Cinta yang Mati, Cinta yang Bersemi

Posted on Updated on


Sebulan sebelum hari ini.
Senja di puncak gedung ini selalu saja terasa indah. Matahari membentuk bulatan raksasa berwarna jingga. Cahayanya telah redup, tak lagi membuat silau. Menyatu dengan latar belakang yang juga berwarna jingga, dan dihiasi aksen-aksen mega hitam yang justru menambah keindahannya. Ratusan mata yang terjebak macet di bawah sana terpaku sebentar melihat bulatan raksasa itu, sekadar menikmati sore indah ini di sela-sela kesumpekan metropolitan. Gedung-gedung jangkung pusat perkantoran di seputaran Thamrin ini tampak seperti siluet, seperti gadis-gadis cantik tanpa pakaian di pinggir pantai. Menggoda, menjanjikan kenikmatan sukses ala metropolitan.
” Aku tak bisa,” kata Atik sambil menggelengkan kepala.
Tangannya membetulkan rambutnya yang acak-acakan karena angin. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil. Jari-jarinya yang lentik kembali mengatur rambutnya, dan akhirnya jatuh lagi sebagian ke mukanya. Atik terlihat cantik dalam siluet dengan rambutnya yang berantakan karena dipermainkan angin. Bagiku, ini adalah saat-saat tercantiknya. Aku nikmati betul detik-detik tersebut. Wajahnya tersimpan sejuta pesona dengan latar belakang matahari senja. Dia adalah matahari senjaku. Merah dan menggairahkan. Sejuta pesona yang membuat sejuta laki-laki bergairah. Itu sebabnya aku sering sekali mengajaknya naik ke atas gedung ini. Menikmati siluet sejuta pesona gadis ini. Menikmati indahnya rambut berantakan karena angin.
Atik adalah teman sekantorku. Pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Seakan-akan kembali lagi ke masa-masa remaja, merasakan cinta pertama yang hangat. Bara cinta yang takkan pernah tergantikan oleh apapun. Kebetulan aku dan dia satu departemen di kantor koran harian tempat kami bekerja. Aku bekerja sebagai ilustrator sedangkan Atik sebagai editor bahasa.
Sebenarnya Atik adalah gadis biasa-biasa saja. Tak terlalu cantik tapi terlihat manis dan smart. Apalagi kacamata minusnya menambahkan kesan itu. Tata bahasanya sopan dan teratur rapi. Dalam tutur katanya jarang keluar dari aturan-aturan formal pemakaian bahasa. Tapi ketika kita semakin akrab, gaya bahasa yang dipakai berbeda. Terasa lebih santai dan akrab. Kecuali saat-saat penting seperti saat ini.
Pekerjaanlah yang membuat kami semakin dekat satu sama lain. Jam kerja kami sangat aneh bagi kebanyakan orang kantoran. Karena kantor kami adalah kantor harian, maka kami mulai bekerja pada pukul 5 sore hingga menjelang cetak, yaitu sekitar pukul 1 malam. Dengan jam kerja yang tak biasa seperti itu menjadikan kami dekat secara emosional. Atik sering curhat tentang hubungannya dengan Rizal. Aku pun juga sering curhat dengannya. Semakin lama kedekatan kami berubah menjadi sebuah perasaan saling membutuhkan.
“Maaf. Aku tadi tidak menyimaknya,” kataku pada Atik.
Maaf Atik, karena aku ternyata lebih tertarik akan keindahanmu daripada kata-katamu. Keindahan yang menjeratku terus-menerus dan memaksaku untuk mengajakmu bicara serius di atap gedung ini.
“Aku tak bisa, Sayang,” kata Atik.
Aku terdiam. Atik juga terdiam. Tak ada yang berbicara. Sepi. Hanya angin sore ini yang berbicara. Aku dengar jangtungnya berdegup keras. Jantungku pun juga berdegup keras. Aku yakin Atik juga mendengarnya. Aku gugup. Aku hirup oksigen dalam-dalam, mencoba memenuhi kebutuhan otakku akan oksigen yang saat ini penuh sesak dengan berbagai macam pikiran tentangnya.
” Aku tak bisa meninggalkan Rizal begitu saja. Aku tak bisa terus bersamamu, Mas Wid. Terlalu banyak yang akan terluka hatinya bila kita bersama. Bagi Rizal, aku adalah hidupnya, cintanya. Mas Wid tahu itu. Rizal sangat mencintaiku. Semua hal yang dilakukannya saat ini untuk diriku. Semua hal itu dilakukannya karena cintanya padaku. Cintanya padaku sangat tulus. Setulus air mencintai lautan. Air yang rela melakukan perjalanan panjang menuruni gunung untuk kemudian bersatu dengan lautan. Mas Wid juga tahu itu. Baginya, aku dan dia sudah ditakdirkan bersama dan sudah tak mungkin lagi terpisahkan. Bagaimana jadinya kalau Rizal aku tinggalkan,” kata Atik.
Atik kemudian diam. Wajahnya menggambarkan kebingungan yang amat sangat. Matanya menatap kosong jauh ke arah kaki langit. Seperti ingin mengadukan persoalan ini ke matahari senja. Namun tak seperti yang diharapkan, tak terdengar jawaban apapun dari matahari. Mungkin matahari pun juga ikutan bingung. Hanya angin yang dari tadi terus-menerus bersuara. Tapi jangan harap angin membisikkan sebuah jawaban. Suara angin tak bermakna sama sekali untuk Atik, apalagi dianggap sebagai sebuah jawaban.
Aku juga terdiam. Mencoba mengurai satu persatu makna penjelasan Atik. Pelan-pelan aku pahami. Pelan-pelan pikiranku pun mulai kusut. Matahari senja yang tinggal separoh itu pun sudah tak menarik lagi bagiku. Aku tak tahu mesti ngomong apa. Logikaku tak mampu mencerna, menganalisis, merumuskan apa yang harus aku lakukan dalam kondisi seperti ini. Sama sekali tak tahu. Mungkin sebaiknya biarlah otak kecilku yang memutuskan, membuat keputusan-keputusan reflek. Sepertinya hal-hal seperti ini memang tak perlu dilogika, mengalir saja seperti air.
“Apakah Rizal sangat berharga bagimu?” tanyaku.
Atik tak menjawab. Atik berjalan menjauhiku dan berhenti di pinggir gedung. Matanya masih saja menatap ke kaki langit sebelah barat. Aku pun berjalan mendekatinya dan ikut menatap kaki lagit sebelah barat. Matahari tinggal tiga perempatnya saja yang masih kelihatan. Mobil-mobil dan gedung-gedung mulai menyalakan lampu senjanya.
“Aku tak tahu,” jawab Atik pendek.
“Maksudmu?”
“Aku tak tahu, Mas Wid. Apakah Rizal bermakna untuk aku, aku sama sekali tak tahu.”
“Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang kamu rasakan?”
“Entahlah.”
“Bagaimana kau tak tahu perasaanmu kepadanya, tapi kamu sekarang berstatus tunangannya? Bagaimana kamu tak tahu itu?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.
Atik diam sejenak. Paru-parunya menghirup oksigen banyak-banyak.
“Entahlah. Jangan kamu tanyakan itu kepadaku. Jangan tanyakan kenapa aku menjadi tunangannya. Mungkin bisa karena cinta, nafsu atau cuman perasaan kasihan saja. Aku tak bisa mendefinisikan perasaanku. Bukankah perasaan tak selalu harus terdefinisikan?” kata Atik.
“Aku tahu itu. Aku pun kadang-kadang juga mengalaminya. Tapi bisakah kau definisikan perasaanmu ke Rizal. Ini sangat penting untukku, ” kataku sambil memohon.
“Entahlah. Aku tak bisa,” kata Atik lirih.
Aku terdiam mendengar jawaban lirih Atik. Hatiku remuk redam. Bagaimana mungkin dia tak tahu isi hatinya sendiri untuk hal-hal yang penting seperti ini. Aku rogoh kantong depan kemeja putihku. Aku ambil sebungkus rokok sekalian dengan koreknya. Kemudian aku coba menyalakan api. Tapi tak berhasil dan selalu padam oleh angin. Tak hanya rambut Atik yang dipermainkannya, tapi juga apiku. Tapi aku masih berusaha.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku dengan pengucapan yang tak terlalu jelas karena ada sebatang rokok di bibirku.
Atik diam. Matanya masih menatap kaki langit. Aku juga masih berusaha menyalakan api yang terus-menerus dipadamkan angin. Angin keparat! Berhentilah sejenak! Beri aku kesempatan untuk merokok. Sebentar saja.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku lagi.
Aku menghembuskan asap rokokku yang pertama. Akhirnya angin memberiku kesempatan untuk menyalakan rokokku. Terimakasih angin. Tapi Atik masih saja diam seribu bahasa.
“Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” tanyaku lagi.
“Aku tahu itu. Sangat tulus,” jawab Atik.
Kali ini Atik menjawab dengan tatapan matanya yang langsung menusuk ke dalam mataku dan kemudian tembus ke dalam relung hatiku terdalam. Bukan tatapan kosong untuk kaki langit ataupun matahari senja. Matanya indah dengan pupil hitam bulat mempesona, dikelilingi bulu mata lentik dan kemudian tertutupi kacamata bening minus. Sangat mempesona dengan sejuta misteri.
“Sekarang jawab pertanyaanku. Jawab dengan sejujurnya, dari hati yang paling jujur. Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku dengan memasang mimik muka yang paling serius. Ini adalah saat-saat paling serius yang pernah aku alami. Wajar sekali kalau mukaku terlihat sangat tegang.
“Apakah kamu mencintaiku?” tanya balik Atik.
“Kamu tahu itu,” jawabku.
“Jawab dulu pertanyaanku. Baru aku jawab pertanyaanmu. Apa kamu mencintaiku dengan tulus?” tanya Atik.
“Iya. Sangat tulus,” jawabku.
“Begitu juga aku, Mas Wid. Aku juga tulus mencintaimu.”
“Benarkah? Maukah kamu bersamaku?” tanyaku menyakinkan. Atik menjawabnya dengan anggukan.
“Yakin?” tanyaku tak puas.
Sekali lagi Atik mengangguk. Perasaanku terasa lega. Adakah yang lebih melegakan daripada perasaan saling mencintai dengan tulus? Adakah yang lebih benar dari itu? Aku rasa tidak. Tak ada yang lebih benar daripada cinta yang tulus.
Mata Atik tampak berlinang airmata. Aku rengkuh dia ke dalam pelukanku. Perlahan airmata mengalir di kedua pipinya. Mengalir pelan untuk kemudian jatuh ke lantai beton puncak gedung ini. Begitu juga dengan matahari senja itu. Sepenuhnya bersembunyi di balik kaki langit. Sayang matahari itu tak sempat menyaksikan saat-saat paling membahagiakanku ini.

*** *** ***

Delapan bulan sebelum hari ini.
Pukul enam pagi kurang beberapa menit. Hari baru telah dimulai. Babak baru juga telah dimulai. Babak kehidupan yang benar-benar baru buatku. Diluar kamarku tak ada yang baru. Mungkin beberapa tetes embun yang tumben menggelayut di rumput-rumput liar dan tanaman pot milik ibu kost. Biasanya tak ada embun di kawasan perumahan padat ini. Embun ini mungkin ada karena hujan semalam. Atau mungkin embun ini diciptakan untuk menyambutku, memasuki babak baru kehidupanku.
Korden jendela masih tertutup. Tapi sinar matahari pagi ini sudah menerobos masuk ke kamarku melalui sela-sela jendela dan lubang angin di atasnya. Kali ini berwarna kuning keemasan, membuat nuansa yang berbeda di kamarku. Bau tanah sisa hujan juga tercium oleh hidungku. Mengingatkan aku akan kampung halaman yang selalu menebarkan bau semacam ini.
Mataku masih terasa berat. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Badanku terasa linu semua. Sepertinya aku kecapekan. Rasanya malas sekali untuk bekerja hari ini. Padahal ada beberapa artikel yang harus aku edit pagi ini. Pengennya tidur lagi dan menikmati hari. Terasa nyaman dan sayang untuk dilewatkan.
Di sampingku, Rizal masih tertidur pulas tanpa sehelai benang pun dan aku pun masih di dalam pelukannya juga tanpa sehelai benang yang menutupi. Yah, hari ini adalah awal dari kehidupanku tanpa keperawanan. Hal yang paling berharga untuk seorang gadis aku berikan dengan tulus untuk Rizal semalam. Aku tak tahu kenapa aku memberikan ini kepadanya. Cinta? Aku tak tahu. Tapi aku berikan ini benar-benar dengan tulus.
“Sayang, bangun. Udah pagi,” kataku dengan lembut untuk membangunkannya.
“Hmmm….. Jam berapa sekarang, Atikku sayang?” tanya Rizal masih dengan suara berat sambil ngulet.
Tampaknya Rizal juga sangat kecapekan dalam pertempuran semalam. Matanya masih bengkak dan menyipit ketika melihat sinar matahari pagi. Rambutnya acak-acakan tak teratur.
Aku dan Rizal dulu satu kampus tapi berbeda jurusan. Aku kebetulan lulus lebih dahulu, sedangkan dia lulus terlambat. Bukan karena dia tidak cerdas, tapi karena kesibukannya yang luar biasa dalam organisasi mahasiswa. Ditambah lagi sikapnya yang angin-anginan dalam menyelesaikan studinya. Sebenarnya studinya tinggal menyelesaikan skripsi. Untuk menulis skripsi, selalu saja butuh mood katanya. Padahal menulis skripsi beda dengan menulis novel. Rizal pun tahu tentang hal ini.
Walaupun satu fakultas, tapi kami mulai dekat satu sama lain sejak kami bergabung dalam organisasi mahasiswa yang sama. Aku sebenarnya bukan tipe aktifis seperti Rizal. Tapi waktu itu aku berpikir, tak ada salahnya untuk bergabung dengan salah satu organisasi. Hitung-hitung menambah pergaulan. Daripada sehabis kuliah hanya santai-santai di kost tanpa ada hal yang dilakukan.
Dari aktifitas bersama yang padat dalam organisasi, menumbuhkan benih-benih cinta Rizal kepadaku. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan hingga suatu saat Rizal menyampaikan kata hatinya secara terbuka. Aku tak tahu harus mejawab apa. Aku tak tahu, apakah aku juga cinta padanya. Aku tak menjawabnya waktu itu. Hingga akhirnya aku serahkan diriku semalam, tanpa pernah aku mengutarakan cinta.
“Sudah jam enam, Sayang….” kataku sambil mengambil bajuku yang berserakan di atas ranjang dan kemudian memakainya.
Kamarku pagi ini seperti kapal pecah. Berantakan tak karuan. Celana jeans Rizal dan juga sepatu sneakers-nya tampak tergeletak begitu saja dekat pintu kamar. Belum lagi ranjang ini. Selimut dan juga sprei berantakan dan kusut. Tak terbayangkan bagaimana serunya pertempuran semalam. Aku baru menyadarinya pagi ini, setelah melihat betapa berantakannya kamarku.
Rizal masih saja tidur. Mungkin dia juga merasakan capek yang luar biasa. Persis seperti yang aku rasakan.
“Ayo, bangun Sayang. Katanya mau kuliah pagi. Sudah jam enam lho,” kataku.
“Hmmmm….. Whoooooaaa…..,” Rizal ngulet sekali lagi. Kali ini suaranya keras.
“Sst, jangan kenceng-kenceng. Ntar bisa ketahuan sama ibu kost dan anak-anak lainnya kalau kamu nginep di sini. Bisa berabe nantinya,” kataku.
“Emang kalau ketahuan kenapa?” kata Rizal sambil cengar-cengir.
Gaya seperti inilah yang aku suka. Cengar-cengir, seperti tak ada dosa. Kadang-kadang memang menyebalkan. Tapi sebaliknya, seringkali membuat aku kangen. Cengar-cengirnya ini selalu membuatku merasa tenang dalam menghadapi kehidupan. Dengan cengar-cengirnya seakan-akan Rizal berkata padaku, “Everything gonna be alright, Baby”. Dan ini yang membuatku selalu nyaman ketika di dekatnya. Yah, everything gonna be alright.
“Kalau kita ketahuan, ntar kita di…..”
“Dikawinin?” potong Rizal sebelum aku menyelesaikan kalimatku sambil cengar-cengir lagi. Duh!
“Bukan. Enak aja! Tapi bakal diarak bugil ke seluruh kampung kemudian dibuang dari komunitas. Dibuang jauh ke dalam hutan tanpa pakaian dan makanan,” kataku becanda.
“Emang kamu nge-kost di suku terasing? Yang jauh dari peradaban dan belum ada listrik ya?” tanyanya dengan tampang bloon.
Ih, nyebelin banget. Tapi aku suka.
“Kamu jadi kuliah, nggak?” tanyaku serius.
“Hmm… Enaknya kuliah nggak ya? Kamu kerja nggak?”
“Eh, ditanyain malah balik nanya. Bukannya apa-apa. Kalau kamu mau kuliah, cepetan mandi sana! Soalnya kamar mandinya cuman satu dan dipakai ramai-ramai sama penghuni kost yang lain. Mumpung masih belum ada yang pakai dan masih sepi. Takutnya, kalau kamu ketahuan mandi di sini pasti orang ngiranya kamu nginep,” kataku sambil melipat sprei yang sudah kusut. Terlihat noda merah di sprei putih ini. Aku harus cepat-cepat mencucinya dan kemudian mengeringkannya, agar tak ketahuan penghuni kos lainnya.
“Tapi terserah sih. Kalau kamu malas kuliah dan pengen tidur lagi, jangan keluar dulu dari kamar ini. Juga jangan berisik, biar nggak ketahuan kalau kamu masih ada di sini. Ntar aku tinggal kerja dan kunci pintunya, seolah-olah kamar kosong,” jelasku.
“Yah, sama sekali nggak boleh keluar nih?” kata Rizal sambil menatapku dengan pandangan yang menggemaskan. Bola matanya hitam seratus persen dan membulat dengan sempurna, membuat aku tersenyum.
“Iya.”
“Kalau aku lapar gimana?”
“Itu. Sudah aku siapkan di meja. Kalau makan jangan berisik juga.”
“Gimana kalo di dalam kamarnya sama kamu aja? Biar sama-sama bolos,” kata Rizal.
Wajahnya bergerak perlahan dan semakin dekat denganku. Aku bisa dengar napasnya, bahkan aku bisa dengar detak jantungnya juga.
“Hmmm, gimana ya? Sebenarnya aku juga malas banget kerja hari ini. Tapi gimana ya? Ada beberapa artikel edisi khusus yang harus aku selesaikan hari ini. Besok sudah akan naik cetak. Jadi hari ini harus selesai. Kamu kan tahu, aku bekerja belum tiga bulan. Masih masa percobaan.” kataku.
“Nggak papa, Aku sendirian di sini juga nggak papa,” katanya lembut.
“Bener nih?”
“Iya, nggak papa. Tapi, by the way, makasih ya semalam. Ini adalah hadiah ulang tahunku yang paling hebat, dari kekasih yang paling aku sayang, ” kata Rizal.
Wajahnya semakin dekat ke wajahku. Aku hanya menutup mata. Tak tahu kejadian selanjutnya. Yang aku tahu hanya kuluman hangat di bibirku. Penuh kelembutan dan perasaan.Mungkin sekarang mukaku terlihat merah karena malu. Aku serasa terbang ke awan, terlempar oleh ciuman Rizal yang tulus. Dengan ciumannya, Rizal mengalirkan cinta ke hatiku. Menyelimuti hati yang dingin ini dengan cinta yang tulus. Oh, betapa menyenangkan.
“Boleh. Boleh juga,” kataku.
“Apanya yang boleh juga? Ciumanku?” tanya Rizal.
” Bukan. Boleh juga kalau kita sama-sama membolos,” kataku.
Rizal tak menjawabnya lagi. Dan aku memang tak perlu kata-kata lagi. Untuk saat seperti ini, kata-kata seperti kehilangan makna. Saat ini memang keindahan puisi tak seindah tangan Rizal yang menjelajah bagian-bagian tubuhku. Aku tak perlu kata-kata indah. Aku tak perlu segala makna puisi indah. Aku hanya butuh Rizal. Aku butuh cintanya yang tulus untuk menyelimuti hari-hariku.
Sprei yang barusan aku ganti sepertinya akan kusut lagi. Tak perlu baju lagi untuk membuat kusut sprei lagi. Seperti semalam.

*** *** ***
Dua bulan sebelum hari ini.
Sore itu suasana Starbuck tak terlalu padat. Hanya beberapa orang saja tampak menikmati sajian dengan kepulan asap rokok putihnya. Mungkin karena sekarang ini masih jam kantor. Masih terlalu sore untuk kongkow-kongkow di sini. Musik mengalun lembut, menghampiri telinga tanpa harus membuatnya penuh. Suasana relax langsung terasa sejak pertama kali masuk ke kafe ini. Penggunaan cahaya yang minim serta didukung dengan penataan ruangan yang artistik membuatku betah di sini. Tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan kopi yang aku pesan. Bau kopi murni menghampiri lembut hidungku, membangkitkan berbagai imajinasi. Imajinasi tanpa kompromi. Imajinasi yang terus-menerus lahir, menyegarkan hidupku. Itu sebabnya aku senang berada di sini. Betapa nikmatnya kopi ini, dan juga imajinasiku.
Perempuan itu akhirnya datang juga. Cantik, dengan bentuk badan yang sempurna walaupun aku tahu baru beberapa bulan yang lalu melahirkan anak pertamanya. Tapi dengan latihan kebugaran yang ketat, bodinya kembali seperti semula. Kulitnya putih bersih, terawat dan terlihat dari golongan ekonomi menengah ke atas. Mas Wid adalah suami yang beruntung, mendapatkan istri seperti dia. Aku memanggilnya Mbak Yuli.
“Sudah dari tadi, dik Rizal? Gimana kabarnya?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Kabarnya baik. Aku juga barusan nyampe kok. Paling baru sepuluh menit,” jawabku kemudian menyilahkannya duduk.
“Maaf, dik Rizal kalo saya ngrepotin ngajak ketemuan.”
“Ah, Mbak Yuli. Nggak papa, Mbak. Kayak sama siapa aja. Santai aja lagi.”
“Gini, Dik. Saya sebenarnya nggak enak juga ngomongin ini. Tapi gimana ya, saya sudah nggak kuat nahan perasaan ini sendirian. Saya butuh seseorang untuk curhat. Dan saya pikir Dik Rizal yang paling tepat. Karena kita sama-sama korban. Sama-sama merasakan penderitaan ini,” jelas Mbak Yuli.
Korban? Sama-sama korban? Korban apa ya? Wah, wah, pasti ini ada sesuatu yang tak beres. Ini pasti pembicaraan yang serius.
“Korban apa Mbak, ya? Saya nggak tahu maksud Mbak Yuli,” kataku.
“Masak sih Dik Rizal tidak merasa ada sesuatu yang salah pada Atik?”
Wah, beneran ini. Ada yang nggak beres. Tapi apa ya? Jangan-jangan Ati dan Mas Wid….
“…selingkuh?” tanyaku dengan ragu-ragu.
Mbak Yuli hanya mengangguk. Shit! Ternyata mereka berdua selingkuh. Seharusnya aku sudah curiga. Minimal bertanya-tanya, ada apa ini? Tapi aku telah terbutakan oleh cinta. Aku pikir Atik takkan mungkin akan berbuat setega ini. Aku percaya kepadanya. Aku percaya akan cintanya kepadaku, akan kesetiaannya padaku. Tapi mana? Sama sekali tak ada kesetiaan!
Seharusnya aku waspada. Sebulan terakhir ini cerita-ceritanya hanya berisi tentang Mas Wid, Mas Wid dan Mas Wid saja. Tak ada habisnya. Aku pun sampai mengenal hal-hal kecil dari Mas Wid hanya dari cerita-cerita Atik. Mungkin Atik lebih mengenal Mas Wid daripada mengenal aku. Seharusnya aku waspada terhadap kemungkinan ini.
Tapi aku tak pernah curiga. Secara logika, Atik pasti mencintaiku. Bagaimana tidak, bahkan keperawanan yang sangat dia hormati hanya diberikan kepadaku pada hari ulangtahunku. Bukankah ini tanda bahwa dia memberikan segalanya, bahkan keperawanannya sendiri?
“Aku pikir Dik Rizal sudah tahu hal itu,” kata Mbak Yuli.
“Itu kan juga belum tentu bener omongan orang. Lagian nggak mungkin banget kalau Atik selingkuh. Karena aku yakin, Atik sangat mencintaiku,” jelasku.
Aku ambil napas, berusaha menetralisir perasaan. Mencoba berpikir jernih dengan kepala dingin.
“Mbak Yuli yakin Mas Wid dan Atik selingkuh?” tanyaku sekali lagi dengan hati-hati.
Mbak Yuli mengangguk. Sepertinya yakin sekali.
“Masak sih? Mas Wiwid kan sudah punya Mbak Yuli dan si kecil Nadya. Mas Wiwid itu sudah punya segalanya,” jelasku sambil mengeluarkan sebatang rokok putih dari saku.
Mbak Yuli hanya mengangguk pelan sambil mengusap tisu di pipinya. Astaga, ternyata Mbak Yuli mulai menangis. Aku tahu perasaannya. Pasti hancur berantakan dengan pengkhianatan Mas Wid. Aku juga merasakan hal yang sama walaupun dengan ukuran dampak yang jauh lebih kecil daripada apa yang dirasakannya. Benar kata Mbak Yuli tadi, kita sama-sama korban.
“Kamu masih nggak percaya?” tanya Mbak Yuli.
“Aku percaya dengan Mbak Yuli. Cuman aku berpikir, kenapa Atik sampai setega itu kepadaku. Padahal aku mencintainya dengan sangat tulus. Apa sih yang disebut cinta sejati? Cinta yang paling benar?” kataku dengan nada sedih.
“Dik Rizal, cinta itu buta. Dia mendatangi siapa pun tanpa pernah melihat usia, kekayaan maupun status. Cinta tak selalu benar. Cinta dan nafsu hanya berbatas tipis.”
“Benar, Mbak. Cinta dan cinta hanya bisa saling membunuh. Tak mungkin cinta tulusku akan tumbuh kalau cinta Atik kepada Mas Wid juga tumbuh. Tak ada dua cinta dalam hati yang sama. Cinta itu saling memakan. Kanibal.”
“Benar kamu, Dik. Tak ada dua cinta yang tulus dalam satu hati. Salah satunya harus mati. Yah, satunya harus kalah…” kata Mbak Yuli lirih.
Aku diam saja, tak menanggapi perkataan Mbak Yuli. Diam dalam seribu bahasa dan jurang kesedihan yang terlalu dalam. Kini segalanya telah hilang. Terlalu sakit untuk kami berdua. Benar-benar terlalu sakit.
” Mas, minta vodka dua sloki dengan es!” teriakku ke pelayan.

*** *** ***
Hari ini.
Hari ini adalah Minggu pagi yang terasa sangat menyenangkan lengkap dengan matahari yang bersinar cerah dan udara yang masih segar. Tapi tak semua cinta tumbuh bersemi dengan sinar matahari pagi ini. Pagi ini beberapa cinta mati. Minggu pagi ini ada beberapa hati yang hancur berkeping-keping laksana debu. Hilang ditelan semesta.
Di dalam kamar, Rizal tertidur di meja komputernya. Walaupun matahari sudah menerangi bumi, tapi tidak kamar Rizal. Gelap, pengap dengan bau yang tidak sedap. Kamar dengan ukuran yang tidak terlalu besar ini berantakan seperti kapal pecah. Buku berantakan di sana-sini. Tampak di pojok kamar tergeletak begitu saja celana jeans, beberapa kaos bau, kaset, CD dan piring-piring kotor yang sudah ada jamurnya. Abu dan puntung rokok juga tampak tersebar di penjuru kamar, di karpet, di piring kotor, di meja, bahkan di kasur.. Benar-benar kamar yang berantakan.
Sepertinya Rizal sudah tak peduli lagi dengan kamarnya dan juga dirinya sendiri. Badannya tambah kumal dengan rambut dan jenggot yang makin panjang saja. Awut-awutan tak karuan. Sudah beberapa hari ini Rizal tak mandi. Wajahnya kuyu seakan tak ada lagi energi yang tersisa untuk meneruskan hidupnya. Bagi dia sudah tak ada yang penting lagi.
Kesedihan yang amat sangat sekarang tengah dirasakannya. Sejak mengetahui Atik berselingkuh, Rizal menghabiskan semua waktunya di dalam kamar. Rizal hanya keluar kamar untuk ke kamar mandi atau mengambil makanan. Menjauhi dunia yang makin menyebalkan. Bersenggama dengan buku-buku bacaan yang berat seperti filsafat atau pun hal-hal absurd lainnya. Tak ada yang penting lagi bagi dia. Bahkan dirinya sendiri.
Sebegitukah penting cinta itu? Bahkan lebih penting bagi pecintanya sendiri? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang cinta yang sekarang sedang menghantui benak Rizal. Sepertinya Rizal belum akan menemui jawabannya dalam waktu dekat ini. Paling tidak, belum ketemu hari ini.
Pagi ini juga, di sebuah stasiun kereta api ratusan kilometer dari Jakarta, Mbak Yuli turun dari kereta malam dengan tetes air mata berlinang di pipinya. Tampak si kecil Nadya bersamanya, dalam pelukan hangat ibunda. Si kecil Nadya tidur dengan pulas. Sementara para porter sibuk menurunkan barang bawaannya yang bejibun.
Mbak Yuli berniat membesarkan Nadya di kota kecil kelahirannya ini. Menjauh dari Jakarta, menjauhi hiruk pikuk dunia yang telah membuatnya terluka. Kedua orang tua Mbak Yuli menyambutnya dengan hangat, dengan pelukan prihatin atas apa yang telah dialami anaknya. Pelukan selamat datang yang penuh cinta dan sedikit menentramkan hati Mbak Yuli. Menggantikan cintanya yang telah mati kepada Mas Wid.
Pagi ini adalah pagi yang berbeda dengan pagi-pagi yang lain bagi Mas Wid dan Atik. Kecerahan pagi merembes ke dalam hati mereka berdua. Pagi ini mereka berpakaian rapi, duduk di depan seorang penghulu. Bersumpah untuk mengarungi sisa kehidupan mereka bersama-sama. Penuh cinta dan kebahagiaan. Seperti yang pernah diinginkan oleh semua orang, termasuk Rizal dan Mbak Yuli.
Benarkah cinta yang dirasakan Mas Wid dan Atik adalah cinta yang sejati? Bukankah cinta sejati tak jahat dan selalu baik, tak pernah membunuh cinta yang lain? Tapi memang takkan pernah ada dua cinta dalam satu hati. Satu sama lain akan saling membunuh sehingga hanya akan tersisa satu cinta. Tak ada yang tahu, apakah cinta yang tumbuh di hatimu adalah cinta sejati? Tak ada seorang pun yang tahu.
Acara ijab kabul akan segera dimulai. Satu kisah cinta telah dimulai sekaligus mengakhiri lebih banyak kisah cinta yang lain.
Kedoya, Mei-Juni 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s