KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 8)

Posted on


BERDIRINYA KA’BAH, KIBLAT UMAT MUSLIM SEDUNIA

Kisah Ismail dan Ibrahim belumlah usai. Ismail dan ibunya tinggal di lembah tempat dia dan bundanya ditinggalkan Ibrahim as. Mata air yang berasal tendangan kaki bayi Ismail (Zam-zam) menjadi sumber kehidupan tempat itu. Beberapa kafilah akhirnya menetap di situ. Di sinilah cikal bakal kota Mekkah, tempat Rasulullah SAW nanti dilahirkan.

Ismail kini tumbuh dewasa dan menikah. Suatu hari Ibrahim as datang berkunjung ke rumah Ismail, tapi Ismail sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya istrinya. Ibrahim bertanya tentang kehidupan mereka, dan istrinya mengadu pada mertuanya tentang kesengsaraan dan kemelaratan yang mereka hadapi. Kemudian Ibrahim berkata, “Jika suamimu datang, perintahkanlah padanya untuk mengganti pintu rumah.” Ketika Ismail datang dan diceritakan tentang kedatangan ayahnya, dia berkata, “Itu ayahku. Dia memerintahkanku untuk menceraikanmu. Pulanglah ke tempat orang tuamu.”

Kemudian Ismail menikah lagi dengan perempuan lain. Ibrahim as kemudian datang lagi dan tak berhasil menemui Ismail. Dia hanya ketemu istrinya. Ibrahim bertanya tentang kehidupannya dan istrinya bercerita tentang kehidupannya yang damai dan bahagia. Ibrahim as kini tenang dengan menantunya ini.

Sesungguhnya Ibrahim as tengah menyiapkan Ismail untuk sebuah tugas mulia. Sebuah tugas yang membutuhkan kesungguhan, waktu dan juga perhatian total. Jika Ismail tidak tenang rumah tangganya, maka dia tidak akan bisa total dalam menjalankan tugas mulia ini.

“Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu padaku,” kata Ibrahim suatu hari.

“Kita berhadapan dengan perintah yang lebih mulia daripada menyembelih dan berkorban. Sebuah perintah yang tak ada hubungannya dengan jiwa nabi, tapi berhubungan dengan berjuta-juta jiwa manusia,” sambung Ibrahim.

“Lakukan apa yang telah Allah perintahkan kepada Ayah,” jawab Ismail.

“Apakah kau akan membantuku?” tanya Ibrahim.

“Tentu saja, Ayah,” jawab Ismail.

“Allah telah memerintahkanku untuk membangun rumah di tempat itu,” ucap Ibrahim sambil menunjuk ke suatu dataran rendah.

Ibrahim diperintahkan Allah untuk membangun Ka’bah, rumah Allah yang mulia, yang akan menjadi kiblat umat Rasulullah SAW hingga kini. Adam as dulu pernah membangun sebuah Bait Allah di lokasi yang sama dengan Ka’bah yang akan dibangun. Di sana Adam as menyembah Allah. Adalah hal yang wajar jika seorang nabi membangun sebuah tempat beribadah. Setelah Adam as wafat, bekas rumah itu kemudian hilang ditelan waktu selama berabad-abad. Kemudian datanglah Ibrahim as untuk membangun Bait Allah untuk kedua kalinya. Bangunan yang kedua ini kokoh hingga sekarang, bahkan hingga Hari Kiamat nanti, insya Allah.

Pembangunan Ka’bah dimulai. Bangunan ini didirikan dari batu-batu yang tidak memiliki manfaat maupun mudharat. Batu-batu itu adalah sekedar batu, tidak lebih. Meskipun demikian, batu-batu itu menjadi simbol sebuah ketauhidan dan pengagungan Allah. Ka’bah dibangun dengan ketenangan hati Adam as, kelembutan dan cinta Ibrahim as serta kehalusan dan kejujuran Ismail as. Itu sebabnya jika kita masuk ke Masjidil Haram, maka hati kita merasa sejuk dan damai. Dan kita akan berjalan mengitari Ka’bah seperti gerakan molekul yang mengitari nukleus.

Ka’bah adalah sebuah bangunan yang sangat kokoh karena kedalaman pondasinya mencengkeram bumi, digali sendiri oleh Ibrahim dan Ismail. Dalam sejarah tercatat Ka’bah sering mengalami kerusakan dan dilakukan renovasi. Nabi Muhammad SAW pun pernah melihat renovasi yang dilakukan terhadap bangunan suci tersebut. Orang-orang yang merenovasi itu ternyata tak mampu menggali sampai ke dasar pondasi seperti yang dilakukan Ibrahim dan Ismail. Dari sini kita tahu bahwa Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah dengan mengeluarkan semua kemampuan. Kemampuan yang setara dengan ribuan orang pekerja.

Mereka berdua menggali pondasi dengan sangat dalam. Mereka memotong batu-batu dari gunung kemudian mengangkatnya. Membawa batu-batu itu dari tempat jauh dan ada juga yang di bawa dari tempat yang dekat. Seharusnya pembuatan Ka’bah ini dilakukan oleh semua lelaki di jaman itu, tapi ini hanya dilakukan oleh mereka berdua.

Kita tidak tahu, berapa lama mereka membuat Ka’bah. Allah tidak menceritakan pada kita tentang rentang waktu tersebut. Allah hanya menceritakan tentang sebuah perintah suci lagi mulia ini.

Usai membangun Ka’bah, Ibrahim as ingin meletakkan sebuah batu yang istimewa di dalam Ka’bah. Batu ini akan menjadi tanda khusus untuk memulai thawaf. Ibrahim memerintahkan Ismail untuk mencari sebuah batu yang istimewa, batu yang paling bagus dan berbeda warnanya dari batu Ka’bah lainnya.

Ismail as kemudian mencari ke segala penjuru dan dia tidak mendapatkan apa-apa. Dia mengerahkan segala kemampuannya, melebihi seorang manusia biasa. Ketika kembali, Ismail as melihat ayahnya meletakkan sebuah batu hitam (Hajar Aswad) di Ka’bah.

“Ayah, siapa yang mendatangkan batu ini?” tanya Ismail.

“Malaikat Jibril,” jawab Ibrahim.

Pembangunan Ka’bah telah selesai. Ibrahim berdiri dan memanjatkan doa kepada Allah.

“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37)

Doa ini melahirkan keinginan yang mendalam di hati orang-orang mukmin, yaitu keinginan untuk mengunjungi Masjidil Haram. Bagi seseorang yang pernah mengunjungi Masjidil Haram dan kembali ke negeri mereka, maka kerinduan akan Masjidil Haram pasti ada. Semakin sering berkunjung maka kerinduan itu pun makin dalam. Maka tak megherankan jika banyak orang yang ingin naik haji setiap tahunnya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah ke Ibrahim as. Dia adalah manusia pertama yang menyebut kita sebagai muslim.

“Dan Dia sekali-kai tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu.” (QS. Al-Hajj: 78)

DATANGNYA TIGA MALAIKAT

Kisah Ibrahim as dan Ismail telah usai. Hari demi hari kemudian berganti. Ibrahim as meninggalkan anaknya untuk kemudian pindah di daerah Kladenin kemudian pindah lagi di pedalaman Kan’an. Ibrahim as masih teringat Luth as. Luth adalah orang pertama yang beriman ke Ibrahim as dan Allah telah memberinya pahala dengan mengangkatnya menjadi seorang nabi yang diutus untuk kaum yang durhakan dan gemar melakukan dosa.

Di hari yang sama, tiga malaikat turun ke bumi. Mereka adalah Jibril, Israfil dan Mikail. Mereka menjelma sebagai seorang manusia dengan ketampanan melebihi ketampanan seorang manusia biasa. Mereka berjalan dalam diam. Turunnya mereka mempunyai dua tujuan, yaitu bertamu kepada Ibrahim as dan memberinya kabar gembira kepadanya, dan tujuan kedua mendatangi kaum Luth untuk menimpakan hukuman atas kejahatan mereka.

Setibanya di depan rumah Ibrahim as, salah satu dari mereka melempar kerikil ke arah Ibrahim as. Ibrahim as melihat ke arah mereka. Tak seorang yang dikenalnya. Ketiganya mengucapkan salam yang kemudian dijawab Ibrahim as. Ibrahim as lalu masuk menemui Sarah istrinya. Mereka kini adalah sepasang kakek nenek yang sudah penuh uban.

“Ada tiga orang dari jauh yang bertamu ke kita,” kata Ibrahim.

“Siapa mereka?” tanya Sarah.

“Aku tidak mengenal satu pun dari mereka,” jawab Ibrahim, “Wajah mereka terlihat asing. Mestinya mereka dari tempat yang jauh, tapi pakaiannya menunjukkan seperti tidak dari tempat yang jauh. Makanan apa yang kita punyai?”

“Hanya separuh daging kambing,” jawab Sarah.

“Itu tidak cukup. Sembelilah anak sapi yang gemuk. Mereka adalah tamu dari jauh dan mereka tidak membawa kendaraan atau pun bekal makanan. Barangkali mereka kelaparan atau orang miskin,” kata Ibrahim. Ibrahim as sangat memuliakan tamu. Sebenarnya separuh daging kambing pun sudah cukup untuk menjamu ketiga tamunya. Namun beliau sangat ingin memuliakan tamunya.

Daging sapi siap dihidangkan di meja makan. Ibrahim dan tamunya segera duduk di meja makan. Dengan menyebut nama Allah, Ibrahim bersantap dahulu untuk memberi semangat ke para tamu. Diliriknya para tamu dan mereka belum juga menyentuhnya. Dalam tradisi saat itu, jika tamu tak mau menyantap makanan yang disajikan, berarti tuan rumah bukanlah orang yang baik.

Ibrahim kemudian mulai berpikir bahwa banyak hal yang ganjil pada ketiga tamunya itu. Ibrahim as mulai ketakutan dengan ketiga tamunya yang samasekali belum berbicara dan belum makan.

“Janganlah kamu takut,” salah satu dari mereka bicara.

“Kuakui kalau aku takut. Aku telah mengajak kalian makan tapi kalian sama sekali tak menyentuh makanan itu. Apakah aku orang jahat?” tanya Ibrahim.

Salah satu dari mereka tersenyum dan berkata dengan lembut, “Wahai, Ibrahim, kami tidak makan. Kami adalah malaikat Allah. Kami telah diutus untuk menghukum kaum Luth.”

Salah satu dari mereka kemudian melihat ke arah Sarah dan menyampaikan kabar gembira, “Allah telah memberikan kabar gembira kepadamu bahwa engkau akan memiliki seorang anak yang bernama Ishaq.”

Sarah berkata,

“Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?” (QS. Hud : 72)

Salah satu malaikat kembali berkata,

“…Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (QS. Hud : 71)

Ibrahim bertanya,

“Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?” (QS. Al-Hijr : 54)

“Mereka menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa’.” (QS. Al-Hijr : 55)

Kini ketakutan Ibrahim as telah hilang. Tidak hanya mengabarkan bahwa mereka berdua akan mendapatkan anak, tapi ketiga malaikat itu juga mengkabarkan anaknya juga akan mempunyai anak lagi yang juga sama sholehnya.

Ibrahim teringat lagi akan pembicaraan tentang kaum Luth yang akan diazab.

“Apakah kalian akan menghancurkan seluruh desa yang di dalamnya ada tigaratus orang tidak beriman?” tanya Ibrahim.

“Tidak sebanyak itu,” kata malaikat.

“Apakah kalian akan menghancurkan seluruh isi desa padahal di dalamnya ada beberapa orang mukmin?” tanya Ibrahim lagi.

“Kami lebih tahun tentang orang yang ada di desa itu,” jawab malaikat.

Malaikat kemudian menjelaskan bahwa perintah Allah sudah diturunkan. Ini adalah kehendak Allah untuk menghancurkan kaum Luth. Ibrahim pun kemudian terdiam. Ini adalah perintah Allah Yang Maha Tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s