PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 8)

Posted on Updated on


Pada tanggal 15 Mei 1174, Nuruddin wafat karena serangan jantung di usianya yang ke 60. Nuruddin telah mengilhami kesetiaan besar dan memiliki banyak pengikut yang setia. Di Suriah, kebanyakan amir mendukung Al-Shalih, putra Nuruddin yang masih berusia sebelas tahun. Para amir marah begitu mendengar Saladin yang seharusnya menjadi wali Al-Shalih. Saladin kemudian memulai kampanye panjang dengan penuh kesabaran untuk memenangkan dukungan rakyat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nuruddin. Saladin menggunakan metode yang sama dan secara bertahap mampu meyakinkan rakyat, hingga kemudian rakyat menganggap bahwa Saladin adalah seorang pewaris yang paling pantas walaupun sebagian orang menganggap Saladin tak lebih seorang pengkhianat.

Saladin di mata rakyatnya adalah seorang pemimpin yang taat beribadah, yang melaksanakan Islam secara kaffah. Bahkan dalam beberapa hal, Saladin melampaui sifat-sifat kesarjanaan dan kepejuangan Nuruddin yang saleh. Saladin bukan hanya hidup sederhana dan banyak memberi sedekah seperti halnya Nuruddin, tapi Saladin lebih dekat dengan rakyatnya karena ia membuka lebar-lebar istananya sehingga rakyat mudah menjangkaunya. Walau tak diragukan akan kesalehannya, Nuruddin terkesan agak resmi dan berjarak dengan rakyatnya sehingga menimbulkan rasa segan. Ini adalah kebalikan dari sikap Saladin sehari-hari. Saladin memberi contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin Islam. Sikapnya informal dan selalu menganggap dirinya sama dengan rakyat kebanyakan. Saladin selalu makan bersama dengan para prajuritnya dan hanya undur diri ketika akan sholat. Ia tak pernah minta diperlakukan secara istimewa, bahkan ia membiarkan dirinya diperintah oleh bawahannya yang rewel untuk menandatangani beberapa surat padahal ia sudah sangat kelelahan. Bahauddin, si penulis biografi Saladin, seringkali terkejut dengan sikap keseharian Saladin.

Karena keseharian yang sederhana, Saladin sangat dicintai oleh rakyatnya. Istana Saladin bersifat revolusioner pada jamannya, yaitu bersifat informal sekaligus kembali pada prinsip-prinsip fundamental Islam. Saladin terkenal dengan sifat welas asih, bahkan kepada musuhnya. Ia pernah menangis tersedu-sedu ketika seorang perempuan Kristen datang kepadanya dengan depresi karena putrinya diculik oleh seorang prajurit muslim dalam sebuah penyerbuan. Saladin memerintahkan untuk mencari putrinya seantero negeri, dan kemudian dikembalikan kepada ibunya.

Dalam masa awal pemerintahannya, Saladin membuat propaganda yang amat sukses, jauh melebihi kesuksesan Nuruddin. Saladin menyadarkan masyarakat bahwa jihad adalah sesuatu yag sangat penting bagi integritas seorang muslim. Ia melakukan pendidikan agama yang intensif di seluruh negeri, termasuk di kalangan prajuritnya. Untuk pertamakali dalam sejarah Islam, hadis dibacakan kepada pasukan ketika mereka siap bertempur, dan lebih banyak lagi pembacaan dan diskusi agama dilakukan ketika pasukannya menunggangi sadel kuda dan bergerak maju ke arah musuh. Tak ada amir lain waktu itu yang menunjukkan semangat besar untuk berjihad, sebagaimana semangat jihad Nuruddin yang juga dicintai rakyatnya.

Jika di pihak kaum Muslim mengalami kebangkitan yang luar biasa untuk berjihad, kebalikannya pihak Kristen justru mengalami kemunduran. Kerajaan Yerusalem sepenuhnya terisolasi dari luar karena ulah mereka yang menimbulkan kebencian walaupu dilakukan atas nama agama mereka. Tak hanya orang Muslim yang mulai bangkit untuk berjihad mengusir mereka, tapi orang-orang Kristen barat ini juga menimbulkan kebencian orang Yunani Ortodoks, kaum Jakobi, kaum Koptik dan kaum Kristen Armenia yang dianggap sebagai bidah. Dengan anggapan seperti itu, orang Kristen Barat ini secara efektif mengasingkan diri mereka dengan sekutu-sekutu mereka sendiri, yang sangat berharga jika terjadi kemelut. Orang Kristen Barat ini sepenuh menggantungkan harapan dengan bantuan tentara salib dari para Paus dan para raja yang berada di Eropa.

Tak hanya itu, orang Kristen Yerusalem ini terpecah menjadi dua kubu yang selalu berseberangan, yaitu kelompok elang dan merpati. Kelompok merpati adalah kelompok yang percaya bahwa sebaiknya tidak memprovokasi Saladin dan cenderung untuk mengadakan perdamaian. Mereka menganggap penting hubungan baik dengan orang Muslim karena pertimbangan perhitungan kekuatan yang tidak seimbang. Kebanyakan dari mereka lahir di Yerusalem dan biasa bergaul dengan orang Muslim. Kelompok ini lebih mirip dengan orang timur daripada orang barat. Kelompok merpati ini dipimpin oleh Raymund dari Tripoli.

Sementara itu, kelompok elang menyakini bahwa berkompromi dan berdamai dengan orang Muslim adalah hal yang tidak terhormat dan tidak sesuai dengan agama Kristen. Kelompok kabanyakan terdiri dari para imigran baru yang terdorong untuk berimigrasi ke Yerusalem karena fanatisme beragama intoleran yang berkembang di Eropa. Ketika mereka sampai di Yerusalem, mereka merasa muak dan terkejut melihat hubungan baik antara orang Kristen dan Muslim yang mereka temukan di Yerusalem. Menurut mereka, ini tidak sesuai dengan tuntunan agama Kristen.

Pimpinan kelompok elang ini adalah Reynauld dari Chatillon yang terkenal karena kejahatannya. Ia datang ke timur tak lama setelah kejatuhan Edessa pada tahun 1147. Ia serakah akan emas dan haus akan darah orang Muslim. Renauld menikahi janda Raymund dari Antiokhia dan mengambil alih pemerintahan perwakilan Antiokhia. Selama sepuluh tahun, Reynauld melakukan banyak kekejaman brutal yang memunculkan sikap bermusuhan para penduduk setempat. Tahun 1156, ketika Reynauld sedang berseteru dengan Kaisar Byzantium, ia menyiksa Uskup Agung dari Antiokhia, menyirami luka-luka sang Uskup Agung dengan madu dan menjemur tubuhnya diterik matahari sehingga tubuh itu kemudian diserang oleh berbagai macam serangga. Uskup Agung itu kemudian menyerah dan memberikan uang kepada Reynauld yang kemudian dipakai untuk menyerang Pulau Siprus milik Byzantium.

Pulau itu dijarah oleh Reynauld dengan sangat biadab sehingga pulau itu tak pernah pulih hingga sekarang. Ia membantai ribuan lelaki, perempuan dan anak-anak. Reynauld mengumpulkan para pendeta Yunani dan memotong hidung mereka dan kemudian para pendeta ini dikirim ke Konstantinopel. Reynauld tidak pernah merasa bersalah melukai sesama orang Kristen, seorang tipikal Tentara Salib yang memandang bahwa Kristen Timur adalah bidah.

Reynauld juga menjarah ke wilayah Muslim dan pernah tertangkap pada tahun 1157 di sebuah daerah dekat Aleppo di masa pemerintahan Nuruddin. Pada tahun 1175 Reynauld dilepaskan oleh Al-Shalih yang waktu itu sedang berseberangan dengan Saladin. Reynauld lari bergabung dengan tentara salib Yerusalem dan menjadi pembenci paling depan orang-orang Muslim.

Pemimpin kelompok elang lainnya adalah Gerard dari Ridfort yang merupakan pimpinan dari Ordo Kstaria atau Knights of Templar dan Guy dari Lusignan. Mereka sangat membenci kelompok merpati seperti Raymund dari Tripoli, apalagi orang-orang Muslim.

Selama masa pemerintahan Raja Lepra Baldwin, kelompok merpati bekerja keras untuk menjaga perdamaian dengan orang Muslim. Raymund dari Tripoli yang menjadi pimpinan kelompok merpati memandang bahwa orang muslim adalah manusia biasa, bukan musuh Tuhan yang menakutkan. Ia ingin Yerusalem tetap berdiri dan tidak ingin mebahayakan keamanannya dengan menjadikan Kerajaan Yerusalem sebagai garda depan agresivitas Kristen. Untuk sementara, Saladin belum kuat untuk mengadakan serangan besar-besaran ke Yerusalem. Walau begitu, Raymund tetap waspada.

Pada tahun 1177, Raja Lepra Baldwin sepenuhnya menjadi raja Yerusalem. Dalam trasisi kekuasaan tersebut, Saladin secara mengejutkan mengadakan serangan ke Yerusalem. Ini adalah keputusan buru-buru yang tak lazim dilakukan oleh Saladin. Saladin kalah telak, tapi kaum Muslim dengan semangat yang membara meluluhlantakkan daerah pedesaan di sekitar Yerusalem. Serangan itu menimbulkan teror yang luarbiasa bagi orang Kristen Yerusalem sehingga Raja Lepra Badwin menawarkan gencatan senjata kepada Saladin yang diterima dengan perasaan lega. Panen tahun itu sungguh buruk sehingga Saladin belum cukup kuat untuk mengadakan perang yang berskala besar. Saladin merasa harus lebih bersabar.

Meskipun gencatan senjata sangat merugikan, mau tak mau Saladin harus menjaga situasi damai. Di sini bisa kita lihat perbedaan esensial antara kaum Kristen dan kaum Muslim dalam mensikapi perang suci ini. Al Qur’an telah mengatur bahwa dalam situasi perang, jika musuh mengajukan gencatan senjata atau meminta berunding, dan gencatan ini tidak merugikan Islam maka kaum Muslim diperintahkan untuk bekerja sama. Walau begitu, gencatan ini tak boleh melampaui waktu 10 tahun (Q.S. Al-Anfal: 62-63). Sedangkan kaum Kristen –apalagi kelompok elang- tidak mau berdamai karena menganggap bahwa gencatan senjata tidak sesuai dengan integritas religiusnya. Jadi di sini terlihat bahwa kaum Kristen ini berperang atas nama agama mereka. Mereka menganggap bahwa kaum Muslim adalah kaum yang harus diperangi karena ini adalah perintah agama.

Walaupun Saladin sangat ingin mengusir tentara Salib dari Palestina, ia tidak dapat menolak permintaan gencatan senjata dari musuhnya karena Saladin orang yang saleh dan menolak menandatangani gencatan senjata berarti tidak melaksanakan perintah Allah seperti yang tertulis dalam Al Qur’an. Selama hidupnya, Saladin tidak pernah sekalipun melanggar perjanjian gencatan senjata.

Pada tahun 1181, Reynauld memandang rombongan kafilah Muslim yang melewati rute perdagangan yang menuju ke Mekkah. Reynauld kemudian menyerang rombongan tersebut yang diikuti oleh kelompok jamaah haji yang akan menunaikan ibadah haji. Tak berhenti di sini, Reynauld dan pasukannya bahkan berniat untuk menyerang kota suci Madinah. Untung saja Farukh Shah, keponakan Saladin, bergerak cepat dengan memukul mundur pasukan Reynauld ke kota Moab.

Rangkaian insiden ini sangat provokatif dan telah membebaskan Saladin dari perjanjian gencatan senjata. Dengan mengancam Madinah dan menyerang jamaah haji, Reynauld jelas-jelas menyerang eksistensi Islam. Pada diri Reynauld kita dapat melihat bahaya kaum ektremis Kristen yang sekarang mengejawantah ke orang Israel masa kini, yang juga berpikir bahwa berdamai dengan orang Islam adalah dosa. Mereka menganggap dirinya melakukan perang suci melawan kaum Muslim. Reynauld menolak mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia melakukan ini karena perintah agamanya. Raja Lepra Baldwin tak mampu mengambil barang rampasan yang diambil Reynauld dari rombongan tersebut. Ketika Saladin membalas dengan menangkap 150 peziarah Kristen, Reynauld masih bersikeras menolak pengembalian barang rampasan tersebut.

Pelanggaran ini sudah membatalkan gencatan senjata. Kaum Muslim mulai menyerbu wilayah-wilayah Kristen. Desa-desa dan ladang-ladang di Galilea sudah jatuh ke tangan kaum Muslim. Kota Beirut dikepung. Benteng Kristen Habis Jaldack di daerah seberang sungai Yordan telah jatuh ke tangan kaum Muslim. Penyerangan ini juga meningkatkan wibawa Saladin di mata seluruh dunia Islam, karena Reynauld telah menunjukkan bahwa kaum Kristen adalah musuh yang berbahaya bagi kaum Muslim dan Islam sebagai agama. Semakin banyak orang yang mendukung jihad.

Sementara kaum Muslim makin bersatu dan makin kuat, orang Kristen nyaris mengalami perang saudara. Persaingan kelompok elang melawan kelompok merpati makin meruncing. Kelompok elang secara terang-terangan mendukung Reynauld. Pada tahun 1181, Reynauld melakukan sebuah serangan yang paling provokatif kepada kaum Muslim, sebuah serangan yang berbeda dengan sebelumnya. Reynauld bergerak untuk menaklukkan Mekkah dan akan membumihanguskan Ka’bah. Untuk penyerangan ini, Reynauld membuat sebuah armada yang terdiri dari kapal-kapal yang dapat dibongkar pasang. Pasukan Reynauld mencoba kapal ini di laut mati, kemudian membongkar dan membawanya ke pelabuhan Eilat di teluk Aqaba melalui Nejef. Selanjutnya mereka berlayar di Laut Merah. Di sepanjang Laut Merah, Reynalud membuat kerusuhan di berbagai pelabuhan kaum Muslim hingga akhirnya sampai di Rabiqh, dekat Mekkah.

Untungnya Sayfuddin Al-Adil, saudara Saladin, bergegas berangkat dari Mesir untuk menyelamatkan keadaan. Sayfudding Al-Adil berhasil menghancurkan pasukan Kristen dan membawa para tawanan ini ke Madinah untuk kemudian dieksekusi mati. Tapi Reynauld sekali lagi berhasil lolos dan kembali ke Moab. Dengan adanya serangan Reynauld ini, jihad makin dipandang penting oleh kaum Muslim karena kaum Kristen sudah menunjukkan sifat aslinya. Tak ada satupun orang Muslim yang dapat mengabaikan serangan yang mengarah ke Mekkah. Mereka mungkin tak semuanya akan berangkat berjihad, tapi semuanya pasti akan memberikan dukungan secara terbuka kepada jihad yang melawan musuh-musuh Islam seperti Reynalud ini.

4 thoughts on “PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 8)

    doddy said:
    Desember 9, 2008 pukul 1:04 pm

    woww andai pemimpin skrg spt saladin

      Marhan Faishal responded:
      Desember 13, 2008 pukul 7:43 am

      Iya, ya. Pasti umat Islam akan maju. Tapi itu butuh proses panjang. Semoga generasi ke depan ini bisa diwujudkan. Amin.

    Uditoyo said:
    Desember 14, 2008 pukul 9:43 pm

    Insya Allah… kita menyadari dan mendidik anak-anak kita menjadi muslim yang baik.

    hendra said:
    Februari 23, 2011 pukul 12:30 pm

    tebalkan iman islam di hati kita,,agar kita siap memerangi kebatilan yang merajalela di dunia ini,,,,ALLAHUAKBAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s