PROLOG
Sebelum kita membahas tentang Perang Salib, aku ingin bercerita tentang pengalamanku yang menggambarkan pengetahuan umat Islam Indonesia tentang sejarah agamanya sendiri. Saat itu, keluargaku mengadakan acara akikah anakku yang pertama dengan mengundang salah satu ustad yang lumayan terkenal di sekitaran Madiun. Nama Saladin aku berikan kepada anakku untuk penghormatan seorang sultan yang telah merebut Palestina kembali dari tangan kaum Kristen eropa kembali ke tangan pangkuan Islam pada abad pertengahan. Dia adalah Shalahuddin Al-Ayubbi, dan orang barat menyebutnya Saladin.

Konyolnya, sang ustad mengira bahwa nama Saladin adalah akronim dari namaku dan nama istriku. Memang, itu bisa juga dianggap akronim, tapi ada yang lebih bermakna di balik nama itu, yaitu nama seorang sultan besar yang menang di Perang Salib, sebuah perang antara yang haq dan bathil, perang panjang antara Islam dan Kristen. Rasanya menyedihkan mendapatkan kenyataan bahwa orang Islam tak mengetahui sejarah agamanya sendiri.

Melihat kenyataan itu, aku ingin sekali bercerita tentang Perang Salib sebagai sebuah cerita sejarah. Aku menulis seri tulisan ini berdasarkan dari buku yang berjudul Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk karangan Karen Armstrong. Buku ini bercerita cukup komprehensif dan lengkap, membuka mataku untuk yang pertama tentang Perang Salib. Buku ini diterbitkan oleh Serambi dengan tebal mencapai 926 halaman. Di seri tulisan ini aku hanya ingin membahas perang salib, bukan perang-perang suci lainnya sebagai sebuah kisah sejarah yang notabene ditulis oleh ilmuwan barat sendiri – Karen Armstrong, orang Inggris – sehingga kebenaran ilmiahnya cukup kuat. Di sana-sini aku juga menambahkan beberapa pendapatku, mencoba untuk mencari kaitannya dengan kondisi umat Islam di Indonesia di masa sekarang ini.

Akhirnya, aku coba menghibur diri, semoga saja ustad yang memberi tausiah dalam acara akikah anakku tersebut tak kenal Saladin tapi beliau mengenal Shalahuddin Al-Ayyubi dengan segala keteladannya.

*** *** ***

Orang barat menyebut perang salib ini dengan sebutan crusade. Kata ini juga pernah terlontar dari mulut George W. Bush ketika gedung WTC runtuh dalam peristiwa 11 September. Ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat melakukan perang melawan terorisme dipandang sebagai perang salib modern, yaitu perang melawan Islam. Benar atau tidak, silahkan Anda menilai sendiri.

Crusade berasal dari kata bahasa Perancis croix, yang berarti “salib” (cross). Sebenarnya para tentara salib sendiri tak pernah menyebut dirinya sebagai tentara salib, tapi mereka menyebut dirinya sebagai kaum peziarah (pilgrims). Mereka menjahitkan tanda salib di pakaian mereka dan merasa sedang benar-benar mematuhi perintah Kristus, untuk mengambil salib dan mengikutinya hingga mati, jika perlu. Sejak semula, salib dan penyaliban menjadi hal pokok dari gerakan tentara salib. Mereka berbaris untuk membebaskan Gereja Makam Suci, yang mereka yakini sebagai tempat Yesus disalib dan tempat makam Kristus. Saat gerakan ini dikumandangkan, semua tempat ini dikuasai oleh orang Islam.

Sebelum tentara salib menguasai Yerusalem pada Juli 1099 dan membantai 40.000 orang Yahudi dan Islam secara biadab, para pemeluk agama Islam, Yahudi dan Kristen telah hidup bersama dalam suasana damai di bawah naungan hukum Islam selama 460 tahun-hampir separuh milenium!(hal 11). Saladin kemudian berhasil merebut Yerusalem kembali ke tangan orang muslim pada tahun 1187, tapi hubungan ketiga agama samawi tersebut tak pernah sebaik sebelumnya.

Sejarah mencatat bahwa bukan kaum muslimin yang memulai perang salib ini. Justru tegaknya syariah Islam telah melindungi kebebasan ketiga agama samawi di Jerusalem atau Al-Aqsha orang Islam menyebutnya. Perang salib ini dikumandangkan oleh paus, yang merupakan pemimpin tertinggi Kristen, untuk memerangi kaum muslimin yang telah hidup damai bersama orang Kristen dan Yahudi di Al Aqsha. Itulah kenyataan sejarah.


Perang salib telah merubah segalanya. Perdamaian ketiga agama tersebut hanyalah impian, bahkan di jaman modern ini. Di barat, perang salib juga membuat perubahan yang cukup dahsyat. Di Eropa dan Amerika, perang salib telah membuat kebencian yang mendalam pada kaum Yahudi, bahkan hingga kini. Kita ingat Hitler yang telah membantai orang Yahudi di Eropa, walaupun Hitler tak pernah menyatakan gerakannya dengan embel-embel Kristen. Tak hanya itu, sejak perang salib barat memandang Islam adalah musuh peradaban barat yang takkan terdamaikan. Prasangka-prasangka barat ini terlihat jelas dalam konflik-konflik dunia saat ini, seperti di Irak, Afghanistan dan sebagainya. Menurutku, ini sudah menjadi sunatullah, sudah menjadi ketentuan Allah bahwa permusuhan akan terjadi hingga akhir jaman.

KEADAAN EROPA SEBELUM PERANG SALIB
Pada abad kegelapan, jangan bayangkan Eropa seperti sekarang ini, yang teratur dan mempunyai peradaban yang maju. Pada abad itu Eropa benar-benar runtuh. Pada abad 5 dan 6 Eropa diserbu oleh orang barbar dan menghancurkan kekaisaran Romawi. Rakyat tidak dapat bertani secara memadai dan pemukiman-pemukiman mereka tersapu habis oleh siklus kelaparan, banjir dan penyakit yang sepertinya tak kunjung habis. Seolah-olah keimanan Kristen mereka benar-benar dihancurkan oleh “kehidupan duniawi” karena penduduk barbar yang baru di Eropa adalah orang-orang bidah dan memuja berhala. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kasar yang buta huruf dan tidak terdidik. Sedangkan Romawi Timur, yang dikenal dengan nama Byzantium, masih kokoh di Konstantinopel. Kaisar Konstantinopel, yang menjadi kepala negara sekaligus kepala gereja adalah keturunan langsung dari para kaisar Romawi. Kerajaan Yunani Byzantium ini menjadi benteng kuat Kristen saat itu, bertahan dari serbuan Islam yang tangguh dan kaum barbar Barat di Eropa.

Saat abad kegelapan itu terdapat dua poros Kristen, yaitu Gereja Barat yang berada di Eropa dan Gereja Timur yang berada di Konstantinopel – Istambul, Turki di jaman modern ini. Perbedaan kedua gereja ini lebih bersifat psikologis daripada bersifat teologis. Di Eropa yang sedang trauma, gambaran Yesus yang menderita lebih populer. Tapi di Byzantium, gambar-gambar dan mosaik-mosaik Yesus dan para santo mengungkapkan kearifan yang kontemplatif. Gereja Timur memiliki pendekatan pada masalah teologi dan konsep Tuhan yang tradisinya berbeda dengan yang dikembangkan oleh Gereja Latin Barat di Roma.

Orang-orang Byzantium dipandang sebagai antitesis dari identitas orang barat. Orang Byzantium yang kebanyakan berdarah Yunani, dianggap sebagai bukan orang Eropa. Keanggunan dan kecanggihan mereka (yang dalam kenyataannya membuat orang barat iri karena orang Yunani lebih unggul) telah dipelintir menjadi sifat banci yang lemah. Orang barat menampilkan otot kasar mereka melawan otak orang Byzantium. Ini adalah cermin retak orang Eropa, yang menunjukkan imaji inferioritas yang tertanam dalam pada diri orang barat serta cerminan rasa iri orang barat.

Pada akhir abad 10, terjadi Reformasi Cluny di Eropa. Reformasi ini ingin mengkristenkan masyarakat Eropa dan mendidik mereka dalam cara Kristen sejati. Gerakan reformasi itu cukup berhasil. Perlahan orang Eropa menjadi Kristen, walaupun tak semuanya memiliki semangat Kristen. Paus Urban II, adalah seorang pendukung Reformasi Cluny, dan perang salib yang digagasnya dapat dipandang sebagai salah satu hasil yang paling dramatis dari gerakan ini.

Selama abad 11, tak ada lagi invasi-invasi yang menyerang Eropa. Walau begitu, masih tersisa perang-perang feodal yang cukup sengit dan keras. Para ksatria tidak lagi menjadi pembela dunia Kristen. Mereka berperang antara satu sama lain, karena tak adanya musuh bersama. Selama perperangan, seringkali rakyat jelata terperangkap di antara kedua kubu ksatria ini. Mereka biasanya akan berlindung di gereja. Rakyat jelata menganggap, gereja bisa melindungi mereka daripada para ksatria yang tak punya perhatian terhadap kesejahteraan rakyat.

Kaum Kristen selalu melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat yang dianggap mereka suci. Mereka datang ke makam-makam jenazah para martir. Mereka percaya bahwa kedekatan fisik dengan para sahabat Tuhan akan membawa mereka lebih dekat dengan surga itu sendiri. Para pendukung reformasi Cluny menganggap pemujaan terhadap praktik ziarah pada abad 11 ini perlu ditumbuhkan bersamaan dengan kebaktian terhadap tempat suci, walaupun hal ini bukan maksud asli gerakan reformasi Cluny.

Tapi jelas bahwa tak ada tempat yang lebih suci daripada Yerusalem, tempat Yesus wafat dan bangkit lagi. Selama abad 11 ada antusiasme baru yang penuh gairah terhadap Yerusalem, yang dipandang oleh orang-orang awam Eropa sebagai relik tersuci dari semua relik yang ada. Bahkan Yerusalem diyakini mempunyai kekuatan ilahiah, karena Yesus berjalan di atasnya selama hidupnya. Gereja Makam Suci yang terletak di Yerusalem, dipercaya sebagai tempat Yesus disalib dan tempat Yesus dimakamkan. Banyak para peziarah Kristen yang nekat datang ke Yerusalem, melakukan perjalanan sulit dan berbahaya melalui wilayah kaum muslim.

Tapi ziarah bukanlah satu-satunya unsur yang membuat orang Kristen melakukan penyerbuan di Yerusalem. Perang feodal antar ksatria telah mengoyak Eropa juga berperan penting membuat Kristen melakukan perang salib. Dua abad penyerbuan ke Eropa dari luar, memiliterisasi Eropa dan membentuk aristokrasi yang bersifat ksatria. Dengan tak adanya musuh bersama, para ksatrian dan baron justru saling bertempur antara satu sama lain. Eropa membentuk identitas dalam kekerasan dan perang, yang mereka pandang sebagai tindakan mulia.

Kemudian gereja berusaha merangkul mereka dengan diadakannya gencatan senjata yang sering disebut sebagai Kedamaian Tuhan. Para ksatria kemudian didorong oleh gereja untuk membela Kristen seperti melawan orang-orang Normandia yang pagan di selatan Italia, atau menyerbu wilayah muslim di Sisilia dan menyerbu Toledo Spanyol yang waktu itu diduduki oleh muslim yang kemudian mundur ke Andalusia. Walaupun gereja resmi menolak perang, mereka masih bergairah untuk memadukan agresi yang dianggap bermanfaat bagi dunia Kristen. Kini para ksatria secara daramatis menaklukan wilayah muslim dan kaum pagan, memperlebar perbatasan dunia Kristen. Ini adalah sebuah inkonsistensi yang tak jelas.

Penciptaan musuh adalah sangat penting bagi Kristen Eropa saat itu. Kaum muslim yang mereka sebut dengan sebutan Sarasin, dianggap cocok dengan gambaran musuh Kristen yang sempurna, walau sebenarnya pada titik ini tak ada permusuhan dengan kaum muslimin dan samasekali tak tahu tentang agama Islam. Mereka tahu bahwa muslimin yang berada di Spanyol adalah bukan orang Kristen, ini berarti menurut mereka adalah kaum pagan yang menyembah berhala, patung dan dewa-dewa. Memerangi kaum pagan dianggap sebagai kewajiban orang Kristen, karenanya: “Jangan pernah menunjukkan cinta atau damai kepada pemuja berhala ini,” kata Charlemagne di akhir buku puisi Songs of Roland. Digambarkan secara konyol, bahwa kaum muslimin menyembah patung nabi Muhammad dan Apollo. Ini menjelaskan bahwa orang-orang Kristen itu tidak tahu menahu tentang Islam, dan ini jelas menggambarkan betapa bodohnya mereka.

Kira-kira 20 tahun sebelum terjadinya perang salib, orang-orang Turki Saljuk – orang barbar yang telah menjadi memeluk Islam, sukses mengambil sebagian besar wilayah Kristen di Asia Kecil yang waktu itu di bawah kekuasaan Byzantium. Alexius, raja Byzantium waktu itu, meminta bantuan ke Paus. Jelas ini adalah kesempatan bagi Paus Urban untuk menyerang wilayah muslimin. Ini akan memperluas kekuasaan Gereja Barat secara daramatis, walaupun Alexius waktu itu bersikeras untuk mengembalikan semua negeri yang ditaklukan prajurit barat kepada Byzantium. Perang salib telah menjelang.