RAMADHAN DI SAAT BUKAN RAMADHAN

Posted on


Di suatu siang, aku sholat dhuhur di masjid Al Bayyinah yang terletak di kawasan perkantoran Kuningan, Jakarta. Persisnya di jalan apa, aku lupa. Yang jelas masjid ini di lingkungan sekitar gedung-gedung pencakar langit, wilayah paling ‘bisnis’ Jakarta. Pertamanya aku tak berniat untuk sholat berjamaah. Pengennya, aku parkir di masjid dan makan dulu baru sholat, soalnya saat itu aku lapar berat.

Tapi niatku tiba-tiba berubah melihat begitu banyaknya jamaah yang ikut sholat dhuhur. Separuh masjid penuh oleh jamaah yang rata-rata orang kantoran sekitar. Ini kelihatan dari baju rapi mereka, bahkan banyak juga yang mengenakan dasi. Aku terpana. Biasanya jamaah sholat dhuhur mentok 4 shaf (baris), tapi jamaah yang aku saksikan ini benar-benar membuatku terpana. Bayangkan, sholat dhuhur biasa (tidak dalam bulan Ramadhan) bisa terisi separuh masjid yang berukuran lumayan besar. Subhanallah! Aku langsung buru-buru ikutan sholat berjamaah walaupun sudah ketinggalan satu raka’at. Soal makan, ah entar dulu, masih bisa nahan.

Tumben banyak banget jamaahnya. Ada apa ini? Apakah umat Islam (yang berada di sekitar masjid tersebut) sudah mulai bangkit dan imannya bagus? Atau karena sebab lain? Misalnya karena siang itu ada pengajian, atau karena tempat makan di sekitarnya enak? Atau karena di masjid yang sejuk itu kita bisa tidur? Apapun itu, menurutku ini sebuah fenomena yang perlu disyukuri. Masjid menjadi makmur dan banyak pengunjung, walau sebagian jamaah yang rata-rata karyawan memanfaatkan istirahatnya dengan tidur setelah sholat.

Selesai sholat, aku dikejutkan lagi oleh penjaga penitipan sepatu dan barang. Bagaimana tidak, begitu melihatku keluar, dia langsung sigap mengambilkan tas dan jaketku tanpa aku harus memperlihatkan kartunya. Dia begitu hapal barang-barang ini milik siapa, padahal barang yang dititipkan sangat banyak mengingat jamaahnya juga banyak. Aku kagum akan daya ingatnya dan kesigapannya. Lebih-lebih melihat raut wajahnya yang terlihat ikhlas mengambilkan barang milik jamaah.

Sekian tahun di Jakarta, aku baru sekali ini mengalaminya, merasakan atmosfer ramadhan di saat bukan bulan ramadhan. Begitu menyenangkan dan menyejukkan hati.

Atau, jangan-jangan karena aku jarang ke masjid, ya? Ah, entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s