KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 3)

Posted on Updated on


KISAH NABI HUD

Roda jaman terus berputar semenjak banjir besar yang membersihkan bumi dari orang-orang yag kufur. Janji Allah telah terpenuhi. Setelah banjir tak ada manusia yang tidak beriman. Semua menyembah hanya kepada Allah semata. Setan pun berkeluh kesah karena mereka tak pernah bisa menggoda manusia.

Tahun demi tahun kemudian berlalu. Generasi orang-orang mukmin telah tiada, begitu juga dengan anaknya. Tongkat estafet untuk menjadi khalifah di bumi diberikan ke generasi berikutnya. Manusia kemudian mulai lupa dengan wasiat Nuh as. Mereka kembali lagi menyembah berhala dan berpaling dari Allah yang Esa. Keadaan ini persis terulang lagi seperti masa lampau.

Mereka berkata, “Kami tidak ingin melupakan nenek moyang kami yang telah diselamatkan oleh Allah dari banjir besar.”

Mereka lalu membuat patung untuk mengenang nenek moyang mereka yang selamat atas banjir besar di masa Nabi Nuh as. Pengagungan terhadap patung-patung itu pun kemudian semakin meningkat dari generasi ke generasi selanjutnya. Sudah bisa kita tebak, pengagungan ini kemudian berubah menjadi penyembahan dengan sedikit tipudaya setan yang telah menanti kesempatan ini sejak lama. Bumi kembali merintih atas kezaliman dan kebodohan manusia sekali lagi.

Allah kemudian mengutus Nabi Hud as untuk memperingatkan kaumnya. Nabi Hud as berasal dari kabilah Ad, kabilah yang tinggal di daerah Akhqaf. Daerah ini adalah hamparan gurun pasir yang memanjang di sepanjang pesisir pantai. Sedangkan rumah-rumah mereka adalah perkemahan besar dengan tiang-tiang besar dan panjang.

Kaum Ad pada saat itu adalah kaum yang memiliki tubuh paling besar dan paling tinggi. Mereka adalah oarng-orang yang kuat. Tak ada orang yang mampu menandingi kekuatan mereka. Tapi sayangnya, otak kaum ini tak sebesar badannya. Otaknya kerdil yang tidak bisa memahami pesan-pesan ilahiah yang disampaikan oleh Hud.

Hud berkata kepada mereka;

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.” (QS. Hud:50)

Ucapan ini sama persis dengan yang diucapkan oleh Nuh as, bahkan semua rasul Allah. Tidak berubah, tidak berkurang, tanpa keraguan dan ketakutan. Kata-kata itu adalah kebenaran, dari dulu hingga sekarang di jaman modern ini.

Kaum Ad kemudian bertanya kepada Hud, “Apakah dengan dakwahmu ini engkau ingin menjadi pemimpin kami?”

Hud kemudian menjelaskan bahwa tak ada yang diinginkan dari mereka kecuali pahala dari Allah. Hud hanya ingin mengajak ke cahaya kebenaran dan beliau juga menjelaskan tentang nikmat yang Allah telah berikan, tentang bagaimana kebodohan mereka setelah wafatnya Nuh as, tentang bagaimana Allah memberikan kesempurnaan tubuh dan kekuatan kepada mereka, tentang bagaimana Allah memberikan tempat tinggal yang subur dan makmur kepada mereka, dan juga tentang bagaimana Allah menurunkan hujan yang telah menghidupkan bumi tempat mereka tinggal.

Dengan kesombongan karena merasa paling perkasa, mereka berkata kepada Hud, “Berani-beraninya engkau menghina tuhan kami, padahal nenek moyang kami telah menyembah tuhan yang kami sembah sekarang ini!”

“Nenek moyang kalin keliru,” jelas Hud.

“Engkaukah yang mengatakan bahwa bila kami sudah mati dan menjadi debu yang berterbangan di angkasa, maka kami akan hidup kembali?” tanya mereka.

“Kalian akan hidup kembali pada Hari Kiamat nanti. Dan Allah akan bertanya kepada kalian, apa yang telah kalian lakukan di dunia ini,” jawab Hud.

Mereka tertawa mendengar perkataan Hud as. Apa yang didakwahkan Hud memang asing di telinga mereka. Mereka kemudian berbisik-bisik di antara mereka, “Bagaimana mungkin! Sesungguhnya manusia jika sudah mati jasadnya akan membusuk. Jika jasadnya sudah membusuk, maka berubahlah menjadi debu. Kemudian debu itu hilang, berterbangan dihembus angin. Bagaimana mungkin itu semua akan kembali ke bentuk aslinya? Kemudian, apa arti Hari Kiamat? Mengapa orang-orang yang sudah mati dibangkitkan lagi dari kematiannya?”

Nabi Hud as kemudian berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sabar. Diualngi lagi penjelasan tentang Hari Kiamat. Keimanan manusia terhadap Hari Kiamat adalah sesuatu yang berhubungan dengan keadilan Allah. Manusia tidak hanya hidup di dunia saja, tapi juga di akhirat. Kita sering melihat orang yang zalim dan kejam yang hidup di dunia ini, baik jaman nabi dahulu maupun jaman modern sekarang ini. Orang-orang ini sepertinya tidak terjamah hukum hingga di akhir hidupnya. Jika kita hanya hidup di dunia, ini jelas-jelas tidak adil. Karena orang jahat tidak dihukum akan kejahatannya hingga di akhir hidupnya. Lalu apa mereka dibiarkan saja kejahatannya?

Di Hari Kiamat nanti, semua masalah manusia di dunia akan diadili oleh pengadilan yang jujur karena Allah sendiri yang akan mengadili. Apa yang dijelaskan Hud kepada kaumnya persis yang dikatakan oleh semua nabi. Tapi tetap saja, kaum Ad masih mengingkari akan kebenaran risalah Nabi Hud as.

“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui Hari Akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan ini: ‘(Orang) ini tidak ain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, nisacaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu. Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” (QS. Al-Mu’minun: 33-37)

Demikianlah, kaum Ad tak percaya dengan Nabi Hud as. Mereka tidak percaya bahwa nanti semua manusia akan dibangkitkan lagi. Seharusnya mereka tahu bahwa membangkitkan kembali orang-orang yang mati adalah lebih mudah dari penciptaan manusia yang pertama. Allah-lah yang menciptakan manusia pertama, lalu apa susahnya bagi-Nya untuk membangkitkan orang-orang yang sudah mati? Kesukaran membangkitakan orang mati itu hanya ada pada pandangan manusia saja. Bagi Allah semua hal bisa terjadi hanya dengan memerintahkan saja.

Kita melihat, di hampir semua kisah nabi, akan sering kita jumpai tipe-tipe pemimpin kaum Ad ini. Mereka adalah orang-orang yang berkuasa, kaya dan selalu memusuhi nabi. Sudah menjadi tabiat para penguasa, orang kaya dan mereka yang memiliki kemewahan dunia untuk berusaha melaggengkan apa yang sudah mereka capai. Mereka sombong dan suka membanggakan diri, seolah-olah semua kenikmatan itu bukan berasal dari Allah. Mereka takut jika dakwah yang di bawa para nabi ini akan mempengaruhi kekuasaannya di dunia ini. Mereka selalu berkata, “Bukankah para nabi ini juga manusia? Makan apa yang kita makan dan minum apa yang kita minum? Kenapa Allah tidak mengutus para nabi dari golongan kita?” Golongan pemimpin yang kufur selalu terulang-ulang dari kisah para nabi yang mulia ini.

Para pemimpin kaum Ad juga mempertanyakan hal yang sama terhadap Nabi Hud as, “Apakah sesuatu yang aneh jika Tuhan memilih manusia dari golongan kita, kemudian memberikan wahyu kepadanya?”

Nabi Hud as kemudian menjawab dengan tenang, “Apa yang aneh dari hal ini? Sesungguhnya Allah Maha Pengasih. Allah telah mengutusku kepada kalian supaya aku memperingatkan kepada kalian. Kapal Nuh dan kisahnya masih menyertai kalian, tidak jauh dari kalian. Janganlah kalian lupa akan apa yang telah terjadi. Orang-orang kufur telah dihancurkan, dan Allah akan selalu menghancurkan orang-orang yang tidak beriman, meskipun mereka adalah orang-orang kuat.”

“Siapa yang akan menghancurkan kami?” tanya mereka dengan nada merendahkan.

“Allah,” jawab Nabi Hud as.

“Tuhan kami akan menyelamatkan kami,” tukas mereka.

Hud kemudian menjelaskan bahwa tuhan-tuhan mereka tak akan sanggup menyelamatkan siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan manusia. Segala bentuk kekuatan yang ada di dunia ini tidak dapat memberikan manfaat maupun bencana tanpa seijin-Nya.

Perseteruan terus berlanjut. Konflik di antara mereka makin meruncing. Kesombongan dan kebiadaban kaum Ad semakin merajalela. Hud as, nabi yang mulia, kemudian mereka hina sedemikian rendah dengan mengatakannya sebagai orang tolol dan tidak waras.

“Sekarang kami tahu apa penyebab kegilaanmu. Engkau telah menghina tuhan kami sehingga tuhan kami murka padamu. Dan karena murkanya, engkau kini menjadi gila,” kata para pemimpin kaum Ad.

Setelah konflik makin meruncing, maka tidak sikap lain yang harus diambil Hud selain memperingatkan dan mengancam mereka dengan siksa Allah. Seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, Nabi Hud as berkata sebagai berikut;

“Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Hud:54-57)

Siapapun pasti akan kagum akan keberanian Hud as. Seorang pria sendirian melawan sekelompok orang yang terkenal akan reputasinya yang perkasa dan tak terkalahkan. Satu orang melawan sekelompok orang garang yang menganggap bahwa patung bisa menyebabkan sebuah penyakit. Ini menandakan sekelompok orang yang kerdil pikirannya walaupun badannya tegap tinggi.

Hud kemudian menjauh dari kaum Ad yang kufur ini, beserta tuhan-tuhannya. Beliau juga mengancam akan siksa yang akan menimpa mereka dan siksa itu sudah tidak akan ditunda-tunda lagi. Beliau kini sudah bersiap-siap menghadapi bencana yang akan menimpa kaumnya tersebut, termasuk bersiap-siap untuk memerangi mereka. Beliau bertawakal kepada Allah, hanya Allah yang Mahaperkasa. Tidak ada sedikitpun di muka bumi ini yang mampu melemahkan Allah.

Kekeringan mulai melanda bumi. Langit tidak menurunkan hujan samasekali. Matahari membakar pasir dan tampak seperti bola api yang berada di atas kepala manusia. Kaum Ad kemudian pergi ke Hud as dan bertanya, “Hai Hud, mengapa musim kemarau seperti ini panasnya?”

“Allah telah murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah akan meridhai kalian dan akan menurunkan hujan. Allah juga akan menambah kekuatan kalian,” jawab Nabi Hud as.

Mendengar jawaban itu, mereka justru menghina. Kekufuran mereka pun kemudian bertambah. Kekeringan kemudian benar-benar mencekik, pohon-pohon meranggas dan tumbuhan mati kekeringan.

Hingga suatu hari mendung tebal berarakan menghitamkan langit. Kaum Ad bergembira ria. Mereka keluar dari rumahnya seraya berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita!” Namun apa yang terjadi?

Tiba-tiba udara berubah drastis, dari panas yang menyengat berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Angin mulai berhembus. Semua bergetar; pepohonan, tumbuhan, manusia dan juga rumah. Angin berhembus makin kencang bersamaan pergantian siang menjadi malam. Makin malam suhu makin dingin dan menggigit. Kaum Ad mulai kebingungan mencari tempat perlindungan. Mereka masuk rumah namun tiba-tiba angin menerpa mereka dengan keras sehingga merobohkan rumah mereka. Mereka kemudian mendirikan kemah darurat tapi angin menerbangkan kemah-kemah mereka. Secara ajaib angin mampu merobek apa pun termasuk kain, kulit bahkan mampu meremukkan tulang. Kemanapun orang-orag kafir pergi, angin itu mengejarnya dan membunuhnya, melumat dan menghisap hatinya. Angin telah menjadikan orang-orang kafir menjadi debu yang berterbangan.

“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqah: 7)

Nabi Hud as beserta orang-orang yang beriman kepadanya selamat. Orang-orang yang sombong telah binasa. Sekali lagi, azab Allah membersihkan bumi dari orang-orang yang kufur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s