KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 9)

Posted on


KISAH LUTH AS DAN KAUM HOMO SEKSUAL

Di jaman modern ini, istilah gay ataupun lesbian sudah tak asing lagi. Bahkan dalam Bahasa Indonesia, bencong ataupun wadam ataupun waria, sering jadi bahan guyonan dan sangat akrab dengan pemirsa televisi. Ternyata penyimpangan ini sudah ada pada jaman para nabi. Kaum nabi Luth as terkenal dengan penyimpangan seksual seperti yang terjadi di jaman modern ini. Ini adalah bentuk kejahatan baru pada saat itu.

Nabi Luth as diutus Allah untuk mengajak kaum bencong tersebut untuk kembali ke Allah. Beliau berseru untuk menyadarkan akan fitrah mereka seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an,

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?’ ‘Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)’.” (QS. An-Naml : 54-55)

Tapi apa jawaban kaum itu akan ajakan Luth? Sebuah jawaban yang sombong dan angkuh dilontarkan kepada nabi yang mulia ini.

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-

orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (QS. An-Naml : 56)

Tampak jelas bahwa kaum Luth mengalai kelainan psikis. Sebenarnya mereka adalah kaum yang cerdas dan jenius. Karenanya mereka akhirnya menjadi sombong. Hasil pikirannya yang jenius dianggap sebagai satu-satunya kebenaran dan menutup mata terhadap kebenaran sejatinya, yaitu kebenaran dari Allah. Segala sesuatunya jadi terbalik di mata mereka. Laki-laki jadi tumpahan nafsu sesksual, menggantikan wanita. Keluhuran dan kesucian menjadi sebuah ‘kejahatan’ yang harus disingkirkan. Mereka adalah orang-orang sakit yang menolak diobati, bahkan menantang orang yang mengobati.

Mereka melakukan kejahatan ini dengan terang-terangan. Jika ada orang asing laki-laki yang kebetulan lewat daerah kaum ini, sudah dapat dipastikan bahwa orang asing itu tidak akan selamat dari nafsu bejat kaum ini. Namun Nabi Luth as terus mengajak mereka dengan bersungguh-sungguh tanpa pernah merasa putus asa.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Nabi Luth as terus saja berdakwah tapi ada satu pun yang beriman kecuali sebagian keluarga Luth sendiri. Saking bejatnya kaum itu, sebagian keluarga nabi Luth as bahkan tidak beriman kepada Allah. Salah satunya adalah istri nabi Luth as.

Jika rumah adalah tempat istirahat, tapi tidak bagi Luth. Beliau tersiksa di luar rumah maupun di dalam rumah. Kesedihan menemani sepanjang waktu, tapi beliau mempunyai kesabaran yang amat besar. Luth terus berdakwah walaupun tak ada yang mau beriman. Tak hanya itu, kaum ini bahkan telah berani untuk menantang Luth. Mereka berkata,

“Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ankabut : 29)

Tatkala keputusasaan sudah menyelimuti Luth, beliaupun kemudian berdoa kepada Allah untuk menolongnya dan menghancurkan orang-orang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Allah kemudian mengirim tiga malaikat yang bertamu di rumah Ibrahim as. Setelah mampir di rumah Ibrahim as, malaikat pergi ke kaum Luth dan tiba pada waktu senja. Di perbatasan kota, malaikat bertanya ke putri Luth yang kebetulan sedang mengisi air di sumber air.

“Saudariku, apakah ada orang di rumah?” tanya salah satu malaikat itu. Putri Luth melihat ketampanan yang lura biasa dari ketiga musafir ini. Saat itu juga putri Luth teringat akan kebejatan kaumnya dan dia berkata, “Tetaplah tuan-tuan di sini. Jangan masuk kota dulu. Aku akan memberitahu ayah. Biar ayah yang datang ke sini untuk menemui tuan-tuan.”

Dengan tergesa-gesa, putri Luth lari ke pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya, “Ayah, ada tiga pemuda tampan yang ingin berjumpa. Mereka ada di pintu masuk kota. Aku belum pernah melihatnya.”

Luth kemudian berkata, “Ini hari yang sulit..” Luth kemudian menemui mereka di batas kota. Luth bertanya, “Dari mana tuan-tuan datang? Ada keperluan apa?”

Ketiga malaikat ini hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan.

“Aku belum pernah melihat kaum yang lebih hina dari penduduk negeri ini,” kata Luth. Kata-kata Luth sebenarnya bermaksud untuk tidak mencegah para tamu ini untuk menginap di negeri kaum Luth ini. Sia-sia saja, ketiga tamu ini terus saja diam.

Demi keamanan, Luth kemudian membawa mereka ke rumah setelah malam tiba. Tidak seorangpun yang melihat kedatangan mereka bertiga. Bahkan istri Luth pun tidak tahu kedatangan mereka. Hingga kemudian sang istri mengintip tanpa sepengetahuan Luth. Istri Luth langsung bergegas pergi ke kaumnya dan bercerita bahwa di rumahnya kini ada tiga lelaki rupawan. Sontak, semua orang berbondong-bondong menuju rumah Luth.

Luth bertanya-tanya, siapa yang memebritahu kaumnya. Hatinya kemudian bersedih ketika menyadari bahwa yang memberitahu kaumnya adalah istrinya sendiri. Rumah Luth dalam sekejab dikepung kaumnya. Luth keluar dan berkata kepada kaumnya,

“Luth berkata, ‘Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Hud : 78)

Hati mereka tak tersentuh.

“Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki’.” (QS. Hud : 79)

Luth kemudian masuk rumah dengan perasaan yang sangat marah. Ditutupnya pintu rumahnya dan dikuncinya rapat-rapat. Tubuhnya tergetar karena malu. Segala ocehan dan tertawaan yang sangat menghina masih terdengar hingga ke dalam rumah. Pintu mulai digedor-gedor. Lama kelamaan bisa jebol pintu itu. Tertanam tekad Luth untuk melawan kaumnya, apapun yang terjadi, walaupun beliau tahu akan kalah melawan kaum bejat itu.

Ketiga tamu itu tampak tenang seperti tak ada hal yang terjadi di rumah itu. Luth berharap mempunyai kekuatan untuk melindungi tamunya.

“Hai Luth, janganlah engkau bersedih dan janganlah engkau takut. Sesungguhnya kami adalah malaikat Allah. Mereka sama sekali tidak akan bisa menyakitimu,” kata salah satu malaikat.

Malaikat jibril kemudian mengibaskan tangannya. Dar! Pintu rumah terbelah dan ada tekanan angin yang sangat kencang dari dalam rumah. Dalam sekejab, kaum Luth kehilangan pengelihatan. Mereka berjalan meraba-raba tembok rumah.

Malaikat kemudian berpesan agar Luth as dan keluarganya untuk meninggalkan kota pada tengah malam. Mereka akan mendengar suara gunung meletus, tapi jangan sampai mereka menengok ke beakang, ke arah kota, supaya tidak kena bencana. Azab macam apa ini? Aneh sekali, sebab azab ini akan menimpa seseorang hanya karena dia melihat ke belakang ke arah kota.

Malaikat juga menjelaskan bahwa istri Luth termasuk orang-orang yang terkena azab Allah karena dia adalah orang yang kafir.

Maka pergilah Luth beserta keluarganya malam itu juga. Mereka berjalan tergesa-gesa. Mendekati waktu subuh, Luth dan sekeluarganya sudah jauh dari kota itu. Kemudian tibalah janji Allah,

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud : 82-83)

Semua terbalik ke atas, hingga malaikat yang sedang berada di langit mendengar suara kokok ayam dan gonggongan anjing mereka. Semua yang ada ditempat itu kemudian dibenamkan di dalam bumi. Langit-langit menurunkan batu yang berasal dari neraka. Kaum Luth benar-benar lebur, tak ada satupun yang tersisa.

Luth mendengar suara menggelegar. Beliau mengingatkan keluarganya untuk tidak menoleh ke belakang. Namun istrinya yang kafir tetap saja menoleh ke belakang. Maka dia pun terkena azab. Tubuhnya bergoncang-goncang kemudian pecah berkeping-keping seperti besi dimakan karat.

Hukuman telah menimpa kaum Luth. Kota itu telah hilang selamanya. Luth as beserta keluarganya kemudian pergi ke Ibrahim as. Luth kaget ketika Ibrahim sudah mengetahui kejadian ini. Luth dan Ibrahim pun kemudian meneruskan dakwah di muka bumi.

“Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS. Al-Hijr : 76)

“Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Ash-Shaffat : 137-138)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s