PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 4)

Posted on Updated on


JATUHNYA AL QUDS ATAU YERUSALEM

Setelah gagal menaklukan kota Arqa, tentara salib berbaris menuju Yerusalem. Sesampainya di Ramallah, ibukota administratif muslim Palestina, tentara salib tidak mendapatkan perlawanan yang berarti sehingga mereka bisa memnduduki kota tersebut dengan mudah. Untuk pertamakalinya mereka menginjak tanah Palestina. Di Ramallah, mereka menemukan makam St. George yang mereka anggap sebagai pelindung mereka yang akhirnya sangat populer.

Pada tanggal 7 Juni 1099, tentara salib tiba di luar benteng kota Yerusalem atau Al Quds. Pandangan mereka tampak begitu marah melihat Masjid Al Aqsha yang waktu itu menjulang tinggi di antara kota dan lembah dengan sangat mengesankan, dikelilingi oleh benteng-bentengnya yang kuat. Kekuatan dan keagungan bangunan-bangunan di Al Quds saat itu amat mengesankan jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan di dunia Kristen jaman itu. Tentara salib menganggap ini adalah penghinaan terhadap keimanan mereka. Tentara salib kini juga bisa mendengar adzan, yang dianggap mencemari tanah suci mereka. Tentara salib melihat muslim Al Quds berbeda dengan orang Muslim Turki Saljuk karena musim di sini kebanyakan keturunan Mesir, yang dianggap sebagai musuh Tuhan karena orang Mesir memusuhi Musa.

Tentara salib mulai membangun dua menara pengepungan yang memungkinkan mereka bisa benteng kota Al Quds. Mereka juga melakukan berprosesi, mengikuti petunjuk seorang pertapa mengenai cara terbaik untuk menyerang kota, sebuah cara aneh yang sangat tidak masuk akal. Seluruh tentara salib berjalan mengelilingi benteng kota sebanyak tujuh kali dengan kaki telanjang sambil menyanyikan himne-himne. Mereka berhenti di tempat-tempat suci mereka di luar kota seperti Bukit Sion, tempat Yesus menikmati perjamuan terakhirnya, kemudian Taman Gethsemane, tempat Yesus berdoa sebelum ditangkap, kemudian Bukit Zaitun, tempat Yesus naik ke surga. Setelah selesai, mereka kemudian bergerak ke benteng kota dengan penuh keyakinan bahwa mereka dapat menaklukan kota dengan mukjizat dan doa. Ternyata ini tak berhasil dan mereka pun kembali ke perkemahan mereka sambil mendengarkan sorakan kaum muslimin yang menyaksikan di balik tembok benteng. Di jaman modern di mana akal jadi panglimanya, prosesi tersebut memang menggelikan. Kaum muslim saat itu mempunyai peradaban yang jauh lebih maju dan berpengetahuan lebih luas dari pada orang Eropa saat itu. Tapi tentara salib merasa bahwa hinaan-hinaan itu seakan-akan ditujukan kepada Kristus sendiri, dan mereka bersumpah akan melakukan pembalasan.

Pada tanggal 15 Juli 1099, tentara salib menyerbu Al Quds atau Yerusalem. Mereka kemudian berhasil menaklukannya. Selama dua hari mereka membunuh semua orang Islam dan Yahudi yang mereka temukan, tak peduli laki atau perempuan. Semuanya harus mati. Sehari setelah pembantaian, tentara salib memanjat atap Masjid Al Aqsha dan kemudian membunuh dengan dingin sekelompok muslim yang sebelumnya dijanjikan Tancred untuk dilindungi.

Kaum muslim bukan lagi musuh mereka yang harus dihormati. Kaum muslim dianggap sebagai musuh tuhan dan dikutuk untuk mendapatkan pemusnahan yang kejam. Orang muslim dianggap mengotori Yerusalem, tanah suci Kristen, dan harus dihapuskan dari muka bumi salib seakan penyakit yang berbahaya. Laporan pandangan mata dari Raymund of Aguiles menunjukkan semangat Yoshua yang melumuri pembantaian tentara salib :

Sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah cukup bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka. Yang lain memanah mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar. Tumpukan kepala, tangan dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai seseorang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak bangkai lelaki dan kuda. Tapi semua itu tak berarti bila dibandingan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya diadakan upacara keagamaan. Apa yang terjadi di sana? Jika kukatakan sebenarnya, pasti itu akan melampaui kemampuan kalian untuk mempercayainya. Jadi cukuplah aku katakan, paling tidak, di kuil Sulaiman dan berandanya pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di antara genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu suatu hukuman yang adil dan bagus dari Tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka

(A History of the Jews/London, 1987/hal 392-394).

Pembantaian itu bukan sekedar penaklukan. Tentara salib menyerang kaum mulim di Yerusalem dan membantai mereka seakan tentara salib itu malaikat penuntut balas yang melaksanakan hukuman Tuhan. Itu dianggap penyelamatan, sebagaimana penyelamatan Tuhan di Laut Merah ketika Tuhan membantai seluruh tentara Mesir. Maka perang salib dianggap sebagai perang suci oleh mereka, sebuah perjalanan suci yang telah menjadi pertempuran kaum yang benar melawan iblis. Orang-orang Kristen itu membantai sekitar 40.000 muslimin hanya dalam dua hari. Jumlah yang luar biasa pada saat itu dan menjadi pembantaian yang selalu diingat orang Islam hingga sekarang. Anehnya, Paus Paschal II justru menunjukkan sambutannya pada sikap saleh para tentara salib yang mulai banyak yang pulang sebagai pahlawan.

Setelah Al Quds jatuh, di kota tersebut kemudian berdirilah kerajaan Yerusalem yang didirikan oleh tentara salib.

SETELAH YERUSALEM JATUH

Euforia melanda Eropa setelah Yerusalem jatuh dan orang Eropa memandang kemenangan di tahun 1099 sebagai serangkaian kemenangan pertama baru melawan Islam. Raymund dari St. Gilles dan Uskup Daimbert dari Pisa menulis, “kekuatan kaum muslim dan setan telah patah, dan kerajaan Kristus serta Gereja kini merentang ke semua arah, dari laut hingga ke arah laut.” Tiga pasukan umum mulai disiapkan untuk memperkuat kerjaan Yerusalem yang baru dan mempertahankannya dari serbuan Muslim yang mengelilingi. Terbentuklah tentara salib angkatan tahun 1101 dengan jumlah yang sama besar dengan angkatan sebelumnya. Mereka berbaris menuju Yerusalem. Perjalanan ini mirip dengan perjalanan angkatan sebelumnya hanya saja kini tentara Turki Muslim Saljuk lebih siap untuk bertempur setelah kejatuhan Antiokhia. Ketiga pasukan tersebut kemudian dibantai habis dan tak pernah sampai di Yerusalem.

Walau begitu, selama limapuluh tahun berikutnya orang-orang Kristen selalu datang ke Yerusalem secara bergelombang dan bertempur tanpa henti mempertahankan wilayah Kristen melawan perlawanan sporadis umat Muslim. Orang Eropa masih kagum akan keberhasilan Perang Salib yang luar biasa melebihi semua peristiwa yang terjadi saat itu. Secara khusus, ada 3 biarawan yang tidak ikut perang salib yang pertama menulis berbagai peristiwa di perang salib. Para biarawan ini – Guibert dari Nogent, Robert sang pendeta, dan Baldrick dari Bourgeuil- memamndang perang salib sebagai perang yang sesuai Alkitab berskala penuh. Tak ada lagi keraguan terhadap pembantaian kaum Muslim. Kaum Muslim itu ras “setan” dan “menjijikan”, “betul-betul terasing dari Tuhan” dan mesti dimusnahkan. Ketiga biarawan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat Gereja kini siap dengan semangat tinggi untuk membangkitkan perang melawan Islam sebagaimana yang tertulis pada Kitab Perjanjian Lama ke seluruh dunia.

Orang-orang barat saat ini yang berpikir bahwa Islam adalah agama pedang mungkin akan menduga bahwa umat muslim yang berada di negeri-negeri sekitar kerajaan Yerusalem akan menyerukan jihad melawan tentara salib. Tapi yang terjadi tidak demikian. Bagi umat Muslim waktu itu butuh waktu yang lama untuk memahami bahwa perang salib adalah peperangan antar agama, dan senyatanya adalah perang suci bagi orang Kristen. Sejarahwan Muslim abad ke 12, Izzuddin ibn al-Atsir memandang invasi ke Suriah pada tahun 1097 sebagai sebuah fase baru ekspansi barat yang samasekali tak ada hubungannya dengan makna religius. Tak ada retorika penuh amarah mengenai hilangnya Al Quds, tak ada sumpah untuk merebut kembali Al Quds atas nama Allah, sebagaimana yang diperlukan dalam Jihad. Umat Muslim tentu saja membenci orang-orang Kristen ini, tapi ini hanyalah dipandang sebagai kehilangan sebagian wilayah saja dan jantung negeri Kekhalifahan Islam bersikap acuh tak acuh atas kejadian ini.

Kaum Muslim yang berhasil melarikan diri dari pembantaian mengungsi ke negeri-negeri muslim di sekitarnya salah satunya adalah Damaskus. Para pengungsi ini juga membawa salah satu Mushaf Al Quran Usman, salah satu kopi tertua Al Quran yang disalin di jaman khalifah Ustman bin Affan. Di kota Baghdad, pusat kekhalifahan Islam waktu itu, pengungsi juga membanjiri kota ini. Kaum muslim Baghdad menangis sedih dan bersimpati dengan derita saudara seiman mereka. Khalifah yang waktu itu mempunyai kekuasaan politik yang lemah, menyusun sebuah komisi untuk menyelidiki masalah ini. Pengungsi merasa muak dengan kelambanan khalifah dan berteriak, “Aku melihat para pendukung iman ternyata lemah.” Seruan pengungsi untuk jihad hanya ditanggapi apatis. Kaum muslim waktu itu memang manangisi nasib saudara-saudara mereka itu, tapi mereka tidak siap untuk mengambil langkah praktis apapun untuk menolong kita. Ini mirip yang terjadi dengan jaman modern ini, di mana Palestina telah diinjak-injak Israel tapi negara-negara umat Muslim hanya bisa menangis dan mengecam, tanpa bisa membantu mereka dengan jihad yang jelas.

Kaum muslim abad 12 ini terlalu sibuk untuk bertempur antar mereka, sebagaimana tulis Ibn Al-Atsir: “pertikaian antar sesama pangeran Muslim membuat kaum Frank menjajah negeri itu.” Ketidakkokohan kaum muslim berkibat fatal: itu berarti kaum muslim berada di kubangan penderitaan, kehinaan, dan akan lebih banyak lagi pengungsi muslim yang terusir oleh orang Kristen yang tampak tak terkalahkan saat itu. Orang-orang Kristen terus-menerus menaklukkan lebih banyak wilayah-wilayah muslim seperti Haifa, Jaffa, Acre dan Baghdad juga seakan-akan kejatuhannya sudah di depan mata. Tapi berkat pertolongan Allah, pasukan Kristen ini mengalami sebuah kekalahan yang sangat jarang terjadi dalam sebuah pertempuran dan membuat kembali lagi ke Harran. Pada tahun 1109 orang-orang Kristen ini merebut Tripoli dan kemudian Beirut dan Sidon.

Kaum muslim memandang kemenangan orang Kristen ini seperti tiada henti. Pada tahun 1111, Kadi (seorang hakim dalam pemerintahan khalifah) dari kota Aleppo memimpin demontrasi kepada Sultan untuk mengirimkan pasukan untuk melawan orang-orang Kristen ini. Para demonstran beraksi dengan lebih keras dan akhirnya Sultan memerintahkan Amir dari Mosul untuk memimpin sebuah pasukan untuk melawan orang-orang Kristen. Kehadiran pasukan Sultan ini bagi penguasa muslim setempat sama mengancamnya dengan tentara salib. Amir dari Mosul yang memimpin pasukan Sultan pun dibunuh di Masjid Agung Damaskus pada malam menjelang serangan ke tentara salib. Tak lama, atabeg Tughitin dari Damaskus membuat perjanjian dengan raja Baldwin dari Yerusalem untuk berdamai. Ini membuktikan bahwa persatuan di antara pemimpin-pemimpin Muslim sangatlah rapuh. Umat Islam seperti kehilangan harapan. Keterpecahan pemimpin Muslim ini membuat orang-orang Kristen mampu menguasai seluruh garis pantai Palestina dan Lebanon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s