PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 10)

Posted on Updated on


Setelah penaklukan Yerusalem, Bahauddin, sang penulis biografi Saladin, menceritakan pada kita sebuah kisah yang menunjukkan pandangan baru akan orang-orang Kristen. Waktu itu Bahauddin dan Saladin sedang berkuda di sepanjang pantai Palestina, memandang gelombang laut yang liar di musim dingin. Saladin berkata, “Aku pikir ketika Allah memberiku kemenangan atas seluruh tanah Palestina, maka aku akan membagi wilayahku, membuat wasiat untuk menyatakan harapan-harapanku, dan kemudian berlayar ke negeri-negeri mereka yang jauh dan memburu kaum Frank di sana, agar dunia terbebas dari orang-orang yang tak beriman pada Allah.”

Saladin sebenarnya sudah berniat untuk menyeberang ke Eropa dan menegakkan kalimat Allah di sana. Tapi untuk berjihad, Saladin tak perlu pergi ke Eropa karena tak lama setelah kemenangannya di Hittin, Raja William dari Sisilia segera berlayar ke Tirus dengan tujuan segera mengkonsolidasi kekuatan Kristen. Raja Guy dari Lusignan yang dibebaskan oleh Saladin, bukannya berterimakasih, tapi malah ikut bergabung dengan sisa kekuatan Kristen di Tirus dan kemudian berlayar ke Acre untuk mengepung sebuah benteng muslim di kota itu. Tentara Salib dalam jumah besar sedang berlayar dari Denmark dan Frisia untuk membantu Guy mengepung Acre.

Ibu Al-Atsir, sajarahwan muslim, memberikan sebuah pengamatan menarik tentang propaganda Kristen untuk membangkitkan semangat orang Kristen dengan memberikan gambaran yang salah dan fitnah besar tentang kaum Muslim serta agama Islam:

Untuk memancing rakyat agar membalas dendam, mereka membawa lukisan Mesiah, damai sejahtera atasnya, yang berdarah dilukai seorang Arab yang menyerangnya. Mereka akan berkata, “Lihat, ini sang Mesiah, dan ini adalah Muhammad, Nabi kaum Muslim, memukulinya hingga mati!”

Namun tentara salib yang menanggapi seruan perang salib jilid tiga yang dilontarkan oleh Paus Gregory III, tidak terlalu semangat dalam menanggapinya. Baru pada 1191, hampir 4 tahun setelah perang Hittin, tentara salib yang utama sampai di Acre. Keterlambatan ini sebenarnya dikarenakan mereka sedang sibuk dengan masing-masing pertempurannya. Raja Philip Agustus dari Perancis dan Raja Henry II dari Inggris saling menyerbu tiada henti. Pada 6 Jui 1189 Henry II wafat dan Richard The Lion Heart mewarisi kerajaan Inggris.

Setelah wafatnya Henry II, perang pun berhenti dan Richard berkeinginan untuk berangkat ke timur sebagai tentara salib. Sebenarnya keinginan Richard bukan berdasarkan motivasi religius. Karena Richard adalah seorang prajurit, perang salib memberikan tantangan yang menggairahkan sebagai prajurit. Sedangkan Philip Agustus jauh ebih tidak bersemangat menanggapi perang salib, tapi ia sadar bahwa jika ia tidak mengikuti opini pubik dengan menunda keberangkatannya lebih lama, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan politik yang cukup fatal. Philip Agustus dan Richard The Lion Heart sepakat untuk berdamai secara resmi dan berangkat bersama meninggalkan Eropa menuju Acre pada tahun itu.

Sebelum keberangkatan tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sebenarnya telah berangkat lebih dahulu sebuah armada besar tentara salib yang dipimpin oleh Kaisar Romawi Suci Frederick Barbarossa dari Jerman. Frederick berangkat bersama 50.000 pasukan kavaleri dan 100.000 pasukan infanteri. Mereka memandang dirinya sebagai pasukan dai Kaisar Terakhir yang akan menaklukkan timur dan memaksa kembalinya Kristus kemudian datanglah hari akhir dunia. Mereka memandang merekalah yang akan memenuhi nubuat kuno tersebut. Maka mereka pun memilih jalur darat seperti halnya Charlemagne leluhur mereka.

Tapi kemudian ada sebuah kejadian yang tak terduga muncul. Allah berkehendak menghancurkan pasukan itu tanpa sebuah peperangan. Rute darat terbukti membuat banyak pasukan menggila. Pada tanggal 10 Juni 1190, rombongan tentara salib ini telah tiba di sungai Calycadnus di dataran Seleucia. Dengan baju besi lengkap, Frederick dengan tiba-tiba melompat ke arah arus sungai yang deras. Entah apa tujuannya. Mungkin untuk mendinginkan baju besinya atau sekedar memamerkan keberanian seorang tentara salib. Seketika juga, Frederick Barbarossa, seorang Kaisar Romawi suci, meninggal karena tenggelam. Tanpa kaisar mereka, orang-orang Jerman ini kehilangan minat mereka berperang menuju timur. Sebagian besar orang meninggalkan pasukan dan hanya sebagian kecil saja yang terseok-seok terus berjalan hingga Antiokhia.

Gerak maju kedua raja, Richard dan Philip, sangatlah lambat. Berangkat dari masing-masing negerinya, kedua raja ini sepakat untuk ketemu di Sisilia. Rencana mereka akan berlayar menuju Acre dan tidak menempuh jalur darat yang berbahaya. Walau begitu, sesampainya di Sisilia, kedua raja ini menghabiskan banyak waktu untuk menuntaskan perselisihan di antara mereka hingga kemudian datanglah musim dingin. Mereka kemudian memutuskan untuk menunggu cuaca yang lebih ramah untuk keberangkatan pasukannya. Baru pada musim semi 1191 mereka berlayar menuju Acre.

Philip sampai lebih dulu dan langsung mengatur pasukannya untuk mengepung Acre. Sedangkan Richard tertunda kedatangannya karena asih harus merebut Siprus dan menyerang sebuah kapal logistik kaum Muslim. Baru pada 6 Juni Richard sampai di Acre dan langsung ikut membantu pengepungan Acre.

Pengepungan Acre adalah sebuah pengepungan yang berkepanjangan dan membuat semua orang putus asa. Di dalam kota, pasukan Muslim berjaga-jaga dan kaum sipil menderita akibat pengepungan yang telah berlangsung 2 tahun. Di sekeliling benteng kota tentara salib berkemah mengepung. Sementara itu, di sekeliling kemah tentara salib, berkemahlah ribuan prajurit Muslim Saladin. Di dalam perkemahan tentara salib merebak wabah penyakit dan perseteruan politik antara Richard melawan Philip. Kondisi ini yang membuat mereka tak mampu menaklukkan Acre dengan cepat.

Tentara salib kali ini sangatlah berbeda dengan tentara salib sebelumnya yang sangat termotivasi dengan semangat kristus. Tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sangat sekuler dan terlihat sangat duniawi. Mereka sangat bersemangat ketika Richard menawarkan kepingan emas untuk setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil bongkahan batu dari benteng kaum Muslim. Ini berkebalikan dengan yang terjadi dalam pasukan Muslim, di mana setiap orang bertempur berlandaskan jihad membela agama. Saladin tetap mempertahankan kebiasaannya untuk membacakan hadist-hadist Rasulullah SAW di depan pasukannya sehingga motivasi jihad pasukannya tetap terjaga.

Setelah pengepungan panjangnya, akhirnya kota Acre jatuh ke tangan tentara salib. Ketika melihat bendera Kristen dikibarkan dari benteng kota Acre pada tanggal 12 Juli, Saladin menangis bagaikan seorang anak-anak. Acre kemudian dikepung rapat oleh Saladin dari segala penjuru. Dan tentara salib ingin berunding dengan Saladin.

Dalam perundingan itu disepakati bahwa Acre akan diserahkan terhadap kaum Kristen bersama 15.000 orang Kristen yang menjadi tahanan Saladin. Begitu kesepakatan terjadi, Philip merasa telah selesai tugasnya dan kembali ke Perancis. Sedangkan Richard, yang kini menjadi pimpinan tentara salib satu-satunya, tetap tinggal di Acre dan mulai merencanakan operasi-operasi militer baru untuk melawan kaum Muslim. Karena merasa terbebani dengan besarnya jumlah tahanan, Richard menggiring keluar dari benteng 2700 orang Muslim termasuk anak-anak dan perempuan, untuk kemudian dibantai dengan darah dingin. Peristiwa ini -sekali lagi- membuktikan bahwa tak akan ada perdamaian jika yang menguasai wilayah adalah kaum Kristen. Tindakan Richard –orang yang sangat dikagumi di Eropa dan dianggap sebagai pahlawan besar- sangtlah kejam dan sangat berbeda jika dibandingkan apa yang dilakukan Saladin. Ketika Saladin memiliki terlalu banyak tahanan, ia membebaskannya begitu saja, walaupun Saladin tahu bahwa mereka akan berkonsolidasi untuk melawannya lagi.

Peperangan-peperangan terus berlanjut. Para tentara salib tak terbiasa dengan hawa panas dan terik matahari yang begitu menyengat yang membuat mereka tidak sadarkan diri, terjatuh dari kuda bahkan banyak di antara mereka yang mati di pembaringan. Walau begitu Richard dan tentara salib masih bertahan di spenjang pantai Kaisarea. Tentara salib bahkan berhasil menguasai Arsuf walau dengan menguras amat banyak energi. Kedua pihak mulai kelelahan dan Richard meminta sebuah perundingan baru. Saladin pun mengiyakan.

Dalam perundingan tersebut Richard meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi oleh Saladin. Richard meminta pengembalian seluruh wilayah tanah suci termasuk Yerusalem. Tentu saja permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Saladin. Saladin berkata ke Richard,

Yerusalem adalah milik kami seperti juga milik kalian: bahkan kota itu lebih bermakna suci bagi kami daripada bagi kalian karena Yerusalem adalah tempat Nabi kami menyelesaikan pejalanan malamnya sekaligus tempat komunitas kami akan berkumpul kelak pada hari kiamat. Jangan bayangkan bahwa kami dapat meninggalkan kota ini atau bimbang dalam masalah ini. Tanah itu semua memang milik kami, sementara kalian hanya baru saja tiba dan telah mengambilnya karena kelemahan kaum muslim yang tinggal di sana waktu itu.

Richard dan Saladin tak pernah bertemu karena menurut Saladin tidak pantas bila dua raja saling bertemu ketika mereka dalam peperangan. Al-Adil-lah yang menjadi penghubung kedua raja ini.

Selanjutnya Richard mengusulkan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan di kedua belah pihak. Richard mengusulkan agar saudara perempuannya, Joanna, menikah dengan Al-Adil dan pasangan tersebut akan memerintah Palestina sebagai Raja Muslim dan Ratu Kristen. Tentu saja usul ini ditolak oleh Saladin dan menganggapnya Richard berkelakar. Di pihak lain, Joanna secara terus terang menolak menikah dengan orang yang dianggapnya sebagai “najis”. Gagal dengan usulan itu, Richard kemudian meminta kepada Al-Adil untuk menjadi orang Kristen dengan maksud agar perdamaian tercipta. Dengan halus dan sopan, Al-Adil menolak permintaan Richard. Ini adalah sebuah kekonyolan yang diperbuat pahlawan besar Eropa tersebut dan menunjukkan bahwa dia sangatlah duniawi, yang hanya memikirkan kemenangan politik maupun militer.

Walau menolak permintaan Richard, Al-Adil mengundang Richard untuk makan malam di Lydda. Perjamuan itu sukses luar biasa walaupun tak ada satu pun kesepakatan yang ditandatangani. Kaum Muslim dan Kristen saling memberi hadiah dengan suasana ramah. Richard sangat menyadari bahwa perang ini hanyalah membuang-buang waktu dan tidak artinya. Richard menulis surat untuk Saladin; “Kaum Muslim dan kaum Frank (Kristen) telah menumpahkan darah mereka hingga mati. Negeri ini samasekali dimusnahkan dan barang-barang serta tanah-tanah dikorbankan di kedua belah pihak. Sudah tiba waktunya untuk menghentikan semua.” Saladin setuju dengan isi surat itu untuk menghentikan peperangan. Tapi Saladin jelas tidak setuju dengan tuntutan Ricahrd untuk mengembalikan Palestina ke kaum Kristen. Dia juga tidak menyetujui usulan pernikahan Al-Adil dengan Joanna. Saladin begitu menghormati Richard, tapi dia menganggap Richard terlalu sembrono yang seharusnya tidak dilakukan oleh ksatria macam Richard.

Di penghujung tahun perundingan menemui jalan buntu lagi, sedangkan pertempuran terus berlanjut. Richard berencana untuk merebut beberapa kota lagi di pantai sepanjang Askelon tapi Saladin selalu mampu merebut lagi satu kota ketika Richard baru saja berhasil menaklukkan kota lain. Ini adalah jalan buntu militer.

Sedangkan di pihak kaum Muslim, ada kepanikan yang melanda para amir. Banyak di antara mereka melarikan diri karena ketakutan ketika tentara salib maju hingga Beit Nuba. Saladin begitu terpukul dengan kemelut ini. Saladin sudah merasa kalah. Sepanjang malam Saladin dan Bahauddin memikirkan dan mempertimbangkan segala langkah yang mungkin dilakukan. Namun mereka tidak menemukan solusi dan mulai diliputi rasa putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Baru saja kepala diletakkan di bantal, terdengar sang muazin melantunkan adzan shubuh. Bahauddin dan Saladin kemudian sholat shubuh berjamaah. Di pagi itu, Bahauddin mendapatkan sebuah ide untuk mengatasi kepanikan yang terjadi pada pasukan Muslim. Bahauddin mengusulkan untuk Saladin sholat di Masjid Al-Aqsha tepat di tempat Rasulullah SAW naik ke langit pada malam Isra’ Mi’raj sebagai sebuah acara resmi dan formal kenegaraan. Bahauddin menulis; “Aku melihat dia keletihan, dengan air mata mengalir membasahi janggutnya yang putih dan jatuh di atas sajadahnya, tapi aku tak bisa mendengar yang diucapkannya.” Saladin dan balatentara Muslim telah melakukan semua hal yang mungkin mereka lakukan, yang menguras kemampuan mereka, dan tak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Tentu saja mereka harus menyerahkan semua persoalan ini kepada Allah SWT.

Pada hari yang sama, pemimpin garis depan datang membawa kabar baik. Orang-orang Kristen itu telah meninggalkan Beit Nuba dan bergerak kembali ke arah pantai. Bahaya telah berakhir. Richard menarik mundur pasukannya dan tidak jadi menaklukkan Beit Nuba karena penaklukkan Yerusalem dianggap tidak berguna dan justru akan membahayakan bagi orang Kristen yang tinggal di Palestina. Andai saja Yerusalem jatuh ke tangan orang Kristen, lalu para tentara salib pulang lagi ke Eropa, sudah dapat dipastikan bahwa Saladin akan kembali menaklukkan Yerusalem dan juga kota-kota di sepanjang pantai. Lagipula hujan musim dingin turun sangat deras dan bukit-bukit di sekitar Yerusalem tidak dapat dilewati. Richard mundur hingga ke Jaffa.

Seperti Saladin, Richard juga dalam kondisi putus asa. Setelah dua kali pasukannya dipukul mundur menjauh dari Yerusalem, para tentara salib ini marah dan nyaris timbul pemberontakan. Richard juga mendapatkan kabar buruk; Philip –temannya yang juga memimpin tentara salib bersamanya- kini tengah menyerbu tanah kekuasaannya di Perancis. Akhirnya Richard jatuh sakit. Saladin dengan ramah mengirim dokter pribadinya dan memberi hadiah buah-buahan dan es untuk dibuat minuman dingin. Akhirnya pada 2 September Richard menyerah dan sebuah kesepakatan ditandangani yang mengatakan bahwa kedua belah pihak harus berkompromi dalam waktu 5 tahun ke depan. Saladin berjanji tidak akan mengusir semua orang Kristen dan memburunya ke Eropa. Sebagai gantinya akan ada suatu wilayah kecil sepanjang pantai, dari Jaffa hingga Beirut, yang dikuasai sebuah kerajaan Kristen dengan ibukota Acre. Raja kerajaan itu menyebut dirinya sebagai Raja Yerusalem. Sedangkan Ricahrd berjanji untuk tidak menyerang Yerusalem lagi tapi para peziarah Kristen masih diperbolehkan datang ke Yerusalem. Tentara salib pun akhirnya pulang kembali ke Eropa tanpa menaklukkan Yerusalem.

Saladin menghormati Richard dengan sepenuh hati sebagai sesama ksatria. Ada satu kisah yang menggambarkan sikap Saladin. Pada satu peristiwa di pertempuran Jaffa, ketika pasukan kavaleri tentara salib kelelahan, Richard sendiri yang memimpin pasukan tombak. Saat Saladin melihat kuda Richard jatuh, seketika Saladin mengirimkan tukang kuda bersama dua kudanya yang masih segar untuk raja Inggris musuhnya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa seorang Saladin yang sedang berjihad, berjuang di jalan Allah, akan sangat menghormati musuhnya jika musuhnya juga menghormatinya.

10 thoughts on “PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 10)

    Uditoyo said:
    Desember 14, 2008 pukul 10:15 pm

    Hal ini dipandang lain oleh kaum Nasrani yang tergabung dalam forum katolik baru-baru ini. Dikatakan bahwa Islam tidak menang karena kaum Kristen masih bisa pergi ke Jerusalem. Saya tidak habis berpikir. Ada apa sebenarnya mereka itu. Islam pada masa itu memang tidak pernah menindas kaum yang lemah. Namun bertujuan membangun peradaban dan kemajuan serta membangun berdasarkan Qur’an dan hadists. Namun justru dilihat lemah. sekarang banyak umat muslim yang garis keras dikatakan umat muslim suka membunuh. Memang kita dalam posisi sulit untuk menjelaskan pada orang-orang yang berpikiran sempit seperti itu. Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk mencerahkan semua pikiran-pikiran tersebut dan menjadikan Dunia ini milik kita semua dengan damai

    Nasheef said:
    Desember 23, 2008 pukul 6:27 pm

    “orang2 yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” al-baqoroh : 120

    apapun yang dilakukan orang Islam tidak akan membuat mereka puas, mereka hanya ingin orang Islam mengikuti keyakinan mereka yang sudah tidak khanif lagi, Allah sendiri menegaskan pada ayat di atas..,

    adi-permana said:
    April 2, 2009 pukul 9:58 pm

    Mudah-mudahan Allah membangkitkan lagi seorang Shalahuddin Al Ayyubi untuk merebut Jerussalem dari tangan kafir Yahudi, sehingga Islam jaya di sana dan menjadi pengayom bagi semua umat manusia….Amin

    MAI said:
    April 25, 2009 pukul 9:36 pm

    Sejarah, tergantung siapa yang menulis. Kadar kejujuran dan obyektifitas sangat diperlukan dalam menulis sejarah. Dan sebagai orang muslim,…tentu saja kadar keimana diperlukan dalam menulis dan mereka ulang sejarah. Begitulah,..siapapun, agama apapun yang tidak melihat dengan kacamata kejujuran jangan harap mau mengerti tentang sejarah kebesaran Saladin…

    Anonim said:
    Juli 28, 2009 pukul 4:35 pm

    saladdin top

    ayubia said:
    September 11, 2010 pukul 10:35 pm

    saladin the wise

    bo'de said:
    September 21, 2010 pukul 2:55 pm

    kajian sejarah yg paten…. tidak memihak/bias dan cukup adil..selama ini sejarah selalu ditulis dr sudut pandang barat.

    Templar said:
    Maret 8, 2012 pukul 6:37 pm

    Menurut saya pertempuran salib merupakan kenangan buruk bagi siapapun (Islam atau Kristen) lebih baik kini kita tidak perlu saling menyalahkan akibat sejarah kita yang lalu, Jerusalem milik semua orang, bukan Holy Land namanya jika berlumuran darah, benar bukan? Richard The Lion Heart atau Salladin The Wise Man merupakan tokoh yang memiliki sikap positif dan negatif, ambil positifnya saja

      Marhan Faishal responded:
      Maret 8, 2012 pukul 8:59 pm

      Sepakat, mas…

        Templar said:
        Maret 10, 2012 pukul 5:55 pm

        Sip, mari berjuang menuju kedamaian yang baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s