASKAR PELANGI SEPERTI MEMBACA BIOGRAFI ANDREA HIRATA

    alice pngen gituan said:
    Maret 8, 2010 pukul 11:08 am

    😕

    eny said said:
    Maret 29, 2010 pukul 10:41 pm

    Lho, baru baca “tetralogi-nya AH?” hihihi… sama, tp aku lum kelar 4-4nya, neh br mulai edensor lagi, baru 3 hari beli hehehe (gara2 pas plg kediri kmr, nemu laskah pelangi yang hardcover item yang dapat dari kick andy 2 th lalu hihihi… lum kelar dibaca akhirnya dilahap abis. trus 3 hari lalu beli edensor. klo sang pemimpi udah dari sebelum filmny lalu).

    setuju deh. mang bagus n layak dikoleksi tetralogi ini. natural n optimis yang menginspirasi itu lho yang penting…

    Anonim said:
    Oktober 26, 2010 pukul 12:15 pm

    gantung banget………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s