HARRY POTTER AND THE DEADLY HALLOWS

Posted on Updated on



Jika kamu penggemar Harry Potter sejak seri pertama, tentu kamu sudah menunggu dengan penasaran buku ini. Harry Potter And The Deadly Hallows yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi Harry Potter Dan Relikui Kematian, adalah ujung dari sebuah epik Harry Potter. Di seri tujuh inilah semua misteri akan terjawab. Tapi kalau kamu tidak mengikuti sejak dari seri pertama, sepertinya kamu akan kebingungan. Cerita Harry Potter ini sangat mengasyikan jika kita baca secara berurutan.

Tak bisa dibantah lagi, Harry Potter telah menyihir jutaan orang di seluruh dunia. Sejak seri pertamanya buku Harry Potter telah diterbitkan dalam 65 bahasa di seluruh dunia. Bahkan dalam rilis setiap serinya selalu menjadi best seller di Amerika Serikat, Inggris bahkan di dunia.

Untuk seri terakhir ini, penjualannya pun sangat fenomenal. Hanya dalam waktu 24 jam, buku Harry Potter seri terakhir ini telah terjual sebanyak 11,35 juta di seluruh dunia termasuk penjualan di negara asalnya Inggris sebanyak 2,65 juta eksemplar. Dengan penjualan di dunia sebanyak itu tak mengherankan jika Harry Potter seri terakhir ini akan menduduki tahta Best Seller di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya, seri terakhir ini terasa akan nuansa gelapnya dan serba serius. Jangan harap untuk ketemu Quiditch, olah raga dunia sihir. Cerita berkutat tentang perjuangan antara hidup dan mati. Banyak teman Harry yang mati dalam seri ini. Tak hanya itu, satu-persatu rahasia terkuak, termasuk siapa sebenarnya Albus Dumbledore dan Severus Snape. Jika di seri-seri sebelumnya sekolah sihir Hogwarts selalu menjadi setting utama, di seri terakhir ini pelarian adalah setting utamanya. Walaupun begitu, Hogwarts adalah tempat the final battle antara Harry dengan Voldemort.

Diceritakan bahwa Lord Voldemort, musuh besar Harry Potter, sedang bersiap-siap untuk menyergap Harry Potter. Rencana Order Phoenix untuk mengevakuasi Harry dari Privet Drive telah bocor. Dengan strategi yang tepat, Harry bisa lolos dari sergapan Voldemort. Harry, Ron dan Hermione dalam pelarian dan tak bisa bersekolah di Hogwarts. Dalam pelariannya, mereka bertiga melacak dan menghancurkan satu-persatu hocrux Voldemort. Pencarian mereka kemudian mengantarkan ke Hogwarts. Di sekolah ini kemudian terjadi pertempuran besar antara Order Phoenix dan Laskar Dumbledore melawan para Pelahap Maut. Di Hogwarts inilah kemudian Harry juga bertempur mati-matian melawan Voldemort. Bagaimana kelanjutannya, mendingan kamu membaca sendiri.

Buku terakhir ini menyajikan banyak ending yang diluar dugaan. Karakter-karakter yang antagonis tanpa bisa diduga menjadi seorang penolong tanpa disadari. Plotnya mudah diikuti. Tapi itu tadi, akan sangat susah dimengerti jika tidak membaca seri-seri sebelumnya. Sepertinya J.K. Rowling, pengarang Harry Potter, sengaja menyimpan beberapa misteri yang akan dikuak satu-persatu di buku terakhir ini sejak awal di seri pertama. Semuanya jadi nampak logis dan saling berkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dan inilah sebabnya, buku terakhir ini seakan-akan menjadi klimaks pamungkas dari cerita Harry Potter.

J.K. Rowling pernah menyatakan untuk tidak akan meneruskan cerita Harry Potter ini menjadi sekuel ataupun mengijinkan pengarang lain untuk meneruskannya.

“Saya pastikan, agar tak ada orang lain yang menulis buku Harry Potter. Harry Potter adalah milik saya. Saya satu-satunya yang mengerti dirinya,” kata J.K. Rowling dalam wawancaranya dengan sebuah majalah Jerman berkaitan rilis buku seri terakhirnya ini.

Dalam menulis seri terakhir ini adalah perjuangan yang hebat bagi J.K. Rowling. Menurutnya yang paling meletihkan adalah saat menulis bab 35, di mana Harry bersiap-siap menghadapi kematiannya. Segenap emosi dan pikirannya tentang Harry Potter yang bertahun-tahun berada dalam dirinya, tiba-tiba meluap dengan derasnya. Diakuinya, itu sangat berat secara kreatifitas. Tapi Rowling tidak pernah meminta bantuan kreatif sedikitpun kepada orang lain.
“Sekalipun seseorang mengusulkan akhir yang lebih baik bagi Harry Potter, saya tak dapat menerimanya karena itu bukan akhir yang saya inginkan,” kata Rowling.

IDE HARRY POTTER MUNCUL DI STASIUN KING’S CROSS
Ide cerita Harry Potter muncul begitu saja saat J.K. Rowling sedang naik kereta dari Manchester ke London yang penuh sesak pada tahun 1990. Saat tiba di stasiun King’s Cross, sosok penyihir cilik dengan kacamata dan rambut acak-acakan, yang tak menyadari bahwa dirinya adalah seorang penyihir terkenal, sudah tergambar jelas. Begitu juga dengan beberapa karakter pendukungnya.
Semakin lama semakin deras ide-ide yang mendukung cerita itu. Walau telah menulis sejak kecil, baru kali ini Rowling merasa sangat bersemangat untuk mewujudkan ini. Dia ingin memperlambat laju ide-ide ini supaya dapat menuangkannya di kertas.
Sesampainya di rumah, detail ide-ide tersebut satu-persatu mulai lenyap. Tak mau menunggu, malam itu juga Rowling mulai menulis seri pertama Harry Potter. Dalam penulisan seri pertama ini, Rowling juga sudah menulis kerangka cerita untuk 6 seri berikutnya. Buku seri pertama akhirnya diterbitkan 5 tahun kemudian dan langsung mendapatkan sukses yang luar biasa.

(Artikel ini pernah dimuat di Majalah Cinta Sekolah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s