KEBAKARAN

Posted on Updated on


Terbakar. Ya, catatan penting itu terbakar sedikit demi sedikit. Huruf-huruf di dalamnya mulai termakan dalam api. Huruf-huruf yang terangkai membentuk kalimat-kalimat dangan makna penting. Kalimat-kalimat tercatat yang sangatlah penting, berisi data-data paling struktural. Dan kini catatan itu sedikit demi sedikit terbakar. Menghitam dan akhirnya pecah menjadi abu hitam yang terbang ke sana kemari tertiup angin.

Kantin tak terlalu ramai. Kantin itu terletak di dalam gedung parkir sebuah pusat perbelanjaan. Biasa, pasti pengap. Karena tempat parkir biasanya tak pernah dilengkapi oleh penyejuk udara atau tak pernah dirancang khusus untuk sirkulasi udara yang sehat. Akibatnya gedung parkir dan seisinya – biasanya ada kantin, mushola, ruang istirahat pegawai, dan juga ruang maintenance gedung – tak pernah tak pengap. Selalu pengap. Dan selalu dianggap tak penting.
Begitu juga sore itu. Udara terasa pengap di dalam kantin itu. Kantin itu bersebelahan dengan mushola mungil yang sedang ramai orang karena memang sudah waktunya sholat maghrib.
Sore itu lelaki itu ngoceh kesana-kemari. Mungkin agak sinting orang itu. Perawakannya tinggi tapi tak terlalu kekar. Rambutnya keriting kecil-kecil merah terbakar sinar matahari. Kulitnya hitam legam seperti seorang petani yang setiap hari selalu ke sawah. Tapi jangan berpikir dia orang Indonesia Timur, sama sekali tak mirip. Matanya tajam dengan alis tebalnya. Penampilannya rapi dengan kemeja merah kotak-kotak dan celana jeans hitamnya. Di sakunya terselip ponsel lengkap dengan handsfree yang terpasang di kuping. Sama sekali tidak seperti orang gila, apalagi gelandangan!
” Lihat saja pemilu depan ini! Semuanya akan kacau!” orang itu berkata sambil menarik kursi untuk duduk di depanku, seperti mengajakku berbicara dengannya. Awalnya aku bingung juga, makhluk dari mana ini? Kenal pun tidak. Waktu itu aku baru saja duduk setelah memesan minuman.
” Kacau? ” Aku pun menanggapinya. Sekedar berbasa-basi. Apalagi ibu penjaga kantin memberi kode, jari telunjuk yang ditempelkan di dahi dengan posisi miring. Oh, aku paham. Aku pun sebenarnya tak terlalu tahu tentang politik walaupun aku berstatus mahasiswa. Tak pernah tertarik.
” Ya. Kacau. Semua sudah berjalan di luar rel yang seharusnya. Rel demokrasi, ” orang itu terus saja nyerocos. Wah, apa ini? Kok sampai ngomongin rel? Memang kereta api?
” Dalam demokrasi, seharusnya tak ada money politics. Tak ada politik dagang sapi. Kalau mau dagang sapi, jangan di gedung parlemen! Pergi saja ke pasar hewan!” orang gila itu masih saja nyerocos. Benar ibu pemilik kantin ini, orang ini memang gila. Tunggu! Kita tak boleh menjudge seseorang begitu saja. Harus ada bukti-bukti obyektif yang membuktikan bahwa orang ini gila. Yah, paling tidak yang kelihatan obyektif.
” Rakyat pun dibuai oleh janji-janji palsu. Pilih aku, maka demokrasi akan tegak! Oh, omong kosong! Pilih aku, maka keadilan akan merata! Bohong besar! Pilih aku, rakyat kecil akan sejahtera! Sama sekali bohong!” Woo! Radikal juga orang gila ini. Tapi, sebentar, ada lagi yang lebih menarik.
” Semua kecap pasti selalu bilang nomor satu. Tapi kalau mau ngecap, sedikit rasional, dong! Kalau mau bohongin orang mestinya pakai ini”, telunjuk orang itu di tempelkan pada dahinya, “…bukan pakai ini!” Telunjuk orang ini pun pindah ke dengkul.
” Semua orang tahu, pemilu yang diadakan tiap 5 tahun itu berbiaya sangat mahal. Dan Anda tahu siapa yang membiayainya? Rakyat! Kita semua yang membiayai segala macam omong kosong ini. Kita yang diperas untuk omong kosong mereka!” Uff, air liurnya sebagian muncrat ke wajahku. Habis terlalu menggebu-gebu, sih.

Api mulai membesar. Menyambar gorden jendela yang ada di kamar itu. Kain beludru ungu itu pun mulai juga menyala-nyala. Berkerut kemudian terbakar api dan akhirnya hilang menjadi debu. Terus terbakar. Terus membesar tanpa disadari oleh seorang pun di dalam rumah itu. Api pun mulai membakar meja dan kayu jendela kamar itu.

Orang gila itu mengambil sebungkus rokok dari saku bajunya. Hmm, Marlboro soft pack! Gila! Jaman susah kayak gini rokoknya rokok impor. Padahal dollar kan lagi mahal.
” Anda mahasiswa? ” orang gila itu bertanya padaku sambil menghirup dalam-dalam sedotan pertamanya. Aku pun mengangguk.
” Kasihan para mahasiswa…”
” Kenapa?”
” Aku merasa kasihan pada mahasiswa-mahasiswa angkatan Anda ini. Karena begitu Anda dan teman-teman Anda lulus, permasalahan pertama yang harus dipecahkan tak pernah dibahas dalam buku-buku kuliah. Permasalahan pertama Anda adalah, bagaimana anda harus cari kerja! Bukankan itu tragis?” Aku diam saja. Dalam hatiku aku pun mengiyakan perkataan orang gila ini.
Aku mulai berpikir dia bukanlah orang gila seperti yang ibu pemilik kantin dan orang-orang lain tuduhkan. Tapi demi sopan santun secara lisan aku sepakat dengan mereka, menganngap orang ini gila.
” Sudah mahal kuliahnya, eh, setelah lulus pun cari kerja sulitnya minta ampun. ” Kali ini aku sepakat seratus persen. Jadi mahasiswa tidak gampang. Mesti punya duit nganggur yang banyak. Tidak murah jadi mahasiswa.
” Seharusnya pemerintah tak mengejar kuantitas, tapi kualitas. Tapi buktinya mana? Sekolah negeri pun makin hari makin mahal. Begitulah kalau duit jadi panglima.” Aku diam.
” Benar-benar kasihan….”

Meja dalam kamar itu mulai menjadi arang, terbakar. Semua catatan-catatan penting diatas meja sudah musnah terbakar. Gorden jendela sudah habis. Api pun mulai merembet ke tempat tidur. Saat itu memang tak ada yang sedang tidur di kamar itu. Sprei bermotif bunga-bunga mulai terbakar. Begitu juga dengan guling dan bantal. Isi bantal dan guling terbakar pelan-pelan, mengeluarkan asa[p tebal yang dapat mengganggu pernapasan. Perlahan tapi pasti kamar itu mulai habis terbakar.

Asap Marlboronya menggodaku. Hmm, pasti sudah lama aku tak menghisapnya.
” Boleh aku minta sebatang saja?” Kuberanikan diri untuk sekedar meminta sebatang rasa kangen.
” Oh, silahkan… ” Uhff, lega. Akhirnya aku dapat menikmatinya.
” Anda aslinya mana? ” tanyaku sekadar untuk berbasa-basi.
” Aku bukan orang kota ini, lihat KTP ku. ” Aku lihat KTPnya. Ternyata, dia adalah penduduk wilayah ujung paling barat republik ini, wilayah yang dianggap selalu membangkang pemerintah pusat.
” Wah, hati-hati, Bung! Anda di sini bisa dicurigai sebagai pemberontak. Dan omongan Bung bisa bikin susah Bung sendiri.” Orang itu hanya diam saja. Tak bergeming.
” Aku sudah lama tinggal di kota ini. Kalau dihitung-hitung sudah 8 tahun lebih aku di sini.”
” Apakah Anda tergabung dengan kelompok pemberontak?” tanyaku.
” Tidak.”
” Atau bersimpati?” Hmm, jadi penasaran juga untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
” Tidak juga. Aku hanyalah salah satu rakyat republik ini yang ingin kita semua berjalan di rel yang benar. Salah seorang yang geram dengan keadaan republik ini tanpa tahu harus berbuat apa. Yang aku tahu hanya mengoceh, mengoceh dan mengoceh tentang kegeramanku ini. Aku hanya ingin berbicara apa adanya ke semua orang, bahwa kita mempunyai borok!” Dia menatapku tajam. Aku pun diam dengan benak penuh tanda tanya.
” Apalah artinya kalau kesepuluh jari tangan kita penuh dengan berlian kelas satu kaki kita penuh borok yang menjijikan? Apalah artinya? Tak berarti sama sekali..!” Kali ini aku diam dengan benak berisi kata sepakat.
” Benar-benar tak berarti….”

Api makin lama maikin besar saja. Api mulai merembet ke ruangan lain. Pintu kamar itu sudah pula termakan api. Rumah itu telah dipenuhi dengan asap. Heran, penghuni rumah itu masih saja asyik ketiduran dalam buaian mimpi masing-masing. Asap yang tebal sebagai adanya kebakaran di rumah itu benar-benar tak dihiraukan mereka. Ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu dan ruang-ruang lainnya pun sudah mulai termakan api. Tetap saja para penghuninya terlelap dalam mimpinya.

” Angkat tangan!”
Tiba-tiba di sekitarku dan orang gila tadi dikepung oleh orang-orang berbadan tegap dengan rambut cepak. Mereka tak pakai seragam. Masing-masing membawa pistol yang siap memuntahkan peluru.
” Kami dari pihak berwajib. Jangan coba-coba melawan! Kalian berdua di tahan karena telah mengadakan pertemuan untuk merencanakan menggagalkan pemilu dan itu berarti makar terhadap negara. Merencanakan pemberontakan!” Aku pun lemas, tak tahu mesti berbuat apa.

Api telah membakar apa saja yang ada di rumah itu, termasuk penghuninya. Betul-betul mengherankan! Sampai detik terakhir pun mereka tak bangun dari tidur mereka. Tak bangun dari mimpi-mimpi mereka. Hingga akhirnya rumah itu roboh menjadi arang.

Kedoya, 15 Desember 2003

One thought on “KEBAKARAN

    watch Dogs ps3 said:
    Agustus 8, 2013 pukul 5:38 am

    Excellent post. I was checking continuously this weblog and I am inspired!
    Very helpful info particularly the final part🙂 I deal with such information a lot.
    I was looking for this particular info for a very lengthy time.
    Thank you and best of luck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s