ANAK-ANAK KEIKHLASAN

Posted on Updated on


Walaupun jarang, aku senang melaksanakan sholat berjamaah di masjid komplek rumahku. Yang tak bisa kubantah, aku suka perasaan damai yang menghampiriku ketika di masjid. Kadang aku begitu rajinnya, tapi kadang aku juga merasa malas. Mungkin ini karena imanku yang belum stabil, sering pasang surut seperti laut.

Kemarin aku sholat maghrib berjamaah di masjid. Seperti biasa, masjid ramai sekali dengan anak-anak yang berlarian. Suara mereka memekakan telinga. Berlarian bermain kejar-kejaran di masjid yang luas. Mereka sebenarnya juga akan ikut berjamaah, tapi dasar anak-anak, sebelum sholat bercanda dulu dan tertawa-tawa ceria.

Tak lama, masuk seorang kakek buta yang dituntun cucunya yang masih anak-anak, masuk ke masjid. Tak susah adegan ini merebut perhatianku. Sudah dua kali ini aku lihat mereka di masjid ini. Sepertinya mereka rutin sholat berjamaahnya. Sang cucu mengantar kakek di shaf pertama, membukakan sajadah dan kemudian duduk di sebelah kakek yang langsung melaksanakan sholat takhiyatul masjid. Sang cucu, yang baru berumur sekitar 3-4 tahun, melihat anak-anak lain berlarian. Sepertinya dia ingin ikutan bermain, tapi ragu untuk meninggalkan kakeknya sendirian. Dia tahu bahwa kakeknya memerlukan bantuannya. Dia lihat kakeknya yang sedang sholat, dan sepertinya dia memutuskan untuk tidak ikut bermain. Dia cuma berdendang sambil menggerakkan badan dengan gerakan khas anak-anak di sekitar kakeknya sholat.

Aku trenyuh melihat anak ini. Di umurnya yang begitu muda ini bisa begitu ikhlas untuk membantu kakeknya, dan menepis keinginan untuk bermain. Sebuah keinginan yang sangat wajar bagi anak seusianya. Di mataku, anak ini begitu tampan dengan sinar mata yang jernih. Aku seperti melihat sebuah keajaiban yang Allah sajikan di depan mataku. Ini adalah kejadian nyata, bukan kisah fiksi.

Diam-diam aku menangis melihat kejadian ini, teringat akan ayahku yang sudah meninggal. Aku juga ingin ikhlas berbakti kepada beliau seperti anak ini, bahkan sampai setua sekarang perasaan ikhlas yang aku punyai masih belum seberapa dibandingkan dengan yang dimiliki anak ini. Entah bagaimana logikanya, aku juga teringat Jibril. Mungkin matanya yang bulat, hitam dan jernih yang mengingatkanku ke Jibril. Airmataku semakin deras saja mengalir. Tumben, aku bisa menangis di masjid.

Ya Allah, jadikan Jibril anak yang sholeh dan ikhlas, seperti anak yang Kau tunjukkan padaku hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s