KISAH YAHYA AS, SEORANG NABI MULIA YANG TERBUNUH

Sebagaimana cerita di postingan sebelumnya, Yahya as adalah anak kandung nabi Zakariya as, seorang anak yang begitu ditunggu-tunggu kehadirannya hingga akhirnya malaikat datang membisikkan bakal kelahiran Yahya as.

Yahya adalah anak yang istimewa, bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Allah belum pernah menciptakan orang yang seperti Yahya sebelumnya. Yahya mendapatkan ilmu langsung dari Allah seperti halnya Khidir as.

Yahya as suka pergi ke gunung, gurun atau tempat-tempat sepi dan kemudian tinggal di sana selama berbulan-bulan. Beliau beribadah kepada Allah, menangis di hadapan-Nya dan selalu berdoa. Beliau merasa tenteram jika berada di tengah-tengah alam.

Di jaman Nabi Yahya hidup, raja yang berkuasa adalah raja diktator yang bodoh dan bermoral bejat serta sewenang-wenang. Kebejatan telah marak di kerajaannya karena moral rajanya yang juga bejat.

Sudah bukan rahasia lagi jika raja tertarik akan kecantikan istri saudaranya sendiri. Istri saudaranya itu memiliki anak perempuan yang juga cantik. Anak perempuannya ini juga terkenal sebagai penari yang seksi. Menurut banyak kisah, penari seksi itu jika menari memakai 7 selendang. Sambil menari, dia akan melepas satu-persatu selendangnya hingga akhirnya telanjang bulat. Di jaman modern tarian seperti ini dikenal sebagai striptease.

Suatu hari, sang raja bertanya ke Nabi Yahya, “Bolehkah aku menikahi istri saudaraku?”

“Tidak boleh,” jawab Yahya.

Mendengar jawaban Yahya, raja terus saja membujuk Yahya untuk diperbolehkan menikahi istri saudaranya secara syariat. Tapi agama memang tidak memperbolehkan, apa boleh buat, Yahya juga kukuh untuk menolaknya.

Melihat kekukuhan Yahya, sang raja murka. Segera diperintahkan anak buahnya untuk memenjarakan Yahya. Sedangkan istri saudaranya pun kemudian diperkosa.

Gadis penari yang kebetulan melihat itu semua, dan melihat kekukuhan dan ketenangan Yahya, dia jatuh cinta. Gadis penari itu mendatangi Yahya di penjara.

“Aku cinta padamu, dan maukah kau mencintaiku, Yahya?” tanya gadis penari itu.

“Di dalam hatiku, hanya ada satu cinta, yaitu cinta kepada Allah,” jawab Yahya. Gadis penari itu terus mencoba untuk merayu Yahya, tapi Yahya tidak tergoyahkan. Akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Yahya dengan putus asa sambil membawa dendam yang luarbiasa kepada Yahya.

Pada suatu malam, sang raja sedang minum-minum minuman keras sambil dihibur oleh tarian seksi gadis penari itu. Suara musik mengiringi gadis penari yang melepaskan satu persatu selendang yang dikenakan. Setiap selendang yang dilepaskan, sang raja makin antusias. Ini tidak mengherankan, alkohol sudah menguasainya.

Ketika hanya tinggal satu selendang saja yang belum terbuka, tiba-tiba gadis penari itu menghentikan tariannya.

“Kenapa berhenti?” tanya raja.

“Sebelum aku teruskan, aku ada permintaan, Raja,” kata gadis penari.

“Apa permintaanmu?”

“Aku ingin Yahya ibn Zakariya.”

“Mintalah sesuatu yang lain.”

“Kalau begitu, aku ingin kematian Yahya ibn Zakariya.”

Sambil meneguk minuman kerasnya, sang raja memerintahkan panglimanya, “Bunuhlah Yahya ibn Zakariya sekarang juga.”

Para prajurit kemudian bergegas ke penjara untuk mengeksekusi nabi mulia, Nabi Yahya ibn Zakariya.