DEMI WAKTU

Posted on Updated on


Waktu adalah sebuah garis lurus. Bukan lingkaran ataupun elips. Tak ada pengulangan, tak ada pola. Tak ada dua ujung yang bertemu. Mungkin tak semuanya lurus karena manusia adalah tempat salah dan lupa, tapi yang jelas hidup adalah sebuah kurva. Aku yakin itu.

 

Ketika pertama kali aku kerja di Jakarta, aku selalu merindukan Jogja. Masih saja rindu teman-teman, Jogja di waktu senja, suasana angkringannya dan segala hal tentang kota itu. Tapi setiapkali ke Jogja, aku tak menemukan apa yang benar-benar kurindukan, walaupun aku sudah makan di angkringan, ketemu dengan teman-teman yang dulu, menikmati senja Jogja. Aneh, aku tak menemukan apa-apa di sini. Aku kemudian menyadari jika aku ternyata merindukan masa lalu, bukan Jogja.

 

Di Jakarta aku berevolusi, mungkin pola pikir atau juga kebiasaan karena manusia secara naluriah akan selalu belajar. Teman-temanku pun juga berevolusi. Begitu juga dengan Jogja, berevolusi entah mau menjadi apa. Masing-masing berevolusi, dan mungkin arahnya tak lagi sama dengan waktu masih bersama hingga akhirnya ketika kita bertemu banyak hal yang sudah tidak bisa nyambung lagi. Mungkin satu-satunya hal yang masih menyatukan aku dan teman-temanku adalah bahwa kita mempunyai ingatan dan memori yang sama tentang masa lalu.

 

Tak ada itu pengulangan. Dalam Qur’an dijelaskan, sesungguhnya orang-orang merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Jangan sia-siakan waktu kelau begitu. Oh, betapa perkasanya waktu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s