KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 7)

Posted on


KISAH IBRAHIM AS DAN ISMAIL AS

Pada suatu hari Ibrahim as terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan kepada istrinya Hajar untuk mempersiapkan perjalanan bersama bayinya, Ismail. Hajar pun menurut terhadap perintah suaminya. Mereka kemudian berkemas untuk sebuah perjalanan yang jauh. Saat itu Ismail masih bayi dan masih belum disapih.

Mereka berjalan menyusuri bumi Allah hingga sampai pada sebuah padang pasir yang panas di wilayah jazirah Arab. Mereka sampai pada sebuah lembah yang gersang. Di situ tidak ada tanaman, buah-buahan, pepohonan, makanan dan juga minuman. Sebuah lembah gersang yang tidak ada tanda-tanda kehidupan samasekali.

Di situ Ibrahim as kemudian menurunkan istri dan anaknya dari hewan tunggangannya. Tanpa berkata-kata beliau kemudian meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Tentu saja Hajar kaget diperlakukan seperti ini. Hajar berusaha mengejar Ibrahim as sambil bertanya, “Ibrahim, hendak pergi ke mana engkau? Apakah kamu akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatupun ini?”

Ibrahim as tidak menjawab pertanyaan ini. Beliau hanya berjalan terus dengan tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa ini semuanya bukanlah kemauannya. Dia kemudian mengerti kalau Allah yang memerintahkan ini semua.

“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk meninggalkan kami?” tanya Hajar.

“Benar,” jawab Ibrahim as.

“Kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dia-lah yang memerintahkan engkau pergi,” ujar Hajar.

Ibrahim terus berjalan. Ketika sampai di antara dua bukit, beliau menengadahkan kedua tangannya dan berdoa, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an;

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati..” (QS. Ibrahim:37)

Pada saat itu, Baitullah belum didirikan. Ada hikmah besar dalam peristiwa ini. Ismail yang masih bayi, kelak bersama Ibrahim as akan mendirikan Ka’bah sebagai kiblat semua Muslim di seluruh dunia hingga saat ini.

Ibrahim as sudah pergi. Hajar dan bayinya masih tetap di lembah gersang tersebut. Panas matahari begitu menyengat panas. Setelah dua hari, air susu Hajar mulai mengering. Makanan mulai habis dan Hajar mulai gelisah dan khawatir.

Ismail menangis karena kehausan. Hajar kemudian meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari-lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa hingga ke puncak bukit. Dengan menyipitkan matanya, dilihatnya di sekeliling untuk melihat apakah ada kafilah atau orang atau apapun yang bisa menolongnya. Maka dia bergegas untuk turun dan berlari kecil ke bukit Marwa hingga ke puncaknya. Barangkali dia melihat seseorang. Tapi sesampainya di sana, tak ada seseorang pun di sana.

Hajar turun untuk melihat bayinya. Ismail masih saja terus menangis. Tampaknya dia benar-benar kehausan. Dengan bingung, Hajar berlari lagi menuju ke puncak bukit Shafa, kemudian ke bukit Marwa. Hajar bolak-balik bukit Shafa dan Marwa hingga tujuh kali. Oleh karena itu, orang-orang yang melakukan ibadah haji melakukan perjalanan dari bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali untuk mengingat bunda yang mulia, Hajar, dan anaknya nabi yang agung, Ismail.

Setelah tujuh kali bolak-balik, Hajar kembali menjumpai anaknya yang masih saja terus menangis hingga serak suaranya. Hajar duduk dengan lesu di sampingnya Ismail. Pada saat yang memprihatinkan ini, Hajar mendapatkan rahmat Allah. Ismail menangis sambil menendang-nendang kakinya pada tanah. Tak disangka, air keluar dari bawah kakinya. Air ini keluar dengan jumlah yang melimpah hingga menyelamatkan kehidupan Hajar dan bayinya, Ismail. Sumur ini dikemudian hari dikenal sebagai sebagai sumur Zamzam.

Hajar segera menciduk air itu dan minum dengan sepuasnya. Denga rasa syukur yang mendalam, Hajar kemudian memberi bayinya minum. Kehidupan pun mulai tampak di lembah gersang ini.

Air dari sumur Zamzam ini kemudian memikat banyak orang. Beberapa kafilah kemudian menetap di lembah itu. Dan bangunan-bangunan rumah pun kemudian didirikan. Ismail pun kemudian tumbuh besar. Lembah itu kemudian berkembang menjadi sebuah kota yang nantinya menjadi Mekkah.

Singkat cerita, Ibrahim as mengunjungi Ismail di lembah itu. Hati Ibrahim as tertambat kuat kepada Ismail putranya yang masih anak-anak. Dan kini Allah memberinya sebuah ujian. Di dalam mimpi, Ibrahim as menyembelih putranya. Ini adalah sebuah wahyu Allah karena mimpi para nabi adalah sebuah kebenaran, sebuah perintah yang harus dijalankan.

Salah besar jika kita mengira pergulatan batin tidak terjadi pada Ibrahim as. Bagaimana kira-kira perasaannya? Ibrahim as adalah seorang nabi yang hatinya paling lembut. Hatinya juga sangat dalam mencintai Allah. Seorang anak akhirnya diberikan Allah ketika dirinya sudah tua. Dan kini Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Beliau hanya berpikir, bagaimana mengatakan hal ini kepada Ismail yang masih kecil? Membaringkannya dan berkata akan disembelih?

Akhirnya Ibrahim as memutuskan untuk sejujurnya dengan lemah lembut,

“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Ismail pun menjawab,

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Mari kita renungkan jawaban Ismail. Dia tahu bahwa dirinya akan disembelih. Tapi dia tahu kalau itu adalah perintah Allah. Itu adalah sebuah sikap kesabaran yang luarbiasa. Barangkali Ismail merasa bahagia bila mati disembelih karena perintah Allah. Ismail berkompetisi dengan ayahnya untuk merebut cinta Allah.

Tubuh Ismail dibaringkan untuk disembelih. Wajahnya dihadapkan ke tanah agar tak melihat dirinya disembelih. Tatkala tangan Ibrahim as bergerak untuk menyembelih, turun wahyu Allah dan berakhirlah ujian itu. Allah mengganti pengorbanan Ismail dengan seekor kambing besar. Hari itu kemudian dijadikan hari raya umat Islam, hari raya yang mengingatkan akan makna kepasrahan total ke Allah dari Ibrahim as dan juga putranya, Ismail.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s