KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 6)

Posted on Updated on


KISAH IBRAHIM AS DAN BERHALA-BERHALA

Ibrahim as pergi meninggalkan rumahnya dengan pikiran yang penuh dengan rencana. Beliau tahu kalau ada sebuah upacara pesta besar-besaran di tepi sungai. Semua orang pasti akan pergi ke sana hingga acara selesai, maka kota pun kosong melompong ditinggal penghuninya. Ibrahim berjalan menuju kuil peribadatan yang penuh dengan patung-patung berhala. Kuil juga tampak sepi tanpa terlihat seorang pun.

Beliau masuk kuil dengan membawa kapak besar yang tajam. Dipandanginya berhala-berhala tersebut, baik besar maupun yang kecil, baik yang terbuat dari batu maupun terbuat dari kayu. Pandangannya kemudian beralih dari berhal-berhala itu ke makanan aneka rupa yang terletak di depan berhala-berhala tersebut. Beliau kemudian mendekati satu berhala yang paling besar.

“Mengapa engkau tidak memakan makanan ini? Ini sudah dingin,” kata beliau kepada berhala itu. Berhala itu diam tak bergerak dan tak menjawab. Tentu saja!

Kemudian Ibrahim as bertanya kepada berhala-berhala sekitar,

“Apakah kamu tidak makan?” (QS. Ash-Shaffat:91)

Ibrahim as memang ingin mengejek mereka. Beliau tahu bahwa berhala-berhala tak mampu untuk bicara. Beliau kembali bertanya,

“Apa kamu tidak menjawab?” (QS. Ash-Shaffat:91)

Kapak digenggamnya erat dan mulai diangkat ke atas. Kemudian satu-persatu berhala-berhala itu pun dihancurkan. Tak ada satu pun yang tersisa kecuali berhala yang paling besar. Berhala itu masih utuh. Kapak yang telah menghancurkan teman-temannya oleh Ibrahim as digantungkan di lehernya. Setelah selesai, Ibrahim as kemudian pergi ke gunung.

Ketika upacara pesta di tepi kali sudah usai, orang-orang pun kemudian kembali ke rumahnya masing-masing. Seseorang lalu masuk ke kuil. Melihat berhala-berhala telah hancur dia pun kemudian menjerit. Orang-orang segera mendatangi kuil tahu bahwa semua tuhan mereka telah hancur, kecuali tuhan yang paling besar dengan kapak yang sedang tergantung di lehernya. Pikir mereka, perbuatan siapa ini?

Terlintas nama Ibrahim as karena beliaulah satu-satunya orang yang mengajak untuk meninggalkan tuhan berhala ini.

“Mereka berkata, ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya:60)

Dengan marah sang pemimpin berteriak, “Cari Ibrahim secepatnya! Dan seret kemari!” Tak lama Ibrahim as pun datang. Dan mereka kemudian bertanya,

“Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” (QS. Al-Anbiya:62)

Ibrahim tersenyum. Sambil menunjuk pada berhala terbesar beliau berkata,

“Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya:63)

Salah satu pendeta kemudian bertanya dengan marah, “Aku bertanya siapa yang telah melakukannya?”

“Tanyakan pada tuhan-tuhanmu,” jawab Ibrahim.

“Engkau tahu tuhan-tuhan kami tidak bisa bicara,” kata pendeta itu.

“Lalu mengapa kalian menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak punya manfaat dan tidak mendatangkan mudharat? Tidakkah kalian berpikir walaupun sedikit? Aku telah menghancurkan semua berhala, tapi berhala yang terbesar itu hanya membisu. Mereka tak dapat menjaga dirinya sendiri, apalagi menjaga kalian.Sesungguhnya tuhan-tuhan itu tidak memiliki sesuatu, mereka hanyalah batu dan kayu. Bagaimana mungkin kalian menyembah batu? Dimanakah otak kalian?” kata Ibrahim as.

Kemarahan mereka lalu memuncak. Diputuskan Ibrahim as harus dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Tangan dan kaki beliau dibelenggu sementara orang-orang kafir ini sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membakar beliau. Sementara itu berita menyebar dengan cepat. Orang segera berbondong-bondong untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman. Orang-orang menggali tanah. Di dalam galian itu kemudian disusun rapi kayu bakar dan batang-batang pohon. Setelah siap mereka mengikat beliau ke manjanik – alat pelontar batu untuk berperang waktu itu. Api kemudian disulut dan menyala besar. Orang-orang menjauh dari panasnya api. Ibrahim as pun kemudian dilontarkan ke arah api besar tersebut.

Saat itu, malaikat Jibril datang dan berdiri di dekat kepala Ibrahim as seraya berkata, “Apakah kamu butuh pertolonganku?” Ibrahim as pun menjawab, “Kalau darimu, tidak ada.”

Setelah Ibrahim as terlontar ke dalam api, apa yang terjadi? Beliau memasuki kobaran api seperti memasuki sebuah taman yang indah. Api yang berkobar hebat tidk bekerja sebagaimana mestinya. Api itu tidak membakar Ibrahim as sebagaimana mestinya. Allah telah memerintahkan kepada api seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an;

“Kami berfirman, ‘Hai api, menjadi dinginlah, dan enjadi keselamatan bagi Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya:69)

Api patuh kepada perintah Allah. Api hanya membakar tali yang mengikat beliau. Beliau kemudian hanya duduk-duduk di tengah kobaran api, seperti duduk di sebuah taman yang menyenangkan. Di sana beliau bertasbih dan memuji kebesaran Allah.

Orang-orag kafir itu duduk mengelilingi api yang berkobar. Panasnya telah menghitamkan wajah mereka walau mereka duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ketika api sudah mulai padam, mereka terperanjat melihat Ibrahim as keluar dari pembakaran dalam kondisi sehat wal afiat, tanpa kurang suatu apapun. Wajah orang-orang kafir ini menghitam karena jelaga api, tapi wajah Ibrahim as yang duduk di pusat kobaran, justru terlihat bercahaya dan bersih. Tak ada pada diri Ibrahim as bekas api samasekali sekalipun letupan bara yang tertinggal di pakaiannya.

Melihat keajaiban ini mereka pun hiruk pikuk. Apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah kerugian, sebagaimana firman Allah;

“Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya:70)

Setelah selamat dari api, Ibrahim as kemudian diundang untuk berbincang dengan seorang raja. Raja itu menganggap dirinya adlah tuhan. Kekuasaan yang berada dalam genggamannya membutakan dirinya akan kekuasaan Allah yang sebenarnya.

“Aku telah mendengar bahwa engkau mengajak orang-orang untuk menyembah tuhan yang baru,” kata raja itu.

“Apakah ada tuhan baru dan tuhan lama? Wahai Paduka Raja, tidak ada tuhan kecuali satu, Allah,” kata Ibrahim as.

“Apa yang dapat dilakukan oleh tuhanmu yang aku tidak dapat lakukan?” tanya Raja dengan nada menantang.

“Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” jawab Ibrahim as.

“Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan. Aku dapat menghadirkan seseorang yang berjalan di tengah jalan, kemudian aku membunuhnya. Aku juga dapat mengampuninya dari hukuman mati, sehingga aku menyelamatkannya dari kematian. Dengan demikian, aku dapat memberi kehidupan dan kematian,” jawab Raja dengan sombong. Ibrahim as hanya tersenyum medengar jawaban Raja yang begitu bodohnya.

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” tantang Ibrahim as.

Raja terbungkam mendengar tantangan Ibrahim as. Jelas sang Raja tak bisa memenuhi tantangan beliau. Raja takkan bisa menerbitkan matahari dari barat.

Nama Ibrahim as kemudian terkenal dan menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri. Mereka membicarakan tentang keselamatannya dari kobaran api dan dialog-dialognya melawan sang Raja. Ibrahim as terus menyeru kepada umat untuk hanya menyembah Allah semata hingga kemudian orang-orang kafir ini mengusir beliau dari tanah kelahirannya. Tak ada orang beriman yang mengikutinya kecuali seorang perempuan bernama Sarah yang akhirnya menjadi istrinya dan seorang laki-laki bernama Luth, yang kemudian juga diangkat Allah menjadi seorang nabi.

Ibrahim as kemudian pergi ke suatu tepat yang disebut Ur, kemudian pindah agi ke Haran, kemudian pindah lagi ke Palestina. Dari Palestina, beliau kemudian pergi Mesir. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya beliau mengajak kepada siapapun untuk hanya menyembah Allah semata, di samping beliau ikut memerangi kebatilan, membantu orang-orang yang lemah dan fakir, mendamaikan orang-orang yang berselisih dan menunjuki mereka ke jalan yang benar.

Hingga di Mesir, Sarah belum juga memberinya keturunan. Raja Mesir kemudian memberinya seorang budak perempuan yang bernama Hajar untuk menjadi pembantunya. Saat itu Ibrahim as sudah berusia lanjut. Sarah khawatir kalau dirinya benar-benar tak bisa memberi keturunan. Maka Sarah pun menikahkan Hajar dengan suaminya, Ibrahim as. Pernikahan Ibrahim as dan Hajar ternyata berhasil mengahdirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Suatu ketika, hati Ibrahim as meluap oleh rasa cinta dan keyaknan yang mendalam. Beliau ingin melihat keagungan Allah pada hari itu. Hal ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an;

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman, ‘Belum yakinkah kamu?’ Ibrahim menjawab, ‘Aku telah menyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)’.” (QS. Al-Baqarah:260)

Allah swt berfirman,

“(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), ‘Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera.’ Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah:260)

Ibrahim as melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Beliau menyembelih empat ekor burung lalu mencincangnya. Cincangan-cincangan burung tersebut kemudian ditaruh di berbagai bukit. Setelah itu Ibrahim as memanggil mereka atas nama Allah. Maka bulu-bulu burung itu terbang dan menempel ke sayapnya, bagian dada mencari kepalanya, bagian tulang rusuk melekat dengan bagian hati, dan bagian-bagian lainnya beterbangan saling menempel. Dengan cepat, bagian-bagian tubuh burung yang sudah dicincang itu kemudian menyatu lagi sebagai tubuh yang sempurna, dan burung-burung itu kemudian hidup lagi seperti sediakala. Salah satu dari burung itu terbang dengan cepat dan hinggap di pangkuan Ibrahim as.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s