PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 11 - TAMAT) Agustus 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, sejarah Islam, Palestina
add a comment
EPILOG
Setelah Richard The Lion Heart, Raja Inggris, beserta tentara salib yang dipimpinnya mampu diusir oleh Saladin dari Palestina, masih ada saja raja-raja, baron-baron Kristen Eropa yang mengadakan serbuan ke Palestina dan bermimpi untuk bisa menguasai Yerusalem sebagai ekspresi religius mereka. Tapi, alhamdulillah, sejarah mencatat tak satu pun dari mereka yang mampu menaklukkan Yerusalem hingga pada 1967 Palestina jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dengan dukungan kuat negara-negara Kristen. Bahkan salah satu jenderal negara-negara Kristen ini menendang makam Shalahuddin Al-Ayubbi atau Saladin, seakan-akan cita-cita perang salib telah tercapai.
Ada keterkaitan yang amat kuat antara perang salib yang terjadi pada abad pertengahan dengan kondisi umat Islam pada jaman modern ini. Imperialisme dan kolonialisasi bangsa Barat, notabene bangsa-bangsa Kristen terhadap negeri-negeri Muslim adalah sebuah bentuk baru perang salib. Begitu juga dengan adanya negara Israel di Palestina adalah bentuk baru kerajaan Yerusalem versi abad modern yang keberadaannya sangat merugikan Islam secara keseluruhan. Hanya saja bedanya adalah, jika di masa abad pertengahan peradaban Islam begitu kuatnya dan maju sedangkan di abad modern ini peradaban Islam benar-benar di bawah kendali peradaban barat yang sekuler.
Bukan kebetulan kalau kaum Muslim menyebut imperialisme Barat modern dengan sebutan Al-Salibiyyah atau tentara salib. Seorang Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, yang mengaku bukan seorang tentara salib ataupun imperialis mengatakan, “Israel akhirnya kembali ke negeri Al-Kitab, yang dari situ kaum Yahudi telah terusir ratusan tahun yang lalu. Pendirian negara Israel adalah pemenuhan nubuat sesuai dengan Alkitab dan merupakan intisari dari pemenuhan.” Jelas sekali bahwa Carter hanya memandang Palestina sebagai negerinya orang Yahudi sesuai dengan Alkitab-nya. Dan jelas sekali bahwa Carter mengabaikan hadirnya kaum Muslim di Palestina selama 1200 tahun belakangan.
Tapi penerusnya, Presiden Ronald Reagan, terbukti lebih buta lagi terhadap prespektif Islam. Sebagaimana Carter, Reagan suka sekali menggambarkan dirinya sebagai seorang yang pecinta damai. Tapi kontribusinya terhadap upaya penciptaan perdamaian adalah dengan mengadakan pengeboman brutal terhadap Libya pada tahun 1986, yang telah membunuh 71 orang Libya. Reagan juga menjelaskan bahwa dia tidak mendukung adanya negara Palestina yang merdeka.
Secara khusus, Pertempuran Hittin, yang dimenangkan Saladin secara telak dan membuat Yerusalem kembali ke pangkuan orang Muslim, telah menjadi sesuatu yang penting bagi kaum Muslim dan juga orang Yahudi (Israel) saat ini. Orang Muslim menjadikan peristiwa sebagai penyemangat untuk mengusir orang-orang Yahudi yang telah menginjak-injak Masjid Al-Aqsha dengan biadab. Para penyair dan pemimpin Muslim menyerukan untuk bangkitnya Saladin-Saladin baru yang akan mengusir kaum Yahudi dari Palestina dan Al-Aqsha. Sedangkan orang-orang Israel melihat adanya kemiripan yang amat kuat antara situasi sekarang ini dengan situasi yang dihadapi oleh kaum Kristen pada hari-hari menjelang pertempuran Hittin. Sebagian besar orang Israel begitu bersemangat dalam semangat religius mereka yang memusuhi Islam, dan juga tercerai-berai persis seperti kaum Kristen di Kerajaan Yerusalem. Mereka juga melihat kaum religius membangkitkan pemikiran-pemikiran fanatik yang menganggap Islam haruslah dibasmi, serupa dengan situasi di masa Kerajaan Yerusalem.
*** *** ***
Kisah perang salib ini sudah seharusnya menyadarkan kaum Muslim, khususnya di Indonesia yang banyak tidak mengetahuinya, untuk tetap beristiqomah untuk menegakkan kalimat Allah di bumi Allah ini. Perdamaian di bumi Palestina hanya akan terjadi jika negara Israel bubar dan orang-orang Yahudi dan salibis angkat kaki dari Palestina, seperti halnya di jaman Saladin dan Nuruddin. Mereka hanya bisa diusir dengan jihad, yang merupakan puncak agama. Sekali lagi, ini adalah saduran dari buku Perang Suci yang ditulis oleh seorang sejarahwan yang telah terbukti obyektifitasnya.
Semoga Allah memenangkan kaum Muslim di Palestina sebagaimana Allah memenangkan Saladin dan pasukannya di Pertempuran Hittin. Amin.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 10) Agustus 13, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, saladin, sejarah Islam, Palestina
add a comment
Setelah penaklukan Yerusalem, Bahauddin, sang penulis biografi Saladin, menceritakan pada kita sebuah kisah yang menunjukkan pandangan baru akan orang-orang Kristen. Waktu itu Bahauddin dan Saladin sedang berkuda di sepanjang pantai Palestina, memandang gelombang laut yang liar di musim dingin. Saladin berkata, “Aku pikir ketika Allah memberiku kemenangan atas seluruh tanah Palestina, maka aku akan membagi wilayahku, membuat wasiat untuk menyatakan harapan-harapanku, dan kemudian berlayar ke negeri-negeri mereka yang jauh dan memburu kaum Frank di sana, agar dunia terbebas dari orang-orang yang tak beriman pada Allah.”
Saladin sebenarnya sudah berniat untuk menyeberang ke Eropa dan menegakkan kalimat Allah di sana. Tapi untuk berjihad, Saladin tak perlu pergi ke Eropa karena tak lama setelah kemenangannya di Hittin, Raja William dari Sisilia segera berlayar ke Tirus dengan tujuan segera mengkonsolidasi kekuatan Kristen. Raja Guy dari Lusignan yang dibebaskan oleh Saladin, bukannya berterimakasih, tapi malah ikut bergabung dengan sisa kekuatan Kristen di Tirus dan kemudian berlayar ke Acre untuk mengepung sebuah benteng muslim di kota itu. Tentara Salib dalam jumah besar sedang berlayar dari Denmark dan Frisia untuk membantu Guy mengepung Acre.
Ibu Al-Atsir, sajarahwan muslim, memberikan sebuah pengamatan menarik tentang propaganda Kristen untuk membangkitkan semangat orang Kristen dengan memberikan gambaran yang salah dan fitnah besar tentang kaum Muslim serta agama Islam:
Untuk memancing rakyat agar membalas dendam, mereka membawa lukisan Mesiah, damai sejahtera atasnya, yang berdarah dilukai seorang Arab yang menyerangnya. Mereka akan berkata, “Lihat, ini sang Mesiah, dan ini adalah Muhammad, Nabi kaum Muslim, memukulinya hingga mati!”
Namun tentara salib yang menanggapi seruan perang salib jilid tiga yang dilontarkan oleh Paus Gregory III, tidak terlalu semangat dalam menanggapinya. Baru pada 1191, hampir 4 tahun setelah perang Hittin, tentara salib yang utama sampai di Acre. Keterlambatan ini sebenarnya dikarenakan mereka sedang sibuk dengan masing-masing pertempurannya. Raja Philip Agustus dari Perancis dan Raja Henry II dari Inggris saling menyerbu tiada henti. Pada 6 Jui 1189 Henry II wafat dan Richard The Lion Heart mewarisi kerajaan Inggris.
Setelah wafatnya Henry II, perang pun berhenti dan Richard berkeinginan untuk berangkat ke timur sebagai tentara salib. Sebenarnya keinginan Richard bukan berdasarkan motivasi religius. Karena Richard adalah seorang prajurit, perang salib memberikan tantangan yang menggairahkan sebagai prajurit. Sedangkan Philip Agustus jauh ebih tidak bersemangat menanggapi perang salib, tapi ia sadar bahwa jika ia tidak mengikuti opini pubik dengan menunda keberangkatannya lebih lama, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan politik yang cukup fatal. Philip Agustus dan Richard The Lion Heart sepakat untuk berdamai secara resmi dan berangkat bersama meninggalkan Eropa menuju Acre pada tahun itu.
Sebelum keberangkatan tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sebenarnya telah berangkat lebih dahulu sebuah armada besar tentara salib yang dipimpin oleh Kaisar Romawi Suci Frederick Barbarossa dari Jerman. Frederick berangkat bersama 50.000 pasukan kavaleri dan 100.000 pasukan infanteri. Mereka memandang dirinya sebagai pasukan dai Kaisar Terakhir yang akan menaklukkan timur dan memaksa kembalinya Kristus kemudian datanglah hari akhir dunia. Mereka memandang merekalah yang akan memenuhi nubuat kuno tersebut. Maka mereka pun memilih jalur darat seperti halnya Charlemagne leluhur mereka.
Tapi kemudian ada sebuah kejadian yang tak terduga muncul. Allah berkehendak menghancurkan pasukan itu tanpa sebuah peperangan. Rute darat terbukti membuat banyak pasukan menggila. Pada tanggal 10 Juni 1190, rombongan tentara salib ini telah tiba di sungai Calycadnus di dataran Seleucia. Dengan baju besi lengkap, Frederick dengan tiba-tiba melompat ke arah arus sungai yang deras. Entah apa tujuannya. Mungkin untuk mendinginkan baju besinya atau sekedar memamerkan keberanian seorang tentara salib. Seketika juga, Frederick Barbarossa, seorang Kaisar Romawi suci, meninggal karena tenggelam. Tanpa kaisar mereka, orang-orang Jerman ini kehilangan minat mereka berperang menuju timur. Sebagian besar orang meninggalkan pasukan dan hanya sebagian kecil saja yang terseok-seok terus berjalan hingga Antiokhia.
Gerak maju kedua raja, Richard dan Philip, sangatlah lambat. Berangkat dari masing-masing negerinya, kedua raja ini sepakat untuk ketemu di Sisilia. Rencana mereka akan berlayar menuju Acre dan tidak menempuh jalur darat yang berbahaya. Walau begitu, sesampainya di Sisilia, kedua raja ini menghabiskan banyak waktu untuk menuntaskan perselisihan di antara mereka hingga kemudian datanglah musim dingin. Mereka kemudian memutuskan untuk menunggu cuaca yang lebih ramah untuk keberangkatan pasukannya. Baru pada musim semi 1191 mereka berlayar menuju Acre.
Philip sampai lebih dulu dan langsung mengatur pasukannya untuk mengepung Acre. Sedangkan Richard tertunda kedatangannya karena asih harus merebut Siprus dan menyerang sebuah kapal logistik kaum Muslim. Baru pada 6 Juni Richard sampai di Acre dan langsung ikut membantu pengepungan Acre.
Pengepungan Acre adalah sebuah pengepungan yang berkepanjangan dan membuat semua orang putus asa. Di dalam kota, pasukan Muslim berjaga-jaga dan kaum sipil menderita akibat pengepungan yang telah berlangsung 2 tahun. Di sekeliling benteng kota tentara salib berkemah mengepung. Sementara itu, di sekeliling kemah tentara salib, berkemahlah ribuan prajurit Muslim Saladin. Di dalam perkemahan tentara salib merebak wabah penyakit dan perseteruan politik antara Richard melawan Philip. Kondisi ini yang membuat mereka tak mampu menaklukkan Acre dengan cepat.
Tentara salib kali ini sangatlah berbeda dengan tentara salib sebelumnya yang sangat termotivasi dengan semangat kristus. Tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sangat sekuler dan terlihat sangat duniawi. Mereka sangat bersemangat ketika Richard menawarkan kepingan emas untuk setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil bongkahan batu dari benteng kaum Muslim. Ini berkebalikan dengan yang terjadi dalam pasukan Muslim, di mana setiap orang bertempur berlandaskan jihad membela agama. Saladin tetap mempertahankan kebiasaannya untuk membacakan hadist-hadist Rasulullah SAW di depan pasukannya sehingga motivasi jihad pasukannya tetap terjaga.
Setelah pengepungan panjangnya, akhirnya kota Acre jatuh ke tangan tentara salib. Ketika melihat bendera Kristen dikibarkan dari benteng kota Acre pada tanggal 12 Juli, Saladin menangis bagaikan seorang anak-anak. Acre kemudian dikepung rapat oleh Saladin dari segala penjuru. Dan tentara salib ingin berunding dengan Saladin.
Dalam perundingan itu disepakati bahwa Acre akan diserahkan terhadap kaum Kristen bersama 15.000 orang Kristen yang menjadi tahanan Saladin. Begitu kesepakatan terjadi, Philip merasa telah selesai tugasnya dan kembali ke Perancis. Sedangkan Richard, yang kini menjadi pimpinan tentara salib satu-satunya, tetap tinggal di Acre dan mulai merencanakan operasi-operasi militer baru untuk melawan kaum Muslim. Karena merasa terbebani dengan besarnya jumlah tahanan, Richard menggiring keluar dari benteng 2700 orang Muslim termasuk anak-anak dan perempuan, untuk kemudian dibantai dengan darah dingin. Peristiwa ini -sekali lagi- membuktikan bahwa tak akan ada perdamaian jika yang menguasai wilayah adalah kaum Kristen. Tindakan Richard –orang yang sangat dikagumi di Eropa dan dianggap sebagai pahlawan besar- sangtlah kejam dan sangat berbeda jika dibandingkan apa yang dilakukan Saladin. Ketika Saladin memiliki terlalu banyak tahanan, ia membebaskannya begitu saja, walaupun Saladin tahu bahwa mereka akan berkonsolidasi untuk melawannya lagi.
Peperangan-peperangan terus berlanjut. Para tentara salib tak terbiasa dengan hawa panas dan terik matahari yang begitu menyengat yang membuat mereka tidak sadarkan diri, terjatuh dari kuda bahkan banyak di antara mereka yang mati di pembaringan. Walau begitu Richard dan tentara salib masih bertahan di spenjang pantai Kaisarea. Tentara salib bahkan berhasil menguasai Arsuf walau dengan menguras amat banyak energi. Kedua pihak mulai kelelahan dan Richard meminta sebuah perundingan baru. Saladin pun mengiyakan.
Dalam perundingan tersebut Richard meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi oleh Saladin. Richard meminta pengembalian seluruh wilayah tanah suci termasuk Yerusalem. Tentu saja permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Saladin. Saladin berkata ke Richard,
Yerusalem adalah milik kami seperti juga milik kalian: bahkan kota itu lebih bermakna suci bagi kami daripada bagi kalian karena Yerusalem adalah tempat Nabi kami menyelesaikan pejalanan malamnya sekaligus tempat komunitas kami akan berkumpul kelak pada hari kiamat. Jangan bayangkan bahwa kami dapat meninggalkan kota ini atau bimbang dalam masalah ini. Tanah itu semua memang milik kami, sementara kalian hanya baru saja tiba dan telah mengambilnya karena kelemahan kaum muslim yang tinggal di sana waktu itu.
Richard dan Saladin tak pernah bertemu karena menurut Saladin tidak pantas bila dua raja saling bertemu ketika mereka dalam peperangan. Al-Adil-lah yang menjadi penghubung kedua raja ini.
Selanjutnya Richard mengusulkan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan di kedua belah pihak. Richard mengusulkan agar saudara perempuannya, Joanna, menikah dengan Al-Adil dan pasangan tersebut akan memerintah Palestina sebagai Raja Muslim dan Ratu Kristen. Tentu saja usul ini ditolak oleh Saladin dan menganggapnya Richard berkelakar. Di pihak lain, Joanna secara terus terang menolak menikah dengan orang yang dianggapnya sebagai “najis”. Gagal dengan usulan itu, Richard kemudian meminta kepada Al-Adil untuk menjadi orang Kristen dengan maksud agar perdamaian tercipta. Dengan halus dan sopan, Al-Adil menolak permintaan Richard. Ini adalah sebuah kekonyolan yang diperbuat pahlawan besar Eropa tersebut dan menunjukkan bahwa dia sangatlah duniawi, yang hanya memikirkan kemenangan politik maupun militer.
Walau menolak permintaan Richard, Al-Adil mengundang Richard untuk makan malam di Lydda. Perjamuan itu sukses luar biasa walaupun tak ada satu pun kesepakatan yang ditandatangani. Kaum Muslim dan Kristen saling memberi hadiah dengan suasana ramah. Richard sangat menyadari bahwa perang ini hanyalah membuang-buang waktu dan tidak artinya. Richard menulis surat untuk Saladin; “Kaum Muslim dan kaum Frank (Kristen) telah menumpahkan darah mereka hingga mati. Negeri ini samasekali dimusnahkan dan barang-barang serta tanah-tanah dikorbankan di kedua belah pihak. Sudah tiba waktunya untuk menghentikan semua.” Saladin setuju dengan isi surat itu untuk menghentikan peperangan. Tapi Saladin jelas tidak setuju dengan tuntutan Ricahrd untuk mengembalikan Palestina ke kaum Kristen. Dia juga tidak menyetujui usulan pernikahan Al-Adil dengan Joanna. Saladin begitu menghormati Richard, tapi dia menganggap Richard terlalu sembrono yang seharusnya tidak dilakukan oleh ksatria macam Richard.
Di penghujung tahun perundingan menemui jalan buntu lagi, sedangkan pertempuran terus berlanjut. Richard berencana untuk merebut beberapa kota lagi di pantai sepanjang Askelon tapi Saladin selalu mampu merebut lagi satu kota ketika Richard baru saja berhasil menaklukkan kota lain. Ini adalah jalan buntu militer.
Sedangkan di pihak kaum Muslim, ada kepanikan yang melanda para amir. Banyak di antara mereka melarikan diri karena ketakutan ketika tentara salib maju hingga Beit Nuba. Saladin begitu terpukul dengan kemelut ini. Saladin sudah merasa kalah. Sepanjang malam Saladin dan Bahauddin memikirkan dan mempertimbangkan segala langkah yang mungkin dilakukan. Namun mereka tidak menemukan solusi dan mulai diliputi rasa putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Baru saja kepala diletakkan di bantal, terdengar sang muazin melantunkan adzan shubuh. Bahauddin dan Saladin kemudian sholat shubuh berjamaah. Di pagi itu, Bahauddin mendapatkan sebuah ide untuk mengatasi kepanikan yang terjadi pada pasukan Muslim. Bahauddin mengusulkan untuk Saladin sholat di Masjid Al-Aqsha tepat di tempat Rasulullah SAW naik ke langit pada malam Isra’ Mi’raj sebagai sebuah acara resmi dan formal kenegaraan. Bahauddin menulis; “Aku melihat dia keletihan, dengan air mata mengalir membasahi janggutnya yang putih dan jatuh di atas sajadahnya, tapi aku tak bisa mendengar yang diucapkannya.” Saladin dan balatentara Muslim telah melakukan semua hal yang mungkin mereka lakukan, yang menguras kemampuan mereka, dan tak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Tentu saja mereka harus menyerahkan semua persoalan ini kepada Allah SWT.
Pada hari yang sama, pemimpin garis depan datang membawa kabar baik. Orang-orang Kristen itu telah meninggalkan Beit Nuba dan bergerak kembali ke arah pantai. Bahaya telah berakhir. Richard menarik mundur pasukannya dan tidak jadi menaklukkan Beit Nuba karena penaklukkan Yerusalem dianggap tidak berguna dan justru akan membahayakan bagi orang Kristen yang tinggal di Palestina. Andai saja Yerusalem jatuh ke tangan orang Kristen, lalu para tentara salib pulang lagi ke Eropa, sudah dapat dipastikan bahwa Saladin akan kembali menaklukkan Yerusalem dan juga kota-kota di sepanjang pantai. Lagipula hujan musim dingin turun sangat deras dan bukit-bukit di sekitar Yerusalem tidak dapat dilewati. Richard mundur hingga ke Jaffa.
Seperti Saladin, Richard juga dalam kondisi putus asa. Setelah dua kali pasukannya dipukul mundur menjauh dari Yerusalem, para tentara salib ini marah dan nyaris timbul pemberontakan. Richard juga mendapatkan kabar buruk; Philip –temannya yang juga memimpin tentara salib bersamanya- kini tengah menyerbu tanah kekuasaannya di Perancis. Akhirnya Richard jatuh sakit. Saladin dengan ramah mengirim dokter pribadinya dan memberi hadiah buah-buahan dan es untuk dibuat minuman dingin. Akhirnya pada 2 September Richard menyerah dan sebuah kesepakatan ditandangani yang mengatakan bahwa kedua belah pihak harus berkompromi dalam waktu 5 tahun ke depan. Saladin berjanji tidak akan mengusir semua orang Kristen dan memburunya ke Eropa. Sebagai gantinya akan ada suatu wilayah kecil sepanjang pantai, dari Jaffa hingga Beirut, yang dikuasai sebuah kerajaan Kristen dengan ibukota Acre. Raja kerajaan itu menyebut dirinya sebagai Raja Yerusalem. Sedangkan Ricahrd berjanji untuk tidak menyerang Yerusalem lagi tapi para peziarah Kristen masih diperbolehkan datang ke Yerusalem. Tentara salib pun akhirnya pulang kembali ke Eropa tanpa menaklukkan Yerusalem.
Saladin menghormati Richard dengan sepenuh hati sebagai sesama ksatria. Ada satu kisah yang menggambarkan sikap Saladin. Pada satu peristiwa di pertempuran Jaffa, ketika pasukan kavaleri tentara salib kelelahan, Richard sendiri yang memimpin pasukan tombak. Saat Saladin melihat kuda Richard jatuh, seketika Saladin mengirimkan tukang kuda bersama dua kudanya yang masih segar untuk raja Inggris musuhnya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa seorang Saladin yang sedang berjihad, berjuang di jalan Allah, akan sangat menghormati musuhnya jika musuhnya juga menghormatinya.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 9) Agustus 8, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, saladin, sejarah Islam, Palestina, Add new tag, shalahuddin al-ayubbi
add a comment
BEBASNYA PALESTINA
Pada tahun 1183, Saladin memulai gerakannya untuk membebaskan Palestina dari tentara Salib. Pasukan Saladin menyeberangi Yordania dan menyerbu Galilea. Guy dari Lusignan, yang kini menjadi wali Kerajaan Yerusalem, segera saja memobilisasi tentaranya. Kedua pasukan kemudian berkemah berhadap-hadapan di kolam Goliath. Kelompok elang mendesak untuk segera menyerang. Usulan kelompok elang ini ditentang oleh Baldwin yang memerintahkan untuk bertahan. Tindakan menyerang Saladin lebih dulu adalah konyol mengingat jumlah pasukan Saladin yang jauh lebih besar dibandingkan tentara Salib. Walau menang jumlah, Saladin tidak akan mampu mempertahankan keberadaan pasukannya dalam waktu lama di lingkungan yang tidak ramah. Para tentara Muslim ini harus pulang untuk memanen hasil pertaniannya. Saladin sebenarnya sudah memancing tentara Kristen untuk bertempur, tapi mereka tetap tenang sehingga memaksa Saladin dan pasukannya untuk mundur.
Karena dinilai terlalu pasif dalam menangani kepungan kaum Muslim, Guy kemudian dicopot jabatan wali dan kemudian mengangkat kembali Raymund dari kelompok merpati. Raja Lepra Baldwin membuat wasiat yang mengangkat Raymund menjadi wali kerajaan jika penggantinya, Baldwin V, masih berumur di bawah 10 tahun ketika Raja Lepra Baldwin meninggal.
Pada tahun 1185, Raja Baldwin IV meninggal karena penyakit lepranya. Wasiatnya segera berlaku. Baldwin V yang masih berumur 7 tahun mewarisi tahta dan Raymund menjadi walinya. Sebagai wali kerajaan, Raymund meminta Saladin untuk melakukan gencatan senjata selama 4 tahun. Saladin pun menyetujui gencatan senjata tersebut. Dalam masa gencatan senjata Kerajaan Yerusalem berusaha membangun kembali aktifitas perdagangan dan, yang terpenting, membujuk Eropa untuk melancarkan perang salib.
Secara mengejutkan, Baldwin V meninggal di Acre. Setelah upacara pemakaman Baldwin V, Joscelin –salah satu menteri- menyarankan Raymund untuk segera ke Tiberias, menyiapkan suksesi sesuai dengan wasiat Baldwin IV. Tapi ternyata itu semua telah diatur sedemikian rupa. Ketika Raymund tengah berada di Tiberias, telah terjadi sebuah kup. Di Makam Suci, Uskup Agung Heraclius menobatkan Guy dan Sibylla sebagai raja dan ratu Kerajaan Yerusalem. Ini adalah kemenangan besar kelompok elang atas dominasi kelompok merpati selama ini.
Dengan Guy menjadi raja, kebencian Reynauld seakan-akan terbebaskan. Hanya beberapa minggu setelah kup, Reynauld menyerang rombongan pedagang dan jamaah haji ketika mereka sedang menuju ke Mekkah. Reynauld membantai seluruh laki-laki dan menawan sisanya di kastil miliknya. Salah seorang tawanannya adalah saudara perempuan Saladin. Menanggapi hal ini Saladin mengatakan, jika Reynauld membebaskan tawanan dan mengembalikan barang jarahannya, maka Saladin masih akan menghormati perjanjian gencatan senjata. Ternyata Reynauld menolak dan Saladin bersumpah akan membunuh Reynauld dengan tangannya sendiri.
Saladin kemudian menyerukan jihad besar-besaran melawan kaum Kristen. Saladin merasa sudah saatnya kaum Kristen diusir dari tanah Muslim. Seruan Saladin mendapat sambutan yang luarbiasa. Ribuan kavaleri dan infanteri membanjiri Damaskus dari seluruh penjuru kerajaan. Damaskus penuh sesak oleh prajurit-prajurit dan bendera-bendera yang berkibar, dikelilingi oleh ribuan tenda yang menjadi tempat berteduh para prajurit. Untuk pertamakali selama berabad-abad, kaum Muslim memobilisasi secara penuh untuk jihad dengan efektif. Kaum Muslim terlihat siap dan mampu untuk menghancurkan pasukan Kristen.
Raymund merasa kehancuran Kerajaan Yerusalem sudah di depan mata. Raymund membuat sebuah perjanjian rahasia dengan Saladin yang berjanji tidak akan menyerang Tripoli dan Galilea. Mendengar hal ini, meluaplah kemarahan kelompok elang dan mendesak Guy untuk mengirimkan pasukan untuk menghajar Raymund. Melihat ini, Balian dari Ibelin mengingatkan Guy bahwa bahaya besar mengancam jika menyerang Raymund karena ini akan mengundang pasukan Saladin yang berjumlah besar untuk menyerang karena adanya perpecahan. Atas pertimbangan inilah, Guy kemudian memerintahkan untuk membatalkan serangan ini.
Pada tanggal 30 April, anak Saladin, Al-Afdlal, mendatangi Raymund mengajukan sebuah permintaan untuk mengirim kelompok penyelidik melalui Galilea. Raymund mengijinkannya asalkan tidak merusak satupun kota atau desa yang dilewati dan harus kembali lagi sebelum malam. Al-Afdlal setuju dengan syarat Raymund. Raymund memerintahkan agar semua orang di Galilea untuk tetap di rumah pada esok harinya. Keesokan hari, tanggal 1 Mei, Raymund menyaksikan 7000 pasukan muslim berbaris melalui kastilnya di Tiberias menuju Galilea. Sore harinya, sesuai kesepakatan, pasukan muslim tersebut meninggalkan wilayah Kristen dengan membawa kepala-kepala para Ksatria Kuil (Knight of Templar) dan Ksatria Ordo Hospitaler.
Rupanya ketika Gerard dari Ridfort mendengar perintah Raymund untuk tidak keluar rumah menghindari pasukan Muslim, hatinya tidak dapat menerima perintah yang keluar dari seorang pengkhianat pengecut. Gerard justru memerintahkan seluruh Ksatria Kuil yang berada di wilayah itu untuk bergabungnya. Sebanyak 90 ksatria dari Ksatria Kuil ditambah 40 ksatria sekuler dari Nazaret bergabung dengan Gerard. Kelompok kecil Kristen ini berkeliling untuk mencari tentara Muslim. Saat mereka memberi minum kuda di mata air Cresson, mereka melihat jumlah pasukan Muslim yang besar. Secara logika James Maily, komandan Ksatria Kuil, ingin mundur dan menghindar pasukan Muslim. Tapi Gerard bersikeras untuk tetap menyerang dan menghina James: “Kau terlalu mencintai kepala pirangmu itu.” James yang telah bersumpah untuk patuh menjawab: “Aku akan mati dalam pertempuran layaknya seorang pemberani. Sedangkan kau akan kabur layaknya seorang pengkhianat.” Tentara Kristen itu kemudian menyerang pasukan Muslim yang berjumlah ribuan. Semua tentara Kristen ini kemudian terbunuh kecuali 3 orang, dan salah satunya adalah Gerard dari Ridfort.
Dengan adanya bencana ini, Raymund kemudian menjadi bahan cacian bagi kaum Kristen. Raymund sendiri telah terguncang dengan peristiwa ini sehingga dia akhirnya menyerahkan semua pasukannya menjadi di bawah kendali Raja Yerusalem. Orang Kristen mulai mengadakan mobilisasi pasukan. Semua pasukan berkumpul di Acre kemudian berbaris ke Sephoria secara ogah-ogahan. Mereka mengalami demoralisasi. Sebaliknya justru terjadi di pihak Muslim. Pasukannya mulai tak sabar untuk memulai jihadnya. Saladin sendiri menyimpulkan bahwa kesempatan ini tak akan disia-siakan. Pertempuran ini harus dilaksanakan sebelum musim gugur karena tentara mereka harus kembali untuk memanen lahan pertaniannya.
Saladin kemudian memasang jebakan dan berdoa agar kaum Kristen bisa masuk dalam perangkapnya. Pada tanggal 1 Juli, Saladin membawa pasukannya melalui Yordania menuju Galilea. Setengah pasukan berkemah di dekat danau dan setengahnya lagi menyerang Tiberias yang dapat direbut hanya dalam waktu 1 jam pertempuran. Saat itu Raymund dan anaknya tengah berada di Sephoria, sedangkan istrinya masih di rumahnya di Tiberias. Para pimpinan orang Kristen di Sephoria berdebat, apa yag harus mereka lakukan. Kelompok elang mengusulkan untuk langsung menyerang dan kelompok merpati yang dipimpin oleh Raymund mengusulkan untuk bertahan. Raymund tahu rencana Saladin. Walaupun Tiberias adalah kotanya sendiri, Raymund rela kehilangan untuk sementara waktu. Raymund juga tidak mengkhawatirkan keselamatan istri dan penduduk Tiberias karena perilaku Saladin yang penuh welas asih. Paling-paling mereka dibawa ke Damaskus dan bisa ditebus di lain hari. Seperti biasa, Raja Guy bimbang memutuskan jalan mana yang harus ditempuh. Guy kemudian mendengarkan Gerard yang berhasil melarikan diri dari serangan bodoh bunuh dirinya di Cresson. Gerard mencerca Raymund yang sudah dianggapnya sebagai pengkhianat. Guy memerintahkan pasukannya untuk berbaris menuju Tiberias. Orang Kristen sudah masuk jebakan yang dipasang oleh Saladin.
Tentara Kristen berjalan menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang terik. Mereka terbebani oleh pakaian dan peralatan tempur yang berat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa jam akhirnya harus ditempuh seharian. Saladin mengirimkan pemanah-pemanah jitu untuk mengikuti mereka dari kejauhan, mengincar tentara-tentara yang terpisah sendirian. Saladin juga sudah mengeringkan mata air dan sumur yang akan dilewati tentara Kristen sehingga banyak diantara tentara Kristen ini menajdi setengah gila karena kehausan. Akhirnya mereka tiba di Galilea dengan kondisi yang sangat lelah dan menyadari bahwa perkemahan pasukan Muslim telah menutup akses mereka ke sumber air. Beberapa baron mendesak Raja Guy untuk bergerak merebut danau dari Saladin, tapi rupanya Raja Guy memutuskan berkemah semalam karena merasa kasihan melihat penderitaan prajuritnya seharian. Tentara Kristen berkemah di lereng dekat lembah yang disebut dengan Tanduk Hittin, tempat Yesus mengkhotbahkan agama damai dalam Khotbah Di atas Bukit. Tentara Kristen menyangka akan ada satu mata air di lereng bukit tersebut, tapi sesampainya di sana satu-satunya sumur itu pun sudah kering.
Tak hanya itu, penderitaan dehidrasi mereka bertambah parah karena pasukan Muslim membuat api unggun yang mengirimkan asapnya ke tentara Kristen yang sedang berkemah. Belum lagi suara sorak sorai dari pasukan Muslim yang makin menambah turunnya mental tentara Kristen. Malam itu adalah salah satu dari 10 malam terakhir Ramadhan, yang bisa saja adalah malam lailatul qodar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebelum malam berakhir, Saladin memerintahkan pasukannya untuk menyebar secara diam-diam mengepung perkemahan tentara Kristen. Setelah fajar menyingsing, pasukan Muslim langsung menyerang perkemahan tentara Kristen.
Pasukan infanteri Kristen yang panik dan hanya memikirkan air, bergerak turun setelah melihat kilauan air laut Galilea. Mereka kemudian dihalau oleh pasukan Muslim dan menimbulkan banyak korban yang mati dengan mulut menghitam karena kehausan. Pasukan kavaleri pimpinan Raymund berhasil menembus kepungan pasukan Muslim, tetapi kepungan kembali rapat setelah Raymund berhasil keluar sehingga pasukan kavalerinya terpisah dengan pasukan induknya. Raymund berhasil lolos dan terhindar dari kematian. Balian dari Ibelin juga menjadi salah satu pemimpin Kristen yang lolos. Kavaleri pasukan Muslim terus menyerang perkemahan tentara Kristen dan akhirnya Saladin dan anaknya Al-Afdlal melihat kemah Raja Kerajaan Yerusalem Guy, tempat sang raja berlindung, telah roboh rata dengan tanah. Al-Afdlal berkata, “Ayahku kemudian turun dari pelana kuda dan kemudian bersujud di tanah, bersyukur kepada Allah dengan tangis kebahagiaan.” Tentara Kristen kalah telak, dan Kerajaan Kristen Yerusalem telah tumpas. Saladin berhasil mengusir tentara salib dari bumi Palestina.
Setelah pertempuran berkhir, Saladin mempunyai dua tawanan penting yang langsung dibawa ke tendanya yaitu Raja Guy dan Reynauld. Kedua tawanan itu benar-benar sudah kelelahan dan putus asa karena kehausan. Saladin memberikan sekantung air yang diberi es dari salju gunung Hermon kepada Raja Guy yang kemudian meminumnya. Setelah puas, Raja Guy memberikan kantung air kepada Reynauld. Ketika Reynauld akan meminumnya, Saladin menegaskan bahwa dia tidak mengizinkan Reynauld untuk ikut meminum. Sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab waktu itu untuk tidak membunuh lelaki yang telah diberi makan dan minum olehnya.
Teringat akan sumpahnya untuk membunuh Reynauld dengan tangannya sendiri karena begitu banyaknya kejahatan Reynauld terhadap kaum Muslim, Saladin kemudian memenggal kepala Reynauld dan menyeret mayatnya di ke Raja Guy yang ketakutan setengah mati. Kepada Guy, Saladin dengan tersenyum berkata bahwa seorang raja tak akan membunuh raja yang lain. Saladin kemudian menjelaskan dengan baik-baik bahwa Reynauld dipenggal karena kejahatan-kejahatannya yang begitu besar. Raja Guy kemudian dibawa ke Damaskus dan tak lama kemudian dibebaskan.
Kisah ini begitu terkenal karena dengan sempurna menggambarkan sikap Saladin yang penuh welas asih. Ini adalah hal baru dalam sebuah perang suci menurut pandangan orang Kristen. Saladin tidak ingin membantai seluruh orang Kristen tanpa pandang bulu, sebagaimana orang Kristen dengan semangat Yoshua menaklukkan Palestina yang membantai seluruh kaum Muslim. Kejadian ini telah membuktikan bahwa semangat jihad fi sabilillah tidak akan membabibuta membunuh semua musuhnya, bahkan ada aturan-aturan yang sangat ketat di dalamnya. Kejadian ini juga membuktikan bahwa kaum Muslim jauh lebih manusiawi dibandingkan orang Kristen dalam mensikapi perang suci.
Walau tak semua orang Kristen dibunuh, Saladin membunuh semua ksatria dari Ksatria Kuil (Knights of Templar) dan semua ordo-ordo militer karena merekalah yang paling berdedikasi untuk memerangi Islam selama ini. Jika orang-orang seperti Reynauld atau para ksatria ini dibebaskan, mereka pasti akan menghimpun kekuatan untuk kembali berbuat kejahatan terhadap kaum Muslim. Membunuhnya semua adalah sebuah tindakan penyelamatan.
Para ksatria Kristen yang kabur kemudian menghimpun diri di Tirus dengan Conrad dari Montferrat sebagai pemimpin. Banyak di antara mereka langsung menuju kota Yerusalem untuk mempertahankannya dari kaum Muslim. Saat itu pasukan Muslim masih berada di Hittin. Kaum Kristen waktu itu betul-betul putus asa dan ketakutan. Ini cukup masuk akal. Beberapa ribu orang Kristen yang berkumpul di Yerusalem tak akan mampu menandingi kekuatan pasukan Muslim. Apalagi kesatuan-kesatuan militer yang soild sudah dihancurkan di pertempuran Hittin. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang sipil. Orang-orang Kristen sangat ketakutan jika Saladin akan membalas dendam dengan membantai semua orang Kristen seperti halnya Tentara Salib yang membantai habis orang Islam ketika menaklukkan Yerusalem dulu.
Kemudian muncul Balian dari Ibelin, yang berhasil lolos dari pertempuran Hittin. Sebenarnya Balian sudah tak mau terlibat lagi dengan perang salib ini. Dia pergi ke Yerusalem sebenarnya untuk menjemput istrinya dan selanjutnya akan pergi ke Tirus. Balian meminta izin masuk kota dengan sopan kepada Saladin yang sedang mengepung kota Yerusalem. Saladin memberinya izin dengan syarat bahwa Balian hanya akan menginap semalam di kota tersebut. Balian pun bersumpah akan menaati syarat itu.
Begitu Balian masuk ke dalam kota, orang-orang Kristen meminta dengan amat sangat untuk tetap tinggal dan memimpin perlawanan. Balian dalam sebuah dilema, ia punya kewajiban untuk melindungi rakyatnya dan kewajiban religius untuk mempertahankan Yerusalem, tapi di sisi lain dia sudah bersumpah kepada Saladin untuk tidak tinggal di kota ini. Balian kemudian pergi ke Saladin dan menjelaskan posisinya. Saladin memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya Saladin menyimpulkan bahwa karena Balian mempunyai kewajiban religius untuk tinggal maka Saladin pun membebaskan Balian dari sumpahnya. Saladin percaya dengan kesucian sumpah dan secara simpatik mampu memahami posisi Balian, walaupun ini merugikan Saladin sendiri.
Saladin memberikan tawaran kepada kaum Kristen untuk menyerah tanpa syarat, maka tidak akan ada banjir darah. Seperti biasanya, kaum Kristen dengan kepala batu menolak tawaran ini. Dalam situasi genting ini, muncul Balian yang menghadap Saladin dan mengatakan bahwa ada banyak orang yang masih bertempur dengan setengah hati karena mengharapkan Saladin memberikan ampunannya. Tapi jika kematian sudah jeas di depan mata, mereka akan bertempur dengan nekatnya. Saladin berkonsultasi dengan para imam dan fukaha mengenai hal ini. Mereka kemudian memutuskan bahwa sah hukumnya jika Saladin menaklukkan kota ini dengan damai.
Pada tanggal 2 Oktober 1187, Saladin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun kemudian Yerusalem tetap menjadi kota Muslim hingga akhirnya direbut oleh Yahudi di tahun 1967. Kemenangan kaum Muslim ini bertepatan dengan Isra’ Miraj, di mana Rasulllah SAW sholat di masjid Al-Aqsha yang terletak di Palestina atau kota Yerusalem ini dan kemudian terbang ke langit ke tujuh untuk menerima perintah sholat dari Allah SWT langsung.
Dalam penaklukan ini tak seorang Kristen pun yang dibunuh dan tak ada penjarahan samasekali. Tebusan sengaja ditetapkan dengan amat rendah, namun tetap saja ribuan kaum miskin tak bisa membayarnya. Karena terharu akan penderitaan mereka, Saladin banyak membebaskan mereka dengan cuma-cuma yang membuat pencatat keuangan Saladin menderita akibat kemurahan hatinya. Saudara Saladin, Al-Adil meminta seribu orang untuk digunakan sendiri. Setelah diizinkan, Al-Adil yang juga tersentuh dengan penderitaan tawanan ini kemudian langsung membebaskan begitu saja di tempat. Kaum Muslim waktu itu begitu terkejut menyaksikan begitu banyaknya kaum Kristen kaya yang melarikan diri dengan membawa harta benda mereka. Jika dikumpulkan sebenarnya harta itu bisa untuk menebus seluruh tawanan. Ketika Imaduddin melihat Uskup Agung Heraclius kabur dengan membawa kereta yang penuh harta, ia mendesak Saladin untuk menyita hartanya. Tapi Saladin menolaknya karena Al Qur’an menyatakan penting sekali untuk menaati sumpah dan perjanjian. Kata Saladin, “Orang Kristen di mana pun akan mengingat kebaikan yang telah kita lakukan kepadanya.
Begitu ia berada di Yerusalem, Saladin kemudian membersihkan tempat-tempat suci yang telah lama dicemari. Masjid Al-Aqsha selama ini telah dijadikan markas besar Ksatria Kuil (Knights of Templar). Mereka membuat asrama di sekeliling masjid dan menjadi sebagian masjid menjadi gudang dan kakus. Di atas kubah batu, ada sebuah salib emas raksasa yang kemudian segera diturunkan. Ibnu Al-Atsir menulis, “Ketika mereka mencapai puncak, sebuah teriakan keras terdengar. Kaum Muslim meneriakkan Allahu akbar dalam kegembiraan mereka.” Di dalam masjid besar, batu besar tempat Ibrahim as mengikat Ishak dan tempat Rasullah SAW berpijak waktu Isra’ Miraj, ditutupi oleh orang-orang Kristen dengan marmer. Masjid Al-Aqsha sendiri dipenuhi oleh patung-patung dan gambar-gambar berhala, bergambar Yesus dan sebagainya. Masjid dikembalikan ke keadaan semula. Pada hari Jum’at tanggal 9 Oktober, kaum Muslim melaksanakan shalat jum’at berjamaah di masjid Al-Aqsha, menandakan bahwa Islam telah pulih kembali di Palestina.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 8) Agustus 8, 2008
Posted by Marhan Faishal in Uncategorized.Tags: perang salib, saladin, sejarah Islam, Palestina, Add new tag, shalahuddin Al-Ayubi
add a comment
Pada tanggal 15 Mei 1174, Nuruddin wafat karena serangan jantung di usianya yang ke 60. Nuruddin telah mengilhami kesetiaan besar dan memiliki banyak pengikut yang setia. Di Suriah, kebanyakan amir mendukung Al-Shalih, putra Nuruddin yang masih berusia sebelas tahun. Para amir marah begitu mendengar Saladin yang seharusnya menjadi wali Al-Shalih. Saladin kemudian memulai kampanye panjang dengan penuh kesabaran untuk memenangkan dukungan rakyat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nuruddin. Saladin menggunakan metode yang sama dan secara bertahap mampu meyakinkan rakyat, hingga kemudian rakyat menganggap bahwa Saladin adalah seorang pewaris yang paling pantas walaupun sebagian orang menganggap Saladin tak lebih seorang pengkhianat.
Saladin di mata rakyatnya adalah seorang pemimpin yang taat beribadah, yang melaksanakan Islam secara kaffah. Bahkan dalam beberapa hal, Saladin melampaui sifat-sifat kesarjanaan dan kepejuangan Nuruddin yang saleh. Saladin bukan hanya hidup sederhana dan banyak memberi sedekah seperti halnya Nuruddin, tapi Saladin lebih dekat dengan rakyatnya karena ia membuka lebar-lebar istananya sehingga rakyat mudah menjangkaunya. Walau tak diragukan akan kesalehannya, Nuruddin terkesan agak resmi dan berjarak dengan rakyatnya sehingga menimbulkan rasa segan. Ini adalah kebalikan dari sikap Saladin sehari-hari. Saladin memberi contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin Islam. Sikapnya informal dan selalu menganggap dirinya sama dengan rakyat kebanyakan. Saladin selalu makan bersama dengan para prajuritnya dan hanya undur diri ketika akan sholat. Ia tak pernah minta diperlakukan secara istimewa, bahkan ia membiarkan dirinya diperintah oleh bawahannya yang rewel untuk menandatangani beberapa surat padahal ia sudah sangat kelelahan. Bahauddin, si penulis biografi Saladin, seringkali terkejut dengan sikap keseharian Saladin.
Karena keseharian yang sederhana, Saladin sangat dicintai oleh rakyatnya. Istana Saladin bersifat revolusioner pada jamannya, yaitu bersifat informal sekaligus kembali pada prinsip-prinsip fundamental Islam. Saladin terkenal dengan sifat welas asih, bahkan kepada musuhnya. Ia pernah menangis tersedu-sedu ketika seorang perempuan Kristen datang kepadanya dengan depresi karena putrinya diculik oleh seorang prajurit muslim dalam sebuah penyerbuan. Saladin memerintahkan untuk mencari putrinya seantero negeri, dan kemudian dikembalikan kepada ibunya.
Dalam masa awal pemerintahannya, Saladin membuat propaganda yang amat sukses, jauh melebihi kesuksesan Nuruddin. Saladin menyadarkan masyarakat bahwa jihad adalah sesuatu yag sangat penting bagi integritas seorang muslim. Ia melakukan pendidikan agama yang intensif di seluruh negeri, termasuk di kalangan prajuritnya. Untuk pertamakali dalam sejarah Islam, hadis dibacakan kepada pasukan ketika mereka siap bertempur, dan lebih banyak lagi pembacaan dan diskusi agama dilakukan ketika pasukannya menunggangi sadel kuda dan bergerak maju ke arah musuh. Tak ada amir lain waktu itu yang menunjukkan semangat besar untuk berjihad, sebagaimana semangat jihad Nuruddin yang juga dicintai rakyatnya.
Jika di pihak kaum Muslim mengalami kebangkitan yang luar biasa untuk berjihad, kebalikannya pihak Kristen justru mengalami kemunduran. Kerajaan Yerusalem sepenuhnya terisolasi dari luar karena ulah mereka yang menimbulkan kebencian walaupu dilakukan atas nama agama mereka. Tak hanya orang Muslim yang mulai bangkit untuk berjihad mengusir mereka, tapi orang-orang Kristen barat ini juga menimbulkan kebencian orang Yunani Ortodoks, kaum Jakobi, kaum Koptik dan kaum Kristen Armenia yang dianggap sebagai bidah. Dengan anggapan seperti itu, orang Kristen Barat ini secara efektif mengasingkan diri mereka dengan sekutu-sekutu mereka sendiri, yang sangat berharga jika terjadi kemelut. Orang Kristen Barat ini sepenuh menggantungkan harapan dengan bantuan tentara salib dari para Paus dan para raja yang berada di Eropa.
Tak hanya itu, orang Kristen Yerusalem ini terpecah menjadi dua kubu yang selalu berseberangan, yaitu kelompok elang dan merpati. Kelompok merpati adalah kelompok yang percaya bahwa sebaiknya tidak memprovokasi Saladin dan cenderung untuk mengadakan perdamaian. Mereka menganggap penting hubungan baik dengan orang Muslim karena pertimbangan perhitungan kekuatan yang tidak seimbang. Kebanyakan dari mereka lahir di Yerusalem dan biasa bergaul dengan orang Muslim. Kelompok ini lebih mirip dengan orang timur daripada orang barat. Kelompok merpati ini dipimpin oleh Raymund dari Tripoli.
Sementara itu, kelompok elang menyakini bahwa berkompromi dan berdamai dengan orang Muslim adalah hal yang tidak terhormat dan tidak sesuai dengan agama Kristen. Kelompok kabanyakan terdiri dari para imigran baru yang terdorong untuk berimigrasi ke Yerusalem karena fanatisme beragama intoleran yang berkembang di Eropa. Ketika mereka sampai di Yerusalem, mereka merasa muak dan terkejut melihat hubungan baik antara orang Kristen dan Muslim yang mereka temukan di Yerusalem. Menurut mereka, ini tidak sesuai dengan tuntunan agama Kristen.
Pimpinan kelompok elang ini adalah Reynauld dari Chatillon yang terkenal karena kejahatannya. Ia datang ke timur tak lama setelah kejatuhan Edessa pada tahun 1147. Ia serakah akan emas dan haus akan darah orang Muslim. Renauld menikahi janda Raymund dari Antiokhia dan mengambil alih pemerintahan perwakilan Antiokhia. Selama sepuluh tahun, Reynauld melakukan banyak kekejaman brutal yang memunculkan sikap bermusuhan para penduduk setempat. Tahun 1156, ketika Reynauld sedang berseteru dengan Kaisar Byzantium, ia menyiksa Uskup Agung dari Antiokhia, menyirami luka-luka sang Uskup Agung dengan madu dan menjemur tubuhnya diterik matahari sehingga tubuh itu kemudian diserang oleh berbagai macam serangga. Uskup Agung itu kemudian menyerah dan memberikan uang kepada Reynauld yang kemudian dipakai untuk menyerang Pulau Siprus milik Byzantium.
Pulau itu dijarah oleh Reynauld dengan sangat biadab sehingga pulau itu tak pernah pulih hingga sekarang. Ia membantai ribuan lelaki, perempuan dan anak-anak. Reynauld mengumpulkan para pendeta Yunani dan memotong hidung mereka dan kemudian para pendeta ini dikirim ke Konstantinopel. Reynauld tidak pernah merasa bersalah melukai sesama orang Kristen, seorang tipikal Tentara Salib yang memandang bahwa Kristen Timur adalah bidah.
Reynauld juga menjarah ke wilayah Muslim dan pernah tertangkap pada tahun 1157 di sebuah daerah dekat Aleppo di masa pemerintahan Nuruddin. Pada tahun 1175 Reynauld dilepaskan oleh Al-Shalih yang waktu itu sedang berseberangan dengan Saladin. Reynauld lari bergabung dengan tentara salib Yerusalem dan menjadi pembenci paling depan orang-orang Muslim.
Pemimpin kelompok elang lainnya adalah Gerard dari Ridfort yang merupakan pimpinan dari Ordo Kstaria atau Knights of Templar dan Guy dari Lusignan. Mereka sangat membenci kelompok merpati seperti Raymund dari Tripoli, apalagi orang-orang Muslim.
Selama masa pemerintahan Raja Lepra Baldwin, kelompok merpati bekerja keras untuk menjaga perdamaian dengan orang Muslim. Raymund dari Tripoli yang menjadi pimpinan kelompok merpati memandang bahwa orang muslim adalah manusia biasa, bukan musuh Tuhan yang menakutkan. Ia ingin Yerusalem tetap berdiri dan tidak ingin mebahayakan keamanannya dengan menjadikan Kerajaan Yerusalem sebagai garda depan agresivitas Kristen. Untuk sementara, Saladin belum kuat untuk mengadakan serangan besar-besaran ke Yerusalem. Walau begitu, Raymund tetap waspada.
Pada tahun 1177, Raja Lepra Baldwin sepenuhnya menjadi raja Yerusalem. Dalam trasisi kekuasaan tersebut, Saladin secara mengejutkan mengadakan serangan ke Yerusalem. Ini adalah keputusan buru-buru yang tak lazim dilakukan oleh Saladin. Saladin kalah telak, tapi kaum Muslim dengan semangat yang membara meluluhlantakkan daerah pedesaan di sekitar Yerusalem. Serangan itu menimbulkan teror yang luarbiasa bagi orang Kristen Yerusalem sehingga Raja Lepra Badwin menawarkan gencatan senjata kepada Saladin yang diterima dengan perasaan lega. Panen tahun itu sungguh buruk sehingga Saladin belum cukup kuat untuk mengadakan perang yang berskala besar. Saladin merasa harus lebih bersabar.
Meskipun gencatan senjata sangat merugikan, mau tak mau Saladin harus menjaga situasi damai. Di sini bisa kita lihat perbedaan esensial antara kaum Kristen dan kaum Muslim dalam mensikapi perang suci ini. Al Qur’an telah mengatur bahwa dalam situasi perang, jika musuh mengajukan gencatan senjata atau meminta berunding, dan gencatan ini tidak merugikan Islam maka kaum Muslim diperintahkan untuk bekerja sama. Walau begitu, gencatan ini tak boleh melampaui waktu 10 tahun (Q.S. Al-Anfal: 62-63). Sedangkan kaum Kristen –apalagi kelompok elang- tidak mau berdamai karena menganggap bahwa gencatan senjata tidak sesuai dengan integritas religiusnya. Jadi di sini terlihat bahwa kaum Kristen ini berperang atas nama agama mereka. Mereka menganggap bahwa kaum Muslim adalah kaum yang harus diperangi karena ini adalah perintah agama.
Walaupun Saladin sangat ingin mengusir tentara Salib dari Palestina, ia tidak dapat menolak permintaan gencatan senjata dari musuhnya karena Saladin orang yang saleh dan menolak menandatangani gencatan senjata berarti tidak melaksanakan perintah Allah seperti yang tertulis dalam Al Qur’an. Selama hidupnya, Saladin tidak pernah sekalipun melanggar perjanjian gencatan senjata.
Pada tahun 1181, Reynauld memandang rombongan kafilah Muslim yang melewati rute perdagangan yang menuju ke Mekkah. Reynauld kemudian menyerang rombongan tersebut yang diikuti oleh kelompok jamaah haji yang akan menunaikan ibadah haji. Tak berhenti di sini, Reynauld dan pasukannya bahkan berniat untuk menyerang kota suci Madinah. Untung saja Farukh Shah, keponakan Saladin, bergerak cepat dengan memukul mundur pasukan Reynauld ke kota Moab.
Rangkaian insiden ini sangat provokatif dan telah membebaskan Saladin dari perjanjian gencatan senjata. Dengan mengancam Madinah dan menyerang jamaah haji, Reynauld jelas-jelas menyerang eksistensi Islam. Pada diri Reynauld kita dapat melihat bahaya kaum ektremis Kristen yang sekarang mengejawantah ke orang Israel masa kini, yang juga berpikir bahwa berdamai dengan orang Islam adalah dosa. Mereka menganggap dirinya melakukan perang suci melawan kaum Muslim. Reynauld menolak mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia melakukan ini karena perintah agamanya. Raja Lepra Baldwin tak mampu mengambil barang rampasan yang diambil Reynauld dari rombongan tersebut. Ketika Saladin membalas dengan menangkap 150 peziarah Kristen, Reynauld masih bersikeras menolak pengembalian barang rampasan tersebut.
Pelanggaran ini sudah membatalkan gencatan senjata. Kaum Muslim mulai menyerbu wilayah-wilayah Kristen. Desa-desa dan ladang-ladang di Galilea sudah jatuh ke tangan kaum Muslim. Kota Beirut dikepung. Benteng Kristen Habis Jaldack di daerah seberang sungai Yordan telah jatuh ke tangan kaum Muslim. Penyerangan ini juga meningkatkan wibawa Saladin di mata seluruh dunia Islam, karena Reynauld telah menunjukkan bahwa kaum Kristen adalah musuh yang berbahaya bagi kaum Muslim dan Islam sebagai agama. Semakin banyak orang yang mendukung jihad.
Sementara kaum Muslim makin bersatu dan makin kuat, orang Kristen nyaris mengalami perang saudara. Persaingan kelompok elang melawan kelompok merpati makin meruncing. Kelompok elang secara terang-terangan mendukung Reynauld. Pada tahun 1181, Reynauld melakukan sebuah serangan yang paling provokatif kepada kaum Muslim, sebuah serangan yang berbeda dengan sebelumnya. Reynauld bergerak untuk menaklukkan Mekkah dan akan membumihanguskan Ka’bah. Untuk penyerangan ini, Reynauld membuat sebuah armada yang terdiri dari kapal-kapal yang dapat dibongkar pasang. Pasukan Reynauld mencoba kapal ini di laut mati, kemudian membongkar dan membawanya ke pelabuhan Eilat di teluk Aqaba melalui Nejef. Selanjutnya mereka berlayar di Laut Merah. Di sepanjang Laut Merah, Reynalud membuat kerusuhan di berbagai pelabuhan kaum Muslim hingga akhirnya sampai di Rabiqh, dekat Mekkah.
Untungnya Sayfuddin Al-Adil, saudara Saladin, bergegas berangkat dari Mesir untuk menyelamatkan keadaan. Sayfudding Al-Adil berhasil menghancurkan pasukan Kristen dan membawa para tawanan ini ke Madinah untuk kemudian dieksekusi mati. Tapi Reynauld sekali lagi berhasil lolos dan kembali ke Moab. Dengan adanya serangan Reynauld ini, jihad makin dipandang penting oleh kaum Muslim karena kaum Kristen sudah menunjukkan sifat aslinya. Tak ada satupun orang Muslim yang dapat mengabaikan serangan yang mengarah ke Mekkah. Mereka mungkin tak semuanya akan berangkat berjihad, tapi semuanya pasti akan memberikan dukungan secara terbuka kepada jihad yang melawan musuh-musuh Islam seperti Reynalud ini.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 7) Juli 4, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: perang salib, sejarah Islam, Yerusalem, Palestina
add a comment
MUNCULNYA SHALAHUDDIN AL-AYYUBI, PENGUSIR ORANG KRISTEN DARI AL QUDS
Pada tahun 1157, Nuruddin jatuh sakit yang cukup berat dan tak kunjung sembuh hingga dua tahun kemudian. Dalam sakitnya, Nuruddin merenungi kebijakan yang akan diambil. Nuruddin merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memulai jihad terbuka mengusir tentara salib dari bumi Islam. Para amirnya telah diberitahukan dan mengusulkan untuk merebut Antiokhia, tapi Nuruddin menolaknya. Seperti biasa, Nuruddin bersikap hati-hati dan penuh perhitungan. Dia tahu, ini belum saatnya untuk menyerang Yerusalem dan kota-kota sekitarnya. Manuel dari Byzantium baru saja menaklukan Anatolia dengan kekuatan militernya. Kemenangan Byzantium di utara ini memaksa Nuruddin untuk mencari front pertempuran yang lain, karena adalah tindakan yang konyol melawan Byzantium yang tengah kuat secara moral setelah penaklukan Anatolia. Jika pun menang, itu pasti diraih dengan sangat tidak mudah dengan risiko banyak kehilangan nyawa prajurit.
Tapi Nuruddin tak perlu menunggu lama, Mesir akan menjadi medan pertempuran yang akan membawa kemenangan gemilang dan menginspirasi generasi berikutnya. Pada tahun 1162, Raja Almaric dari Yerusalem menyerbu Mesir yang waktu itu berkhalifahkan Syiah. Secara tiba-tiba, Raja Almaric menyadari nilai strategis dari Mesir. Ini adalah kesempatan Nuruddin untuk berjihad melawan orang Kristen di front selain front utara yang tengah kuat setelah merebut Anatolia.
Khalifah Mesir mengirim surat bernada putus asa ke Nuruddin, memohon lebih banyak bantuan untuk melawan tentara Kristen Keerajaan Yerusalem di bawah Raja Almaric. Perjuangan melawan orang Kristen telah memasuki era baru. Dalam waktu singkat Almaric merebut Bilbays dan membantai seluruh penduduknya tanpa ampun. Sebelum ditaklukan, Kairo dibakar oleh penduduknya sendiri daripada dimanfaatkan oleh orang Kristen. Api menyala begitu hebat dan mengamuk selama 54 hari.
Keadaan menjadi begitu darurat. Nuruddin kemudian segera mengirim bantuan ke Mesir, menolong kaum muslimin dari kekejaman orang Kristen Yerusalem. Nuruddin mengirim Shirkuh, panglimanya yang brilian dan telah bertempur di Mesir dalam serangkaian operasi militer yang luarbiasa sukses selama enam tahun terakhir. Shirkuh adalah seorang panglima yang sangat dihormati dan dipuja oleh anak buahnya. Tanpa ragu, Shirkuh segera saja menyambut kesempatan ini dan berseru ke keponakannya, “Yusuf, segera kemasi barangmu! Kita akan berangkat!”
Yusuf amat berbeda dengan pamannya. Yusuf adalah seorang pemuda yang bertubuh kurus berusia 31 tahun dengan wajah tampan dan melankolis. Dia bukan tipe orang kekar yang mengandalkan kekuatan ototnya. Yusuf sangat sensitif dan mudah menangis jika melihat sesuatu yang menyedihkan. Hatinya penuh dengan kelembutan. Karena sifatnya yang lembut inilah, Yusuf merasa takut ketika mendengar perintah pamannya; “Seakan jantungku ditoreh belati dan aku menjawab, ‘Demi Allah, bahkan jika diberi seluruh kerajaan Mesir, aku tidak akan berangkat’”. Yusuf pernah bertempur di Mesir bersama pamannya selama dua tahun dan ini memberikan pengalaman yang mengerikan. Shirkuh bersikeras bahwa kehadiran Yusuf amat penting dan Nuruddin pun secara khusus juga memerintahkan Yusuf untuk berangkat ke Mesir. Dengan perasaan segan, Yusuf pun akhirnya berangkat bersama Shirkuh dan pasukannya.
Walaupun pada awalnya tidak terlalu senang dengan militer, Yusuf sang amir muda, akan menjadi salah satu pahlawan yang paling mengagumkan dalam sejarah Islam. Yusuf nantinya akan lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Shalahuddin yang berarti Keadilan Agama. Ia dipuji oleh orang Timur maupun Barat dan satu-satunya pahlawan muslim yang diberi nama versi barat oleh para pengagumnya di Eropa yaitu, Saladin.
Pasukan Shirkuh tidak mengalami satu pertempuran sekalipun melawan pasukan Kristen Almaric karena orang-orang Kristen itu telah lari ketakutan. Shirkuh kemudian dipuja sebagai pembebas Mesir dan dianggap sebagai pemimpin kuat yang akan membawa ketertiban di Mesir. Mesir diperintah oleh wazir dan tak ada satupun wazir yang mampu membangun pemerintahan yang kuat dan mampu menegakkan keadilan. Shirkuh kemudian diangkat sebagai wazir baru ketika baru sepuluh hari kedatangannya. Otomatis kini Mesir merupakan bagian dari kerajaan Nuruddin. Ini mengubah secara drastis perimbangan kekuasaan di timur dekat. Kerajaan-kerajaan Kristen, baik di barat maupun di timur seperti Byzantium dan Yerusalem, kaget melihat persatuan umat muslim ini. Mereka menganggap ini adalah ancaman yang besar dan serius. Tapi takdir berkata lain, Shirkuh hanya menjabat 2 bulan sebagai wazir karena wafat.
Yusuf kemudian tampil menggantikan Shirkuh sebagai wazir Mesir. Yusuf tiba-tiba mendapati dirinya yang diberi gelar Al-Malik Al-Nashir yang berarti raja yang menang. Ia diberi pakaian wazir yang putih dan berturban emas serta jubah bergaris perak. Sebilah pedang yang dilapisi permata pada genggaman tangan kini juga menjadi miliknya. Ia dinaikkan ke kuda berwarna merah batu bata indah dengan pelana yang penuh permata. Karena hati Yusuf yang sensitif, ia menerima ini semua dengan hati yang takjub bahkan terkejut. Yusuf yang sebelumnya menolak berangkat ke Mesir kini malah menerima kehormatan yang tinggi dengan diserahi jabatan tertinggi di Mesir. Ia hanya dapat menjelaskan semua ini sebagai kehendak Allah. Ia merasa dengan jabatan ini bahwa ia harus menjalankan seruan Allah, mengusir orang-orang Kristen yang kejam dari bumi Islam khususnya Al-Quds.
Begitu diangkat menjadi wazir, kehidupan Yusuf atau Saladin ini berubah. Dengan jabatannya ini ia justru semakin banyak beribadah dan semakin ketat dalam menjalankan perintah-perintah agama. Sebagaimana seharusnya pemimpin muslim, Saladin menjalani kehidupan yang sederhana di tengah-tengah gemerlapnya hidup di sekitar tempatnya bekerja sebagai wazir. Di akhir hayatnya nanti, Saladin hanya meninggalkan uang 47 dirham walaupun saat itu ia adalah pemimpin yang paling kuat di timur tengah. Saladin membagikan banyak uang untuk kaum miskin sehingga bendaharawan Saladin mau tak mau harus menyembunyikan sebagian harta untuk keperluan darurat. Saladin juga belajar agama secara serius dengan para sarjana muslim terkemuka dan memerintahkan salah seorang sarjana untuk menulis buku tanya jawab soal keimanan untuk dirinya. Setiap kali Saladin tidak sedang bekerja, ia pasti membaca hadist. Saladin selalu shalat shubuh berjamaah serta sering menangis penuh emosi dalam shalat-shalatnya. Airmatanya akan mengalir lagi setiap kali mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an yang mengharukan hatinya. Tak mengherankan jika sejak dia menjadi wazir, Mesir mempunyai identitas baru yang berpusat pada iman dan syariah Islam.
Saladin menyakini bahwa Allah telah memilihnya untuk melaksanakan sebuah tugas khusus. Beberapa tahun setelah diangkat menjadi wazir, ia berkata, “Ketika Allah memberiku negeri Mesir, aku yakin Allah juga bermaksud memberiku Palestina.” Saladin merasa wajib untuk berjihad melawan orang Kristen dan mengusir mereka dari Palestina. Ia tumbuh besar di istana Nuruddin dan di sana jihad dipandang bermakna penting bagi umat muslim. Yang menakjubkan adalah komitmen besarnya, yang telah mengubah seorang yang tadinya lembek menjadi seorang yang tangguh. Bahauddin penulis biografinya menulis:
“Perang suci dan segala penderitaan yang ada di dalamnya amat memberatkan hatinya dan seluruh anggota tubuhnya. Ia berbicara hanya tentang perang suci, hanya berpikir tentang peralatan tempur, hanya tertarik pada yang telah angkat senjata, dan hanya sedikit simpati bagi setiap orang berbicara selain itu atau orang berusaha mendorongnya untuk menjalani kegiatan lain. Demi cinta terhadap perang suci dan jalan Allah, ia meninggalkan istri dan anak-anaknya, tanah airnya, semua rumah dan tempat tinggalnya, dan memilih pergi ke dunia luar dan hidup dalam bayangan tendanya, tempat yang selalu ditiup angin dari segala penjuru.”
Tampaknya ketakutan lamanya telah menghilang. Ia tidak pernah meninggalkan garis depan pertempuran, bahkan ketika dia sedang sakit. Selama operasi jihad, Saladin membuat target yang ketat untuk menaklukan paling tidak satu lintasan kemah musuh setiap hari. Untuk menciptakan rasa kebersamaan, Saladin berkuda di antara para prajuritnya dengan hanya ditemani seorang pesuruh di waktu pertempuran sedang terjadi. Perubahan kepribadiannya yang mengarah lebih relijius, telah membongkar kerumitan rasa ngerinya dahulu, dan menyentuh simpanan kekuatan yang tak seorang pun menyadarinya termasuk Saladin sendiri. Yusuf atau Saladin kini telah menjadi seorang yang kuat dan perkasa.
Rasa percaya diri dan perasaan memiliki tujuan hidup ini mewujud dengan cepat. Dalam beberapa bulan pertama masa kepemimpinannya, Saladin meredakan pemberontakan dalam tentara Mesir dan dengan cerdas memukul mundur pasukan Kristen gabungan Yerusalem dan Byzantium. Saladin mematuhi perintah Nuruddin untuk mengganti Syiah menjadi Suni. Ini sangat beresiko karena bisa memancing pemberontakan rakyat Mesir dengan skala luas. Saladin sendiri sebenarnya merasa tak perlu mengadakan operasi militer untuk penggantian ini karena syiah dan suni hanya mempunyai perbedaan secara politis saja, bukan sebuah perbedaan yang bersifat teologis. Ini tidak seperti perbedaan antara Katolik dan Protestan yang lebih bersifat teologis. Saladin sendiri sangat dekat dengan Khalifah Syiah Mesir yang masih muda dan berbudi halus. Mesir kini menikmati rasa aman yang dibangun oleh pemerintahan Saladin. Saladin kini dihormati oleh rakyat Mesir melebihi penghormatan mereka terhadap khalifah, baik di Mesir sendiri maupun Baghdad.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 6) Juni 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, sejarah Islam, Yerusalem
add a comment
ST. BERNARD DAN PERANG SALIB KEDUA
Kabar tentang kejatuhan Edessa mengejutkan orang-orang Kristen di Eropa Barat. Paus Eugenius dan Raja Perancis Louis VII menyerukan perang salib baru. Seruan ini kemudian didukung oleh Bernard, kepala biara dari Clairvaux. Saat itu Bernard bisa kita anggap orang yang paling berkuasa secara de facto di Eropa. Raja Perancis jelas di bawah pengaruhnya, sedangkan Paus Eugenius adalah anggota dari ordo religius yang dipimpinnya. Pamor kekuasaanya begitu kuat karena kefasihannya yang kharismatik.
Kaum Kristen merasa harus melawan balik. Penaklukan Edessa oleh Zangi dipandang sebagai langkah pertama bagi penaklukan Islam di Eropa. Edessa hanyalah sebagai awal. Kita telah melihat, bagaimana mereka menaklukkan Yerusalem. Mulanya mereka percaya bahwa suatu saat mereka akan mampu menghancurkan Islam dan pada akhirnya akan menguasai dunia. Mereka mulai sadar di tahun-tahun belakangan ini bahwa kemenangan Zangi adalah bukti akan besarnya kekuatan Islam yang tak akan bisa dikalahkan. Kaum Kristen merasa begitu terancam dan Bernard menggambarkan bahwa saat itu adalah titik balik dalam sejarah.

Bernard adalah seorang mantan ksatria yang terlibat intens dengan hingar bingarnya politik dunia Kristen. Ia sepenuhnya sadar akan arti penting Tanah Suci Yerusalem, baik yang bersifat strategis maupun spiritual. Dia telah lama yakin bahwa misi mengkristenkan dunia secara keseluruhan akan berhasil jika Eropa mampu memobilisasi kekuatan militer untuk melindungi imannya. Pandangan Bernard ini kemudian menjadi kenyataan ketika beberapa abad kemudian negara-negara Eropa menguasai dunia dengan adanya penjajahan-penjajahan yang terjadi di seluruh pelosok bumi. Penjajahan orang Eropa yang banyak menyengsarakan rakyat dunia memang menyebarkan agama Kristen yang seharusnya damai.
Raja Jerman yang bernama Conrad adalah salah satu pemimpin tentara salib jilid kedua ini. Conrad adalah raja yang sudah tua dan mempunyai permasalahan dengan kesehatannya. Ia telah melaksanakan perang membela gereja dengan melawan kaum pagan Slav dan Wend di Eropa Timur. Selain itu Conrad juga telah memerangi musuh-musuh Paus di Italia. Pada akhir Mei 1147, pasukan besar Conrad berangkat melalui Eropa Timur menuju Konstantinopel. Orang-orang Eropa terpana melihat besarnya pasukan yang mencapai 20.000 orang. Bersama Conrad, ikut juga pasukan raja budak dari Bohemia dan Polandia. Para bangsawan Jerman dipimpin oleh Frederick dari Swabia. Pada 20 Juli, pasukan Conrad telah sampai di Konstantinopel dan bersumpah untuk melukai Byzantium yang dipimpin oleh kaisar Manuel.

Pada 8 Juni, giliran pasukan Perancis berangkat. Louis adalah seorang pemuda berumur 26 tahun saat itu dan merupakan pewaris tahta Perancis. Istri Louis, Eleanour, juga ikut serta. Eleanor adalah salah seorang pemilik tanah terbesar di Eropa yang berada di selatan Perancis. Eleanor ikut dalam perang ini karena paksaan Louis yang tidak percaya akan kesetiaan cinta Eleanor.
Sebelumnya ada pembicaraan dengan Raja Roger dari Sisilia untuk menyediakan kapal yang akan membawa tentara salib ke Timur. Bernard dan Paus tak percaya dengan Roger, yang kemudian terbukti mengincar wilayah Byzantium. Pasukan Conrad yang mengambil rute darat melalui Eropa Timur menjarah dengan kejam wilayah-wilayah Byzantium. Bahka dalam suatu kesempatan, Frederick dari Swabia membunuh semua pendeta Yunani di sebuah biara dekat Adrianopolis untuk membalas dendam atas kematian dua tentara salib. Kaisar Manuel menuntut penjelasan Conrad atas insiden ini. Tapi Conrad malah menjawab bahwa setelah perang salib dia akan kembali dan menaklukkan Byzantium sendiri. Begitu pasukan Conrad menyeberangi selat Bosphorus, mereka masih saja melakukan penjarahan perusakan, persis yang dilakukan oleh pasukan Peter si Pertapa pada perang salib petani. Pada 25 Oktober, pasukan Conrad telah tiba di Doryleum. Mereka berhenti untuk beristirahat. Para ksatria turun dari kuda mereka yang kelelahan. Sedangkan pasukan infanteri sedang beristirahat karena kehausan. Pasukan Conrad sedang lengah. Di saat itu, pasukan Muslim Turki Saljuk menyergap dengan sukses dan berhasil membantai 90 persen pasukan Conrad.
Pasukan Louis juga memutuskan melalui jalur darat, ingin menapaktilasi Charlemagne dan tentara salib pertama. Pasukan Louis lebih tertib dan berusaha untuk menghindari penjarahan, tapi perjalanan mereka amat sulit. Penduduk setempat yang dilalui sudah cukup menderita dengan penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Conrad sebelumnya. Penduduk bersikap memusuhi yang membuat pasukan Louis ini menggerutu kepada pasukan Conrad. Louis kemudian tiba di Konstantinopel dengan selamat.
Kita bisa melihat bahwa tentara salib ini sangat tidak rasional. Mengikuti jejak Charlemagne memang dianggap sebagai tindakan saleh, tapi itu justru sebuah kebodohan. Jalur itu sangat berbahaya dan tidak praktis. Perjalanan melalui Asia Kecil ini nyaris saja menghabiskan tentara salib yang kedua.
Pasukan Conrad yang lolos dari sergapan pasukan Turki kemudian bergabung dengan pasukan Louis di Konstantinopel. Mereka kemudian memulai perjalanan berbahayanya. Jika tentara salib pertama menderita akibat udara gerah maka tentara salib yang kedua ini juga menderita akibat badai salju yang cukup ganas. Bahkan di suatu tempat, ratusan tentara salib terbawa arus banjir. Tak hanya itu, mereka juga menderita kelaparan yang hebat dan kekurangan gizi karena tentara Turki Saljuk telah menghancurkan desa-desa yang akan dilalui oleh tentara salib, sehingga makanan sama sekali tak tersedia. Para peziarah miskin mulai banyak yang mati. Kuda-kuda mereka juga banyak yang mati atau dibunuh untuk dimakan. Tentara salib selalu diserang oleh pasukan Turki Saljuk yang segar sehingga banyak tentara salib yang tewas. Bahkan di suatu tempat di Kronos, pasukan salib garda depan nyaris habis ketika mendadak diserbu pasukan Turki karena pemimpin mereka tidak menuruti perintah.
Lebih setahun kemudian, pada Februari 1148, tentara salib telah kelelahan itu berjuang untuk memasuki pelabuhan Byzantium di Attalia. Mereka harus memutuskan apakah tetap melalui jalur darat, dilanjutan melalui laut atau membelah pasukan sebagian lewat darat dan sebagian lewat laut. Kesulitan yang mereka hadapi jauh lebih sulit daripada para pendahulu mereka. Menurut mereka, orang-orang Byzantium dan Kaisar Manuel telah berkhianat. Tak heran jika Manuel tidak membantu tentara salib ini. Lihat saja, pasukan Conrad telah menjarah Byzantium bahkan Conrad sendiri mengancam akan menduduki Byzantium. Jadi tak ada alasan Byzantium untuk membantu tentara salib walau mereka sama-sama beragama Kristen.
Dari pengalaman pahit sebelumnya, Manuel tahu dengan kedatangan tentara salib di wilayah Byzantium akan mengundang pasukan Turki Saljuk yang masih segar untuk menyerang. Manuel tak ingin terlibat masalah ini. Karena itu Manuel membuat perjanjian dengan Mas’ud, Sultan Rum atau Turki Saljuk sebelum tentara salib sampai di Byzantium. Perjanjian ini makin membuat tentara salib menuduh Manuel adalah pengkhianat.
Persediaan makanan di Attalia sangat tipis. Gubernur setempat sudah melakukan apa saja yang bisa ia lakukan untuk menyediakan makanan bagi tentara salib. Bukannya menghargai, lagi-lagi mereka menyalahkan orang-orang Yunani Byzantium itu karena dianggap tidak melindungi mereka secara layak.
Dari Attalia, tentara salib memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melalui laut dengan menggunakan kapal-kapal yang disediakan Kaisar Manuel. Karena kapal-kapal yang tersedia tak cukup, maka hanya para ksatria, bangsawan dan sebagian pasukan infantri yang berangkat. Sisanya, sebagian tentara infantri, para peziarah dan bersama anak istri mereka ditinggal di Attalia yang kemudian lenyap dari sejarah, dikhianati oleh saudara-saudara seiman sendiri. Mereka hancur karena tak mampu mempertahankan diri dari serbuan pasukan Turki. Meninggalkan kaum miskin mungkin perlu untuk melanjutkan perang salib, tapi ini jelas-jelas membuktikan bahwa para tentara salib ini tak mempunyai rasa kemanusiaan dan solidaritas.
Pada tanggal 19 Maret 1148, pasukan Louis telah tiba di pelabuhan St. Simeon. Kaisar Conrad jatuh sakit dan harus kembali ke Konstantinopel. Conrad kemudian dirawat dengan penuh kasih oleh Kaisar Manuel, seorang kaisar yang pernah diancam Conrad sebelumnya. Maka sekarang hanya Louis, pemimpin satu-satunya yang berhasil mencapai Antiokhia dan disambut secara hangat oleh Pangeran Raymund.

Setelah melewati perjalanan yang mencekam, Eleanor amat senang sesampai mereka di Antiokhia. Ia lebih merasa kerasan dengan kondisi di daerah timur yang lebih maju dan beradab daripada Paris yang muram milik Bernard. Di sini Eleanor juga merasa senang karena bisa bertemu dengan Raymund yang masih terhitung sebagai pamannya dan teman masa kecil. Keduanya memang terpaut selisih tahun yang tidak terlalu jauh. Sebelum Raymund berangkat ke timur, keduanya pernah terlibat dalam hubungan yang memalukan. Pertemuan mereka berdua di Antiokhia ini langsung menyebar desas-desus. Diam-diam Louis mulai cemburu.
Raymund mempunyai harapan dengan adanya tentara salib ini. Raymund merasa terancam dengan perkembangan Nuruddin dan terus mengawasinya. Kota muslim Aleppo hanya berjarak 50 mil dari Antiokhia. Sebuah serangan mendadak tentara salib ke Aleppo diusulkan Raymund kepada Louis. Serangan ini hampir bisa dipastikan akan mampu merebut Aleppo dari Nuruddin. Namun Louis secara datar menolak usulan ini. Louis bersikeras ia sedang melakukan perjalanan ziarah dan tidak dapat menyerang secara besar-besaran sebelum berdoa di makam suci. Kembali lagi kita jumpai, sebuah tindakan yang dianggap saleh oleh orang Kristen tapi tidak sesuai logika dan nalar. Louis telah membuang kesempatan besar.
Eleanor merasa sudah tak bisa mengikuti kebodohan suci ini. Eleanor dan pasukan pribadinya dari Aquitaine akan tetap tinggal di Antiokhia dan bersama Raymund akan menyerang Nuruddin. Disulut api cemburu, Louis menculik Eleanor dan kemudian mengikatnya di atas kapal untuk kemudian berlayar menuju Acre bersama tentara salib. Eleanor akan terus bersama Louis selama perang salib kedua ini. Dalam pelayaran ini, Eleanor hamil dan tak pernah jelas siapa ayah dari janin ini.
Ketika tentara salib tiba di Yerusalem, mereka disambut oleh kaum Frank yang telah berkembang biak di Palestina. Tentara salib dari barat selalu terkejut melihat gaya hidup beradab dan ketimuran yang dianut oleh kaum Farnk di Yerusalem. Mereka juga terkejut melihat banyak dari kaum Frank yang bersahabat dengan kaum muslim. Raja Louis makin geram saja setelah mengetahui bahwa Raja Yerusalem memiliki perjanjian dengan Amir Damaskus untuk melawan Nuruddin. Itu lagi-lagi memperlihatkan betapa dangkalnya pikiran Raja Louis yang memimpin tentara salib ini.
Pada Juli 1148, kemudian diputuskan tentara salib dan tentara kerajaan Yerusalem menyerang Damaskus, satu-satunya sekutu kaum Frank di timur di tengah-tengah wilayah kekuasaan Islam yang mulai bangkit. Cukup mudah untuk memahami kebebalan Louis dan tentara Yerusalem: mereka akan memandang hal ini sebagai tindakan keimanan yang baik sekali, yang hanya percaya sepenuhnya pada Tuhan dan membuang logika dan nalar. Serangan ini justru akan menguatkan Nuruddin. Ketika melihat Damaskus dikepung oleh tentara salib bekas sekutunya, Amir Damaskus kemudian meminta bantuan Nuruddin. Dengan begitu, aliansi Nuruddin justru lebih kuat daripada sebelumnya.
Pengepungan Damaskus adalah sebuah kegagalan besar, yang hanya mampu mengepung beberapa hari saja. Pada mulanya tentara salib mengalami kemajuan dengan menaklukkan sebagian perkebunan buah di luar kota. Kemudian kaum Frank Yerusalem mengusulkan untuk memindah posisi tentara salib di bawah benteng agar tentara muslim tidak dapat berlindung di pohon-pohon. Ternyata posisi ini justru fatal bagi tentara salib dan mereka menuduh kaum Frank Yerusalem telah menerima suap dari Nuruddin. Di saat yang kacau itu, pasukan bantuan Nuruddin datang. Kaum Frank Yerusalem berusaha membujuk tentara salib untuk mengakhiri pengepungan. Tentara salib mundur kembali ke Yerusalem dan mengalami jatuh korban yang besar.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 5) Juni 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, sejarah Islam, Yerusalem
add a comment
KEBANGKITAN UMAT MUSLIM
Setelah kejatuhan Yerusalem dan kemunduran Islam, tahun 1128 menjadi sebuah titik balik. Sultan Rum di Asia Kecil Turki menunjuk Imaduddin Zangi sebagai Atabeg Mosul dan Aleppo. Zangi menerima tanggung jawab itu dengan amat serius dan bukanlah tipe petualang liar. Ia memaksa Sultan untuk memberinya otoritas mutlak atas seluruh Suriah dan Irak Utara, yang kemudian membuat penduduk di kedua wilayah tersebut untuk mendukung secara penuh pengabdian dan tanpa penyesalan operasi-operasi militer yang akan dilakukan.
Zangi mampu mampu memberi rasa kenyamanan dan rasa kebersatuan tentaranya. Ia membuat takut banyak orang tapi sekaligus orang yang sangat dihormati karena ia tidak pernah meminta sesuatu apapun dari mereka yang ia sendiri tak bisa lakukan. Zangi adalah tipe penguasa yang tak suka menjarah kota yang ditaklukan. Biasanya, para penguasa akan sibuk mengumpulkan kekayaan dari penjarahan kota yang ditaklukkan. Ini adalah sesuatu yang lazim pada zaman itu. Tapi tidak dengan Zangi. Balatentaranya biasanya ditarik mundur dari wilayah yang ditaklukan sehingga rakyat dapat menikmati kado kemenangan mereka. Zangi tak pernah menetap di suatu kota yang dimenangkan. Ia tidur di atas tikar dalam tendanya selama 18 tahun dalam operasi militer merebut wilayah dari orang Kristen. Kekuatan militer bukanlah satu-satunya kekuatan Zangi, tapi ia juga menyusun sistem inteijen yang rumit dan mengesankan, karena itu ia selalu tahu berbagai kejadian yang terjadi di Bahgdad, Damaskus, Antiokhia bahkan Yerusalem.
Dalam operasi perangnya, Zangi malah mengusung perdamaian baru di wilayahnya sehingga wilayah tersebut mampu membangun lagi. Tulis Ibn Al-Atsir, “Sebelum kedatangannya, ketiadaan pemimpin yang kuat untuk menegakkan keadilan dan kehadiran orang Kristen yang amat dekat itu telah membuat negeri itu menjadi liar, tetapi Zangi menyemaikan bunga kembali.”

Pada bulan November 1144, pasukan Zangi mengepung Edessa yang sedang dikuasai oleh orang Kristen. Edessa kemudian menyerah dan Zangi menghancurkan pemerintahan Kristen. Ini adalah sebuah kemenangan yang mengharumkan nama Zangi sekaligus menjadi pahlawan Islam. Jatuhnya Edessa adalah kekalahan yang menyakitkan bagi orang Kristen, baik yang berada di barat maupun timur.
Kemenangan Zangi atas Edessa sangat menyentuh hati umat Islam. Khalifah memberi banyak gelar. Setelah kemenangan ini, semua orang mengharapkan Zangi untuk merebut Yerusalem, kota suci Al Quds. Tapi pada 30 September 1146, Zangi dibunuh oleh kasim pelayannya yang keturunan orang Frank. Setelah kematiannya, Zangi menjadi legenda dan menjadi inspirasi kebangkitan kembali jihad di dunia Islam saat itu.
Ibn Al-Atsir mencatat ada dua cerita dalam legenda Zangi. Satu cerita mengatakan bahwa pada hari Zangi menaklukkan Edessa, Raja Kristen dari Sisilia berhasil menaklukkan kota muslim Tripoli di Afrika Utara. Ketika Raja Kristen tersebut kembali dengan penuh kemenangan, ia bertanya kepada seorang penasehat muslim yang dia hormati. “Apa gunanya Muhammad kini bagi rakyatnya?” tanya Raja tersebut. Penasehat Muslim ini kemudian menjawab, “Muhammad tidak ada di Tripoli, tapi berada di Edessa yang baru saja diambil alih oleh orang Muslim.” Istana bergemuruh dengan tawa yang mengejek. Raja kemudian berkata, “Orang ini tidak dapat berkata apapun kecuali kebenaran.” Cerita kedua menunjukkan jihad sebagai tindakan mulia. “Beberapa orang yang jujur dan baik telah mengatakan padaku,” tulis Ibn Al-Atsir dengan hati-hati, “bahwa seorang yang saleh melihat almarhum Zangi dalam mimpinya dan bertanya padanya; ‘Bagaimanakah Allah memperlakukan kamu (yakni, di alam barzakh)? Dan Zangi menjawab, ‘Allah telah mengampuniku, karena aku telah menaklukkan Edessa.
Pada malam ketika Zangi wafat, Mahmoud anak keduanya, memasuki tempat jenazah ayahnya terbaring. Mahmoud kemudian mengabil cincin stempel simbol kekuasaan dari jari ayahnya. Mahmoud bertekad akan melanjutkan misi ayahnya untuk menyatukan Timur Dekat dan melawan tentara salib. Mahmoud adalah anak muda muslim yang saleh dan taat beragama. Mahmoud kemudian dikenal dengan gelarnya yaitu Nuruddin atau cahaya agama.
Nuruddin kemudian membangun kerajaannya dari nol, karena Zangi tak sempat membangun sebuah dinasti yang aman. Nuruddin menyatukan rakyatnya dan menjadi pemimpin muslimin yang menaati prinsip-prinsip syariah Islam. Nuruddin sendiri juga hidup secara ketat dalam syariah Islam. Dia menjadikan dirinya sebagai teladan bagi rakyatnya. Nuruddin hidup sederhana, meniru cara hidup Rasullah SAW. Di masa ketika banyak penguasa muslim yang bergaya hidup mewah, gaya hidup hemat Nuruddin amat menakjubkan. Ini menjadi semacam peringatan dan tantangan tak langsung bagi penguasa Muslim yang tidak mempraktikkan sunah Rasul dalam memimpin. Nuruddin menjalani kehidupan sebagai muslim yang baik dengan selalu berdoa dan belajar. Jika di kalangan tentara salib biasanya tidak terdidik dan selalu mengutamakan kekuatan otot, sebaliknya seorang prajurit Muslim diharapkan juga seorang sarjana yang memiliki pengetahuan yang luas. Kemanapun pergi, Nuruddin selalu ditemani oleh sekelompok alim ulama yang terpelajar, sehingga operasi-operasi militernya mempunyai dasar syariah yang kuat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para alim ulama tersebut menafsirkan situasi politis dan militer dalam hukum Islam, sehingga Nuruddin bisa mengambil langkah-langkah selanjutnya. Tentu saja masih dalam ajaran Islam. Nuruddin terkenal dengan pengetahuannya yang luas dan tak ada yang lebih disukainya ketimbang diskusi serius masalah teologi setelah makan malam.
Penegasan Nuruddin untuk kembali ke syariah Islam secara total membuat seluruh muslimin merasa hormat kepadanya. Secara khusus mereka terkesan dalam pengabdiannya untuk berjihad mengusir penguasa orang Kristen yag merupakan kewajiban mendasar seorang muslim. Jihad adalah kembalinya seorang muslim kepada prinsip-prinsip dasar Islam. Al Quran dengan jelas menyatakan bahwa perang selalu tidak disukai, tapi kaum muslim mempunyai tugas untuk menentang penindasan dan pembinasaan, karena jika tidak demikian maka semua nilai kebajikan akan lenyap dari muka bumi. Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yaitu ketika menghadapi rezim dhzalim Quraisy di Mekkah. Allah telah berfirman:
Telah diizinkan berperang bagi mereka orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali mereka telah berkata: “Tuhan kami adalah Allah”. ..Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
(Q.S. Al Hajj: 39-40).
Sebenarnya umat muslim diperintahkan untuk menghormati orang-orang Kristen dan Yahudi. Walau demikian, Allah memperkenankan umat muslim untuk berperang jika negerinya telah diserang oleh orang-orang kafir. Ini artinya, umat Islam cinta akan kedamaian tapi lebih cinta akan keadilan dan tegaknya agama Allah ini.
Seorang pemimpin Muslim punya tugas yang jelas, yaitu untuk melindungi rakyatnya dari musuh yang demikian kejam seperti orang Kristen ini. Setiap amir atau pemimpin muslim yang tidak bergabung Nuruddin dalam jihad ini, jelas-jelas bukan muslim sejati. Kondisi ini lagi-lagi mirip dengan kondisi mutakhir di dunia Islam. Tak ada pemimpin dunia Islam jaman sekarang yang berani seperti Nuruddin atau Zangi, yang terang-terangan menyerukan jihad dan menyerang para agresor negeri Muslim. Padahal ini jelas-jelas sebuah kewajiban untuk negeri muslim sejati.
Nuruddin memulai perjuangannya mengusir orang Kristen dengan memulai propaganda, menugasi para sarjana untuk menulis buku-buku yang menjelaskan masalah jihad dan kemudian menyebarkannya ke imam-imam penting di seluruh kota-kota dunia Islam. Para imam ini kemudian menyebarkan jihad ke pengurus-pengurus masjid dan para murid. Para pengurus masjid dan murid-murid ini kemudian menyebarkan jihad ke masyarakat luas melalui khotbah-khotbah masjid saat sholat Jumat. Penting dicatat, jihad lebih bergantung pada pertimbangan akal intelektual daripada emosi visioner seperti yang dialami tentara salib dalam usahanya merebut Yerusalem. Tentara salib menganggap Tuhan akan menolong mereka dengan berbagai mukjizat. Kaum Muslim jauh lebih rasional karena ajaran Islam juga jauh lebih rasional. Allah akan menolong umat muslim jika mereka mengerahkan seluruh upaya manusia yang bisa diupayakan untuk menolong mereka sendiri. Umat Islam tak pernah berharap akan adanya mukjizat seperti yang diharapkan orang Kristen dari Tuhannya. Inilah perbedaan umat Islam dan kaum Kristen. Firman Allah dalam Al Quran:
Sesungguhnya Tuhan itu tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. (Q.S. Al Ra’d: 11)
Walaupun lama, Nuruddin akhirnya berhasil menanamkan semangat jihad ke umat muslim saat itu.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 4) Juni 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, sejarah Islam, Yerusalem
add a comment
JATUHNYA AL QUDS ATAU YERUSALEM
Setelah gagal menaklukan kota Arqa, tentara salib berbaris menuju Yerusalem. Sesampainya di Ramallah, ibukota administratif muslim Palestina, tentara salib tidak mendapatkan perlawanan yang berarti sehingga mereka bisa memnduduki kota tersebut dengan mudah. Untuk pertamakalinya mereka menginjak tanah Palestina. Di Ramallah, mereka menemukan makam St. George yang mereka anggap sebagai pelindung mereka yang akhirnya sangat populer.
Pada tanggal 7 Juni 1099, tentara salib tiba di luar benteng kota Yerusalem atau Al Quds. Pandangan mereka tampak begitu marah melihat Masjid Al Aqsha yang waktu itu menjulang tinggi di antara kota dan lembah dengan sangat mengesankan, dikelilingi oleh benteng-bentengnya yang kuat. Kekuatan dan keagungan bangunan-bangunan di Al Quds saat itu amat mengesankan jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan di dunia Kristen jaman itu. Tentara salib menganggap ini adalah penghinaan terhadap keimanan mereka. Tentara salib kini juga bisa mendengar adzan, yang dianggap mencemari tanah suci mereka. Tentara salib melihat muslim Al Quds berbeda dengan orang Muslim Turki Saljuk karena musim di sini kebanyakan keturunan Mesir, yang dianggap sebagai musuh Tuhan karena orang Mesir memusuhi Musa.
Tentara salib mulai membangun dua menara pengepungan yang memungkinkan mereka bisa benteng kota Al Quds. Mereka juga melakukan berprosesi, mengikuti petunjuk seorang pertapa mengenai cara terbaik untuk menyerang kota, sebuah cara aneh yang sangat tidak masuk akal. Seluruh tentara salib berjalan mengelilingi benteng kota sebanyak tujuh kali dengan kaki telanjang sambil menyanyikan himne-himne. Mereka berhenti di tempat-tempat suci mereka di luar kota seperti Bukit Sion, tempat Yesus menikmati perjamuan terakhirnya, kemudian Taman Gethsemane, tempat Yesus berdoa sebelum ditangkap, kemudian Bukit Zaitun, tempat Yesus naik ke surga. Setelah selesai, mereka kemudian bergerak ke benteng kota dengan penuh keyakinan bahwa mereka dapat menaklukan kota dengan mukjizat dan doa. Ternyata ini tak berhasil dan mereka pun kembali ke perkemahan mereka sambil mendengarkan sorakan kaum muslimin yang menyaksikan di balik tembok benteng. Di jaman modern di mana akal jadi panglimanya, prosesi tersebut memang menggelikan. Kaum muslim saat itu mempunyai peradaban yang jauh lebih maju dan berpengetahuan lebih luas dari pada orang Eropa saat itu. Tapi tentara salib merasa bahwa hinaan-hinaan itu seakan-akan ditujukan kepada Kristus sendiri, dan mereka bersumpah akan melakukan pembalasan.
Pada tanggal 15 Juli 1099, tentara salib menyerbu Al Quds atau Yerusalem. Mereka kemudian berhasil menaklukannya. Selama dua hari mereka membunuh semua orang Islam dan Yahudi yang mereka temukan, tak peduli laki atau perempuan. Semuanya harus mati. Sehari setelah pembantaian, tentara salib memanjat atap Masjid Al Aqsha dan kemudian membunuh dengan dingin sekelompok muslim yang sebelumnya dijanjikan Tancred untuk dilindungi.

Kaum muslim bukan lagi musuh mereka yang harus dihormati. Kaum muslim dianggap sebagai musuh tuhan dan dikutuk untuk mendapatkan pemusnahan yang kejam. Orang muslim dianggap mengotori Yerusalem, tanah suci Kristen, dan harus dihapuskan dari muka bumi salib seakan penyakit yang berbahaya. Laporan pandangan mata dari Raymund of Aguiles menunjukkan semangat Yoshua yang melumuri pembantaian tentara salib :
Sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah cukup bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka. Yang lain memanah mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar. Tumpukan kepala, tangan dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai seseorang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak bangkai lelaki dan kuda. Tapi semua itu tak berarti bila dibandingan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya diadakan upacara keagamaan. Apa yang terjadi di sana? Jika kukatakan sebenarnya, pasti itu akan melampaui kemampuan kalian untuk mempercayainya. Jadi cukuplah aku katakan, paling tidak, di kuil Sulaiman dan berandanya pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di antara genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu suatu hukuman yang adil dan bagus dari Tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka
(A History of the Jews/London, 1987/hal 392-394).
Pembantaian itu bukan sekedar penaklukan. Tentara salib menyerang kaum mulim di Yerusalem dan membantai mereka seakan tentara salib itu malaikat penuntut balas yang melaksanakan hukuman Tuhan. Itu dianggap penyelamatan, sebagaimana penyelamatan Tuhan di Laut Merah ketika Tuhan membantai seluruh tentara Mesir. Maka perang salib dianggap sebagai perang suci oleh mereka, sebuah perjalanan suci yang telah menjadi pertempuran kaum yang benar melawan iblis. Orang-orang Kristen itu membantai sekitar 40.000 muslimin hanya dalam dua hari. Jumlah yang luar biasa pada saat itu dan menjadi pembantaian yang selalu diingat orang Islam hingga sekarang. Anehnya, Paus Paschal II justru menunjukkan sambutannya pada sikap saleh para tentara salib yang mulai banyak yang pulang sebagai pahlawan.
Setelah Al Quds jatuh, di kota tersebut kemudian berdirilah kerajaan Yerusalem yang didirikan oleh tentara salib.
SETELAH YERUSALEM JATUH
Euforia melanda Eropa setelah Yerusalem jatuh dan orang Eropa memandang kemenangan di tahun 1099 sebagai serangkaian kemenangan pertama baru melawan Islam. Raymund dari St. Gilles dan Uskup Daimbert dari Pisa menulis, “kekuatan kaum muslim dan setan telah patah, dan kerajaan Kristus serta Gereja kini merentang ke semua arah, dari laut hingga ke arah laut.” Tiga pasukan umum mulai disiapkan untuk memperkuat kerjaan Yerusalem yang baru dan mempertahankannya dari serbuan Muslim yang mengelilingi. Terbentuklah tentara salib angkatan tahun 1101 dengan jumlah yang sama besar dengan angkatan sebelumnya. Mereka berbaris menuju Yerusalem. Perjalanan ini mirip dengan perjalanan angkatan sebelumnya hanya saja kini tentara Turki Muslim Saljuk lebih siap untuk bertempur setelah kejatuhan Antiokhia. Ketiga pasukan tersebut kemudian dibantai habis dan tak pernah sampai di Yerusalem.
Walau begitu, selama limapuluh tahun berikutnya orang-orang Kristen selalu datang ke Yerusalem secara bergelombang dan bertempur tanpa henti mempertahankan wilayah Kristen melawan perlawanan sporadis umat Muslim. Orang Eropa masih kagum akan keberhasilan Perang Salib yang luar biasa melebihi semua peristiwa yang terjadi saat itu. Secara khusus, ada 3 biarawan yang tidak ikut perang salib yang pertama menulis berbagai peristiwa di perang salib. Para biarawan ini – Guibert dari Nogent, Robert sang pendeta, dan Baldrick dari Bourgeuil- memamndang perang salib sebagai perang yang sesuai Alkitab berskala penuh. Tak ada lagi keraguan terhadap pembantaian kaum Muslim. Kaum Muslim itu ras “setan” dan “menjijikan”, “betul-betul terasing dari Tuhan” dan mesti dimusnahkan. Ketiga biarawan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat Gereja kini siap dengan semangat tinggi untuk membangkitkan perang melawan Islam sebagaimana yang tertulis pada Kitab Perjanjian Lama ke seluruh dunia.
Orang-orang barat saat ini yang berpikir bahwa Islam adalah agama pedang mungkin akan menduga bahwa umat muslim yang berada di negeri-negeri sekitar kerajaan Yerusalem akan menyerukan jihad melawan tentara salib. Tapi yang terjadi tidak demikian. Bagi umat Muslim waktu itu butuh waktu yang lama untuk memahami bahwa perang salib adalah peperangan antar agama, dan senyatanya adalah perang suci bagi orang Kristen. Sejarahwan Muslim abad ke 12, Izzuddin ibn al-Atsir memandang invasi ke Suriah pada tahun 1097 sebagai sebuah fase baru ekspansi barat yang samasekali tak ada hubungannya dengan makna religius. Tak ada retorika penuh amarah mengenai hilangnya Al Quds, tak ada sumpah untuk merebut kembali Al Quds atas nama Allah, sebagaimana yang diperlukan dalam Jihad. Umat Muslim tentu saja membenci orang-orang Kristen ini, tapi ini hanyalah dipandang sebagai kehilangan sebagian wilayah saja dan jantung negeri Kekhalifahan Islam bersikap acuh tak acuh atas kejadian ini.
Kaum Muslim yang berhasil melarikan diri dari pembantaian mengungsi ke negeri-negeri muslim di sekitarnya salah satunya adalah Damaskus. Para pengungsi ini juga membawa salah satu Mushaf Al Quran Usman, salah satu kopi tertua Al Quran yang disalin di jaman khalifah Ustman bin Affan. Di kota Baghdad, pusat kekhalifahan Islam waktu itu, pengungsi juga membanjiri kota ini. Kaum muslim Baghdad menangis sedih dan bersimpati dengan derita saudara seiman mereka. Khalifah yang waktu itu mempunyai kekuasaan politik yang lemah, menyusun sebuah komisi untuk menyelidiki masalah ini. Pengungsi merasa muak dengan kelambanan khalifah dan berteriak, “Aku melihat para pendukung iman ternyata lemah.” Seruan pengungsi untuk jihad hanya ditanggapi apatis. Kaum muslim waktu itu memang manangisi nasib saudara-saudara mereka itu, tapi mereka tidak siap untuk mengambil langkah praktis apapun untuk menolong kita. Ini mirip yang terjadi dengan jaman modern ini, di mana Palestina telah diinjak-injak Israel tapi negara-negara umat Muslim hanya bisa menangis dan mengecam, tanpa bisa membantu mereka dengan jihad yang jelas.
Kaum muslim abad 12 ini terlalu sibuk untuk bertempur antar mereka, sebagaimana tulis Ibn Al-Atsir: “pertikaian antar sesama pangeran Muslim membuat kaum Frank menjajah negeri itu.” Ketidakkokohan kaum muslim berkibat fatal: itu berarti kaum muslim berada di kubangan penderitaan, kehinaan, dan akan lebih banyak lagi pengungsi muslim yang terusir oleh orang Kristen yang tampak tak terkalahkan saat itu. Orang-orang Kristen terus-menerus menaklukkan lebih banyak wilayah-wilayah muslim seperti Haifa, Jaffa, Acre dan Baghdad juga seakan-akan kejatuhannya sudah di depan mata. Tapi berkat pertolongan Allah, pasukan Kristen ini mengalami sebuah kekalahan yang sangat jarang terjadi dalam sebuah pertempuran dan membuat kembali lagi ke Harran. Pada tahun 1109 orang-orang Kristen ini merebut Tripoli dan kemudian Beirut dan Sidon.
Kaum muslim memandang kemenangan orang Kristen ini seperti tiada henti. Pada tahun 1111, Kadi (seorang hakim dalam pemerintahan khalifah) dari kota Aleppo memimpin demontrasi kepada Sultan untuk mengirimkan pasukan untuk melawan orang-orang Kristen ini. Para demonstran beraksi dengan lebih keras dan akhirnya Sultan memerintahkan Amir dari Mosul untuk memimpin sebuah pasukan untuk melawan orang-orang Kristen. Kehadiran pasukan Sultan ini bagi penguasa muslim setempat sama mengancamnya dengan tentara salib. Amir dari Mosul yang memimpin pasukan Sultan pun dibunuh di Masjid Agung Damaskus pada malam menjelang serangan ke tentara salib. Tak lama, atabeg Tughitin dari Damaskus membuat perjanjian dengan raja Baldwin dari Yerusalem untuk berdamai. Ini membuktikan bahwa persatuan di antara pemimpin-pemimpin Muslim sangatlah rapuh. Umat Islam seperti kehilangan harapan. Keterpecahan pemimpin Muslim ini membuat orang-orang Kristen mampu menguasai seluruh garis pantai Palestina dan Lebanon.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 3) Juni 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, Palestina, perang salib, sejarah Islam, Yerusalem
add a comment
PERANG SALIB YANG PERTAMA
September 1096, Pangeran Bohemund dari Taranto mendukung seruan Paus Urban dengan bergabung bersama tentara salib. Segera ia ambil salib di Katedral Amalfi, kemudian menemui para panglimanya. Jubah peraknya dirobek menjadi pita-pita untuk dijadikan tanda salib dan kemudian ia serahkan ke para panglimanya yang bersemangat. Bohemund berteriak, “Bukankah kita orang Frank? Bukankah para leluhur kita datang ke sini dari Francia dan membebaskan tanah ini hanya dengan tangan? Sungguh memalukan!”
Beberapa minggu kemudian, Bohemund dan keponakannya Tancred sudah berlayar menuju Konstantinopel dengan pasukan bersenjata lengkap dan terlatih. Bohemund mempunyai alasan-alasan duniawi untuk menjadi tentara salib. Perang adalah jalan nyata untuk mendapatkan kerajaan di timur.
Sebelumnya, pasukan Godfrey dari Bouillon adalah pasukan pertama yang meninggalkan Eropa pada bulan Agustus 1096. Seperti Bohemund, Godfrey juga punya alasan duniawi untuk ikut perang salib, walaupun alasan ideologisnya juga cukup kuat. Masa depannya tak jelas di barat, tanah keluarga bangsawanny telah disita oleh Kaisar Henry IV. Godfrey berangkat bersama Baldwin saudaranya yang lebih sekuler dan pragmatis.
Pemimpin tentara salib lainnya adalah Raymund dari St. Gilles, seorang ksatria yang telah bertempur melawan muslimin di Spanyol. Raymund hampir dapat dipastikan tidak mempunyai motif ekonomi dalam mengikuti perang salib ini. Raymund telah berumur 60 tahun ketika perang salib diserukan dan mempunyai kehidupan yang nyaman.
Tentara salib pertama ini telah belajar dari nasib tragis lima pasukan yang berangkat menuju timur di musim semi. Sebagian besar pasukan menghindari jalur darat yang berbahaya dan memilih jalur laut untuk sampai ke Konstantinopel. Namun Godfrey dan Baldwin sengaja lewat darat dengan maksud menapaktilasi jalur Charlemagne, leluhur mereka yang legendaris, ketika berziarah ke Yerusalem. Pasukan Godfrey dan Baldwin mempunyai persiapan yang memadai dan sangat berhati-hati. Para pemimpin pasukan amat tegas untuk tidak melakukan pencurian dan penjarahan. Karena itu, mereka berhasil menghindari ancaman dari penduduk lokal yang dilewati dan berhasil tiba di Konstantinopel dengan masih rapi.
Setelah semua tentara salib tiba di Konstantinopel, mereka bersiap-siap untuk memenuhi mandat mereka yang pertama, yaitu membantu Kaisar Alexius untuk merebut wilayah Byzantium dari orang Turki Saljuk yang muslim. Alexius dan tentara salib saling curiga. Tentara salib menganggap bahwa Byzantium adalah pengecut dan tidak terhormat karena telah mengadakan perjanjian muslimin. Alexius memang senang menggunakan cara diplomasi ketimbang cara otot yang sering digunakan tentara salib. Alexius sendiri tak mempercayai tentara salib karena masih khawatir bahwa wilayah yang berhasil direbut tentara salib bisa saja tak akan dikembalikan ke dirinya. Alexius juga menganggap tentara salib sebagai kaum bar-bar yang bodoh. Alexius melihat tentara salib bukan sebagai bala bantuan, dia justru melihat tentara itu sebagai sebuah ancaman.
Kepada tentara salib, Alexius meminta mereka untuk bersumpah setia dan menerima Alexius sebagai raja mereka selama mereka masih di timur. Pemimpin seperti Bohemund yang pernah bertempur di timur tahu bahwa tanpa bantuan orang Yunani Byzantium ini tentara salib tak akan pernah berhasil. Byzantium menjanjikan bantuan bagi tentara salib selama masih berada di wilayah Byzantium, dan akan memberikan bantuan jika terjadi kemelut. Akhirnya dengan berat hati, tentara salib mau bersumpah untuk Alexius.
Tentara salib kemudian diberangkatkan dengan kapal menyeberangi selat Bosphorus, menuju pintu gerbang daratan Turki. Pada bulan Mei 1097, tentara salib dan tentara Byzantium mengepung ibukota Muslim Saljuk di Nicea. Saat itu Sultan Kilij Arslan I sedang di perbatasan bersama pasukannya. Sebenarnya Kilij Arslan telah mendengar kedatangan tentara salib, tapi dia menganggap enteng. Pasukan Kilij Arslan-lah yang telah menghancurkan pasukan Peter si Pertapa dan Walter Sansavoir hingga lumat. Kilij menilai bahwa pasukan berikutnya tentu lebih mudah. Tapi kenyataannya lain. Nicea yang hanya dijaga oleh pasukan panjaga saja bertekuk lutut. Tapi Muslim Saljuk ini dengan cerdiknya menyerah kepada Alexius, bukan ke tentara salib yang kejam. Alexius menjanjikan kota tak akan dijarah.
Pemimpin tentara salib mungkin menyetujui janji Alexius ini. Tapi para prajurit geram dan ketidaksukaan terhadap Alexius semakin menjadi-jadi. Walaupun Alexius memberi uang yang amat banyak, cukup untuk bekal mereka, prajurit tentara salib masih saja menggerutu dengan marah mengenai “pengkhianatan” Alexius.
Pada bulan Juni, tentara salib berangkat melalui Asia Kecil menuju Palestina. Tujuan mereka adalah membebaskan rute ziarah dari orang muslim serta membebaskan Armenia dan Antiokhia. Adalah penting untuk membangun kekuatan di daerah utara Suriah untuk mendukung berdirinya kerajaan Yerusalem yang akan mereka bangun nantinya. Di sini, tentara salib harus berperang sendiri tanpa bantuan banyak Byzantium.
Untuk memudahkan pergerakan, tentara salib dibagi menjadi 2. Ujung tombak pasukan bergerak sehari terlebih dulu. Pasukan ini dipimpin oleh Bohemund, Stephen dari Blois dan Robert dari Flanders. Pasukan ini terdiri atas orang-orang Normandia, Italia dan daerah utara Perancis. Pasukan kedua terdiri dari orang-orang selatan Perancis dan pasukan Lorraine di bawah pimpinan Raymund dari St. Gilles.
Beberapa hari meninggalkan Nicea, rombongan pertama telah sampai Dorylaeum dan mendirikan kemah. Rupanya, di sini Sultan Kilij Arslan telah menunggu mereka. Paukan Muslim Saljuk keluar dari persembunyian kemudian menyerang kemah-kemah. Dengan segera Bohmenud memerintahkan untuk mengatur diri. Anggota rombongan yang bukan pasukan perang diminta untuk berada di tengah perkemahan. Para perempuan diberi tugas untuk membawa air ke garis depan. Para pelari dikirim untuk memberitahu pasukan kedua untuk membantu mereka. Bohemund menginstruksikan untuk tetap dalam keadaan defensif dan tidak menyerang Muslim Saljuk terlebih dulu.
Tiba-tiba pasukan kedua tentara salib tiba. Sultan Kilij Arslan terlanjur yakin bahwa dia telah berhasil menjebak seluruh tentara salib. Kedatangan pasukan kedua yang masih segar bugar ini betul-betul mengejutkan. Tentara Muslim Saljuk kalah dan diburu oleh tentara salib, hingga perkemahan mereka diratakan dengan tanah oleh tentara salib.
Sebelum ke Yerusalem, tentara salib berencana untuk merebut utara Suriah dari muslimin dan merebut wilayah Byzantium dari Muslim Saljuk Turki sebagaimana sumpah mereka kepada Alexius. Mereka juga akan membangun benteng-benteng Kristen di wilayah tersebut, untuk melindungi rute ziarah dan juga kerajaan Yerusalem yang nantinya akan dibangun. Tentara salib kemudian dibagi 2 lagi. Pasukan utama dipimpin oleh Bohemund dan Raymund, bergerak menuju kota Antiokhia. Sisa pasukan dipimpin oleh Baldwin dan Tancred, bergerak ke barat melalui kawasan Silisia.
Kota Tarsus kemudian jatuh, disusul Adana dan Misis. Baldwin dan pasukannya kemudian bergerak ke Edessa. Baldwin bertekad untuk merebut sebuah kerajaan di timur, dan tekadnya adalah merebut Edessa untuk dijadikan kerajaannya sendiri. Baldwin menampilkan dirinya sebagai seorang pembebas Kristen dan mendapatkan dukungan orang Kristen Armenia. Edessa kemudian jatuh ke tangan Baldwin. Muslimin yang tak sempat kabur, dibantai oleh orang Armenia dan tentara salib.
Tentara salib tiba di Antiokhia pada Oktober 1097 dalam keadaan yang cukup baik. Mereka menganggap penting Antiokhia karena merupakan salah satu kota terpenting pada abad-abad permulaan agama Kristen. St. Petrus telah menjadi uskup pertama di kota itu. Tapi gereja Kristen kuno sudah menjadi masjid dan ini menjadi alasan cukup kuat tentara salib untuk merebut Antiokhia. Tentara salib pun mengepung Antiokhia dengan pasukan besar.
Keputusan mengepung Antiokhia nyaris menghabiskan riwayat tentara salib. Dengan jumlah sekitar 50.000 orang dan gerombolan peziarah selama berbulan-bulan membuat persediaan makanan di wilayah itu habis dengan cepat. Mereka mulai kelaparan dan mencapai puncaknya pada Januari 1098. Banyak di antara mereka yang mati kelaparan dan kemampuan tempur pasukan salib berkurang drastis.

Pada Juni 1098, Panglima Firouz mengadakan kontak dengan Bohemund. Pangeran Firouz adalah mantan orang Kristen Armenia yang menjadi muslim, dan seorang munafik. Dengan harga yang tepat, dia akan berkhianat terhadap kaum Muslim. Firouz mengirimkan pesan, bahwa tentara salib harus membawa tangga-tangga mereka ke Menara Dua Saudara Perempuan (The Tower of the Two Sisters), dan Firouz akan membiarkan mereka masuk ke dalam kota. Para tentara salib kemudian berhasil memasuki Antiokhia dan berteriak kuat, “Deus hoc vult! (Tuhan menghendaki ini)” Mereka merampok dan menjarah penduduk Antiokhia. Mayat-mayat muslimin bergelimpangan di jalan, bahkan diantara mereka juga terdapat penduduk agama Kristen yang ikut terbantai, saking tentara salib yang kelaparan berbulan-bulan. Antiokhia telah jatuh ke tangan orang Kristen.
Pesta pora orang Kristen tak berlangsung lama. Tentara muslim Kerbuqa datang mengakihiri masa bersenang-senang mereka setelah menaklukan Antiokhia. Tentara Kerbuqa langsung mengepung tentara salib yang belum hilang rasa lelahnya setelah mengepung Antiokhia selama berbulan-bulan dalam kelaparan. Terjadikan kepanikan luarbiasa di antara tentara salib. Mereka banyak yang membelot ataupun desersi sehingga penjagaan gerbang ditingkatkan untuk mencegah kepergian tentara salib. Sepertinya sudah tak ada lagi harapan. Tentara Byzantium yang dijanjikan Alexius untuk datang kalau ada kemelut tak akan datang karena Alexius mengira tentara salib telah dihancurkan oleh tentara Kerbuqa yang masih segar dan berperalatan lengkap.
Dalam pengepungan tentara salib yang sudah putus asa, tiba-tiba bersemangat lagi ketika diumumkannya sebilah tombak suci, yaitu tombak yang sudah dihunjamkan ke pinggang Yesus di hari Jumat Agung. Seperti penjelasan sebelumnya, orang Kristen saat itu sangat meyakini adanya kesucian relik, apalagi jika benda tersebut pernah disentuh oleh Yesus. Penemuan tombak suci tersebut membuat moral tentara salib naik sehingga mereka nekat menyerbu pasukan Kerbuqa hingga kocar-kacir.Para sejarawan Islam cukup jelas menulis bahwa Kerbuqa membuat kesalahan taktis yang cukup fatal akibatnya. Satu persatu pasukan kabur meninggalkan gelanggang pertempuran.
Setelah Antiokhia, tentara salib kemudian menaklukan kota Ma’arret di Suriah. Mereka kemudian berusaha merebut kota Arqa, tapi mereka tertahan walau Godfrey dari Bouillon dan Robert dari Flanders bergabung. Pada 13 Mei, pengepungan kota Arqa dihentikan dan tentara salib mulai berbaris menuju Yerusalem.
PERANG SALIB: PERANG PANJANG ISLAM DAN KRISTEN (BAG 2) Juni 15, 2008
Posted by Marhan Faishal in non fiksi.Tags: jihad, perang salib, sejarah Islam, Yerusalem
add a comment
PERANG SALIB PETANI: PERANG YANG TIDAK PERNAH DIAKUI
Pada tanggal 25 November 1095, Paus Urban II menyerukan perang salib yang pertama. Bagi Eropa Barat, seruan itu merupakan peristiwa yang penting. Paus Urban II berkhotbah di depan kerumunan pendeta, ksatria dan orang miskin untuk menyerukan perang suci melawan Islam. Orang Turki Saljuk yang telah menjadi muslimin, seru Paus Urban, adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim, menyerbu hingga Anatolia (Turki sekarang ini), mencaplok wilayah kerajaan Kristen Byzantium.
Paus Urban juga mendesak para ksatria Kristen untuk berhenti berperang di antara mereka sendiri dan kemudian membulatkan tekad untuk bertempur melawan musuh tuhan ini. Paus Urban berseru bahwa orang-orang Turki ini adalah ras terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari tuhan, orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus tuhan. Membunuh orang Turki adalah tindakan suci, dan orang Kristen wajib memusnahkan ras ini. Begitu selesai dengan orang Turki Saljuk, para ksatria ini akan berbaris untuk menuju Yerusalem, dan merebut kota itu dari kaum muslimin karena sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum muslimin. Dengan khotbah ini, Paus Urban telah menjadikan kekerasan sebagai pusat pengalaman religius orang Kristen awam, dan dengan itu agama Kristen Barat menyambutnya dengan hangat sifat agresi yang hingga kini tak sepenuhnya hilang.

