KENAPA SIH, AL-QUR’AN ITU DISEBUT MUKJIZAT?

Posted on


Pertanyaan itu menggantung di benakku sejak aku masih kecil. Nabi Nuh as mempunyai mukjizat yang bisa mendatangkan banjir besar. Nabi Musa as bisa mengubah tongkat menjadi ular besar dan membelah lautan. Nabi Ibrahim as bermukjizat tahan terhadap api. Lalu Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir dan yang paling utama, kok mukjizatnya Al-Qur’an ya? Lalu apa hebatnya Al-Qur’an dibandingkan mukjizat-mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya?

Jawaban ini akhirnya aku temukan di buku Nabi-Nabi Allah karangan Ahmad Bahjat, yang terjemahan Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Qisthi Press. Dalam buku tersebut aku mulai memahami kehebatan Al-Qur’an dari sisi yang aku mengerti, yaitu dari sisi sastra. Sebenarnya banyak sekali buku yang menjelaskan kelebihan Al-Qur’an, tapi buku ini adalah buku pertama bagiku yang membuka hatiku untuk menyelami keindahan dan kehebatan Al-Qur’an. Dan ini adalah sebuah bukti untukku bahwa kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an tak mungkin dibuat oleh manusia. Membaca buku tersebut membuatku berkeinginan untuk mempelajari bahasa Arab, karena dengan memahami bahasa Arab kita akan lebih bisa merasakan keindahan Al-Qur’an.

Allah menurunkan mukjizat disesuaikan dengan jaman di mana Nabi yang membawa mukjizat tersebut hidup. Mukjizat yang bisa dilihat dan dirasakan panca indera manusia diturunkan ketika manusia meminta bukti kerasulan seorang Nabi dengan sesuatu yang menakjuban di luar kewajaran. Tapi ketika manusia semakin “matang” dan “dewasa”, mukjizat yang diturunkan Allah pun berbeda. Dengan kata lain, Allah membekali para Rasul-Nya dengan mukjizat yang sesuai dengan kondisi, zaman dan pengetahuan manusia ketika itu. Nabi Musa diberi mukjizat mengubah tongkat menjadi ular besar karena pada zaman Fir’aun semua orang menyukai sihir dan para penyihir mempunyai posisi yang terhormat. Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa as melebihi ilmu sihir dan ini membuktikan bahwa kelebihan Nabi Musa as ini berasal dari Allah semata. Nabi Isa as hidup di jaman keemasan bangsa Romawi yang sangat maju dalam ilmu kedokteran dan hukum. Maka mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa as adalah sesuatu yang menghebohkan di bidang kedokteran sekaligus hukum, yaitu menghidupkan seseorang yang telah lama mati karena dibunuh, kemudian menanyainya siapa pembunuhnya. Kemampuan ini melampaui ilmu kedokteran dan hukum sekaligus dan merupakan sesuatu di luar kendali akal manusia. Memang, manusia zaman itu menghendaki hal-hal semacam ini untuk percaya akan kerasulan Nabi Isa as.

Ketika peradaban manusia makin maju dan ilmu menjadi pemimpin alam, maka “kalimat” atau buku adalah hal yang sangat penting. Sudah menjadi kehendak Allah bahwa manusia sudah tidak puas dengan mukjizat yang aneh-aneh. Manusia zaman sekarang ini sangat menghargai logika atau nalar. Maka Allah pun menurunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat di zaman Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman. Metode, nilai, aturan, kisah, hukum dan semua yang tertulis di dalamnya adalah mukjizat. Dan untuk saat ini kita hanya akan membahas kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi penuturan kisah para Nabi, di mana bahasan ini lebih dekat dengan sastra.

*** *** ***

Di dalam Al-Qur’an banyak termuat tentang kisah-kisah, dan kisah yang paling urgen adalah kisah-kisah para Nabi. Mustahil bagi seorang penulis –walaupun dia adalah penulis yang jenius- untuk bercerita tentang kisah yang sama, diulang berulangkali hingga sepuluh kali, tetapi masih mamupu mempertahankan tingkat substansi dan nilai yang setara pada kesepuluh kisah yang diulang-ulangnya tersebut. Bisa dipastikan ada penurunan nilai dan substansi pada beberapa ulangan kisah tersebut. Dan dapat dipastikan pula, dia akan mengulangi kisah yang sama tersebut dengan kesan yang sama pula seperti penuturan kisah yang pertama. Mustahil baginya dia menyajikan hal yang baru pada kesepuluh ulangan tersebut.

Tapi ternyata penurunan nilai dan substansi tersebut tidak terjadi pada penuturan kisah di dalam Al-Qur’an, walaupun kisah tersebut diulang-ulag hingga 15 kali! Anda pasti akan terkagum-kagum, bagaimana sebuah kisah diulang-ulang hingga lima belas kali tanpa harus mengurangi nilai dan substansinya di setiap pengulangannya. Kisah yang dituturkan sama, derajat yang dituturkan juga sama tapi pada tiap pengulangan kita bisa rasakan kesan yang berbeda. Ini karena di setiap pengulangan adanya penambahan kalimat, atau pengurangan kata, atau pengungkapan dengan kata-kata baru, atau dengan rangkaian kata yang belum pernah ditulis, atau hanya dengan lintasan ide di dalam hati yang belum pernah ada sebelumnya. Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengagumkan! Kesimpulannya adalah kisah-kisah Nabi dalam Al-Qur’an ini jelas-jelas ditulis bukan oleh manusia, tapi oleh Allah Tuhan seru sekalian alam.

Mari kita simak kisah tentang Nabi Musa as. Allah menceritakan kisah Musa yang sedang berhadapan dengan api suci di bukit Thuwa dengan beberapa kali pengulangan. Pada penuturan pertama, Allah menuturkan kisah ini dengan efek yang menakutkan, mengkhawatirkan sekaligus rasa keagungan pada diri pembacanya. Lalu, pada penuturan kedua, Allah menuturkan kisah ini lagi, tapi efek yang dirasakan pembaca adalah rasa cinta, kasih sayang dan harapan. Padahal keduanya menuturkan kisah yang sama, dengan pelaku yang sama yaitu Musa dan tongkatnya. Tak ada sedikitpun perubahan dalam kisah itu, baik tokoh maupun alur ceritanya.

Demikian itulah salah satu keistimewaan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Di dalamnya tersimpan keistimewaan sebuah mukjizat. Sesungguhnya kata-kata itu tidak sekedar bercerita kepada Anda, tapi kata-kata itu telah bergerak dalam benak Anda dan memainkan sebuah cerita di sebuah panggung. Anda akan dapat melihatnya dan mendengarnya. Anda pun akan menganggap bahwa ini adalah teater yang paling hebat yang pernah ada karena setiap kali sebuah lakon selesai dan kemudian Anda membaca lagi sebuah lakon yang sama dalam versi lain, Anda pun masih saja dibuat ternganga dalam kekaguman.

Di antara kisah-kisah Al-Qur’an yang dikemas secara dramatis adalah kisah Nabi Hud as dan kisah Nabi Shalih as. Sedangkan kisah yang disajikan dengan metode yang mirip dengan film adalah kisah Nabi Yusuf as dan kisah Nabi Musa as.

Al-Qur’an diturunkan pada 14 abad yang lalu, yang pada waktu itu belum ditemukan kaidah-kaidah cerpen, drama atau pun film. Tak ada orang yang menceritakan sebuah kisah dengan tiga kaidah seni tersebut pada waktu itu. Hingga akhirnya orang Eropa-lah yang berhasil mengadopsi pertama kali cara penuturan tersebut dari Al-Qur’an untuk menceritakan berbagai kisah. Orang-orang Eropa ini pada akhirnya mengetahui bentuk-bentuk ekspresi seni tanpa syair dan kisah-kisah legenda kuno dari Al-Qur’an.

*** *** ***

Kisah Nabi Musa as diulang kurang lebih dalam 30 tempat. Kisah ini adalah kisah yang paling banyak diulang dalam Al-Qur’an. Ini termasuk kisah yang paling populer. Sedangkan kisah Nabi Ibrahim as diulang di 20 tempat. Di setiap pengulangan pasti ada hikmah yang terkandung, seperti yang telah kita bahas di atas.

Tidak hanya pengulangan cerita, kisah para Nabi di Al-Qur’an ini selalu mempunyai rujukan kembali pada misi agama. Kesan seperti itu diperoleh kalau kita mau melihat cara penyajian kisahnya yang disesuaikan dengan keadaan atau tema yang ada. Terkadang penyajian kisah tersebut dimulai dari awal, atau bisa juga dari tengah, atau bisa juga dari akhir. Terkadang satu kisah dipaparkan secara lengkap, terkadang beberapa bagian saja, dan terkadang menurut kebutuhan saja; tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu lengkap. Meskipun begitu, semua ini tidak mengurangi makna yang terkandung. Yang harus diingat juga adalah, Al-Qur’an bukanlah sebuah buku sejarah walaupun Al-Qur’an banyak mengandung sejarah. Al-Qur’an adalah kitab dakwah untuk menyeru ke jalan Allah.

Dalam kisah para nabi ada sejumlah kisah yang dimulai sejak kelahiran sang nabi. Seperti kisah Nabi Adam as misalnya, yang di dalamnya ada penegasan hukum Allah dan peniupan ruh. Demikian pula kisah kelahiran Nabi Isa as, yang lahir tanpa adanya perantara pernikahan, di mana ibunya, Maryam sang perawan suci, hamil tanpa pernah disentuh oleh seorang lelaki. Juga kisah tentang kelahiran Musa as, yang saat itu Fir’aun memerintahkan semua bayi Bani Israel harus dibunuh. Namun Allah berkehendak lain, Musa as yang masih bayi justru mendapatkan perlindungan dari istana Fir’aun sendiri yang nantinya adalah musuh besarnya.

Di sana juga ada beberapa kisah nabi yang dilewatkan masa kelahirannya dan kisahnya dimulai ketika dia sudah remaja atau pun dewasa. Salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf as. Kisah ini dimulai dengan mimpi Yusuf di waktu kecil. Setelah itu, mimpi Yusuf menjadi peran utama dalam kehidupannya hingga kemudian mimpi itu menjadi nyata. Sementara kisah Ibrahim as diawali dengan masa mudanya. Ibrahim muda memandang langit dan kemudian merenung, bagaimana mungkin manusia menyembah bulan, bintang atau matahari, padahal semua itu makhluk yang bisa terbit dan bisa pula terbenam. Kisah Nabi Daud as juga dimulai pada masa mudanya. Daud muda yang samasekali tak mengerti tentang perang, tiba-tiba berperang untuk menghadapi Jalut, raja pemberani yang jago berkelahi pada masanya. Daud yang masih hijau harus berhadapan dengan panglima perang yang paling perkasa waktu itu. Namun Allah menolong Daud dan memenangkannya dalam pertempuran tersebut.

Ada juga kisah yang langsung memaparkan episode terakhir, seperti kisah Nabi Nuh as, Hud as, Shalih as, Syu’aib as dan beberapa nabi lainnya. Al-Qur’an tidak memberitahu kita tentang kelahiran atau masa muda mereka. Namun tiba-tiba para Nabi ini dikisahkan sudah membawa risalah dari Allah dan kita menyaksikan kisah para nabi tersebut dalam menjalankan tugasnya sebagai Nabi.

Kisah-kisah Al-Qur’an ini juga ada yang diceritakan dengan detail yang luar biasa, ada juga yang hanya sebagian peristiwa. Kisah yang diceritakan secara detail dan panjang seperti kisah Nabi Musa as, Ibrahim as, serta Nuh as. Dalam Al-Qur’an juga dikisahkan beberapa kisah yang dipaparkan tanpa adanya nama tokoh atau pun jumlah mereka seperti kisah tentang Ashhabul Kahfi. Dalam kisah tersebut hanya disebutkan masa tidur mereka di dalam gua bersama anjing mereka di dalam gua selama 309 tahun.

Dalam membaca kisah para Nabi di Al-Qur’an, Ahmad Bahjat memposisikan dirinya sebagai kritikus seni, yang selalu mencari celah untuk melontarkan kritik atau pun komentar. Tapi, setiap kali dia selesai membaca sebuah kisah dia langsung tersungkur untuk bersujud kepada Allah, dan dia bertambah yakin jika kisah tersebut bukanlah buatan manusia, ide-ide kisah itu juga bukan buatan manusia, kata-kata yang terucap juga bukan buatan manusia, adegan yang ada jelas bukan rekayasa manusia, dan semua yang terdapat di kisah tersebut samasekali tak ada campur tangan manusia. Semua kisah yang ada di Al-Qur’an berasal dari Allah Yang Maha Kuasa semata, mulai dari ide yang tertuang, cara penyampaian, metode pemaparan kisah hingga susunan dan keserasian dalam metode tersebut.

Semoga tulisan ini menjadi sebuah cahaya bagi Anda, dan juga bagi saya sendiri. Amin.

8 thoughts on “KENAPA SIH, AL-QUR’AN ITU DISEBUT MUKJIZAT?

    aji said:
    November 23, 2008 pukul 3:52 pm

    alQuran bukan untuk di pelajari tapi diamalkan

      Anonymous said:
      Mei 20, 2014 pukul 8:29 pm

      Bagai mana kita mengamalkan al quran kalaw kita tidak mengkaji dan mempelajarinya

    Marhan Faishal responded:
    Desember 4, 2008 pukul 10:25 am

    Ilmu menuntun kita untuk mengamalkan agama

    Allahu Akbar said:
    Desember 14, 2008 pukul 10:32 pm

    Luar biasa tanpa mengerti apa yang di amalkan …tentunya tanpa arah…. seperti berjalan dalam gelap…. tahu tujuannya dan perintah kemudian berjalan… tentu tidak akan pernah sampai ke tujuan namun jika tahu tujuannya, mengerti tujuannya mau kemana, apa yang perlu dibawa selama perjalanan maka pada saat berjalan lampu itu akan terus menyala hingga kita sampai ke tujuan… Subhanalloh…, Terima kasih sudah memberikan motivasi untuk lebih menggali dan mengamalkan Qur’an.

    mudi said:
    Januari 25, 2009 pukul 1:03 pm

    ooo…………gt??????????????

    M said:
    Mei 13, 2009 pukul 7:38 pm

    Mukjizat allah yang diberikan kepada nabi isa adalah terkandung dalam al quran surat?

    [...] Source: marhanfaiz.wordpress.com/2008/09/18/kenapa-sih-al-qur%E2%80%99an-itu-disebut-mukjizat/ [...]

    maziyah maliyati said:
    Juni 4, 2011 pukul 3:29 pm

    thank udah nambah referensi. kemarin sempat ditanyai ama muridku, tapi gak uyakin jawabnya….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s