KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 5)

Posted on


KISAH NABI IBRAHIM AS DALAM MENCARI TUHAN

Nabi Ibrahim as adalah nabi yang mulia. Beliau termasuk dari salah satu lima Ulul ‘Azmi. Yang termasuk nabi-nabi Ulul ‘Azmi adalah Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Muhammad SAW. Urutan ini didasarkan atas nubuwat mereka.

Ibrahim as adalah bapak dari semua nabi setelahnya. Allah mewujudkan janji-Nya kepada Ibrahim as, yaitu tidak menjadikan nabi-nabi sepeninggalnya kecuali dari keturunannya. Ini berlaku hingga rasul terakhir, yaitu Muhammad SAW.

Ibrahim adalah seorang nabi yang diberi ujian yang sangat berat, sebuah ujian yang kesulitannya di atas rata-rata. Walau berat, Ibrahim as mampu melewatinya. Beliau selalu berakhlak mulia dan selalu menepati janjinya. Allah telah memuliakan Ibrahim as dengan kemuliaan yang istimewa. Maka Allah menjadikan agamanya menjadi agama tauhid yang tanpa cacat dan cela.

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al-Baqarah)

Kemuliaan telah terlihat pada diri beliau jauh sebelum beliau diperintahkan untuk menyembah Allah, dan dia pun sudah berkata, “Aku pasrah kepada Allah Tuhan semesta alam.” Allah tidak pernah menyebut nabi-Nya dalam kitab-kitab suci dengan sebutan khalil (kekasih) kecuali Ibrahim as.

“Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa:125)

Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang kelahiran maupun masa kecil Ibrahim as. Al-Qur’an hanya menjelaskan sebuah kondisi masyarakat waktu itu, yang terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok penyebah berhala. Kedua, kelompok penyembah bintang, matahari dan bulan. Ketiga, kelompok penyembah penguasa dan raja. Pada saat dunia dalam kegelapan dan kezaliman bertebaran di mana-mana, Ibrahim lahir.

Beliau dilahirkan dalam sebuah keluarga yang jauh dari kebenaran. Ayahnya bukan seorang kafir biasa, tapi dia mempunyai kedudukan yang terhormat, karena dialah yang membuat patung-patung tuhan. Bayangkan, ayah Ibrahim as adalah pembuat tuhan! Bukan hanya penyembah berhala biasa.

Sebagai pembuat tuhan, ayah Ibrahim as mempunyai tempat yang terhormat di masyarakat. Dia adalah seniman besar yang diagung-agungkan. Jika dibandingkan di jaman sekarang, dia adalah seorang bangsawan yang mempunyai kedudukan penting.

Dari keluarga terhormat inilah Ibrahim lahir dan dibesarkan. Seorang anak yang akhirnya akan melawan aturan masyarakat, melawan keyakinan bodoh masyarakatnya, melawan tradisi-tradisi yang menyesatkan serta melawan dari semua tatanan yang ada, termasuk melawan ayahnya sendiri. Maka tak mengherankan jika kemudian Ibrahim as dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup.

Kecerdasan akal Ibrahim as sebenarnya sudah terlihat sejak beliau masih kecil. Allah telah menancapkan cahaya ke dalam kalbu dan akalnya. Di usianya yang masih belia, Ibrahim as sudah mempertanyakan apa yang sedang dibuat ayahnya. Ayahnya pun menjawab kalau dia sedang membuat berhala untuk disembah. Mendengar jawaban ayahnya, terasa ada penolakan dalam benaknya. Ada sesuatu yang tidak masuk akal sehatnya.

Ibrahim as pada masa kanak-kanak pernah bermain dengan patung-patung buatan ayahnya. Dia menaiki patung sebagaimana orang menunggangi kuda atau keledai. Melihat itu sang ayah marah dan melarang bermain dengan patung-patung itu lagi.

Suatu hari Ibrahim kecil bertanya, “Patung apa ini, Ayah? Kedua telinganya sangat besar, lebih besar daripada telinga kita.”

“Ia adalah pemimpin dari beberapa tuhan yang ada, Nak. Dua telinga yang besar ini sebagai simbol atas pengetahuannya yang dalam,” jawab ayahnya.

Mendengar jawaban itu, dengan susah payah Ibrahim kecil berusaha menahan tawa karena menurutnya hal itu sangat konyol dan tidak masuk akal. Padahal saat itu umurnya baru tujuh tahun.

Hari berganti hari, dan tahun berganti tahun. Ibrahim kini sudah menginjak masa mudanya. Beliau belum juga paham, bagaimana mungkin seseorang yang berakal membuat patung dengan tangannya lalu setelah jadi menyembahnya. Bagaimana mungkin seseorang menyembah kepada sesuatu yang dibuatnya sendiri? Ibrahim memperhatikan patung-patung itu. Mereka tidak makan, tidak bicara, tidak berbuat apapun. Hanya diam membisu saja. Bagaimana mungkin manusia menyembah patung-patung itu yang terlihat sangat lemah dan tak bisa melakukan satu hal samasekali? Ibrahim muda tersiksa dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkinkah seluruh masyarakat saat itu melakukan kesalahan, sedangkan hanya dirinya saja yang benar?

Kaum Ibrahim mempunyai sebuah kuil yang dipenuhi oleh patung-patung sesembahan. Di tengah-tengah kuil terdapat sebuah mihrab yang diisi oleh patung yang paling besar. Tuhan-tuhan ini sangat banyak dengan berbagai bentuk dan ukuran. Orang-orang yang masuk kuil menundukkan kepala lalu membungkukkan badan. Kemudian mereka menangis dan memohon-mohon seakan-akan patung-patung ini mempunyai kekuatan. Pemandangan ini tampak menggelikan bagi Ibrahim muda. Namun lama-kelamaan menjadi terasa memuakkan. Konflik yang dirasakan Ibrahim semakin bertambah berat ketika sang ayah meminta dirinya untuk menjadi pendeta pada suatu saat kelak.

Pada suatu hari Ibrahim datang ke kuil bersama ayahnya. Saat itu ada sebuah pesta perayaan untuk tuhan-tuhan. Di tengah-tengah ada seorang pendeta yang berbicara kepada patung yang paling besar. Pendeta berbicara serius dan merengek-rengek, memohon agar tuhannya itu memberikan rizki dan kasih sayangnya kepada kaumnya.

Di tengah kekhidmatan acara Ibrahim berkata, “Sesungguhnya ia tidak mendengarmu, Pendeta! Apakah Anda tidak sadar bahwa ia tidak bisa mendengar?”

Spontan semua yang hadir langsung menoleh ke Ibrahim. Sang pendeta terlihat gusar. Dengan buru-buru ayah Ibrahim kemudian meminta maaf sembari mengatakan bahwa anaknya sedang sakit dan tidak tahu apa yang dia katakan. Mereka berdua pun kemudian bergegas pergi meninggalkan kuil. Tanpa banyak bicara, ayahnya mengantarkan Ibrahim untuk pulang dan tidur.

Ketika semua orang sudah tertidur, Ibrahim justru bangkit dari pembaringannya. Dia merasa baik-baik saja dan tidak merasa sakit seperti yang dikatakan ayahnya kepada pendeta kuil. Beliau merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang besar. Dan pikirannya masih mempertanyakan pertanyaan besar itu. Tak mungkin jika Allah adalah patung-patung yang dibuat dari kayu ataupun batu.

Ibrahim kemudian keluar dan berjalan sendirian menuju gunung. Beliau masuk ke dalam gua kemudian duduk menyandarkan punggungnya pada batu. Pandangannya diarahkan pada langit. Beliau melihat bintang-bintang yang disembah oleh sebagian manusia. Ibrahim pun berkata, “Inilah tuhanku.”

Mengetahui bahwa Ibrahim mengakui bintang sebagai tuhan, maka orang-orang pun kemudian memaklumi. Saat itu memang ada kebebasan untuk memilih sesembahan, yaitu patung, benda langit atau raja. Pagi harinya Ibrahim kembali mengejutkan orang-orang. Bintang-bintang yang disembah ternyata terbenam dan Ibrahim tak suka itu.

Malam kedua, Ibrahim kembali mengumumkan kepada kaumnya bahwa rembulan adalah tuhannya. Namun ternyata kaumnya terlalu dungu untuk mengerti beliau. Sesungguhnya beliau sedang menegur mereka dengan cara yang sangat lembut dan penuh cinta kasih. Bagaimana mungkin mereka menyembah sesuatu yang tenggelam dan kemudian terbit lagi? Mereka tidak memahaminya. Maka Ibrahim mengulanginya dengan rembulan. Namun rembulan sama saja dengan bintang-bintang, yang terbit dan kemudian tenggelam lagi.

Allah berfirman,
“Tetapi setelah bulan terbenam, dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk yang sesat’.” (QS. Al-An’am:77)

Kita simak kalimat, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk yang sesat”, menjelaskan bahwa Ibrahim hendak menjelaskan ke kaumnya bahwa beliau mempunyai Tuhan di luar tuhan-tuhan yang mereka sembah. Namun mereka masih saja tidak memahami.

“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah tuhanku, ini yang lebih besar.’ Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan’.” (QS. Al-An’am:78-79)

Usai mengumumkan bahwa dirinya tidak menyembah matahari, bulan dan bintang, maka usai sudahlah perjalanan rohani Ibrahim as. Beliau kemudian menyakini adanya Allah yang telah menciptakan semua benda langit tersebut. Maka mulailah terjadi perselisihan antara Ibrahim as dengan kaumnya. Mereka mulai mendebat dan mengancam.

“Apakah kamu mau membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (QS. Al-An’am:80-81)

Ibrahim as tidak takut dengan ancaman mereka sedikitpun.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am:82)

Konflik antara Ibrahim as melawan kaummnya mulai membesar. Dan ternyata justru ayahnya sendiri yang menjadi musuh besar beliau. Ini dikarenakan posisi ayahnya yang begitu terhormat dalam masyarakat penyembah berhala tersebut. Tapi Ibrahim as samasekali tidak gentar dan mundur. Beliau terus berdakwah sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’an.

“Ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab, ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata, ‘Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu’.” (QS. Al-Anbiya:52-56)

Ayah dan anak berhadapan dalam suatu permusuhan yang sengit. Mereka dipisahkan oleh prinsip akidah yang berbeda. Si anak berpegang pada kebenaran sedangkan sang bapak berpegang pada kebatilan.

Sang ayah berkata, “Hai Ibrahim, karena dirimulah bencana besar menimpaku. Engkau telah menipuku dan mencoreng mukaku!”

Ibrahim as menjawab,
“Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang padamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu akan menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam:42-45)

Mendengar jawaban itu, tubuh sang ayah bergetar marah. Kemudian dia berkata,

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam:46)

Ibrahim as diancam akan dirajam dan diusir dari rumah oleh sang ayah. Walau begitu, beliau masih bersikap layaknya seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Sebuah etika para nabi yang sudah selayaknya kita tiru. Ibrahim as menjawab,

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS. Maryam:47-48)

Ibrahim as pun pergi dari rumahnya. Beliau sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat geger kaumnya, suatu perbuatan yang telah dicatat dalam kitab-kitab suci manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s