KISAH PARA NABI UNTUK ORANG DEWASA (BAG 1)

Posted on Updated on


PROLOG
Biasanya kisah Nabi dikemas untuk anak-anak. Tujuannya mulia, yaitu memperkenalkan kisah-kisah teladan tersebut lebih dini agar mereka bisa meneladani kehidupan para Nabi yang mulia ini.

Kemudian aku menemukan sebah buku yang bagus sekali sekali, bercerita tentang kisah para Nabi Allah. Hanya saja ini bukan kisah untuk anak-anak, tapi ini adalah kisah para Nabi yang bagus sekali dibaca untuk para orang dewasa. Sebenarnya anak-anak pun sah-sah saja membaca buku ini, tapi kemasannya yang tebal dan cara bercerita yang tidak kronologis serta hikmah-hikmah Al-Qur’an yang cukup sulit, membuat anak-anak tentu akan merasa bosan. Buku ini memang mengupas kisah-kisah tersebut dari sisi Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai satu-satunya sumber cerita. Buku ini berjudul Nabi-Nabi Allah karangan Ahmat Bahjat.

Aku coba untuk menukil isi buku ini dengan harapan kita bisa mengambil hikmah dari kisah para Nabi Allah yang mulia ini. Semoga tulisan berseri ini juga bermanfaat bagi umat Islam semua, dan semoga ini juga bisa menambah amal perbuatanku untuk bekal di akhirat nantinya.

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Allah menciptakan alam semesta cukup hanya dengan berfirman, “Kun (jadilah!)”, maka jadilah ia (fayakun). Proses penciptaan dan bagaimana penciptaan terjadi, ini adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui. Tetapi materi penciptaan bisa kita cari dan kita selidiki. Kita dibebaskan untuk mencarinya melalui ilmu pengetahuan atau science. Sementara itu, bagaimana penciptaan adalah rahasia Allah. Kita hanya mengetahui hal-hal yang Allah beritahu ke kita saja. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa langit, bumi dan segala sesuatu yang berada di antara langit dan bumi, diciptakan dalam waktu enam hari.

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.”
(QS. As-Sajdah: 4)

Enam hari di sini adalah hari-hari bagi Allah, dan ini samasekali berbeda dengan hitungan hari bagi kita sebagai manusia. Alasannya sederhana. Kita manusia menghitung hari berdasarkan berpedoman rotasi bumi dan juga orbit bumi terhadap matahari. Satu hari adalah satu siang dan satu malam, atau dengan kata lain satu kali putaran bumi terhadap porosnya sendiri. Sedangkan Allah berbicara tentang hari qadim atau azali, yang lebih dulu ada sebelum diciptakannya bumi dan matahari.

Barangkali 6 hari bagi Allah adalah ribuan, jutaan, milyaran tahun bagi kita. Atau barangkali perhitungan Allah tak seperti itu. Kita tak pernah tahu selain apa yang ada di Al-Qur’an. Cukup saja disitu. Kehendak Allah telah terwujud, menciptakan alam semesta yang kita tinggali ini. Setelah tercipta, maka seluruh alam semesta kemudian bersujud kepada Allah, Sang Pencipta, berserah diri terhadap semua keputusan Sang Pencipta dan Pengatur Alam.

Allah juga menciptakan malaikat sebagai simbol kebaikan. Malaikat diciptakan dari cahaya. Malaikat ada banyak macam dengan masing-masing derajat dan tugas. Di antara mereka ada yang bertugas untuk menyampaikan wahyu Allah kepada para Rasul-Nya, yaitu malaikat Jibril. Ia adalah panglimanya para malaikat. Seorang Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang menyampaikan wahyu kepada beliau. Rasulullah pun menjawab, “Jibril.” Orang Yahudi tersebut kemudian berkata, “Dia adalah musuh kami. Jika saja yan menyampaikan wahyu kepadamu adalah Mikal, maka kami akan beriman padamu dan akan mengikuti ajaranmu.” Yang dimaksud Mikal oleh oran Yahudi tersebut adalah malaikat Mikail.

Kemudian Allah menurunkan wahyunya berhubungan dengan sikap orang Yahudi tersebut;

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yan menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kita) sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 97-98)

Selain malaikat, Allah juga menciptakan jin yang dibuat dari api. Jin adalah makhluk yang berkembang biak, dengan kata lain mempunyai keturunan. Di antara mereka ada yan beribadah untuk mendapatkan kemuliaan. Namun ada pula yang beribadah tetapi menghinakan diri dengan bersikap sombong. Di antara bangsa jin yang terkenal adalah Iblis. Iblis sebenarnya sejajar dengan malaikat hingga kemudian dia menolak bersujud ke Adam karena kesombingannya. Iblis pun kemudian menjadi simbol kejahatan.

Iblis menyembah Allah karena cinta kepada kemuliaan, bukan karena cinta kepada Allah. Ibadah adalah jalan mencapai kemuliaan dan kehormatan. Ketika turun perintah untuk menyembah Adam as, Iblis memilih keinginannya sendiri yaitu menentang perintah Allah karena merasa lebih tinggi dari Adam as yang terbuat dari tanah liat.

KISAH NABI ADAM AS.
Nabi Adam as adalah manusia pertama. Tanpa ayah dan ibu. Dibuat dari tanah liat dan dia beserta keturunannya diangkat Allah sebagai khalifah. Abu Dzarr pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang nabi Adam ini. Abu Dzarr bertanya, “Apakah Adam itu nabi atau rasul?”. Rasulullah pun menjawab, “Ya, Adam adalah nabi dan juga rasul.” Abu Dzarr bertanya lagi, “Untuk siapa Adam diutus sebagai nabi dan rasul, sedankan di dunia waktu itu belum ada satu orang pun?” Rasulullah menjawab, “Dia menjadi rasul untuk anak-anaknya.”

Malaikat mengetahui bahwa Allah akan menciptakan khalifah di muka bumi ini. Allah menjelaskan keinginan-Nya dengan detail ke malaikat. Allah mengambil segenggam tanah dari bumi. Tanah tersebut berwarna macam-macam. Ada yang berwarna putih, hitam, kuning dan merah. Itu sebabnya warna kulit manusia bermacam-macam warnanya. Allah mencampur tanah tersebut dengan air sehingga menjadi tanah liat yang lengket dan bau. Pada saat itu Iblis berjalan melewati tanah tersebut dan terkejut dengan apa yang terjadi. Dari tanah liat ini kemudian terbentuk sosok Adam. Dengan kekuasaan-Nya, Allah kemudian meniupkan ruh kepadanya. Maka bergeraklah jasad Adam. Tumbuhlah kehidupan dalam tubuhnya. Saat membuka matanya, Adam melihat semua malaikat bersujud kepadanya, kecuali satu makhluk yang tidak mau bersujud kepadanya. Adam tidak tahu, makhluk apa itu yang tidak mau bersujud. Adam tidak mengenal namanya.

Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam tidak hanya ada dalam satu surat di Al-Qur’an. Salah satunya ada di surah Shad;

“Allah berfirman, ‘Hai Iblis, apakah yan menhalangi kamu sujud kepada yan telah Kuciptakan dengan kedua tanganKu? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?’ Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman, ‘Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai Hari Pembalasan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, beri tanguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (Hari Kiamat).’ Iblis berkata, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.”
(QS. Shad: 75-83)

Pertama kali membuka matanya, Adam mengamati dengan seksama apa yang terjadi di sekitarnya. Beliau merasakan takut, cinta dan heran sekaligus. Beliau sangat cinta kepada Allah yang telah menciptakannya, memuliakannya dan telah memerintahkan semuanya untuk bersujud kepadanya termasuk malaikat. Beliau juga dicekam rasa takut yang atas murka Allah kepada Iblis yang menolak perintah-Nya. Adam lebih heran lagi ketika Iblis berargumentasi bahwa api lebih mulia daripada tanah liat. Darimana dia mendapatkan pengetahuan seperti ini? Adam as akhirnya tahu bahwa Iblis adalah makhluk yang hina dan sombong. Iblis meminta Allah agar dirinya diabadikan hingga Hari Kiamat tiba. Dia tidak ingin mati. Allah pun kemudian mengizinkan untuk tetap hidup hingga Hari Kiamat. Adam as kemudian tahu bahwa Allah telah melaknat Iblis dan juga terhalang dari rahmat Allah yang disebabkan oleh keberadaan dirinya. Adam as sangat heran denan keberanian Iblis dalam menentang Allah, Tuhan yang telah menciptakannya.

Begitu diciptakan, Adam as langsung belajar tentang kadar kebebasan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya. Allah memberi kebebasan makhluk-Nya untuk ingkar, berbuat maksiat dan menolak perintah-Nya. Semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan Allah. Perbuatan-perbuatan ini akan mengurangi kemuliaan makhluk itu sendiri dan keimanan akan menambah kemuliaan dirinya sendiri. Adam telah memahami bahwa kebebasan telah ditanamkan. Allah telah memberi kebebasan sekaligus kewajiban. Dari situ Allah akan memberi semua ganjaran dari semua perbuatan makhluk-Nya, termasuk perbuatan baik maupun buruk.

Selain pelajaran tentang kebebasan, Adam juga diajari Allah tentang ilmu pengetahuan. Adam telah tahu bahwa Iblis adalah simbol kejahatan sedangkan malaikat adalah simbol kebaikan. Namun sampai saat itu beliau tidak tahu di mana posisinya sendiri. Allah pun kemudian menunjukkan Adam hakekat dari dirinya, tujuan penciptaan dirinya dan rahasia dari kemuliaan. Allah telah mengajarkan nama-nama segala sesuatu; ini burung, ini bintang, ini pohon, ini awan dan juga nama-nama lainnya. Nama adalah pengetahuan. Nama adalah ilmu. Allah telah menanamkan di hati Adam tentang ilmu pengetahuan tanpa batas. Allah telah menghunjamkan cinta di dalam Adam tentang terhadap ilmu pengetahuan tanpa batas waktu. Allah juga menanamkan keinginan yang kuat kepada Adam untuk mewariskan ilmu-ilmunya kepada anak-anaknya nanti. Inilah kenapa Adam dimuliakan.

Setelah Adam belajar dengan baik, Allah kemudian mempertemukannya dengan para malaikat. Allah berfirman kepada para malaikat, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda ini jika kamu memang orang-orang yang benar!” (Jika kamu ingin sekali menjadi khalifah). Para malaikat tidak mengetahui nama-nama benda tersebut dan mereka pun mengakui kelemahan tersebut. “Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana’.” (QS. Al-Baqarah 32)

Malaikat baru mengerti, kenapa Adam begitu mulia. Ini dikarenakan oleh keluhurannya dalam belajar dan ilmu yang dimilikinya. Adam akan hidup di dunia dan membangunnya dengan ilmu pengetahuan dan makrifat kepada Allah. Inilah perkara yang ditanamkan Allah dalam jiwa Adam, adalah iman atau Islam. Adam sudah mengetahui segala hal yang merusak dunia dan juga telah mengetahui bagaimana menguasai dan memakmurkan dunia. Semua ini tercakup dalam ilmu-ilmu dunia. Sebagaimana yang kita ketahui, kesempurnaan manusia tidak akan terwujud kecuali dia telah mengenal Allah dan juga ilmu-ilmu dunia. Ini adalah dua hal yang sangat krusial dan saling dibutuhkan seperti halnya dua sayap yang mebuat burung bisa terbang.

Adam as sudah banyak mengetahui. Kadang beliau ingin sekali berbincang dengan para malaikat, namun mereka terlalu sibuk untuk beribadah. Lama kelamaan Adam merasa kesepian. Hingga suatu hari, ketika Adam as bangun dari tidurnya, di dekatnya ada seorang perempuan memandangi dirinya dengan kedua matanya yang indah dan penuh kasih.

“Sebelum aku tidur, engkau belum ada di sini. Apakah engkau datang sewaktu aku tidur?” tanya Adam. Perempuan itu kemudian menjawab, “Benar.” Adam bertanya lagi, “Darimana engkau berasal?”

“Aku datang dari dirimu. Allah telah menciptakan diriku dari dirimu ketika engkau sedang tidur. Tidakkah engkau ingin aku membahagiakanmu di kala sudah bangun?” tanya perempuan itu.

“Mengapa Allah menciptakanmu?” tanya balik Adam.

“Agar engkau hidup bersamaku,” jawab perempuan itu. Kemudian Adam berkata, “Segala puji bagi Allah.”

Ketika malaikat bertanya kepada Adam tentang nama perempuan itu, Adam menjawab bahwa namanya Hawa. Malaikat bertanya lagi, kenapa namanya Hawa. Adam kemudian menjawab bahwa Hawa diciptakan darinya dan Adam adalah manusia yang hidup.

Sebagai makhluk yang suka dengan pengetahuan, Adam kemudian mengajari Hawa apa yang beliau ketahui. Hawa pun kemudian jatuh cinta kepada Adam. Turunlah perintah dari Allah;
“Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-Baqarah: 35)

Di surga Adam dan Hawa hidup dengan bahagia. Mereka berjalan ke mana saja mereka suka dan mereka merasakan kebahagiaan yang sangat menyenangkan. Adam sudah tidak merasa kesepian lagi bersama Hawa yang juga sangat beliau kasihi. Kebahagiaan yang mereka nikmati ini benar-benar mereka kenal terlebih dulu sebelum kemudian mereka berdua mengenal apa arti dari kesedihan dan rasa sakit.

Walau begitu, Allah melarang mereka berdua mendekati pohon khuldi apalagi memakan buahnya. Namun Adam adalah manusia dan manusia mempunyai sifat lupa, hatinya bisa berbolak-balik tak karuan. Keteguhannya bisa melemah. Di sinilah Iblis mengambil peranan. Iblis yang sangat dendam dengan Adam kemudian menggoda untuk makan buah khuldi tersebut. Iblis berkata bahwa pohon itu adalah pohon keabadian.

Hari demi hari keteguhan Adam makin melemah. Sedikit demi sedikit rayuan Iblis mengusik keinginannya. Adam mulai bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang terjadi jika aku memakan buah khuldi ini? Barangkali ini benar-benar pohon keabadian.” Adam mempunyai impian untuk hidup abadi di surga. Beberapa hari Adam dan Hawa terus-menerus memikirkan tentang hal ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk memakannya. Mereka berdua lupa bahwa Allah telah melarang untuk memakan buah khuldi ini. Mereka berdua juga lupa bahwa Iblis adalah musuh bebuyutannya yang mempunyai dendam. Adam mengambil beberapa buah dan mereka berdua pun memakan buah terlarang tersebut.

“Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia.” (QS. Thaha:121)

Belum selesai memakan buah tersebut, Adam merasa dadanya sesak. Beliau merasa sakit, malu dan juga sedih. Udar sekitar berubah dan musik syahdu yang terdengar tiba-tiba terhenti. Pakaian yang mereka pakai terbuka dan mereka telanjang bulat. Adam dan Hawa kemudian memotong daun untuk menutupi tubuh mereka. Allah kemudian memerintahkan mereka untuk turun dari surga.

Tidak benar yang telah disebutkan dalah kitab Yahudi, bahwa Hawa memperdaya Adam sehingga Hawa lah yang harus bertanggung jawab atas dosa memakan buah khuldi. Al-Qur’an tak pernah menyebutkan Hawa. Al-Qur’an hanya menyebutkan Adam lah yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ini adalah dosa Iblis dan dosa Adam. Dosa Iblis karena kesombongannya sedangkan dosa Adam karena ketamakannya yang ingin kekal di surga.

Maka turunlah Adam dan Hawa ke bumi. Adam sangat bersedih dan Hawa terus menerus menangis. Tobat dipanjatkan dengan tulus hingga kemudian Allah menerima tobat mereka. Allah memberitahukan bahwa bumi adalah tempat mereka sesungguhnya. Mereka akan hidup di sana, mati di sana dan keluar dari sana pada Hari Kebangkitan.

“Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al-A’raf: 25)

Adam dan Hawa kini hidup di bumi, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Adam harus berusaha untuk mencari makanan, membuat pakaian dan senjata untuk melindungi dari binatang-binatang buas yang hidup di bumi. Adam sadar jika kehidupan di bumi pasti akan dibarengi dengan kesengsaraan yang tak berkesudahan. Satu hal yang cukup menghiburnya adalah dia datang sebagai khalifah di bumi ini. Beliau harus merawat bumi, memakmurkannya dan membangunnya. Di bumi ini beliau memiliki keturunan yang akhirnya menyebar ke seluruh pelosok bumi hingga menjadi ramai. Mereka mengubah bentuk kehidupan bumi dan menjadikannya lebih baik.

Hawa selalu melahirkan bayi kembar laki-perempuan. Setelah tumbuh dewasa, Adam kemudian menikahkan mereka. Mereka pun kemudian beranak pinak dan bumi semakin ramai. Adam as kemudian mengajak mereka untuk menyembah Allah.

PEMBUNUHAN PERTAMA
Di antara putra-putra Adam ada dua anak yang sangat terkenal yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu Habil dan Qabil. Qabil sangat ingin menikahi saudari kembarnya dan begitu juga dengan Habil. Mereka berdua mencitai orang yang sama. Adam kemudian memerintahkan mereka berdua untuk mempersembahkan korban. Allah hanya menerima satu korban saja, yaitu milik Habil. Al-Qur’an kemudian mengkisahkan peristiwa tersebut sebagai berikut;
“Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu padaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam’.” (QS. Al-Maidah: 27-28)

Beberapa hari kemudian, Habil sedang tidur di hutan. Saat itu ada di sana ada seekor keledai tua mati. Burung-burung elang memakan dagingnya, sedangkan darahnya diminum oleh bumi. Tinggal tulang belulangnya yang tergeletak di tanah. Qabil kemudian mengambil tulang itu lalu pergi ke tempat Habil sedang tidur. Tanpa pertimbangan apa-apa, secepat kilat Qabil menghantam kepala Habil dengan tulang tersebut tepat di kepalanya. Wajah Habil tergetar. Darah mengucur dari kepalanya. Saat itu Habil tengah bermimpi dan sedang tersenyum. Kemudian Habil pun mati dan tidak bergerak. Qabil terduduk di depan mayat Habil dengan dicekam rasa ketakutan.

Atas peristiwa ini Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa membunuh orang lain dengan zalim, maka Qabil ikut menanggung dosanya, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.”

Qabil adalah manusia pertama yang melakukan pembunuhan dan saat itu dia sedang kebingungan bagaimana cara mengubur mayat. Ini dikarenakan pada saat itu belum ada manusia yang meninggal dunia. Qabil pun kemudian kebingungan, berjalan kesana kemari sambil menggendong jenazah Habil. Tiba-tiba Qabil melihat seekor burung gagak yang berkaok-kaok di atas bangkai burung gagak lain yang sudah mati. Burung itu kemudian menggali tanah lalu dengan menggunakan paruh dan cakarnya. Rupanya gagak tersebut berusaha untuk membuat lubang di tanah. Ketika sudah cukup dalam, gagak tersebut menaruh bangkai ke dalam tanah. Dilengkingkannya jeritan pende sebanyak dua kali lalu menimbun bangkai itu dengan tanah. Setelah selesai gagak itu lalu terbang ke angkasa sambil berkaok-kaok.

Melihat itu, Qabil kemudian mengali lubang di tanah sambil diiringi tangisnya yang tumpah ruah karena penyesalan. Digaruknya tanah dengan kuku untuk mebuat lubang kubur untuk saudaranya sendiri. Diletakannya jenazah Habil lalu ditimbunnya dengan tanah seperti yang dicontohkan burung gagak tersebut.

Adam as dirundung duka ketika mengetahui kejadian ini. Adam as kemudian berkata,
“Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (QS. Al-Qashash: 15)

Tahun berganti tahun. Waktu terus saja berjalan. Adam tak pernah bosan untuk mengingatkan anak cucunya untuk selalu bertakwa kepada Allah. Beliau juga selalu berpesan untuk berhati-hati dengan Iblis. Beliau menceritakan kisah dirinya dengan Iblis dan juga kisah Qabil yang tega membunuh sadaranya sendiri karena tergoda oleh bujukan Iblis.

Kini Adam as sudah berusia senja. Bumi makin ramai dan anak cucu beliau semakin tersebar di seluruh penjuru bumi. Di dalam bilik yang sederhana, seluruh anak Adam mengelilingi Adam untuk menunggu wasiat. Adam kemudian bercerita panjang lebar bahwa ada sebuah perahu yang akan menyelamatkan manusia. Selain itu beliau juga menceritakan tentang suatu senjata untuk meraih kemenangan. Perahu itu adalah petunjuk Allah dan senjata itu adalah kalimat Allah. Dikatakan juga bahwa Allah tidak akan meninggalkan manusia sendirian di muka bumi ini. Allah akan mengutus Nabi-Nabi-Nya untuk meberi petunjuk dan menolongnya. Para Nabi ini masing mempunyai nama, sifat dan mukjizat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Walaupun begitu, mereka semua adalah satu visi dan misi, yaitu berdakwah menyembah Allah semata.

Usai menyampaikan pesan-pesannya, para malaikat masuk ke dalam biliknya dan mengitarinya. Di antara mereka ada yang memperkenalkan diri sebagai malaikat maut. Adam pun kemudian bersuka cita karena beliau tahu bahwa sebentar lagi ruhnya akan terbang bersama semerbak bunga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s