KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 2)

Posted on Updated on


KISAH NABI NUH

Tahun demi tahun telah berlalu setelah meninggalnya Nabi Adam as. Segala sesuatu mulai berubah. Manusia mulai lupa akan wasiat Adam. Lupa yang merupakan bagian dari sifat manusia datang lagi walaupun dalam versi yang berbeda.

Sebelum adanya kaum Nabi Nuh as, ada lima orang saleh yang kemudian menjadi nenek moyang mereka. Mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Setelah mereka wafat, orang-orang membuat patung mereka untuk mengenang dan ungkapan penghormatan bagi mereka berlima.

Waktu terus berlalu. Generasi orang-orang yang membuat patung itu telah mati. Anak-anak dari generasi pembuat patung itu pun kemudian telah mati. Lalu datanglah generasi ketiga dari para pembuat patung itu, yang pada saat itu mulai tersebarlah tahayul-tahayul yang menyertai patung-patung tersebut. Orang-orang kemudian mulai mengagung-agungkan patung-patung tersebut, seolah-olah mereka mempunyai kekuatan yang luarbiasa. Melihat hal ini, para iblis tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menggoda manusia mengikuti jalannya. Mereka kemudian sibuk di sekitar patung-patung dan membisikkan kepada manusia bahwa patung-patung ini bisa mendatangkan bencana dan juga mendatangkan manfaat. Orang-orang ini kemudian tergoda dan mulailah mereka menyembah patung-patung tersebut.

Allah kemudian mengutus Nuh as untuk membawa kembali kaumnya menyembah Allah semata. Nuh adalah orang yang dipandang jenius dan banyak bersyukur. Nuh kemudian mulai berdakwah seperti yang Allah jelaskan seperti berikut ini;

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. Al-Isra: 59)

Dengan kata-kata sederhana ini, Nuh menyebarkan tauhid, bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah. Nuh juga menjelaskan bahwa setan sejak dahulu berupaya keras untuk memperdaya manusia, mengikuti jalannya yang sesat. Menyembah berhala adalah sebuah kezaliman dan kebodohan yang melawan logika sehat seorang manusia. Orang-orang mendengarkan beliau dengan khidmat. Mereka tergoncang hatinya. Setan kemudian meniupkan rasa takut pada hati mereka dan juga kebencian akan ancaman Nuh yang berupa azab pedih.

Setelah Nuh berdakwah, orang-orang terpecah menjadi dua golongan. Golongan orang-orang yang lemah dan miskin tersentuh hatinya dengan kejernihan ajaran beliau. Mereka kemudian menjadi pengikut Nuh yang beriman, hanya menyembah Allah semata. Sedangkan orang-orang yang kuat dan kaya mengingkari kebenaran dakwah Nuh. Mereka memandang dakwah Nuh adalah ancaman dan mereka ekspresikan dengan sikap yang bermusuhan. Mereka berkata kepada Nuh, “Hai Nuh, engkau adalah manusia biasa.”

Nuh memang hanya manusia biasa. Namun Allah telah memilih beliau sebagai rasul untuk manusia waktu itu.

Allah berfirman;

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang menyedihkan’. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin orang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, selain orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’.” (QS. Hud: 25-27)

Permusuhan terus berlangsung. Awalnya orang-orang kafir ini akan menyangka bahwa dakwah Nuh akan padam dengan sendirinya seiring dengan waktu yang berjalan. Namun kenyataannya berkata lain, orang-orang fakir miskin semakin banyak yang mengikuti ajaran beliau. Orang-orang kafir ini kemudian mengancam para pengikut Nuh. Kepada beliau mereka berkata, “Hai Nuh, dengarlah. Jika engkau menginginkan kami percaya padamu, maka engkau harus mengusir orang-orang yang telah percaya padamu. Mereka adalah orang-orang yang lemah dan orang-orang fakir. Sedangkan kami adalah para pemimpin kaum dan golongan terkaya di antara mereka. Tidak mungkin kami disamaratakan dengan mereka.”

Nuh mendengarkan ucapan mereka dengan tenang. Beliau selalu mendebat setiap argumen orang-orang kafir dengan pola pikir para nabi yang santun serta mulia, yaitu pola pikir yang jauh dari kesombongan dan samasekali tidak mengedepankan kepentingan pribadi. Dengan santun beliau menjelaskan bahwa Allah telah memberinya risalah, nubuwat dan juga rahmat yang mereka tak bisa lihat. Walau begitu beliau tidak bisa memaksakan kalimat La Ilaha Illallah karena memang tak boleh dipaksakan kepada manusia. Beliau juga menjelaskan bahwa beliau tak bisa mengusir orang-orang fakir miskin yang telah beriman kepada Allah ini karena siapapun yang telah memusuhi orang beriman ini, maka Allah akan memusuhinya Jadi permintaan itu adalah permintaan yang mustahil untuk dituruti oleh Nuh sebagai nabi.

Nuh berkata kepada orang-orang kafir ini, “Orang yang kalian pandang rendah, hina dan kalian perolok-olok adalah orang beriman. Hinaan dan cemoohan kalian tidak akan menghapus pahala mereka. Allah Mahatahu apa yang ada di dalam hati mereka. Hanya Allah yang berhak memberikan pahala atau hukuman kepada mereka. Aku berlaku zalim jika aku berkata bahwa Allah tidak akan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan kepada mereka.”

Orang-orang kafir semakin berani menantang Nuh, bahkan mereka kemudian menantang Nuh untuk mendatangkan azab Allah. Beliau serta merta tak langsung menanggapi tantangan kaumnya tersebut. Dengan sabar beliau terus mendakwahkan kebenaran ini. Tapi kelakuan kaumnya makin sesat saja. Nuh berdakwah hingga 950 tahun lamanya. Umur manusia memang sangat panjang sekali sebelum terjadinya banjir besar tersebut. Barangkali umur panjang ini adalah mukjizat bagi Nabi Nuh as.

Setelah 950 tahun berdakwah, Nuh mulai besusah hati melihat kenyataan yang terjadi. Kaumnya masih tetap saja dalam kesesatan, dan hanya sebagian kecil dari mereka yang mengikutinya untuk hanya menyembah Allah semata. Hingga suatu hari datang wahyu dari Allah kepada Nuh, “Sesungguhnya kaummu tidak akan beriman kepadamu kecuali orang-orang yang sudah beriman.” Allah memerintahkan untuk tidak bersedih atas perbuatan kaumnya tersebut.

Allah mengabarkan akan adanya hukuman berupa banjir besar kepada orang-orang kafir ini. Allah memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah kapal dengan bantuan para malaikat. Maka mulailah Nuh menanam pohon untuk membuat kapal. Setelah pohon-pohon itu cukup besar, beliau menebangnya dan kemudian kayunya digunakan untuk membuat kapal. Kapal yang dibuat sangat besar dan tinggi. Kita tak perlu membahas di sini seberapa besar kapal Nuh ini karena ini tidak terlalu penting untuk kita ketahui.

Orang-orang kafir mondar-mandir di tempat pembuatan kapal ini. Mereka menghina Nuh dengan berkata, “Sekarang musim kemarau, lagi pula tak ada sungai ataupun laut di dekat sini. Jadi bagaimana kamu akan menjalankan kapalmu? Apakah akan berjalan di atas tanah? Sungguh, engkau sudah gila!” Nuh dan orang-orang beriman tidak bergeming atas penghinaan mereka. Mereka terus bekerja membuat kapal tersebut hingga akhirnya jadi.

Setelah kapal telah siap, Nuh dan pengikutnya duduk-duduk saja di rumah sambil menanti perintah Allah selanjutnya. Allah lalu menurunkan wahyu kepada Nuh, jika ada air datang dari dapur, maka itu adalah pertanda banjir besar akan datang.

Hari yang mengerikan telah datang. Dapur rumah Nuh telah memancarkan air. Dengan cepat Nuh membuka pinta kapalnya dan menyuruh orang-orang beriman untuk segera naik. Malaikat Jibril pun ikut turun ke bumi untuk mebantu evakuasi ini. Tak hanya orang-orang beriman, kapal ini juga mengangkut hewan-hewan dalam jumlah masing-masing sepasang untuk jenisnya. Nuh telah membuatkan kandang untuk mereka semuanya. Hewan-hewan tersebut antara lain; sapi, burung, gajah, harimau dan masih banyak lagi. Malaikat Jibril memantau dan mengawasi mereka untuk menjaga kelangsungan kehidupan binatang di bumi.

Melihat hal ini, maka bisa dipastikan bahwa banjir bandang ini terjadi di seluruh permukaan bumi. Kalau tidak, tak perlu kapal Nuh ini mengangkut segala jenis binatang.

Istri Nuh tidak naik ke kapal karena dia tidak percaya dengan suaminya sendiri. Sementara itu, salah satu putra beliau yang selama ini menyembunyikan kekufurannya juga tak mau naik ke kapal. Selama ini dia tampak beriman di hadapan Nuh, tapi di belakang dia selalu mengingkari kebenaran yang dibawa oleh ayahnya sendiri. Saat itu, hanya sedikit yang mau naik ke kapal tersebut. Hanya orang-orang beriman saja yang mengikuti perintah Nuh untuk naik ke kapal. Menurut Ibnu Abbas, jumlah yang ikut naik ke kapal hanya 80 orang saja.

Air semakin tinggi. Semua celah di bumi mengeluarkan air dengan dahsyat. Sementara itu, hujan seperti tercurah dari langit. Hujan deras seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Semakin lama air semakin tinggi. Semuanya kemudian mulai tenggelam; rumah, pohon, manusia bahkan gunung sekalipun. Untuk pertamakalinya seluruh permukaan bola bumi tenggelam oleh air.

Pada waktu banjir baru mulai, Nuh memanggil-manggil puteranya yang kufur untuk segera naik ke kapalnya.

“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud: 42)

Namun puteranya menjawab,

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud:43)

Nuh kembali memanggilnya,

“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” (QS. Hud: 43)

Dialog antara bapak anak ini kemudian terputus dengan adanya gelombang yang menggulung sang anak, sebagaimana yang digambarkan oleh Allah;

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud:43)

Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah kehancuran belaka. Tak ada sisa kehidupan kecuali sekelompok makhluk hidup yang terapung-apung di atas kapal Nuh. Sulit bagi kita, orang-orang yang hidup di masa kini, membayangkan betapa besarnya banjir tersebut. Ini adalah azab Allah yang sangat menakutkan, yang menunjukkan kekuasaan Allah. Para ilmuwan masa kini berasumsi bahwa banjir besar ini kemudian memisahkan daratan menjadi beberapa benua dan membentuk bumi menjadi seperti sekarang ini.

Setelah semua tenggelam, Allah kemudian memerintahkan langit untuk berhenti mencurahkan air ke bumi, lalu memerintahkan bumi untuk menelan air. Kapal Nuh kemudian berlabunh di bukit Judi. Ada yang mengatakan bahwa bukit tersebut terletak di wilayah negara Irak masa kini.

Dengan turunnya perintah Allah ini, ketenangan kembali menyelimuti bumi. Air berangsur surut. Daratan kemudian tampak kembali di bawah sinar matahari yang hangat. Banjir telah menyucikan bumi dari orang-orang kafir.

Nuh turun dari kapal. Beliau kemudian melepaskan hewan-hewan yang kemudian menyebar di seluruh permukaan bumi. Setelah itu barulah kaum mukmin turun. Nabi Nuh as kemudian bersujud di bumi Allah ini yang masih basah karena banjir. Usai shalat beliau kemudian menggali tanah untuk membuat pondasi bangunan sebagai tempat untuk menyembah dan mengagungkan Allah.

Orang-orang mukmin kemudian membuat api unggun. Selama di kapal mereka tidak diperbolehkan membuat api karena dikhawatirkan akan terjadi kebakaran. Sehingga di sepanjang banjir besar ini mereka tak pernah menikmati makanan hangat.

Al-Qur’an menyibak tirai atas kisah Nuh as. Setelah banjir kita tidak mengetahui apa yang beliau lakukan bersama kaum mukmin ini karena Al-Qur’an tidak menjelaskannya. Yang kita ketahui adalah Nuh as berwasiat kepada anak-anaknya untuk tetap menyembah Allah semata sebelum beliau berpulang ke rahmatullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s