KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 13)

Posted on


YUSUF AS BERJUMPA LAGI DENGAN SAUDARA-SAUDARANYA.

Hari demi hari, bulan demi, tahun demi tahun, terus saja berganti. Waktu berlalu dengan cepat. Tujuh tahun berlimpahan kemudian digantikan dengan tujuh tahun paceklik. Masa paceklik tiba. Di sini Al-Qur’an tidak menceritakan bagaimana dengan raja dan juga para menterinya. Al-Qur’an berfokus pada cerita Yusuf semata.

Yusuf sudah membuat perencanaan ekonomi yang rapi untuk menghadapi masa paceklik panjang ini. Pembagian makanan sudah diatur sedemikian rupa. Yusuf sudah menghitung berapa perbandingan makanan dengan jumlah yang mengkonsumsinya. Beliau juga sudah membuat undang-undang tentang aturan maksimal jumlah pembelian makanan. Undang-undang itu hanya memperbolehkan satu orang pada satu masa membeli bahan makanan maksimal seberat beban unta walaupun orang yang akan membelinya mempunyai banyak uang.

Negeri Mesir begitu makmur dan bisa bertahan dari paceklik panjang ini berkat Yusuf. Tapi negeri-negeri tetangga tidak demikian. Palestina, tempat ayah dan saudara-saudaranya tinggal, juga mengalami paceklik panjang yang amat menyiksa. Saudara-saudara Yusuf mendengar bahwa mereka bisa membeli bahan makanan di Mesir. Mereka pun kemudian memutuskan pergi ke Mesir untuk membeli bahan makanan.

Sampailah mereka di Mesir dan bergabung dengan antrian panjang untuk mendapatkan bahan makanan. Yusuf yang duduk sebagai pejabat, melihat mereka. Namun saudara-saudara Yusuf yang pernah menceburkan Yusuf ke sumur, tidak melihat Yusuf. Saat itu Yusuf memang berbeda sekali. Kini Yusuf adalah orang penting yang segala perintahnya pasti ditaati.

Yusuf kemudian menghampiri dan menyapa mereka tanpa mereka ketahui identitas Yusuf sebenarnya.

“Kami telah menentukan untuk memberi setiap orang bahan makanan seberat muatan unta. Berapa jumlah kalian?” tanya Yusuf.

“Kami ada sebelas orang,” jawab salah satu di antara mereka.

“Bahasa kalian berbeda dengan kami, dan pakaian kalian juga berbeda dari pakaian kami. Jangan-jangan kalian mata-mata?” tanya Yusuf.

Mereka terkejut dan buru-buru berkata, “Sungguh, kami bukan mata-mata. Kami adalah sebelas bersaudara. Ayah kami adalah orang baik, tetapi dia sudah tua renta.”

“Kata kalian tadi, jumlah kalian sebelas. Tapi kalian hanya bersepuluh sekarang?” tanya Yusuf.

“Sebenarnya kami duabelas bersaudara. Salah satu dari kami telah binasa di tengah gurun. Dan saudara kami yang satu lagi, bernama Bunyamin, sangat dicintai ayah kami. Ayah kami tak mungkin jauh darinya. Kami datang ke sini membawa untanya sebagai ganti,” kata salah seorang dari mereka.

“Bagaimana mungkin kami percaya dengan omongan kalian?” tanya Yusuf.

“Pilihlah sesuatu dari kami yang dapat menyakinkan hati Tuan,” kata salah satu mereka.

“Undang-undang menetapkan bahwa kami tidak akan memberikan bahan makanan kepada mereka yang tidak datang. Datangkanlah kepadaku saudaramu Bunyamin supaya aku bisa memberikan bahan makanan itu kepadanya,” kata Yusuf. Bunyamin adalah saudara satu ibu Yusuf yang juga sangat dicintai Ya’qub.

“Kami akan berusaha meyakinkan ayah kami untuk mengajak Bunyamin ke sini,” kata mereka.

Al-Qur’an menceritakan tentang ini sebagai berikut,

“Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata, ‘Bawalah saudaramu yang se-ayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima. Jika kamu tidak membawanya padaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan mendekatiku.’ Mereka berkata, ‘Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaknsakannya.’ Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: ‘Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi’.” (QS. Yusuf : 58-62)

Saudara-saudara Yusuf telah sampai ke ayahnya, Nabi Ya’qub. Sebelum menurunkan barang, mereka menemui ayahnya terlebih dahulu.

“Satu sukatan gandum tidak diberikan pada kami,”kata salah satu dari mereka.

“Itu karena Ayah tidak mengijinkan Bunyamin untuk ikut bersama kita,” sambung yang lain, “Penguasa Mesir itu berkata bahwa dia tidak akan memberikan bahan makanan kepada orang yang tidak datang.”

Jelas sekali kalau saudara-saudara Yusuf ini menyalahkan Ya’qub yang tidak mengijinkan Bunyamin ikut seakan-akan itu menyebabkan nasib mereka pun ikut buruk. Mereka kemudian membuka barang bawaan. Alangkah kagetnya mereka ketika melihat barang-barang yang ditukarkan dengan bahan makanan ini ada juga di karung-karung bawaan mereka. Itu adalah sebuah pertanda yang mencemaskan mereka.

“Ini berarti mereka tidak akan menjual makanannya kecuali Bunyamin pergi dengan kita,” kata mereka kepada Ya’qub.

Dengan berat, Ya’qub akhirnya mengijinkan Bunyamin untuk ikut serta dalam perjalanan mereka selanjutnya. Mereka juga berjanji akan menjaga Bunyamin dengan sepenuh hati. Perjalanan kali ini mereka berjumlah sebelas orang.

Begitu mereka sampai di Mesir, seperti biasa, mereka antri. Di sebuah kesempatan, ketika saudara-saudara tidak bersama Bunyamin, Yusuf menemui Bunyamin dan berbisik kalau dia adalah Yusuf.

Atas bimbingan Allah, Yusuf merencanakan sesuatu. Dia memerintahkan salah satu prajuritnya untuk menyembunyikan piala takaran raja di karung milik Bunyamin. Piala itu berfungsi sebagai penakar yang terbuat dari emas murni. Ketika sebelas saudara ini bersiap-siap akan pulang, terdengar suara komandan prajurit Mesir memerintahkan untuk menutup seluruh pintu keluar. Ada barang milik raja yang hilang, dan komandan itu memerintahkan penggeledahan terhadap semua kafilah, termasuk kafilah sebelas bersaudara ini.

“Barang apa yang hilang?” tanya mereka.

“Piala emas raja,” jawab komandan.

“Kami datang ke sini bukan untuk merusak atau pun mencuri.”

“Hukuman apa dalam adat kalian jika ketahuan mencuri?” tanya komandan.

“Dalam adat kami, si pencuri akan menjadi budak dari pemilik barang itu,” jawab mereka.

“Baiklah. Kami akan menerapkan hukuman itu.”

Para prajurit kemudian menggeledah mereka dan akhirnya mereka menemukan piala emas itu di karung milik Bunyamin. Sesuai hukum yang disepakati bersama, maka Bunyamin harus tetap tinggal di Mesir dan menjadi budak penguasa Mesir. Saudara-saudara Yusuf ini kemudian meminta belas kasihan Yusuf.

“Tuanku, sesungguhnya ayah dari anak ini sudah tua renta. Karena itu, ambilah salah satu dari kami untuk menggantikannya,” kata mereka.

“Bagaimana mungkin kami membiarkan pencuri piala raja bebas, dan mengambil orang lain sebagai gantinya? Itu adalah kezaliman, dan kami bukanlah orang yang zalim,” jawab Yusuf.

Apa boleh buat. Ini sudah ketentuan yang tak bisa diubah. Mereka kemudian berunding untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Aku tidak akan pulang,” kata saudara yang paling tua, “Sebelumnya kalian telah melenyapkan Yusuf. Kini Bunyamin menjadi seorang budak. Kuminta kalian pualng tanpa diriku dan jelaskan pada ayah apa yang telah terjadi.”

Mereka memutuskan untuk tanpa saudara mereka yang paling tua dan juga yang paling muda. Sesampainya di rumah, mereka menghadap Ya’qub. Mereka kemudian menceritakan tentang Bunyamin yang ditangkap karena mencuri. Hati Ya’qub hancur dan tak percaya kalau Bunyamin sampai mencuri. Saat itu Ya’qub sudah tua renta dan Allah mengujinya seorang diri. Beliau terus menerus menangis sehingga matanya tak bisa melihat. Di tengah kesedihan yang mendalam, Ya’qub memerintahkan anak-anaknya untuk mencari kabar tentang Yusuf. Dalam munajatnya, dia merasa bahwa Yusuf masih hidup.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Kemudian para saudara ini kembali ke Mesir untuk menukar bahan makanan dengan barang-barang yang sama sekali tidak berharga. Ini disebabkan mereka sudah tidak mempunyai barang-barang yang masih layak untuk ditukar dengan bahan makanan. Dengan kata lain, mereka sudah sangat miskin untuk berdagang.

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, ‘Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS. Yusuf : 88)

Kepada Yusuf mereka bicara seputar kesengsaraan hidup mereka dan kesedihan ayah mereka. Mereka terkejut bukan main ketika Yusuf kemudian berbicara dengan bahasa mereka dan bertanya apa yang telah mereka lakukan saudara mereka Yusuf dahulu.

“Yusuf berkata, ‘Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?’ Mereka berkata, ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab, ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’.” (QS. Yusuf : 89-91)

Mereka telah mengakui kesalahannya. Mereka pun kemudian berpikir, hukuman apa yang akan mereka terima, mengingat sekarang Yusuf adalah orang yang sangat berkuasa. Untuk menentramkan hati mereka Yusuf berkata,

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang’.” (QS. Yusuf : 92)

Yusuf bersikap sangat arif dan bijaksana. Kemudian Yusuf bertanya tentang ayahnya. Saudara-saudara ini kemudian menceritakan bahwa ayah mereka kini buta karena terlalu banyak menangis. Kemudian Yusuf melepaskan pakaiannya dan memberikan pada saudaranya.

“Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letkkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya padaku.” (QS. Yusuf : 93)

Saudara-saudara Yusuf kemudian kembali ke Palestina. Sementara itu, Ya’qub beranjak dari kamarnya dan berdiri di halaman rumah. Beliau mengangkat wajahnya ke langit dan menghirup udara dengan kuat. Wajah beliau kemudian terlihat tersenyum, membaui Yusuf yang masih berada di Mesir. Para menantunya terheran-heran dengan sikap Ya’qub.

“Ayah, kenapa tersenyum?” tanya salah satu menantu.

“Sungguh, aku menemukan bau Yusuf,” jawab Ya’qub.

Hari itu Ya’qub meminta segelas susu. Sebenarnya beliau hari itu sedang berpuasa, namun entah kenapa beliau membatalkan puasanya. Beliau juga meminta makanan dan memakannya hingga habis. Sore harinya beliau mengenakan pakaian bagus.

Rombongan saudara Yusuf sudah mulai mendekati kampung Ya’qub. Ya’qub kemudian sholat berlama-lama kemudian bermunajat sambil menghirup udara dalam-dalam. Beliau menangis ketika mencium bau pakaian Yusuf yang kian mendekat.

Kafilah saudara Yusuf kemudian sampai di rumah dan menemui Ya’qub. Diletakkanlah baju gamis Yusuf di wajahnya dan Ya’qub pun kemudian bisa melihat lagi.

Allah menceritakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), berkata ayah mereka, ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).’ Keluarganya berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruan yang dahulu.’ Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub, ‘Tidakkah aku katakan padamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.’ Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).’ Ya’qub berkata, ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Yusuf : 94-98)

Kisah Yusuf diawali dengan penafsiran mimpi dan kemudian juga diakhiri dengan penafisiran mimpi juga. Al-Qur’an menceritakan bagaimana akhir kisah dari Yusuf as.

“Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul ibu-bapaknya dan dia berkata, ‘Masuklah kamu di negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’ Dan dia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, ‘Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS. Yusuf : 99-100)

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafakanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan oarng-orang yang saleh.” (QS. Yusuf : 101)

2 thoughts on “KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 13)

    sahrulpabiccang said:
    Februari 24, 2010 pukul 5:49 pm

    Assalamu Alaekum Wr.Wb. Wah aku ketinggalan neh. Tau tau udah bagian 13.

      Marhan Faishal responded:
      Februari 24, 2010 pukul 6:31 pm

      Wa alaikum salam wr.wrb.
      Saya yang terlalu lama nulisnya, maaf, soalnya memang di sela-sela waktu kerja. Semoga bisa lebih teratur dan cepat lagi nulisnya. Terimakasih atas dukungannya. Ini sangat berarti bagi saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s