CINTA SEJATI

Posted on Updated on


Saat itu malam telah sempurna gelap di sebuah jalan yang sangat minim akan penerangan. Sepertinya hanya tersisa satu lampu merkuri yang masih menyala dari belasan yang seharusnya semua menyala. Tapi setiap orang maklum. Ini memang jaman susah.
Buk!
Pukulan itu telak mengenai perut lelaki kerempeng yang memakai jaket jeans belel itu. Dia merunduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Lima orang berbadan tegap lengkap dengan tato-tato sangar, menghajar habis-habisan lelaki kerempeng dijalan gelap itu.
Sebenarnya lelaki kerempeng itu tidak takut sama sekali. Bahkan bisa dibilang dia adalah orang dengan tipe nekat. Perawakannya memang kecil, kerempeng dan tak punya otot sama sekali. Penampilannya lusuh dengan jaket jeans belel yang mungkin terakhir dicuci 3 bulan yang lalu. Rambutnya acak-cakan. Tapi sekali lagi, dia bukan tipe orang penakut. Dia adalah seorang pemberani.
Buk!
Kali ini giliran muka lelaki kerempeng itu yang dihajar.
” Gue udah bilang! Jangan sekali-sekali dekati Silvia lagi! Silvia itu sekarang milik Andre! Tapi lo masih aja nekat! Lo mo cari mati, ya! ”
Buk! Buk! Kembali lelaki kerempeng itu dihujani pukulan. Darah kental mulai mengalir dari lubang hidungnya. Tapi keberanian lelaki itu tak surut.
” Kalo berani, suruh Andre datang sendiri ke sini! Tak usah pake tukang pukul tak berotak kayak kalian! Bener-bener pengecut!” Lelaki itu berteriak lantang ke arah para tukang pukul itu.
” Anjing! Kurang ajar!”
Buk! Buk! Crot! Buk! Des!
” Aaargggh…..!”
*** *** ***
Saat itu juga, di tengah-tengah sebuah taman indah yang diterangi lampu-lampu berkesan romantis, seorang lelaki perlente sedang duduk berduaan dengan seorang gadis cantik yaang sejak tadi diam membatu.
Lelaki itu bertubuh gendut. Sepertinya segala organ yang dipunyainya berbebtuk oval bahkan mendekati bulat. Dia memakai pakaian necis lengkap dengan dasinya. Napasnya selalu tersengal-sengal dan dapat dipastikan terdapat banyak kolesterol di dalam tubuhnya.
” Sudahlah, Silvia. Jangan pernah lagi kau pikirkan pacarmu itu lagi. Lelaki kere dan tak berpendidikan. Benar-benar tak punya masa depan!” Lelaki perlente itu nyerocos. Tak ada jawaban.
” Kalau kamu tetap bersikeras kawin sama dia, kamu mau makan apa? Makan cinta? ” Masih tak ada jawaban.
” Lihat aku! Seorang pengusaha kaya raya, punya masa depan jelas! Kamu tak usah takut! Kamu dijamin akan tetap akan menjadi orang kaya, sampai mati. Karena harta bapakku takkan habis oleh tujuh turunan sekaligus!” Lagi-lagi tak ada jawaban.
” Sedangkan lelaki pujaan hatimu? Hanyalah seorang seniman yang tak pernah jelas juntrungannya. Beli jaket yang sedikit bagus bagus aja dia tak mempu, ha…ha…ha…” Masih saja tak ada jawaban dari Silvia. Benaknya menerawang ke lelaki pujaannya. Lelaki yang selalu memakai jaket jeans belelnya. Tapi silvia malah suka.
*** *** ***
Buk! Des! Wek!
Jaket jeans belel lelaki kerepeng itu makin hancur tercabik-cabik oleh perkelahian di jalan remang-remang itu. Lima tukang pukul itu masih saja terus menghajar lelaki kerempeng itu.
” Lo memang susah diatur! Lo memang Anjing! Bangsat! ” Teriak salah seorang tukang pkul itu.
Buk! Des! Crot!
” Walaupun lo semua hajar gue sampai gue mati, gue tetap mencintai Silvia! Lo catat itu! ” Kali ini lelaki kerempeng yang bicara. Suaranya masih menggelegar berani walaupun badannya sudah tak memungkinkan untuk menang melawan ke limanya.
” Gue akan tetap cinta Silvia!”
Buk! Des! Crot!
*** *** ***
Silvia di taman itu hanya diam. Membatu. Lelaki perlente di sampingnya terus-terusan nyerocos. Tapi Silvia tetap diam tak menanggapi. Pikirannya menerawang. Kalut. Cintanya hanya untuk lelaki pujaan yang selalu memakai jaket jeans belel. Silvia merasa tidak akan merasa sanggup hidup tanpa dia. Lebih baik mati daripada hidup tanpa cinta lelaki berjaket jeans belel. Yah, lebih baik mati…
*** *** ***
Cling!
Di jalan remang itu, para tukang pukul mulai tak sabar. Masing-masing mulai mengeluarkan pisau. Pisau-pisau mengkilap yang memantulakan cahaya sinar lampu merkuri satu-satunya di jalan itu.
mereka mengepung lelaki kerempeng berjaket jeans belel tersebut sambil menghunus masing-masing pisaunya. Lelaki kerempeng itu tetap tak merasa takut. Dia siaga menerima segala kemungkinan.
*** *** ***
Di taman itu, tiba-tiba Silvia menghunus guntuing rumput yang tergeletak di bawah pohon palem.
” Silvia! Apa-apaan kau?”
” jangan mendekat!” Kali ini Silvia berbicara.
” Sayang, tunggu aku di Surga. Aku akan ke sana sekarang…” Dengan pikiran menerawang ke lelaki pujaannya dia mengayunkan gunting itu ke perutnya.
*** *** ***
Di jalan remang itu, tiba-tiba mereka berlima buas menghunjamkan pisau-[pisaunya ke tubuh lelaki kerempeng itu.
Jleb! Jleb! Jleb! Tusukan demi tusukan. Hingga akhirnya tubuh lelaki kerempeng itu limbung dan jatuh ke tanah.
” Silvia, sampai ajal menjemput aku akan tetap cinta…” dan lelaki kerempeng yang selalu memakai jaket jeans belel itu pun pergi ke Surga untuk menikah dengan kekasihnya.
Kedoya, November 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s