PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 5)

Posted on Updated on


KEBANGKITAN UMAT MUSLIM

Setelah kejatuhan Yerusalem dan kemunduran Islam, tahun 1128 menjadi sebuah titik balik. Sultan Rum di Asia Kecil Turki menunjuk Imaduddin Zangi sebagai Atabeg Mosul dan Aleppo. Zangi menerima tanggung jawab itu dengan amat serius dan bukanlah tipe petualang liar. Ia memaksa Sultan untuk memberinya otoritas mutlak atas seluruh Suriah dan Irak Utara, yang kemudian membuat penduduk di kedua wilayah tersebut untuk mendukung secara penuh pengabdian dan tanpa penyesalan operasi-operasi militer yang akan dilakukan.

Zangi mampu mampu memberi rasa kenyamanan dan rasa kebersatuan tentaranya. Ia membuat takut banyak orang tapi sekaligus orang yang sangat dihormati karena ia tidak pernah meminta sesuatu apapun dari mereka yang ia sendiri tak bisa lakukan. Zangi adalah tipe penguasa yang tak suka menjarah kota yang ditaklukan. Biasanya, para penguasa akan sibuk mengumpulkan kekayaan dari penjarahan kota yang ditaklukkan. Ini adalah sesuatu yang lazim pada zaman itu. Tapi tidak dengan Zangi. Balatentaranya biasanya ditarik mundur dari wilayah yang ditaklukan sehingga rakyat dapat menikmati kado kemenangan mereka. Zangi tak pernah menetap di suatu kota yang dimenangkan. Ia tidur di atas tikar dalam tendanya selama 18 tahun dalam operasi militer merebut wilayah dari orang Kristen. Kekuatan militer bukanlah satu-satunya kekuatan Zangi, tapi ia juga menyusun sistem inteijen yang rumit dan mengesankan, karena itu ia selalu tahu berbagai kejadian yang terjadi di Bahgdad, Damaskus, Antiokhia bahkan Yerusalem.

Dalam operasi perangnya, Zangi malah mengusung perdamaian baru di wilayahnya sehingga wilayah tersebut mampu membangun lagi. Tulis Ibn Al-Atsir, “Sebelum kedatangannya, ketiadaan pemimpin yang kuat untuk menegakkan keadilan dan kehadiran orang Kristen yang amat dekat itu telah membuat negeri itu menjadi liar, tetapi Zangi menyemaikan bunga kembali.”

Pada bulan November 1144, pasukan Zangi mengepung Edessa yang sedang dikuasai oleh orang Kristen. Edessa kemudian menyerah dan Zangi menghancurkan pemerintahan Kristen. Ini adalah sebuah kemenangan yang mengharumkan nama Zangi sekaligus menjadi pahlawan Islam. Jatuhnya Edessa adalah kekalahan yang menyakitkan bagi orang Kristen, baik yang berada di barat maupun timur.

Kemenangan Zangi atas Edessa sangat menyentuh hati umat Islam. Khalifah memberi banyak gelar. Setelah kemenangan ini, semua orang mengharapkan Zangi untuk merebut Yerusalem, kota suci Al Quds. Tapi pada 30 September 1146, Zangi dibunuh oleh kasim pelayannya yang keturunan orang Frank. Setelah kematiannya, Zangi menjadi legenda dan menjadi inspirasi kebangkitan kembali jihad di dunia Islam saat itu.

Ibn Al-Atsir mencatat ada dua cerita dalam legenda Zangi. Satu cerita mengatakan bahwa pada hari Zangi menaklukkan Edessa, Raja Kristen dari Sisilia berhasil menaklukkan kota muslim Tripoli di Afrika Utara. Ketika Raja Kristen tersebut kembali dengan penuh kemenangan, ia bertanya kepada seorang penasehat muslim yang dia hormati. “Apa gunanya Muhammad kini bagi rakyatnya?” tanya Raja tersebut. Penasehat Muslim ini kemudian menjawab, “Muhammad tidak ada di Tripoli, tapi berada di Edessa yang baru saja diambil alih oleh orang Muslim.” Istana bergemuruh dengan tawa yang mengejek. Raja kemudian berkata, “Orang ini tidak dapat berkata apapun kecuali kebenaran.” Cerita kedua menunjukkan jihad sebagai tindakan mulia. “Beberapa orang yang jujur dan baik telah mengatakan padaku,” tulis Ibn Al-Atsir dengan hati-hati, “bahwa seorang yang saleh melihat almarhum Zangi dalam mimpinya dan bertanya padanya; ‘Bagaimanakah Allah memperlakukan kamu (yakni, di alam barzakh)? Dan Zangi menjawab, ‘Allah telah mengampuniku, karena aku telah menaklukkan Edessa.

Pada malam ketika Zangi wafat, Mahmoud anak keduanya, memasuki tempat jenazah ayahnya terbaring. Mahmoud kemudian mengabil cincin stempel simbol kekuasaan dari jari ayahnya. Mahmoud bertekad akan melanjutkan misi ayahnya untuk menyatukan Timur Dekat dan melawan tentara salib. Mahmoud adalah anak muda muslim yang saleh dan taat beragama. Mahmoud kemudian dikenal dengan gelarnya yaitu Nuruddin atau cahaya agama.

Nuruddin kemudian membangun kerajaannya dari nol, karena Zangi tak sempat membangun sebuah dinasti yang aman. Nuruddin menyatukan rakyatnya dan menjadi pemimpin muslimin yang menaati prinsip-prinsip syariah Islam. Nuruddin sendiri juga hidup secara ketat dalam syariah Islam. Dia menjadikan dirinya sebagai teladan bagi rakyatnya. Nuruddin hidup sederhana, meniru cara hidup Rasullah SAW. Di masa ketika banyak penguasa muslim yang bergaya hidup mewah, gaya hidup hemat Nuruddin amat menakjubkan. Ini menjadi semacam peringatan dan tantangan tak langsung bagi penguasa Muslim yang tidak mempraktikkan sunah Rasul dalam memimpin. Nuruddin menjalani kehidupan sebagai muslim yang baik dengan selalu berdoa dan belajar. Jika di kalangan tentara salib biasanya tidak terdidik dan selalu mengutamakan kekuatan otot, sebaliknya seorang prajurit Muslim diharapkan juga seorang sarjana yang memiliki pengetahuan yang luas. Kemanapun pergi, Nuruddin selalu ditemani oleh sekelompok alim ulama yang terpelajar, sehingga operasi-operasi militernya mempunyai dasar syariah yang kuat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para alim ulama tersebut menafsirkan situasi politis dan militer dalam hukum Islam, sehingga Nuruddin bisa mengambil langkah-langkah selanjutnya. Tentu saja masih dalam ajaran Islam. Nuruddin terkenal dengan pengetahuannya yang luas dan tak ada yang lebih disukainya ketimbang diskusi serius masalah teologi setelah makan malam.

Penegasan Nuruddin untuk kembali ke syariah Islam secara total membuat seluruh muslimin merasa hormat kepadanya. Secara khusus mereka terkesan dalam pengabdiannya untuk berjihad mengusir penguasa orang Kristen yag merupakan kewajiban mendasar seorang muslim. Jihad adalah kembalinya seorang muslim kepada prinsip-prinsip dasar Islam. Al Quran dengan jelas menyatakan bahwa perang selalu tidak disukai, tapi kaum muslim mempunyai tugas untuk menentang penindasan dan pembinasaan, karena jika tidak demikian maka semua nilai kebajikan akan lenyap dari muka bumi. Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yaitu ketika menghadapi rezim dhzalim Quraisy di Mekkah. Allah telah berfirman:

Telah diizinkan berperang bagi mereka orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali mereka telah berkata: “Tuhan kami adalah Allah”. ..Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

(Q.S. Al Hajj: 39-40).

Sebenarnya umat muslim diperintahkan untuk menghormati orang-orang Kristen dan Yahudi. Walau demikian, Allah memperkenankan umat muslim untuk berperang jika negerinya telah diserang oleh orang-orang kafir. Ini artinya, umat Islam cinta akan kedamaian tapi lebih cinta akan keadilan dan tegaknya agama Allah ini.

Seorang pemimpin Muslim punya tugas yang jelas, yaitu untuk melindungi rakyatnya dari musuh yang demikian kejam seperti orang Kristen ini. Setiap amir atau pemimpin muslim yang tidak bergabung Nuruddin dalam jihad ini, jelas-jelas bukan muslim sejati. Kondisi ini lagi-lagi mirip dengan kondisi mutakhir di dunia Islam. Tak ada pemimpin dunia Islam jaman sekarang yang berani seperti Nuruddin atau Zangi, yang terang-terangan menyerukan jihad dan menyerang para agresor negeri Muslim. Padahal ini jelas-jelas sebuah kewajiban untuk negeri muslim sejati.

Nuruddin memulai perjuangannya mengusir orang Kristen dengan memulai propaganda, menugasi para sarjana untuk menulis buku-buku yang menjelaskan masalah jihad dan kemudian menyebarkannya ke imam-imam penting di seluruh kota-kota dunia Islam. Para imam ini kemudian menyebarkan jihad ke pengurus-pengurus masjid dan para murid. Para pengurus masjid dan murid-murid ini kemudian menyebarkan jihad ke masyarakat luas melalui khotbah-khotbah masjid saat sholat Jumat. Penting dicatat, jihad lebih bergantung pada pertimbangan akal intelektual daripada emosi visioner seperti yang dialami tentara salib dalam usahanya merebut Yerusalem. Tentara salib menganggap Tuhan akan menolong mereka dengan berbagai mukjizat. Kaum Muslim jauh lebih rasional karena ajaran Islam juga jauh lebih rasional. Allah akan menolong umat muslim jika mereka mengerahkan seluruh upaya manusia yang bisa diupayakan untuk menolong mereka sendiri. Umat Islam tak pernah berharap akan adanya mukjizat seperti yang diharapkan orang Kristen dari Tuhannya. Inilah perbedaan umat Islam dan kaum Kristen. Firman Allah dalam Al Quran:

Sesungguhnya Tuhan itu tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. (Q.S. Al Ra’d: 11)

Walaupun lama, Nuruddin akhirnya berhasil menanamkan semangat jihad ke umat muslim saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s