AYAT-AYAT CINTA : ANTARA FILM DAN BUKU

Posted on Updated on



Film dan buku adalah dua hal yang berbeda. Buku mempunyai sifat media yang bisa dibaca berulang-ulang. Jika kita bingung dengan sebuah penjelasan, kita bisa mengulang-ulang hingga kita paham. Kita bisa menghentikan alur sebentar untuk kemudian pelan-pelan memahami bagian yang sulit. Karakter media yang seperti ini memungkinkan penulis memberikan detail cerita yang sulit diberikan oleh media film. Buku juga memungkinkan para pembacanya berimajinasi seluas-luasnya tentang isi buku tersebut.

Sedangkan film tak mampu menjelaskan sesuatu yang rumit. Sifat medianya adalah selintas. Artinya kita susah menghentikan alur untuk memahami bagian-bagian yang sulit dimengerti. Bisa saja kita mem-pause atau me-rewind, tapi itu akan mengurangi kenikmatan menonton film. Oleh karena itu, film biasanya menjelaskan sesuatu dengan simpel.

Walaupun begitu film mempunyai keunggulan, yaitu efek dramatisasi yang mampu menggugah emosi penonton. Ini karena didukung oleh akting, komposisi gambar, musik maupun sound efect. Oleh karena salah sekali kalau kita membanding-bandingkan film Ayat-Ayat Cinta dengan novelnya. Masing-masing mempunyai keunggulannya.

Mungkin bagi kalian yang belum pernah membaca novel ini tak akan merasa terganggu ketika menonton film ini. Tapi bagi kalian yang sudah membacanya, mungkin akan merasa janggal karena plot cerita yang berubah dan ending yang tak persis sama. Penyesuaian ini memang perlu dilakukan untuk membuat cerita lebih mengalir.

Secara gambar, film ini sudah di atas rata-rata, bahkan tak terbayang akan sekeren itu. Lighting-nya cukup artistik. Propertinya cukup menggambarkan setting Mesir. Kalaupun ada kekurangannya adalah pemerannya yang kurang berwajah Arab, baik pemeran utama maupun para figuran. Selain itu pegucapan bahasa Arab Maria dan Aisha menurutku kurang fasih, menjadikan akting mereka kurang optimal. Mungkin ini semua berkaitan dengan bujet produksi. Bisa dibayangkan jika semua peran dimainkan oleh orang asing, kecuali karakter Fahri, Nurul dan kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang memang orang Indonesia.

Jika aku ditanya apakah aku menyukai film ini, secara jujur aku mengatakan tidak. Kritik ini aku lontarkan tanpa mengesampingkan rasa hormat dan kagumku kepada para pembuat film ini, terutama kepada Hanung Bramantyo sebagai sutradara. Dari segi cerita, ada perbedaan yang mencolok. Mungkin ini hanya dianggap masalah alur saja, tapi menurutku ini sangat mengganggu.

Dalam novel, diceritakan bahwa Maria dan Fahri menikah ketika Maria dalam keadaan koma. Pernikahan ini direstui oleh Aisha, istri Fahri. Saat itu Fahri sangat membutuhkan kesaksian Maria atas dakwaan pemerkosaan. Setelah menikah, Maria sadar dan kemudian memberikan kesaksian untuk Fahri di pengadilan. Fahri pun kemudian bebas. Setelah itu, Maria harus kembali ke dirawat. Kesehatanya memburuk hingga akhirnya koma lagi.

Dalam komanya, terlihat mulut Maria melantunkan Surah Maryam yang dihafalnya. Fahri bingung melihatnya. Tak lama kemudian Maria sadar dan menceritakan bahwa dia mimpi antri di pintu surga. Oleh penjaga Maria tidak diperbolehkan masuk sementara itu semua orang telah masuk ke dalamnya. Kemudian Maria membaca Surah Maryam. Muncullah Maryam, ibu dari Nabi Isa. Dia berkata bahwa Maria tidak diperbolehkan masuk surga karena Maria bukan pengikut Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Maria kemudian menangis dan terbangun. Maria kemudian dibimbing oleh Fahri untuk mengucapkan syahadat dan sholat berjamaah. Setelah itu Maria pergi untuk selamanya. Dengan ending cerita seperti itu, aku menangis dan terus terbayang-bayang surga yang diceritakan detail di novel ini. Ini adalah bagian yang krusial bagiku, bagian yang paling menyentuh jiwaku. Sayangnya bagian ini dihilangkan di dalam film.

Dalam film, ceritanya dimodifikasi. Aku tak tahu alasannya, bahkan aku sendiri tak bisa menebaknya. Di film diceritakan bahwa Maria yang koma menikah dengan Fahri. Pernikahan ini atas restu Aisha, istri Fahri. Setelah menikah Maria bangun dari komanya dan mengucapkan syahadat. Kesaksian Maria di pengadilan kemudian membebaskan Fahri dari segala tuduhan.

Setelah bebas, di film ini digambarkan kehidupan poligami Fahri. Ada beberapa kelucuan seperti salah masuk kamar dan sebagainya, yang menurut aku terasa dipaksakan. Suatu hari Maria jatuh sakit dan koma. Fahri menungguinya di Rumah Sakit. Suatu hari, Maria dan Fahri shalat berjamaah. Setelah shalat, Maria telah meninggal.

Terlepas dari segala kekurangan dan perbedaan, aku tetap salut. Menurut beberapa teman yang menontonnya, film ini menyentuh sekali. Yah, aku ikut gembira mendengarnya. Secara keseluruhan film ini layak ditonton. Ini terbukti dengan membludaknya antrian di bioskop-bioskop. Bahkan sebagian penonton sudah menonton beberapa kali. Film ini direkomendasikan untuk ditonton, baik untuk yang sudah membaca novelnya atau yang belum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s