PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 3)

Posted on Updated on


PERANG SALIB YANG PERTAMA

September 1096, Pangeran Bohemund dari Taranto mendukung seruan Paus Urban dengan bergabung bersama tentara salib. Segera ia ambil salib di Katedral Amalfi, kemudian menemui para panglimanya. Jubah peraknya dirobek menjadi pita-pita untuk dijadikan tanda salib dan kemudian ia serahkan ke para panglimanya yang bersemangat. Bohemund berteriak, “Bukankah kita orang Frank? Bukankah para leluhur kita datang ke sini dari Francia dan membebaskan tanah ini hanya dengan tangan? Sungguh memalukan!”

Beberapa minggu kemudian, Bohemund dan keponakannya Tancred sudah berlayar menuju Konstantinopel dengan pasukan bersenjata lengkap dan terlatih. Bohemund mempunyai alasan-alasan duniawi untuk menjadi tentara salib. Perang adalah jalan nyata untuk mendapatkan kerajaan di timur.

Sebelumnya, pasukan Godfrey dari Bouillon adalah pasukan pertama yang meninggalkan Eropa pada bulan Agustus 1096. Seperti Bohemund, Godfrey juga punya alasan duniawi untuk ikut perang salib, walaupun alasan ideologisnya juga cukup kuat. Masa depannya tak jelas di barat, tanah keluarga bangsawanny telah disita oleh Kaisar Henry IV. Godfrey berangkat bersama Baldwin saudaranya yang lebih sekuler dan pragmatis.

Pemimpin tentara salib lainnya adalah Raymund dari St. Gilles, seorang ksatria yang telah bertempur melawan muslimin di Spanyol. Raymund hampir dapat dipastikan tidak mempunyai motif ekonomi dalam mengikuti perang salib ini. Raymund telah berumur 60 tahun ketika perang salib diserukan dan mempunyai kehidupan yang nyaman.

Tentara salib pertama ini telah belajar dari nasib tragis lima pasukan yang berangkat menuju timur di musim semi. Sebagian besar pasukan menghindari jalur darat yang berbahaya dan memilih jalur laut untuk sampai ke Konstantinopel. Namun Godfrey dan Baldwin sengaja lewat darat dengan maksud menapaktilasi jalur Charlemagne, leluhur mereka yang legendaris, ketika berziarah ke Yerusalem. Pasukan Godfrey dan Baldwin mempunyai persiapan yang memadai dan sangat berhati-hati. Para pemimpin pasukan amat tegas untuk tidak melakukan pencurian dan penjarahan. Karena itu, mereka berhasil menghindari ancaman dari penduduk lokal yang dilewati dan berhasil tiba di Konstantinopel dengan masih rapi.

Setelah semua tentara salib tiba di Konstantinopel, mereka bersiap-siap untuk memenuhi mandat mereka yang pertama, yaitu membantu Kaisar Alexius untuk merebut wilayah Byzantium dari orang Turki Saljuk yang muslim. Alexius dan tentara salib saling curiga. Tentara salib menganggap bahwa Byzantium adalah pengecut dan tidak terhormat karena telah mengadakan perjanjian muslimin. Alexius memang senang menggunakan cara diplomasi ketimbang cara otot yang sering digunakan tentara salib. Alexius sendiri tak mempercayai tentara salib karena masih khawatir bahwa wilayah yang berhasil direbut tentara salib bisa saja tak akan dikembalikan ke dirinya. Alexius juga menganggap tentara salib sebagai kaum bar-bar yang bodoh. Alexius melihat tentara salib bukan sebagai bala bantuan, dia justru melihat tentara itu sebagai sebuah ancaman.

Kepada tentara salib, Alexius meminta mereka untuk bersumpah setia dan menerima Alexius sebagai raja mereka selama mereka masih di timur. Pemimpin seperti Bohemund yang pernah bertempur di timur tahu bahwa tanpa bantuan orang Yunani Byzantium ini tentara salib tak akan pernah berhasil. Byzantium menjanjikan bantuan bagi tentara salib selama masih berada di wilayah Byzantium, dan akan memberikan bantuan jika terjadi kemelut. Akhirnya dengan berat hati, tentara salib mau bersumpah untuk Alexius.

Tentara salib kemudian diberangkatkan dengan kapal menyeberangi selat Bosphorus, menuju pintu gerbang daratan Turki. Pada bulan Mei 1097, tentara salib dan tentara Byzantium mengepung ibukota Muslim Saljuk di Nicea. Saat itu Sultan Kilij Arslan I sedang di perbatasan bersama pasukannya. Sebenarnya Kilij Arslan telah mendengar kedatangan tentara salib, tapi dia menganggap enteng. Pasukan Kilij Arslan-lah yang telah menghancurkan pasukan Peter si Pertapa dan Walter Sansavoir hingga lumat. Kilij menilai bahwa pasukan berikutnya tentu lebih mudah. Tapi kenyataannya lain. Nicea yang hanya dijaga oleh pasukan panjaga saja bertekuk lutut. Tapi Muslim Saljuk ini dengan cerdiknya menyerah kepada Alexius, bukan ke tentara salib yang kejam. Alexius menjanjikan kota tak akan dijarah.

Pemimpin tentara salib mungkin menyetujui janji Alexius ini. Tapi para prajurit geram dan ketidaksukaan terhadap Alexius semakin menjadi-jadi. Walaupun Alexius memberi uang yang amat banyak, cukup untuk bekal mereka, prajurit tentara salib masih saja menggerutu dengan marah mengenai “pengkhianatan” Alexius.

Pada bulan Juni, tentara salib berangkat melalui Asia Kecil menuju Palestina. Tujuan mereka adalah membebaskan rute ziarah dari orang muslim serta membebaskan Armenia dan Antiokhia. Adalah penting untuk membangun kekuatan di daerah utara Suriah untuk mendukung berdirinya kerajaan Yerusalem yang akan mereka bangun nantinya. Di sini, tentara salib harus berperang sendiri tanpa bantuan banyak Byzantium.

Untuk memudahkan pergerakan, tentara salib dibagi menjadi 2. Ujung tombak pasukan bergerak sehari terlebih dulu. Pasukan ini dipimpin oleh Bohemund, Stephen dari Blois dan Robert dari Flanders. Pasukan ini terdiri atas orang-orang Normandia, Italia dan daerah utara Perancis. Pasukan kedua terdiri dari orang-orang selatan Perancis dan pasukan Lorraine di bawah pimpinan Raymund dari St. Gilles.

Beberapa hari meninggalkan Nicea, rombongan pertama telah sampai Dorylaeum dan mendirikan kemah. Rupanya, di sini Sultan Kilij Arslan telah menunggu mereka. Paukan Muslim Saljuk keluar dari persembunyian kemudian menyerang kemah-kemah. Dengan segera Bohmenud memerintahkan untuk mengatur diri. Anggota rombongan yang bukan pasukan perang diminta untuk berada di tengah perkemahan. Para perempuan diberi tugas untuk membawa air ke garis depan. Para pelari dikirim untuk memberitahu pasukan kedua untuk membantu mereka. Bohemund menginstruksikan untuk tetap dalam keadaan defensif dan tidak menyerang Muslim Saljuk terlebih dulu.

Tiba-tiba pasukan kedua tentara salib tiba. Sultan Kilij Arslan terlanjur yakin bahwa dia telah berhasil menjebak seluruh tentara salib. Kedatangan pasukan kedua yang masih segar bugar ini betul-betul mengejutkan. Tentara Muslim Saljuk kalah dan diburu oleh tentara salib, hingga perkemahan mereka diratakan dengan tanah oleh tentara salib.

Sebelum ke Yerusalem, tentara salib berencana untuk merebut utara Suriah dari muslimin dan merebut wilayah Byzantium dari Muslim Saljuk Turki sebagaimana sumpah mereka kepada Alexius. Mereka juga akan membangun benteng-benteng Kristen di wilayah tersebut, untuk melindungi rute ziarah dan juga kerajaan Yerusalem yang nantinya akan dibangun. Tentara salib kemudian dibagi 2 lagi. Pasukan utama dipimpin oleh Bohemund dan Raymund, bergerak menuju kota Antiokhia. Sisa pasukan dipimpin oleh Baldwin dan Tancred, bergerak ke barat melalui kawasan Silisia.

Kota Tarsus kemudian jatuh, disusul Adana dan Misis. Baldwin dan pasukannya kemudian bergerak ke Edessa. Baldwin bertekad untuk merebut sebuah kerajaan di timur, dan tekadnya adalah merebut Edessa untuk dijadikan kerajaannya sendiri. Baldwin menampilkan dirinya sebagai seorang pembebas Kristen dan mendapatkan dukungan orang Kristen Armenia. Edessa kemudian jatuh ke tangan Baldwin. Muslimin yang tak sempat kabur, dibantai oleh orang Armenia dan tentara salib.

Tentara salib tiba di Antiokhia pada Oktober 1097 dalam keadaan yang cukup baik. Mereka menganggap penting Antiokhia karena merupakan salah satu kota terpenting pada abad-abad permulaan agama Kristen. St. Petrus telah menjadi uskup pertama di kota itu. Tapi gereja Kristen kuno sudah menjadi masjid dan ini menjadi alasan cukup kuat tentara salib untuk merebut Antiokhia. Tentara salib pun mengepung Antiokhia dengan pasukan besar.

Keputusan mengepung Antiokhia nyaris menghabiskan riwayat tentara salib. Dengan jumlah sekitar 50.000 orang dan gerombolan peziarah selama berbulan-bulan membuat persediaan makanan di wilayah itu habis dengan cepat. Mereka mulai kelaparan dan mencapai puncaknya pada Januari 1098. Banyak di antara mereka yang mati kelaparan dan kemampuan tempur pasukan salib berkurang drastis.

Pada Juni 1098, Panglima Firouz mengadakan kontak dengan Bohemund. Pangeran Firouz adalah mantan orang Kristen Armenia yang menjadi muslim, dan seorang munafik. Dengan harga yang tepat, dia akan berkhianat terhadap kaum Muslim. Firouz mengirimkan pesan, bahwa tentara salib harus membawa tangga-tangga mereka ke Menara Dua Saudara Perempuan (The Tower of the Two Sisters), dan Firouz akan membiarkan mereka masuk ke dalam kota. Para tentara salib kemudian berhasil memasuki Antiokhia dan berteriak kuat, “Deus hoc vult! (Tuhan menghendaki ini)” Mereka merampok dan menjarah penduduk Antiokhia. Mayat-mayat muslimin bergelimpangan di jalan, bahkan diantara mereka juga terdapat penduduk agama Kristen yang ikut terbantai, saking tentara salib yang kelaparan berbulan-bulan. Antiokhia telah jatuh ke tangan orang Kristen.

Pesta pora orang Kristen tak berlangsung lama. Tentara muslim Kerbuqa datang mengakihiri masa bersenang-senang mereka setelah menaklukan Antiokhia. Tentara Kerbuqa langsung mengepung tentara salib yang belum hilang rasa lelahnya setelah mengepung Antiokhia selama berbulan-bulan dalam kelaparan. Terjadikan kepanikan luarbiasa di antara tentara salib. Mereka banyak yang membelot ataupun desersi sehingga penjagaan gerbang ditingkatkan untuk mencegah kepergian tentara salib. Sepertinya sudah tak ada lagi harapan. Tentara Byzantium yang dijanjikan Alexius untuk datang kalau ada kemelut tak akan datang karena Alexius mengira tentara salib telah dihancurkan oleh tentara Kerbuqa yang masih segar dan berperalatan lengkap.

Dalam pengepungan tentara salib yang sudah putus asa, tiba-tiba bersemangat lagi ketika diumumkannya sebilah tombak suci, yaitu tombak yang sudah dihunjamkan ke pinggang Yesus di hari Jumat Agung. Seperti penjelasan sebelumnya, orang Kristen saat itu sangat meyakini adanya kesucian relik, apalagi jika benda tersebut pernah disentuh oleh Yesus. Penemuan tombak suci tersebut membuat moral tentara salib naik sehingga mereka nekat menyerbu pasukan Kerbuqa hingga kocar-kacir.Para sejarawan Islam cukup jelas menulis bahwa Kerbuqa membuat kesalahan taktis yang cukup fatal akibatnya. Satu persatu pasukan kabur meninggalkan gelanggang pertempuran.

Setelah Antiokhia, tentara salib kemudian menaklukan kota Ma’arret di Suriah. Mereka kemudian berusaha merebut kota Arqa, tapi mereka tertahan walau Godfrey dari Bouillon dan Robert dari Flanders bergabung. Pada 13 Mei, pengepungan kota Arqa dihentikan dan tentara salib mulai berbaris menuju Yerusalem.

6 thoughts on “PERANG SALIB : PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 3)

    Klowor said:
    Oktober 27, 2008 pukul 3:00 pm

    Sejarah itu ada supaya yang mengetahuinya bisa belajar, bukan memendam kebencian karena sejarah tersebut. “Tuhan tak pernah memberikan bencana, kesengsaraan, kesedihan tanpa sebab. Begitu pula sebaliknya. “Akibat” inilah yang sedang kita pelajari, mudah-mudahan, kita semua tanpa terkecuali, tidak membuat “sebab” yang bisa yang bisa ber”akibat” seperti yang sedang kita baca.

    satriawan said:
    November 3, 2008 pukul 9:49 am

    minta gambar jubah perang tentara salib dan tentara muslim donk…

    nina said:
    April 11, 2009 pukul 5:28 pm

    Perang…itu sifat ke egoisan manusia yang susah di lawan. Semua orang mempunyai perbedaan bukan berarti perbedaan apa pun itu membuat saling benci dan memaksakan kehendak. Kalau begitu mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda beda warna kulit, rambut, sifat dan lain-lain. Karena berbeda pendapat tentang Tuahan saja perang. Ya kalau saja manusia dapat menahaaaan diri dan sabaaaar saja. Kapan ya dunia ini damai? mungkin tunggu di surga ya.
    Yang terpenting sekarang apakah kita sudah benar menurut kehendak Allah YME. Peace and love forever

    hakan said:
    Desember 18, 2009 pukul 11:12 am

    minta baju zirah pasukan islam donkk

    wahyu said:
    Maret 29, 2011 pukul 2:04 pm

    seng menang yo islam c…………..
    agamaku gitu looooooo

    Anonim said:
    Februari 11, 2013 pukul 2:24 pm

    waww emg the best the islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s