DI BENAK, ADA PEMBANTAIAN

Posted on Updated on


Di manakah cinta?
Bukankah seharusnya berada di atas sana, sebagai bintang penunjuk kapalku untuk menuju pelabuhan bahagia?
Di manakah cinta di malam penuh badai ini?

Malam ini kelam dan gelap. Malam terasa pekat. Seakan-akan semua molekul-molekul di udara lebih merapat dari biasanya. Dingin dan beku. Gang yang hanya selebar satu mobil ini basah karena hujan sore tadi. Memantulkan cahaya-cahaya kuning lampu mercuri. Cahaya-cahaya kesuraman.
Aku, lelaki berjaket jeans kumal dengan sepatu kets berwarna merah berjalan perlahan-lahan menyeret pedang. Mengkilap, memancarkan hawa kematian bagi siapa saja. Perlahan aku berjalan. Suara pedang yang beradu dengan aspal jalan terasa mengerikan. Menyuarakan kematian, meruapkan kebencian. Tanganku bergetar oleh kekuatan yang aku sendiri tak tahu. Pedang tajam yang terbuat dari logam terbaik dan dibuat dari tangan terbaik kini berputar-putar cepat siap memenggal kepala, melepaskan dari tubuhnya. Sekali tebas, kepala siapa saja pasti akan lepas dari tubuhnya, menggelinding di jalanan basah dan kemudian menjadikan kubangan jalan berlubang menjadi berwarna merah. Semuanya berjalan begitu saja, seperti takdir. Takdirlah yang mengharuskan memenggal kepala-kepala di depanku. Semua berjalan begitu saja, tanpa pernah direncanakan.
Hawa kematian malam ini meruap begitu kuat. Memenuhi udara dan bercampur dengan oksigen yang terhirup masuk tubuhku. Di pompa jantung dan menyebar ke seluruh tubuhku. Otakku dipenuhi oleh hawa kematian yang tak pasti. Tanganku bergetar memegang erat pedang, meregang seperti tak kuasa menahan kehausan pedang akan darah. Aku harus membantai mereka malam ini. Yah, harus malam ini.
Perempuan-perempuan itu ketakutan melihat sorot mataku yang penuh dengan kebencian. Mereka menjerit-jerit tak karuan, tapi tetap saja malam terasa kelam. Aku seperti tak mendengar suara-suara jeritan mohon ampun mereka. Aku hanya lihat mulut mereka yang mangap-mangap tanpa suara. Aku tak mengerti mengapa mereka seperti itu. Bukankah wajar kalau setiap orang akan mati? Mungkin hanya caranya saja yang berbeda. Malam ini mereka akan mati di tanganku, dengan sekali tebas.
Dengan tangan terikat perempuan-perempuan malang itu akhirnya pasrah, berlutut di hadapanku dengan kepala tertunduk. Satu persatu aku pandangi. Disiram dengan cahaya temaram lampu mercuri kota terlihat wajah mereka yang semuanya memang cantik. Tapi mereka harus di bantai malam ini.
Aku dekati satu. Dia tercantik diantara semuanya. Mukanya bersih dan selalu memancarkan keanggunan luarbiasa dengan kerudung menutupi rambutnya. Alis matanya tebal hitam tampak proposional dengan matanya yang bening seperti sebuah telaga perawan di hutan perawan. Bibirnya tipis dan selalu tersenyum tipis. Beberapa orang mengira itu adalah senyum sinis. Bukan, itu bukan senyum sinis. Itu adalah senyum terindah yang pernah ada. Suara yang keluar dari tenggorokannya seperti sebuah lirik nyanyian yang aku tak pernah bisa pahami. Absurd. Hatinya adalah gua gelap yang mengandung misteri. Aku coba masuki, tetapi aku tersesat di dalamnya. Benar-benar hati yang misterius.
Aku bertemu dia dalam sebuah pesta perkawinan seorang teman dekatku. Saat itu matanya tampak selalu mencuri-curi ke arahku. Gaun pestanya tampak sangat serasi dengan tubuhnya yang gemulai. Dia seakan menjadi primadona pesta itu. Kerling matanya mampu membuat siapa saja mabuk. Dan aku pun mabuk oleh mata bening itu yang selalu dan selalu saja mencuri-curi. Ah, sudahlah! Malam ini dia harus aku bantai tanpa harus mengingat-ingat mata beningnya. Harus.
” Tahukah kamu, kenapa malam ini kamu aku penggal?” tanyaku sambil memakaikan kantong coklat belanja supermarket di kepalanya kemudian mulai berancang-ancang memenggal. Perempuan itu diam saja tanpa bicara. Selalu saja dia begitu, absurd dan misterius. Tak mudah memahaminya.
“Ayo, jawab! jangan diam saja!” bentakku. Kepalanya yang sudah terbungkus kantong coklat itu sedikit mendongak. Tapi tanpa menjawab satu kata pun. Ah, sudahlah…
Tanpa pikir panjang segera aku sabetkan pedangku tepat pada lehernya. Darah membasahi lagi jaket jeans kumal dan juga sepatu ketsku. Kepalanya menggelinding masuk selokan, sedangkan tubuhnya langsung jatuh tanpa kepala. Aku memang tak perlu jawabannya, aku sudah tahu jawabannya. Dia terlalu misterius buatku, dan sepertinya selalu misterius.
Berikutnya adalah seorang perempuan yang belum terlalu matang menjalani kehidupan yang keras ini. Dia masih polos, sesuai dengan umurnya yang baru 19 tahun. Aku bertemu pertama kali juga pada sebuah pesta pernikahan. Saat itu dia sangat menarik semua mata para tamu. Dia menari dengan lincahnya. semua tamu terpesona dengan tariannya. Tubuhnya yang seksi berbentuk gitar mampu melambungkan pikiran semua lelaki. Aku pun terpesona. Tanpa aku sangka, dia mendekatiku kemudian menggandeng tanganku untuk menari bersamanya. Aku ingat itu.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang melelahkanku. Aku serasa dipaksa untuk kembali berpikir seperti 10 tahun yang lalu. Berhura-hura seperti hari esok masih panjang. Pergi ke mall cuman untuk window shoping, nonton film-film picisan di bioskop yang mahalnya setengah mati, nongkrong-nongkrong ngobrolin sesuatu yang aku sudah lewati jauh. Aku sudah lupa semuanya. Sepertinya aku sudah terlalu tua untuk mengikuti semuanya. Yah, terlalu tua.
Sekarang, perempuan itu berlutut di depanku, juga dengan kepala tertutup kantong belanja supermarket. Dia menangis dan memohon agar aku tak memenggal kepalanya. Suaranya terdengar manja. Aku sudah tak peduli.
” Tahukah kamu, kenapa aku ingin sekali memenggal kepalamu?” tanyaku.
” Maafkan, Kak. Maafkan kalau saya menyakiti Kakak,” mohonnya dengan suara serak sambil menangis.
” Sudahlah, jangan menangis. Aku tak akan tergoda oleh tangisanmu.” Tangisnya makin terdengar memilukan. Tapi justru itulah alasanku untuk segera menghabisinya malam ini. Tangis kanak-kanak yang terlalu polos. Dengan sekali sabet, pedangku telah basah oleh darah dari urat lehernya. Kepalanya menggelinding ke arah selokan dekat tempat mangkal tukang ojek.
Berikutnya adalah perempuan dengan muka manis, berkacamata dan mempunyai otak cemerlang. Satu-satunya perempuan yang pernah aku puja seperti indahnya mawar, tapi durinya melukai wajahku ketika akan kucium. Luka terdalam yang pernah dibuat kepadaku. Aku mengalami proses-proses panjang dan melelahkan bersamanya. Bersama-sama kita meledak-ledak dalam campuran-campuran yang berproses secara kimiawi berbagai macam aliran ideologi. Mengaduk-aduk menjadikan satu dan menemukan formula hidup. Bersama-sama melawan arus untuk bisa sekadar memperoleh kacamata yang beda, agar bisa memaknai hidup dengan berbeda pula. Aku tumbuh bersamanya.
Tapi sejak durinya melukaiku, aku selalu ingin memenggal kepalanya. Dan malam ini sepertinya mimpiku dapat terwujud.
Perempuan berkacamata itu berlutut dan tertunduk. Kali ini kepalanya tidak aku pakaikan kantong belanja seperti yang lain. Aku ingin sekali menikmati ekspresi wajahnya yang memohon ampun hingga saat terakhir kematiannya. Aku selalu ingin menikmatinya. Tapi perempuan itu hanya diam. Tak memohon untuk hidup. Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku akan tetap memenggal kepalanya apapun yang dia katakan. Baguslah, kalau dia sudah tahu.
Perlahan kepalanya menengadah memandangku. Tepat pada mataku. Aku lihat bola matanya dibalik lensa minusnya adalah bola mata terindah yang pernah aku miliki. Aku coba masuk lebih dalam. Memang sudah tak ada lagi yang tersisa untukku. Benar-benar sudah habis. Sepersekian detik kemudian kepalanya menggelinding ke arah kakiku. Matanya masih melihat ke arahku dan aku masih lihat bahwa benar-benar tak ada sisa buatku.
Di depanku masih ada beberapa perempuan yang tertunduk dengan tangan yang terikat. Malam ini aku masih belum tahu, siapa lagi yang harus aku penggal. Aku hanya boleh menyisakan satu perempuan untuk selamanya bertahta, menjadi satu-satunya ratu di benak ini.
Tapi, serius, ini terjadi begitu saja. Tanpa pernah aku rencanakan. Takdir yang menuntunku seperti ini.

Apakah cinta?
Bukankah seharusnya cinta ada sebagai lentera yang senantiasa menerangi jalan gelap menuju rumah bahagia?
Aku tak melihatnya di malam kelam ini?

Aku ragu, apakah Cinta harus ada di kelamnya kehidupan yang penuh badai…

Kedoya, 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s