KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 4)

Posted on Updated on


KISAH NABI SHALIH AS

Tahun demi tahun telah berganti. Generasi demi generasi telah berganti. Kaum Ad telah punah, kini telah digantikan kaum Tsamud. Seperti halnya kaum Ad, kaum Tsamud juga menyembah berhala. Kemungkaran yang pernah dilakukan oleh kaum Ad kini terulang lagi yang kini diakukan oleh kaum Tsamud.

Kaum Tsamud adalah adalah kaum yang gemar memahat gunung untuk dijadikan sebagai rumah. Mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya. Dengan kedua hal itu, mereka menjadikan gunung batu sebagai rumah besar yang megah. Kepada kaum Tsamud, Allah kemudian mengutus Nabi Shalis as.

Sebelum diangkat sebagai nabi, Shalih dikenal sebagai orang yang bijak, suci dan baik terhadap siapa saja. Kaum Tsamud sangat menghormati beliau. Tapi setelah beliau berdakwah, keadaan kemudian berubah 180 derajat. Kaum Tsamud menjadi sangat membenci beliau.

Nabi Shalih as masih mengumandangkan kalimat yang sama dengan nabi-nabi sebelumnya. Tidak berubah dan tidak berganti, sebagaimana sebuah kebenaran yang selalu benar walaupun jaman telah berganti.

Nabi Shalih as berkata,

“Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.” (QS. Hud:61)

Kepada Nabi Shalih kaum Tsamud berkata,

“Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS. Hud: 62)

Inti dari dakwah Shalih as adalah seruan tauhid. Sebuah deklarasi atas lahirnya kebebasan akal yang sebenarnya. Seruan tauhid ini kemudian mendapatkan perlawanan dari orang-orang yang berpikir kerdil, yang selalu berpikir berdasarkan tradisi yang menyesatkan dan membodohkan, tanpa tahu apa manfaat dari tradisi tersebut. Kaum Tsamud terkekang oleh mitos-mitos bodoh dan tak masuk akal. Mereka ragu akan kebenaran dakwah beliau. Bodohnya lagi, kaum Tsamud kemudian menganggap bahwa Shalih as terkena guna-guna. Tak hanya itu, kaum Tsamud kemudian meminta Shalih as untuk memperlihatkan mukjizat yang membuktikan bahwa beliau adalah seorang nabi.

Allah kemudian mengabulkan permintaan mereka. Allah kemudian mengirimkan seekor unta betina sebagai mukjizat. Unta itu dilahirkan dengan cara yang tidak wajar. Unta itu keluar begitu saja dari sebuah gunung batu yang terbelah. Jika unta itu minum di sebuah sumur, maka pada hari itu tak ada satu binatang pun yang berani mendekati sumur tersebut. Kemukjizatan utama dari unta itu adalah air susunya cukup diminum oleh semua orang selama hari itu sebagai pengganti air, sehingga tak ada satu pun orang yang tak pernah minum air susu unta tersebut. Susunya cukup untuk minum hingga beribu-ribu manusia, baik lelaki, perempuan atau anak-anak. Jika ia tidur di suatu tempat, maka hewan-hewan lainnya akan menjauh. Semua ini adalah bukti bahwa unta betina ini adalah sebuah mukjizat dri Allah yang membuktikan bahwa Shalih as adalah seorang nabi.

Allah memerintahkan kepada Shalih as agar melarang kaum Tsamud untuk memegang, menyakiti atau membunuh unta tersebut. Jika hal itu dilakukan maka mereka akan ditimpa bencana dalam waktu dekat.

Pada awalnya kaum Tsamud tercengang dengan proses kelahiran unta betina tersebut. Mereka belum pernah melihat ataupun mendengar kelahiran unta yang begitu dahsyat. Sebagian kecil orang kemudian beriman kepada Allah, namun mayoritas masih menentang dan kufur. Bagi oarng-orang kufur ini, unta betina tersebut adalah pusat kebencian. Mereka berniat untuk membinasakan unta ajaib itu. Mereka sangat membenci mukjizat Allah ini.

Shalih as terus berdakwah dengan lemah lembut dan penuh cinta kasih. Beliau mengajak untuk hanya menyembah Allah semata. Dan beliau mengingatkan bahwa unta betina itu adalah mukjizat dan buti bahwa Shalih as adalah utusan Allah. Beliau juga mengingatkan kaumnya untuk membiarkan unta tersebut makan di bumi Allah karena sejatinya semua permukaan bumi ini adalah milik Allah semata. Unta betina itu tak boleh disakiti karena jika mereka menyakiti unta tersebut maka niscaya bencana akan menimpa mereka.

Nabi Shalih as juga mengajak kaum Tsamud untuk mensyukuri nikmat Allah kepada mereka. Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin di bumi setelah hilangnya kaum Ad. Allah juga memberikan karunia berupa istana-istana, gunung-gunung batu yang terpahat megah, kekuatan, rizki yang melimpah dan sebagainya.

Lalu apa reaksi kaum Tsamud mendengar ajakan Shalih as? Mereka mengabaikan semua peringatan Shalih as dan kemudian berpaling meninggalkannya. Kemudian mereka menghampiri orang-orang yang telah beriman dan bertanya dengan nada penghinaan, “Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?” Pertanyaan ini menandakan bahwa mereka tidak percaya bahwa Shalih adalah rasul padahal sudah jelas di depan mereka sebuah mukjizat berupa unta betina yang lahir dari gunung yang membelah dan air susunya begitu melimpah sehingga cukup diminum oleh semua orang. Kaum Tsamud mengingkari mukjizat ini.

Kemudian kaum beriman menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya.” Orang-orang beriman ini beriman atas kebenaran yang dibawa Shalih as, bukan beriman kepada unta betina tersebut. Unta betina itu adalah mukjizat yang membuktikan kebenaran risalah Shalih as.

Kaum Tsamud berbicara dengan penuh kesombongan, keangkuhan dan kemarahan. Tak ada gunanya berbicara dengan mereka dengan membawa bukti-bukti yang sudah di depan mata. Akal mereka sudah mati, hati mereka sudah membatu. Sesungguhnya mereka menolak beriman kepada Allah karena mereka mengira bahwa mereka akan menjdi orang yang bebas dan bisa melakukan apapun. Itulah kesombongannya. Berani melawan Allah yang telah menciptakan mereka dan telah memberi banyak kenikmatan.

Di suatu malam, para pemimpin orang-orang kafir ini berkumpul untuk membahas sesuatu yang penting.

Salah satu dari mereka berkata,

“Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila.” (QS. Al-Qamar: 24)

Seseorang lagi kemudian menyahut,

“Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al-Qamar: 24)

Pembicaraan kemudian beralih ke unta betina. Salah satu dari mereka berkata, “Jika musim panas tiba, unta itu pergi ke lembah yang teduh dan rindang. Lalu semua hewan kita pergi dari situ ke tempat yang panas. Bila musim dingin, unta itu pergi ke tempat hangat dan bertempat di sana. Lalu hewan kita pun pergi dari situ menuju tempat yang dingin. Mereka pun akhirnya akan terkena penyakit!”

Keheningan kemudian terasa mencekam. Masing-masing oarng sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini,” salah satu dari mereka angkat bicara.

“Apa itu?” tanya yang lainnya.

“Kita harus membunuh unta betina itu terlebih dulu, setelah itu baru kita bunuh Shalih,” ujar orang itu. Semua orang yang hadir pun sepakat dengan rencana jahat tersebut.

Sejak dulu hingga jaman modern ini, orang-orang kafir selalu berbuat jahat. Mereka tidak pernah bersandar pada akal pikiran, argumentasi atau pun bukti. Mereka hanya bersandar pada penyelesaian dengan menggunakan kekerasan. Rupanya itu yang mereka anggap paling baik untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.

“Lalu siapa yang akan membunuhnya?” tanya salah satu peserta rapat. Semua pserta rapat tak ada yang berani melaksanakan rencana ini. Semua hanya diam karena takut.

“Aku tahu orang yang bisa membunuhnya,” kata yang lainnya. Nama seorang pembunuh pun kemudian disebut. Dia adalah seorang penjahat yang paling bengis di kala itu. Dia juga sangat menggemari minuman keras. Dia tak pernah takut dan selalu mabuk. Tak seorang pun yang berani menghalanginya. Penjahat ini juga mempunyai teman.

“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (An-Naml: 48)

Akhirnya waktu dan tempat pembunuhan sudah disepakati. Penjahat dan teman-temannya pun kemudian menyusun rencana mereka dengan sebaik-baiknya. Target mereka jelas, yaitu membunuh unta Allah dan juga Nabi Shalih as.

Tibalah malam jahanam.

Unta Allah terlihat tertidur lelap. Sembilan penjahat bayaran itu sudah menyiapkan pedang, tombak dan busur. Mereka mengendap-endap layaknya seorang pengecut. Pemimpin mereka tidak bisa melihat dengan jelas yang di depannya karena terlalu mabuk.

“Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.” (QS. Al-Qamar:29)

Sembilan penjahat itu langsung menangkap unta pembawa berkah itu. Sang unta bangun dan kaget. Dengan sigap para penjahat membabatkan pedangnya hingga kemudian unta itu tewas seketika. Shalih as kemudian keluar dan mengetahui hal ini. Dengan marah, beliau berkata, “Bukankah sudah kuperingatkan agar kalian tidak menyakiti unta itu?”

“Kami telah membunuhnya. Datangkanlah bencana kepada kami kalau engkau bisa! Jangan ditunda-tunda! Bukankah engkau termasuk golongan para nabi?” tantang mereka dengan sombong.

Shalih kemudian berkata,
”Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud:65)

Sesudah itu, Shalih as dan orang-orang yang beriman pergi meninggalkan kota. Allah telah berjanji untuk menimpakan bencana kepada orang-orang kafir setelah tiga hari. Dan Allah pasti akan menepati janji-Nya.

Tiga hari telah berlalu. Orang-orang kafir tidak mempedulikan ancaman Shalih as. Mereka justru menunggu-nunggunya dengan nada mengejek. Hingga kemudian saat fajar hari keempat, langit terbelah dengan suara menggelegar. Suara itu seperti berasal dari atas gunung, menghancurkan semua yang ada. Dalam waktu bersamaan, bumi berguncang keras dan menghancurkan semua makhluk hidup yang ada.

Suara menggelegar pertama belum usai, langsung disusul suara menggelegar berikutnya hingga semua orang kafir jatuh seketika.

“Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.” (QS. Al-Qamar:27-31)

Kaum Tsamud dihancurkan oleh Allah hanya dalam waktu yang singkat, tanpa sempat mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan Nabi Shalih as beserta orang-orang yang beriman telah meninggalkan kota dan selamat dari azab Allah.

Sekali lagi, bumi bersih dari orang-orang kufur hanya dengan waktu yang singkat. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s