TENTANG KEMUAKKAN

Posted on Updated on


Di sebuah malam menjelang pagi.
“Sayang, ceritakan padaku tentang kemuakkan,” kata kekasihku sambil menarik selimut dan kemudian menyandarkan kepalanya di dadaku.
“Apakah kau benar-benar ingin tahu apa itu kemuakkan?” tanyaku lembut.
“Iya.”
“Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi setelah cerita ini, aku harap kau takkan muak padaku. Apakah kau mau berjanji?”
“Aku janji.”
“Baiklah. Mari kita mulai…”

*** *** ***

Huekbyor! Huekbyor!
“Siapa yang sudah muak dengan perusahaan ini? Siapa?” tanyanya dengan mata nyalang, menggambarkan kemarahan tak terkatakan. Matanya menantang siapa saja yang berani mengusik kekuasaannya. Kami semua di ruangan meeting ini hanyalah diam, menundukkan kepala, menyembunyikan sorot mata yang takut sekaligus sebal.
“Siapa saja, saya tanya sekali lagi. Siapa yang sudah pengen muntah dan sudah muak dengan pekerjaan agency ini?” tanyanya lagi, masih dengan suara menggelegar. Diam. Sunyi. Hanya terdengar desahan napas ketakutan kami.
Beberapa hari yang lalu, Bunga (sebut saja begitu) mengundurkan diri dari kantor ini. Saat ini posisi Bunga cukup strategis, yaitu sebagai satu-satunya media planner merangkap media buyer, merangkap sekretaris, merangkap general affair. Masuk ke agency ini pertamakalinya adalah sebagai sekretaris. Tapi keadaan mengajarkan dia untuk menjadi seorang media planner sekaligus media buyer. Maklum ini adalah agency kecil. Bunga pindah ke agency media spesialis, tentu saja sebagai media planner, bukan merangkap sebagai sekretaris.
Lalu kenapa Bos sampai sedemikian marah? Aku tak tahu pastinya. Yang aku tahu dari cerita Bunga bahwa ada insiden sewaktu dia resign. Kata Bunga, Bos menganggap ini cuma masalah duit saja. Padahal bukan itu saja, Bunga keluar untuk mengejar karir yang lebih baik, menjadi seseorang yang profesional, dengan jobdesc yang jelas. Bunga juga berkata ingin muntah dengan bertubi-tubinya pekerjaan dan jabatan yang serba merangkap.
“Siapa saja yang ingin muntah dan sudah muak dengan agency ini, saya buka pintu keluar ini selebar-lebarnya! Dasar tidak tahu terimakasih!” Tiba-tiba aku pengen muntah, tiba-tiba aku mencium bau memuakkan dari Bos. Tapi aku tahan. Sabar, sabar, sabar mas…
Huekbyor!

*** *** ***

“Begitulah ceritanya. Kau tidak muak, kan?”
“Hppppfffff….” Kekasihku lari dengan menutup mulut, menuju kamar mandi.
Huekbyor! Huekbyor! Huekbyor!
Sudah hampir jam lima. Sudah waktunya pagi menjelang.
Huekbyor! Huekbyor! Huekbyor! Terus-menerus kekasihku muntah. Aku harap ini bukan karena ceritaku yang memuakkan. Aku harap ini gejala morning sicknes….

Meruya, 26 April 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s