TIGA BULAN DALAM SEKAM

Posted on


            Suatu sore di akhir bulan April, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku mampu bertahan?” Aku di sisi lain samasekali tak berani menjawab. Ragu dan tak bisa melihat sedetik ke depan.

            Aku pun bertanya ke Mbak Eni, “Apakah aku mampu bertahan?” Mbak Eni pun tak mampu menjawab pertanyaan ini. Tapi paling tidak Mbak Eni berusaha untuk menjawab, “Nggak usah bingung, apa yang di depan mata kita kerjakan. Apa yang selama ini kamu pikirkan dan tak kesampaian karena urusan kantor, kerjakan sekarang. Mungkin ini saatmu untuk bergerak sebagai dirimu sendiri.” Oke, aku pun akan menerkam yang sudah ada di depan mata.

            Tapi, pertanyaanku belum hilang dari benakku. Aku kemudian bertanya ke istriku, “Apakah aku mampu bertahan?” Istriku juga tak menjawab pertanyaanku. Tapi istriku memberi semangat, “Yang harus dilakukan adalah berusaha. Soal hasil bukan kita yang menentukan. Tak usah risau akan segala macam cicilan, InsyaAllah kita masih bisa bertahan. Yang penting kita tetap berusaha.” Oke, tak usah terlalu pikirkan macam-macam, yang penting tetap berusaha tanpa keluh.

            Untuk membumihanguskan pertanyaan itu, aku pun kemudian bertanya ke Mas Hari, “Apakah aku mampu bertahan?” Mas Hari juga tak menjawab pertanyaanku, “Belajarlah dari pengalaman banyak orang. Rizki akan datang dengan sendirinya jika kita berusaha. Setiap orang oleh Tuhan sudah dijamin rizkinya. Jadi jangan pernah takut. Kamu masih beruntung, baru kawin sudah bisa beli rumah. Dan kamu mempunyai sesuatu untuk kamu jual, yaitu kreatifitas. Tetap optimis, siapa tahu ini titik balikmu. Setiap orang pasti mempunyai titik nadir, titik pertama untuk berangkat naik ke puncak kehidupan. Belajarlah memaknainya.” Oke, aku berusaha memaknainya walaupun saat itu aku terlalu bodoh untuk memaknainya.

            Tiga bulan sudah berlalu. Tiga bulan tanpa gajian. Tiga bulan berstatus “pengangguran”. Tiga bulan tanpa kartu nama dan bukan sebagai orang kantoran. Aku pikir sudah tamat hidupku setelah terkena PHK.

            Tapi ternyata hidupku tak berakhir di sini. Justru hidup terasa baru mulai. Fresh! Bangun dari “mati dalam hidup”. Menjadi diri sendiri. Berdiri di kaki sendiri tanpa menggantungkan nasib ke orang lain.

            Tiga bulan aku sibuk mensutradarai 4 judul DVD series untuk Ade Rai (Fitness For Beginner, Fitness For Woman, Fitness For Fat Loss dan Fitness For Muscle Building). Bersama Mbak Eni juga mensutradarai 6 video instruksi penggunaan mesin cuci dan juga menulis program tv milik Depkes (Gaya Hidup Sehat) sebanyak 14 episode. Yang terakhir aku juga mensutradarai video profile Pemerintah Kota Madya Surabaya dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggris dan Mandarin).

            Aku sekarang menyadari, ada banyak hal yang susah kita pahami. Salahsatunya ke mana arahnya takdir kita. Kadangkala kita perlu dicocok hidung kita agar kita bisa berbelok ke arah takdir kita. Sakit memang, tapi kadang itu yang terbaik bagi kita.

 

Cipondoh, 31 Juli 2007

2 thoughts on “TIGA BULAN DALAM SEKAM

    hasna said:
    Juni 12, 2008 pukul 1:55 pm

    Wah, ceritanya bikin aku merinding dan mengingatkan kondisiku saat ini yang juga selalu bertanya “apa aku bisa bertahan disini?”. Wehehehe….kupikir hanya aku yang paling menderita, tyt orang yang dekat denganku punj jg pnh mengalami hal yang sama.
    Semangat!

    Marhan Faishal responded:
    Juni 15, 2008 pukul 6:22 am

    iya dong! Masa nggak semangat? Ada hikmah yang harus kita petik waktu kita mengalami sesuatu. Jangan sampai kita terlalu bodoh untuk memahami hikmah di balik semua peristiwa. Hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s